Mau Kemana Partai Golkar…

Quo Vadis Partai Golkar? Begitulah judul dialog di MetroTV sore tadi.  Akan kemana Partai Golkar? Atau dalam bahasa Al Qur’an, “Fa aina tadz-habuun?” (maka hendak kemana kalian akan pergi?).

Partai Golkar dalam Pemilu April 2009 ini menempati posisi ke-2, dengan perolehan suara sekitar 14 %. (Untuk sementara anggap saja seperti ini). Posisi partai Golkar sangatlah strategis dalam menentukan arah pasangan calon Presiden-Wakil Presiden pada Pilpres Agustus 2009 nanti. Golkar bisa diibaratkan sebagai “PEMBERAT” bagi pasangan manapun. Kalau dia mendekat ke Demokrat, dia akan menambah bobot Demokrat; kalau dia merapat ke PDIP, dia akan menambah bobot Megawati Cs. Bahkan, bisa dianalisis bahwa suara partai Golkar dalam Pilpres nanti akan sangat menentukan kemenangan pihak yang didukungnya. Kemanapun haluan Golkar mengarah, kesanalah peluang kemenangan berada. (Ya, itu hitung-hitungan manusiawinya. Adapun secara hakiki, hanya Allah Al ‘Alim yang mengetahui hakikat kemenangan apapun).

Posisi Strategis Presiden

Sebelum membahas lebih jauh, mari kita sadari bahwa posisi Presiden di Indonesia itu sangat kuat. Secara politik, Pilpres itu lebih kuat pengaruhnya ketimbang Pemilu Legislatif. Buktinya, sejak Reformasi, posisi Presiden selalu menjadi sumber pengaruh yang mengharu-birukan kehidupan rakyat. Biarpun waktu itu Wahid dari partai papan tengah PKB, tetapi setelah berkuasa sebagai presiden, Indonesia seolah ada dalam genggaman tangannya. (Ya, itu bahasa hiperbolanya).

Termasuk SBY sendiri. Dalam Pemilu 2004 suara Demokrat kalah jauh dibandingkan Partai Golkar (sekitar 21 %), Demokrat hanya sekitar 7 %. Tetapi setelah SBY menjadi presiden, dia sangat berkuasa dan memiliki akses politik sangat besar. Kemenangan Demokrat dalam Pemilu 2009 ini kan tidak lepas dari posisi SBY sebagai Presiden RI. Andai SBY tetap menjadi Menko Polkam seperti jaman Megawati dulu, dijamin dia tidak akan mendapat kekuasaan besar.

Secara kultural, bangsa Indonesia memang cenderung manut dengan pemimpin. Hatta, pemimpin itu melanggar hukum sekalipun. Di samping dalam konsep UUD 1945, posisi Presiden sangatlah kuat disana.

Dapat disimpulkan, meskipun perolehan suara di Pemilu Legislatif kecil (seperti Demokrat di pemilu 2004), tetapi kalau mampu meraih jabatan Presiden, hal itu merupakan akses politik yang luar biasa.

Serba Dilematik

Bisa dikatakan Golkar saat ini benar-benar berada dalam DILEMA pelik. Golkar tidak bisa menggugat proses Pemilu yang dianggap terburuk sepanjang sejarah Pemilu Indonesia, sebab Golkar dalam periode kemarin adalah partai Pemerintah, dengan JK sebagai Wapres. Kalau Golkar menggugat KPU sama saja dengan menggugat diri sendiri.

Kalau Golkar mencalonkan wakilnya sendiri, yaitu JK, jelas dia butuh teman koalisi, sebab suara 14 % tidak cukup untuk maju sendiri tanpa berkoalisi dengan lainnya. Kalau harus koalisi, maka dengan siapa koalisinya? Wong, sekarang banyak partai mencari “selamat” sendiri-sendiri. Itu pun figur JK belum tentu sukses dalam Pilpres 2009 nanti. Ternyata, di balik slogannya “lebih cepat lebih baik”, JK memiliki kelemahan-kelemahan tertentu dalam melakukan manuver politik. Terbukti, pencitraannya selama kampanye kemarin kurang bagus, padahal Golkar ikut andil dalam “sukses” Pemerintahan SBY.

Kemudian jika memilih koalisi, Golkar harus merapat kemana? Ke Demokrat atau barisan “Perubahan” yang dimotori PDIP, Gerindra, dan Hanura? Ya, hanya elit-elit Golkar yang berwenang menentukannya.

Tetapi andai terbentuk blok “Perubahan” yang merupakan gabungan PDIP, Golkar, Gerindra, Hanura, apalagi ditambah PPP. Mereka bukan hanya akan menjadi kekuatan besar, bahkan berpeluang besar memenangkan Pilpres 2009 nanti. Sebab, kalau mau jujur, Demokrat hanya mampu meraih 20 % suara. Kalau suara Golkar dan PDIP digabungkan, itu sudah mengungguli perolehan Demokrat. Apalagi kalau ditambah Gerindra, Hanura, dan PPP. Dan menariknya, kemenangan Demokrat ditunjang oleh amburadulnya kerja KPU. Jika kerja KPU bisa dibenahi, bukan mustahil pemilih-pemilih yang semula gagal ikut Pemilu, mereka akan memberati suara kubu “Perubahan”.

Jadi, peluang menang itu masih ada. Tinggal seberapa besar nyali Golkar untuk menempuh langkah pertaruhan. Kalau melihat tabiat Golkar dari waktu ke waktu, kecil kemungkinan mereka berani.

Golkar di Persimpangan Jalan

Di hadapan Golkar saat ini ada dua pilihan besar: Mau bergandengan tangan kembali dengan SBY; atau melanjutkan semangat perubahan seperti yang pernah direncanakan Golkar bersama PDIP dan PPP (golden threeangle). Kedua pilihan ini sama-sama menjanjikan peluang bagi Golkar, tetapi juga sama-sama beresikonya.

Kalau Golkar merapat ke kubu “Perubahan” yang di dalamnya ada PDIP, Gerindra, dan Hanura (atau mungkin ditambah PPP), ada peluang Golkar ikut memenangi Pilpres, karena potensi suaranya besar. Namun bisa juga kalah, lalu menjadi oposisi. Jika demikian, maka Golkar akan seperti Pemilu 1999 lalu. Waktu itu kader-kader Golkar di Parlemen dikenal sangat vocal dan kritis. Sehingga pengaruhnya, dalam Pemilu 2004 Golkar memenangi Pemilu. Tetapi hal ini sangat bertentangan dengan TRADISI LAMA yang mulai dikembangkan Golkar sejak dipimpin Jusuf Kalla, dengan prinsip pragmatisnya:  “Bagaimanapun Golkar tidak bisa jauh dari kekuasaan.”

Di mata para politisi Golkar yang dekat dengan kekuasaan, tidak mau mengambil resiko, lebih nyaman join bersama Pemerintah, berkoalisi dengan kalangan “perubahan” akan dipandang sebagai mimpi buruk yang sangat tidak menyenangkan. Mereka sejak lama selalu mendukung agar JK kembali gabung bersama SBY, meskipun hanya sebagai Wapres.

Dan kalau ikut kubu “Perubahan” ini, belum tentu calon yang didukung Golkar bisa memenangi Pilpres 2009. Pertanyaanya, “Iya kalau nanti menang. Kalau kalah bagaimana? Ngeri kan?” Nah, itulah ketakutan umum yang banyak dirasakan oleh elit-elit Golkar yang sejak lama memang selalu ingin merapat kepada kekuasaan.

Tetapi langkah merapat ke kubu SBY juga bukan tanpa resiko. Pertama, Golkar di mata masyarakat akan dianggap sebagai partai penjilat yang haus kekuasaan, tidak memiliki komitmen idealisme. Hal itu akan semakin memperburuk citra Golkar di mata masyarakat. Kedua, Golkar akan berseteru dengan kawan-kawan Partai Demokrat lainnya, khususnya dengan PKS yang sudah memendam “sakit hati” kepada Golkar. Katanya, dalam pernyataannya belakangan ini, Anis Matta tidak suka jika JK kembali ke SBY.

Fahri Hamzah juga mengancam, kalau JK kembali ke SBY, PKS akan memilih keluar dari koalisi dengan SBY. Fahri mengatakan hal ini, sebab PKS ingin menjadi “asisten” bagi SBY; tidak dipandang sebagai “ban serep” seperti koalisi di masa sebelumnya. Kalau JK/Golkar merapat ke Demokrat, jelas posisi PKS tidak akan dominan lagi sebagai “wakil” Demokrat.

Secara kalkulasi politik, PKS tidak mungkin akan meninggalkan Demokrat. Itu hanya bentuk “komunikasi politik” dengan frekuensi tinggi saja. Sungguh, PKS tidak akan mengambil jalan konfrontatif dengan kekuasaan (SBY), sebab memang mereka tidak memiliki tradisi oposisi sejak jaman PK dulu. Dengan lobi dan pendekatan tertentu, yakinlah “emosi” elit-elit PKS bisa dilumerkan. Ia hanya butuh “komunikasi” dan sedikit sharing yang “agak bergizi”.

Ketiga, dan ini yang paling berat, lama-lama Partai Golkar akan mati. Lho, itu kenyataan. Sejak tahun 2004 Golkar koalisi dengan Demokrat. Ternyata yang paling banyak menikmati fasilitas politik justru Demokrat, padahal modal suaranya hanya sekitar 7 % atau 8 % saja. Hal-hal positif tentang Pemerintah citra baiknya menclok ke Demokrat, sementara hal-hal buruk seputar Pemerintah, getahnya kena ke Golkar. Semula Golkar memenangi 21 % suara, dan sekarang hanya memperoleh sekitar 14 % saja.

Dalam posisi lemah saja, Demokrat sanggup mengacak-acak soliditas Golkar, sehingga suaranya merosot drastis, apalagi dengan suara Demokrat saat ini sekitar 21 %. Bukan mustahil, nanti Golkar akan senasib dengan PKB atau PPP yang akhirnya terpuruk menjadi partai kecil dengan perolehan suara sekitar 5 atau 6 %. Kalau Golkar memandang tujuan jangka pendek, untuk meraih manisnya kekuasaan, langkah berkoalisi dengan SBY adalah yang terbaik bagi mereka. Tetapi kalau Golkar berorientasi jangka panjang, atau ingin membuktikan slogan lamanya, “Golkar paradigma baru”, maka bergabung dengan kubu “Perubahan” adalah tantangan yang menarik. Tinggal menunggu siapa yang paling kuat tarikannya dalam Rapimnas Golkar nanti.

Sosok Jusuf Kalla

Ada sebuah kesulitan ketika ingin mentandingkan Jusuf Kalla dengan SBY. Dari sisi pencitraan, keduanya terpaut poin yang sangat jauh. Misalnya, SBY di angka 9, sementara JK di angka 5,5. Dalam Pilpres di Indonesia yang sebagian besar pesertanya ibu-ibu dan gadis-gadis, sosok JK tidaklah menarik. Beliau tidak memiliki “modal selebritis”. Bukan berarti cara berpikir masyarakat itu benar, tetapi realitasnya memang mereka lebih condong ke performa fisik, bukan gagasan, ide, komitmen, keberanian, dan sebagainya.

Secara skill Pemerintahan, JK memiliki cukup kemampuan untuk memegang tampuk kekuasaan RI-1. Buktinya, sebagai Wapres beliau sering disebut-sebut sebagai pesaingnya SBY (pesaing Presiden). Hanya saja, dari sisi performa, beliau kurang menarik. Karakter suaranya kurang tegas, pembawaannya terlalu sederhana, dan seperti tidak memakai konsultan untuk menjaga penampilan. Sekali lagi, ini bukan soal baik atau buruk, tetapi memenangkan perang citra di mata mayoritas kaum wanita pemilih dalam Pemilu. (Baca artikel “Pemilu dan Sifat Materialis Wanita”).

Kalau JK akan maju sebagai Capres dengan berkoalisi dengan kubu “Perubahan”, harus ada perubahan citra diri secara maksimal. Ya, entahlah bagaimana caranya, tetapi perbaikan performa itu harus dilakukan. Bayangkan, saingannya SBY yang menurut para ibu-ibu penampilannya “aduh gimana gitu”. Jika tidak, beliau bisa legowo memberikan peluang Capres kepada orang lain (bisa dari Golkar atau di luar Golkar) yang kira-kira bisa bersaing dengan SBY. Tetapi saat yang sama, beliau memperjuangkan porsi perolehan akses politik bagi Golkar sebagai penyumbang suara besar dalam koalisi.

Menanti Rapimnas

Bagaimanapun semua mata kini sedang menanti Rapimnas Golkar yang akan menentukan kepada siapa mereka akan merapat. Kalau Golkar nanti jadi join bersama Demokrat atau SBY, ya harus bersiap-siap untuk menjadi “batu pijakan”. (Bayangkan, seseorang yang akan mengambil buah di pohon, tetapi kurang tinggi. Dia butuh batu pijakan untuk meraih buah tersebut. Kalau buah sudah di tangan, batu pun dibiarkan).

Kalau Golkar memutuskan bergabung bersama para oposan, PDIP, Gerindra, Hanura, maka Golkar harus siap-siap legowo, kalau nanti dalam Pilpres misalnya menderita kekalahan. Ya, siapa yang mau menang, jelas juga harus siap kalah secara kesatria. Tetapi kalau kubu “Perubahan” berhasil memenangkan Pilpres, dinamika politik di Indonesia bisa jadi akan lebih menarik lagi. Wallahu A’lam, hanya Allah yang Tahu kenyataan nanti.

Siapapun pemenangnya, semoga kehidupan Ummat Islam di Indonesia lebih baik, lebih maju, beradab, terhormat, dan diberkahi Allah Ta’ala dengan pertolongan-Nya. Allahumma amin. Hanya Allah-lah yang layak diharap pertolongan-Nya agar tercipta PERUBAHAN positif seperti yang diharapkan oleh kaum Muslimin selama ini. Amin ya Karim.

Jangan sampai salah menentukan figur Presiden. Sebab tahun 2004 lalu terjadi “Tsunami Kubra” di Aceh, lalu tahun 2009 terjadi “Tsunami Sughra” di Situ Gintung Tangerang. Marilah kita memohon kepada Allah agar dijauhkan dari segala hal yang bisa mendatangkan bencana besar dalam kehidupan ini. Allahumma amin.

Bandung, 12 April 2009.

AMW.

Iklan

3 Responses to Mau Kemana Partai Golkar…

  1. yon berkata:

    politik tidak dapat dihitung dengan matematika tetapi lebih subyektif sifatnya

    bencana tidak meliat siap pemimpinnya tetapi bagaimana dia meminpin dan bgm rakyat atau umat yang ada di situ

  2. abisyakir berkata:

    @ yon.

    Terimakasih komentarnya.

    Bencana ada kaitannya dengan pemimpin yang terpilih/memimpin. Dalam Surat Al A’raaf dikatakan: “Sekiranya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa, benar-benar akan Kami bukakan bagi mereka barakah-barakah dari langit dan bumi. Akan tetapi mereka mendustakan, maka Kami siksa mereka karena apa yang mereka perbuat.” (Al A’raaf: 96).

    Perhatikan yang dicetak tebal. Kalau suatu kaum mendustakan agama Allah, mereka akan disiksa oleh Allah dengan datangnya bencana-bencana. Dan kedustaan suatu kaum belum sempurna, sampai terpilih pemimpin yang buruk, lalu rakyatnya ridha kepada pemimpin itu. Maka dalam keadaan seperti ini tidak ada lagi yang sanggup menahan derasnya siksa Allah.

    Sebaliknya, kalau pemimpin itu shalih dan rakyatnya ridha kepadanya, maka akan segera muncul keberkahan besar di negeri itu. Hingga ketika Umar bin Abdul Aziz terpilih sebagai Khalifah, tiba-tiba srigala di pegunungan bersahabat dengan domba-domba, mereka tidak menerkam domba itu tetapi bermain bersama. Ketika Umar meninggal, srigala kembali menerkam domba-domba. Sebegitu hebatnya pengaruh keshalihan, sampai mempengaruhi perilaku binatang di negeri itu.

    Terimakasih.

    AMW.

  3. henry berkata:

    Bila ternyata suatu saat Golkar benar berkoalisi dengan demokrat,, itu artinya sama saja hanya untuk berkuasa.. partai seperti ini sudah saatnya ditinggalkan para pendukung.. para simpatisan akan sangat kecewa. Untuk membangun bangsa ini tidak harus berkuasa, golkar juga bisa berKARYA diluar pemerintahan untuk kemajuan bangsa ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: