Catatan Unik Seputar JENGKOL

Gambar biji jengkol berkulit coklat.

Gambar biji jengkol berkulit coklat.

Anda pasti sudah tahu ya tentang JENGKOL (Pithecolobium lobatum). Ia adalah salah satu bahan sayuran yang terkenal di Indonesia. Jengkol terkenal bukan karena kandungan gizi, kelezatan, penampilan, atau lainnya, tetapi karena cita rasanya yang sangat khas. Jengkol termasuk makanan yang mengandung zat aromatik (menimbulkan bau tertentu) ketika dikonsumsi. Nah, disini saya memiliki cukup banyak catatan menarik seputar tanaman satu ini. Semoga tulisan ini cukup inspiratif untuk memahami keunikan alam ciptaan Ar Rahmaan. Semoga!

[o] Tahukah Anda, kapan saya mengenal atau mendengar tanaman jengkol? Hal itu terjadi ketika saya masih usia SD, pada tahun 80-an dulu. Saya sering mendengar nama jengkol dari film Boneka Si Unyil. Dalam dialog-dialog antara Unyil dengan Ucrit maupun Endut, sering muncul nama jengkol. Saya tidak tahu pasti, itu tanaman apa, sebab di Jawa Timur (Malang), nama jengkol itu nyaris kurang dikenal.

[o] Sebagai orang Jawa Timur kami sangat jarang menemukan jengkol di pasar. Bahkan mungkin tidak pernah. Tetapi jengkol banyak ditemukan di Jawa Barat. Setelah pindah ke Bandung, saya sering menemukan biji-biji jengkol, baik yang masih mentah maupun sudah dimasak. Di Jawa Timur makanan aromatik yang terkenal bukan jengkol, tetapi pete, lamtoro, mlandingan. Lamtoro di Jadebotabek dikenal dengan nama petai China. Lamtoro berukuran besar namanya Lamtoro Gung. Nama itu pula yang mengilhami keluarga Cendana membuat sebuah perusahaan bernama Citra Lamtoro Gung.

[o] Bentuk jengkol itu unik. Bijinya dibungkus kulit berwarna coklat tua. Setiap biji terdiri dari dua lembaga yang saling menempel satu sama lain. Ukuran jengkol besarnya seperti coin uang 100 rupiah lama, atau 1000 rupiah baru. Bagian pinggirnya tipis, bagian tengah tebal.

[o] Kalau seseorang makan pete atau lamtoro, seketika bau mulutnya menjadi tidak sedap. Begitu pula ketika selesai makan mlandingan. Namun jika sayuran itu dimasak terlebih dahulu, ia tidak terlalu bau di mulut. Berbeda dengan jengkol, kalau dimakan tidak tercium bau dari mulut kita. Tetapi bau akan tercium sangat kuat, setelah kita buang air kecil atau air besar. Pengaruh bau jengkol justru masuk ke urine atau feces yang dibuang di WC. Terus terang, saya tidak tahan kalau mencium baunya.

[o] Rasa jengkol itu unik. Ia tidak gurih, asin, atau manis, tetapi rasanya kenyal dengan aroma yang khas. Rasa kenyal dan aroma inilah yang membuat orang ketagihan makan jengkol. Namun, bau urine setelah makan jengkol sangatlah kuat, sehingga menghindari makanan seperti ini rasanya lebih tepat. Malu deh…kalau ada tamu masuk ke kamar mandi kita, lalu disana tercium urine jengkol.

[o] Jengkol biasa dimasak sebagai semur, atau dimasak sebagai osengan dengan kecap. Tetapi ada juga jengkol yang dimakan mentah-mentah sebagai lalapan, khususnya jengkol yang masih muda/hijau.

Menu jengkol goreng (rasa keju...he he he).

Menu jengkol goreng (sumber: rifoto.co.cc)

 

(Sumber foto di atas dari situs RIFOTO.CO.CC. Atau halaman aslinya dengan link: http://rifoto.co.cc/2008/09/03/jengkol-goreng-gede-gede/).

 

 

[o] Kalau seseorang makan jengkol terlalu banyak, dia bisa mengalami Jengkoleun. Dia akan terus-menerus ingin buang air kecil dengan rasa panas saat buang air kecil itu. Hal ini terjadi ketika senyawa racun dalam jengkol menumpuk terlalu banyak dalam darah, lalu menekan kantung kemih, sehingga terus-menerus ingin buang air kecil. Cara mengatasi kondisi ini adalah dengan: meminum air kelapa muda. Insya Allah nanti akan berangsur sembuh seperti sedia kala. Atau bisa juga dengan membuat jus jeruk lemon, lalu diminum.

[o] Ketika isteri masih kecil, dia pernah diajak pamannya memanen jengkol di kebun, di Sumedang. Menurut penuturan isteri, pohon jengkol itu seperti pohon mangga. Buah jengkol seperti bentuk buah pete, tetapi lebih besar, dengan biji-biji besar, warna kulit buah coklat, dan juluran buahnya acak (tidak rapi seperti pete). Papan buah jengkol bisa tampak melingkar-lingkar. Kalau buah diturunkan dari pohon, bijinya akan dikeluarkan satu per satu dari papan yang mengikatnya. Jadi jengkol yang dijual di pasaran itu sebenarnya merupakan biji-biji yang sudah dikeluarkan dari papan pengikatnya.

Ilustrasi tanaman jengkol. (Susah dapat foto pohonnya).

Ilustrasi tanaman jengkol. (Susah dapat foto pohonnya).

[o] Sewaktu kuliah di Sumedang, saya sering makan di warung nasi. Disana sering dijual semur jengkol. Ternyata, jengkol itu dijual per bijian. Setiap biji memiliki harga tertentu. Misalnya, setiap biji seharga Rp. 300,- maka kalau seseorang makan 5 biji semur jengkol, dia membayar Rp. 1.500,- untuk jengkol itu saja. Luar biasa, sampai dihitung per bijian.

[o] Seorang teman termasuk penggemar jengkol, pete, dan sebagainya. Pernah saya diajak makan di rumahnya. Saat isterinya mempersilakan kami mengambil makanan, dia mengatakan bahwa menu yang dihidangkan salah satunya adalah “hati singa”. Saya kaget mendengar hati singa. Benarkah memasak hati singa? Setelah dilihat, ooo…ternyata yang dia maksud adalah semur jengkol. Sampai disebut “hati singa”.

[o] Pernah saya mengantar isteri belanja ke Pasar Caringin Bandung. Ini adalah pasar induk, setiap hari ribuan orang berjual-beli di tempat itu. Waktu itu kami mencari-cari belanjaan tertentu dalam kondisi jalanan becek, berlumpur, dan bau (khas sampah pasar). Di sebuah titik, saya terkejut melihat banyak jengkol-jengkol berserakan di jalanan. Ada yang tampak busuk, berjamur, tetapi ada juga yang kelihatan masih baik. Jengkol sebanyak itu ternyata dipakai untuk menutupi jalanan yang becek karena lumpur. Mungkin ia tidak laku, terlalu lama di pasar, dan sudah busuk disana sini. Ya, resiko berjualan sayuran. Tetapi kalau ingat di warung-warung nasi, jengkol dijual per bijian, rasanya sangat ironis. Di pasar itu jengkol dipakai untuk menguruk jalanan becek.

Demikian sekilas “laporan pandangan mata” tentang JENGKOL. Tertarik mencoba? Jengkol itu enak, kenyal dengan aroma khas. Tetapi dampak di kamar mandinya, wah sangat kuat. Sebaiknya, kalau mau makan jengkol, Anda bisa ke hutan dulu, atau pergi ke laut, atau menunggu ketika keluarga ke luar kota dua mingguan. Pilihlah waktu yang orang lain tidak akan “tersiksa” oleh baunya. Pokoknya, hindari bau tidak sedap setelah makan jengkol!

Ya, ini hanya catatan, sekedar inspirasi unik. Kalau menarik alhamdulillah; kalau tidak, mohon dimaafkan. ‘Ala kulli haal, walhamdulillah Rabbil ‘alamiin.

AMW.

 

NB.: Terimakasih kepada Pak Arif Rahman Hakim atas ijinnya memakai salah satu fotonya “menu jengkol goreng”. Maaf, belum ijin dulu. Tapi kalau ada komplain, insya Allah direspon baik. Sekali lagi mohon maaf!

 

Iklan

8 Responses to Catatan Unik Seputar JENGKOL

  1. Uni berkata:

    Sekedar berbagi pak ustad,..
    Biar kalo dimasak baunya hilang atau paling tidak mengurangi baunya,..jengkolnya direndam dulu sehari sebelum dimasak, setelah itu direbus, baru direndang, digulai, dibikin kripik atau diolah sesuai selera. Untuk mengurangi bau di mulut, habis makan jenkol makan beras sejumput (satu sendok teh) kata sodara saya bisa juga habis makan jengkol makan tape singkong untuk ngurangi bau di mulut.

  2. abisyakir berkata:

    @ Uni.

    Terimakasih, terimakasih, sekali lagi terimakasih. Ini menambahkan beberapa bagian yang “missing” dalam artikel tersebut. Tetapi ngomong-ngomong, apa kita serius mau menggeluti perjengkolan? He he he… Ya, terimakasih. Nanti kalau ada yang mau masak jengkol, saya akan berikan masukan-masukan itu semampunya. Sebab di Bandung banyak penggemarnya. Seperti kemarin saat saya baru pulang Shalat Jumat, di tengah jalan, di dekat sebuah rumah, menyebar bau jengkol yang lagi dimasak. Luar biasa deh aroma khasnya, khas sekali.

    Sekali lagi matur nuwun, Uni.

    AMW.

  3. deden berkata:

    kenalkan saya, si jengkol-men. 😛

  4. riftom berkata:

    Foto jengkol yang kedua kayaknya saya kenal tuh….

  5. abisyakir berkata:

    @ Riftom…

    Itu foto milik Anda bukan ya? Kalau milik Anda, ini sekaligus ijin ya. Maaf, tidak bisa motret sendiri, masih banyak pakai source umum. Perlu ditulis ga nama pembuat fotonya? Terimakasih.

    AMW.

  6. riftom berkata:

    Ya betul itu adalah foto karya saya. Saya rasa permintaan saya mengenai hal ini sudah saya sampaikan via email.

    Terima kasih.

    riftom
    rifoto.co.cc

  7. abisyakir berkata:

    @ Riftom…

    Oh maaf Pak Riftom, saya belum buka e-mail. Jadi belum tahu. Oke segera saya buka kesana. Terimakasih.

    AMW.

  8. riftom berkata:

    Terima kasih atas klarifikasi dan responnya. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: