Kasus Hukum Syekh Puji

Dalam blog ini saya pernah menulis tentang kontroversi pernikahan Syekh Puji dengan Lutfiana Ulfa yang masih berusia 12 tahun atau masih duduk di bangku SMP.Ternyata, masalah ini belum tuntas juga sampai sekarang. Bahkan Syekh Puji secara resmi diperiksa pihak kepolisian untuk membawa kasusnya ke pengadilan. Syekh Puji didakwa melanggar UU Perkawinan, yaitu menikah dengan anak di bawah umur. Tetapi kalau melihat arah kasusnya, tampaknya muncul sikap over acting di pihak kepolisian Semarang. Termasuk di dalamnya keterlibatan Komnas Perlindungan Anak di bawah ketuanya, Seto Mulyadi.

Sikap over acting itu misalnya memperlakukan Syekh Puji seperti bandit, residivis, atau koruptor kelas kakap. Padahal persoalan yang dihadapinya hanya masalah pernikahan. Di Indonesia tidak pernah ada yang mengalami perlakuan ekstrem dalam soal pernikahan, kecuali Syekh Puji ini. Saya bukan ingin membela Syekh Puji, tetapi sebaiknya pihak kepolisian bersikap waras dan komprehensif melihat masalahnya. Bayangkan, baik kepolisian maupun Seto Mulyadi, berulang-ulang menyalahkan pernikahan dengan anak di bawah umur. Hal itu kan sama saja dengan menyalahkan pernikahan yang pernah dijalani Nabi Saw dengan Bunda Aisyah Ra. Jangan-jangan, sikap berlebihan kepolisian Semarang itu ada kaitannya dengan usaha-usaha mencemarkan ajaran Islam. (Perlu dicatat, kaum misionaris sangat senang mengungkit-ungkit masalah pernikahan Nabi itu untuk menjelek-jelekkan Islam).

Dalam tulisan di atas pernah dikatakan, bahwa menikah dengan gadis muda usia (bahkan masih tergolong anak-anak), dalam pandangan Islam tidak dilarang. Alasannya, Nabi Saw pernah menikahi Aisyah Ra dalam usia 6 tahun, lalu hidup serumah dengannya setelah usia 9 tahun. Namun memang, Nabi juga tidak pernah menyuruh para Shahabat untuk melakukan seperti yang beliau lakukan. Secara Syar’i tidak masalah. Bahkan secara adat di Indonesia juga tidak masalah, sebab banyak sekali pemuda-pemudi di Indonesia ini yang menjalani pernikahan di usia muda (di bawah usia 15 tahun). Hanya saja, karena dalam kasus Syekh Puji sangat kuat nuansa MENCARI SENSASI-nya, maka Syekh Puji pun mendapat kesulitan-kesulitan karena masalah itu.

Secara hukum di Indonesia, usia pernikahan memang ada ketentuannya. Untuk seorang wanita, minimal berusia 15 tahun, untuk laki-laki minimal berusia 19 tahun. Tetapi ketentuan ini juga tidak mutlak. Artinya, kalau ada yang menikah di bawah batas usia itu, selama pernikahan dijalankan secara benar, maka pernikahannya tetap diakui dan yang bersangkutan tidak diberi sanksi penjara atau denda. Kita hampir-hampir tidak pernah mendengar ada sepasang suami-isteri dihukum karena menikah di bawah usia 15 tahun.

Bahkan melaksanakan ketentuan hukum batas usia 15 tahun bagi wanita dan 19 tahun bagi laki-laki itu, tidak bisa diterapkan secara kaku. Sebab dalam praktiknya, banyak masyarakat yang menikah ketika masih remaja. Di Indramayu, Cianjur, Madura, Betawi, dan lain-lain masih banyak pemuda-pemudi menikah setelah lulus SD. Indramayu sebagai contoh, di daerah tertentu, anak-anak gadis didorong keluarganya untuk menikah di usia muda. Setelah itu mereka didorong supaya bercerai. Setelah cerai, mereka akan mencari pekerjaan di Jakarta sebagai “pelayan nikmat”. Katanya, fungsi pernikahan disana, agar anak-anak gadisnya merasakan pengalaman hubungan seksual dan tidak kaget kalau nanti “bekerja”. (Na’udzubillah wa na’udzubillah min fitnatiz zina).

Di Jawa Tengah sendiri ada sebuah daerah bernama Sampetan, terletak di kaki gunung Merbabu. Di Sampetan ini sudah tradisi menikah di usia remaja. Mereka menikah masih remaja, baru lulus SD. Setelah itu mereka hidup berumah-tangga, ada yang beranak-pinak, dan ada juga yang bercerai.  Sehingga tampak lucu, masih kecil-kecil, tetapi sudah ada yang menjadi duda atau janda. Di mata mereka, pernikahan muda itu hal biasa.

Begitu pula di Madura, disana juga banyak pemuda-pemudi yang menikah di usia muda. Di mata masyarakat Madura, seorang gadis menikah di atas usia 25 tahun dianggap sudah telat sekali. Bahkan hal ini sempat ditulis dalam website milik UIN Jakarta dalam artikel berjudul, “Masyarakat Madura Cenderung Kawin Muda”. (Sumber:  http://www.uinjkt.ac.id/index.php/component/content/article/348-masyarakat-madura-cenderung-kawin-muda.html). Wong, perguruan tinggi setingkat UIN saja memahami kenyataan itu, tetapi orang-orang tertentu seakan merasa gatel kalau tidak memenjarakan seseorang karena alasan pernikahan.

Syekh Puji disalahkan karena menikahi anak masih remaja, sementara dia sendiri seorang pria berumur. Disini ada pandangan-pandangan tertentu yang mesti dilihat, sehingga kita bisa menilai apakah sikap kepolisian Semarang selama ini sudah adil atau tidak:

[o] Andai di Indonesia ada gerakan massif pernikahan dengan anak-anak remaja (usia di bawah 13 tahun) yang melibatkan ribuan orang dengan suatu jaringan dan sistem yang kuat, maka bolehlah kita merasa “kebakaran jenggot”. Jika pernikahan itu telah menjadi fenomena yang melibatkan ribuan orang, bolehlah kita resah dan mengkhawatirkan nasib gadis-gadis kecil yang dinikahi sejak muda usia itu. Tetapi, kenyataan seperti Syekh Puji ini kan sangat jarang, 1000 berbanding satu, atau mungkin sejuta berbanding satu. Jadi wajar dong, di antara kenyataan yang seragam itu ada hal-hal lain yang unik atau berbeda. Kenyataan pernikahan Nabi dengan Aisyah Ra juga merupakan kenyataan yang unik, berbeda dengan fenomena yang umum terjadi di kalangan Shahabat.

[o] Persoalan yang mesti dipahami, bahwa Lutfiana Ulfa itu tidak keberatan menikah dengan Syekh Puji, bahkan dia mengaku terus-terang cinta kepada Syekh dan tidak mau dipisahkan. Hingga ketika mereka dipaksa berpisah, Lutfiana tampak menangis sedih. Nah, persoalan CINTA inilah yang patut digaris-bawahi. Pernikahan seperti Syekh Puji dengan Ulfa itu boleh saja dibatalkan jika prosesnya melalui cara paksaan (repressif). Tetapi kenyataan kan tidak memaksa, malah Ulfa mengaku senang dan cinta dengan suaminya (Syekh Puji). Atas dasar pertimbangan cinta ini pula, ribuan pernikahan di bawah umur di Indonesia ditoleransi, tidak ada satu pun pelakunya dipenjara karena pernikahan seperti itu (di Indramayu, Cianjur, Madura, Sampetan, dll.).

[o] Kalau bicara soal hukum. Dalam KUHP sepasang laki-laki perempuan yang melakukan zina tidak akan dijatuhi hukuman, selama zina itu dilakukan “atas dasar suka sama suka”. Kumpul kebo boleh selama suka sama suka, tidak ada yang memaksa pihak satu kepada lainnya. Nah, ini aneh, ada orang menikah atas dasar suka sama suka malah dilarang. Sementara yang zina tidak dilarang karena suka sama suka. Zina baru disebut PERKOSAAN jika salah satu pihak merasa dipaksa, diancam, atau dianiaya oleh pihak lainnya. Lihatlah, betapa kacaunya logika KUHP di negeri ini.

[o] Kemudian, mengapa ketika menyikapi kasus Syekh Puji ini pihak kepolisian bersikap ekstrem? Syekh Puji ditahan, diperlakukan seperti pelaku kriminal, dicecar dengan berbagai dakwaan, serta diekspose luar biasa. Seakan dia adalah pelaku terorisme, penjahat narkoba, atau penjahat setingkat Ryan Jombang. Harus diingat, kasus dasarnya adalah masalah pernikahan. Maka sudah sepantasnya segala sesuatu dibawa ke sistem kekeluargaan. Kecuali kalau Ulfa dibawah ancaman, penganiayaan, kekerasan, lalu dia merasa dizhalimi, barulah pihak polisi layak terlibat di dalamnya. Sebab sangat aneh, belum pernah ada ceritanya, seseorang ditahan atau dipenjara karena masalah pernikahan, kecuali dalam kasus Syekh Puji ini. Dan bisa jadi, akibat kasus ini, nanti akan banyak laki-laki dipenjara karena soal pernikahan. Sementara pelaku zina tidak diapa-apakan, selama “suka sama suka”.

[o] Bagaimanapun masalahnya, jangan sampai ada pelarangan secara mutlak terhadap pernikahan dengan gadis di bawah umur. Mengharamkan hal itu sama saja dengan mengharamkan pernikahan Nabi Saw dengan Aisyah Ra. Berbagai anjuran dalam UU Pernikahan tentang batas minimal pernikahan bukanlah syarat mutlak sesuai Syariat Islam. Hal itu adalah anjuran untuk kebaikan saja, tidak mengikat secara mutlak.

Kekhawatiran yang selama ini muncul di hati, kasus seperti Syekh Puji ini hanya menjadi konsumsi infotainment saja, biar laku berita-beritanya. Juga khawatir, hal ini sebagai sarana untuk “memuaskan kebencian sepihak” kepada sosok-sosok tertentu. Bagi Syekh Puji sendiri, sudah saatnya dia mengerem diri, tidak terus memancing emosi publik, LSM, Komnas Perlindungan Anak, atau kepolisian. Sudahlah surutkan langkah, jangan mencari-cari sensasi; sebab yang nanti dipertaruhkan adalah citra Islam itu sendiri. Musdah Mulia sendiri menjadikan kasus Syekh Puji ini sebagai salah satu bahan untuk mengecam Islam.

Khusus untuk Kak Seto (Komnas Perlindungan Anak), mohon Anda jangan menutup mata terhadap dua hal berikut:

Pertama, kalau Anda seorang Muslim, maka Nabi Saw pernah menikahi Aisyah Ra ketika dirinya masih berusia 9 tahun (di bawah usia Lutfiana Ulfa). Kedua, kalau Anda warga negara Indonesia, lihatlah bahwa pernikahan di bawah umur itu masih banyak dilakukan di masyarakat tradisional di Indonesia. Kalau mau fair, Anda jangan hanya memburu Syekh Puji, tapi burulah juga pelaku-pelaku pernikahan di bawah umur di seluruh Indonesia!

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk membela Syekh Puji, tetapi untuk menetapi posisi KEADILAN. Bagaimanapun, dalam Islam, pernikahan di bawah umur itu tidak dilarang. Jadi jangan menganggap pernikahan seperti itu secara mutlak HARAM. Jika demikian, berarti kita telah mengharamkan amalan Nabi Saw. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik. Tidak dipungkiri, Syekh Puji sikapnya berlebihan, tetapi jangan karena itu lalu bebas tembak sana tembak sini, kemudian mencederai nilai Syariat Islam.

Wallahu A’lam bisshawaab.

Bandung,16 April 2009.

AM. Waskito.

Iklan

4 Responses to Kasus Hukum Syekh Puji

  1. pakhanung berkata:

    silaturrahmi blog …

  2. abisyakir berkata:

    @ Pak Hanung.

    Terimakasih sudah berkunjung. Salam silaturahmi juga. Semoga bermanfaat ya. Lain waktu akan berkunjung ke blog Pak Hanung. Mohon maaf kalau ada yang kurang atau keliru. Jazakallah khair.

    AMW.

  3. stevie berkata:

    hmm komentar ini mungkin rada telat dan bahkan mungkin dianggap sudah basi dalam kasus pujiono
    Tapi karena argumen2 yg disampaikan bersifat universal dan kasus serupa bukan tidak mungkin terjadi didepan maka tidak ada salahnya saya ikut berkomenta

    (1) Secara hukum : harus diingat kita hidup di Indonesia berdasarkan hukum Indonesia… Apa yg ada pada sejarah islam atau hukum islam tidak ada pengaruhnya dengan penerapan hukum di negara ini…

    Apakah kalau jaman dulu nabi anda membunuh org karena murtad maka hal itu akan membenarkan apabila seseorang membunuh orang lain karena murtad dari islam…

    mungkin kasus yg saya angkat rada ekstrim… tapi yg saya tekankan adalah apa yg mungkin dibolehkan oleh agama anda (atau agama apapun di indonesia) menjadi salah apapbila bertentangan dengan hukum Indonesia.

    Dan setau saya hukum pernikahan di Indonesia bersifat mengikat bukan bersifat anjuran. Sebuah pelanggaran terhadap hukum ini (seperti yg anda sebut pada kasus di madura) tidak menjadi justifikasi bagi pelanggaran lain

    (2) Secara hak anak.
    Seorang anak dibawah umur (di Indonesia 17 thn) dengan seseorang dibawah umur.
    Kasus diatas dinyatakan sebagai perkosaan, termasuk didalamnya adalah kasus pujiono dan ulfa karena pernikahan mereka tidak diakui negara.
    Bagaimana kalau orang tua sang gadis dibawah umur menyetujui?
    secara hukum ini lebih parah lagi karena malah bisa dikategorikan “penjualan anak”

    Terlebih dari semua poin diatas… sangat saya sesalkan kefanatikan buta dari beberapa orang kepada agama dan org yg mereka anggap nabi membuat mereka menutup mata terhadap kasus2 menyangkut hak2 anak seperti ini… Buat mereka buta tentang nilai2 moral bahkan kepada nilai2 hukum

  4. abisyakir berkata:

    @ stevie.

    Makasih sudah berkomentar. Hal ini jadi sharing buat kita-kita.

    Tapi yang ingin saya soroti:

    – Kasus pernikahan di bawah umur itu masih banyak di Indonesia. Sebagian orang masih tradisionalis dalam memahami masalah ini. Sebagai contoh, teman saya sendiri di SD, dia keluar sekolah sebelum lulus SD, kemudian menikah. Jadi itu realitas.

    – Yang saya sangat tidak suka, mengapa untuk hal-hal yang bersifat pernikahan, kesan yang muncul saat memperlakukan Pujiono, seperti memperlakukan para tertuduh aksi terorisme. Ini kan tidak lucu. Masak kasus pernikahan, bisa seekstrem itu sikap polisi.

    – Perlu diingat juga, Pujiono melaporkan pihak kepolisian Semarang ke Mabes Polpri atas dugaan “pemerasan” senilai miliaran rupiah. Di TV pernah dilihatkan, bagaimana Pujiono menyiapkan uang miliaran yang diminta polisi itu. Katanya, biar masalahnya ditutup saja.

    – Memang, secara fithrah saya juga tidak suka dengan pernikahan Pujiono dengan Ulfa itu. Kalau ditanya, apa adikmu yang masih kelas 2 SMP mau dinikahi bapak-bapak usia 50 tahunan? Terus terang, saya tidak mau. Untuk jaman saat ini, budaya masyarakat sulit menerima praktik pernikahan seperti itu.

    Terimakasih. Wassalam.

    AMW.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: