Mayoritas Rakyat Indonesia Orang Awam

Kalau mencermati kehidupan bangsa Indonesia, kerap kali kita merasa kecewa. Cara termudah memahami realitas masyarakat ialah dengan mencermati dinamika politiknya. Mengapa harus politik? Sebab politik itu menyangkut hubungan timbal-balik antara pemimpin dan rakyatnya (raa’in wa ra’iyyah).

Ide-ide yang dibawa Dr. Rizal Ramli, Dr. Hendri Saparini, Dr. Ichsanudin Noorsi, dan lain-lain adalah ide yang baik. Ia ingin melepaskan bangsa Indonesia dari kolonialisme baru yang terus menekan bangsa Indonesia melalui mekanisme liberalisme-kapitalisme. Ide yang dibawa oleh Partai Gerindra (atau Hanura) yang menghendaki perubahan, agar bangsa Indonesia lebih concern dengan kepentingan nasional, dan resisten terhadap kepentingan asing, hal itu juga bagus dan layak didukung. Begitu juga ide penegakan Syariat Islam dari ormas-ormas seperti HTI, MMI, FPI, KPSI, dan lainnya adalah sangat positif dan layak didukung.

Semua ide-ide itu sebenarnya karakter dasarnya ada 3, yaitu:

[1] Peduli dengan penderitaan masyarakat Indonesia saat ini.

[2] Menawarkan konsep perubahan dimulai dari perubahan PARADIGMA BERPIKIR. Jadi bukan perubahan cover atau merk saja, tetapi perubahan fundamental dalam tataran pemikiran.

[3] Mengharapkan perubahan baik pada kehidupan rakyat Indonesia, tidak selalu terpuruk dalam penderitaan, kesengsaraan, dan kehinaan martabat.

Hanya bedanya, jika kalangan Islamis memakai titik-tolak perjuangan Islam; maka kaum nasionalis berangkat dari simbol dan pemikiran keindonesiaan. Keduanya bisa bergulir seiring sejalan, selama tetap konsisten dengan MASHLAHAT hidup masyarakat dan mencegah MADHARAT hidup dengan segala bentuknya.

Namun di mata masyarakat kita, ide-ide perbaikan tersebut “kurang laku” dijual. Masyarakat terlalu lugu dalam memahami kenyataan yang ada. Mereka merasa segala sesuatu berjalan baik-baik saja, kehidupan normal, kesejahteraan tercapai, pendidikan murah, sembako ada, kesehatan tersedia, dan lainnya. Di mata masyarakat, ukuran KUALITAS HIDUP itu hanya sekedar: makan-minum, biaya sekolah, dan BBM. Mereka terlalu sederhana dalam menyikapi kehidupan yang sangat komplek ini.

Dulu, pada Pemilu 1999, saya termasuk pihak yang sangat kecewa dengan kekalahan Partai Keadilan (PK). Di mata saya, partai ini sudah “nyaris” ideal. “Namun mengapa malah kalah?” begitulah keluhan kami. Tetapi seiring waktu berjalan, akhirnya kami mengerti bahwa memang kondisi masyarakat Indonesia SERBA AWAM. Taraf berpikir masyarakatnya masih sederhana. Akibatnya, mereka sulit mencerna konsep-konsep yang tinggi; mereka sulit memahami pesan-pesan yang dalam; dan mereka lemah ghirah untuk mewujudkan perbaikan. Di mata mereka, selama masalah makan-minum, biaya sekolah, dan BBM teratasi, segalanya telah dianggap sempurna. Bahkan saat ini, menurut sebagian besar rakyat Indonesia, “Selama di rumah ada TV dengan banyak channel, hidup ini selesai sudah!”

Para elit politik sangat memahami kenyataan ini. Oleh karena itu, mereka menuruti saja hajat basic masyarakat, lalu mengabaikan fakta-fakta kerusakan konsep fundamental. “Asalkan di atas permukaan masyarakat kelihatan makan, sehat, bisa bayar uang sekolah, bisa nonton, cukup sudah. Masyarakat cukup diberi itu saja. Mereka tidak perlu terlalu pintar, nanti malah minteri,” logika para elit politik.

Saya lukiskan, seperti membangun rumah di atas kawah gunung berapi. Di atas kawah itu ada endapan tanah yang cukup luas, seperti tanah lapang.  Sebagian orang nekad membuat rumah di tanah tersebut, lalu diikuti yang lain-lain. Akhirnya terbentuk sebuah perkampungan di atas kawah. Mereka merasa enak dan nyaman hidup di atas tempat seperti itu, sambil membuat kebun, bermain bola, membuat kolam ikan, nonton TV, dan lainnya. Malah ada investor tertarik mendirikan mall di atas tanah itu. Tetapi harus diingat, secara fundamental, pemukiman tersebut berdiri di atas kawah gunung berapi. Sewaktu-waktu kawah bisa memuntahkan material magma dari dalam perut bumi. Ancamannya sangat dahsyat, tetapi masyarakat seperti tersihir oleh kesibukan-kesibukan melalaikan. Nah, seperti itulah bangsa Indonesia saat ini. Di atas permukaan kita baik-baik saja, tetapi secara fundamental kondisi bangsa ini sangat mengkhawatirkan.

Persis seperti bencana banjir Situ Gintung kemarin. Masyarakat disana hidup puluhan tahun di bawah tanggul danau. Mereka ratusan sampai ribuan orang beranak-pinak di bawah danau. Hidup dijalani dengan segala aktivitas yang melalaikan. Suatu ketika, tanpa diduga, tanggul jebol, air jutaan meter kubik yang menggenangi Situ Gintung seketika amblas menerjang perumahan warga. Kehidupan yang semula kompleks, mendadak sirna seketika.

Apakah hal-hal seperti ini tidak menjadi pelajaran bagi kita?

Sebuah kenyataan yang tidak bisa ditolak, bahwa mayoritas bangsa Indonesia adalah orang-orang yang awam, lugu, dan pasif. Mereka sulit mencerna isyarat-isyarat yang samar, dalam, dan tinggi. Selera masyarakat kita terlalu sederhana. Slogan yang selalu mereka ucapkan, “Kami ini rakayat kecil. Kami ikut saja bagaimana orang-orang di atas sana.” (Termasuk mau ikut saja digiring ke kobaran api neraka? Na’udzubillah min dzalik).

Tugas dakwah Islam untuk mendidik kaum Muslimin sebaik mungkin, mencerahkan pemikirannya, membersihkan spiritualnya, membangun keberdayaannya, dengan ijin Allah Ta’ala. Jangan sampai masyarakat tenggelam dalam keawamannya, enggan memperbaiki diri, dan merasa cukup dengan kehidupan yang dibumbui hiburan-hiburan. Sebab di puncak segala kelalaian itu, biasanya Allah akan menurunkan peringatan keras. Tinggal kita sendiri, apakah kita mau menjadi manusia yang sadar diri, atau selalu menjadi korban bencana demi bencana?

Wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: