Wajah Peradaban Kebohongan

Mungkin rasanya aneh ya, peradaban kebohongan. Satu sisi bicara tentang adab, substansi moral yang luhur; tetapi di sisi lain tentang kebohongan, satu noda pekat dalam timbangan moral. Tetapi kita harus mau membicarakannya, sebab itulah realitas dunia masa kini yang kita jalani. Di atas kertas kita hidup sebagai manusia beradab, tetapi dalam realitas kita menjadikan kebohongan sebagai pilar kehidupan.

WAJAH KPU

Sebuah contoh telanjang dipaparkan di depan mata kita. Anda masih ingat dengan KPU dan Ketuanya Abdul Hafizh Anshari? Insya Allah orang seluruh Indonesia mengenalnya. Sejak kisruh Pilkada Jawa Timur, KPU sudah diingatkan berbagai pihak tentang tanda-tanda kekacauan dalam pelaksanaan Pemilu April 2009. Sebagian orang sudah dini hari melapor ke KPU dengan bukti-bukti setumpuk. Tetapi KPU menjawab, “Semua baik-baik saja. Persiapan Pemilu sudah sesuai jadwal. Dokumen DPT bermasalah itu dari mana? Jangan-jangan itu hanya rekayasa kelompok tertentu saja?” Jangankan mau mengakui kekurangan, KPU malah “balik menyerang”.

Itu fakta jauh hari sebelum Pemilu. Menjelang hari “H” Pemilu, KPU rapat bersama SBY dan kabinetnya. Dalam laporannya, Abdul Hafizh Anshari mengklaim bahwa: Persiapan Pemilu telah tuntas, segala masalah sudah teratasi, Pemilu tinggal dijalankan. Tidak lupa Abdul Hafizh dengan sangat fasih menyebut nama-nama Allah, seperti: Alhamdulillah, insya Allah, Allah Subhanahu Wa Ta’ala, pertolongan Allah, dan yang semisal itu. Dalam dialog di TVOne saat penutupan masa kampanye, betapa fasihnya lidah Abdul Hafizh dalam menyebut Asma-Asma Allah. (Memang seharusnya begitu. Seorang Muslim harus fasih dengan Dzikrullah. Tetapi jangan sampai terjadi, Kalimat-kalimat Allah diucapkan untuk menyembunyikan kebobrokan).

Ketika Pemilu 9 April 2009 akhirnya go on,  saat pelaksanaan maupun sesudahnya banyak sekali muncul masalah. Ada wilayah tertentu yang belum mendapat logistik (seperti bilik suara di wilayah Jawa Barat), ada yang kertas suara baru datang malam harinya, ada kertas suara masih di jalan, ada kertas suara tertukar satu daerah dengan lainnya, dan yang paling banyak adalah soal DPT. Hingga ada yang menyebutkan 30-40 juta pemilih tidak masuk DPT.

Masalah belum selesai. Penghitungan suara bermasalah, verifikasi surat suara sah bermasalah, surat suara berserakan, kotak suara tanpa segel, pengiriman kotak suara tanpa saksi, tuduhan penggelembungan suara, konflik antar caleg, penghitungan suara di pusat Tabulasi Nasional sangat sangat lambat, dan lain-lain. Wah, luar biasa, ini adalah PEMILU TERBURUK yang pernah dilaksanakan di Indonesia.

Inilah yang diklaim Abdul Hafizh dan KPU sebagai Pemilu yang sudah siap, sudah sesuai jadwal, tidak ada masalah, semua persoalan sudah teratasi, dan lain-lain. Betapa mudahnya LIDAH MANUSIA berputar-putar untuk mengklaim kebaikan-kebaikan yang tidak ada wujudnya. Kalau mendengar komentar anggota KPU, segalanya tampak baik, segalanya selalu beres, no problem man. Namun realita berbicara bahwa masalah yang amat sangat banyak.

JANJI POLITISI

Lain KPU, lain pula para politisi. Mereka sudah dikenal sangat masyhur dalam memberikan janji-janji politik kepada masyarakat. Tetapi janji itu tidak pernah ditepati secara konsisten, hatta oleh mereka yang dikenal sebagai politisi Islam. Begitu mudahnya mereka berjanji, sampai masyarakat tidak mau mempercayai sama sekali. “Aahh, lu mah omong doang!” begitu kata masyarakat. Mereka berbicara setinggi langit, tetapi kenyataan di lapangan serendah dasar bumi paling dalam.

DUSTA BIROKRASI

Lain politisi, lain pula Pemerintah. Selama bertahun-tahun birokrasi hanya bisa menina-bobokan masyarakat dengan klaim yang serba enak, serba mudah, serba sejahtera. Anda masih ingat, bagaimana retorika Pemerintah sebelum menaikkan harga BBM 100 % pada November 2005, atau pada 2007 lalu. Mereka selalu beralasan, “Ini soal harga minyak dunia yang terus melambung.” Tetapi ketika harga minyak dunia turun ke level US$ 40 sampai US$ 50, suatu penurunan drastis dikaitkan dengan patokan harga BBM di APBN. Ternyata, mereka tidak mengembalikan harga BBM pada patokan sebelum November 2005, yaitu harga bensin sekitar Rp. 2.500,- per liter. Mereka lupa bicara soal “harga BBM di dunia”, tetapi memakai alasan lain, “Sekarang sedang krisis finansial global.”

Kebohongan birokrasi dalam soal bencana alam, proses rekontruksi wilayah pasca bencana, UU tenaga kerja, UU SDA, UU kelistrikan, manajemen energi, “swasembada beras”, intervensi asing, kontrak karya pertambangan, penjualan aset-aset strategis negara, kebijakan hutang luar negeri, dan lain-lain. Tetapi semuanya diklaim: Baik baik saja, sejahtera, pembangunan untuk rakyat, kehidupan adil dan makmur, dan sebagainya.

DUSTA DAKWAH

Bahkan yang sangat mencengangkan adalah kebohongan atas nama dakwah Islam. Bukan hanya KPU, politisi, birokrator yang pandai berbohong. Para dai, aktivis, muballigh, KH, “alim-ulama”, dan lainnya juga tidak sepi dari kebohongan. Mereka mengatakan di depan Ummat, “Marilah kita bersikap ikhlas kepada Allah!” Sementara mereka terus membangun popularitas di mata manusia dengan berbagai cara. Mereka mengatakan, “Mari semuanya kita pasrahkan kepada Allah!” Tetapi mereka sangat giat dalam berebut kekuasaan dan keuntungan bisnis. Mereka mengatakan, “Makanlah yang halal lagi baik, jangan ada segumpal daging dari makanan haram!” Sementara mereka mau menerima uang risywah (suap) dari pengusaha, pejabat, kalangan asing, dan sebagainya. Mereka mengatakan, “Kami sepenuhnya memperjuangkan aspirasi Ummat!” Sementara kenyataannya, ucapan seperti itu hanya diucapkan saat kampanye saja. Mereka mengatakan, “Marilah kita saling nasehat-menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.” Sementara ketika mendapatkan masukan atau kritik, seketika marah-marah; mukanya memerah, lalu balik menuduh pihak yang memberi kritik: Anda memfitnah, ghibah, adu-domba, hanya ngomong saja, berburuk sangka, dan sebagainya.

DUNIA PROFESI

Dalam masalah profesi juga seperti itu. Berbohong di depan atasan adalah hal biasa; berbohong kepada rekan sekerja adalah makanan sehari-hari; berbohong kepada klien adalah tradisi; berbohong saat presentasi anggaran, adalah kiat paling jitu; berbohong dalam menyusun MoU sudah lazim, dan berbagai kebohongan lainnya.

Ada sebuah anekdot tentang budaya bohong di dunia profesi:

Seorang karyawan sebutlah namanya Insan. Dia biasa berbohong kepada atasannya yang bernama Herman. Suatu hari Insan lagi makan-makan di kafe bersama teman-temannya. Tiba-tiba ada telepon dari atasannya: “Hai insan, dimana kamu sekarang?” tanya Herman atasannya. Insan dengan cepat menjawab tanpa keraguan: “Lagi di kantor Pak. Menyelesaikan laporan yang Bapak minta. Ada apa ya? Ada yang bisa dibantu?” Lalu Herman berkata, “Oh, tidak Insan. Silakan teruskan pekerjaanmu. Ini saya lagi rapat dengan pemegang saham. Selamat bekerja ya!”

Setelah telepon ditutup, Insan langsung tertawa terbahak-bahak. “Bos gue baru nelpon. Gue bilang saja, gue lagi di kantor ngerjain laporan. Dia percaya saja. Dasar bos lugu, tidak tahu kalau dikibuli,” kata Insan disambut tawa teman-temannya.

Sementara itu di tempat lain, Herman atasan Insan,  setelah menutup telepon, dia tertawa tidak kalah kerasnya. “Ini nih Insan. Dia itu karyawan saya yang paling jujur dan rajin. Jam segini masih ngerjain laporan di kantor. Tadi saya bilang, saya lagi rapat dengan para pemegang saham. Cuma diomongin begitu saja, dia percaya saja,” kata Herman tertawa puas. Sambil Herman tertawa, sekretarisnya yang cantik terus memijati kakinya di sebuah kamar hotel berbintang tiga. (Masak rapat dengan pemegang saham pakai acara pijat-memijat?).

Yang lebih mengherankan, sekretaris Herman yang cantik itu dalam hatinya dia berkata, “Aaah, lu juga mudah saya bohongi, Herman. Gue kan cuma lulusan SMA, tidak pernah kuliah, apalagi ke Amerika. Lu cuma gue kasih ijazah palsu, tapi lu percaya saja. Hi hi hi…”

Tidak lama kemudian datang telepon dari manajemen hotel ke kamar Herman. “Bapak yang kami hormati. Mohon maaf sekali, kami harus mengganggu kenyamanan bapak-ibu di hotel kami. Baru saja datang telepon dari kantor Gubernur. Mereka meminta beberapa kamar secepatnya untuk tamu-tamu Pemda yang segera tiba. Dengan sangat menyesal, kami berharap bapak-ibu segera membereskan barang-barang,  karena kamar bapak-ibu akan segera kami siapkan untuk tamu Pemda. Ini kami lakukan sebagai bagian dari tanggung-jawab membantu tugas negara. Atas segala ketidak-nyamanan yang ada, kami mohon dimaafkan sebesar-besarnya. Terimakasih,” kata seorang resepsionis dengan kata-kata sangat santun sambil membaca sebuah teks yang sudah ratusan kali dia baca untuk mengusir para pelanggan hotel. “Beres bos!” kata resepsionis itu kepada manajernya.

Kebohongan demi kebohongan telah mengepung kehidupan kita. Kebohongan itu menjadi fitnah yang berterbangan di udara. Ada yang terbang sia-sia; ada yang hinggap di telinga, lalu dilupakan; ada yang hinggap ditelinga, lalu ditolak mentah-mentah; tetapi banyak juga yang sampai di telinga, dicerna pikiran, lalu mengendap di hati selama bertahun-tahun. Semua kebohongan ini membuat hidup terasa sesak, harapan semakin menipis, dan suasana pergaulan penuh dengan prasangka dan disharmoni.

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyelamatkan saya, Anda, keluarga kita, dan kaum Muslimin semua, dari fitnah kehidupan seperti ini. Semoga Allah memaafkan kesalahan-kesalahan kita, kebohongan kita, serta memperbaiki lisan kita untuk selalu komitmen dengan shidqul kalam. Allahumma amin.

Wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: