Krisis Global dan Kemiskinan

Bocah Miskin di Kenya. Kekurangan Air. (www.islamic-relief.com)

Bocah Miskin di Kenya. Kekurangan Air. (www.islamic-relief.com)

Baru-baru IMF melansir data, nilai kerugian akibat krisis finansial global mencapai US$ 4 triliun. Atau US$ 4.000.000.000.000,- (nolnya 12). Kalau satu dolar setara dengan Rp. 10.000,-, maka nilainya dalam hitungan rupiah sama dengan 40.000 triliun rupiah.

[Weleh, weleh, weleh, kalau uang sebanyak itu dibelikan kerupuk, kira-kira sebanyak apa? Mungkin semua permukaan bumi bisa ditutupi dengan kerupuk, kecuali kantor pusat IMF. Maklum, mereka tidak suka makan kerupuk. “Naon? Kerupuk? Naon eta teh?” kata deputi senior IMF].

Dampak nyata dari krisis global ini adalah meluasnya kemiskinan di muka bumi. Semua negara itu sepakat untuk memerangi kemiskinan. Dimana pun ada negara yang membangun, pasti mereka memerangi kemiskinan. Baik berhasil atau tidak, pokoknya secara formal membenci kemiskinan.

Ali bin Abi Thalib Ra. pernah mengatakan, “Andaikan kemiskinan itu berwujud seorang manusia, tentu aku akan membunuhnya.” Begitulah atsar yang pernah saya dengar. Kemiskinan menjadi musuh siapapun yang sedang membangun negaranya.

Dengan krisis global ini, segalanya semakin ruwet. Kemiskinan justru bisa melambung beberapa kali lipat. Negara seperti Indonesia tidak selamat dari bahaya “badai kemiskinan” ini. Apalagi negara-negara miskin di benua Afrika. Jangankan Afrika, negara seperti Amerika dan Eropa saja kewalahan. Hanya Allah Ta’ala yang menjadi tumpuan harapan kita semua. Nas’alullah al ‘afiyah was salamah. Amin.

Menariknya…

Krisis global ini bukan karena di muka bumi ini tidak ada barang, bukan karena tidak ada pasar, tidak sumber alam, tidak ada hasil pertanian, tidak ada transaksi, tidak ada pasar, dan sebagainya. Bukan karena itu semua. Tetapi krisis global terjadi karena SISTEM JAHAT yang selama ini dianut oleh para ekonom di mayoritas negara-negara di dunia. Sistem itu adalah perpaduan antara: Sistem ribawi, uang kertas, perjudian, pasar bebas, dan monopoli para pengusaha. Sistem jahat ini merupakan hasil akumulasi dari sub-sub sistem jahat, sehingga hasilnya adalah lahirnya tatanan ekonomi dunia yang sangat tidak adil (zhalim). Dalam sistem ini, para pemegang modal (kapitalis) mendominasi pasar bisnis, sementara masyarakat miskin menjadi “sampah” yang semakin menderita. Persis seperti kata Bung Haji Rhoma, “Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin.”

Allah Ta’ala tidak menghendaki sistem zhalim seperti ini terus mengangkangi dunia, maka Dia membuat perhitungan dengan menghancurkan sistem itu dari akar-akarnya. “Dan katakanlah: Telah datang kebenaran, dan lenyaplah kebathilan. Sesungguhnya kebathilan itu pasti akan lenyap.” (Surat Al Isra’).

Kalau kembali merenungi sejarah kemenangan Islam di masa lalu. Waktu itu kaum Muslimin memiliki kekuatan dari dua sisi, yaitu: NILAI dan FASILITAS. Value and facility. Secara nilai, konsep Islam sangat sempurna, tidak ada yang sanggup mengunggulinya. Namun secara kekuatan, kaum Muslimin juga memiliki modal yang tangguh.

Kejayaan Islam sulit terwujud kembali di jaman modern, ketika kita hanya memiliki NILAI saja, sedangkan dari sisi FASILITAS kita termasuk golongan MELARAT. Seharusnya, keduanya kita miliki. Di sisi lain ada yang ironis dengan Ummat ini. Sebagian negara-negara Muslim petro dollar, mereka sangat kuat dari sisi FASILITAS, mereka kaya-raya. Tetapi dari sisi NILAI mereka amburadul.

Andai kekuatan NILAI Islam mampu dipadukan dengan kekuatan FASILITAS kaum Muslimin yang tangguh, sungguh mimpi Kebangkitan Islam bukanlah sesuatu yang mengada-ada.

Lalu bagaimana solusinya menurut Anda, wahai Pembaca?

Bandung, 23 April 2009.

AM. Waskito.

2 Responses to Krisis Global dan Kemiskinan

  1. demotrasi berkata:

    Saya setuju bahwa Indonesia tidak terlepas dari cengkaraman gurita-gurita raksasa dunia yang menancapkan kuku-kukunya dengan kuat dan memaksakan ideologi kapitalis dan liberlasme mereka, yang sekarang ini bermetamorfosa dan menjelma menjadi pasar bebas, free trade market, globalization.

    melalui WTO dan IMFnya Indonesia dipaksa untuk mengikuti kemauan mereka dengan harus membuka pasar selebar lebarnya untuk komoditas dunia, sementara didalam negeri sendiri semuanya carut marut, dan tiada kesiapan sama sekali, maka jadilah kita hanya menjadi negara konsumen yang menampung sampah dunia, bahkan hasil bumi kita sendiri setelah diolah oleh negara asing akan kita beli kembali dengan harga yang berlipat ganda

    Indonesia memang adalah negara yang kaya akan hasil alamnya, kita tidak kekurangan hasil alam,dan bahkan sangat kaya, tapi lihatlah apa yang terjadi? apakah munyak kita dapat membuat kita mandi rupiah seperti negara arab yang kaya raya itu? apakah gas alam yang di ekspor kemanca negara kita rasakan keuntungannya? apakah negara kecil seperti Singapura itu dapat berkembang kalau tidak dapat suply bahan mentah dari Indonesia? (walaupun mereka juga membeli dari hasil colongan dan dengan harga yang sangat murah pula, contohnya adlah pasir), juga emas di Papua, apakah rakyat Papua dapat menikamati hasil alam yang berlimpah itu? sedangkan PT Freeport itu dalam rengking teratas nilainya di wall street.

    Perkebunan juga tidak kalah melimpah ruah, juga budaya yang kaya dan banyak lagi hasil dari perut bumi ini yang dapat membunuh dan menyingkirkan jauh-jauh kemiskinan dari bumi pertiwi ini.. oh Indonesiaku…hanya perlu seorang pemimpin yang jujur, berani berkata “tidak pada Amerika dan sekutunya, Indonesia hanya perlu pemimpin yang berani mati, bukan yang mau nya jual negara asal dia hidup senang.

    seharusnya rakyat Indonesia harus insaf seinsaf-insafnya akan realitas yang dihadapinya itu. Segala konflik internal bangsa Indonesia harus dihentikan. Dan kekuatan rakyat harus dikonsentrasikan untuk menghancurkan stelsel kapitalisme global tersebut. Cita-cita kemerdekaan akan tercapai bila kita setia pada perjuangan founding fathers and mothers kita, inilah namanya perjuangan permanen. Suatu perjuangan untuk mencapai tujuan Masyarakat Indonesia yang adil dan makmur dengan benar-benar memperhatikan ideologi Pancasila itu sendiri,maka cita-cita perdamaina dunia itu insyaAllah akan tercapai.

  2. abisyakir berkata:

    @ Demotrasi.

    Terimakasih sudah berkunjung. Maksudnya “demonstrasi” kali ya… Terimakasih juga atas komentarnya. Rupanya Mbak pengamat persoalan ekonomi-politik juga ya.

    Perkataan Anda yang sangat menarik: “Indonesia hanya perlu pemimpin yang berani mati, bukan yang mau nya jual negara asal dia hidup senang.

    Saya kira masalahnya disini. Saat ini banyak pemimpin politik, tetapi jarang pemimpin patriot. Saya terus terang kagum dengan kesungguhan Anis Matta pada waktu dulu, saat dia sungguh-sungguh menggarap ide “karakter pahlawan”. Saya rasa, hanya dia di antara sekian banyak Muslim di Indonesia yang sungguh-sungguh menggali masalah itu.

    Namun sayang sekali: (1) Wacana “pahlawan” Anis Matta berhenti di tengah jalan; (2) Konsep “pahlawan” itu tidak mampu dibuktikan oleh Anis sendiri dalam kiprah politiknya. Malah banyak aktivis Muslim yang menyebut Anis sebagai elit politik yang “pintar mencari duit”. Wah, yang “serba duit” itu biasanya jauh dari karakter pahlawan sebagaimana yang diharapkan masyarakat selama ini.

    Sekali lagi terimakasih ya. Wassalamu’alaikum.

    AMW.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: