Metode Rusak dalam Menggali Berita (Sebagian Isi Buku “Salafi Ekstrem”)

Mula-mula harus disadari, bahwa cara yang dipakai oleh para pemuda ekstrem itu adalah: Tajassus! Ia adalah metode mencari-cari kesalahan manusia, sampai sekecil-kecilnya. Cara demikian tidak boleh ditempuh di antara sesama Muslim, sebab hukumnya haram. Dalam Al Qur’an, “Dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan (sesama Mukmin), dan janganlah kalian satu sama lain saling menggunjing.” (Al Hujuraat: 12).

Tajassus sangat berbahaya, karena bisa mematahkan persatuan kaum Muslimin, mengobarkan permusuhan di antara mereka, dan menyebarkan kerusakan meluas di muka bumi. Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Sesungguhnya engkau, jika selalu menyelidiki aurat (kesalahan) kaum Muslimin, maka engkau telah merusak mereka. Atau hampir saja engkau merusak mereka.” (HR. Abu Dawud dari Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu).

Seandainya tajassus itu halal dilakukan (misalnya karena dibutuhkan oleh penguasa Muslim), maka cara-cara yang ditempuh haruslah Islami. Ia harus dilakukan secara adil, sehingga diperoleh informasi-informasi yang benar, sehingga akhirnya tidak merugikan kepentingan pihak-pihak tertentu. Hal itu ditempuh dengan memanfaatkan informasi dari orang-orang beriman yang dikenal baik reputasinya. Dalam ilmu hadits, ia termasuk metode periwayatan hadits. Hadits tidak diterima, melainkan dari para rawi (pembawa riwayat) yang dikenal tsiqah dan dhabith.

Namun yang dilakukan oleh pemuda-pemuda Salafi ekstrem itu, mereka bersandar pada metode Googling (mengumpulkan berita melalui search engine Google). Cara demikian jelas sangat keliru, tidak bisa diterima. Untuk mengetahui keadaan seseorang atau suatu organisasi, harus merujuk kepada orang-orang beriman yang mengetahui informasi tersebut. Sedangkan Googling tidak bisa menjamin, bahwa informasi yang diperoleh akan benar, lurus, dan adil. Apalagi di dunia internet sudah dikenal luas, banyak pengguna internet melakukan pemalsuan data. Dalam chatting atau friendster banyak pengguna internet memoles data-data pribadinya, sehingga tampak mengesankan dan penuh daya-tarik.

Lagi pula, jika Google menjadi andalan, maka informasi yang diperoleh tidak akan lengkap, sebab yang tersebar disana hanyalah menyangkut sebagian data-data seseorang atau lembaga. Sebagian lain yang tidak termuat di internet, tidak bisa diketahui keadaannya. Bisa jadi, informasi yang tidak termuat di internet itu justru merupakan inti informasi yang seharusnya diketahui.

Seandainya metode Googling diterima oleh kaum Muslimin (seandainya demikian), maka dalam mengolah informasi itu haruslah adil. Mata kita jangan hanya tertuju kepada data-data yang bersifat negatif melulu, tetapi juga harus melihat keseluruhan data, termasuk bagian-bagian positifnya. Itulah cara adil yang lebih sesuai dengan Syariat Islami. Dalam Al Qur’an, “Dan berbuat adillah kalian, karena sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang adil.” (Al Hujurat: 9).

Adapun sikap mencari-cari kesalahan dan tidak mau melihat sedikit pun kebaikan orang lain, hal itu termasuk kezhaliman yang nyata. Ia telah menyalahi prinsip keadilan yang seharusnya ditegakkan. Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam bersabda, “Takutlah kalian akan kezhaliman, sebab kezhaliman itu merupakan kegelapan di Hari Kiamat.” (HR. Muslim dari Jabir radhiyallahu ‘anhu).

Dan perkara yang sangat menakjubkan. Para pemuda ekstrem itu menghalalkan segala celaan, penghinaan, pembeberan aib-aib, fitnah, bahkan permusuhan kepada pihak-pihak yang mereka benci. Sementara, kepada kalangannya sendiri, kepada para ustadz dan teman-temannya sendiri, mereka hanya memuji-muji, meninggikan namanya, tidak sedikit pun menunjukkan cacat dan cela mereka. Seolah kelompok mereka tidak tersentuh kekurangan sedikit pun.

Lebih jahat dari semua itu, setiap berita yang mereka peroleh melalui cara Googling, kemudian dibesar-besarkan sedemikian rupa, sehingga orang-orang yang membacanya akan ‘muntah’ seketika. Mereka menerapkan prinsip dramatisasi yang sangat tidak bisa dimengerti.

Contoh sederhana, sebuah penerbit di Bandung menerbitkan buku karya Jalaluddin Rahmat, tokoh Syi’ah. Ketika saya bekerjasama dengan penerbit itu, saya dituduh telah menjalin kerjasama dengan penerbit Syi’ah. Padahal penerbit itu bukan milik orang Syi’ah, ia milik sebuah keluarga Minang. Penerbit itu menerbitkan banyak buku, dari berbagai penulis dalam dan luar negeri. Termasuk di dalamnya buku-buku pelajaran sekolah dan perguruan tinggi. Khawatirnya, kalau nanti anak Anda membeli buku pelajaran dari penerbit itu, dia juga akan dituduh: “Telah membantu memajukan bisnis orang Syi’ah.” Kekacauan berpikir ini sudah sedemikian parah, sikap membabi-buta telah melampaui batas, hingga burung-burung pun setiap hari menangis menyaksikan kezhaliman mereka.

Menolong Makar Orang Kafir

Di atas semua ini, maka yang sangat berbahagia atas disebarkannya informasi-informasi menyangkut aktivitas para dai dan lembaga-lembaga Islami, adalah orang-orang kafir yang setiap hari bekerja keras melakukan konspirasi. Mereka akan sangat bersyukur ketika rahasia-rahasia Ummat Islam telah terkumpul di suatu tempat dan dapat dipungut secara gratis dengan sangat mudahnya.

Harus diakui, para orientalis, misionaris, liberalis, dan kepentingan politik Barat, setiap waktu mencari-cari kesalahan Ummat Islam agar bisa menjadi komoditi untuk menekan dan menyusahkan kehidupan kita semua. Dengan pembeberan aurat-aurat kaum Muslimin itu, orang-orang kafir tidak perlu lagi susah payah mencari titik-titik kelemahan Ummat. Mereka sudah mendapat “ghanimah” secara gratis. Mereka tinggal mengakses informasi di internet dari negeri masing-masing. Tidak perlu susah-payah membentuk tim peneliti, cukup mencari “warnet” di negerinya, maka aurat-aurat kaum Muslimin itu sudah dapat diperoleh sambil ongkang-ongkang kaki. Siapa lagi yang berjasa, kalau bukan Abu Abdillah Ibrahim, Abdul Hadi As Salafi, Abdul Ghafur Al Malanji, Irfan Al Cilacapi, dan kawan-kawan? Bisa jadi, suatu ketika mereka akan mendapat hadiah Nobel karena berjasa menyusahkan kaum Muslimin di Indonesia. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Padahal Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah dalam sebuah bukunya yang terkenal Aqidah Shahihah wa Nawaqiduha, telah merinci sebab-sebab kekafiran seseorang. Salah satunya ialah menolong orang-orang kafir dalam memerangi Islam. Perbuatan itu menyebabkan pelakunya murtad dari jalan Islam. Dalil yang beliau utarakan, dan ia sering dijadikan hujjah oleh ulama-ulama lainnya, ialah Surat Al Maa’idah ayat 51. Disana dikatakan: “Wahai orang-orang beriman, janganlah kalian menjadikan orang Yahudi dan Nashrani sebagai penolong-penolongmu. Sebagian mereka menjadi penolong atas sebagian yang lain. Maka siapa yang loyal kepada mereka (orang-orang Yahudi dan Nashrani itu), maka dia adalah bagian dari mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zhalim.” (Al Maa’idah: 51).

Dalam sebuah fatwa tertanggal 17/6/1414 H, Syaikh Bin Baz mewakili Lajnah Buhuts Ilmiah Wal Ifta’ Kerajaan Saudi, mengemukakan fatwa yang sangat bermanfaat, alhamdulillah. Beliau menyoroti situasi dakwah Islam yang dikeruhkan oleh fitnah-fitnah yang sangat berbahaya. Antara lain disebutkan:

“Akhir-akhir ini, telah menjadi wacana publik, bahwa ada sekelompok orang yang dikenal sering bergelut dengan masalah-masalah keilmuan Islam dan dakwah, melecehkan kehormatan saudara-saudara mereka dari kalangan dakwah Islam terkemuka. Mereka juga melecehkan kehormatan para penuntut ilmu, para dai, dan para penceramah. Kadang mereka melakukannya secara tersembunyi di tempat-tempat pengajian mereka atau direkam di kaset-kaset dan disebarkan di tengah-tengah masyarakat. Dan kadang pula hal itu dilakukan secara terang-terangan dalam pengajian-pengajian umum di masjid-masjid. Perbuatan ini sangat bertentangan dengan apa yang diperintahkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada Rasul-Nya.”


“…Perbuatan ini adalah upaya pemecah-belahan persatuan Ummat Islam dan pengoyakan barisan mereka. Sementara mereka (Ummat –pen.) sangat membutuhkan adanya persatuan dan sirnanya perpecahan, perselisihan, dan perdebatan sia-sia di antara mereka. Apatah lagi bila para dai yang dilecehkan tersebut berasal dari kalangan Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang terkenal dengan kerja-nyata mereka dalam memerangi bid’ah dan khurafat, menentang para penyerunya, serta menyingkap makar dan tipu-daya mereka. Kami memandang bahwa tidak ada sedikit pun maslahat di balik perbuatan ini, kecuali bagi musuh-musuh Islam dari kalangan orang-orang kafir dan munafiq, atau ahli bid’ah dan kesesatan yang sangat mengidam-idamkan kehancuran umat Islam.” (Dakwah Salafiyah Dakwah Bijak: Menjawab Tuduhan, Lampiran 1, hal. 304-305).

Kita menasehatkan kepada pemuda-pemuda ekstrem itu, agar mereka berhenti dari amal usahanya yang penuh fitnah dan permusuhan. Begitu besarnya kedengkian mereka, hingga sebuah media Islam seperti majalah Qiblati yang didukung oleh Mufti Masjidil Haram, tidak selamat dari caci-maki dan permusuhan mereka. Apa yang mereka perbuat, jika tidak segera diikuti oleh taubat dan upaya-upaya ishlah, bisa berujung menjadi kekafiran (murtad). Siapapun yang menolong makar orang kafir, setelah nasehat dan peringatan diberikan kepadanya, mereka bisa menjadi bagian dari golongan kafir itu. (Dan alhamdulillah, Islam mengatur urusan manusia sampai sedemikian detail. Pintu-pintu ke arah madharat ditutupi serapat-rapatnya. Alhamdulillah).

Wallahu a’lam bisshawaab.

Iklan

2 Responses to Metode Rusak dalam Menggali Berita (Sebagian Isi Buku “Salafi Ekstrem”)

  1. abahguru berkata:

    lanjutannya mana ustadz?
    Masa cuma mukaddimah doank?

  2. abu shidqi berkata:

    betul akhi, ana jg heran dg cara dakwah mereka. ana dukung perjuangan antum.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: