Sikap Politik Amien Rais

Terus-terang, saya termasuk salah satu pemerhati yang sulit memahami manuver-manuver politik Amien Rais, Ketua Majelis Pertimbangan Partai PAN. Semakin kesini semakin sulit memahami pemikiran sekaligus gerak siyasi seorang Amien Rais. Pro Islam kah, pro reformasi kah, pro perubahan kah, atau pro kekuasaan? Wallahu A’lam.

Masyarakat Indonesia masih ingat dengan baik -kecuali yang sudah lupa- betapa kerasnya sikap politik Amien Rais kepada Pemerintahan SBY, terutama dalam soal “kenaikan harga BBM” dan rencana “penjualan puluhan aset stategis negara”. Waktu itu Amien sampai membuka front politik terbuka menghadang langkah SBY. Tidak tanggung-tanggung, Amien menuduh SBY sebagai agen Washington dengan memperlihatkan surat tertentu. Jelas, SBY kalang-kabut menghadapi serangan Amien Rais itu.

Saya sendiri ikut menyaksikan bagaimana aksi seorang Amien Rais ketika “membantai” Jusuf Kalla dalam sebuah diskusi di MetroTV, bersama BJ. Habibie dan disaksikan salah satunya oleh Hendro Priyono. Amien tanpa kesopanan sama sekali menyebut JK sebagai “Betara Kalla”, padahal seharusnya seorang negarawan itu sebenci apapun kepada musuh-musuh politiknya, dia harus tetap menjaga etika.

Contoh, George Bush ketika dia dilempar sepatu oleh Muntazher Al Zaidi di Irak. Adakah lagi kejadian yang paling memalukan bagi seorang kepala negara, selain dirinya dilempar sepatu dua kali, lalu menjadi bahan lelucon di seantero dunia. Mana lagi ada yang lebih memalukan dari itu? Tapi lihatlah, dengan segala kezhalimannya, George Bush tetap berusaha tenang, berusaha melontarkan komentar secara dingin, dan tidak bermaksud melampiaskan dendam pribadi kepada pelempar sepatu. Seharusnya, seorang pemimpin negara itu tahu batas-batas etika, sekalipun dirinya amat sangat benci kepada orang-orang tertentu.

Lagi pula, kalau mengukur ke masa sebelumnya. Kesalahan yang dilakukan JK -jika bisa disebut demikian, karena bagaimanapun dia hanya seorang Wakil Presiden- masih jauh lebih kecil daripada TIGA KESALAHAN SEJARAH yang dilakukan oleh Amien Rais. Anda tahu, apa saja ketiga kesalahan sejarah itu?

Pertama, Amien Rais menghalangi Habibie menjadi presiden kembali pada SU MPR Oktober 1999. Padahal Habibie adalah sosok yang paling memungkinkan untuk menjadi presiden dengan reputasi, pengalaman, ilmu, dan komitmennya. Patut dicatat, dalam masa 17 bulan kepemimpinannya, Habibie berhasil “menaklukkan” badai krisis ekonomi.

Kedua, Amien Rais mendorong Abdurrahman Wahid sebagai Presiden RI tahun 1999, lalu menjatuhkannya pada tahun 2001. Abdurrahman Wahid dari sisi apapun tidak layak menjadi presiden, baik karena sikap politiknya, budaya kontroversinya, pengalamannya yang minim di bidang birokrasi, maupun sifat fisiknya yang lemah (buta dan lumpuh). Dalam kajian fiqih, Wahid tidak bisa diangkat sebagai pemimpin karena handicap fisiknya itu.

Ketiga, seruan politik Amien Rais untuk membabat habis segala sesuatu yang berbau Orde Baru. Padahal tidak semua yang berasal dari era Orde Baru itu buruk, masih banyak yang baik-baiknya yang seharusnya tetap dipelihara. Sebab kebaikan-kebaikan itu bukan berasal dari tangan Orde Baru, tetapi dari usaha rakyat Indonesia dan sebagai buah rizki Allah.

Dengan dosa-dosa sejarah yang sangat berat ini, seharusnya Amien Rais banyak bertaubat, banyak beristighfar, seperti yang disarankan oleh banyak kalangan. Penderitaan rakyat Indonesia tidak lepas dari kesalahan-kesalahan manuver politiknya di era Reformasi. Akan lebih baik, kalau seorang Amien Rais menjadi tokoh spiritual, menjadi bapak bangsa yang bijak, peduli dengan kehidupan masyarakat, dan tidak berambisi kepada kekuasaan.

Seharusnya, Amien Rais mengaca kepada sikap BJ. Habibie. Beliau setelah pensiun dari urusan politik praktis, beliau tidak berambisi lagi berkuasa. Andai pernah ada keinginan berkuasa lagi, karena dia sangat peduli dengan kemerosotan kehidupan rakyat Indonesia, dan dia ingin memperbaikinya. Tetapi banyak hal yang telah berubah, sehingga Habibie tidak bisa lagi terjun dalam gelanggang seperti ini. Beliau sudah udzur.

Atau lihatlah sikap konsisten seorang Soeharto. Ketika dia declare akan “madeg pandito”, cukup menjadi “begawan” saja. Benar-benar Soeharto tunaikan janjinya. Setelah lengser, dia sama sekali tidak ada niat revans, mengulang kembali berkuasa seperti semula. Padahal untuk seorang Abdurrahman Wahid saja, meskipun pernah dijatuhkan dalam SI MPR, dia tetap ingin menjadi Presiden tahun 2009 ini.

Tetapi apa kenyataannya kini dengan seorang Amien Rais?

Sungguh, saya tidak melihat sifat-sifat bijak seperti umumnya Pemimpin Muhammadiyyah sebelum era Amien Rais. Almarhum Azhar Basyir, apalagi AR. Fachruddin, Buya Hamka, bahkan Ki Bagus Habikusumo, mereka semua  sangat dikenal sikap santun  dan arifnya.

Almarhum Pak AR misalnya, beliau adalah seorang pemimpin Muhammadiyyah yang berani membantah pemikiran Soeharto dalam pembicaraan empat mata. Soeharto waktu itu mengundang beliau untuk bicara empat mata. Soeharto mengancam akan membubarkan ormas-ormas Islam yang tidak setuju dengan Azas Tunggal. Tetapi Pak AR dengan berani mengatakan, “Tapi Bapak tidak bermaksud membubarkan Islam kan?” Soeharto hanya diam saja, lalu beliau pamit pulang. Tidak ada ketakutan sedikit pun dirinya akan “dicabut nyawanya” gara-gara perkataan yang tajam itu. Namun di mata jamaah Muhammadiyyah dan Ummat Islam, beliau bersikap santun. Tidak mengklaim paling berani menghadapi Soeharto. Beliau hanya berdiplomasi, menerima Azas Tunggal sebagai keharusan administratif saja, daripada diberangus oleh negara. Seperti pengendara kendaraan sengaja memakai helm agar tidak ditilang polisi.

Akhir-akhir ini Amien Rais sangat giat mendorong agar PAN berkoalisi dengan Partai Demokrat, lalu mengusung SBY sebagai Capres dalam Pilpres Juli 2009 nanti. Alasan Amien dalam pertemuan di Yogya bersama DPD-DPD PAN, kurang lebih, “Mencari yang probabilitas kemenangan politiknya lebih tinggi. Sedang yang tingkat probabilitasnya paling tinggi, adalah Partai Demokrat.

Apa yang dilakukan Amien bukan hanya pendapat politik, tetapi juga diiringi oleh gerilya politik, sampai mengundang wakil-wakil DPD PAN di rumah pribadinya di Yogya. Ya Ilahi, begitu cepatnya angin berbalik arah. Pagi hari masih menuju ke Barat, sore hari sudah ke arah Timur. Ada apa sih sebenarnya? Apa yang terjadi “di balik layar” sana?

Manuver Amien Rais sungguh tidak etik dan menyulitkan DPP PAN. Bahkan sejujurnya, Amien telah menanam saham untuk memecah-belah barisan PAN. Apakah seorang Amien Rais tidak legowo dengan berpindahnya tampuk kekuasaan politik DPP ke tangan Soetrisno Bachir? Bukanlah hal itu merupakan keharusan proses organisasi? Apakah Amien semacam ingin memainkan boneka kayu. Seorang pemimpin terlihat bergerak kesana-kemari, padahal sejatinya dia dikendalikan dari jauh. Bukankah hal itu sama saja dengan watak politik Orde Baru yang sering dikritik Amien sendiri?

Sungguh, sulit dimengerti. Pemimpin seperti ini tidak bermanfaat bagi Islam dan kaum Muslimin. Dia hanya memburu kepentingan pragmatisnya sendiri. Maaf Pak Amien Rais kalau ada yang harus mengkritik Anda setajam ini. Ya, sebagaimana Anda pernah memiliki pedang tajam untuk mengkritik sana sini, maka sudilah kiranya Anda membuka diri bagi kritik dari orang lain. Insya Allah, saya pun siap dikritik oleh siapapun yang menginginkannya.

Adalah IZZAH itu hanya milik Allah belaka, milik orang-orang beriman, milik Islam dan orang-orang yang membelanya. Mohon dimaafkan atas semua salah dan kekurangan. Dukung penuh langkah berani DPP PAN dalam memutuskan masuk “koalisi besar 6 partai”. Dukung penuh keberanian Bapak Soetrisno Bachir yang berpolitik tidak sekedar berdasarkan pragmatisme, tetapi juga idealisme.

Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

AM. Waskito.

8 Responses to Sikap Politik Amien Rais

  1. dobelden berkata:

    Dimana ada untung disitu prahu berlabuh… hehe..

    namanya juga politik

  2. joyo berkata:

    ya begitulah politik, selama ada kepentingan, musuhpun bisa dirangkul meskipun nanti tujuannya juga untuk dipukul lagi. “Esuk dele sore tempe” mungkin itu orang tua bilang. Pantaslah dulu mobil Amin Rais pernah di injak-injak mahasiswa. Amin Rais sekarang berganti Amin Raib.

  3. Imron berkata:

    Tulisan AM.Waskito sy rasa amburadul. Kenapa amburadul? karena isinya tidak sesuai dengan apa yang dikatakan. Watak seperti inilah yang akan menimbulkan kebencian dan kemurkaan di sisi Allah.”Kaburo Maqtan IndaAllah an Taqulu ma la Taf’alun”.

    Selain itu, di dalamnya juga sarat dengan kebenciannya terhadap pak Amien -Cucu Adam yang berpotensi salah dan silaf- sehingga secara tidak sadar Waskito terjerumus dan menggantung di lembah kedengkian yang luar biasa hebat dan bahaya.Bukannya Rasulullah pernah menegaskan, bahwa kedengkian seseorang terhadap orang lain akan menghapus semua kebaikan yg pernah dilakukannya? Na’uzubillah.
    Kalau Waskito menyarankan pak Amien untuk segera bertaubat, maka saya sarankan pula agar Waskito jg cepat bertaubat.

  4. Asep berkata:

    Amin rais..gak cocok jadi tokoh muhamadiah.agamawan juga kurang arif.

  5. abisyakir berkata:

    @ Imron.

    Akhi, mohon maaf sebelumnya kalau saya menulis secara tidak adil dalam artikel itu. Kalau ada sisi ketidak-adilan, saya meminta maaf, dan memohon ampunan kepada Allah Al Ghafuur.

    Kalau saya ditanya jujur, “Apa Anda membenci Amien Rais?” Saya katakan dengan jujur, dengan apa adanya, tidak ada tedeng aling-aling: “Saya membenci sikap dan pemikirannya yang banyak merugikan kaum Muslimin selama ini di Indonesia. Adapun sebagai pribadi, sebagai hamba Allah, sebagai manusia, saya tidak membenci beliau.” Ini jawaban saya, tidak ada yang ditutup-tutupi lagi. Bagi saya, membenci pemikiran/sikap satu dua orang tidak masalah, sebagai bentuk solidaritas minimal terhadap penderitaan kaum Muslimin yang semakin terlunta-lunta hiupnya.

    Saya sarankan, Amien Rais dan para pengikunya, agar bertaubat kepada Allah dengan sebenar-benar taubat, lalu Amien Rais secara pribadi mundur dari gelanggang perjuangan Ummat ini. Seperti Abdurrahman Wahid, selama belum mundur dari gelanggang, terus saja membuat masalah di tengah Ummat. Sudahlah, kalau tidak bisa berbuat baik, lebih baik diam. Itu lebih mulia bagi Ummat. Lagi pula, saya bukan satu-satunya orang yang anti pemikiran Amien Rais.

    AMW.

  6. al insan berkata:

    ingatlah wahai manusia akan bahaya mulut , bahkan nabi pernah berkata ” bukankah INI penyebab kalian masuk neraka, sambil memegangi mulut.”

  7. abisyakir berkata:

    @ al insan.

    Tolong deh, baca dulu “seputar blog ini”. Disitu kan jelas Pak, blog ini adalah wacana. Boleh terima, boleh tidak.

    Amien Rais itu kan sudah berkiprah macam-macam di pentas publik, masak dia saja bebas bergerak, mengumbar statement, melakukan manuver, dsb. Masak kita tidak boleh menilai dia? Wah, enak betul dong. Amien dulu kan jagoan kritik nasional, maka wajar saja deh kalau banyak juga kritik nyasar ke dia. Tolong dong, ya agak cerdas gitu meresponnya. Kecuali kalau Amien sudah didaulat menjadi Nabi. Nah itu lain. Dan amit-amit mengangkat Nabi setelah Nabi Saw.

    AMW.

    AMW.

  8. NABILA berkata:

    hal hal yg aku cari disini kotidak ada😡😡😡😡😡😠😠😠😠😔😭😓😭😓

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: