Blunder “Jilbab” Ani Yudhoyono

Mei 30, 2009

Masalah ini muncul ketika deklarasi pasangan JK-Win (baca: JK menang) di Tugu Proklamator. Waktu itu isteri kedua Capres dan Cawapres itu mengenakan jilbab. Bu JK sudah lama dikenal memakai jilbab. Bahkan sejak deklarasi pencalonan pasangan SBY-JK pada tahun 2004 lalu. Namun Bu Wiranto, baru tampak expossed dalam deklarasi kemarin itu. (Mungkin saya saja yang kurang tahu penampilan Bu Wiranto. Maybe…).

Penampilan isteri kedua tokoh tersebut segera mendapat tanggapan dari elit-elit PKS. Di antaranya Mahfuzh Siddiq dan Mabruri. Kedua tokoh ini memuji penampilan Bu JK dan Bu Wiranto itu. Misalnya Mabruri mengatakan, kalau isteri Capres-Cawapres berjilbab, lebih mudah mengkomunikasikannya ke para pendukung PKS di bawah. Mereka menyarankan agar Bu Ani Yudhoyono memakai jilbab.

Nah, masalah jilbab ini akhirnya menjadi blunder bagi Ummat Islam. Mengapa demikian? Karena akibat isu jilbab tersebut, banyak orang menuduh isu jilbab sengaja dipolitisasi. Malah sebagian orang tidak segan-segan mencela isu agama dalam ranah politik. Di MetroTV isu jilbab itu sempat menjadi bahan diskusi, termasuk dialog yang dibawakan Wimar Witoelar yang mewawancarai sosok ibu tertentu.

Satu pernyataan paling menyakitkan muncul dari lidah Burhanuddin Muhtadi. Dia disebut-sebut sebagai “pengamat politik”, sekaligus peneliti di LSI (Lembaga Survei Indonesia). Ingat, LSI itu lembaga survei yang selama ini cenderung berpihak ke kepentingan SBY. Hasil-hasil surveinya tidak kredibel, hanya mengagung-agungkan citra SBY. Bahkan sosok direktur LSI, Saiful Mujani, dia lebih layak disebut sebagai politisi Demokrat, daripada sebagai seorang ketua lembaga surve yang kredibel.

Burhanuddin Muhtadi mengklaim, bahwa politik agama, isu agama, atau simbol-simbol agama tidak laku lagi dalam kompetisi politik nasional dewasa ini. Dia lalu membuka data berupa kekalahan partai-partai Islam dalam pemilu 1999, 2004, termasuk dalam pemilu 2009. Kata dia, isu agama tidak laku lagi. Saya khawatir, orang seperti ini adalah manusia-manusia liberal yang berkedok pengamat politik.

Klaim buruk Burhanuddin Muhtadi (oh betapa bagusnya nama ini) di atas bisa dijawab sebagai berikut:

[Satu], dalam Pemilu 1999 perolehan suara partai Islam atau partai basis massa Islam, mencapai 34 % dari seluruh pemilih nasional. Tahun 2004 naik menjadi 38 %, namun tahun 2009 turun menjadi 28 %. Kalau dirata-rata, masih ada 30 % potensi pemilih di Indonesia yang berbasiskan faktor keislaman. Jadi, sangat bodoh kalau Burhanuddin Muhtadi mengatakan isu agama tidak laku lagi.

[Dua], pendukung terbesar koalisi SBY saat ini adalah partai-partai Islam atau basis massa Muslim. Semua orang sudah tahu betapa butuhnya SBY kepada partai-partai Islam itu. Tanpa keberadaan mereka, posisi Demokrat akan hancur dihajar partai-partai nasionalis lain. Ini berarti, dalam konstelasi politik, posisi perolehan suara partai Islam/basis Muslim itu masih sangat diperhitungkan. (Rasanya terlalu bodoh menyebut Burhanuddin Muhtadi sebagai pengamat politik. Orang ini sih lebih tepat disebut: pegawai biro statistik).

[Tiga], jika partai-partai label Islam dianggap merosot, bisa jadi. Tetapi posisi politik kalangan Islamis di Indonesia masihlah kuat, terutama yang ada di luar sistem Demokrasi. Mereka bahkan selama ini sengaja tidak ikut proses politik karena menolak demokrasi, atau kecewa dengan reputasi partai-partai label Islam. Kata siapa isu agama tidak laku lagi? Bahkan di masyarakat itu banyak sekali dinamika sosial-politik yang berangkat dari isu agama. Contoh, masalah UU Pornografi, aliran Ahmadiyyah, bunga bank, isu terorisme, fatwa golput, moralitas anggota dewan, dan sebagainya.

(Saya yakin betul manusia macam Burhanuddin Muhtadi itu termasuk kaum Liberalis, sebab cara-cara berpikirnya mirip dengan “the god father” kaum Liberaliyun, Ulil Absar Abdala. Mereka sama-sama sekulernya dan antipati dengan misi politik Islam).

Kembali ke isu jilbab…

Saya yakin, saat Bu JK atau Bu Wiranto memakai jilbab, hal itu bukan untuk promo, tetapi memang mereka demikian adanya. Wong, sejak lama Bu JK sendiri dikenal konsisten dengan jilbab yang selalu dia pakai. Mungkin, kalau ada promo-promo politik, ya itu sekalian jalan lah. Kata orang, “Sambil menyelam minum air.”

Maksudnya, hal seperti itu jangan ditanggapi berlebihan, sehingga saol jilbab akhirnya menjadi isu nasional. Bukan masalah apa, tetapi agama kita akhirnya dimaki-maki orang gara-gara isu jilbab itu. Akhirnya, Islam yang tercoreng, yaitu risalah tentang jilbab.

Soal misal Bu Ani atau isteri elit politik lain tidak memakai jilbab, ya biar saja. Kan itu pilihan masing-masing orang. Daripada sebagian orang dipaksa-paksa mengenakan jilbab, sedang hatinya menolak. Jangan sampai kita menyangka sedang memperjuangan syiar Islam, namun pada saat yang sama, peranan Islam malah dilecehkan. Seperti komentar-komentar bodoh yang keluar dari Burhanuddin “pengamat politik” Muhtadi itu.

Terimakasih. Semoga menjadi inspirasi! Amin.

AMW.


Kualitas Perkataan Ruhut Sitompul

Mei 29, 2009

Baru-baru ini digelar diskusi yang menghadirkan tokoh dari tim sukses ketiga pasangan Capres RI. Dari JK-Win ada Fuad Bazir, dari Mega Pro ada Permadi, dan dari SBY-Boediono ada Ruhut Sitompul. Sebagaimana sudah sering terlihat di media-media massa, ketiga tim sukses ini memang sangat kritis dalam membela calon masing-masing. Tetapi semua pihak tahu, bahwa pasangan SBY-Boediono dianggap sebagai “musuh bersama” oleh kedua tim lainnya.

Namun tidak menyangka jika kemudian keluar pernyataan-pernyataan yang sangat provokatif dari seorang Ruhut Sitompul. Pernyataan dia menanggapi kritik-kritik pedas yang dicecarkan Fuad Bawazir kepada Pemerintahan SBY selama ini. Intinya, SBY dianggap neolib dan pro kepentingan asing.

Lalu Ruhut Sitompul melontarkan caci-maki yang sangat tidak beretika. Dia menuduh orang Arab seperti Fuad Bawazir itu tidak ada kontribusinya bagi Indonesia. Kata dia, justru Amerika dan lain-lain itu yang selama ini terus membantu Indonesia. Lebih arogan lagi, Ruhut menyebut orang Batak pintar-pintar, tapi tidak punya jalur ke Cendana. (Seolah dia mengatakan, orang Arab seperti Fuad Bawazir bisa membangun jalur ke Cendana, sehingga kemudian eksis).

Diskusi Tim Sukses Presiden (foto nasional.kompas.com).

Diskusi Tim Sukses Presiden (foto nasional.kompas.com).

Tuduhan Ruhut Sitompul ditanggapi sangat keras oleh Permadi, meskipun konteksnya lain. Permadi ganti menyerang SBY yang dianggap ikut tanggung-jawab dalam soal Kerusuhan 27 Juli 1996 di depan Kantor DPP PDI, juga dalam kerusuhan Ambon-Poso.

SANGAT BERBAHAYA

Terlepas dari siapa yang mengatakannya, pernyataan Ruhut Sitompul sangat berbahaya. Ia sangat bertolak-belakang dengan semangat PERSATUAN NASIONAL. Ruhut pasti tahu bahwa keutuhan NKRI itu dijaga dengan amat susah, susah payah, berkuang peluh dan darah. Mengapa? Sebab bangsa Indonesia memang sangat komplek dan multi kultural. Kalau seseorang masuk ke perselisihan etnis, akibatnya bisa sangat membahayakan negara.

Masih basah dalam ingatan kita bagaimana kerusuhan etnis berkali-kali terjadi di Indonesia. Kerusuhan Ambon, Maluku Utara, Poso, Aceh, Kupang NTT, Papua, Sambas, Sampit, dan lainnya. Semuanya bercorak kerusahan etnis yang membahayakan keutuhan negara.

Nah, sekarang Ruhut Sitompul seperti menyiramkan bensin ke bara api. Pernyataan dia yang menyerang komunitas Arab, lalu melebih-lebihkan komunitas Batak, jelas bisa membuat masyarakat terlibat dalam konflik berat. Nanti, kalangan Arab akan membalas ucapan Ruhut, lalu mereka mengecam kaum Batak. Lalu masing-masing pihak akan memanggil kawan-kawannya dari etnik lain untuk membantu. Jika demikian, maka hancurlah Indonesia ini. Sudah payah NKRI dijaga, ia bisa hancur lebur akibat pernyataan beracun Si Ruhut Sitompul ini.

Sebaiknya, para pemimpin politik, lembaga-lembaga resmi, serta organisasi-organisasi kemasyarakatan menuntut Ruhut Sitompul atas pernyataannya yang sangat PROVOKATIF itu. Pernyataan dia bukan saja ditujukan untuk menyerang pihak lain, tetapi bisa menghancurkan keutuhan NKRI. Alangkah baik, kalau ormas-ormas Islam menuntut mulut Si Ruhut Sitompul ini. Bukan menuntut SBY atau komunitas Batak, tetapi menuntut kelancangan mulut orang satu ini. Pernyataan dia seakan ingin menghancurkan negara melalui isu konflik etnis.

SIKAP RASIONAL

Sebaiknya, Ummat Islam jangan terprovokasi pernyataan Ruhut lalu melakukan serangan-serangan pernyataan ke kalangan komunitas Batak. Jangan lakukan itu, tetapi cukup tuntut pada diri Ruhut Sitompul-nya. Sebab, kalau kita melayani ucapan berbisa maniak satu ini, berarti kita akan terlibat dalam konflik etnis yang sangat merugikan.

Tentang peranan Arab, Batak, Jawa, dan lainnya, hal itu tidak perlu dibesar-besarkan, apalagi dalam suasana perselisihan. Secara manusiawi, semua pihak memiliki kelebihan dan kekurangan. Dan hal itu sudah dimaklumi sejak dulu, sehingga di negara kita meskipun multi etnik, alhamdulillah tetap bersatu dalam konteks NKRI.

Sebagai contoh, orang Jawa dianggap memiliki kelemahan dari sisi ketidak-tegasan sikapnya, terlalu sopan, kadang tidak mau menyinggung perasaan orang lain. Lalu orang Batak disebut-sebut sebagai komunitas yang egaliter, berterus-terang, bisa bersikap apa adanya. Begitu pula, orang Arab. Sebagian mereka tampak keras dalam memegang prinsip, tetapi sebagian lain bersikap lembut dan ramah. Nah, hal-hal demikian merupakan keunikan tabiat bangsa Indonesia yang memang multi kultural.

Seharusnya, siapapun jangan masuk ke isu-isu yang bisa membenturkan etnis yang satu dengan lainnya. Apa tidak cukup terjadi tragedi-tragedi menyesakkan dada seperti di Ambon, Maluku, Poso, Sambas, Sampit dan lain-lain itu? Sudahlah cukup sampai disana, jangan diperlebar lagi.

Sangat disarankan agar pihak TNI angkat bicara. Bukan dalam substansi politik, tetapi mengingatkan agar kompetisi politik tidak membawa ke arah perpecahan bangsa. Sekali lagi, harus ada sikap resmi dari negara atas pernyataan sarkastik itu. Jika dibiarkan, ia akan terus membesar, lalu menjadi potensi kehancuran bagi bangsa ini ke depan. Ruhut Sitompul telah masuk ke topik yang sangat sensitif bagi bangsa Indonesia.

Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga bangsa Indonesia berada dalam kesatuan, kebersamaan, serta gotong-royong dalam membangun kemaslahatan dan menepiskan kemungkaran. Allahumma amin.

Bandung, 29 Mei 2009.

Waskito.


Pernyataan Yusril Ihza Mahendra

Mei 28, 2009

Sebuah pernyataan menarik disampaikan oleh Yusril Ihza Mahendra. Dalam acara INTERPOL baru-baru ini di sebuah stasiun TV, Yusril ditanya oleh reporter TV. “3o tahun lalu ada pengamat yang memprediksikan bahwa partai-partai Islam akan semakin tersingkir dari percaturan politik di Indonesia?” Kurang-lebih seperti itu pertanyaannya.

Yusril menjawab dengan lugas, bahwa partai Islam mungkin saja posisinya tergeser oleh partai-partai lain, tetapi politik Islam akan tetap kuat di Indonesia. Politik Islam tidak melulu ada di partai Islam saja, tetapi di partai-partai nasionalis pun misi politik Islam ada. Demikian pandangan Yusril.

Terlepas penilaian kita kepada sosok Yusril dengan pragmatisme politiknya, tetapi apa yang dia sampaikan di atas sangatlah penting. Seperti kenyataan yang sama-sama kita saksikan saat ini, betapa partai-partai Islam semua merapat ke In Cumbent (SBY dan Demokrat). Alasannya hanya satu, yaitu ingin mendapat kue kekuasaan kalau nanti SBY menang dalam Pilpres.

[Kalau seandainya SBY kalah, partai-partai Islam itu pasti akan merapat ke partai penguasa untuk mengemis kue kekuasaan. Ya memang, serendah itulah mereka menghargai nama ISLAM].

Harus diakui, era partai Islam secara ideologis, pemikiran, moral, dan perilaku, bisa dikatakan sudah berakhir. Namun tidak berarti, misi politik Islam sudah selesai. Tidak sama sekali. Justru partai-partai yang semula dianggap nasionalis, bahkan sekuler, ternyata mereka memiliki sifat-sifat yang menguntungkan misi perjuangan politik Islam.

Contoh, Jusuf Kalla dan Golkar. Semua orang tahu, Golkar bukan partai Islam, tapi partai nasionalis. Lalu lihatlah bagaimana penampilan Bu JK yang kemana-mana sangat konsisten dengan jilbab-nya. Bu JK ini termasuk wanita istimewa, telaten mendampingi suami, apapun maunya. Tapi beliau tidak pernah tampil tanpa mengenakan jilbab.

Jusuf Kalla sendiri adalah politisi yang selalu tampil bersahaja (tawadhu). Dibandingkan penampilan Anis Matta atau Fahri Hamzah, Pak JK lebih hamble (sederhana). Dia selalu memakai kemeja putih, bawah baju dikeluarkan. JK berbicara egaliter dengan masyarakat. Kadang tampak ngeyel dengan argumen-argumennya, tapi kadang mengapresiasi orang lain secara wajar. Ya, gaya Bugis-Makassar pada umumnya lah. Dari sisi penampilan, JK telah menunjukkan sikap kebersahajaan.

Contoh lain, Prabowo dan Gerindra-nya. Dalam beberapa pernyataan, Prabowo mengemukakan bahwa garis politiknya adalah Sosialisme atau pro rakyat kecil. Dalam iklan, pemikiran, atau manifesto politiknya, Gerindra ingin mengangkat harkat masyarakat kecil, agar tidak menjadi bulan-bulanan kekuatan asing dan kapitalisme. Singkat kata, dari sisi Islami, garis perjuangan Gerindra-Prabowo adalah untuk menolong kaum mustadh’afin (orang-orang lemah). Seharusnya, yang menyuarakan semangat ini adalah partai-partai berlabel Islam itu.

Contoh selanjutnya, Hanura dengan Wiranto-nya. Jargonnya: “Berpolitik dengan hati nurani.” Kalau dalam bahasa Nabi Saw, “Istafti qalbak” (tanyai hatimu sendiri). Jika Wiranto dan Hanura benar-benar konsisten dengan konsep hati nurani ini, berarti mereka telah mengembalikan kepada masyarakat harta kekayaan besar yang sekian lama hilang dari panggung politik. Mungkinkah hal itu terjadi? Atau ia hanya retorika politik saja? Ya, kita mendoakan semoga Pak Wiranto dan kawan-kawan konsisten dengan garis politiknya; meskipun pilihan hati nurani dalam politik itu sungguh tidak mudah. Allahumma amin.

Contoh yang tak kalah menarik adalah PDIP. Selama ini para aktivis Islam, termasuk saya sendiri, sangat antipati dengan PDIP. Termasuk dengan Bu Mega dan jajarannya. Ternyata, perkembangan terakhir, banyak perubahan di internal PDIP, sehingga sewajarnya kita mengapresiasi kemajuan itu. Meskipun bagi sebagian kalangan Islam, masih sulit melupakan track record PDIP yang sedemikian panjang dalam menghalangi proses legislasi UU yang pro nilai-nilai Islam.

Taruhlah, kita tidak menganggap PDIP sudah berubah drastis. Setidaknya, ada sisi-sisi positif tertentu di diri PDIP yang layak dihargai, misalnya:

[-] PDIP adalah satu-satunya partai oposisi yang konsisten berada di luar kekuasaan, dan terus mengkritisi Pemerintah selama periode 2004-2009 ini. Ini adalah fakta yang tidak diragukan lagi.

[-] PDIP menyerukan slogan perjuangan membela wong cilik. Ini sama dengan Gerindra, yaitu perjuangan membela kaum lemah (mustadh’afin). Dan kita harus tahu, sebagian besar komunitas wong cilik itu adalah Muslim.

[-] PDIP bersikap protektif terhadap kepentingan nasional. Hal itu diakui Megawati selama menjadi Presiden RI. Nah, atas sikap yang seperti itu mereka tidak lagi menjadi partai yang di-back up kepentingan politik Amerika. Dalam Pemilu 1999, PDIP santer diduga sebagai kendaraan politik Amerika. Namun setelah Mega menjadi Presiden, dukungan Amerika dipindah ke Demokrat, bukan ke PDIP lagi. Kalau kembali ke akar politik Soekarno, dia memang anti kapitalis-imperialis.

[-] Dalam berbagai pernyataan politiknya, Bu Mega tidak segan-segan mengucapkan kalimat “Alhamdulillah”, “Insya Allah”, juga “Allah Subhanahu Wa Ta’ala”. Ya, dalam konteks PDIP di masa lalu, rasanya sulit akan mendapati sikap elit-elitnya yang seperti itu.

[-] Di depan forum Kadin tanggal 23 Mei 2009 di TVOne, Bu Mega mengatakan bahwa jaman telah berubah, sehingga sikap politik pun perlu berubah. Ini luar biasa. Selama ini, mereka dianggap Soekarnois sejati, yang tidak bergeser sehelai rambut pun dari kaidah-kaidah politik Soekarno. Ternyata, PDIP menyadari juga situasi perkembangan kontemporer yang perlu direspon secara bijak.

[-] Dalam salah satu siaran di MetroTV, saat waktu Maghrib, di kediaman Bu Mega di Jl. Teuku Umar, disana terlihat dengan jelas, para tamu-tamu dan tuan rumah sedang melakukan Shalat berjamaah di bawah tenda putih di halaman rumah. Ada shalat berjamaah di halaman rumah pucuk pimpinan PDIP seperti kenyataan yang sulit dipahami. Tetapi itu faktual dan nyata.

Demikian bentuk-bentuk perubahan baik yang tampak dalam perahu politik PDIP dan jajarannya. Jujur saja, kalau harus memilih antara SBY dan Bu Mega sebagai Presiden RI, seandainya pilihan yang ada demikian, lebih baik kalau memilih Bu Mega. Beliau insya Allah memiliki komitmen terhadap nasib masyarakat kecil, sementara yang satunya justru…ya tahu sendirilah.

Kenyataan politik seperti ini mengingatkan kita kepada tujuan gerakan Islamisasi Pak Natsir dulu. Beliau ingin agar Islam masuk ke institusi-institusi umum, tidak hanya beredar di sekitar masjid dan pesantren. Harapan beliau tercapai ketika universitas-universitas umum marak dengan semangat Islam. Justru institusi seperti IAIN, STAIN, atau sekarang UIN malah aktif digerogoti oleh paham liberal, pluralism, dan secularism. Sungguh ironi, universitas umum tampil Islami, yang jelas-jelas berlabel Islam, malah tampak sekuler-pluralisme.

Sama seperti kenyataan hari ini. Partai-partai politik Islam berlomba menjual agama dengan harga murah. Sementara partai-partai umum semakin mengakomodir nilai-nilai Islami. Aneh memang.

Dalam hal ini saya setuju dengan pernyataan Pak Yusril. Ya, namanya kebenaran (atau sesuatu yang diyakini sebagai kebenaran) bisa muncul dari mana saja. Wallahu A’lam bisshawaab.

Bandung, 28 Mei 2009.

Waskito.


Icon Amerika di SBY

Mei 28, 2009

Banyak orang marah kalau SBY dikaitkan dengan Amerika. Mereka tidak suka sosok idolanya dikaitkan dengan negara adidaya yang sekarang sedang menderita krisis ekonomi luar biasa itu. Tapi masalahnya, orang berkesimpulan SBY pro Amerika justru karena melihat cara-cara SBY sendiri, selama ini.

Bukan kita yang memposisikan dia sebagai tokoh pro Amerika, tetapi sikap-sikap SBY sendiri yang menunjukkan hal itu. Anda tidak percaya? Berikut ini sebagian bukti-bukti yang bisa disebutkan:

[-] Saat terjadi dialog antara SBY dengan Kadin, ditayangkan TVOne 22 Mei 2009. SBY adalah satu-satunya Capres yang paling banyak memakai bahasa Inggris. Padahal dia tahu, kalau siaran itu disiarkan ke seluruh Indonesia oleh TVOne. Megawati sendiri beberapa kali menyebut istilah bahasa Inggris, tetapi selektif dan tepat momentum.

[-] Ketika SBY diberi kesempatan menyampaikan kalimat penutup, dia menyebutkan sebuah slogan politiknya: “Development for all.” Bagi orang yang kritis, slogan ini bisa ditelusuri sedalam-dalamnya. Tetapi anggaplah itu tidak penting, namun tetap saja dia tampak begitu silau dengan istilah-istilah Inggris. Masalahnya, dia itu seorang Presiden RI yang seharusnya member contoh yang baik bagi rakyatnya.

[-] Dalam deklarasi pencalonan pasangan SBY-Boediono sebagai Capres dan Cawapres di Sabuga, konsep acaranya menjiplak gaya kampanye Barack Obama. Sampai kalimat-kalimat di baliho besar di latar panggung, memakai istilah yang dipakai Obama. Bahkan sampai pin, kaos, aksesoris yang disebar disana juga “Obama banget”. Hal ini dikatakan oleh Tina Talisa dari TVOne yang pernah meliput kampanye Obama.

[-] Dalam materi iklan SBY, dia dibangga-banggakan sebagai satu dari 100 tokoh berpengaruh di dunia, versi majalah Times. Nah, majalah Times itu darimana? Ya, semua orang tahu. Ia adalah media prestisius Amerika.

[-] Dalam sidang ADB (Bank Pembangunan Asia) beberapa waktu lalu di Bali, Pemerintah SBY diwakili Sri Mulyani, selaku Menteri Keuangan. Keputusannya, Indonesia tetap mendukung ADB, dan menambah kesertaan modal (saham) di bank itu. Siapa ADB? Ya, tahulah, dia kan konco-konconya IMF, World Bank, CGI, dan sebagainya.

[-] SBY termasuk pemimpin nasional yang tidak malu-malu mengaku terinspirasi oleh barrack Obama di Amerika. Di berbagai kesempatan, terutama bulan-bulan menjelang Pemilu presiden di Amerika, SBY begitu peduli dengan Barack Obama.

[-] Tidak lama setelah menang Pemilu di Amerika, Dino Pati Jalal mengklaim bahwa SBY baru saja melakukan sambungan telepon langsung dengan Obama, ketika presiden Amerika itu sedang transit di Singapura. Konon, dalam pembicaraan itu Obama bertanya soal Menteng dan makanan-makanan khas Indonesia tertentu.

[-] SBY pernah berkunjung ke George Bush di Amerika, lalu mengundang Bush datang ke Indonesia. Di Indonesia, Bush disambut istimewa di Istana Bogor. Tidak kurang wilayah Bogor waktu itu disterilkan oleh gabungan aparat Amerika-Indonesia.

[-] Dalam kunjungan ke Amerika, SBY mampir ke kantor Microsoft Inc. Dia bertemu Bill Gates dan mengundangnya dating ke Indonesia. Benar saja, kemudian Gates datang ke Indonesia, member kuliah visi teknologi di depan SBY, para pengusaha, eksekutif, intelektual, dan lainnya. Masak memperlakukan pengusaha asing seperti memperlakukan tamu kehormatan Negara? Harusnya, SBY mengajak komunitas Linux untuk menyambut Bill Gates di Jakarta.

[-] Selama masa Pemerintahannya, SBY tidak tampak ketegasannya kepada perusahaan-perusahaan Amerika seperti Freeport, Exxon, Chevron, Newmont, Caltex, dan lainnya. Malah, blok Cepu dengan cadangan minyak yang besar diamanatkan ke Chevron.

[-] Dibandingkan era Megawati, SBY adalah presiden yang giat mensukseskan agenda war against terrorism versi Mr. Bush. Meskipun di era Mega banyak terjadi insiden bom, tetapi sikap keras negara ke aktivis-aktivis Islam sangat tampak di era SBY. Salah satu indikasi, penyebaran foto Dr. Azahari dan Nordin M. Top dimana-mana. Itu kan sama saja dengan mengeruhkan suasana tentram masyarakat.

[-] Nama Partai Demokrat sendiri mengambil ide dari partai di Amerika. Dalam sejarah Indonesia, tidak ada cikal-bakal nama partai seperti itu. Wajar pula jika kemudian SBY merasa dekat dengan Obama, sebab sama-sama Partai Demokrat.

[-] Pihak Amerika sama sekali tidak mengkritik Pemerintahan SBY terkait pelaksanaan Pemilu Legistlatif 2009 yang kacau-balau. Ini sangat aneh, sebab biasanya Amerika sangat peduli dengan masalah internal bangsa lain. Contoh tegas, ialah kecaman keras Pemerintah Amerika pasca Insiden Monas 1 Juni 2008. SBY pun tidak kalah kerasnya menyikapi insiden Monas itu. (Bandingkan sikap SBY saat mengecam kekerasan di Monas itu, dengan sikap dia saat disindir dengan ungkapan, “Lebih cepat lebih baik.” SBY langsung bereaksi, dengan menyebut orang lain, “Jangan takabbur!” Saat mengecam Ummat Islam tidak kira-kira dalam Insiden Monas, begitu disindir sedikit tersinggung).

Akhirnya, selamat mendukung langkah PKS yang “pasang badan” membela garis politik SBY. Semoga, kalau ada dosa dan mungkarnya, para PKS-ers bisa menanggung bersama, gotong-royong, sampai Hari Kiamat. (Iya kalau mereka masih peduli dengan Hari Kiamat? Jangan-jangan pengadilan di Hari Kiamat nanti, akan dihadapi dengan maneuver, koalisi, atau kontrak politik?).

Wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.


Kesalahan Langkah SBY

Mei 21, 2009

Sejak menjadi Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dikenal sebagai sosok yang peragu, kurang bertindak cepat, dan terlalu banyak rapat. Sudah terlalu banyak orang mengatakan, kalau sosok SBY itu peragu. Paling tidak, ketika Jusuf Kalla mencalonkan diri sebagai Capres, slogan yang dia angkat: “Lebih cepat lebih baik.” Slogan ini memberi kita informasi, bahwa JK kecewa dengan sosok SBY yang dianggap lamban dalam mengambil keputusan.

Selain itu, SBY juga dikenal “melankolik”. Buktinya, ketika mendapat kritik dari lawan-lawan politiknya, dia selalu buru-buru menjawab kritik itu dengan berbagai pembelaan diri. Masih ingat ketika Mega bicara keras tentang BLT dan harga diri bangsa? SBY pun marah-marah dengan balik mengecam pembuat pernyataan itu (Mega). Termasuk ketika muncul slogan “Lebih cepat lebih baik”, SBY lagi-lagi berkomentar. “Jangan merasa lebih cepat…jangan takabbur.” Ya, begitulah.

Kalau jujur mau mengakui, pasangan SBY-JK waktu itu sebenarnya termasuk pasangan yang cukup menarik. SBY mewakili karakter pemimpin yang terlalu sensitif dan banyak pertimbangan; sedangkan JK termasuk pemimpin yang simpel, gerak cepat, tidak basa-basi. Disini, kelemahan SBY dengan baik bisa ditutupi oleh JK. Bahkan JK sendiri telah berkarya banyak dalam Pemerintahan SBY, meskipun hal itu tidak diakui oleh pendukung-pendukung Demokrat.

SBY sangat diuntungkan dengan keberadaan JK yang pengalaman di bisnis, bisa bergerak cepat, dan memenuhi jadwal kerja sebagaimana yang diminta. Namun sayang, penerimaan SBY lain. Dia merasa, sosok seperti JK itu susah diatur, mau berjalan sendiri, kurang menghargai posisi Presiden, dan sebagainya. Jadi SBY lebih menggunakan perasaan untuk menimbang karakter wakilnya (JK).

Pasca Pemilu April 2009, DPP Golkar berkali-kali menjalin kontak komunikasi dengan SBY (DPP Demokrat). Mereka mengajukan JK lagi sebagai Cawapres untuk mendampingi SBY dalam Pilpres 2009. Secara umum, Demokrat senang dengan tawaran Golkar. Tetapi mereka meminta tokoh lain, selain JK. Untuk memastikan langkahnya, SBY sampai membuat “5 kriteria calon Wapres” yang salah satu butirnya, berbunyi: “Bukan ketua umum sebuah partai politik.” Dengan ketentuan ini jelas JK tidak diinginkan lagi oleh SBY. Mungkin hati SBY sudah terlalu kecewa dengan langkah-langkah JK selama ini.

Ketika SBY akhirnya memilih Boediono sebagai Cawapres, maka faktor perasaan itu berperan sangat kuat. SBY mencari orang yang paling dekat sifatnya dengan dirinya, dia harus puas terhadap sikap orang itu, dan tidak boleh lagi ada Wapres yang mbalelo (speerti JK).  Kalau melihat sifat Boediono, rasanya ia memang sangat tepat untuk mewadahi karakter SBY sendiri. Mereka sama-sama kalem, santun, bekerja diam-diam, “tidak mencari muka”, dan sebagainya.

Justru disini kelemahan metode yang diterapkan SBY. SBY lebih mendahulukan perasaannya untuk memilih Cawapres. Padahal seharusnya, SBY mencari pendamping yang semodel JK. Mengapa? Sebab sosok seperti itu akan mampu mengimbangi atau menutupi kelemahan SBY sendiri.

Ibarat mengendarai kendaraan. Satu kaki terus menginjak rem, satu kaki terus menginjak gas. Kalau dua kaki menginjak gas, kendaraan bisa celaka; tetapi kalau dua kaki menginjak rem semua, kendaraan akan jalan di tempat, tidak bergerak sama sekali.

Nah, inilah kesalahan langkah SBY. Saya setuju dengan sebuah analisis di MetroTV, bahwa dipilihnya Boediono oleh SBY bisa menjadi pertanda kebaikan. Tetapi juga bisa sebaliknya, yaitu bisa menamatkan karier politik SBY sendiri. Bagi saya pribadi, persoalan bangsa dan negara, jauh lebih penting dari sekedar masalah “perasaan”.

Tidak mengapa perasaan “terluka”, asal rakyat hidup gembira. Jangan sampai, perasaan “nomer satu”, sementara rakyat setiap hari hidup bergelimang derita.

And then what…

AMW.


Kecelakaan Hercules di Magetan

Mei 21, 2009

Innalillahi wa inna ilaihi ra’jiun. Inna lillah wa inna ilaihi ra’jiun. Inna lillah wa inna ilaihi ra’jiun.

Indonesia kembali berduka. Kemarin terjadi kecelakaan pesawat terbang di Magetan Jawa Timur. Sekitar 100 orang meninggal. Inna lillahi, ini adalah tragedi besar di pertengahan 2009 ini. Belum lama lalu, sebelum Pemilu terjadi kecelakaan tragis pesawat Fokker di Lanud Husein Sastranegara, tepatnya di atas sebuah hanggar IPTN. Sekitar 20 orang jatuh korban, yaitu para prajurit muda TNI AU dan awak pesawatnya.

Jatuhnya pesawat Hercules C-130 di Magetan tanggal 20 Mei 2009 kemarin benar-benar menjadi pukulan berat bagi bangsa Indonesia. Bukan hanya kita merasa berat melihat ratap-tangis para keluarga korban, atau karena jumlah korbannya yang banyak. Tetapi juga ada perasaan ngenes luar biasa menyaksikan nasib prajurit TNI saat ini. Mereka sangat jauh dari kondisi seperti di masa Orde Baru dulu. Apalagi dibandingkan masa ketika Panglima TNI dipegang Jendral M. Yusuf. Jauh, jauh sekali.

Di jaman Orde Reformasi ini, gerakan demiliterisasi sangat kuat berhembus. Oke-lah, peranan militer dalam politik boleh dikurangi sampai batas minimal. Namun peranan mereka di sektor pertahanan jelas tidak bisa dipandang sebelah mata. Kalau TNI sebagai institusi yang resmi menjaga keamanan negara dilucuti, berarti negara ini menjadi tidak berpenjaga.

Kecelakaan pesaawat Hercules di Magetan membuka mata semua pihak, betapa sangat naifnya cara Pemerintah mengelola sistem keamanan nasional. Dalam dialog di TVOne, Ali Mochtar Ngabalin berkali-kali menyayangkan sikap Mabes TNI yang tidak pro aktif dengan anggaran militer. Padahal banyak pihak meminta supaya TNI menyediakan anggaran yang cukup. Saat ini anggaran militer sekitar 36 triliun, dibagi rata untuk tiga angkatan, AD, AL, dan AU. Sementara untuk kepolisian saja, anggaran bisa mencapai 28 triliun rupiah.

Hercules Nyungsep di Magetan (koleksi foto.detik.com).

Hercules Nyungsep di Magetan (koleksi foto.detik.com).

Para pengamat menyayangkan ketika elit-elit TNI tidak sungguh-sungguh memperjuangkan perbaikan anggaran militer, padahal hal itu sangat dibutuhkan oleh para prajurit, keluarga mereka, bahkan untuk biaya alutsista (alat utama sistem pertahanan) dan perawatannya.

Hal ini kemudian memunculkan dugaan, adanya kesengajaan untuk melemahkan kekuatan militer. Para pengamat banyak mengatakan hal ini. Jika militer sudah lemah, maka jalan untuk memecah-belah kesatuan nasional terbuka lebar.

Apalagi sangat ironis. Tahun lalu, Pemerintah Qatar berniat menghibahkan satu skuadron (12 pesawat) Mirrage ke Indonesia. Ini hibah, tidak perlu membeli. Tetapi pihak Mabes TNI tidak mau menerima hibah pesawat itu. Alasan mereka, kita tidak memiliki biaya perawatan pesawat Mirrage, dan proses hibah itu sendiri tetap saja membutuhkan biaya (tidak gratis murni). Aneh sekali, tinggal diberi tetapi malah ditolak. Itu pun dibumbui alasan yang dicari-cari. Kalau serius demi pertahanan nasional, insya Allah hibah itu akan disambut dengan senang hati.

Mengherankan juga, di bawah Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono yang mantan Gubernur Lemhanas itu, mengapa manajemen militer malah amburadul? Bukankah Juwono adalah seorang intelektual akademis yang memiliki kredibilitas tinggi? Entahlah, mengapa demikian.

Saya sendiri pernah dalam satu perjalanan kereta api dengan seorang anggota keluarga TNI AU dari Lanud Sulaiman Bandung. Dalam pembicaraan itu terungkap banyak fakta-fakta menarik, kurang-lebih sebagai berikut:

[o] Pesawat Hercules sangat sering dipakai untuk alat transportasi militer dan keluarganya. Ia seperti “maskapai militer” yang menjalankan fungsi transportasi secara gratis bagi anggota militer dan keluarganya.

[o] Bagi para penumpang pesawat militer, seperti Hercules dan lainnya, saat mereka masuk ke pesawat itu, rata-rata hati mereka sudah pasrah kalau terjadi apa-apa di jalan. Mereka mendapatkan fasilitas angkutan pesawat terbang yang tentu lebih hemat biaya, dan lebih cepat. Tetapi resikonya, harus siap dengan “segala kemungkinan”. Keluarga AU mengalami berbagai pengalaman aneh-aneh di udara, itu bukan rahasia lagi. Tidak asing bagi mereka.

[o] Pesawat Hercules cukup besar untuk menampung banyak penumpang. Di dalam pesawat kadang diisi penumpang semampunya. Ada yang duduk, ada yang berdiri, bahkan ada yang duduk di bagian sayap atau tempat meletakkan barang-barang. Di kalangan TNI AU, hal seperti itu sudah dimaklumi. Kalau ada yang kebagian duduk di bagian tertentu, atau harus berdiri, ya harus sabar. Jadi seperti “bus kota” di udara.

[o] Rata-rata pesawat yang mengangkut pasukan maupun keluarga militer, memang sudah tua. Secara stamina sudah berkurang banyak kemampuannya, tetapi karena orang Indonesia “kreatif”, berbagai kesulitan bisa dicarikan solusinya secara “kanibal”. Nah, hal itu sangat membuka peluang terjadinya masalah-masalah dalam penerbangan.

Di mata keluarga TNI, karier di bidang militer telah menjadi panggilan hidup mereka. Satu sisi, mencari kejelasan penghasilan ekonomi; namun di sisi lain, kesiapan untuk berkorban, kapan pun diminta. Di masa sekarang nuansanya lebih prihatin lagi: siap hidup susah sebagai prajurit penjaga keamanan nasional.

Sekian banyak riwayat kecelakaan pesawat dan kelambanan operasi militer dalam menjaga teritori negara, seharusnya menjadi pelajaran besar bagi bangsa Indonesia, bahwa negeri ini sedang mengalami masa-masa kritis luar biasa. Bukan hanya keutuhan NKRI yang sering menjadi kerisauan para anggota TNI, tetapi masihkah mereka memiliki komitmen kuat menjaga negara, jika segala fasilitas yang dibutuhkan tidak secara serius dipenuhi. Jangan-jangan, alam pikiran mereka sudah terlalu jauh mengembara.

“Gue jadi prajurit kan cuma untuk cari duit. Kalau ada yang mau bayar gue lebih gedhe, kenapa ditolak?” Jangan sampai pemikiran seperti ini menjadi virus yang menyebar luas di benak para prajurit TNI. Memang jaman sudah berubah, patron pemikiran-pemikiran juga bergeser. Tetapi kalau komitmen menjaga negara sudah melemah, berarti kehidupan kita akan selalu dihantui oleh ancaman. Na’udzubillah min dzalik.

Semoga ke depan, negara lebih sungguh-sungguh memikirkan penguatan sistem kemanan nasional. Amin.

Bandung, 21 Mei 2009.

AMW.


Memahami Karakter PARTAI ISLAMI

Mei 21, 2009

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin. Was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du.

Sebagaimana yang telah sama-sama kita saksikan, kondisi perpolitikan Islam di Indonesia saat ini (khususnya pasca Pemilu Legislatif April 2009) berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Nilai-nilai idealisme perjuangan politik Islam, seperti telah sirna, berganti dominasi sifat pragmatisme. Partai-partai Islam atau partai basis Muslim yang seharusnya bisa mengarahkan jalannya perjuangan perpolitikan, malah menjadi partisan politik praktis yang sangat terpengaruh oleh cara-cera berpolitik sekuler.

Fakta paling sederhana yang sama-sama kita saksikan adalah, ketika partai-partai Islam dan basis Muslim enggan bersatu dengan sesamanya lalu membentuk sebuah poros politik Islam. Kalau mereka bersatu, setidaknya total suara bisa mencapai 28 %. Suara ini lebih besar dari jumlah suara pemenang Pemilu Legislatif 2009. Lantaran sikap egoisme, pragmatisme kekuasaan, dan lunturnya komitmen terhadap nilai-nilai Islami, maka kesatuan poros Islam itu tidak terbentuk. Bahkan yang lebih memprihatinkan, partai-partai Islam membutuhkan peranan partai nasionalis sekuler untuk menyatukan diri mereka dalam satu ikatan koalisi.

Banyak sudah kritik, nasehat, bahkan kecaman dilontarkan untuk meluruskan sikap partai-partai Islam itu. Namun semua masukan tersebut tak ubahnya seperti angin yang membentur batu-batu karang. Ia dianggap angin lalu, tidak bernilai, bahkan diacuhkan saja. Para elit politik Muslim telah menjadi “politik sebagai panglima”, suatu kenyataan yang dulu mereka cela habis-habisan. Seharusnya, mereka berpolitik secara Islami, mencukupkan diri dalam batas-batas panduan agama Allah, dan tidak melompati pagar-pagar-Nya. Sebab pada hakikatnya, berpolitik adalah beribadah juga; ia terikat hukum-hukum Syar’i yang harus dipatuhi.

Sebuah pertanyaan besar: “Jika langkah-langkah partai Islam selama ini dianggap buruk, tidak layak, menyimpang dari kebenaran, bahkan merugikan masa depan Ummat. Lalu bagaimana bentuk dan cara berpolitik yang Islami, yang sesuai dengan nilai-nilai Syariat Islam itu sendiri? Mohon tunjukkan penjelasannya, sehingga kita tidak disebut sebagai kaum yang hanya pintar mengkritik, tetapi miskin solusi!”

Dalam tulisan ini akan dijelaskan tentang sifat-sifat (karakter) sebuah partai Islam yang Islami. Tujuan penulisan ini selain untuk menjawab pertanyaan seputar konsep partai Islam yang diharapkan Ummat, juga sebagai dorongan bagi kaum Muslimin untuk lebih bersungguh-sungguh mempersiapkan kerja politik Islami di masa ke depan.Insya Allah, konsep partai Islami ada dan sangat realistik, asalkan kita ada kesungguhan untuk mencari, membangun, dan mengembangkannya.

Apa yang disampaikan disini bukanlah sesuatu yang ideal. Tetapi semoga ia bisa menjadi arah untuk menemukan konsep partai Islam yang lebih tangguh, taat Syariat Islam, dan efektif dalam mencapai kemajua-kemajuan perjuangan politik. Maka, segala kebaikan itu semata merupakan nikmat Allah, adapun kesalahan-kesalahan datang dari diri saya sendiri atau bisikan syaitan. Walhamdu lillahi fil awwali wal akhir.

Baca entri selengkapnya »