Dimanakah Pemimpin Mukmin?

Ketika Khalifah Umar bin Abdul Aziz rahimahullah diangkat menjadi Khalifah Bani Umayyah, tampak tanda-tandanya bahwa beliau adalah pemimpin yang adil lagi shalih. Sejak beliau diangkat menjadi Khalifah, para penggembala domba di kaki gunung terpencil, mereka mendapati kawanan srigala tidak lagi menerkam domba mereka. Malah srigala bermain-main dengan domba. Saat itu mereka menyimpulkan, bahwa negerinya sedang dipimpin seseorang yang shalih. Barakah keshalihan sangat kuat, hingga mempengaruhi perilaku binatang ternak dan hewan liar.

Fathimah binti Abdul Malik, isteri Khalifah Umar bin Abdul Aziz, beliau menceritakan bahwa suaminya bukanlah seseorang yang ibadahnya istimewa. Shalatnya, qiyamul lailnya, shaum sunnahnya, dan sebagainya tidak istimewa. Malah mungkin biasa-biasa. Tetapi satu hal yang membuat Khalifah Umar bin Abdul Aziz istimewa, yaitu rasa takutnya kepada Allah Al A’la.

Menurut Fathimah, setiap menjelang tidur malam, suaminya selalu menangis sesegukan seperti anak kecil, karena begitu takutnya kepada Allah. Khalifah Umar kalau menangis, badannya seperti menggigil, air-mata berderai-derai. Hal itu terjadi setiap malam. Khalifah Umar tampak seperti ingin menanggung sendiri semua beban kepemimpinan Ummat di pundaknya. Begitu hebatnya tangisan beliau, sampai isterinya mengatakan, “Jangan-jangan esok pagi kaum Muslimin sudah kehilangan pemimpinnya.” Tangisan Umar bin Abdul Aziz seperti tangisan seseorang yang sudah pasrah bahwa esok dia akan menjemput ajal.

Saat berbicara tentang sosok Umar bin Abdul Aziz, hati kita merasa sangat pilu. Layakkah kita membicarakannya, pantaskah kita mengaguminya, pantaskah kita mendambakan munculnya teladan seperti dirinya? Betapa jauhnya jarak antara sikap beliau dengan para pemimpin yang selama ini memandu kaum Muslimin, di bumi manapun mereka berada. Kita bukan saja tidak menemukan spirit Umar bin Abdul Aziz, tetapi kisah beliau nyaris menjadi dongeng pengantar tidur. Membicarakan Umar bin Abdul Aziz seperti menjadi penghinaan bagi diri kita sendiri.

Saudaraku, dimanakah para pemimpin yang adil lagi shalih itu? Adakah mereka? Eksiskah mereka? Dimanakah kita bisa menemukannya?

Di jaman seperti ini, kepemimpinan menjadi rebutan semua orang. Kepemimpinan menjadi nikmat agung yang menawarkan sejuta sensasi: kekayaan miliaran rupiah, fasilitas properti serba mewah, kuasa politik yang kuat, kepuasan syahwat tak terbatas, kesempatan pelesir ke seluruh dunia, popularitas, status sosial, jaminan materi, kepemilikan saham perusahaan, dan sebagainya. Kepemimpinan menjadi SUPER PROFESI yang bisa mengubah ekonomi seseorang secara dramatik. Dengan kekayaan di tangan, segala jenis nikmat bisa dibeli.

Para pemimpin di jaman ini bukanlah mereka yang sedia berkorban demi kebaikan masyarakat. Mereka justru sangat menuntut agar masyarakat melayani dirinya, seluas-luasnya, sepuas-puasnya, tak terbatas. Mereka akan menuduh masyarakat kurang ajar, kalau tidak memberikan apa saja yang memuaskan hatinya. Pemimpin yang adil hidup untuk melayani, sementara pemimpin jaman ini justru meminta dilayani.

Para Khalifah Islam yang mulia, mereka benar-benar takut kepada Allah. Jangankan bicara soal program pangan, pakaian, perumahan, keamanan, kesehatan, ibadah, pendidikan, dan lainnya. Bahkan nasib orang per orang, mereka perhatikan. Warga miskin yang kelaparan di malam hari, mereka perhatikan. Anak-anak yang kurus, berpenyakit, mereka perhatikan. Janda-janda, orangtua, kaum musafir, mereka perhatikan. Harga barang di pasar, timbangan, perilaku pedagang, para pembeli, sampai kualitas barang konsumsi, mereka perhatikan. Jangan lagi bicara soal ancaman musuh, mereka tidak rela melihat ada satu pun gelandangan tanpa rumah, tanpa alamat. Orang sakit, orang cacat, bahkan orang gila pun mereka perhatikan.

Filosofinya sederhana. Seorang Khalifah adalah pengganti Nabi dalam melayani Ummat. Semua kebutuhan dan urusan yang menyangkut Ummat Islam, baik mereka yang ada di depan mata, maupun yang berada di celah-celah bebatuan sempit di pelosok-pelosok kampong, semua dalam tanggung-jawabnya. Seperti ungkapan terkenal Khalifah Umar bin Khattab Ra.: “Kalau ada seekor domba yang kakinya terperosok lubang di Hadramaut, ia dalam tanggung-jawabku.” Meskipun Hadramaut ada jauh di Yaman, dan itu pun hanya seekor domba.

Kemiskinan di Pinggir Kali. (Sumber: Photofolio, Ombeha Blogspot).

Kemiskinan di Pinggir Kali. (Sumber: Photofolio, Ombeha Blogspot).

Kalau kepemimpinan di jaman sekarang, situasinya sangat jauh berbeda. Kepemimpinan itu mayoritas bukan dibangun di atas KEIMANAN, tetapi berdasarkan KOMPETISI memperebutkan FASILITAS. Alih-alih berharap para pemimpin itu akan peduli dengan nasib rakyat, sejauh mereka tidak menindas rakyatnya sendiri saja, itu sudah luar biasa. Para pemimpin itu banyak yang menganggap rakyatnya sebagai kumpulan manusia tak bernilai yang bebas dieksploitasi untuk memuaskan syahwat kekuasaannya. Sikap belas kasih, kejujuran, komitmen keadilan, keberpihakan, sangat jauh dari kenyataan. Jauh, jauh, jauh sekali.

Rakyat miskin puluhan juta jiwa, dibiarkan saja. “Ya, baru sekian puluh juta. Itu pun sudah turun sekian persen sekian persen,” jawab mereka. Ratusan juta masyarakat stress akibat tekanan hidup semakin berat, dibiarkan saja. “Ya, ini konsekuensi kehidupan industri baru. Ini masih wajar kok,” jawab mereka. Gelandangan, pengemis, anak jalanan, pelacur, dan sebagainya merajalela dimana-mana, dibiarkan saja. “Ya, jangan cuma menilai. Tetapi berikan solusinya, dong!”  kata mereka ketus. Penipuan, korupsi, kriminalitas, sadisme, penjualan manusia, seks bebas, aborsi, wabah narkoba, pun dibiarkan saja. “Ya, namanya juga hidup. Banyak dinamikanya,” jawab mereka. Kekafiran, kemusyrikan, pemurtadan, kesesatan paham, klenik, mistik, sihir, dan lainnya juga dibiarkan. “Kita negara demokrasi. Hak warga negara dilindungi hukum,” kata mereka.

Begitu banyak amanah kehidupan yang dibiarkan. Tidak ada tanggung-jawab hakiki untuk memperbaiki semua itu. Ambisi puncak hanya memuaskan syahwat, memuaskan gairah berkuasa, serta mementingkan diri sendiri. Posisi rakyat ada di poin terakhir, setelah semua item kesenangannya terpuaskan. Bahkan, kepedulian mereka kepada rakyat adalah untuk MEMPERKUAT KERAJAAN SYAHWAT MEREKA. Ini bukan karena komitmen yang murni.

Itulah bedanya, kepemimpinan berdasarkan KEIMANAN dengan kepemimpinan berdasarkan SYAHWAT. Kepemimpinan pertama adalah kepemimpinan Islami, seperti yang dicontohkan Sayyidul Mursalin Saw. Ia adalah imarah yang diridhai oleh Allah, diridhai oleh makhluk, bahkan dicintai oleh alam semesta. Adapun kepemimpinan syahwat adalah kepemimpinan gelap, kepemimpinan zhalim, mengabaikan kewajiban, menerlantarkan hak-hak, mematikan barakah, memproduksi seluas-luasnya penderitaan hidup Ummat.

Dimanakah kepemimpinan Mukmin, wahai saudaraku?

Carilah jawabnya di lubuk hatimu! Kalau engkau mendapatinya, maka ia adalah sepotong dari barakah Kenabian yang telah sangat langka di muka bumi. Jika engkau tidak mendapatinya, janganlah berputus asa! Berharaplah hanya kepada Rabbul ‘alamiin, sebab Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Semoga Allah menganugerahkan karunia-Nya berupa kepemimpinan Islam kepada kaum Muslimin. Allahumma amin. Wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: