Fatwa “Nikah dengan Niat Cerai” (2)


Model Pernikahan Haram

Hukum asal pernikahan adalah Sunnah. Dalilnya adalah sabda Nabi Saw, “Wahai para pemuda, siapa di antara kalian yang telah mampu, maka menikahlah. Sesungguhnya ia (pernikahan itu) lebih memelihara pandangan dan lebih suci bagi kemaluan (kalian). Dan siapa yang belum mampu, maka hendaklah dia berpuasa, karena puasa itu menjadi perisai baginya.” (HR. Bukhari-Muslim).

Pernikahan adalah perbuatan yang dilakukan oleh Nabi, maka setiap ummatnya perlu mengikuti Sunnah beliau. Siapa yang membenci Sunnah pernikahan, dia bukan bagian dari ummat Nabi Saw. Namun pernikahan bersifat istitha’ah (sesuai kesanggupan). Bagi seseorang yang benar-benar tidak mampu menjalankannya, dia tidak wajib menunaikan amalan ini. Tidak sedikit ulama sampai akhir hayatnya belum menikah, karena sibuk dengan ilmu dan jihad. Sebagai contoh, ulama ahli hadits, Imam Abu Zakariya Yahya bin Sharaf An Nawawi rahimahullah, beliau wafat sebelum sempat menikah.

Hukum asal pernikahan adalah Sunnah. Namun hukum itu bisa berubah, sesuai kondisinya. Ia bisa menjadi WAJIB, bagi seseorang yang takut terjerumus ke dalam zina, sementara dia telah mampu menikah dan tidak ada halangan baginya untuk menikah. Misalnya, seseorang menjadi pejabat negara dalam usia 30 tahun. Maka dia wajib menunaikan pernikahan demi menjaga agamanya dan demi kebaikan jabatan yang diembannya dalam melayani masyarakat.

Sebaliknya, pernikahan juga bisa menjadi HARAM jika dilakukan untuk menzhalimi seorang wanita. Misalnya, seorang laki-laki memiliki dendam pribadi kepada suatu keluarga. Dengan berbagai cara dia berusaha menikahi seorang wanita dari keluarga itu dengan tujuan ingin memuaskan dendam. Setelah menikah, laki-laki itu sengaja mengekang kebebasan isterinya; membuatnya menderita dengan perkataan atau perlakuan buruk; sengaja membuat isterinya depressi; dia merasakan nikmat dengan segala bentuk perlakuan zhalim tersebut. Pernikahan seperti ini jelas HARAM, sebagaimana kezhaliman itu sendiri adalah haram.

Dalam sebuah hadits qudsi, Allah Ta’ala berfirman, “Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezhaliman atas diri-Ku, dan Aku jadikan ia (kezhaliman itu) haram di antara kalian. Maka janganlah kalian saling menzhalimi.” (HR. Muslim, dalam Jami’ul Ulum hadits no. 24).

Pernikahan dengan niat menceraikan bisa dimasukkan dalam kategori menikah untuk menzhalimi hak-hak seorang wanita. Alasannya, isteri yang diceraikan pasti akan mengalami berbagai kerugian akibat perceraian yang telah direncanakan suaminya. Bisa saja dia telah hamil, telah memiliki anak, atau mengalami berbagai penurunan kondisi fisik setelah menikah. Suaminya hanya memikirkan diri sendiri, tanpa menghitung nilai kerugian yang akan diderita mantan isterinya.

Alasan lain, jika seorang laki-laki tidak niat menikah secara wajar dengan seorang wanita, janganlah dia menikahinya. Siapa tahu, ada laki-laki lain yang siap menikahi wanita itu secara bertanggung-jawab. Bisakah diterima dengan akal sehat, seorang wanita dinikahi tanpa kejelasan masa depan rumah-tangga, sementara jika dia dibiarkan tidak dinikahi oleh laki-laki curang itu, bisa jadi ada laki-laki lain yang mau menikahinya secara bertanggung-jawab? Kalau dia sudah menjadi “sisa orang”, seringkali lebih sulit untuk menikah dengan laki-laki lainnya.

Kami sendiri pernah menjumpai kenyataan seperti itu. Ada seorang laki-laki menikahi seorang wanita dengan setengah hati. Dia sengaja menikahi wanita itu dan tidak mau jika ia dinikahi laki-laki lain. Hingga sampai terjadi pertengkaran dengan laki-laki lain. Namun setelah wanita itu dinikahi, dia disia-siakan. Dalam waktu tidak lama, wanita itu pun diceraikan. Sedangkan laki-laki yang semula menginginkannya tidak ketahuan rimbanya. Wanita itu pun menjadi “janda” dengan tidak pernah mengalami pengalamanan sebagai seorang isteri. Bertahun-tahun lamanya dia tersiksa secara psikologis oleh sikap kezhaliman laki-laki mantan suaminya.

Tidak Membahayakan Laki-laki

Salah satu alasan di balik fatwa bolehnya ‘menikah dengan niat menceraikan’ itu, ialah praktik tersebut tidak membahayakan pihak laki-laki. Jadi, mereka bisa menikah sebulan dua bulan, lalu menceraikan isterinya, kemudian hal itu tidak membahayakan dirinya. Pokoknya laki-laki seperti itu selamat, tidak berzina, meskipun dia harus meninggalkan isteri yang dia ceraikan dalam keadaan menderita.

Maka bantahan atas pendapat ini adalah sebagai berikut:

Pertama, apakah seperti itu ruh dari pernikahan Islam yang Sakinah Mawaddah wa Rahmah seperti yang disebutkan dalam Surat Ar Ruum ayat 21? Apa gunanya dalam ayat itu Allah mengatakan, “Wa ja’ala baikuma mawaddah wa rahmah” (dan Allah jadikan di antara KEDUANYA [pasangan suami-isteri] rasa cinta dan kasih sayang). Dari mana akan terbit cinta di hati seorang suami, jika dia sudah bertekad mentalak isterinya sebelum menikah? Begitu pula, adakah cinta di hati wanita yang dinikahi beberapa saat, kemudian dia ditinggalkan secara sepihak?

Kedua, kalau pihak laki-laki tidak dirugikan, lalu bagaimana dengan pihak wanita? Apakah pernikahan dalam Islam itu artinya pemuasan birahi laki-laki, tanpa memikirkan hak-hak isterinya? Hingga dalam senggama pun, Nabi menyuruh para suami tidak semena-mena, tetapi juga menghargai tabiat seksual isterinya. Dalam Al Quran dikatakan, “Berbuat adillah kalian, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat adil.” (Al Hujurat: 9).

Ketiga, adakah satu saja contoh ajaran dari Nabi Saw yang memperbolehkan kaum laki-laki menikahi wanita hanya untuk beberapa saat, lalu diceraikan setelah hajatnya dipenuhi? Apakah Islam memposisikan kaum wanita sebatas alat pemuas birahi lki-laki saja? Laa haula wa laa quwwata illa billah. Padahal Nabi mengatakan, “Alaa inna lakum ‘ala nisaa’ikum haqqan, wa li nisaa’ikum ‘alaikum haqqan” (Ketahuilah, bahwa sesungguhnya bagi kalian ada hak dari siteri-isteri kalian, dan bagi isteri kalian ada haq dari kalian. HR. Imam Tirmidzi).

Keempat, apa bedanya pernikahan “kawin kontrak” itu dengan nikah mut’ah yang amat sangat dibenci di Saudi? Apakah bedanya hanya soal diumumkan atau tidak diumumkan rencana perceraian? Jika demikian, berarti nikah mut’ah bisa menjadi halal, kalau disana tidak diumumkan rencana perceraiannya? Demi Allah, urusan mengumumkan perceraian dalam “kawin kontrak” itu bukanlah esensi masalahnya. Masalah utamanya adalah pernikahan sepihak, hanya mengambil kenikmatan dari wanita, lalu menceraikannya secara semena-mena. Malah nikah mut’ah lebih kesatria, sebab berani terus-terang mengklaim waktu perceraiannya. Sementara pada “kawin kontrak”, pihak laki-laki sengaja menyembunyikan rencananya.

Kelima, jika sistem “kawin kontrak” itu bisa diterima, apakah laki-laki yang biasa mengontrak wanita itu, mereka mau apabila wanita-wanita dalam keluarganya dinikahi orang lain secara kontrak juga? Maukah adik mereka, kakak mereka, anak mereka, keponakan mereka, bahkan ibu mereka dinikahi orang lain secara kontrak? Jika mereka tidak mau, berarti mereka telah berbuat zhalim ketika menikahi wanita secara kontrak. Jika mereka mau, berarti hati dan moral mereka telah hancur-lebur.

Sungguh, kawin kontrak adalah bentuk perbuatan fasad (merusak) di muka bumi, sebagaimana rusaknya nikah mut’ah. Membolehkan pernikahan seperti itu sama saja dengan menyebarkan kezhaliman secara luas, melecehkan Syariat Islam, merendahkan martabat wanita, membenarkan nafsu hedonisme, serta memfitnah ajaran Islam.

Sebuah Perbandingan

Ada sebuah hadits menarik sebagai perbandingan. Rasulullah Saw bersabda, “Tahukah kalian apakah itu bandot sewaan (at taisir musta’ar)? Mereka berkata, “Tidak wahai Rasulullah.” Nabi berkata, “Dia adalah muhallil, Allah telah melaknati muhallil dan orang yang mengupah muhallil baginya.” (HR. Ibnu Majah dan Al Hakim).

Muhallil maksudnya adalah seseorang yang dibayar untuk menikahi seorang wanita yang telah ditalak tiga kali oleh suaminya. Suami itu tidak bisa menikahi wanita tersebut, kecuali kalau ada laki-laki yang menikahi wanita itu, lalu dia menceraikannya. Seorang muhallil menikah semata-mata karena ingin memberi jalan bagi suami pertama agar bisa menikahi mantan isterinya yang telah ditalak tiga kali. Baik muhallil maupun laki-laki yang mengupahnya, keduanya dilaknati oleh Allah Ta’ala.

Pernikahan dengan niat menceraikan sama liciknya dengan pernikahan model para muhallil ini. Bedanya, kalau muhallil bekerja untuk orang lain, maka dalam ‘pernikahan dengan niat cerai’ seorang laki-laki menganiaya isterinya demi kepuasan dirinya sendiri. Keduanya sama-sama mempermainkan aturan agama.

Memicu Kerusakan Dahsyat

Kalau pernikahan dengan niat mencerikan itu dibenarkan, ia akan menimbulkan kerusakan yang meluas di muka bumi. Bahkan ia bisa menghancurkan agama itu sendiri yang sendi-sendinya dibangun di atas landasan keutuhan rumah-tangga. Bayangkan, jika fatwa seperti itu sampai jatuh ke tangan pemuda-pemuda yang lemah iman, maka mereka akan memperlakukan wanita dengan semena-mena. Bahkan hal itu bisa terjadi dalam pernikahan normal antara laki-laki dan wanita manapun yang menikah. Bisa saja, nanti muncul fenomena suami-suami yang hanya ingin mengambil kenikmatan seksual wanita, dengan tidak mau bertanggung-jawab memikul beban keluarga.

Tidak dibayangkan, betapa dahsyatnya kerusakan itu ketika para suami tidak lagi memiliki komitmen untuk menikah secara tetap (dawam). Mereka lebih suka ganti-ganti pasangan, sebab dianggap lebih nikmat, meskipun sangat menyakitkan bagi wanita-wanita yang menjadi korbannya. Dalam kondisi ini, membenarkan pernikahan dengan niat cerai tersebut sama saja dengan membuka pintu-pintu malapetaka seluas-luasnya. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Aspek Kebolehan

Kita mula-mula harus sepakat, bahwa segala bentuk kezhaliman adalah haram. Jika kezhaliman dilakukan dalam pernikahan, ia juga haram. Lalu pertanyaanya, dari sisi apa para ulama bisa menghalalkan ‘pernikahan dengan niat menceraikan’ itu?

Disini kita perlu kritis. Kalau dikaji, ternyata kebolehan atau kehalalan itu berlaku di hadapan hukum Syariat Islam. Maksudnya, jika ada laki-laki yang menikah dengan niat menceraikan, lalu dia benar-benar menjalankan niatnya itu, maka Syariat Islam tidak bisa menghukum orang itu dengan sanksi apapun. Sebab, Syariat Islam hanya melihat perkara yang tampak saja. Adapun soal niat di hati manusia, Syariat Islam tidak sampai menjangkau sedemikian dalamnya.

Namun, bagi pelaku perbuatan seperti itu, ia adalah dosa besar. Ia adalah kezhaliman yang nyata kepada hak-hak kaum wanita yang dipelihara secara cermat dalam Islam. Di hadapan Allah, pelaku perbuatan seperti itu mendapat ancaman serius. Perhatikan lagi tuntunan Islam dalam Surat Al Baqarah ayat 231: “Janganlah kalian rujuki mereka untuk memberi madharat kepada mereka, sehingga kalian berbuat melampaui batas. Maka siapa yang melakukan perbuatan seperti itu, sejatinya dia hanya menzhalimi dirinya sendiri. Dan janganlah kalian jadikan ayat-ayat Allah (hukum-Nya) sebagai bahan permainan.” Pernikahan seperti yang kita bahas ini jelas merupakan kezhaliman kepada kaum wanita dan mempermainkan ayat-ayat Allah.

Sekali lagi, aspek kebolehannya adalah di hadapan Syariat Islam. Syariat tidak bisa menjatuhkan sanksi kepada pelaku perbuatan seperti itu, tetapi Allah Maha Tahu apa yang dilakukan oleh laki-laki zhalim. Perhatikan lagi kelanjutan ayat di atas: “Takutlah kalian kepada Allah, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al Baqarah: 231). Di hadapan manusia, laki-laki curang itu bisa selamat, tetapi di hadapan Allah mereka akan menerima hisab yang berat.

Bentuk Fatwa Politik

Ketika kita melihat suatu fatwa dari seorang ulama atau dewan ulama, janganlah cepat-cepat mengambil kesimpulan. Misalnya, fatwa itu tampak salah, lalu kita mengatakan bahwa ulama fulan begini begini dan sebagainya. Kita harus bijak menyikapi fatwa ulama, sebagaimana orang lain kita minta bijak ketika mereka mengkritik ulama-ulama tertentu yang menjadi panutan kita.

Secara umum, fatwa ulama bisa dibedakan menjadi: fatwa Syariat, fatwa politik, dan fatwa Syariat-politik. Fatwa Syariat adalah hasil kajian murni terhadap dalil-dalil Syar’i dan pendapat-pendapat fiqih. Sedangkan fatwa politik ditujukan untuk tujuan-tujuan politik tertentu, meskipun covernya tampak seperti fatwa fiqih. Adapun fatwa Syariat-politik, adalah fatwa ulama sebagai hasil kajian fiqih murni namun ia ditujukan untuk mempengaruhi kondisi politik.

Contoh fatwa politik adalah fatwa-fatwa MUI tentang hukum halal-haram makanan, minuman, dan perbuatan tertentu. Contoh fatwa politik adalah fatwa MUI tahun 1999 tentang haram memilih Caleg non Muslim dan fatwa MUI tahun 2008 tentang “golput haram”. Adapun fatwa Syariat-politik contohnya fatwa yang dikeluarkan Dewan Ulama Saudi (Lajnah Daimah) yang menyerukan pertolongan maksimal terhadap kaum Muslim di Ghaza yang mendapat agressi dari Israel. Dalam fatwa terakhir ini, kajian fiqihnya jelas, tujuan politiknya juga jelas.

Fatwa politik sepintas lalu seperti fatwa fiqih pada umumnya. Tetapi kalau dikaji secara mendalam, kerap kali fatwa itu mengandung kekurangan-kekurangan. Contoh, fatwa Syaikh Bin Baz tentang bolehnya bekerjasama dengan Israel. Beliau mendasarkan fatwanya pada sikap Nabi yang pernah bermuamalah dengan Yahudi. Hukum asal muamalah dengan Yahudi dan Nashrani memang boleh, tetapi dalam konteks tertentu, kerjasama tersebut bisa dilarang jika akibatnya menguntungkan orang kafir dan merugikan kaum Muslimin.

Fatwa politik ini seringkali muncul karena desakan-desakan tertentu yang sulit dihindari oleh ulama. Kemungkinan, fatwa bolehnya ‘menikah dengan niat cerai’ itu juga berdasarkan tekanan. Sulit memahami bagaimana para ulama yang shalih, ‘alim, dan taqwa bisa membenarkan praktik pernikahan yang mirip dengan nikah mut’ah. Bukankah Saudi selama ini dikenal sangat keras dalam menyikapi nikah mut’ah?

Kondisi Masyarakat Saudi

Keadaan masyarakat Saudi cukup memprihatinkan (meskipun tidak dipungkiri, bahwa kondisi kita di Indonesia juga tidak kalah memprihatinkan). Di Saudi, secara aturan hukum dan budaya, Syariat Islam menjadi rujukannya. Namun kehidupan pribadi rakyatnya tidak otomatis menjalankan Syariat dengan baik. Tidak sedikit masyarakat Saudi yang bersikap hedonis di tengah-tengah keluarganya, atau saat mereka sedang berada di negeri-negeri asing. Kasus kekerasan seksual kepada TKW atau jamaah Haji asal Indonesia, hanyalah sedikit contoh yang bisa disebut.

Saudi seperti negara yang gamang. Secara formal mereka menerima Syariat Islam sebagai hukum negerinya. Namun pada saat yang sama, budaya Barat masuk secara intensif ke dalam keluarga-keluarga Saudi. Arus westernisasi terutama melalui media-media TV yang dipancarkan melalui parabola, majalah hedonis yang beredar secara gelap, serta melalui internet. Dan persentuhan budaya antara rakyat Saudi yang pelesir ke negeri-negeri Barat, serta ke negeri-negeri Teluk yang menghalalkan budaya bebas, mau tidak mau telah banyak merusak moralitas mereka. Serangan budaya Barat ke negeri seperti Saudi lebih mengkhawatirkan daripada serangan militer Amerika. Sebab, serangan budaya sifatnya permanen, mengalir secara lembut, dan sulit sekali ditangkal. Inilah dilema Kerajaan Saudi saat ini.

Tidak berlebihan ketika suatu saat seorang ulama muda, Syaikh Salman Al Audah, mengeluarkan fatwa haramnya memiliki antena parabola. Pemikirannya, antena itu bisa mengakses siaran TV dari seluruh dunia, termasuk siaran TV paling buas sekalipun. Namun sayang, gerakan Salman Al Audah itu dianggap sebagai provokasi yang bisa mengancam stabilitas negara Saudi. Akhirnya, beliau dinyatakan bersalah oleh fatwa ulama, lalu dipenjara sampai beberapa tahun lamanya.

Fatwa itu sendiri lebih kental nuansa politiknya. Jika dewan ulama tidak menyatakan Salman Al Audah bersalah, maka Kerajaan bisa saja bersikap buruk kepada dewan tersebut. Sebaliknya, kalau menyatakan Salman Al Audah bersalah, hal itu juga tidak mudah. Betapa tidak, salah satu buku Salman Al Audah yang dianggap menyimpang adalah Al Uzlah Wal Khutlah. Padahal buku itu diberi kata pengantar dan direkomendasikan oleh pimpinan Ketua dewan ulama Saudi sendiri, yaitu Syaikh Abdul Aziz bin Baz. Betapa dilematiknya Syaikh Bin Baz, beliau harus menyalahkan seseorang yang bukunya beliau beri kata pengantar sendiri.

Westernisasi menjadi ancaman besar yang terbukti telah membusukkan moralitas rakyat Saudi. Suara-suara yang kritis dalam hal ini bisa dianggap sebagai ancaman stabilitas nasional. Sebagai sebuah negara, Saudi lebih suka menjadi negara nasionalis dengan ke-Saudi-annya. Padahal sesuai Syariat Islam, harus ada di antara negara yang ada di dunia ini yang mau memikul amanah Khilafah Islamiyyah. Jika tidak ada yang memikulnya, maka seluruh Ummat Islam berdosa seluruhnya.

Bisakah suatu saat nanti negara itu mengubah dirinya menjadi pemimpin Khilafah Islamiyyah? Atau ia akan tetap membiarkan merebaknya arus westernisasi dan amoralisasi yang terus menggerogoti bangsanya? Kita hanya bisa mengatakan: Wallahu A’lam bisshawaab.

Bandung, 28 April 2009.

AM. Waskito.

Iklan

4 Responses to Fatwa “Nikah dengan Niat Cerai” (2)

  1. bayu200687 berkata:

    IMO, fatwa itu insyaAlloh ada kebenaran di dalamnya. meski ada juga pendapat yang ‘memakruhkannya’ (apa ya kata yg tepat?), semisal pendapat syaikh ustaimin. [klo ga salah, ada di buku panduan nikah a sampai z].

    yg pernah saya baca, niat tsb kn bisa berubah2. karena Robb-lah yang membolak-balikkan hati. bisa saja dia senang, maka dia akan mempertahankannya. jika tidak, maka dia akan menceraikannya.

    namun syaikh ustaimin menilai bahwa hal semacam ini [nikah dg niat menceraikan], adalah semacam penipuan. sebab, jika laki2 itu mengatakan demikian di awal nikahnya, niscaya tidak ada (?) wanita yg mau dia nikahi.

    wallohu a’lam

  2. abu yusuf berkata:

    Bismillah…

    Asalamu’alaykum akhi,

    sedikit menambahkan..

    Ana lebih cenderung pada pendapat yang memakruhkannya (tidak mengharamkan secara mutlak)…
    Coba antum simak penjelasan di bawah

    http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/04/nikah-mis-yaar-dan-nikah-dengan-niat.html

    Barakallahu fiikum

  3. abisyakir berkata:

    @ Abu Yusuf.

    Wa’alaikumsalam warahmatullah Akhi.

    Oh ya, kalau hal itu terjadi sekali-sekali tidak apa-apa. Tetapi kalau sudah menjadi TRADISI, itu haram mutlak. Ia sama seperti nikah mut’ah, bahkan lebih kejam dari nikah mut’ah. Mengapa? Masih lumayan, nikah mut’ah kedua pasangan nikah sama-sama tahu batas pernikahannya, sementara dalam “kawin kontrak” hanya satu pihak (suami) saja yang tahu. Syukran atas link-nya. Nanti saya kopi, untuk dibaca lebih jauh.

    Wabarakallah katsira lakum.

    AMW.

  4. manusia_biasa berkata:

    Saya pribadi kurang setuju… (maaf mungkin keterbatasan ilmu saya…)
    Apakah dasar menikah menggunakan syariat agama Islam, kemudian dalam perjalanan pernikahan tidak menggunakan syariat agama Islam diperbolehkan…?? Apa tujuan menikah dalam Islam?? bukankah salah satunya menjaga kehormatan wanita, melanjutkan keturunan, membuat umat Islam menjadi besar&banyak??
    Maaf apabila sholat, kita mengawali dengan Allahu Akbar, kemudian sewaktu sholat kita tidak mengindahkan aturan sholat sampai selesai, apakah sholat kita diterima?? Wallahu Alam… Allah Yang Maha Mengetahui
    bukankah di al qur’an , laki2 diminta menjaga pandangan dan kemaluannya…
    Sepengetahuan saya, apabila ada janda yang kurang mampu dia menjadi tanggung jawab negara??Apa yang sudah terjadi di Indonesia…
    Inilah yang maaf menjadikan janda umur 19-23tahun mempunyai anak 1 ataupun belum mempunyai anak di daerah Cianjur-Sukabumi, mau melacurkan diri demi kehidupan karena tuntutan ekonomi(maaf ini saya lihat dengan mata kepala saya sendiri, di waktu jaman kekhilafan saya)
    maaf, bukannya saya ingin memfonis atau bagaimana…
    akan tetapi saya rasa ini semua menjadi kacau balau karena hanya menggunakan syariat agama Islam separo2, tidak menyeluruh dan tidak ada hukum tegas dilaksanakan. Hanya permulaan saja menggunakan syariat agama islam, diperjalanan dan akhirnya kurang menggunakan syariat agama Islam.
    Hal ini tidak terjadi oleh orang Arab yang singgah di Indonesia, bahkan yang melakukan juga orang Indonesia sendiri…
    Coba lihat pandangan pemeluk agama lain?? semuanya yang bertujuan baik menjadi fitnah, dan digunakan pemeluk agama lain untuk memojokkan Islam.
    saya rasa ulama Indonesia dan umat Islam perlu memeperhatikan ini juga, bagaimana baik buruknya…
    terima kasih..
    maaf apabila ada kata2 saya yg kurang sesuai,mohon dikoreksi karena keterbatasan saya sebagai manusia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: