Fatwa “Nikah dengan Niat Cerai” (1)

Baru-baru ini muncul diskusi panas di forum MyQuran. Topiknya tentang kebiasaan laki-laki Saudi saat berlibur ke Indonesia, lalu mereka menikahi Muslimah Indonesia selama liburan, kemudian mereka pulang lagi setelah menceraikan isterinya. Diskusi itu menjadi menarik ketika pihak pelaku praktik “kawin musiman” itu menggunakan dalil fatwa ulama Saudi, Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah.

Mungkin sekitar setahun lalu, saya pernah melihat sebuah liputan khusus di TV yang mengangkat topik “Kawin Kontrak di Puncak”. Disana sampai ditayangkan prosesi akad nikah kilat, secara sembunyi-sembunyi, dipandu oleh penghulu sewaan. Kasus seperti ini sudah populer terjadi di Puncak, setiap musim liburan sekolah di Saudi tiba. Sejak peristiwa WTC 11 September, memang banyak wisatawan Saudi memilih berpelesir ke negara-negara seperti Indonesia, daripada ke Amerika-Eropa.

Dalam praktik “kawin kontrak” itu, Muslimah Indonesia dikawini laki-laki Saudi selama sebulan atau dua bulan. Sesudah itu mereka diceraikan, ketika laki-laki Saudi harus kembali ke negerinya. Tentunya, sebelum dicerai, pihak wanitanya diberi imbalan sejumlah uang tertentu. Menurut sebagian fatwa ulama, praktik seperti ini boleh, sebab tidak membahayakan pihak laki-lakinya. Meskipun pada kenyataannya, fungsi wanita-wanita Indonesia tak ubahnya hanya sebagai –maaf beribu maaf- “penampung sperma” laki-laki berakhlak rendah itu.

Masih lumayan kalau wanita kita tidak sampai hamil. Kalau hamil, mereka harus menanggung beban hidup seorang anak yang telah ditinggal “mantan bapaknya”. Dan para janda itu tentu tidak mudah untuk menikah dengan laki-laki lokal, sebab sudah dianggap “sisa orang lain”. Bukan mustahil apa yang kemudian dilakukan oleh wanita-wanita itu adalah: menanti suami musiman lain di masa liburan berikutnya, atau sekalian menjadi pelacur. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Hebatnya, semua praktik ini didalili dengan hukum-hukum Syariat. “Ada fatwa ulama yang memperbolehkan perbuatan demikian,” kilah para pelakunya. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Syariat Islam telah ditunggangi oleh nafsu bejat laki-laki tidak berbudi yang tidak mampu mengendalikan birahinya. Maha Suci Allah dari melayani perilaku keji orang-orang fasik itu.

Pernah terjadi peristiwa unik dalam liputan TV tentang “Kawin Kontrak di Puncak” itu. Seorang reporter wanita bertugas masuk ke arena akad nikah akal-akalan itu. Seorang laki-laki Arab sudah siap menjalankan akad nikah dengan wanita yang dia pesan. Tampaknya, reporter TV itu cukup cantik, smart, dan mungkin seksi. Tidak disangka, ternyata laki-laki Arab itu malah tertarik kepada reporter tersebut. Wanita pesanan di depan matanya diabaikan, sementara reporter yang meliput kejadian itu malah dirayu-rayu luar biasa oleh laki-laki itu.

Begitu derasnya reporter TV itu dirayu, sampai dia merasa kewalahan. Posisi dia serba salah. Mau mengaku wartawan, khawatir akad nikah itu akan bubar. Tetapi kalau tidak cepat mengaku, hampir-hampir dia disikat “Si Bajul Ireng” itu. Laki-laki Saudi itu terus merayu-rayu. Katanya, dia janji akan menikahi reporter itu secara resmi dan nanti akan kontinue mengirim uang kepadanya dari Saudi. Rupanya, laki-laki itu cukup mengerti juga “kualitas” wanita. Di bisa bedakan wanita klas PRT dan wanita yang cukup smart.

Pihak Kedubes Saudi khawatir dengan makin maraknya praktik “kwain kontrak” ini. Tetapi mereka juga berdalil bahwa ada fatwa dari Syaikh Bin Baz yang membernarkan “pernikahan musiman” seperti itu. Di situs eramuslim.com ditampilkan terjemahan fatwa tersebut. Berikut ini kutipan isi fatwa Bin Baz ketika ditanya praktik “kawin kontrak” oleh seseorang.

Saya (Syaikh Bin Baz –pen.) telah mengeluarkan fatwa di Lajnah Daimah, dan saya menjadi ketuanya, atas bolehnya menikah dengan (adanya) niat cerai, jika hal tersebut adalah antara seorang hamba dan Tuhannya, ketika ia menikah di negeri-negeri asing, dan niatannya adalah ketika ia sudah pragat (rampung, selesai) dari (misi) belajarnya, atau karena keberadaan dia sebagai seorang pegawai atau sejenis hal-hal tersebut untuk kemudian menalak (bercerai), maka tidak ada masalah (fa la ba’sa) dengan hal ini, menurut jumhur ulama. Niat ini hanya (ada) antara dia dan Allah –Subhanahu- dan tidak termasuk syarat.

Adapun perbedaan antara nikah ini dengan nikah mut’ah: sesungguhnya nikah mut’ah terdapat syarat di dalamnya yaitu masa tertentu yang diketahui seperti satu bulan, atau dua bulan, atau satu tahun, atau dua tahun, atau seperti hal tersebut. Ketika masa yang telah disebutkan itu habis, maka nikahnya pun selesai (infasakhak). Ini adalah nikah mut’ah.

Adapun keberadaan seorang hamba (lelaki) yang menikahinya (perempuan) atas sunnah Allah dan Rasul-Nya, tetapi dalam hatinya (meniatkan) ketika sudah habis masa (tinggalnya) di suatu Negara, dia akan menceraikan istrinya, maka hal ini tidaklah membahayakan lelaki itu. Dan niat ini bisa berubah-ubah dan tidak diumumkan dan tidak pula menjadi syarat, tetapi niat tersebut hanyalah antara dia (si lelaki) dan Allah. Maka tidaklah membahayakannya hal tersebut.

Dan hal ini menjadi sebagian dari sebab-sebab kehormatanya dari zina, perbuatan-perbuatan keji, dan ini adalah pendapat jumhur ahli ilmu.

Sumber teks asli: http://www.ahlalhdeeth.com/vb/archive/index.php/t-37133.html. Sumber terjemahan: http://www.eramuslim.com/suara-kita/suara-pembaca/tolong-terjemahnya.htm

Catatan: redaksi terjemahan fatwa di atas sudah saya perbaiki dari redaksi aslinya di eramuslim.com. Redaksi aslinya agak membingungkan bagi yang membacanya. Kalau mau tahu teks aslinya dalam bahasa Arab, silakan rujuk sumber yang disebutkan eramuslim.com dari situs “ahlalhdeeth”.

MEMPOSISIKAN PENDAPAT ULAMA

Mula-mula harus dipahami, bahwa posisi ulama atau dewan ulama adalah untuk memberikan koridor pemahaman kepada Ummat. Pandangan mereka tidak berlaku secara mutlak, sebab yang mutlak hanya Kitabullah dan Sunnah shahihah. Seperti kalimat masyhur dari Imam Malik, “Setiap perkataan bisa diambil dan ditolak, kecuali perkataan penghuni kubur ini,” kata beliau sambil menunjuk ke pusara Rasulullah Saw. Hanya perkataan Rasulullah Saw. yang memiliki konsekuensi hukum mengikat. Begitu pula, sudah terkenal perkataan Imam Syafi’i Rahimahullah, “Kalau suatu hadits telah terbukti shahih, itulah madzhabku.”

Tidak ada pendapat mutlak, setelah firman Allah dan sabda Rasulullah Saw. Maka bagi pendapat siapapun setelah Nabi Saw. berlaku prinsip TARJIH, yaitu ditimbang-timbang mana yang paling rajih (kuat) di antara pendapat-pendapat itu. Siapa yang paling kuat pendapatnya sesuai metodologi ilmiah Salafus Shalih, ia lebih berhak diikuti. Meskipun kemudian yang mengikuti pendapat ini hanya minoritas di suatu tempat. Seperti kata Ibnu Mas’ud Ra. tentang makna Al Jama’ah, yaitu: “Sepakat dengan kebenaran, meskipun engkau seorang diri!”

Kemudian, ada sedikit pengecualian, yaitu Ijma’ Shahabat Nabi Ra. Menurut para ulama, Ijma’ Shahabat diterima sebagai dasar hukum yang kuat, setelah Kitabullah dan Sunnah shahih. Pertimbangannya, para Shahabat tidak akan bersepakat di atas kesesatan, sebab mereka adalah kaum yang mendapatkan petunjuk.

Adapun pendapat Shahabat secara individu sifatnya pilihan, bisa diterima bisa pula tidak, sesuai kecocokannya dengan Kitabullah dan Sunnah. Sebagai contoh, pendapat Ibnu Abbas Ra. dalam soal praktik nikah mut’ah harus ditolak; sedangkan pendapat Abdullah bin Zubair Ra. yang akan merajam pelaku mut’ah, lebih tepat diterima. Padahal kita tahu bagaimana kedudukan Ibnu Abbas Ra. dalam lapangan ilmiah.

Jangan karena suatu pendapat disampaikan oleh syaikh fulan atau dewan ulama tertentu, lalu seketika kita terima bulat-bulat tanpa mencernanya. Sebagai contoh, di Indonesia ini belum lama lalu terbit fatwa ulama tentang pemilu (fatwa “haram golput”). Tetapi kemudian terbukti, bahwa pelaksanaan Pemilu berjalan penuh kecurangan dan kekacauan manajemen.

Pertanyaannya, apakah dewan ulama dalam “mengharamkan golput” telah mengantisipasi kenyataan seperti ini? Atau apakah mereka akan menggiring Ummat Islam untuk menerima secara patuh praktik Pemilu, apapun kenyataan yang terjadi di dalamnya? Jika demikian, berarti dewan ulama telah ikut bersekutu dalam ketidak-jujuran.

Sekali lagi, pendapat ulama atau dewan ulama, perlu diapresiasi secara proporsional. Jangan membabi-buta dalam menerimanya atau dalam menolaknya. Tidak ada yang bersifat mutlak, selain Kitabullah dan Sunnah Nabawiyyah.

MENCERMATI FATWA BIN BAZ

Menurut Syaikh Bin Baz rahimahullah, jumhur ulama membolehkan seorang laki-laki menikahi wanita dengan niat di hati untuk suatu saat nanti menceraikan wanita itu. Saat menikahi wanita, seorang laki-laki bertekad di hatinya, “Secara zhahir aku akan menikahi kamu. Tetapi nanti aku akan menceraikan kamu.” Niat seperti ini dianggap sebagai urusan pribadi laki-laki itu dengan Allah Ta’ala. Hanya Allah yang bisa menghukumi niat tersebut. Sedangkan secara Syar’i, kaum Muslimin tidak mengetahui apa yang ada di hati laki-laki itu. Kita hanya menghukumi perkara yang tampak saja, sedangkan urusan batin diserahkan kepada Allah.

Secara Syar’i memang boleh menikah dengan menyimpan niat di hati untuk menceraikan wanita yang dinikahinya. Sebab siapapun tidak tahu niat seseorang di hatinya. Syariat Islam hanya menjangkau hal-hal yang zhahir saja, tidak sampai menyelidiki ke sudut-sudut hati manusia yang terdalam.

Tetapi kalau ‘pernikahan dengan niat menceraikan’ itu sudah berulang-ulang terjadi, dilakukan oleh banyak orang, bahkan sudah menjadi tradisi, bahkan dilakukan setiap saat liburan di kawasan Puncak misalnya, maka urusannya menjadi lain. Dalam kaidah fiqih disebutkan, “Al ‘addah muhakkamah” (adat itu bisa menjadi dasar hukum). Menurut kaidah ini, sesuatu yang semula tidak boleh, bisa menjadi boleh ketika sudah menjadi kebiasaan. Sebaliknya, sesuatu yang semula boleh karena terjadi secara insidental, ia bisa menjadi haram ketika terus-menerus dilakukan, apalagi menjadi kebiasaan.

Contoh, dalam hukum jual-beli, dipersyaratkan setiap penjual dan pembeli sama-sama sudah dewasa. Tetapi kebiasaan di masyarakat kita, anak SD membelanjakan uang jajan mereka secara mandiri. Jual-beli seperti itu akhirnya menjadi kebiasaan, dan tidak dilarang. Hanya saja, para penjual jajan diminta jujur dalam bertransaksi dan bertanggung-jawab dengan barang dagangannya.

Contoh sebaliknya, orangtua boleh memukul anaknya yang nakal dengan keras. Misalnya anak itu telah bersikap keterlaluan dalam kenakalannya, maka meluruskan dia dengan kekuatan adalah boleh. Namun ketika orangtua menjadikan anak itu sebagai sasaran kekerasan secara terus-menerus, berulang-ulang, bahkan menjadi kebiasaan. Sikap demikian bukan halal lagi, tetapi suatu kezhaliman yang nyata dan telah keluar dari koridor Tarbiyah Islami. Pemukukan kepada anak diperbolehkan, selama terjadi secara insidental dengan niat meluruskan perilaku yang buruk. Tetapi ketika pemukulan itu menjadi kebiasaan dan hobi, haram hukumnya.

Dalam kasus ‘nikah dengan niat menceraikan’ di atas, jelas hukumnya HARAM. Mengapa? Karena ia telah menjadi kebiasaan yang terus-menerus diulang. Jika perbuatan seperti itu terjadi insidental, sekali-kali saja, atau bersifat spesifik, mungkin saja Syariat Islam bisa menerimanya. Tetapi kalau sudah menjadi kebiasaan, dilakukan terus-menerus, haram hukumnya. Kalau melihat konteks masalahnya, kebiasaan liburan di negeri orang, lalu kawin kontrak dengan wanita lokal selama masa liburan itu, jelas tidak ada ruang toleransi di dalamnya.

Kawin kontrak atau yang dilembutkan dengan ungkapan ‘menikah dengan niat menceraikan’, hal itu sama saja seperti nikah mut’ah di kalangan Syi’ah. Tidak ada perbedaan esensial di dalamnya. Bahkan kawin kontrak seperti itu bisa disamakan dengan: bisnis pemuasan birahi laki-laki dengan dalil Syariat. Sebab di dalamnya, Syariat pernikahan tidak ditujukan untuk membangun rumah-tangga, tetapi sekedar untuk “menampung sperma” laki-laki. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

SEMANGAT PERNIKAHAN ISLAMI

Kalau Anda membaca aturan-aturan Islam tentang pernikahan, dapat dipastikan bahwa SELURUH SISI ATURAN ITU ISINYA HANYA KEBAIKAN BELAKA. Bahkan Anda tidak akan menjumpai aturan dalam agama manapun, bahkan dalam konsep hukum apapun yang dikenal oleh manusia sepanjang sejarahnya, yang begitu luhur mengatur hukum-hukum pernikahan dan rumah-tangga, seperti yang dimiliki Islam. Disini akan kita sebutkan beberapa bukti keagungan Islam dalam mengatur urusan pernikahan dan rumah-tangga:

Dalam Al Qur’an: “Bagaimana kalian akan mengambilnya (pemberian yang telah diberikan kepada isteri), padahal sebagian kalian telah bercampur dengan sebagian lain (isteri kalian), dan isteri kalian telah mengambil perjanjian yang teguh dari kalian.” (An Nisaa’: 21).

Perjanjian yang teguh (mitsaqan ghalizha) adalah akad nikah ketika seorang laki-laki menikahi wanita di hadapan walinya. Dan istilah yang sama (mitsaqan ghalizha) digunakan Al Qur’an untuk menyebut perjanjian Kenabian antara Allah dengan para Nabi (Surat Al Ahzab ayat 7). Jadi, akad nikah untuk menghalalkan kemaluan wanita dan menghalalkan kehidupan bersama dengannya, bukanlah urusan sembarangan. Ia adalah perjanjian yang kuat.

Kemudian perhatikan ayat berikut ini:

Jika kalian menceraikan isteri-isteri kalian, lalu mereka telah sampai di akhir iddahnya (masa menunggu setelah talak dijatuhkan), maka rujukilah mereka secara makruf, atau ceraikan mereka (secara penuh) dengan makruf pula. Janganlah kalian rujuki mereka untuk memberi madharat kepada mereka, sehingga kalian berbuat melampaui batas. Maka siapa yang melakukan perbuatan seperti itu, sejatinya dia hanya menzhalimi dirinya sendiri. Dan janganlah kalian jadikan ayat-ayat Allah (hukum-Nya) sebagai bahan permainan. Dan ingatlah akan nikmat Allah yang telah diberikan kepada kalian, dan (nikmat) yang diturunkan Allah kepada kalian berupa Al Kitab dan Al Hikmah, yang dengannya Dia memberi kalian pelajaran. Takutlah kalian kepada Allah, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al Baqarah: 231).

Ayat ini memberi beberapa pelajaran, antara lain: (1) Kewajiban bersikap makruf kepada isteri, baik ketika hendak rujuk kepadanya atau hendak menceraikannya; (2) Larangan rujuk kepada isteri dengan niatan untuk menyusahkan dirinya; (3) Peringatan keras agar para suami tidak berbuat zhalim kepada isterinya, sebab hal itu pada hakikatnya hanya akan menzhalimi diri mereka sendiri; (4) Peringatan keras agar para suami tidak mempermainkan ayat-ayat Allah dengan berbuat kecurangan dalam urusan rumah-tangga; (5) Allah mengingatkan agar kaum Muslimin bersyukur dengan ajaran-ajaran Kitabullah dan Sunnah yang sangat luhur mengatur urusan rumah-tangga. [Seperti sudah dikatakan sebelumnya, tidak ada ajaran apapun yang sangat adil dan luhur dalam mengatur urusan rumah-tangga, selain Islam]; (6) Kembali Allah mengingatkan agar para suami takut kepada-Nya, agar tidak menzhalimi hak-hak isterinya.

Ajaran Islam tentang kaum wanita sangatlah banyak dan terperinci. Surat Al Baqarah, Ali Imran, An Nisaa’, Al Maa’idah, An Nuur, Al Ahzab, Al Mujaadilah, At Thalaq, dan lain-lain. Surat Ar Ruum ayat 21 terkenal sebagai ayat pernikahan; Surat An Nuur terkenal berbicara panjang-lebar tentang kehormatan wanita (Aisyah Ra); Al Ahzab berbicara tentang isteri-isteri Nabi, dan etika busana Muslimah; At Thalaq khusus berbicara tentang persoalan talak; Al Mujaadilah tentang pengaduan seorang wanita Shahabiyah yang didengar oleh Allah di atas Arasy.

Begitu besarnya perhatian Islam kepada kaum wanita, sampai Khalifah Umar bin Khattab Ra. suatu saat pernah berkata kepada Ibnu Abbas Ra., “Wallahi, inna kunna fil jahiliyah maa na’uddu lin nisaa’i amran, hatta anzalallahu maa anzala, wa qasama lahunna maa qasam.” [Demi Allah, dulu kami di jaman jahiliyyah tidak memandang kepada kaum wanita dalam satu urusan pun, sampai Allah menurunkan apa (ayat-ayat) yang Dia turunkan (tentang wanita), dan Dia bersumpah tentang mereka dengan apa yang telah disumpahkan].

Jika ingat semua ini, lalu kita melihat praktik “menikahi wanita dengan niat menceraikan”, apalagi melihat praktik “kawin kontrak”, tiba-tiba kita merasa mual. Waduh, bagaimana mengkompromikan semangat kezhaliman dalam pernikahan seperti itu dengan aturan-aturan Islam yang sangat luhur saat berbicara tentang pernikahan dan rumah-tangga?

Tidak berlebihan jika dalam sebuah hadits disebutkan, “Sesempurn-sempurna keimanan orang beriman ialah yang paling baik akhlaknys. Dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada wanita-wanitanya.” (HR. Imam Tirmidzi).

(Bersambung ke bagian II).

Iklan

6 Responses to Fatwa “Nikah dengan Niat Cerai” (1)

  1. bayu200687 berkata:

    sedihnya, sebagaian manusia yang disusupi rasa dengki, lisan mereka dengan semena2 mencaci syaikh bin baaz karena fatwa beliau tsb dan mengatakan bahwa syaikh bin baaz membolehkan nikah mut’ah…

  2. abahguru berkata:

    Kita cinta dan menghormati Syaikh bin Baz Rahimahullah ta’ala. Tapi memang fatwa ini menjadi sesuatu yang membahayakan karena bisa dipahami beragam. Semoga umat lebih banyak yang memahami sesuai yang semestinya.
    wallahu a’lam

  3. Insan berkata:

    Assalamualaykum.

    Bagi saya fatwa syaikh bin baz rahimahullahu ini sangat begitu kejam terhadap kaum wanita, sebab wanita hanya dijadikan objek sex semata.

    Dalam perspektif saya, seorang muslimah yang cerdas dan punya pandangan visioner untuk masa depan hidupnya, tidak akan pernah mau dinikahi hanya dalam waktu yang sementara, tetapi dia adalah seorang wanita yang mencari cinta sejati yang akan menjadi seorang gentlemen partner yang berdedikasi penuh dengan mengorbankan segala pikiran, waktu dan tenaganya untuk bahtera rumah tangganya.

    Nikah dgn niat cerai adalah kriminalitas terselubung terhadap wanita, yang tidak disadari oleh mayoritas umat Islam. Nikah niat cerai itu, menjual cinta hanya demi kepuasan nafsu belaka dan tidak ada orientasi ke arah dedikasi keabadian dan kesejatian serta menjaga keutuhan sebuah anugerah cinta.

    Lebih liberal lagi, saya sebut pria yang suka nikah dengan niat cerai adalah pria yang tidak gentlemen, live just for sex, dan tidak ada sama sekali usaha memproteksi kesejatian keutuhan cinta, bahkan saya berani katakan meraka adalah pria yang tidak ada sama sekali rasa apresiasi yang tinggi terhadap cinta yang merupakan anugerah yang paling esensial dari Tuhan.

    Orang non-muslim saja sangat begitu apresiatif terhadap perasaan cinta, sampai mereka begitu ekspresif, rela berkorban, dedikatif terhadap, keutuhan cinta sekalipun belum menikah, entah lewat lagu, syair, puisi, dll.

    Masih lebih baik kisah romantika Romeo and Ruliet bila dibandingkan seorang pria menikahi wanita dengan niat cerai. Sebab Romeo, seorang pria sejati yang berani mempertahankan keutuhan cintanya kepada Juliet, sekalipun pada akhirnya mereka berdua mati atas nama cinta, inilah bentuk apresiasi Romeo and Juliet terhadap cinta, sementara pria yang menikah niat cerai tidak ada nilai apresiasi terhadap perasaan cinta alias nol.

  4. abisyakir berkata:

    @ Insan.

    Menurut saya, Bin Baz berpendapat dalam tiga ruang:

    Pertama, secara fiqih memang boleh seseorang mau nikah dengan niat apa saja. Selama niat itu di hatinya, tidak ada yang tahu selain dia dan Allah saja. Inilah masalah niat yang disebut dalam hadits, kira-kira maknanya: “Kalau seseorang punya niat baik, dia diberi pahala 1; kalau niat baiknya diamalkan, dia dapat 10; kalau seeorang punya niat buruk, tidak dihitung dosa; kalau dia amalkan niat itu, dia dapat 1 dosa; kalau dia batalkan niat itu, dia dapat pahala 1.” Secara realistik, kita memang tidak tahu niat siapapun di hatinya waktu menikah.

    Kedua, jika fatwa itu dipakai untuk melegiimasi kebobrokan moral laki-laki Saudi yang senang memperdaya wanita-wanita Indonesia dalam praktik “kawin kontrak”, kemungkinan karena beliau dalam tekanan kuat Kerajaan atau kepentingan orang-orang tertentu yang membuatnya tidak memiliki pilihan lain.

    Ketiga, secara fitrah seiap manusia benci dengan praktik “kawin kontrak” itu. Buktinya, bagaimana kalau wanita yang dipermainkan dalam “kawin kontrak” adalah keluarga dia sendiri, misalnya ibu, kakak, adik, anak, bibi, keponakan, dll. Maukah mereka wanita-wanita “dikontraki” laki-laki lain.

    Begitu kurang lebih.

    AMW.

  5. Thalib berkata:

    Bener nggak sih Syaikh bin Baz memfatwakan seperti itu? Saya buka teks asli yang ditujukkan oleh eramuslim di http://www.ahlalhdeeth.com/vb/archive/index.php/t-37133.html, ternyata bukan situs resmi Komisi Fatwa yang dipimpin oleh beliau kok?

    TUlisan itu kan hanya tanya jawab antar pembaca seperti yang saya tulis di kolom ini?!! Coba ada ga data lain yang langsung dari beliau? Supaya gak jadi fitnah.

    Kalau sumbernya blm jelas dan valid, tolong lah jangan dulu memberikan analisa yang terlalu jauh, bahkan menghujat ulama besar sekaliber beliau.

    Saya bukannya mengajak taklid kpd seorang ulama yang tentu tdk maksum. cuma melihat track record beliau, keilmuan beliau, ketawadhuan beliau, rasanya kita terlalu cetek untuk berkomentar tak baik ttg beliau.

    Wassalam

  6. ipul berkata:

    benar, tapi yang jawab beliau (syaikh bin baz) sendiri kan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: