Frank Ribery dan Pemain Bola Profesional

Berdoa Menjelang Kick Off

Berdoa Menjelang Kick Off

Sesekali kita bicara tentang olah-raga. Yang menarik, bicara olah-raga paling populer di dunia, foot ball. Kali ini langsung saja menukik ke satu kasus aktual. Media-media olahraga Eropa sempat ramai memberitakan keinginan Frank Ribery, pemain bertalenta tinggi asal Perancis, bahwa dia akan pindah dari Bayern Munich. Baik manajemen Munich maupun Ribery sendiri sudah berkali-kali menepis isu tersebut, tetapi isu tetap menyebar. Maklum, banyak klub-klub besar Eropa sangat menginginkan menarik Ribery masuk tim mereka, seperti Real Madrid, Barcelona, bahkan “raja klub Inggris” Manchester United.

Baru-baru ini Ribery “menggertak” manajemen Bayern Munich. Dia sangat mengharapkan supaya klubnya bisa menjadi peraih gelar Bundesliga Jerman, setidaknya menjadi runner up-nya. Ribery ingin klubnya bisa bersaing menghadapi klub-klub papan atas lain di piala Champions. Kalau Bayern Munich masih tetap sepi prestasi, Ribery akan memilih pindah ke klub lain.

Di mata manajemen Bayern Munich, Frank Ribery memang istimewa. Dia adalah talenta muda yang dianggap kaya dengan pesona. Fisiknya kuat, tendangannya keras, umpannya akurat, sering memberikan assist bagi terciptanya gol. Dan satu lagi adalah kecepatan dan “tarian” Ribery saat membawa bola. Pemain satu ini terkenal sangat tangguh ketika membawa bola, pekerja keras di lapangan, dan bermental kuat.

Ribery memberi warna berbeda dalam tradisi sepak bola Munich atau sepak bola Jerman pada umumnya. Jerman selama ini dikenal unggul dari sisi kekuatan, tembakan keras, benturan fisik, dan sebagainya. Tetapi pemain Jerman sepi dari keindahan permainan bola, dengan “tarian” pemain-pemainnya saat membawa bola. Sejak era Rumanige di tahun 80-an, Jerman tidak lagi memiliki “seniman bola” yang meliuk-liuk luar biasa. Juergen Klinsman, dia semula seorang striker, tetapi bukan ahli men-dribble bola.

Hadirnya Ribery menjadi warna berbeda di kubu Bayern Munich. Sama seperti ungkapan yang pernah disampaikan untuk memuji Zenedine Zidan, “Kalau Zidan membawa bola, maka permainan pun menjadi menarik.” Begitu pula dengan Ribery, kalau dia membawa bola, permainan menjadi enak ditonton.

Bagi kita, satu catatan yang sangat menarik tentang Ribery, yaitu: KOMITMEN-nya kepada Islam. Ribery bukan Muslim biasa. Dia berani berdoa secara ekspressif di tengah lapangan, sebelum permainan bola dimulai. Hal itu mengingatkan kita kepada Muhammad Ali yang selalu ekspresif berdoa, ketika akan mulai bertinju. Kalau banyak pemain Eropa selalu menyilangkan tangan di dada membentuk salib, maka Ribery dengan khusuk berdoa sebagai seorang Muslim. Sikapnya itu banyak mendapat sorotan oleh media dan publik Jerman. Mereka kurang nyaman melihat sikap “fanatik” yang diperlihatkan Frank Ribery kepada agamanya.

Ribery dan Hamid Altintop (pemain dari Turki) pernah membuat geger manajemen Munich, ketika mereka menolak berpose di depan iklan sponsor sambil memegang minuman keras. Bayangkan, mereka menolak melakukan hal itu. akhirnya disepakati, mereka berdua tetap ikut dalam gambar, tetapi sambil memegang trofi Munich.

Kembali ke pernyataan Ribery yang menggertak akan hengkang dari Munich.

Tentu Anda akan merasa heran, “Lho, kok pemain yang menggertak manajemen? Kan biasanya di Indonesia, manajemen yang menggertak pemain? Ya, kalau klub kalah jangan salahkan manajemen, dong! Justru pemain yang harusnya malu, sebab telah membuat klub menjadi kalah.”

Mengapa Ribery malah menggertak manajemen Munich? Mengapa kalau klub tidak sukses, dia malah mengecam manajemen, bukan dirinya sendiri sebagai bagian dari klub? Mengapa Ribery begitu ingin bermain untuk meraih gelar juara di kompetisi piala Champions?

Nah, inilah sebenarnya yang saya tuju sejak semula. Saya ingin mengomentari beberapa pertanyaan di atas. Di Indonesia mungkin kurang lazim kita menyaksikan sikap pemain seperti Ribery. Tetapi dalam pentas klub dunia di Eropa, hal itu sering terjadi.

Perlu Anda ketahui, seorang pemain profesional memang boleh dan layak menggugat klubnya, kalau mereka tidak berprestasi. Maksudnya, pemain sudah maksimal berusaha, mengikuti arahan pelatih, mengikuti strategi yang di-plot sejak awal, dan mereka nurut saja apapun perlakuan klub. Nah, mereka tidak mau kalau pengorbanan itu sia-sia, dengan hasil akhir tanpa juara atau trofi.

Pemain bisa menekan klub. Dalam hal apa? Ya, mereka bisa meminta diberikan pelatih baru yang lebih tangguh, bagus, dan cerdas dalam merancang strategi. Mereka bisa menuntut agar klub membeli pemain-pemain baru yang lebih segar, handal dalam permainan, dan produktif membuat gol. Mereka juga bisa menuntut perbaikan fasilitas, program latihan yang bagus, serta kesejahteraan yang memuaskan. Jadi, kalau ada masalah dengan prestasi, klub bisa disalahkan karena dianggap gagal meramu strategi total.

Kalau di Indonesia, kenyataan seperti di atas masih terlalu jauh. Pihak manajemen klub di Indonesia bisa menjawab kritik pemainnya dengan nada ketus, “Lo sudah sukur ya kami rekrut jadi pemain, kami biayai, makan-minum semua ditanggung. Lo sudah kami gaji mahal. Masih sukur ya lo sudah kami beri macam-macam. Daripada lo nganggur gak jelas, kere, tidak pernah masuk TV. Awas lo mau ngomong macem-macem lagi ya, gue sikat lo.”

Lalu, mengapa Ribery ngotot ingin mendapat gelar juara Champions?

Ini masalah lain lagi. Perlu diketahui, kalau sebuah klub jadi juara, mereka bukan hanya mendapat trofi bergengsi, tetapi juga mendapat hadiah uang dalam jumlah besar. Lha, darimana uangnya? Ya, uang hasil penjualan tiket nonton bola, uang dari penjualan hak siar TV, iklan dari sponsor kompetisi, dari aneka rupa barang, aksesoris, merk, dan lain-lain. Besar sekali uang yang beredar disana. Nah, para pemain klub sangat mengincar gelar juara, sekaligus hadiah uang ini. Saat timnas Spanyol menjadi juara Eropa kemarin, mereka mendapat hadiah sangat besar dari panitia Piala Eropa. Hadiah itu menjadi impian para pemain profesional. Kalau Anda lihat betapa marahnya pemain-pemain itu kalau dirugikan oleh wasit, hal tersebut berkaitan dengan peluang mendapat juara yang bisa hilang akibat kesalahan wasit (atau dugaan kesalahan wasit).

Didier Drogba misalnya. Dia sangat pemarah dan emosional. Pemain dengan kelas dunia, tetapi mental “kelas RT”. Kalau dia marah, bukan hanya soal gaji sebagai pemain yang dia pikirkan. Malah gaji itu sudah beres, tidak perlu diributkan lagi. Tetapi dia marah kalau timnya gagal menjadi juara. Kalau gagal juara, otomatis gagal pula mendapat hadiah uang yang besar.

Inilah dunia, sepak bola profesional Eropa. Mereka memiliki sekian tingkat keahlian bermain bola, wawasan yang canggih tentang sistem kompetisi, manajer urusan bisnis, serta mentalitas sebagai pemain bayaran. Bahkan mereka memiliki manajer tersendiri yang mengurusi masalah promo, penampilan, potongan rambut, dll. Benar-benar profesional. Sulit kita bayangkan dengan situasi “serba seadanya” di Indonesia.

Ya, ini hanya selingan saja. Semoga ada manfaatnya. Minimal biar kita tahu betapa maju dan rumitnya dinamika pemain sepak-bola profesional di Eropa. Hati-hati Pak Ribery dalam bermain bola. Semoga Anda selalu istiqamah dalam Islam. Allahumma amin.

AMW.

Iklan

One Response to Frank Ribery dan Pemain Bola Profesional

  1. madzz berkata:

    sip…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: