Politisi Muslim Bobrok Moral

Indonesia hari ini benar-benar tidak memiliki satu pun partai yang berkarater Islami, semuanya oprtunistik, menghamba kekuasaan, dan miskin rasa malu. Sungguh sangat disayangkan, perhelatan politik yang sangat melelahkan, menguras dana, dan penuh resiko itu, ternyata hanya diarahkan untuk memenuhi hawa nafsu kekuasaan belaka. Banyak sekali sisi-sisi mengerikan dari perilaku elit politik Muslim akhir-akhir ini.

Ada partai yang semula ikut dalam koalisi golden triangle, sebagai barisan oposisi. Begitu suara jeblok dan partai penguasa menang, dia tanpa malu mendekat ke kekuasaan. Demi kekuasaan, mereka rela mengalami konflik di tubuh partainya sendiri. Pihak yang pro kekuasaan di tubuh partai itu tanpa tedeng aling-aling mengatakan, bahwa mendekat ke partai pemenang adalah pilihan paling rasional bagi partai itu.

Di lain kesempatan, partai lain dikenal Reformis. Malah sejarah Reformasi dikaitkan dengan keberadaan partai itu. Tetapi hanya gara-gara ditawari posisi politik tertentu, mereka pun mau, dan secara dramatik mengubah haluan politiknya. Ada juga partai tertentu yang “tidak pernah mikir” sama sekali. Baik partainya kalah, atau menang, selalu setia mendekatkan diri ke penguasa. Nanti kalau penguasa ganti, dia akan mendekat juga dengan alasan, “Ini sesuai petunjuk kyai khos.” Lho, kok kyai khos identik dengan kekuasaan, siapapun dirinya? Bagian mana khos-nya?

Di media-media, rasanya mual sekali mendengar komentar elit-elit partai Islam itu. Mereka benar-benar sangat murah menjual kehormatan Islam. Sebagian komentarnya, sebagai berikut:

[-] Seorang Menteri dari partai Islam ertentu, dia mengatakan, bahwa mendekat ke Demokrat adalah pilihan rasional bagi partainya.

[-] Seorang sesepuh partai basis Muslim, di Yogya dia mengatakan, bagaimanapun Demokrat adalah pemenang Pemilu, maka demi masa depan partai, mereka harus mendekat ke Demokrat. Begitu ngeyelnya, sampai dia membuat pertemuan liar di rumahnya sendiri, tanpa restu DPP. Dalam pertemuan itu, duduk paling depan, seorang politisi yang suka berjualan identitas “mantan tapol Orde Baru”.

[-] Seorang Ketua DPP partai Islam tertentu, di TV dia berkali-kali mengatakan, “Koalisi di Parlemen harus kuat, agar nanti terbentuk pemerintahan yang kuat, agar bisa melayani masyarakat.” Berulang-kali orang ini mengatakan “pemerintahan yang kuat”. Terus-terang dongkol sekali hati melihat pernyataan bapak itu. Masalahnya, kalau pemerintahan yang kuat benar-benar melayani rakyat, it’s okay. Kita sangat mendukung. Tapi masalahnya di Indonesia ini, pemerintahan yang kuat itu sering kali kuat juga korupsinya.

[-] Seorang Ketua DPP partai basis Muslim. Dengan tanpa malu, dia mengharapkan agar koalisi Golkar-Hanura bisa menjadi oposisi yang kuat di Parlemen nanti. Sementara saat yang sama, partai dia berkoalisi dengan partai pemerintah (SBY). Kok bisa-bisanya, dia mengharapkan orang lain jadi oposisi yang kuat, sementara dia menjadi teman koalisi partai penguasa? Pernyataan “Si Karding” ini benar-benar puncak kemunafikan elit politik Muslim. Dia ingin asyik-masyuk dengan partai penguasa, dan tidak mau diganggu partai lain. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

[-] Seorang elit partai basis Muslim. Dia mengatakan, biar saja nanti terbentuk pemerintahan yang kuat yang didukung oleh koalisi Parlemen yang kuat. Baginya, kekuatan oposisi itu tidak perlu, sebab selama ini toh sistem oposisi juga tidak jelas. Ya Allah, kalau memang begitu Dul, sudah saja tidak perlu ada Pemilu, tidak perlu mendirikan partai politik macam-macam. Sudah saja buat satu partai, yaitu partai pemerintah absolut. Tidak perlu ada kontrol, tidak perlu ada penyeimbang, biar nanti muncul lagi tirani seperti jaman Orde Baru dulu. Sangat, sangat mengerikan. Betapa bobrok moral elit politik seperti itu.

Ya, ini baru sebagian dari suara-suara mengerikan elit-elit politik Islam/Muslim. Mereka benar-benar rendah moral, rendah komitmen, dan menghamba kekuasaan. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Begitu hinanya para elit politik Islam, sampai keluar pernyataan dari Ahmad Mubarak. Kata dia, partai-partai Islam dijamin tidak akan keluar dari koalisi dengan Demokrat. Penolakan mereka ke figur Boediono hanyalah olah-raga politik saja. Lihat pernyataan Mubarak, “Partai Islam butuh butuh genit sedikit untuk dekati PD. Nggak apa-apalah, itu olah raga politik, bagi atlet politik itu hal biasa saja.” Sungguh, tidak ada penghinaan yang serendah itu dalam politik.  Dan dijamin elit-elit partai Islam tetap “cinta” ke Partai Demokrat, meskipun sudah dihina-hina. Yakinlah, elit partai Islam mau dihina lebih dari itu, asal tetap dapat kue kekuasaan.

Tidak pernah terbayangkan, betapa bobroknya kenyataan ini. Dulu pemimpin-pemimpin Muslim tidak mengenal sikap-sikap amoral politik seperti di atas. KH. Agus Salim, Mr. Kasman Singodimedjo, Ki Bagus Hadikoesoemo, M. Natsir, Syafruddin Prawiranegara, Burhanuddin Harahap, Prawoto Mangkoesasmito, KH. Isa Anshari, Prof. HM. Rasyidi, Buya Hamka, KH. AR. Fakhruddin, dll. Begitu pula dengan tokoh ulama, A. Hassan, Hasbi Asshiddiqy, Munawar Chalil, dan lainnya. Tidak ada sama sekali yang bersikap amoral (politik), menjual agama dengan harga murah, memutar-mutar lidah untuk menjilati kue kekuasaan, tidak ada, tidak ada.

Baru di jaman ini ketika ilmu telah runtuh, iman sudah hancur, manusia dipandu dengan selera birahi, makan enak, mobil mewah, rumah megah, rekening miliaran,  serta hobi senang-senang. Saat itulah citra Islam menjadi hancur oleh moral bobrok para politisi Muslim sendiri. Ya Allah ya Rabbi, jika semua ini dibiarkan, sungguh sebentar lagi bangsa ini akan diadzab dengan sesuatu yang lebih memilukan dari Tsunami Aceh kemarin.

Dalam Al Qur’an:

Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.”  (Surat Al-An’am (6) : 44).


MENGAPA BISA TERJADI?

Kita masih ingat betapa beraninya Buya Natsir rahimahullah dan kawan-kawan ketika menentang sikap otoriter Soeharto melalui Petisi 50. Padahal waktu itu, Soeharto sedang jaya-jayanya. Siapa berani melawan Soeharto ketika itu? Itulah masa-masa keteladanan para tokoh Muslim Indonesia. Saat ini sudah tidak ada lagi yang serupa itu. Semua tinggal mimpi belaka. (Ampuni aku ya Rabbi jika aku berlebih-lebihan di hadapan-Mu, ampuni aku ya Ghafuur).

Lalu sekarang, mana ada elit politik Muslim yang bisa dibanggakan? Keberanian tidak, ilmu tidak, kreatifitas  jenius tidak, pembelaan publik tidak, solidaritas sosial tidak, dan sebagainya. Kami ini anak-anak muda merasa sangat sedih. Dengan ilmu seadanya, dengan keberanian pas-pasan, akhirnya harus banyak bicara. Seharusnya, elit-elit Muslim itu yang mengambil amanah ini, sebab mereka lebih mapan dari kami dari sisi ilmu, wawasan, gelar akademik, akses media, kekayaan, kematangan keluarga, relasi, dan sebagainya.

Tapi memang, semua ini karena kesalahan kita juga. Kaum Muslimin tidak memiliki sistem yang baik untuk melahirkan pemimpin. Pemimpin di mata kita sekarang kriterianya sangat sederhana yaitu: TERKENAL atau POPULER. Siapapun yang populer dan terkenal, dia bisa dielu-elukan sebagai pemimpin Muslim. Media beramai-ramai mengagung-agungkannya. Akhirnya, masyarakat mendaulat dia sebagai pemimpin kharismatik.

Dengan cara begitu, mungkinkah akan lahir pemimpin yang mumpuni? Mustahil. Unsur popularitas tidak pernah dihitung dalam kepemimpinan Islam. Kata sebagian ulama, kriteria pemimpin itu: Qawiyun ‘amin (kuat dan terpercaya), atau hafizhun ‘alim (pandai menjaga dan berpengetahuan luas), atau bastha-tan fil ilmi wal jism (kekuatan ilmu dan fisik). [Catatan: kriteria terakhir merupakan penggabungan dari dua kriteria sebelumnya].

Ke depan saya menyarankan, mari kita perbaiki cara kita menokohkan seseorang sebagai pemimpin. Cara yang penuh basa-basi, ewuh pakewuh, dan menonjolkan aspek popularitas, harus disingkirkan sejauh-jauhnya. Cara seperti itu akan “membunuh Ummat” kita sendiri.

Wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.


Iklan

4 Responses to Politisi Muslim Bobrok Moral

  1. ~noe~ berkata:

    Karakter Islam itu kan untuk jualan saat pemilu untuk menarik simpati umat Islam. Kalo pemilu sudah lewat giliran mereka menjual diri ke kekuasaan. Mereka merasa punya hak atas suara rakyat untuk kepentingan partai, bukan kepentingan umat.

  2. íçâŀβгөẅή™ berkata:

    benar.. saya juga miris melihat realitas saat ini.


    hari ini ada salah satu Partai berbasis Islam (yg dulu pernah saya jagokan) meminta jatah Menteri harus sesuai dengan kursi di DPR (belum apa-apa sudah meminta-minta (jatah) kekuasaan).
    MasyaAllah.

  3. resepbisnis berkata:

    Buka-buka file lama, untuk direnungkan kembali. maa syaa Allah.

  4. abisyakir berkata:

    @ Resepbisnis

    Terimakasih atas apresiasinya. Semoga bermanfaat. Amin

    Admin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: