Kaidah Siyasah Praktis

Mungkin, kalau Anda sering berkunjung ke blog ini, Anda akan menemukan suatu corak sikap politik yang berubah-ubah. Misalnya, disini saya sering mengkritik sistem demokrasi, mengkritik fatwa MUI tentang golput, termasuk tidak merasa ada sosok partai Islam yang kuat dalam Pemilu. Namun kemudian, sikap tersebut seperti berubah 180 % ketika saya banyak berkomentar tentang hasil-hasil Pemilu April 2009, mengomentari peta politik, melihat komposisi oposisi, mendorong aliansi tertentu, dan sebagainya.

Mungkin orang akan mengatakan, “Katanya kemarin menentang fatwa MUI yang mengharamkan golput, tetapi ternyata banyak komentar tentang hasil-hasil Pemilu. Gimana sih ini. Tidak konsisten!”

Nah, cara menjelaskannya sebagai berikut:

[o] Ketika sebelum Pemilu April 2009, sikap kita adalah berhati-hati dalam memberikan pilihan, agar nanti tidak dituntut oleh Allah di Akhirat. Selama tidak ada wakil Islam yang komitmen dengan misi perjuangan Islam, tidak mengapa kita tidak memilih.

[o] Namun setelah keluar hasil Pemilu 2009, mau tidak mau, suka atau tidak, hasil ini PASTI AKAN BERPENGARUH BAGI KEHIDUPAN UMMAT. Biarpun seseorang semula berdiri di atas sikap golput 1000.000 %, maka sikap itu tidak akan mengubah kenyataan yang ada saat ini. Yang berpengaruh saat ini adalah hasil-hasil Pemilu. Maka kita harus bersikap bagaimanapun caranya untuk mempengaruhi hasil-hasil Pemilu itu, agar membuka seluas-luasnya maslahat bagi kaum Muslimin dan menjauhkan madharat baginya.

[o] Andai nanti terpilih Presiden-Wapres, serta sistem Pemerintahan yang sangat tidak kita sukai dengan berbagai pertimbangan tertentu, tetap saja kita harus berusaha mempengaruhi hasil tersebut. Tujuannya, untuk memperbesar pintu maslahat bagi Ummat, dan memperkecil pintu madharat bagi kehidupan mereka.

[o] Bahkan andai nanti terpilih pemimpin kafir yang paling zhalim di dunia sekalipun -misalnya demikian-, maka kita tetap harus mempengaruhinya agar terbuka pintu-pintu maslahat bagi Ummat dan mereka terjauhkan dari pintu madharat. Demikian seterusnya, sampai semua pihak memahami bahwa seorang politisi Muslim hanyalah mengabdi kepada Allah dalam rangka membangun maslahat dan menjauhkan madharat.

Tentu saja, nilai maslahat yang tercapai dan kadar madharat yang terhindarkan, tergantung kondisi masing-masing. Semakin shalih dan adil seorang pemimpin, semakin besar peluang maslahatnya dan semakin kecil resiko madharatnya. Sebaliknya, semakin rusak akidah dan zhalim seorang pemimpin, semakin besar resiko madharat dan semakin kecil peluang maslahatnya. Namun seorang politisi Muslim tidak boleh berhenti berjuang, apapun kondisi yang mengitari di sekelingnya.

Dalam kaidah fiqih dikatakan: “Ad dinu mabniyun ‘ala masholihi fi jalbiha wa dar’ii lil qaba’iih” (agama itu ditetapkan  untuk mencapai maslahat dan menolak kerusakan).

Inilah pegangan utama para politisi Muslim. Adapun bagaimana kemudian mereka berijtihad terhadap berbagai kondisi, dan bagaimana caranya memainkan instrumen untuk mempengaruhi takaran maslahat dan madharat itu, sepenuhnya dipulangkan ke pengetahuan dan keahlian siyasah mereka.

Semoga Allah Ta’ala menolong para politisi Muslim untuk menempuh apa yang diridhai-Nya. Allahumma amin. Wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.

Iklan

One Response to Kaidah Siyasah Praktis

  1. abifaza berkata:

    telunjuk kita seringkali menyalahkan saudara yang lain. Tanpa ada tabayyun ataupun informasi yang berimbang dari sumber utama…Nah apa yg sudah kita lakukan untuk perbaikan ummat..Bravo khilafah…buang sumpah serapah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: