Kesalahan Langkah SBY

Sejak menjadi Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dikenal sebagai sosok yang peragu, kurang bertindak cepat, dan terlalu banyak rapat. Sudah terlalu banyak orang mengatakan, kalau sosok SBY itu peragu. Paling tidak, ketika Jusuf Kalla mencalonkan diri sebagai Capres, slogan yang dia angkat: “Lebih cepat lebih baik.” Slogan ini memberi kita informasi, bahwa JK kecewa dengan sosok SBY yang dianggap lamban dalam mengambil keputusan.

Selain itu, SBY juga dikenal “melankolik”. Buktinya, ketika mendapat kritik dari lawan-lawan politiknya, dia selalu buru-buru menjawab kritik itu dengan berbagai pembelaan diri. Masih ingat ketika Mega bicara keras tentang BLT dan harga diri bangsa? SBY pun marah-marah dengan balik mengecam pembuat pernyataan itu (Mega). Termasuk ketika muncul slogan “Lebih cepat lebih baik”, SBY lagi-lagi berkomentar. “Jangan merasa lebih cepat…jangan takabbur.” Ya, begitulah.

Kalau jujur mau mengakui, pasangan SBY-JK waktu itu sebenarnya termasuk pasangan yang cukup menarik. SBY mewakili karakter pemimpin yang terlalu sensitif dan banyak pertimbangan; sedangkan JK termasuk pemimpin yang simpel, gerak cepat, tidak basa-basi. Disini, kelemahan SBY dengan baik bisa ditutupi oleh JK. Bahkan JK sendiri telah berkarya banyak dalam Pemerintahan SBY, meskipun hal itu tidak diakui oleh pendukung-pendukung Demokrat.

SBY sangat diuntungkan dengan keberadaan JK yang pengalaman di bisnis, bisa bergerak cepat, dan memenuhi jadwal kerja sebagaimana yang diminta. Namun sayang, penerimaan SBY lain. Dia merasa, sosok seperti JK itu susah diatur, mau berjalan sendiri, kurang menghargai posisi Presiden, dan sebagainya. Jadi SBY lebih menggunakan perasaan untuk menimbang karakter wakilnya (JK).

Pasca Pemilu April 2009, DPP Golkar berkali-kali menjalin kontak komunikasi dengan SBY (DPP Demokrat). Mereka mengajukan JK lagi sebagai Cawapres untuk mendampingi SBY dalam Pilpres 2009. Secara umum, Demokrat senang dengan tawaran Golkar. Tetapi mereka meminta tokoh lain, selain JK. Untuk memastikan langkahnya, SBY sampai membuat “5 kriteria calon Wapres” yang salah satu butirnya, berbunyi: “Bukan ketua umum sebuah partai politik.” Dengan ketentuan ini jelas JK tidak diinginkan lagi oleh SBY. Mungkin hati SBY sudah terlalu kecewa dengan langkah-langkah JK selama ini.

Ketika SBY akhirnya memilih Boediono sebagai Cawapres, maka faktor perasaan itu berperan sangat kuat. SBY mencari orang yang paling dekat sifatnya dengan dirinya, dia harus puas terhadap sikap orang itu, dan tidak boleh lagi ada Wapres yang mbalelo (speerti JK).  Kalau melihat sifat Boediono, rasanya ia memang sangat tepat untuk mewadahi karakter SBY sendiri. Mereka sama-sama kalem, santun, bekerja diam-diam, “tidak mencari muka”, dan sebagainya.

Justru disini kelemahan metode yang diterapkan SBY. SBY lebih mendahulukan perasaannya untuk memilih Cawapres. Padahal seharusnya, SBY mencari pendamping yang semodel JK. Mengapa? Sebab sosok seperti itu akan mampu mengimbangi atau menutupi kelemahan SBY sendiri.

Ibarat mengendarai kendaraan. Satu kaki terus menginjak rem, satu kaki terus menginjak gas. Kalau dua kaki menginjak gas, kendaraan bisa celaka; tetapi kalau dua kaki menginjak rem semua, kendaraan akan jalan di tempat, tidak bergerak sama sekali.

Nah, inilah kesalahan langkah SBY. Saya setuju dengan sebuah analisis di MetroTV, bahwa dipilihnya Boediono oleh SBY bisa menjadi pertanda kebaikan. Tetapi juga bisa sebaliknya, yaitu bisa menamatkan karier politik SBY sendiri. Bagi saya pribadi, persoalan bangsa dan negara, jauh lebih penting dari sekedar masalah “perasaan”.

Tidak mengapa perasaan “terluka”, asal rakyat hidup gembira. Jangan sampai, perasaan “nomer satu”, sementara rakyat setiap hari hidup bergelimang derita.

And then what…

AMW.

Iklan

3 Responses to Kesalahan Langkah SBY

  1. Marlin berkata:

    setuju…

  2. Ana Jiddan berkata:

    analisis yg bagus…

  3. Elang berkata:

    Anailisis yang bagus, SBY terlalu banyak menggunakan perasaan di bandingkan logika, dan kerja, terlalu banyak pertimbangan sehingga Indonesia menjadi banyak kehilangan,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: