Icon Amerika di SBY

Banyak orang marah kalau SBY dikaitkan dengan Amerika. Mereka tidak suka sosok idolanya dikaitkan dengan negara adidaya yang sekarang sedang menderita krisis ekonomi luar biasa itu. Tapi masalahnya, orang berkesimpulan SBY pro Amerika justru karena melihat cara-cara SBY sendiri, selama ini.

Bukan kita yang memposisikan dia sebagai tokoh pro Amerika, tetapi sikap-sikap SBY sendiri yang menunjukkan hal itu. Anda tidak percaya? Berikut ini sebagian bukti-bukti yang bisa disebutkan:

[-] Saat terjadi dialog antara SBY dengan Kadin, ditayangkan TVOne 22 Mei 2009. SBY adalah satu-satunya Capres yang paling banyak memakai bahasa Inggris. Padahal dia tahu, kalau siaran itu disiarkan ke seluruh Indonesia oleh TVOne. Megawati sendiri beberapa kali menyebut istilah bahasa Inggris, tetapi selektif dan tepat momentum.

[-] Ketika SBY diberi kesempatan menyampaikan kalimat penutup, dia menyebutkan sebuah slogan politiknya: “Development for all.” Bagi orang yang kritis, slogan ini bisa ditelusuri sedalam-dalamnya. Tetapi anggaplah itu tidak penting, namun tetap saja dia tampak begitu silau dengan istilah-istilah Inggris. Masalahnya, dia itu seorang Presiden RI yang seharusnya member contoh yang baik bagi rakyatnya.

[-] Dalam deklarasi pencalonan pasangan SBY-Boediono sebagai Capres dan Cawapres di Sabuga, konsep acaranya menjiplak gaya kampanye Barack Obama. Sampai kalimat-kalimat di baliho besar di latar panggung, memakai istilah yang dipakai Obama. Bahkan sampai pin, kaos, aksesoris yang disebar disana juga “Obama banget”. Hal ini dikatakan oleh Tina Talisa dari TVOne yang pernah meliput kampanye Obama.

[-] Dalam materi iklan SBY, dia dibangga-banggakan sebagai satu dari 100 tokoh berpengaruh di dunia, versi majalah Times. Nah, majalah Times itu darimana? Ya, semua orang tahu. Ia adalah media prestisius Amerika.

[-] Dalam sidang ADB (Bank Pembangunan Asia) beberapa waktu lalu di Bali, Pemerintah SBY diwakili Sri Mulyani, selaku Menteri Keuangan. Keputusannya, Indonesia tetap mendukung ADB, dan menambah kesertaan modal (saham) di bank itu. Siapa ADB? Ya, tahulah, dia kan konco-konconya IMF, World Bank, CGI, dan sebagainya.

[-] SBY termasuk pemimpin nasional yang tidak malu-malu mengaku terinspirasi oleh barrack Obama di Amerika. Di berbagai kesempatan, terutama bulan-bulan menjelang Pemilu presiden di Amerika, SBY begitu peduli dengan Barack Obama.

[-] Tidak lama setelah menang Pemilu di Amerika, Dino Pati Jalal mengklaim bahwa SBY baru saja melakukan sambungan telepon langsung dengan Obama, ketika presiden Amerika itu sedang transit di Singapura. Konon, dalam pembicaraan itu Obama bertanya soal Menteng dan makanan-makanan khas Indonesia tertentu.

[-] SBY pernah berkunjung ke George Bush di Amerika, lalu mengundang Bush datang ke Indonesia. Di Indonesia, Bush disambut istimewa di Istana Bogor. Tidak kurang wilayah Bogor waktu itu disterilkan oleh gabungan aparat Amerika-Indonesia.

[-] Dalam kunjungan ke Amerika, SBY mampir ke kantor Microsoft Inc. Dia bertemu Bill Gates dan mengundangnya dating ke Indonesia. Benar saja, kemudian Gates datang ke Indonesia, member kuliah visi teknologi di depan SBY, para pengusaha, eksekutif, intelektual, dan lainnya. Masak memperlakukan pengusaha asing seperti memperlakukan tamu kehormatan Negara? Harusnya, SBY mengajak komunitas Linux untuk menyambut Bill Gates di Jakarta.

[-] Selama masa Pemerintahannya, SBY tidak tampak ketegasannya kepada perusahaan-perusahaan Amerika seperti Freeport, Exxon, Chevron, Newmont, Caltex, dan lainnya. Malah, blok Cepu dengan cadangan minyak yang besar diamanatkan ke Chevron.

[-] Dibandingkan era Megawati, SBY adalah presiden yang giat mensukseskan agenda war against terrorism versi Mr. Bush. Meskipun di era Mega banyak terjadi insiden bom, tetapi sikap keras negara ke aktivis-aktivis Islam sangat tampak di era SBY. Salah satu indikasi, penyebaran foto Dr. Azahari dan Nordin M. Top dimana-mana. Itu kan sama saja dengan mengeruhkan suasana tentram masyarakat.

[-] Nama Partai Demokrat sendiri mengambil ide dari partai di Amerika. Dalam sejarah Indonesia, tidak ada cikal-bakal nama partai seperti itu. Wajar pula jika kemudian SBY merasa dekat dengan Obama, sebab sama-sama Partai Demokrat.

[-] Pihak Amerika sama sekali tidak mengkritik Pemerintahan SBY terkait pelaksanaan Pemilu Legistlatif 2009 yang kacau-balau. Ini sangat aneh, sebab biasanya Amerika sangat peduli dengan masalah internal bangsa lain. Contoh tegas, ialah kecaman keras Pemerintah Amerika pasca Insiden Monas 1 Juni 2008. SBY pun tidak kalah kerasnya menyikapi insiden Monas itu. (Bandingkan sikap SBY saat mengecam kekerasan di Monas itu, dengan sikap dia saat disindir dengan ungkapan, “Lebih cepat lebih baik.” SBY langsung bereaksi, dengan menyebut orang lain, “Jangan takabbur!” Saat mengecam Ummat Islam tidak kira-kira dalam Insiden Monas, begitu disindir sedikit tersinggung).

Akhirnya, selamat mendukung langkah PKS yang “pasang badan” membela garis politik SBY. Semoga, kalau ada dosa dan mungkarnya, para PKS-ers bisa menanggung bersama, gotong-royong, sampai Hari Kiamat. (Iya kalau mereka masih peduli dengan Hari Kiamat? Jangan-jangan pengadilan di Hari Kiamat nanti, akan dihadapi dengan maneuver, koalisi, atau kontrak politik?).

Wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.

Iklan

31 Responses to Icon Amerika di SBY

  1. jafeto berkata:

    kamu aja kali yang ga suka sby…

  2. abisyakir berkata:

    @ jafeto.

    Nih, orang kaya tidak pakai akal ya. Tulisan itu kan sudah berupa fakta-fakta, tidak ada yang mengingkari. Wong sudah jadi kenyataan kok. Kalau sulit, coba cari di media-media. Orang yang suka memperhatikan media, pasti tidak aneh.

    Jujur saja, saya bukan tidak suka ke SBY-nya sebagai manusia. Tapi tidak suka dengan garis politiknya yang pro Amerika itu. Katanya nasionalis, kok malah pro asing? Aneh.

    Kalau bangsa anak-anak “Indonesian idol” jelas hobi banget ke SBY, wong satu selera.

    Waskito.

  3. Awam berkata:

    Wah… Mas Joko… Jangan tutup juga donk fakta kebaikan SBY… Artinya antum jangan kayak SALAFY YAMANI yang mencari-cari celah “negatif” yang sebenarnya masih multi interpretasi. Coba liat aja yang baik-baiknya yang nggak dilakukan presiden sebelumnya sejak jaman Soekarno.
    1. (pemerintahan) SBY berani membebaskan Kiyai yang nggak bersalahseperti Ustadz Abu Bakar Ba’asyir… Padahal Amerika dan sekutunya marah besar.
    2. SBY berani menolak Grasi Tibo CS meski Paus Botak memohonnya.
    3. Jaman SBY perjudian diberantas, padahal sejak awal merdeka Indonesia belum pernah melakukannya.
    4. Korupsi diberantas (ya, walau belum tuntas seluruhnya karena memang terlanjur banyak sejak rezim sebelumnya).
    5. Rakyat miskin disantuni.
    6. dlllllllll
    Mohon Maaf kalo saya salah

  4. abisyakir berkata:

    @ Awam.

    Syukran Akhi, atas komentar Antum. Ya, itu masukan yang perlu dipikirkan.

    Tetapi begini lho Akhi, coba Antum pikir baik-baik ya: Selama SBY memimpin 2004-2009, anggaran APBN yang dianggarkan sekitar 1000 triliun. (Coba pikirkan, kalau 1000 triliun itu dibelikan kerupuk, kira-kira dapat seberapa banyak? Maklum, kerupuk masih termasuk “lauk bergizi” di Indonesia).

    Dari anggaran APBN 1000 triliun itu, masak sih dia tidak berbuat baik sama sekali? Masak sih, hasil kepemimpinan dia buruk semua, tidak ada baiknya sama sekali? Wah, kacau dong kalau tidak ada baiknya sama sekali. Kalau Antum mau kritis, Fir’aun saja ada baiknya. Tidak percaya? Dia itu membesarkan Musa dalam pengasuhan istana sejak bayi, lalu menjadi orang dewasa yang kuat. Nah, apa itu bukan jasa Fir’aun namanya?

    Kalau melihat pemimpin itu jangan dengan kaidah “dia berbuat baik juga”. Jangan begitu, tetapi pikirkan: Lebih banyak mana hasil baiknya dengan buruknya? Kalau lebih besar buruknya, berarti dia adalah pemimpin yang berdosa, dan gagal.

    Menurut hemat saya, SBY ini jauh lebih besar madharatnya daripada maslahatnya. Dan akan lebih besar lagi madharatnya kalau dia berkuasa untuk kedua kalinya. Sudah cukup 5 tahun kemarin dalam kepemimpinan dia yang kata pengamat “dimulai dengan Tsunami Kubra di Aceh dan diakhiri dengan Tsunami Sughra di Situ Gintung”.

    Yakin deh, kalau percaya dengan pengamatan saya, SBY ini bukan pemimpin yang baik. Beberapa waktu lalu dia didukung oleh sekitar 30 juta warga komunitas China Guandong agar jadi presiden RI lagi. Lho, apa urusannya komunitas China mendukung dia? Terus, dalam pertemuan ADB di Bali, SBY melalui menteri keuangan setuju untuk terus mendukung ADB. Juga perlu diingat, kenaikan BBM 2 kali November 2005 dan Mei 2007, itu menghempaskan sektor riil di Indonesia, dan kita kembali ke ekonomi “serba mahal” seperti saat ini.

    Kalau sisi baiknya, pasti ada. Masak jadi presiden, tidak ada baiknya sama sekali. Aneh.

    AMW.

  5. punx goes riot!!! berkata:

    blog yang sangat bagus, sudah lama saya tahu tentang hal ini. meski sering saya menyadarkan teman2 saya akan bahayanya orang ini tapi tetap mereka tidak terpengaruh, hanya karena image semata yg trlhat sllu baik d’media. itu memang salah satu siasat politik, maka dari itu jgn sampai terpedaya hanya karena tampilan semata.
    bukan hanya neoliberalis tapi dlm bbrapa buku saya juga baca orang ini (red: sby) jga terkait dlm kasus2 besar sprti tragedi 11 mei. ALLAHUALLAM.
    semoga ALLAH swt membuka jalan terang menuju kebenaran.

  6. punx goes riot!!! berkata:

    benar bung saya setuju. masih ingat slogan kampanye tim partai demokrat yang berbunyi bbm turun 3kali???
    secara logoka turunx bensin sama dengan naikx. itu justru tdk berpengaruh sama sekali, malah justru tindakan bodoh. mengapa???
    karena biarpun harga bbm turun harga2 lain ttp saja tak turun. tapi kita lihat nnti kalau sby naik tahta lagi psti harga bbm naik lagi dan psti harga2 lain akan ikut naik dengan dalih bbm kita lbih murah dari negara lain atau alasan lain.

    msalah kkn? itu hanya sebagai kedok saja bung. jgn terperangkap image saja. apakah pemerintaham sby berani menangkap suharto?
    jawabannya tidak!!!
    padahal dy lah bapak korupsi indonesia
    yg membebani 7triliyun lbih rupiah kepada kita semua.
    sampai akhirnya wafat
    kklo iya memang benar2 berniat
    kenapa tdk dri sbelum suharto wafat? diproses?
    bkan kah dgn alasan sakit pun ttp bisa dproses jika saja berani tegas?

  7. AbdurRahman berkata:

    Salafy (bukan Yamani/Haraki) menjawab:
    Memang mudah menjadi Mudda’i as-Salafiyah (mengaku-ngaku bermanhaj Ahlus Sunnah), tetapi sulit membuktikannya.
    Seorang Ulama Ahlus Sunnah: Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan tentang manhaj Ahlus Sunnah dalam menyikapi Pemimpin Muslim, inilah ringkasnya:
    Pertama: Mengakui kepemimpinan mereka
    Kedua: Menyebarkan kebaikan-kebaikannya (di poin ini juga Beliau mencela manhaj yang menyimpang, yaitu menyebarkan aib-aib penguasa)
    Ketiga: Menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya sepanjang tidak bertentangan dengan syari’ah Allah, meskipun di sisi yang lain pemimpin tersebut melakukan kezhaliman
    Keempat: Menyembunyikan aib-aib penguasa sebisanya, koq mengaku Ahlus Sunnah tetapi malah membongkar aib-aib penguasa?!
    Di poin ini juga Beliau mengingatkan bahwa tidak boleh menasehati penguasa terang-terangan.
    Kelima: Tidak memberontak dan memerangi penguasa.
    Baca Syarah Arba’in oleh Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin, pada hadits ke-7.
    Semoga Allah Ta’ala menjadikanku dan Antum sebagai orang-orang yang mau jujur dalam mempelajari dan mengamalkan manhaj yang haq.

  8. AbdurRahman berkata:

    Inilah petunjuk Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dalam menasehati penguasa:
    “Barangsiapa yang ingin menasehati penguasa, maka janganlah ia menampakkannya secara terbuka (kepada khalayak), tetapi hendaklah dia menyepi dengannya dan mendekatinya, lalu apabila penguasa tersebut menerima nasehatnya maka itulah yang diinginkan, jika tidak maka ia telah melaksanakan kewajibannya”. (HR. Thabrani, dishohihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Zhilalul Jannah no. 1096).

  9. AbdurRahman berkata:

    Kemudian Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin menjelaskan dalam menasehati penguasa dengan cara langsung jika memungkinkan ataupun dengan perantara para Ulama ataupun orang-orang shalih yang mungkin memiliki akses ke penguasa.
    Sebagian para Ulama Salaf dulu juga mengirim surat pribadi kepada penguasa dalam rangka menasehati mereka.
    Barokallahu fiik wa hadaak.

  10. joyo berkata:

    @AbdurRahman
    sudahkah hal itu antum lakukan?

  11. abisyakir berkata:

    @ Abdur Rahman

    Anda berkata:

    “Salafy (bukan Yamani/Haraki) menjawab:

    Memang mudah menjadi Mudda’i as-Salafiyah (mengaku-ngaku bermanhaj Ahlus Sunnah), tetapi sulit membuktikannya.
    Seorang Ulama Ahlus Sunnah: Asy-Syaikh Al-’Utsaimin rahimahullah menjelaskan tentang manhaj Ahlus Sunnah dalam menyikapi Pemimpin Muslim, inilah ringkasnya:

    Pertama: Mengakui kepemimpinan mereka
    Kedua: Menyebarkan kebaikan-kebaikannya (di poin ini juga Beliau mencela manhaj yang menyimpang, yaitu menyebarkan aib-aib penguasa)
    Ketiga: Menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya sepanjang tidak bertentangan dengan syari’ah Allah, meskipun di sisi yang lain pemimpin tersebut melakukan kezhaliman
    Keempat: Menyembunyikan aib-aib penguasa sebisanya, koq mengaku Ahlus Sunnah tetapi malah membongkar aib-aib penguasa?!
    Di poin ini juga Beliau mengingatkan bahwa tidak boleh menasehati penguasa terang-terangan.
    Kelima: Tidak memberontak dan memerangi penguasa.
    Baca Syarah Arba’in oleh Asy-Syaikh Al-’Utsaimin, pada hadits ke-7.
    Semoga Allah Ta’ala menjadikanku dan Antum sebagai orang-orang yang mau jujur dalam mempelajari dan mengamalkan manhaj yang haq.

    Komentar saya:

    Lho, di Indonesia ini kan yang berlaku bukan kepemimpinan Islami berdasarkan Al Qur’an dan As Sunnah. Kepemimpinan yang ada sifatnya sekuler, bukan kepemimpinan berdasarkan Kitabullah dan Sunnah. Dalam dasar akidah paling elementer dari ajaran Islam: Masak seorang Muslim Muwahhid akan tunduk kepada kepemimpinan sekuler?

    Apakah manhaj Ahlus Sunnah mengajarkan kita tunduk kepada orang-orang yang menolak berhukum kepada Allah dan Rasul-Nya? Adakah contoh dari Nabi Saw, para Shahabat Ra, serta para ulama Salaf mu’tabar sikap tunduk kepada hukum Romawi, hukum Persia, hukum Jengis Khan, hukum India, hukum China, hukum Yunani, dan sebagainya? Coba ambilkan satu saja bukti ketundukan para Salaf kepada hukum selain dari Allah dan Rasul-Nya.

    Kesalahan besar kamu wahai AbdurRahman dan orang-orang semisalmu: “Kalian samakan kepemimpinan sekuler dengan kepemimpinan Islami. Singkat kata, kalian samakan antara kebenaran Islam dengan ideologi kekafiran.” Itulah yang membuat kalian sesat dari kebenaran, melakukan bid’ah besar, dan ikut meruntuhkan agama Allah di muka bumi. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

    Trus seperti SBY misalnya, dengan sistem ekonomi liberal, yang merujuk IMF, Bank Dunia, WTO, dan lain-lain. Padahal kita semua tahu, ekonomi itu akhirnya berkiblat ke Yahudi internasional. Masak seorang Muslim akan diam saja menghadapi sistem politik SBY seperti itu? Dimana dong wala’ wal bara’-nya? Padahal terbukti, ekonomi seperti itu telah menyengsarakan ratusan juta kaum Muslimin di Indonesia. Kalau terhadap pemimpin sekuler yang melakukan kezhaliman kita tidak boleh mengkritik, sama saja dengan Musa As. tidak boleh mengkritik atau mengecam Fir’aun.

    Disini nih kekacauan berpikir kaum Salafi sering terjadi. Mereka melihat situasi negara seperti Indonesia ini sama dengan Saudi yang setidaknya disana menerima ajaran Islam sebagai UU mereka. Justru kalau memberikan hak-hak ketaatan Islami kepada orang-orang yang salah, hal itu sama saja dengan memperlama berkuasanya orang-orang yang salah itu.

    Ya, kita harus berjihad sekuat kemampuan kita untuk meluruskan penguasa sekuler dari penyimpangannya.

    AMW.

  12. abisyakir berkata:

    @ Abdurrahman.

    Mohon nanti kalau komentar, jangan diputus-putus, biar tidak menyulitkan saya.

    Tentang hadits tersebut baik saya jawab tegas ya:

    1. Untuk penguasa Muslim yang menegakkan hukum Allah dan Rasul-Nya di muka bumi, mereka disebut “naungan Allah di muka bumi”. Mereka harus dihargai, dihormati, dijaga, dan diluruskan secara penuh etika kalau melakukan penyimpangan. Tetapi kalau pemimpin itu mendukung berlakunya aturan-aturan tidak Islami (sekularisme, nasionalisme, kapitalisme, dll) mereka tidak mendapat hak istimewa tersebut. Malah, kalau kita bersikap lembut kepada mereka, kemungkarannya akan semakin menjadi-jadi. Mereka akan merasa mendapat dukungan untuk menyebarkan ideologi tidak Islaminya.

    2. Kalau penyimpangan penguasa dilakukan secara terang-terangan, maka harus diluruskan secara terang-terangan. Misalnya, ada penguasa yang sengaja makan-minum di depan rakyatnya saat siang hari Ramadhan. Maka harus ada yang berani menyelisihi dia secara terang-terangan. Inilah seperti yang dilakukan Musa As di depan Fir’aun.

    3. Kalau penguasa melakukan kesalahan secara pribadi, bersifat ijtihadiyyah, tidak sengaja, atau masih meragukan, harus diluruskan secara tertutup. Jangan dibuka di muka umum. Inilah yang dilakukan Usamah bin Zaid Ra. kepada Khalifah Utsman bin Affan Ra.

    4. Dalam konteks negara-negara sekuler modern, seperti di Indonesia ini, yang menerapkan sistem protokoler luar biasa, kemungkinan untuk menasehati para penguasa dengan diam-diam adalah sangat sulit. Kecuali orang-orang tertentu yang memiliki hubungan kepadanya. Bahkan ada ustadz/syaikh yang berani menasehati penguasa, itu sudah luar biasa. Biasanya yang ada, ada yang “minta petunjuk”, “minta kehadiran penguasa untuk meresmikan ini itu”, “minta doa restu”, “minta sumbangan”, dan minta-minta yang lain.

    Nanti, insya Allah akan dijelaskan masalah ini secara tersendiri, yaitu cara bersikap kepada penguasa sekuler.

    AMW.

  13. Ana Jiddan berkata:

    @AbdurRahman

    Iya, udah belum melakukan itu? jangan cuman ngomong aja…

  14. dan di berkata:

    hanya sayangnya, partai-partai islam kok membela sby.
    Seharusnya setelah perolehan suara mereka mengecil mereka harus introspeksi:
    1. Apakah kekalahan mereka karena betul-betul umat kehilangan respek atau karena ada permainan dari penguasa.
    2. Kalau umat kehilangan respek, seharusnya mereka introspeksi.
    3. Kalau karena ada permainan dari rezim berkuasa, mereka harusnya kritis, bukan malah membuta mendukung.

    Bingung, apakah benar partai agama hanya sekedar menjual agama?

  15. faizmh berkata:

    Lanjutkan…nice post om..
    Saya mohon ijin mengutip pak, saya sejak dulu juga sama pikirannya dengan Anda, cuma belum ada waktu senggang utk menuliskan.
    @ abdurahman: jangan2 Anda org FOX Indonesia yg disewa khusus memback up posting2 negatif ttg SBY dan khusus buat org2 muslim ya? Kayaknya Anda cari2 bahan comment Anda itu pd beberapa kitab2 ya, cuma asal mengutip aja, tanpa didukung tafsir2 ya? Ha ha

  16. abu naura berkata:

    @ abdurrahman ; nasehat ana sederhana saja, tolong belajarlah agama dengan niat tulus, ikhlas hanya mengharap ridho Alloh (yang maha melihat gerak gerik hati manusia) semata , tundukkan hawa – nafsu, lakukan dengan tanpa mengesampingkan prinsip “setiap manusia mempunyai kecenderungan berbuat salah dan lupa kecuali nabi SAW yang “ma’sum” , pahami benar ayat QURAN,
    hadits nabi, ataupun atsar sahabat secara SYAKARA ( pas pada tempatnya ) dengan hati yang jernih insya Allah antum akan memjumpai kebenaran itu…

  17. AbdurRahman berkata:

    Jawaban Antum sdh ana perkirakan sebelumnya, sebuah jawaban yang tidak berdasarkan petunjuk para Ulama ataupun Asatidzah Ahlus Sunnah.
    Inilah jawaban saya;

    Pertama: Presiden kita adalah seorang Muslim, maka kewajiban kita untuk tunduk pada pemerintahan seorang Muslim (bukan kafir), bukankah demikian yang diperintahkan dalam al-Qur’an dan al-Hadits ? Ataukah Anda mengkafirkan SBY ? Insya Allah tidak.

    Kedua: Tlg dijawab dengan jelas: siapakah Ulama Ahlus Sunnah yang mu’tabar dan Ustadz-ustadz di Wahdah Islamiyah yang berpendapat bahwa tidak boleh taat kepada pemimpin yang tidak menjalankan syari’ah Islam secara menyeluruh (apabila dia memerintahkan kepada suatu kebaikan) ?
    Saya tidak tahu ada yang berpendapat demikian dari kalangan Ahlus Sunnah kecuali orang-orang NII dan yang semisalnya.

    Ketiga: Masak seorang Muslim Muwahhid akan tunduk kepada kepemimpinan sekuler?
    Jawab: Harus tunduk kepada pemimpin yang masih muslim, selama dia memerintahkan kepada al-haq, jika maksiat yang diperintahkan maka tidak boleh ditaati.

    Keempat: Apakah manhaj Ahlus Sunnah mengajarkan kita tunduk kepada orang-orang yang menolak berhukum kepada Allah dan Rasul-Nya?
    Jawab: Kita hanya tunduk apabila dia memerintahkan kepada yang haq saja, adapun jika bertentangan dengan hukum Allah maka tidak kita taati.

    Kelima: Adakah contoh dari Nabi Saw (shallallahu’alaihi wa sallam), para Shahabat Ra, serta para ulama Salaf mu’tabar?
    Jawab: Contohnya banyak, para Ulama Salaf tidak menyelisihi pemerintah yang zhalim dan tidak berhukum dengan selain hukum Allah di masanya, dengan syarat: apabila perintah tersebut tidak bertentangan dengan hukum Allah Ta’ala, meskipun pada permasalahan lainnya dia menolak hukum Allah Ta’ala, diantaranya sikap Anas Bin Malik dan para Sahabat lainnya kepada al-Hajjaj yang zhalim, jelas?

    Keenam: Kesalahan besar kamu wahai AbdurRahman dan orang-orang semisalmu: “Kalian samakan kepemimpinan sekuler dengan kepemimpinan Islami. Singkat kata, kalian samakan antara kebenaran Islam dengan ideologi kekafiran.”
    Jawab: Inilah kesalahpahaman Anda yang ada sejak lama, inilah pemahaman takfiri. Berbeda antara system dan orang-orangnya, tidak boleh digeneralisir, ada ta’yin ada ithlaq.
    Seorang Muslim tentu tidak ragu bhw sekulerisme adalah kekafiran, namun apakah pemimpin kita (SBY) seorang kafir atau muslim ?
    Ketahuilah, kita tidak boleh mentaati apabila aturan tersebut bertentangan dengan hukum Allah, namun jika tidak bertentangan maka adakah dalil yang melarang kita mentaati pemerintah muslim (SBY-JK beragama Islam), justru yang ada perintah mentaatinya, semoga engkau faham.

    Ketujuh: Masak seorang Muslim akan diam saja menghadapi sistem politik SBY seperti itu? Dimana dong wala’ wal bara’-nya?
    Jawab: Kalau telah jelas bahwa SBY-JK adalah dua orang pemerintah Muslim, maka wajib menasehati antara sesama Muslim, namun cara yang ditunjukkan manhaj Ahlus Sunnah bukan dengan terang-terangan, lihat hadits di bawah.
    Justru termasuk wala’ kepada orang kafir apabila mengikuti cara-cara mereka dalam merubah kemungkaran.

    Hadaakallah ilal manhajis shohih.

  18. AbdurRahman berkata:

    1. Untuk penguasa Muslim yang menegakkan hukum Allah dan Rasul-Nya di muka bumi, mereka disebut “naungan Allah di muka bumi”. Mereka harus dihargai, dihormati, dijaga, dan diluruskan secara penuh etika kalau melakukan penyimpangan. Tetapi kalau pemimpin itu mendukung berlakunya aturan-aturan tidak Islami (sekularisme, nasionalisme, kapitalisme, dll) mereka tidak mendapat hak istimewa tersebut. Malah, kalau kita bersikap lembut kepada mereka, kemungkarannya akan semakin menjadi-jadi. Mereka akan merasa mendapat dukungan untuk menyebarkan ideologi tidak Islaminya.

    Jawab: Allah Ta’ala berfirman dalam surat Thoha, ketika memerintahkan Nabiyullah Musa dan Harun ‘alaihimassalam untuk berdakwah kepada sorang penguasa yang zhalim Fir’aun: “maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.”

    2. Kalau penyimpangan penguasa dilakukan secara terang-terangan, maka harus diluruskan secara terang-terangan. Misalnya, ada penguasa yang sengaja makan-minum di depan rakyatnya saat siang hari Ramadhan. Maka harus ada yang berani menyelisihi dia secara terang-terangan. Inilah seperti yang dilakukan Musa As di depan Fir’aun.
    Jawab: Apakah engkau samakan Fir’aun yang kafir dengan seorang pemimpin Muslim?
    Apakah engkau samakan dakwah seorang Nabi yang mendapat wahyu dengan da’i yang justru bertentangan dengan wahyu yang jelas tertera dalam hadits di atas?
    Dari Ulama siapakah engkau mengambil pemahaman ini?

    3. Kalau penguasa melakukan kesalahan secara pribadi, bersifat ijtihadiyyah, tidak sengaja, atau masih meragukan, harus diluruskan secara tertutup. Jangan dibuka di muka umum. Inilah yang dilakukan Usamah bin Zaid Ra. kepada Khalifah Utsman bin Affan Ra.
    Jawab: Apakah ‘illah dari perbuatan Usamah bin Zaid adalah perbuatan ‘Utsman atau karena mentaati hadits di atas?
    Trus, Ulama siapa rujukannya?

    4. Dalam konteks negara-negara sekuler modern, seperti di Indonesia ini, yang menerapkan sistem protokoler luar biasa, kemungkinan untuk menasehati para penguasa dengan diam-diam adalah sangat sulit. Kecuali orang-orang tertentu yang memiliki hubungan kepadanya. Bahkan ada ustadz/syaikh yang berani menasehati penguasa, itu sudah luar biasa. Biasanya yang ada, ada yang “minta petunjuk”, “minta kehadiran penguasa untuk meresmikan ini itu”, “minta doa restu”, “minta sumbangan”, dan minta-minta yang lain.
    Jawab: Kewajiban kita adalah berusaha, dan tidak mesti harus ketemu langsung, bisa lewat surat, sms, dll.

    Hadaakallah ilas shiroothil mustaqhiim.

  19. AbdurRahman berkata:

    Masya Allah, dalil yang telah begitu jelas masih saja ditolak dengan mengandalkan pemahaman sendiri. Klu betul engkau seorang Sunny Salafy, pastilah merujuk pemahaman Ulama dalam memahami dalil, bukan dengan pemahaman sendiri, apalagi pemahaman takfiri.
    Bacalah hadits berikut ini:

    Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
    “Patuh dan taatilah pemimpinmu walaupun dia memukul punggungmu dan mengambil hartamu, patuhilah dan taatilah” (HR. Muslim 12/236-237).

    Hadits ini sangat jelas dalam menyikapi pemimpin yang tidak berhukum dengan hukum Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu’alaihi wa sallam.

    Tentu saja maksudnya, selama yang diperintahkan itu tdk bertentangan dengan hukum Allah Ta’ala, meskipun pada sisi yang lain pemimpin tersebut menolak hukum Allah seperti memukul dan mengambil harta manusia dengan cara yang zhalim.

    Tidak ada seorang pun yang mengatakan bahwa kepemimpinan model ini adalah kepemimpinan Islamy, tetapi, selama pemimpinnya Muslim dan yang diperintahkan bukan kemaksiatan, maka wajib kita taati.

    Hadaakumullahu ilal fahmis shohih.

  20. abisyakir berkata:

    @ Abdurrahman:

    ==> Pertama: Presiden kita adalah seorang Muslim, maka kewajiban kita untuk tunduk pada pemerintahan seorang Muslim (bukan kafir), bukankah demikian yang diperintahkan dalam al-Qur’an dan al-Hadits ? Ataukah Anda mengkafirkan SBY ? Insya Allah tidak.

    Jawab: Bisakah kita tunduk kepada orang yang menolak Syariat Islam, mengagungkan nasionalisme, membiarkan kemusyrikan merajalela, membiarkan kerusakan moral melanda generasi muda, menyebar-luaskan ekonomi ribawi, bersikap lembut kepada musuh Islam (Amerika)?

    Anda tahu tidak, Khalifah Abu Bakar Ra. sampai memerangi orang-orang Muslim dan menyebut mereka sebagai murtad, hanya karena mereka menolak membayar zakat mal. Sementara di Indonesia ini, pemimpin itu telah menolak secara menyeluruh hukum Syariat Islam.

    ==> Kedua: Tlg dijawab dengan jelas: siapakah Ulama Ahlus Sunnah yang mu’tabar dan Ustadz-ustadz di Wahdah Islamiyah yang berpendapat bahwa tidak boleh taat kepada pemimpin yang tidak menjalankan syari’ah Islam secara menyeluruh (apabila dia memerintahkan kepada suatu kebaikan)? Saya tidak tahu ada yang berpendapat demikian dari kalangan Ahlus Sunnah kecuali orang-orang NII dan yang semisalnya.

    Jawab: Oh ya, saya juga setuju kalau dia mengajak kepada kebaikan, dan mendukung. Bahkan kepada pemimpin kafir pun, kalau mengajak kepada kebaikan. Tidak berdosa kita mendukungnya. Contoh, sikap Najasyi yang melindungi para Shahabat yang hijrah ke Habasyah waktu itu. Dalam soal kebaikan, kita tentu akan mendukungnya.

    Namun, jangan karena soal prestasi kebajikan satu dua, atau sepuluh misalnya. Lalu kita lupa dengan masalah esensi, yaitu pembangkangan sistem negara terhadap Kitabullah dan Sunnah. Kebaikan pemimpin sekuler tetap diterima, tetapi kesalahan fatalnya tidak boleh dibiarkan. Harus terus dilakukan dakwah dan nahyul munkar, sesuai kekuatan dan kesempatan.

    ==> Ketiga: Masak seorang Muslim Muwahhid akan tunduk kepada kepemimpinan sekuler?
    Jawab: Harus tunduk kepada pemimpin yang masih muslim, selama dia memerintahkan kepada al-haq, jika maksiat yang diperintahkan maka tidak boleh ditaati.

    Jawab: Nah, ini dia pangkal kesesatan Anda dan orang-orang semisal Anda. Disebut Muslim itu bukan karena KTP-nya Muslim. Tapi perilaku hidupnya memang Islami. Dulu di jaman Salafus Shalih tidak ada KTP. Ummat dilihat keislamannya berdasarkan perilakunya, bukan klaimnya. Sebagai contoh, Abdullah bin Ubay. Dia di mata Nabi terlihat sebagai Muslim, tetapi di belakangnya dia munafik. Anda tahu, bagaimana sikap keras Islam kepada para pemimpin munafik itu. Sampai ada surat tersendiri, Al Munafiqun.

    Seseorang disebut Muslim karena dia taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Meskipun seseorang memiliki 1000.000.000 KTP yang menunjukkan dia beragama Islam, tetapi kalau sikap hidupnya memusuhi hukum Allah dan Rasul-Nya, dia tidak bisa disebut Muslim.

    Dalam hadits shahih Nabi menyebut kriteria orang munafik: Kalau bicara dusta, kalau berjanji ingkar, kalau dipercaya khianat. Dia adalah munafik, lalu kata Nabi, “in shalla wa shama” (meskipun dia menjalankan shalat dan shaum). Jadi ukuran shalat pun belum menjamin seseorang disebut Muslim, apalagi ukuran KTP atau klaim-klaim.

    ==> Keempat: Apakah manhaj Ahlus Sunnah mengajarkan kita tunduk kepada orang-orang yang menolak berhukum kepada Allah dan Rasul-Nya? Jawab: Kita hanya tunduk apabila dia memerintahkan kepada yang haq saja, adapun jika bertentangan dengan hukum Allah maka tidak kita taati.

    Jawab: Nah, jawaban Anda itu sudah menunjukkan apa yang kita minta disini. Kalau misal pemimpin itu memerintahkan kepada al bathil, kita tidak tunduk. Ya benar, saya setuju. Kita semua setuju disini. Kita hanya tunduk kepada hal-hal yang baik saja.

    Tapi masalahnya, kenyataan yang kita hadapi lebih dari soal “memerintahkan berbuat maksiyat”. Para pemimpin sekuler itu telah menegakkan hukum sekularisme, mematikan hukum Islam, merusak dakwah Islam, membiarkan Ummat Islam rusak moralnya, hancur ekonominya, membiarkan Ummat Islam menjadi “jajahan” bangsa asing, menzhalimi kehidupan Ummat, dsb. Ini bukan hanya soal “memerintahkan kepada maksiyat” saja.

    Hanya masalahnya, para Salafiyun ini orangnya lugu-lugu. Mereka begitu mudah percaya kepada doktrin syaikh/ustadz-nya, tanpa mau mengkaji lebih dalam. Disini sangat jelas bukti kesesatan mereka. Mereka membiarkan para penguasa sekuler berbuat penuh aniaya kepada Islam dan kaum Muslimin, dengan dalih “tidak mentaati kalau mereka memerintahkan berbuat maksiyat”.

    Seharusnya, tanggung-jawab kita melebihi sikap “tidak mentaati kalau memerintahkan maksiyat” itu. Malah saya curiga, pemerintahkan sekuler di muka bumi selama ini, sangat diuntungkan dengan sikap Salafiyun ini. Sebab mereka bersikap lunak terhadap pelanggaran penguasa yang amat dahsyat dalam memerangi agama Allah.

    ==> Kelima: Adakah contoh dari Nabi Saw (shallallahu’alaihi wa sallam), para Shahabat Ra, serta para ulama Salaf mu’tabar?
    Jawab: Contohnya banyak, para Ulama Salaf tidak menyelisihi pemerintah yang zhalim dan tidak berhukum dengan selain hukum Allah di masanya, dengan syarat: apabila perintah tersebut tidak bertentangan dengan hukum Allah Ta’ala, meskipun pada permasalahan lainnya dia menolak hukum Allah Ta’ala, diantaranya sikap Anas Bin Malik dan para Sahabat lainnya kepada al-Hajjaj yang zhalim, jelas?

    Jawab: Membiarkan berlakunya hukum selain hukum Allah, itu sama dengan membiarkan kekafiran merajalela di muka bumi. Saya ingatkan para Salafiyun agar bertaubat kepada Allah. Mereka selama ini telah mendalili kekafiran dengan alasan sikap-sikap lunak kepada penguasa zhalim.

    Al Hajjaj As Tsaqafi itu bukan seorang pemimpin tertinggi di Daulah Umayyah. Dia seorang gubernur, dan bersikap kejam. Meskipun begitu, saat itu yang berlaku adalah hukum Islam. Yang berdaulat adalah hukum Islam.

    Kalau @ Abdurrahman mengatakan, para Shahabat banyak yang setuju dengan berlakunya selain hukum Islam. Dia mencontohkan, Anas bin Malik Ra. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Ya Allah ya Karim, betapa beraninya Abdurrahman memfitnah para Salafus Shalih, malah para Shahabat. Demi Allah, kalau kamu tidak bertaubat, kelak kamu akan didebat oleh para Shahabat Ra. Kasihani dirimu wahai @ manusia (tidak tega saya menyebut Abdurrahman).

    ==> Keenam: Kesalahan besar kamu wahai AbdurRahman dan orang-orang semisalmu: “Kalian samakan kepemimpinan sekuler dengan kepemimpinan Islami. Singkat kata, kalian samakan antara kebenaran Islam dengan ideologi kekafiran.”
    Jawab: Inilah kesalahpahaman Anda yang ada sejak lama, inilah pemahaman takfiri. Berbeda antara system dan orang-orangnya, tidak boleh digeneralisir, ada ta’yin ada ithlaq.
    Seorang Muslim tentu tidak ragu bhw sekulerisme adalah kekafiran, namun apakah pemimpin kita (SBY) seorang kafir atau muslim ?

    Jawab: Ya, saya ikhlas dan terima 100 %. Anda boleh sebut saya takfiri, ketika saya mengkafirkan suatu sistem yang tidak mendaulatkan Al Qur’an dan As Sunnah sebagai konstitusinya. Bahkan, setiap Muslim seharusnya bersikap demikian. Kita kafirkan yang dikafirkan Kitabullah dan Sunnah, dan tidak kita kafirkan apa yang tidak dikafirkan Al Qur’an dan Sunnah.

    Adapun soal manusia pemikul sistem itu. Ya, kita ta’yin. Kita lihat bagaimana sikap mereka terhadap Syariat Islam, terhadap konstitusi Kitabullah dan Sunnah. Lalu kita lihat juga, bagaimana ideologinya, apakah sekuler, nasionalis, pro Amerika, dan sebagainya.

    Kalau memang semua sudah jelas, ya kita tinggal bersikap sebagaimana seorang Muslim, mengkafirkan Yahudi, Nasrani, Musyrikin, Majusi, Atheis, dan penganut paham-paham ideologi semacam itu. Mereka mengambil ideologi selain Islam sebagai agamanya. Ini jelas-jelas KAFIR, tidak diragukan lagi.

    Hanya untuk mengklaim secara terbuka, apakah si fulan kafir atau si fulanah kafir. Kita harus melihat kondisinya. Itu diatur-atur secara rapi. Toh, selama ini saya tidak pernah menyebut SBY sebagai orang kafir. Anda bisa temukan buktinya?

    ==> Ketahuilah, kita tidak boleh mentaati apabila aturan tersebut bertentangan dengan hukum Allah, namun jika tidak bertentangan maka adakah dalil yang melarang kita mentaati pemerintah muslim (SBY-JK beragama Islam), justru yang ada perintah mentaatinya, semoga engkau faham.

    Jawab: Mereka tidak menegakkan hukum Kitabullah dan Sunnah, itu sudah cukup sebagai dalil, bahwa tidak ada hak ketaatan atas kepemimpinan seperti itu.

    Dalilnya: “Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir”. (Ali Imran: 32). Ini dalilnya sharihnya, bahwa berpaling dari hukum Allah dan Rasul-nya adalah kafir.

    Ada lagi dalilnya: “Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian.” (An Nisaa’: 59).

    Dalil lain: “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad Saw) sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An Nisaa’: 65).

    Ini jelas sekali, bahwa mentaati pemerintahan sekuler adalah salah. Sikap kita kepada mereka adalah: dakwah dan memperbaiki. Kalau dalam soal yang baik-baik, ya kita terima; tetapi tidak melupakan kesekuleran mereka. Jangan seperti sebagian Salafiyun, mereka perlakukan pemerintah sekuler seperti memperlakukan pemerintah Islami. Itu sama dengan talbis, mencampur-adukkan kebenaran dan kebathilan.

    ==> Ketujuh: Masak seorang Muslim akan diam saja menghadapi sistem politik SBY seperti itu? Dimana dong wala’ wal bara’-nya?
    Jawab: Kalau telah jelas bahwa SBY-JK adalah dua orang pemerintah Muslim, maka wajib menasehati antara sesama Muslim, namun cara yang ditunjukkan manhaj Ahlus Sunnah bukan dengan terang-terangan, lihat hadits di bawah.
    Justru termasuk wala’ kepada orang kafir apabila mengikuti cara-cara mereka dalam merubah kemungkaran. Hadaakallah ilal manhajis shohih.

    Jawab: Payah, payah, payah. Disini nih tampak kesekian kalinya, bukti kesesatan orang-orang seperti “Abdurrahman” ini.

    Kalau seorang pemimpin dikenal Muslim, dia diperlakukan sebagai “ulil amri” yang mendapat hak-hak konstitusional Islami. Payah, payah, payah. Ini benar-benar bukti kesesatan yang tidak terbantah.

    Keislaman seseorang itu bukan karena klaim, tetapi karena bukti perilaku hidup mereka sendiri. Ajaran seperti yang dipahami @ Abdurrahman itu benar-benar telah menikam ajaran Islam ke intinya. Di muka bumi akan merajalela kekafiran, kemusyrikan, zina, ribawi, pemerkosaan, pelacuran, penghisapan kekayaan, penjajahan, dll. Hanya karena seseorang KTP-nya Muslim, atau dia dikenal sebagai Muslim.

    Kalau Muslim itu “sami’na wa atho’na” kepada hukum Allah dan Rasul-Nya. Kalau mereka anti hukum Islam, sekalipun KTP-nya Muslim, tidak bisa disebut Muslim. Ajaran seperti @ Abdurrahman itu adalah permusuhan sangat sengit terhadap berlakunya nilai-nilai Islami di muka bumi.

    Fir’aun di masa lalu, kalau KTP-nya Muslim, dia disebut Muslim. George Bush, Hitler, Ariel Sharon, kalau KTP-nya Muslim, dia boleh memerintah kaum Muslimin. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Benar-benar ini kesesatan yang nyata.

    @ Abdurrahman, mohon cermati kalimat ini: Jika selama ini ustadz-ustadz Kibar Salafi berpandangan seperti pandanganmu ini, saya mengajak mereka untuk berdebat terbuka. Boleh disini, atau di darat. Ini tantangan dari saya, demi menolong agama Allah, sekuat kemampuan.

    Mohon sampaikan kepada ustadz-ustadzmu. Mari kita berdebat terbuka, untuk membuktikan: benarkah ajaran Salafus Shalih bisa bersikap lunak kepada sekularisme?

    Untuk sementara ini dulu dari saya. Wallahu A’lam bisshawaab.

    == Waskito bin Buang ==

  21. abisyakir berkata:

    @ Abdurrahman.

    ==> Anda mengatakan: Allah Ta’ala berfirman dalam surat Thoha, ketika memerintahkan Nabiyullah Musa dan Harun ‘alaihimassalam untuk berdakwah kepada sorang penguasa yang zhalim Fir’aun: “maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.”

    Jawab: Perintah bicara itu dalam konteks teknik retorika. Musa diperintahkan memilih qaulan layyinan (kata-kata lembut). Tujuannya, agar Fir’aun mudah sadar, lalu insyaf. Dalil ini adalah pentingnya retorika yang lembut, sesuai kondisi yang ada. Ini bukan dalil untuk bersikap lembut kepada kebathilan. Justru munculnya Musa untuk membantah Fir’aun, hal itu sebagai dalil bahwa kemungkaran penguasa harus diluruskan. Apalagi, Fir’aun adalah kaisar berkuasa. Kalau Musa mencaci-maki dirinya, bisa saja Fir’aun akan marah besar.

    Dalil nahyul munkar itu sudah jelas, “man ra’a minkumul munkaran”. Kemungkaran individu rakyat, kecil dampaknya. Tetapi kemungkaran penguasa, besar sekali akibatnya.

    ==> 2. Kalau penyimpangan penguasa dilakukan secara terang-terangan, maka harus diluruskan secara terang-terangan. Misalnya, ada penguasa yang sengaja makan-minum di depan rakyatnya saat siang hari Ramadhan. Maka harus ada yang berani menyelisihi dia secara terang-terangan. Inilah seperti yang dilakukan Musa As di depan Fir’aun. Jawab: Apakah engkau samakan Fir’aun yang kafir dengan seorang pemimpin Muslim? Apakah engkau samakan dakwah seorang Nabi yang mendapat wahyu dengan da’i yang justru bertentangan dengan wahyu yang jelas tertera dalam hadits di atas? Dari Ulama siapakah engkau mengambil pemahaman ini?

    Jawab: Hei @ manusia. Anda jangan berbuat curang! Anda pelintir sesuka hati kalimat yang saya katakan. Saya disana tidak menyamakan penguasa politik kita dengan Fir’aun. Saya hanya mengatakan, “Kalau kemungkarannya jelas, harus diingkari secara jelas juga.” Saya pernah membaca pandangan seperti itu dari salah satu fatwa Bin Baz. Dan contoh dari Salaf memang demikian. Misal, ketika Khalifah Umar bicara tentang mut’ah untuk isteri yang diceraikan. Beliau disanggah seorang wanita, dan beliau menerima.

    ==> 3. Kalau penguasa melakukan kesalahan secara pribadi, bersifat ijtihadiyyah, tidak sengaja, atau masih meragukan, harus diluruskan secara tertutup. Jangan dibuka di muka umum. Inilah yang dilakukan Usamah bin Zaid Ra. kepada Khalifah Utsman bin Affan Ra. Jawab: Apakah ‘illah dari perbuatan Usamah bin Zaid adalah perbuatan ‘Utsman atau karena mentaati hadits di atas? Trus, Ulama siapa rujukannya?

    Jawab: Saya tidak tahu ‘illah apa, sebab saya bukan Usamah Ra. Mungkin Anda lebih tahu hati Usamah Ra. Lho, ini benar adanya. Lihatlah bagaimana sikap Imam Ahmad bin Hanbal dalam mengingkari paham “Al Qur’an adalah makhluk”. Apakah beliau bersikap diam-diam, menasehati secara tertutup, atau mengambil lengan penguasa, lalu menasehati empat mata. Seluruh kaum Muslimin di jaman itu tahu sikap tegas Imam Ahmad rah., meskipun beliau bertentangan dengan penguasa ketika itu. Apa Anda meragukan bahwa Imam Ahmad seorang ulama?

    Disini sangat tampak, betapa sederhananya pemahaman orang seperti @ Abdurrahman. Yakinlah, demi membela agama Allah, hamba-hamba-Nya akan dimudahkan menghadapi orang seperti Anda. Amin wa alhamdulillah.

    ==> 4. Dalam konteks negara-negara sekuler modern, seperti di Indonesia ini, yang menerapkan sistem protokoler luar biasa, kemungkinan untuk menasehati para penguasa dengan diam-diam adalah sangat sulit. Kecuali orang-orang tertentu yang memiliki hubungan kepadanya. Bahkan ada ustadz/syaikh yang berani menasehati penguasa, itu sudah luar biasa. Biasanya yang ada, ada yang “minta petunjuk”, “minta kehadiran penguasa untuk meresmikan ini itu”, “minta doa restu”, “minta sumbangan”, dan minta-minta yang lain. Jawab: Kewajiban kita adalah berusaha, dan tidak mesti harus ketemu langsung, bisa lewat surat, sms, dll.

    Jawab: Ya, kamu selalu berdalil dengan “telah usaha”. Itu dalilmu untuk berlari dari tanggung-jawab. Kamu membiarkan sekularisme merajalela, tanpa memperbaiki pucuk dari sistem sekularisme itu, yaitu para penguasanya.

    Kamu bermaksud menasehati diam-diam, sedangkan setiap hari ada ribuan kaum Muslimin meninggal dunia, dengan mereka menjadi saksi atas kezhaliman kepemimpinan sekuler. Apakah mereka mati dalam keadaan husnul khatimah? Kalian tidak mempedulikannya. Kalian lebih peduli menyelamatkan kepentingan penguasa politik dengan dalil-dalil penuh manipulasi. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

    Antara tanggung-jawab kalian dengan problema yang dihadapi kaum Muslimin teramat sangat kecil. Sehingga tanggung-jawab kalian itu dianggap tidak ada. Izz Abdussalam rah. telah menunjukkan sikap tegas atas penyimpangan penguasa, tetapi kalian pura-pura tidak tahu. Kalian kerja keras mengumpulkan dalil-dalil untuk menyelamatkan sistem sekularisme di muka bumi, dan mematikan agama Allah. Kalian anggap cukup agama ini sekedar: memendekkan celana, memanjangkan janggut, memakai gamis, memerintahkan isteri memakai cadar, setiap pekan sekali ngaji kitab, dan hal-hal serupa itu. Islam akhirnya menjadi “agama mati” di tangan kalian. Islam hanya untuk pribadi atau kelompok saja.

    Semoga Allah menunjuki saya dan kalian ke jalan yang lurus. Allahumma amin.

    AMW.

    Hadaakallah ilas shiroothil mustaqhiim.

  22. abisyakir berkata:

    @ Abdurrahman: “Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Patuh dan taatilah pemimpinmu walaupun dia memukul punggungmu dan mengambil hartamu, patuhilah dan taatilah” (HR. Muslim 12/236-237). Hadits ini sangat jelas dalam menyikapi pemimpin yang tidak berhukum dengan hukum Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu’alaihi wa sallam.”

    Jawab: Hei, mana buktinya bahwa penguasa dalam hadits di atas tidak menerapkan hukum Allah? Apakah karena memukul punggung atau mengambil harta, mereka disebut tidak menegakkan hukum Allah?

    Bukanlah dalam sejarah Islam sudah dikenal kezhaliman penguasa-penguasa tertentu. Mereka bukan hanya memukul punggung, tetapi membantai jiwa-jiwa manusia. Mereka bukan hanya mengambil harta, tetapi menerapkan pajak dan memperkaya diri.

    Tetapi adakah dari pemimpin-pemimpin itu yang mengganti hukum Kitabullah dan Sunnah, dengan hukum Romawi, Mesir, Jengis Khan, Persia, India, Yunani, Perancis, Inggris, Belanda, dan lain-lain? Tidak ada sama sekali. Mereka ada yang zhalim, tetapi tidak mengganti hukum Allah seperti saat ini.

    Disini untuk kesekian kalinya tampak bukti-bukti kesesatan Salafiyun seperti @ Abdurrahman Cs ini. Mereka memakai dalil-dalil islami untuk mendalili kekafiran sistem sekuler. Na’udzubillah min dzalik.

    AMW.

  23. Amar Ma'ruf berkata:

    Saya sbg Ummat Islam paham dgn pengelola blog ini (abisyakir). Sy jg tdk paham dgn jln pikiran sebagian salafi lain, trmasuk ada tman sya d medan yg ktika berdebat, dia sangt keras tdk boleh berontak dg pemimpin selagi pemimpin itu Muslim n tetap melakukan Sholat. Saya tdk stuju saat itu. Pjg critanya. Hmpir sama dgn commen d atas.

  24. Amar Ma'ruf berkata:

    Bagi yg fans sby, inilah fakta sby melakukn pembodohan thdp masy Islam

    http://m.kompasiana.com/?act=r&id=5904

  25. Amar Ma'ruf berkata:

    Memakai contoh perumpamaan sesederhana yang di samapaikan oleh AMW saja kaum yang mengaku Salafiyin ini tidak mengerti dan bahkan menyelahkan perumpamaan itu.

    Bagaimana dengan mantan Presiden Suharto yang melakukan tindakan makar pada pemerintahan Soekarno dan hingga akhirnya berhasil menjadi Presiden selama lebih kurang 32 tahun? Apakah kaum salafiyin ini masih tetap membenarkan pemerintahannya selama itu tanpa ada perjuangan untuk mengehentikan Pemerintahan Soeharto? Sepertinya dan kenyataannya tidak pernah dengar kaum yang mengaku Salafi ini mengembalikan pemerintahaan kepada pemerintahan yang masih sah dipegang oleh Soekarno?

    Ketika Tragedi demi tragedi menimpa Ummat Islam (apakah yang mengaku salafi termasuk?) seperti Tg. Priok, Poso dlsb oleh pemerintah yang di pimpin oleh Soeharto (perampasan kekuasaan dan terus pemilu curang)kemana salafi?

    Pemikiran `Salafi` yang seperti itu (tidak boleh ini itu terhadap pemimpin) saya koq melihatnya sama dengan pemikiran tidak masuk akal kaum nasrani dengan tritunggalnya yah? Padahal sudah jelas sistem yang di gunakan oleh pemerintahan adalah sistem Kufur kafirin mencakup semua kehidupan negeri Muslimin.

    Tidak usah atau di LARANG KERAS bagi kaum yang mengaku Salafi ikut campur dalam urusan Ummat Islam (ummat yang di luar ‘salafi’ alias Islam tidak memakai embel-embel salafi) dalam menegakkan dan memperjuangkan tegaknya semua sistem Islami dalam kehidupan di negeri kaum Muslimin (tentunya masih diluar emebel-embel Islam Salafi)karena bukankah kalian (kaum salafi)telah mengkafirkan Ummat Muslimin yang lebih dahulu kalian bid’ahkan (diluar kelompok salafi)karena tidak masuk dalam lingkaran salafi versi salafi ekstrim.
    Tidak semua/selamanya Salafiyin adalah Islam sesungguhnya dan Islam yang sesungguhnya (kaffah)otomatis adalah Salafi. Islam ya Islam. Tidak ada yang namanya Islam Syi’ah, Sunni, Liberal, Salafi, Ahmadiyah. Orang Islam adalah yang berpegang teguh pada dua Wasiat Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam.

    Rasulullah juga semasa hidupnya (dekat akhir hidupnya)pernah di mintai tanggung jawabnya oleh Sahabat di depan majelis/orang banyak(saya lupa kisahnya dan tolong diluruskan…) tapi kalau tidak salah kisah Sahabat meminta Rasulullah di hukum karena telah memukul sahabat yang bersangkutan dengan tongkat/cemeti saat berperang, mendengar itu sahabat Rasul yang lain juga minta janganlah Rasul yang di hukum cukup kami-kami saja yang berada di Majelis itu, lalu Rasul meminta para Sahabat yang lain tidak menyodorkan dirinya untuk mengganti hukuman yang sebenarnya pantas di terima oleh Rasul, lalu Rasul bersedia menerima hukuman itu oleh sahabat yang pernah Beliau pukul, dan ternyata sahabat itu meminta Rasul membuka baju Beliau karena saat Rasul memukulnya dengan tongkat sahabt tersebut tidak dalam keadaan berbaju, ketika Rasul melepas baju tersebut dan bersiap menerima hukuman dari sahabat ternyata sahabat tersebut langsung memeluk Rasul dengan menangis tersedu-sedu karena selama ini dia (sahabat Rasul)ingin sekali memeluk Rasul lebih dekat saat di dunia dan sebenarnya hanya akal-akalan sahabat yang bersangkutan untuk memenuhi harapan yang didambakan, dan juga saat Rasul memukul dengan tongkat saat itu juga ada alasannya (saya tidak ingat beberapa kisahnya).. Bila ada kesalahan tolong di edit dan luruskan sebelum di tampilkan. Terima kasih.

    Jadi kisah itu membuktikan Rasulpun bersedia di kritik di depan para Sahabat.

    Setiap ayat-ayat Al-Qur’an selalu dikatakan “,,,bagi kaum yang berfikir…” Apakah kaum yang mengaku Salafi ini adalah kaum yang berfikir….?

  26. Novian Agung berkata:

    Wah pas sekali nih momennya untuk membalas komentar akhi awam
    1. Ustadz Abu Bakar Ba’asyir sudah ditangkap lagi. merika dan sekutunya pasti bersukacita
    2. Ah paling itu inisiatif dar Pak JK
    3. Sekarang masih jaman SBY, perjudian buram semacam kuis-kuis SMS premium makin merebak. Wow!!!
    4. Baru jaman SBY korupsi semakin merebak dan menyentuh seluruh golongan, bahkan kasus-kasus yang sudah terkuak malah menjadi kuabur.
    5. Rakyat miskin dititipi bom waktu LPG, santunan BLT pun entah kemana.
    6. dlllllll (kalau dituliskan bisa sampai 1.000 halaman)

  27. Aswin Sofiardi berkata:

    BILA AKU JATUH CINTA
    Ya Allah, jika aku jatuh cinta,
    cintakanlah aku pada seseorang yang
    melabuhkan cintanya pada-Mu,
    agar bertambah kekuatanku untuk mencintaimu
    Ya Allah, jika aku jatuh cinta,
    jagalah cintaku padanya agar tidak
    melebihi cintaku pada-Mu,
    Ya Allah, jika aku jatuh hati,
    izinkanlah aku menyentuh hati seseorang
    yang hatinya tertaut pada-MU,
    agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta semu.
    Ya Rabbana, jika aku jatuh hati,
    jagalah hatiku padanya agar tidak
    berpaling dari hati-Mu.
    Ya Rabbul Izzati, jika aku rindu,
    rindukanlah aku pada seseorang yang
    merindui syahid di jalan-Mu.
    Ya Allah, jika aku rindu,
    jagalah rinduku padanya agar tidak lalai aku
    merindukan syurga-Mu.
    Ya Allah, jika aku menikmati cinta kekasih-Mu,
    janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya bermunajat
    di sepertiga malam terakhirmu.
    Ya Allah, jika aku jatuh hati pada kekasih-Mu,
    jangan biarkan aku tertatih dan terjatuh dalam perjalanan panjang
    menyeru manusia kepada-Mu.
    Ya Allah, jika kau halalkan aku merindui kekasih-mu,
    jangan biarkan aku melampaui batas sehinggah melupakan aku
    pada cinta hakiki
    dan rindu abadi hanya kepada-Mu.
    Ya Allah Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu,
    telah berjumpa pada taat pada-Mu,
    telah bersatu dalam dakwa-Mu,
    telah berpadu dalam membela syariat-Mu.
    Kukuhkanlah Ya Allah ikatannya.
    kekalkanlah cintanya.
    Tunjukilah jalan-jalannya.
    Penuhilah hati-hati ini
    Dengan Nur-Mu yang tiada pernah pudar.
    Lapangkanlah dada-dada
    kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan
    bertawakal di jalan-Mu

    Ya Allah..
    jadikanlah kami berteman hanya karena ridho-Mu
    yang saling menyayangi
    yang saling menghormati
    yang saling mengerti
    yang saling berbagi
    yang saling menghibur di kala duka
    mengingatkan di kala bahagia
    mendo’akan dalam kebaikan,dalam kearifan,serta saling menyempurnakan dalam ketaqwaan

    HANTARKAN AKU KE SANA….
    Gejolak yang membuncah memenuhi dada ini…
    Bersama asa yang rindu mendalam…
    Dari hamba yang berlumur dosa dan kealpaan…
    Berharap dapat bersua dengan-Mu…
    Wahai Rabbul`alamiin…
    Dengan taubat ku berharap…
    Kuatkan jiwa ini mendatanginya…
    Kokohkan langkah kaki ini menempuhnya…
    Azzamkan niat ini dalam mencapainya…
    Ikhlaskan hati ini menjalaninya…
    Aku rindu…aku rindu…aku rindu…
    Rindu berjumpa dengan-Mu dalam SYAHADAH…
    Rindu bersua dengan-Mu dalam IMAN…
    Rindu bersama-Mu dalam TAUHID…
    Rindu indahnya hidup dalam naungan ridha-Mu…
    Syari`at ISLAM…Daulah ISLAM…Khilafah ISLAM
    Duhai Alloh yang tiada sekutu bagi-Mu…
    Hantarkanlah kerinduanku ini…
    Mudahkanlah…
    Lapangkanlah…
    Tuk raih cita-cita…
    KEMULIAAN HIDUP DALAM ISLAM, ATAU
    KESYAHIDAN DALAM PERJUANGAN
    Aku berharap termasuk yang Kau hantarkan….
    Ridhai dan kabulkanlah…
    Amien ya Alloh, ya Rabbal`alamiin…

  28. arya berkata:

    salam..

    maaf,, kalo pengetuan saya jauh lebih rendah dari apa yang saudara2 semua miliki.. saya tidak terlalu mengerti apa yang harus dan seharusnya dilakukan sebagai umat islam yang sesungguhnya.tetapi, bila saya membaca dari awal masalah hingga balasan terakhir yang telah saya baca, saya mengambil kesimpulan bahwa kita semua sama – sama bodoh.apa yang saya tangkap adalah kebodohan masal yang dilakukan oleh orang2 pintar seperti kita semua,orang 2 yang merasa dan menganggap bahwa dirinya yang paling mengerti dari yang lain.
    apa yang saya baca dari awal,yaitu tentang tanggapan kepemerintahan sby yang memang secara gamblang saya akui itu sebagai kekalahan SBY dalam kepemimpinannya, dengan semua tindakan yang mungkin kurang mencerminkan (ato bahkan tidak) seorang pemimpin yang baik(klo saya menilai pemimpin yang baik adalah pemimpin yang dengan iklas memimpin bangsanya untuk maju, tanpa ada ikiran lain).awal yang membicarakan tentang lakha politik sby menjadi ajang hujatan satu dengan lainnya.dan pada akhirnya melupakan esensi awal yang seharusny dikembangkan, yaitu LAYAK ATO TIDAK SBY DIANGGAP SEBAGAI PEMIMPIN.
    sekian terima kasih.

  29. Anonim berkata:

    Jangan cuma komentar,,, kamu bisa ndak kea SBY,,,, hanya tau mengkritik,,, aneh!!

  30. Syahroni berkata:

    Akan senantiasa ada musuh salafiyun sampai hari kiamat padahal hanya jalan merekalah yg slamat bukan takfiri..,yg sok pinter tapi dalam menyesesatkan ummat..

  31. Abdullah berkata:

    Ana sependapat dg @ abdurrahman dan syahroni..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: