Kaidah Siyasah Praktis

Mei 14, 2009

Mungkin, kalau Anda sering berkunjung ke blog ini, Anda akan menemukan suatu corak sikap politik yang berubah-ubah. Misalnya, disini saya sering mengkritik sistem demokrasi, mengkritik fatwa MUI tentang golput, termasuk tidak merasa ada sosok partai Islam yang kuat dalam Pemilu. Namun kemudian, sikap tersebut seperti berubah 180 % ketika saya banyak berkomentar tentang hasil-hasil Pemilu April 2009, mengomentari peta politik, melihat komposisi oposisi, mendorong aliansi tertentu, dan sebagainya.

Mungkin orang akan mengatakan, “Katanya kemarin menentang fatwa MUI yang mengharamkan golput, tetapi ternyata banyak komentar tentang hasil-hasil Pemilu. Gimana sih ini. Tidak konsisten!”

Nah, cara menjelaskannya sebagai berikut:

[o] Ketika sebelum Pemilu April 2009, sikap kita adalah berhati-hati dalam memberikan pilihan, agar nanti tidak dituntut oleh Allah di Akhirat. Selama tidak ada wakil Islam yang komitmen dengan misi perjuangan Islam, tidak mengapa kita tidak memilih.

[o] Namun setelah keluar hasil Pemilu 2009, mau tidak mau, suka atau tidak, hasil ini PASTI AKAN BERPENGARUH BAGI KEHIDUPAN UMMAT. Biarpun seseorang semula berdiri di atas sikap golput 1000.000 %, maka sikap itu tidak akan mengubah kenyataan yang ada saat ini. Yang berpengaruh saat ini adalah hasil-hasil Pemilu. Maka kita harus bersikap bagaimanapun caranya untuk mempengaruhi hasil-hasil Pemilu itu, agar membuka seluas-luasnya maslahat bagi kaum Muslimin dan menjauhkan madharat baginya.

[o] Andai nanti terpilih Presiden-Wapres, serta sistem Pemerintahan yang sangat tidak kita sukai dengan berbagai pertimbangan tertentu, tetap saja kita harus berusaha mempengaruhi hasil tersebut. Tujuannya, untuk memperbesar pintu maslahat bagi Ummat, dan memperkecil pintu madharat bagi kehidupan mereka.

[o] Bahkan andai nanti terpilih pemimpin kafir yang paling zhalim di dunia sekalipun -misalnya demikian-, maka kita tetap harus mempengaruhinya agar terbuka pintu-pintu maslahat bagi Ummat dan mereka terjauhkan dari pintu madharat. Demikian seterusnya, sampai semua pihak memahami bahwa seorang politisi Muslim hanyalah mengabdi kepada Allah dalam rangka membangun maslahat dan menjauhkan madharat.

Tentu saja, nilai maslahat yang tercapai dan kadar madharat yang terhindarkan, tergantung kondisi masing-masing. Semakin shalih dan adil seorang pemimpin, semakin besar peluang maslahatnya dan semakin kecil resiko madharatnya. Sebaliknya, semakin rusak akidah dan zhalim seorang pemimpin, semakin besar resiko madharat dan semakin kecil peluang maslahatnya. Namun seorang politisi Muslim tidak boleh berhenti berjuang, apapun kondisi yang mengitari di sekelingnya.

Dalam kaidah fiqih dikatakan: “Ad dinu mabniyun ‘ala masholihi fi jalbiha wa dar’ii lil qaba’iih” (agama itu ditetapkan  untuk mencapai maslahat dan menolak kerusakan).

Inilah pegangan utama para politisi Muslim. Adapun bagaimana kemudian mereka berijtihad terhadap berbagai kondisi, dan bagaimana caranya memainkan instrumen untuk mempengaruhi takaran maslahat dan madharat itu, sepenuhnya dipulangkan ke pengetahuan dan keahlian siyasah mereka.

Semoga Allah Ta’ala menolong para politisi Muslim untuk menempuh apa yang diridhai-Nya. Allahumma amin. Wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.


Publikasi Media dan Wahhabi

Mei 14, 2009

Akhir-akhir ini eramuslim.com aktif mempublikasikan artikel-artikel yang nadanya menyerang Wahhabi (disebut begini saja, biar jelas, tidak ewuh pakewuh lagi). Artikel yang paling populer adalah soal “Indonesia jadi wisata seks orang Saudi”. Artikel itu menjadi bahan pembicaraan meluas, sebab isinya antara lain mendiskreditkan ulama tertentu di Saudi. Termasuk artikel soal Imam Masjid Haram yang menyebut ulama Syi’ah kafir seperti yang menjadi perbincangan di MyQuran ini.

Saya sendiri bukan orang yang apriori terhadap koreksi yang dialamatkan kepada Saudi atau penganut paham Wahhabi (jika boleh dikatakan demikian). Toh, ketika Kerajaan Saudi menolak boikot kepada Israel pasca tragedi Ghaza, saya menulis artikel keras yang mengecam sikap Kerajaan itu. Sampai konsekuensinya saya dikritik keras oleh sebagian pembela Kerajaan itu. Jadi, tidak ada unsur apriori dalam memilih dan menetapi kebenaran, insya Allah. Jika memang benar adanya, mengapa harus ditolak?

Namun, adalah tidak adil menyebut Wahhabi dengan sekali pukul rata. “Pokoke sing berbau Wahhabi disikat ae,” begitu kredonya. Ya jelas, ini bukan lagi diskusi ilmiah, apalagi dialog menuju kesatuan Ummat yang sering didengung-dengungkan oleh eramuslim.com sendiri. Dan sungguh tidak berbudi kita mengingkari jasa-jasa dakwah Salafiyah (Wahhabi menurut sebagian yang lain). Cukuplah sikap hormat dan kerjasama yang pernah ditunjukkan oleh M. Natsir rahimahullah kepada Kerajaan Saudi di masa Malik Faishal dulu sebagai bukti, bahwa orangtua-orangtua kita bersikap bijaksana kepada mereka. Meskipun tidak lantas menelan mentah-mentah segala yang “made in” Saudi.

Eramuslim.com kan aktif menulis data-data seputar kemuliaan Buya M. Natsir rahimahullah, mengapa tidak bisa bersikap bijak seperti beliau? Sikap permusuhan yang “no compromise” kepada sesama Muslim adalah sikap yang sangat serius. Anda kelak akan berhadapan dengan Allah karena sikap seperti itu. Sikap bara’ muthlaq hanya berlaku bagi kaum kafir harbi yang jelas-jelas kafir dan memusuhi Islam. Termasuk di dalamnya pelaku bid’ah mukaffirah yang mengeluarkan pelakunya dari Islam, kemudian mereka memerangi Ahlus Sunnah dengan segala daya yang mereka miliki. (Contohnya, regim Syi’ah Itsna Asyari yang saat ini berkuasa di Iran. Fakta-fakta kekejaman regim Revolusi Syiah Iran sudah tidak bisa ditutup-tutupi lagi. Bayangkan, komunitas Ahlus Sunnah di Iran di masa Reza Pahlevi cukup kuat di Iran, tetapi saat ini terbabat habis, tokoh-tokoh Muslim Sunni disana dibunuhi sampai punah).

Disini setidaknya saya ingin mengemukakan beberapa fakta dan pandangan, sebagai berikut:

  • Wahhabi bukanlah paham baru. Ia sifatnya merevitalisasi konsep pemahaman yang pernah dibangun Ibnu Taimiyyah dan murid-muridnya. Intinya sederhana saja: Kembali kepada nilai murni dua kalimat Syahadat. Pemahaman tauhid anti syirik adalah aplikasi dari “Laa ilaha illa Allah”; sedangkan menetapi Sunnah anti bid’ah adalah realisasi kalimat “Muhammad Rasulullah”. Apa yang aneh dari konsep Syahadat ini? Apakah Syahadat sesuatu yang asing bagi seorang Muslim? Kalau kemudian di jajaran ulama Wahhabi dan pengikutnya ditemukan berbagai sikap-sikap yang tidak proporsional, maka ia tidak boleh mementahkan fundamental ajaran Wahhabi sendiri, yaitu: kembali ke Dua Kalimat Syahadat.
  • Baca entri selengkapnya »

Saiful Mujani dan Mesin Politik

Mei 14, 2009

Tadi malam, dalam acara “Suara Anda” di MetroTV, muncul kejadian yang unik. Seorang pimpinan PKS tampak adu mulut sengit dengan Saiful Mujani dari LSI. Begitu sengitnya sampai Desi Alwi sebagai presenter terpaksa memotong adu mulut itu dan mempersilakan mereka meneruskan diskusi secara off air.

Dalam acara di atas tokoh PKS menampakkan sikap sandiwara dengan pura-pura “marah besar” dengan sikap SBY yang mencalonkan Boediono sebagai Cawapres. Menurut tokoh itu, dengan dilpomasi berbelit-belit, sosok Boediono susah diterima karena banyak pihak resisten kepadanya.

Namun Saiful Mujani menolak pandangan itu. Dia mengatakan, bahwa yang menolak Boediono hanya tokoh PKS itu saja. Buktinya, pimpinan PPP, PKB, dan PAN merasa oke-oke saja dengan Boediono. Tetapi ingat Saudara Mujani, yang namanya Ummat Islam itu bukan hanya elit-elit politik Muslim yang bobrok moral itu, tetapi juga masih banyak yang lain. Apalagi yang berada di luar partai politik dan Parlemen. Kalau Anda tanya kalangan Islamis selain PKS, mereka sudah mual-mual sejak dulu melihat sosok Boediono Cs.

Kita hanya merasa heran dengan Saiful Mujani. Dia diundang MetroTV sebagai pengamat dari lembaga surve netral, Lembaga Surve Indonesia (LSI). LSI ini berbeda dengan Lingkaran Surve Indonesia yang singkatannya juga LSI yang dipimpin doktor Yanuar, Phd. Sebagai pengamat, seharusnya dia bersikap netral, tidak berpihak. Kalau berpihak, ya tunjukkanlah sikap yang cantik, agar tidak terlalu menyolok. Ini lain, Saiful Mujani sampai beradu mulut. Saiful Mujani itu mewakili siapa? Apakah dia mewakili “partai LSI”? Sangat tidak etis, direktur lembaga surve bersikap seperti elit partai. Berarti, LSI selama ini telah menipu masyarakat, dong? Dia mengaku lembaga netral, tetapi nyatanya partisam juga.

Bahkan sangat menarik, Saiful Mujani sampai tahu bahwa orang PKS itu mencalonkan Hatta Rajasa sebagai pendamping SBY, jika usulan sosok Hidayat Nur Wahid tidak diterima. Lho, darimana Saiful Mujani tahu? Informasi itu tidak disebar secara terbuka, tetapi Saiful tahu juga. Berarti, ada yang memberitahunya, yaitu kalangan internal elit Demokrat. Jika demikian, berarti Saiful dan LSI bukan orang luar bagi Demokrat, tetapi bagian dari mesin politiknya.

Hal ini menjawab sebuah misteri selama ini. Pada mulanya citra SBY buruk di mata masyarakat melalui banyak faktor, khususnya kenaikan BBM. Tetapi kemudian citranya membaik dengan munculnya surve-surve yang dibuat oleh LSI Saiful Mujani ini. Orang pun bertanya, who is man behind LSI? Dengan adu mulut yang keras di forum MetroTV itu, terjawab sudah siapa penopang LSI selama ini.

LSI tidak layak disebut sebagai lembaga surve, tetapi lebih tepat disebut sebagai: Lembaga Support Image. Satu prinsip besar hilang dari lembaga itu, yaitu independensi atau netralitas. Ke depan, kalau ada hasil surve dari LSI Saiful Mujani, kita harus berpikir seribu kali untuk mempercayainya.

Bandung, 14 Mei 2009.

AMW.


PKS, Kami Sudah Mengingatkanmu

Mei 14, 2009

Kini saatnya kita benar-benar ingin berbicara sepenuh hati kepada PKS. Ini adalah momentum besar bagi PKS untuk memperbaiki kerja politiknya. Saya menyarankan, “Akhi, kini muncul momentum besar bagi Anda sekalian untuk menyelamatkan perahu politik Anda. Selamatkan partai Anda, masa depan Anda, sebelum yang terburuk akan melanda partai Anda!”

Sebagaimana kita telah sama-sama ketahui, PKS bereaksi tegas terhadap sikap politik Demokrat yang memilih Cawapres, Boediono, Gubernur Bank Indonesia. PKS juga bereaksi keras terhadap rencana Demokrat mengundang PDIP masuk ke barisan koalisi mereka selama ini. Dibandingkan PPP, PAN, dan PKB, maka PKS adalah satu-satunya partai Islam yang bereaksi keras terhadap agenda SBY dan Denmokrat itu.

Akhi…jujur saja saya mengatakan, sikap Anda selama ini telah membuat kesal, marah, dan benci kalangan Islamis di Indonesia yang jumlahnya sangat banyak. Mereka mempertanyakan sikap Anda, kesalahan manuver Anda, serta komitmen Anda kepada misi perjuangan Islam. Termasuk kondisi pasca Pemilu April 2009 yang menempatkan partai Anda di posisi ke-4, dengan perolehan suara sekitar 8 %.

Banyak kalangan Islamis bertambah-tambah skeptis melihat manuver partai Anda yang begitu lunak kepada kekuasaan, dan sepertinya kehilangan “kepekaan” untuk menunjukkan determinasi Anda sebagai partai moralis dan harapan Indonesia baru. Dengan sikap-sikap yang Anda tunjukkan selama ini, banyak yang meyakini, partai Anda akan tenggelam di masa nanti. Maksudnya, jati diri partai Anda yang mengikatkan diri dengan Islam akan berakhir, lalu menjadi karakter partai sekuler seperti pada umumnya.

Nah, kini partai Anda sedang diperhatikan oleh Ummat Islam se-Indonesia. Kalangan Islamis cemas hatinya melihat sikap Anda ke depan. Mereka tidak menyangka bahwa Anda masih memiliki sisa-sisa sikap ketegasan. Dan satu lagi yang penting, Anda masih bersikap rasional terhadap masa depan partai Anda. Jika Anda membiarkan diri masuk dalam “skenario politik” Demokrat, dengan dalih diplomasi apapun, yakinlah Anda tidak akan memiliki masa depan apapun. Sikap politik Demokrat ibarat pusaran air yang bisa menenggelamkan siapa saja.

Ini adalah momentum Anda untuk menyelamatkan partai Anda! Ini adalah RIZKI tidak terduga yang tiba-tiba hadir di depan Anda. Raihlah rizki ini, pegang kuat-kuat, jangan dilepaskan. Jika Anda pegang, partai Anda insya Allah akan selamat; jika dilepaskan, sungguh masa depan Anda nanti hanyalah ucapan sayonara

Sayuti Asyathiri, salah satu Ketua DPP PAN beberapa waktu lalu mengatakan: “PAN sebaiknya jangan berkoalisi dengan Demokrat, tetapi berkoalisi dengan kubu perubahan. Jika kita menang dalam Pilpres, bisa membangun pemerintahan yang lebih baik. Tetapi kalau kalah, tidak apa-apa. Itu adalah investasi politik yang bagus untuk masa depan PAN nanti.” Kurang lebih seperti itu.

Saya menyarankan, ikutilah pandangan di atas, meskipun kemudian ternyata PAN tidak mampu menetapi jalan tersebut. Lebih baik PKS melakukan investasi politik ke depan, daripada bergabung dengan Demokrat. Pemilu April 2009 dengan segala ketidak-becusannya telah mendelegitimasi prospek politik Demokrat sendiri. Meskipun suatu ketika SBY menang dalam Pilpres, maka di hati jutaan masyarakat ada “gores luka” yang sangat sulit sembuhnya, karena pelaksanaan Pemilu April 2009 yang penuh masalah itu. Mendukung Demokrat, tak ubahnya dengan ikut melegitimasi pelaksaan Pemilu April 2009 yang digugat oleh banyak kalangan itu.

Ya, ini sekedar saran. Boleh diikuti, boleh juga diabaikan. Sejujurnya, dalam segala sikap kritis saya selama ini ke PKS, masih ada nuansa harapan agar partai ini menjadi lebih baik di masa ke depan. Ummat Islam tentu akan sangat berterimakasih kalau ada tenaga-tenaga politisi Muslim yang komitmen membela urusan Ummat. Siapa lagi yang secara formal harus membela, kalau bukan Anda sekalian.

Secara pribadi saya berjanji, jika Anda peduli dengan masa depan partai Anda, dan tidak menjual-belikannya dengan harga murah, hanya dengan kompensasi jabatan tertentu, insya Allah saya akan membersihkan blog ini dari tulisan-tulisan yang bersifat mengkritisi PKS.

Sekali lagi ya Akhi: “Selamatkan masa depan partaimu! Ini adalah momentum besar yang tidak akan terulang lagi. Selamatkanlah partaimu, atau kita nanti akan menangis bersama-sama meratapi hilangnya salah satu perahu politik pembela Ummat, ketika Anda lebih tertarik dengan kue kekuasaan.”

Alhamdulillah Rabbil ‘alamiin.

Bandung, 14 Mei 2009.

AM. Waskito.

Catatan: Tulisan ini ditulis sebagai bukti bahwa dalam hati kami (setidaknya saya) semula masih ada harapan kebaikan bagi PKS. Namun setelah acara deklarasi pasangan SBY-Boediono di Sabuga ITB, 15 Mei 2009, sekitar pukul 20.00 WIB. Maka harapan itu pun kandas. Harapan hanya harapan, PKS lebih mencintai kekuasaan daripada misi perjuangan Islam. Itu pun cara-caranya sangat tidak elok. Biasa, memakai cara ANCAMAN untuk mendapatkan jatah kekuasaan yang lebih basah. Ya, begitulah. Tulisan ini sengaja dipertahankan, tidak dihapus, agar kaum Muslimin tahu, bahwa: Kami semula masih berbaik harapan kepada PKS!!!


Politisi Muslim Bobrok Moral

Mei 13, 2009

Indonesia hari ini benar-benar tidak memiliki satu pun partai yang berkarater Islami, semuanya oprtunistik, menghamba kekuasaan, dan miskin rasa malu. Sungguh sangat disayangkan, perhelatan politik yang sangat melelahkan, menguras dana, dan penuh resiko itu, ternyata hanya diarahkan untuk memenuhi hawa nafsu kekuasaan belaka. Banyak sekali sisi-sisi mengerikan dari perilaku elit politik Muslim akhir-akhir ini.

Ada partai yang semula ikut dalam koalisi golden triangle, sebagai barisan oposisi. Begitu suara jeblok dan partai penguasa menang, dia tanpa malu mendekat ke kekuasaan. Demi kekuasaan, mereka rela mengalami konflik di tubuh partainya sendiri. Pihak yang pro kekuasaan di tubuh partai itu tanpa tedeng aling-aling mengatakan, bahwa mendekat ke partai pemenang adalah pilihan paling rasional bagi partai itu.

Di lain kesempatan, partai lain dikenal Reformis. Malah sejarah Reformasi dikaitkan dengan keberadaan partai itu. Tetapi hanya gara-gara ditawari posisi politik tertentu, mereka pun mau, dan secara dramatik mengubah haluan politiknya. Ada juga partai tertentu yang “tidak pernah mikir” sama sekali. Baik partainya kalah, atau menang, selalu setia mendekatkan diri ke penguasa. Nanti kalau penguasa ganti, dia akan mendekat juga dengan alasan, “Ini sesuai petunjuk kyai khos.” Lho, kok kyai khos identik dengan kekuasaan, siapapun dirinya? Bagian mana khos-nya?

Di media-media, rasanya mual sekali mendengar komentar elit-elit partai Islam itu. Mereka benar-benar sangat murah menjual kehormatan Islam. Sebagian komentarnya, sebagai berikut:

[-] Seorang Menteri dari partai Islam ertentu, dia mengatakan, bahwa mendekat ke Demokrat adalah pilihan rasional bagi partainya.

[-] Seorang sesepuh partai basis Muslim, di Yogya dia mengatakan, bagaimanapun Demokrat adalah pemenang Pemilu, maka demi masa depan partai, mereka harus mendekat ke Demokrat. Begitu ngeyelnya, sampai dia membuat pertemuan liar di rumahnya sendiri, tanpa restu DPP. Dalam pertemuan itu, duduk paling depan, seorang politisi yang suka berjualan identitas “mantan tapol Orde Baru”.

[-] Seorang Ketua DPP partai Islam tertentu, di TV dia berkali-kali mengatakan, “Koalisi di Parlemen harus kuat, agar nanti terbentuk pemerintahan yang kuat, agar bisa melayani masyarakat.” Berulang-kali orang ini mengatakan “pemerintahan yang kuat”. Terus-terang dongkol sekali hati melihat pernyataan bapak itu. Masalahnya, kalau pemerintahan yang kuat benar-benar melayani rakyat, it’s okay. Kita sangat mendukung. Tapi masalahnya di Indonesia ini, pemerintahan yang kuat itu sering kali kuat juga korupsinya.

[-] Seorang Ketua DPP partai basis Muslim. Dengan tanpa malu, dia mengharapkan agar koalisi Golkar-Hanura bisa menjadi oposisi yang kuat di Parlemen nanti. Sementara saat yang sama, partai dia berkoalisi dengan partai pemerintah (SBY). Kok bisa-bisanya, dia mengharapkan orang lain jadi oposisi yang kuat, sementara dia menjadi teman koalisi partai penguasa? Pernyataan “Si Karding” ini benar-benar puncak kemunafikan elit politik Muslim. Dia ingin asyik-masyuk dengan partai penguasa, dan tidak mau diganggu partai lain. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

[-] Seorang elit partai basis Muslim. Dia mengatakan, biar saja nanti terbentuk pemerintahan yang kuat yang didukung oleh koalisi Parlemen yang kuat. Baginya, kekuatan oposisi itu tidak perlu, sebab selama ini toh sistem oposisi juga tidak jelas. Ya Allah, kalau memang begitu Dul, sudah saja tidak perlu ada Pemilu, tidak perlu mendirikan partai politik macam-macam. Sudah saja buat satu partai, yaitu partai pemerintah absolut. Tidak perlu ada kontrol, tidak perlu ada penyeimbang, biar nanti muncul lagi tirani seperti jaman Orde Baru dulu. Sangat, sangat mengerikan. Betapa bobrok moral elit politik seperti itu.

Ya, ini baru sebagian dari suara-suara mengerikan elit-elit politik Islam/Muslim. Mereka benar-benar rendah moral, rendah komitmen, dan menghamba kekuasaan. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Begitu hinanya para elit politik Islam, sampai keluar pernyataan dari Ahmad Mubarak. Kata dia, partai-partai Islam dijamin tidak akan keluar dari koalisi dengan Demokrat. Penolakan mereka ke figur Boediono hanyalah olah-raga politik saja. Lihat pernyataan Mubarak, “Partai Islam butuh butuh genit sedikit untuk dekati PD. Nggak apa-apalah, itu olah raga politik, bagi atlet politik itu hal biasa saja.” Sungguh, tidak ada penghinaan yang serendah itu dalam politik.  Dan dijamin elit-elit partai Islam tetap “cinta” ke Partai Demokrat, meskipun sudah dihina-hina. Yakinlah, elit partai Islam mau dihina lebih dari itu, asal tetap dapat kue kekuasaan.

Tidak pernah terbayangkan, betapa bobroknya kenyataan ini. Dulu pemimpin-pemimpin Muslim tidak mengenal sikap-sikap amoral politik seperti di atas. KH. Agus Salim, Mr. Kasman Singodimedjo, Ki Bagus Hadikoesoemo, M. Natsir, Syafruddin Prawiranegara, Burhanuddin Harahap, Prawoto Mangkoesasmito, KH. Isa Anshari, Prof. HM. Rasyidi, Buya Hamka, KH. AR. Fakhruddin, dll. Begitu pula dengan tokoh ulama, A. Hassan, Hasbi Asshiddiqy, Munawar Chalil, dan lainnya. Tidak ada sama sekali yang bersikap amoral (politik), menjual agama dengan harga murah, memutar-mutar lidah untuk menjilati kue kekuasaan, tidak ada, tidak ada.

Baru di jaman ini ketika ilmu telah runtuh, iman sudah hancur, manusia dipandu dengan selera birahi, makan enak, mobil mewah, rumah megah, rekening miliaran,  serta hobi senang-senang. Saat itulah citra Islam menjadi hancur oleh moral bobrok para politisi Muslim sendiri. Ya Allah ya Rabbi, jika semua ini dibiarkan, sungguh sebentar lagi bangsa ini akan diadzab dengan sesuatu yang lebih memilukan dari Tsunami Aceh kemarin.

Dalam Al Qur’an:

Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.”  (Surat Al-An’am (6) : 44).


MENGAPA BISA TERJADI?

Kita masih ingat betapa beraninya Buya Natsir rahimahullah dan kawan-kawan ketika menentang sikap otoriter Soeharto melalui Petisi 50. Padahal waktu itu, Soeharto sedang jaya-jayanya. Siapa berani melawan Soeharto ketika itu? Itulah masa-masa keteladanan para tokoh Muslim Indonesia. Saat ini sudah tidak ada lagi yang serupa itu. Semua tinggal mimpi belaka. (Ampuni aku ya Rabbi jika aku berlebih-lebihan di hadapan-Mu, ampuni aku ya Ghafuur).

Lalu sekarang, mana ada elit politik Muslim yang bisa dibanggakan? Keberanian tidak, ilmu tidak, kreatifitas  jenius tidak, pembelaan publik tidak, solidaritas sosial tidak, dan sebagainya. Kami ini anak-anak muda merasa sangat sedih. Dengan ilmu seadanya, dengan keberanian pas-pasan, akhirnya harus banyak bicara. Seharusnya, elit-elit Muslim itu yang mengambil amanah ini, sebab mereka lebih mapan dari kami dari sisi ilmu, wawasan, gelar akademik, akses media, kekayaan, kematangan keluarga, relasi, dan sebagainya.

Tapi memang, semua ini karena kesalahan kita juga. Kaum Muslimin tidak memiliki sistem yang baik untuk melahirkan pemimpin. Pemimpin di mata kita sekarang kriterianya sangat sederhana yaitu: TERKENAL atau POPULER. Siapapun yang populer dan terkenal, dia bisa dielu-elukan sebagai pemimpin Muslim. Media beramai-ramai mengagung-agungkannya. Akhirnya, masyarakat mendaulat dia sebagai pemimpin kharismatik.

Dengan cara begitu, mungkinkah akan lahir pemimpin yang mumpuni? Mustahil. Unsur popularitas tidak pernah dihitung dalam kepemimpinan Islam. Kata sebagian ulama, kriteria pemimpin itu: Qawiyun ‘amin (kuat dan terpercaya), atau hafizhun ‘alim (pandai menjaga dan berpengetahuan luas), atau bastha-tan fil ilmi wal jism (kekuatan ilmu dan fisik). [Catatan: kriteria terakhir merupakan penggabungan dari dua kriteria sebelumnya].

Ke depan saya menyarankan, mari kita perbaiki cara kita menokohkan seseorang sebagai pemimpin. Cara yang penuh basa-basi, ewuh pakewuh, dan menonjolkan aspek popularitas, harus disingkirkan sejauh-jauhnya. Cara seperti itu akan “membunuh Ummat” kita sendiri.

Wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.



Fakta Menarik Seputar BABI

Mei 7, 2009
babi3

Don't touch it, you are safe !!!

Masyarakat dunia kini sedang ramai membicarakan babi. Setelah sebelumnya dunia heboh oleh wabah flu burung (avian influenza), kini muncul flu babi yang tak kalah ganasnya. Ratusan korban sudah berjatuhan (tewas) di Meksiko, Spanyol, Amerika, dan lainnya. Menurut WHO, flu babi sudah menyebar ke lebih dari 30 negara. Endemi yang paling parah terjadi di Meksiko. Virus H1N1 yang bersarang di tubuh babi, ketika menyerang seseorang bisa berakibat.

Endemi flu babi semakin memperpanjang daftar penyakit-penyakit yang bersarang di tubuh hewan. Sebelumnya sudah terkenal penyakit flu burung dengan virus H5N1-nya. Di Inggris pernah popular penyakit Mad Cow (sapi gila) yang ditularkan dari sapi, di Indonesia sudah masyhur penyakit DBD yang disebarkan melalui nyamuk Aides Aigepty, tau jaman dulu ada Malaria dengan nyamuk Anopeles, rabies pada anjing, virus Antrax pada burung onta, dan lain-lain. Belum lagi yang dianggap tradisional, bulu kucing dan penyakit Asma, serta kotoran kuda dengan penyakit Tetanus-nya.

Sejak kasus flu babi menyebar, peternakan babi, industri berbahan material babi, perdagangan babi, kuliner babi, dan lain-lain terpukul. Banyak yang menjauh dari urusan babi, karena takut mati. Di bandara, pelabuhan, atau pintu-pintu perbatasan, tempat keluar-masuk arus migrasi dari satu negara ke negara lain, diterapkan aturan ketat untuk membatasi penyebaran flu babi. Sampai disana dipasang detektor khusus untuk memindai orang-orang asing yang menderita flu atau tidak.

Tapi tulisan ini tidak bermaksud membahas flu babi. Ada materi lain yang sangat menarik untuk dicermati. Di seputar keberadaan babi, ternyata banyak fakta-fakta menarik yang selama ini luput dari perhatian kita. Mumpung perhatian sedang tertuju ke binatang yang dalam bahasa Inggris dikenal sebagai pig atau pork, dan dalam bahasa Arab dikenal sebagai khinzir ini.

Sebelum kita bahas, mohon perhatian arahkan ke satu persoalan berikut: “Mengapa Islam mengharamkan daging babi?

Mohon jangan menjawab, “Karena daging babi mengandung telur cacing pita.” Di masyarakat sendiri sudah lama beredar bantahan seperti ini, “Kalau babi haram karena cacing pita, maka jika ia dimasak dalam suhu yang sangat panas (misalnya di atas 500 º C), telur-telur cacing pitanya pasti mati.” Masalahnya, kalau suhunya kepanasan, nanti dagingnya akan gosong. Lalu siapa yang mau makan daging gosong seperti areng?  Tetapi masalahnya, di jaman Nabi Saw belum mengenal masalah cacing pita. Tidak mungkin Syariat Islam menghukumi sesuatu dengan alasan yang baru muncul ribuan tahun kemudian (di jaman kita).

Baiklah, tahan dulu alasan-alasan Anda! Mari kita telusuri sebagian fakta seputar babi. Semoga bermanfaat dan menjadi inspirasi menyegarkan! Amin. Hanya Allah Ta’ala, Rabb yang layak dipuji dan diagungkan Kesucian-Nya.

Berikut beberapa fakta seputar babi:

[o] Al Qur’an jelas telah mengharamkan memakan daging babi. Hal itu dapat dilihat pada Surat Al Baqarah 173, Surat Al Maa’idah 3, Surat Al An’aam 145, dan Surat An Nahl 115. “Diharamkan atas kalian memakan bangkai, darah (yang mengalir), daging babi, dan apa saja yang disembelih atas nama selain Allah.” (Al Maa’idah: 3). Jadi, tidak diragukan lagi bahwa daging babi adalah HARAM.

Baca entri selengkapnya »


Frank Ribery dan Pemain Bola Profesional

Mei 7, 2009
Berdoa Menjelang Kick Off

Berdoa Menjelang Kick Off

Sesekali kita bicara tentang olah-raga. Yang menarik, bicara olah-raga paling populer di dunia, foot ball. Kali ini langsung saja menukik ke satu kasus aktual. Media-media olahraga Eropa sempat ramai memberitakan keinginan Frank Ribery, pemain bertalenta tinggi asal Perancis, bahwa dia akan pindah dari Bayern Munich. Baik manajemen Munich maupun Ribery sendiri sudah berkali-kali menepis isu tersebut, tetapi isu tetap menyebar. Maklum, banyak klub-klub besar Eropa sangat menginginkan menarik Ribery masuk tim mereka, seperti Real Madrid, Barcelona, bahkan “raja klub Inggris” Manchester United.

Baru-baru ini Ribery “menggertak” manajemen Bayern Munich. Dia sangat mengharapkan supaya klubnya bisa menjadi peraih gelar Bundesliga Jerman, setidaknya menjadi runner up-nya. Ribery ingin klubnya bisa bersaing menghadapi klub-klub papan atas lain di piala Champions. Kalau Bayern Munich masih tetap sepi prestasi, Ribery akan memilih pindah ke klub lain.

Di mata manajemen Bayern Munich, Frank Ribery memang istimewa. Dia adalah talenta muda yang dianggap kaya dengan pesona. Fisiknya kuat, tendangannya keras, umpannya akurat, sering memberikan assist bagi terciptanya gol. Dan satu lagi adalah kecepatan dan “tarian” Ribery saat membawa bola. Pemain satu ini terkenal sangat tangguh ketika membawa bola, pekerja keras di lapangan, dan bermental kuat.

Ribery memberi warna berbeda dalam tradisi sepak bola Munich atau sepak bola Jerman pada umumnya. Jerman selama ini dikenal unggul dari sisi kekuatan, tembakan keras, benturan fisik, dan sebagainya. Tetapi pemain Jerman sepi dari keindahan permainan bola, dengan “tarian” pemain-pemainnya saat membawa bola. Sejak era Rumanige di tahun 80-an, Jerman tidak lagi memiliki “seniman bola” yang meliuk-liuk luar biasa. Juergen Klinsman, dia semula seorang striker, tetapi bukan ahli men-dribble bola.

Hadirnya Ribery menjadi warna berbeda di kubu Bayern Munich. Sama seperti ungkapan yang pernah disampaikan untuk memuji Zenedine Zidan, “Kalau Zidan membawa bola, maka permainan pun menjadi menarik.” Begitu pula dengan Ribery, kalau dia membawa bola, permainan menjadi enak ditonton.

Bagi kita, satu catatan yang sangat menarik tentang Ribery, yaitu: KOMITMEN-nya kepada Islam. Ribery bukan Muslim biasa. Dia berani berdoa secara ekspressif di tengah lapangan, sebelum permainan bola dimulai. Hal itu mengingatkan kita kepada Muhammad Ali yang selalu ekspresif berdoa, ketika akan mulai bertinju. Kalau banyak pemain Eropa selalu menyilangkan tangan di dada membentuk salib, maka Ribery dengan khusuk berdoa sebagai seorang Muslim. Sikapnya itu banyak mendapat sorotan oleh media dan publik Jerman. Mereka kurang nyaman melihat sikap “fanatik” yang diperlihatkan Frank Ribery kepada agamanya.

Ribery dan Hamid Altintop (pemain dari Turki) pernah membuat geger manajemen Munich, ketika mereka menolak berpose di depan iklan sponsor sambil memegang minuman keras. Bayangkan, mereka menolak melakukan hal itu. akhirnya disepakati, mereka berdua tetap ikut dalam gambar, tetapi sambil memegang trofi Munich.

Kembali ke pernyataan Ribery yang menggertak akan hengkang dari Munich.

Tentu Anda akan merasa heran, “Lho, kok pemain yang menggertak manajemen? Kan biasanya di Indonesia, manajemen yang menggertak pemain? Ya, kalau klub kalah jangan salahkan manajemen, dong! Justru pemain yang harusnya malu, sebab telah membuat klub menjadi kalah.”

Mengapa Ribery malah menggertak manajemen Munich? Mengapa kalau klub tidak sukses, dia malah mengecam manajemen, bukan dirinya sendiri sebagai bagian dari klub? Mengapa Ribery begitu ingin bermain untuk meraih gelar juara di kompetisi piala Champions?

Nah, inilah sebenarnya yang saya tuju sejak semula. Saya ingin mengomentari beberapa pertanyaan di atas. Di Indonesia mungkin kurang lazim kita menyaksikan sikap pemain seperti Ribery. Tetapi dalam pentas klub dunia di Eropa, hal itu sering terjadi.

Perlu Anda ketahui, seorang pemain profesional memang boleh dan layak menggugat klubnya, kalau mereka tidak berprestasi. Maksudnya, pemain sudah maksimal berusaha, mengikuti arahan pelatih, mengikuti strategi yang di-plot sejak awal, dan mereka nurut saja apapun perlakuan klub. Nah, mereka tidak mau kalau pengorbanan itu sia-sia, dengan hasil akhir tanpa juara atau trofi.

Pemain bisa menekan klub. Dalam hal apa? Ya, mereka bisa meminta diberikan pelatih baru yang lebih tangguh, bagus, dan cerdas dalam merancang strategi. Mereka bisa menuntut agar klub membeli pemain-pemain baru yang lebih segar, handal dalam permainan, dan produktif membuat gol. Mereka juga bisa menuntut perbaikan fasilitas, program latihan yang bagus, serta kesejahteraan yang memuaskan. Jadi, kalau ada masalah dengan prestasi, klub bisa disalahkan karena dianggap gagal meramu strategi total.

Kalau di Indonesia, kenyataan seperti di atas masih terlalu jauh. Pihak manajemen klub di Indonesia bisa menjawab kritik pemainnya dengan nada ketus, “Lo sudah sukur ya kami rekrut jadi pemain, kami biayai, makan-minum semua ditanggung. Lo sudah kami gaji mahal. Masih sukur ya lo sudah kami beri macam-macam. Daripada lo nganggur gak jelas, kere, tidak pernah masuk TV. Awas lo mau ngomong macem-macem lagi ya, gue sikat lo.”

Lalu, mengapa Ribery ngotot ingin mendapat gelar juara Champions?

Ini masalah lain lagi. Perlu diketahui, kalau sebuah klub jadi juara, mereka bukan hanya mendapat trofi bergengsi, tetapi juga mendapat hadiah uang dalam jumlah besar. Lha, darimana uangnya? Ya, uang hasil penjualan tiket nonton bola, uang dari penjualan hak siar TV, iklan dari sponsor kompetisi, dari aneka rupa barang, aksesoris, merk, dan lain-lain. Besar sekali uang yang beredar disana. Nah, para pemain klub sangat mengincar gelar juara, sekaligus hadiah uang ini. Saat timnas Spanyol menjadi juara Eropa kemarin, mereka mendapat hadiah sangat besar dari panitia Piala Eropa. Hadiah itu menjadi impian para pemain profesional. Kalau Anda lihat betapa marahnya pemain-pemain itu kalau dirugikan oleh wasit, hal tersebut berkaitan dengan peluang mendapat juara yang bisa hilang akibat kesalahan wasit (atau dugaan kesalahan wasit).

Didier Drogba misalnya. Dia sangat pemarah dan emosional. Pemain dengan kelas dunia, tetapi mental “kelas RT”. Kalau dia marah, bukan hanya soal gaji sebagai pemain yang dia pikirkan. Malah gaji itu sudah beres, tidak perlu diributkan lagi. Tetapi dia marah kalau timnya gagal menjadi juara. Kalau gagal juara, otomatis gagal pula mendapat hadiah uang yang besar.

Inilah dunia, sepak bola profesional Eropa. Mereka memiliki sekian tingkat keahlian bermain bola, wawasan yang canggih tentang sistem kompetisi, manajer urusan bisnis, serta mentalitas sebagai pemain bayaran. Bahkan mereka memiliki manajer tersendiri yang mengurusi masalah promo, penampilan, potongan rambut, dll. Benar-benar profesional. Sulit kita bayangkan dengan situasi “serba seadanya” di Indonesia.

Ya, ini hanya selingan saja. Semoga ada manfaatnya. Minimal biar kita tahu betapa maju dan rumitnya dinamika pemain sepak-bola profesional di Eropa. Hati-hati Pak Ribery dalam bermain bola. Semoga Anda selalu istiqamah dalam Islam. Allahumma amin.

AMW.