Moralitas Negeri Jiran Malaysia

Isu seputar Malaysia tidak hanya menyangkut Manohara. Saat ini kita juga sedang terus mengikuti perkembangan di Pulau Ambalat, perbatasan Indonesia-Malaysia. Sebagaimana sudah banyak diberitakan, berkali-kali kapal laut Malaysia memasuki perairan Ambalat yang selama ini masuk yuridiksi wilayah Indonesia. Begitu gemasnya pihak militer melihat provokasi kapal Malaysia, sampai terlontar ucapan “perang” dari salah seorang perwira AL.

Ternyata, Malaysia bukan hanya bermasalah dengan Indonesia, tetapi juga bermasalah dengan negara-negara tetangganya, seperti Singapura, Filipina, Jepang, juga China. Dapat disimpulkan, negara satu ini memang sedang over acting; merasa jumawa dengan kekuatannya, lalu memandang remeh bangsa lain.

Belum hilang dari ingatan kita ketika Indonesia kehilangan Pulau Siapadan dan Ligitan. Dua pulau itu akhirnya menjadi milik Malaysia, setelah mereka memenangkan perkaranya di Mahkamah Internasional. Bisa jadi, dengan cara yang sama mereka akan mengklaim Pulau Ambalat. Kalau masalah itu dibawa ke Mahkamah Internasional, sangat mungkin Indonesia akan kalah lagi. Malaysia memiliki hubungan baik dengan blok persemakmuran Inggris (Commonwealth). Dengan akses politiknya, Malaysia bisa mengambil Ambalat dari Indonesia.

Di suatu saat nanti, kalau Ambalat sudah terpegang, Malaysia akan mengincar pulau-pulau lainnya. Bisa jadi, Kalimantan, Sulawesi, Halmahera, Ambon, Maluku, dan lainnya nanti akan diklaim oleh Malaysia. Caranya gampang! Pertama, mereka akan membuat peta terbaru versi mereka sendiri; Kedua, mereka akan melakukan provokasi dengan memasuki wilayah Indonesia tanpa ijin, dan hal itu dilakukan berkali-kali; Ketiga, mereka akan terus melakukan aksi sampai masalah itu diangkat ke Mahkamah Internasional di Denhag Belanda; dan keempat mereka akan memanfaatkan posisi politiknya untuk memenangkan perkara.

Malaysia berani bersikap seperti itu sebab di Indonesia memang tidak ada yang berwibawa. Tidak ada yang mereka takuti. Orang Indonesia dianggap bodho-bodho, gampang diapusi. Bahkan mereka percaya bahwa para pejabat dan politisi Indonesia itu sangat mudah dibeli. Dengan diberi sejumlah imbalan tertentu, dijamin semua urusan akan beres. Dan kebetulan, yang ngiler dengan uang ringgit Malaysia dari kalangan bangsa Indonesia sendiri banyak. (Ya maklumlah, di negeri ini sejak lama berlaku prinsip: “Keuangan yang maha kuasa!”).

Masalah dengan Malaysia bukan hanya hari ini, tetapi sejak lama. Kita masih ingat hal-hal sepele seperti lagu Rasa Sayange dan kesenian Reog yang pernah diklaim sebagai local genuine Malaysia. Kemudian kasus kekerasan pada TKW berupa penyiksaan dan pelanggaran hak-hak.

Sejak tahun 2000-an Malaysia sudah bersikap kasar kepada ribuan TKI, khususnya TKI illegal. Saya pernah satu bis dengan seorang mantan TKI illegal di Malaysia. Dia banyak bercerita tentang suka-duka menjadi TKI illegal di Malaysia Timur, sebagai penebang pohon-pohon di hutan. Mereka melakukan kerja-kerja kasar, seperti di hutan, bekerja sebagai kuli bangunan, dan bekerja di perkebunan-perkebunan karet. Rata-rata pekerjaan kasar itu tidak mau ditangani warga Malaysia sendiri. Tangan dan martabat mereka terlalu tinggi untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan kotor. Mereka hanya pantas bekerja dengan gaji besar, di kantor megah, dan menyuruh-nyuruh orang Indonesia.

Para majikan di Malaysia senang dengan TKI illegal. Selain karena mereka mau dibayar murah, para TKI itu sangat tidak terlindungi hak-haknya. Kalau suatu saat terjadi razia KTP (surat kependudukan), banyak TKI illegal terjaring. Setelah itu mereka dipulangkan begitu saja ke Indonesia, dengan cara-cara kasar, tanpa diberi kompensasi kerja sama sekali. Bagaimana akan diberi, wong mereka illegal? Itu pun, harta benda yang telah mereka kumpulkan susah-payah, bisa lenyap diambil petugas-petugas Diraja Malaysia. Hak tidak dipenuhi, diperlakukan kasar dan hina, harta milik mereka juga di-embat juga. Na’udzubillah min dzalik.

Begitu bodohnya bangsa Indonesia, sampai di Malaysia berlaku panggilan khas untuk warga Indonesia: Indon. Panggilan ini sifatnya melecehkan, menghinakan, dan tidak memandang sama sekali martabat orang Indonesia.

Malaysia bukan hanya terkenal sikap zhalimnya kepada para TKI (illegal). Tetapi mereka juga punya andil besar dalam kasus-kasus illegal logging hutan-hutan Kalimantan. Dalam salah satu episode Metro Realitas di MetroTV bertahun-tahun lalu. Disana digambarkan dengan jelas peranan taukek-taukek China berkebangsaan Malaysia. Mereka menjadi bandar kegiatan illegal logging. Ribuan kayu gelondongan besar dipindah ke wilayah Malaysia, baik melalui sungai maupun pintu-pintu perbatasan. Seperti biasa, mereka kong kalikong dengan petugas-petugas korup asal Indonesia di pintu-pintu perbatasan.

Kalau mau jujur. Betapa besar pengorbanan rakyat Indonesia bagi Malaysia. Tahun 70-an, ribuan guru-guru asal Indonesia berangkat ke Malaysia untuk mempercepat proses pemberdayaan SDM disana. Sebagian guru itu ada yang pulang lagi ke Indonesia, sebagian lain menetap disana. Hal ini merupakan salah satu tonggak kemajuan bangsa Malaysia seperti yang kita saksikan saat ini. Sampai saat ini pun, ada ribuan pelajar-pelajar Malaysia yang bersekolah di Indonesia. Salah satunya adalah teman sekelas isteri saya sendiri di jurusan PLB.

Begitu pula, Petronas Malaysia sangat berhutang budi kepada Pertamina. Di awal pembangunannya, Petronas meng-copy paste konsep Pertamina. Dalam segala item administrasi dan manajemen, Petronas mencontoh Pertamina. Dan kini Petronas mencapai kemajuan jauh melebihi Pertamina.

Sekitar tahun 2002, pasca Bom Bali I. Waktu itu saya masuk ke forum diskusi internet yang dikelola Muslim Malaysia. Ketika mereka tahu, bahwa saya berasal dari Indonesia, seketika itu caci-maki dan ofensif dialamatkan ke Indonesia. Mereka menyebut Indonesia sebagai negara teroris yang penduduknya suka melakukan pengeboman. Tetapi ketika kemudian hari media-media massa menyebutkan peranan Dr. Azahari dan Nordin M. Top sebagai pengendali aksi-aksi pengeboman, mereka tidak bisa berkomentar apa-apa.

Banyak catatan gelap ketika kita melihat Malaysia sebagai sebuah bangsa. Di tubuh bangsa ini ternyata banyak sekali masalah. Begitu banyaknya sampai kita sebagai negara tetangga, ikut juga menanggung akibatnya.

Catatan paling buram yang saya ketahui adalah tuduhan Dr. Matahir Muhammad, mantan PM Malaysia kepada rekan sejawatnya, Anwar Ibrahim. Anwar Ibrahim didakwa melakukan tindakan sodomi, sehingga semua reputasi politiknya harus dilucuti dan Anwar dijebloskan ke penjara untuk beberapa lama. Menurut saya, inilah potret paling gelap wajah bangsa Malaysia.

Bisa jadi, Anwar Ibrahim dianggap sebagai antek Amerika yang akan meliberalkan Malaysia, sehingga dia harus dihentikan secepat mungkin. Atau bisa jadi, perbuatan Sodomi itu benar-benar dilakukan Anwar seperti yang dituduhkan. Atau misalnya, Anwar mempunyai reputasi moral kurang baik saat pelesir ke Eropa. Namun masalahnya, sebagai sesama bangsa Malaysia dan sesama pemimpin di negeri Muslim, apa Mahathir Muhammad terlalu bodoh untuk mencari alasan lain yang lebih manusiawi untuk menghentikan gerakan Anwar Ibrahim? Apakah satu-satunya alasan tersisa hanya Sodomi? Mengerikan!

Setahu saya, selama belajar politik dan informasi, belum pernah ada kualitas diplomasi yang serendah tuduhan Mahathir Muhammad itu. Sekalipun Hitler atau George Bush, mereka tidak memakai isu-isu rendah. Mengapa tidak dicari alasan-alasan lain yang tidak berakibat mempermalukan bangsa Malaysia sendiri? Setelah tuduhan itu, citra Mahathir Muhammad pun hancur. Orang ini telah membakar reputasinya sendiri selama pulahan tahun memimpin Malaysia.

Andai Anwar Ibrahim benar-benar melakukan Sodomi, bahkan misalnya kepada 100 orang sekaligus. Misalnya demikian. Tetap saja, harus dicari alasan lain untuk menyalahkan dia. Kalau mengangkat isu sodomi, otomatis akan menghancurkan semua pihak, baik kawan maupun lawan Anwar Ibrahim. Apalagi, dunia sudah tahu, selama puluhan tahun Anwar Ibrahim adalah teman dekat Mahathir Muhammad sendiri. Lho, selama puluhan tahun itu Mahathir kemana saja? Kok dia mau berteman dengan orang yang diduga terlibat praktik Sodomi? Sebegitu rendahkah dia memandang arti persahabatan?

Nah, kasus tuduhan sodomi kepada Anwar Ibrahim ini bisa menjadi gambaran moralitas negeri jiran. Kepada rekan senegara, teman sejawat, sama-sama pemimpin Malaysia, bahkan sahabat dalam satu shaf perjuangan, tetapi sikapnya sangat buruk dan ganas. Lalu apa jadinya sikap mereka kepada warga dan bangsa Indonesia?

Dalam berbagai kesempatan, saya selalu memuji kemajuan pembanguan di Malaysia. Mereka bisa menjadi tuan di negeri sendiri, ketika kita masih susah-payah memaknai arti kemerdekaan bagi bangsa ini. Namun, kemajuan di bidang materi itu tidak diimbangi kemajuan spiritual, sehingga muncul berbagai tontonan ketamakan yang sangat memuakkan. Jangankan pulau, batik, lagu daerah, atau seni, sandal-sandal TKI saja bisa di-embat karena kerakusan diri. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Meskipun secara materi, kehidupan Muslim Indonesia tidak ideal. Semoga Allah Ta’ala senantiasa mengekalkan keimanan, amalan baik, serta ketinggian budi, kepada Ummat Islam di negeri ini. Allahumma amin ya Rahmaan ya Rahiim.

Wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.

Iklan

5 Responses to Moralitas Negeri Jiran Malaysia

  1. Runcing Sadewa berkata:

    ya pak AMW, memang dari dulu malaysia kayak gitu. dan celakanya, orang-orang indonesia tetep aja mau dikayak gitukan. dan mungkin bagi sebagian orang, benar banget kalau “Keuangan yang maha kuasa.” yah, tapi kita tentu berharap semoga saja kita tidak termasuk orang yang celaka, baik karena bodoh, dibodohi ataupun mbodohi.

  2. abu naura berkata:

    …..negeri yang dibatasi oeh wilayah sangat berbeda sekali dengan negeri yang dibatasi oleh aqidah……

  3. ayu berkata:

    Ya tuhan….saya begitu tidak bisa berpikir lebih jernih lagi,bila melihat kelakuan malaysia yang semakin menjadi-jadi terhadap bangsa indonesia yang amat saya banggakan dan sanyangi.Jika selama ini kita sebagai bangsa selalu berusaha mengalah untuk mereka,itu bukan berarti kita lemah tetapi orang yang selalu menganggap negaranya mempunyai power contohnya malaysia,itulah sesungguhnya orang yang terlemah didunia ini karena hanya mempunyai 99% otak yang licik dari 1% sebuah kejujuran yang seharusnya mereka junjung tinggi,bukankah indonesia dan malaysia adalah satu rumpun tapi itu kembali lagi bagi mereka yang masih mengangap dirinya manusia yang berhati mulia bukan berhati penuh kebusukan dengan tampang dan senyum yang manis dan menjanjikan….karena semua itu tak lebih dan tak bukan ada suatu kebohongan besar dari para penjiplak dan perampas harta dari bangsa lain dengan taktik dan strategi yang tak terpuji dimata manusia terlebih lagi dimata Tuhan……sadarlah….

  4. Anonim berkata:

    Malaysia memang dikenal sebagai penyiksa tki/tkw indonesia no wahid selain Arab, tapi bagaimana dengan pemerintah dan penguasa indonesia sendiri. Pemerintahan indonesia terkenal bisa dibeli pakai uang. dan menyengsarakan rakyat lewat undang undang yang nggak ada habisnya. Sepertinya Indonesia butuh d’next Presiden Soeharto yang lebih diktator dan bertangan besi buat kaum elite dan lebih ramah kepada rakyat jelata. Mahasiswa harap hentikan demo demo mu yang merusak pembangunan, butuh berapa banyak uang pajak lagi untuk memperbaiki kerusakan yang kalian timbulkan, yang seharusnya bisa digunakan untuk mengejar ketinggalan dari negara maju lain. ck..ck..ck..negaraku indonesia…peru tangan Tuhan yang kuat untuk memulihkanmu

  5. Fulan2 berkata:

    kasihan….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: