Shalat SHUBUH Kita ‘Kecepetan’

Sebuah informasi sangat mengejutkan saya baca di majalah Qiblati (link-nya ada dalam blog ini) edisi terbaru. Disana ada sebuah artikel berjudul, Salah Kaprah Waktu Subuh (Bag. I): Fajar Kadzib dan Fajar Shadiq. Tulisan ini ditulis oleh seorang ulama dari Makkah yang menjadi narasumber Qiblati, Syaikh Mamduh Farhan al Buhairi.

Singkat kata, Syaikh Mamduh dan redaksi majalah Qiblati pernah melakukan perjalanan pagi, sebelum Subuh, di Malang Jawa Timur. Saat di perjalanan terdengar kumandang adzan Subuh. Awak Qiblati ingin berhenti di sebuah masjid untuk Shalat Subuh. Namun Syaikh Mamduh tidak suka, sebab menurut beliau saat itu belum masuk waktu Subuh. Dalam pandangan beliau yang juga memang mengerti masalah-masalah ilmu Falak, adzan Subuh yang baru dikumandangkan itu (dan adzan semisalnya) terlalu cepat dari waktu Subuh semestinya.

Untuk memastikan pandangannya, Syaikh Mamduh Farhan menulis tulisan berseri tentang penentuan waktu Shalat Subuh itu. Kebetulan yang baru dimuat oleh Qiblati baru bagian 1. Pihak redaksi Qiblati mewanti-wanti, agar para pembaca tidak buru-buru mengambil kesimpulan sebelum tuntas membaca artikel tersebut. Dan insya Allah seri tulisan selanjutnya akan muncul di Qiblati. Semoga! Allahumma amin.

Dari tulisan yang sudah dimuat, Syaikh Mamduh menjelaskan bahwa banyak negara-negara Muslim yang waktu Shalat Subuhnya terlalu cepat (baca: kecepetan). Kata beliau, rata-rata kecepetan 9 sampai 28 menit sebelum waktu Subuh yang semestinya. Untuk Indonesia sendiri: kecepetan 24 menit. Hal ini bisa dilihat di artikel tersebut, di halaman 31-35. Sekali lagi, WAKTU SHALAT SUBUH KITA SELAMA INI KECEPATAN 24 MENIT.

Atas informasi ini saya merasa takjub sekaligus heran dengan kenyataan selama ini. Apa benar Shalat Subuh kita kecepetan ya? Kalau benar, wah bagaimana status shalat tersebut? Oke-lah, Allah akan memaafkan orang yang khilaf atau tidak tahu, tetapi bagaimana dengan Shalat Subuh kita selanjutnya?

Terus terang, saya menemukan sebuah bukti yang memperkuat pandangan Syaikh Mamduh di atas. Di komputer saya selama ini memakai penunjuk waktu yang dikeluarkan oleh situs IslamWay.com. Setiap masuk waktu shalat, secara otomatis terdengar adzan. Rujukan waktu sudah saya setting sesuai wilayah Bandung. Dalam software itu kota-kota di Indonesia banyak yang telah tercover, termasuk Bandung. Oh ya, rujukan penunjuk waktu shalat ini mengikuti Liga Muslim Dunia (World Muslim League). Ternyata, untuk waktu-waktu selain Subuh, kumandang adzan hampir bersamaan dengan waktu adzan di Indonesia. Kalau beda, mungkin beda beberapa menit saja. Tetapi untuk Subuh bedanya sekitar 25 menit, seperti yang disebutkan Syaikh Mamduh itu.

Dalam tulisannya Syaikh Mamduh menjelaskan, bahwa tiba waktu Subuh adalah ketika terbit FAJA SHADIQ (fajar sebenarnya). Saat itu di cakrawala telah muncul semburat terang secara merata. Bahkan indikasinya: jalan-jalan mulai tampak jelas (dengan asumsi tidak ada penerangan lampu di jalan). Adapun selama ini banyak orang mengira FAJAR KADZIB (fajar bohong) sebagai pertanda telah masuk waktu Subuh. Tanda fajar kadzib, di cakrawala tampak cahaya terang hanya di bagian tertentu saja. Namun cahaya terang itu hanya sebentar, kemudian ia akan hilang lagi. Sementara kalau fajar shadiq, ia akan terus terang, sampai matahari benar-benar terbit.

Kalau disuruh memilih, saya setuju dengan pandangan Syaikh Mamduh dan ingin mengubah orientasi waktu Shalat Subuh kami selama ini. Sebab selama bertahun-tahun saya menyaksikan perbedaan antara waktu Shalat Subuh kita dengan software adzan yang dikeluarkan oleh IslamWay.com itu. Kalaulah saya keliru men-setting waktu di komputer, pasti selisihnya tidak lama. Paling hanya beberapa menit saja. Tetapi perbedaan selama ini yang saya ketahui ya sekitar 25 menitan itu. Masak untuk waktu-waktu shalat lainnya hampir bersamaan, tetapi untuk waktu Shubuh telat sedemikian lama?

Namun karena ini memang menyangkut kepentingan kaum Muslimin se-Indonesia, ada baiknya majalah Qiblati bersedia membeberkan masalahnya secara panjang-lebar. Biar masyarakat lebih tahu. Kalau perlu lakukan diskusi dengan aparat-aparat keagamaan di Indonesia. Ya, untuk sharing informasi. Akan lebih baik, kalau masalah penentuan waktu Shubuh ini bisa dikupas dalam sebuah seminar nasional.

Implikasi persoalan ini sangat besar. Tidak ada salahnya kita buka pintu-pintu dialog seluas mungkin untuk sampai di titik kesimpulan akhir. Melalui tulisan ini saya sengaja ingin mengangkat masalah ini agar menjadi perhatian publik Muslim Indonesia. Bagaimana kalau kita sungguh-sungguh mencari titik final penentuan waktu Shalat Subuh ini? Sebab kalau selama ini memang shalat kita kecepatan dari waktu sebenarnya, bisa dibayangkan betapa besar kerugian yang menimpa kaum Muslimin selama ini.

Saya sangat menyarankan agar Qiblati mempercepat publikasi terhadap tulisan-tulisan berseri itu, lalu Qiblati memprakarsasi seminar nasional tentang penentuan waktu Subuh. Ini sungguh sangat penting dan urgen sekali bagi kaum Muslimin Indonesia. Harap tahu saja, waktu Subuh itu nanti ada kaitannya dengan puasa Ramadhan yang akan menjelang beberapa bulan lagi.

Demikian yang bisa disampaikan. Semoga ada upaya kesungguhan dari Ummat untuk berdialog mencari kebenaran; jika kemudian ternyata kesalahan ada di pihak kita, ya harus ada sikap legowo untuk melakukan koreksi. Mohon maaf atas segala khilaf dan kekurangan.

Wallahu A’lam bisshawaab.

Bandung, 5 Juni 2009.

Abu Muhammad Waskito.

Iklan

45 Responses to Shalat SHUBUH Kita ‘Kecepetan’

  1. pitaxxx berkata:

    assalam..ya itu betul cuman sayang pemerintah belum bertindak secara tegas..
    waktu zaman imam syaf’i dibaghdad pernah sehabis shalat maghrib langsung shalat isya…
    nah dizaman rasul tidak ada jam sperti sekarang..jdi bisa2 kita saja lagi…makax ta’mir mesjid harus lah setelah adzan tunggu dulu krang lebih 10 menit baru iqomat..
    salam kenal ^^
    kunjungan balik sangat diharapkan

  2. fery berkata:

    Ustadz, setahu ana dulu Ustadz Zaitun juga pernah ingin mengadakan diskusi dengan tokoh-tokoh agama berkaitan dengan waktu solat. Waktu itu ana mendengarnya pas beliau mampir ke jogja. Cuma ana gak tahu apakah hal tersebut sudah dilakukan.

  3. abisyakir berkata:

    @ Fery.

    Ya, alhamdulillah, baguslah kalau sudah ada upaya ke arah sana. Memang ana tidak bisa berkomentar banyak, soalnya tidak ahli di bidangnya. Tapi meluruskan kesalahan -kalau ada demikian- soal Shalat Shubuh jelas penting. Kalau shalat dilakukan sebelum waktunya -andai demikian- teramat banyak kebaikan-kebaikan Ummat yang hilang. Bisa jadi, hal itu menjadi salah satu sebab kelemahan Ummat Islam di Indonesia.

    Hei Akhi, bagaimana soal facebook-nya? Sudah dapat informasi belum? Ditunggu ya… Jazakallah khairan katsira.

    AMW.

  4. M. Harisman berkata:

    Shalat Shubuh kita TIDAK Kecepatan
    =================================

    Harus dilihat dulu, konvensi mana yang dipakai untuk penentuan Fajr/Shubuh dan Isya’.

    Kalau software Adzan-nya di set dengan konvensi ISNA (15 degree untuk Fajr), maka tentunya konvensi EGOS (19.5 degree untuk Fajr) akan dianggap kecepatan.
    Contoh, untuk Shubuh hari ini di Bekasi Timur, ISNA = 04:55, sedangkan EGOS = 04:36. Berbeda 19 menit.

    Pemilihan konvensi adalah didasarkan letak geografis dan mazhab yang dianut, dan tentunya sudah dipertimbangkan oleh ahli-ahli Ilmu Falaq di Depag, MUI, serta konsultan mereka yang dari LAPAN, LIPI, dll, untuk konvensi yang paling tepat penerapannya di Indonesia.
    ____________________________________

    Convensions Currently in Used

    Several conventions for the calculation of Fajr and Isha are already in use in various countries. Fajr and Isha times are usually calculated using fixed twilight angles, but some countries also use a method involving adding/subtracting a fixed interval of time to sunset/sunrise respectively . Using the latter method, a time interval is subtracted from sunrise to obtain Fajr whilst the interval is added to sunset to obtain Isha.

    The methods used by some Islamic organizations are are summarized in the following table:

    =======================================
    Organization Fajr Isya Region
    =======================================
    University of Islamic Sciences, Karachi 18° 18° Pakistan, Bangladesh, part of India, Afganistan

    Islamic society of north america (ISNA) 15° 15° USA, Canada, UK, Most Of Europe

    World Islamic League 18° 17° Part of Europe, Part of Far East

    Ummul Qura University 19° 90’ * Saudi Palace only
    * = 90 minutes after sunset 120 minutes in ramadhan.

    Egyptian General Organization of Surveying 19.5° 17.5° Part of Africa, Syria, Iraq, Lebanon, Malaysia
    _________________________________

    http://mharisman.blogspot.com
    e-mail: m.harisman@gmail.com

  5. Bim Bim berkata:

    Kalo gak salah pernah dibahas juga deh di awal2 bab buku Misteri Shalat Shubuh oleh Sheikh Imad Ali Sami Hussein….

  6. Ahyar berkata:

    saya setuju dgn pendapat saudara M.Harisman, banyak faktor yg jd pertimbangan terutama letak geografis, konvensi/metode yg dipakai dan mazhab mayoritas penduduk negeri itu.
    sama seperti menentukan waktu 1 syawal, seringkali kita berbeda dgn saudi. tentunya ulama2 Indonesia telah mempertimbangkan banyak hal dengan ilmunya, bukan tanpa dasar. wallahubisawab and to Allah return all matters for decisions

  7. Joko Susilo berkata:

    Koleksi Foto Masjid Eropa Yang Luar Biasa

    Berada di benua eropa, Islam tetap tumbuh dan berkembang di kawasan itu.
    Walaupun menjadi Minoritas Di Kawasan Eropa, Umat Muslim tetap memiliki
    Masjid – Masjid yang luar biasa dengan corak arsitektur yang berbeda dengan
    Masjid pada umumnya di Kawasan Timur Tengah maupun Asia.
    Berikut ini koleksi Foto Masjid yang berada di Inggris, Belanda, Belgia, Perancis,
    Spanyol dan Italia.

    Dapat di Download di http://www.xxxxxxxxxxxx.com/Koleksi_Foto_Masjid2_Eropa.zip

    WARNING AMW: Mohon diperhatikan komentar seperti ini. Ini adalah PENIPUAN SEMATA. Disitu disebut dile download “foto-foto masjid”. Padahal isinya adalah foto-foto dukungan ke negara ISRAEL laknatullah ‘alaihim. Ini adalah cara pembohongan dari seorang penipu yang menyebut dirinya: Joko Susilo. Semoga Allah memberi hidayah agar berhenti dari kezhalimannya. Semoga hatinya dilunakkan untuk tidak memusuhi kaum Muslimin. Jika terus memusuhi, semoga tangan dan kakinya dipatahkan oleh Allah, sehingga tidak bisa berbuat zhalim kembali. Allahumma amin.

    AMW.

  8. abu hamzah berkata:

    Saya melihat bapak Muhammad Harisman memiliki pengetahuan tentang falak, maka saya sarankan agar ikut aktif mengikuti serial makalah Salah Kaprah Waktu Shalat Shubuh yang dimuat di majalah Qiblati, yang menurut informasi akan menayangkan 4 kali (berakhir pada edisi bulan agustus), setelah itu dibuka forum diskusi untuk para ahli sebagai wahana untuk tanashuh (saling menasehati) dalam hal yang krusial ini. Apalagi menurut sepengetahuan saya bahwa ucapan bapak M Harisman “Pemilihan konvensi adalah didasarkan letak geografis dan mazhab yang dianut” tidaklah shahih. Jadi usulan saya mari ikut nimbrung diskusi di http://www.qiblati.com atau majalah qiblati. Saya berharap banyak pada bapak M Harisman mengingat motto blog bapak adalah “Mengharap Pencerahan dengan informasi yang shahih dan pemahaman yang pas”.

  9. abu hamzah berkata:

    1. menarik sekali diskusi kita ini, karena menyangkut rukun Islam terbesar setelah Syahadat. Berdasarkan silang pendapat yang ada maka shalat subuh yang didasarkan pada jadwal waktu falakiyyah itu menurut sebagian ulama sah, dan menurut sebagian yang lain tidak sah. Padajhal waktu subuh memanjang hingga sebelum matahari terbit. Artinya kalau diundur 20 menit maka dijamin kedua belah pihak bahkan seluruh dunia akan mengatakan satu kata “sah”. Maka menurut kaedah “al-Khuruj minal khilaf mustahab” (keluar dari perbedaan adalah dianjurkan”, serta kaedah “da’ ma waribuk ila ma la yaribuk” (tinggalkan apa yang meragukan menuju apa yang meyakinkan” maka shalat yang benar adalah diundur 20an menit dari jadwal yang ada.

  10. abisyakir berkata:

    @ Abu Hamzah.

    Iya, saya akan coba ikut diskusinya disana. Moga ini jadi diskusi ilmiah yang menarik dan bermanfaat. Amin.

    Secara umum, saya setuju bahwa saat waktu Shubuh memang sejak munculnya FAJAR SHADIQ, yaitu saat di ufuk tampak cahaya terang yang merata. Bukan ketika muncul FAJAR KADZIB. Adapun soal penentuan melalui software atau patokan jam, ya itu sebenarnya tidak tepat. Meskipun pada suatu waktu bisa dipakai kalau memiliki akurasi yang kuat. Syukran Akhi informasinya.

    AMW.

  11. abisyakir berkata:

    @ Abu Hamzah dan teman-teman semua.

    Anggap saja ini bagian dari diskusi seputar waktu Shubuh ini. Saya coba mulai dari komentar-komentar Abu Hamzah.

    Abu Hamzah: “Berdasarkan silang pendapat yang ada maka shalat subuh yang didasarkan pada jadwal waktu falakiyyah itu menurut sebagian ulama sah, dan menurut sebagian yang lain tidak sah.”

    Komentar: Mulanya memang dengan cara “ru’yatus syams” (melihat matahari). Tetapi lama-lama, karena dirasa gerakan matahari itu sangat stabil, maka dibuat kemudahan dengan membuat jadwal shalat abadi. Sebenarnya ini bid’ah juga. Masyarakat lebih berpatok ke jam atau jadwal itu, lalu tidak mengembangkan kemampuannya melihat matahari. Karena cara demikian sudah mentradisi selama puluhan atau ratusan tahun, akhirnya kita menjadi terbiasa dengan cukup melihat “jadwal abadi” itu. Padahal bisa saja, terjadi pergeseran-pergeseran tertentu.

    Abu Hamzah: “Padahal waktu subuh memanjang hingga sebelum matahari terbit.”

    Komentar: Justru itu akhi, masalahnya waktu Shubuh sejak terbit FAJAR SHADIQ, sampai terbit matahari. Kalau mau jujur, durasi waktu selama itu kan singkat saja. Mungkin hanya sekitar satu jam saja. Nah, waktu satu jam inilah yang krusial.

    Abu Hamzah: “Artinya kalau diundur 20 menit maka dijamin kedua belah pihak bahkan seluruh dunia akan mengatakan satu kata “sah”.

    Komentar: Iya itu akan disebut sah. Tapi ada masalahnya. Pertama, jadwal shalat itu telah diterima secara meluas di dunia Islam, disiarkan juga melalui media-media massa dan lainnya. Jangankan mengundurkan 20 menit, mundur 5 menit saja bisa mengubah semua jadwal yang sudah “abadi” itu.

    Kedua, di masyarakat kita sudah dikenal luas ungkapan dalam hadits, “as shalatu ‘ala waqtiha” (shalat pada waktunya). Namun pemahamannya, shalat dilakukan di awal waktu. Nah, kalau mundur, banyak orang merasa seperti mengakhirkan shalat.

    Abu Hamzah: “Maka menurut kaedah “al-Khuruj minal khilaf mustahab” (keluar dari perbedaan adalah dianjurkan”, serta kaedah “da’ ma waribuk ila ma la yaribuk” (tinggalkan apa yang meragukan menuju apa yang meyakinkan” maka shalat yang benar adalah diundur 20an menit dari jadwal yang ada.”

    Komentar: Sebagai sebuah hujjah dalam pendapat fiqih, hal ini bisa diterima. Meskipun terbuka peluang, pihak yang lain akan mengajukan hujjah berbeda.

    Sejujurnya, saya sangat berhasrat untuk mengetahui kelanjutan dari penentuan waktu Shubuh ini. Kalau ada pendapat yang kuat, insya Allah akan mengikuti, dengan pertolongan Allah. Wallahu A’lam bisshawaab.

    AMW.

  12. abu hamzah berkata:

    @ABI SYAKIR dan teman-teman

    ABI SYAKIR berkata :Anggap saja ini bagian dari diskusi seputar waktu Shubuh ini. Saya coba mulai dari komentar-komentar Abu Hamzah.

    ———————–
    Abu Hamzah: “Berdasarkan silang pendapat yang ada maka shalat subuh yang didasarkan pada jadwal waktu falakiyyah itu menurut sebagian ulama sah, dan menurut sebagian yang lain tidak sah.”

    Komentar ABI SYAKIR: Mulanya memang dengan cara “ru’yatus syams” (melihat matahari). Tetapi lama-lama, karena dirasa gerakan matahari itu sangat stabil, maka dibuat kemudahan dengan membuat jadwal shalat abadi. Sebenarnya ini bid’ah juga. Masyarakat lebih berpatok ke jam atau jadwal itu, lalu tidak mengembangkan kemampuannya melihat matahari. Karena cara demikian sudah mentradisi selama puluhan atau ratusan tahun, akhirnya kita menjadi terbiasa dengan cukup melihat “jadwal abadi” itu. Padahal bisa saja, terjadi pergeseran-pergeseran tertentu.

    Sambutan Saya: “Belum ratusan tahun. Bid’ah jadwal waktu shalat abadi (JWSA) atau Jadwal waktu shalat Falakiyyah( JWSF) baru berumur 103 tahun, karena menurut Dr. Muhammad Ahmad Sulaiman Kepala Riset Syamsiyyah (semacam antariksa begitu) di Lembaga Falakiyyah dan Geofisika, JWSF ini baru dibuat tahun 1906 di Mesir pada saat mesir menjadi negara jajahan Inggris (Ini Info dari Qiblati).
    Bahkan buku Pedoman waktu shalat sepanjang masa tulisan bapak Saadoe’ddin Djambek (Ahli falak Muhammadiyah, 1911-1977) baru diterbitkan oleh Bulan Bintang Jakarta pada tahun 1974, dan setahu saya Departemen Agama RI, Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, Direktorat Pembinaan Badan Peradilan Agama Islam ([Jakarta]) baru meluncurkan buku Pedoman penentuan jadwal waktu shalat sepanjang masa pada tahun 1994.
    Juga pada waktu ana masih duduk di bangku MI dan MTs di Gempol Jatim antara tahun 1982-1987) di masjid kampung ana masih menggunakan jam lokal, jam zawaliyyah atau istiwa’ untuk waktu shalat dan di depan masjid ada yang disebut bencet untuk melihat langsung bayang-bayang matahari –dan alhamdulillah saya termasuk muadzinnya yang juga melihat bencet itu) dan di dalam masjid masih ada jam akhirat di samping jam WIB yang tidak lain adalah jam Inggris, begitu orang menyebut.

    ————————–
    Abu Hamzah: “Padahal waktu subuh memanjang hingga sebelum matahari terbit.”

    Komentar ABI SYAKIR: Justru itu akhi, masalahnya waktu Shubuh sejak terbit FAJAR SHADIQ, sampai terbit matahari. Kalau mau jujur, durasi waktu selama itu kan singkat saja. Mungkin hanya sekitar satu jam saja. Nah, waktu satu jam inilah yang krusial.

    Abu Hamzah: “Artinya kalau diundur 20 menit maka dijamin kedua belah pihak bahkan seluruh dunia akan mengatakan satu kata “sah”.

    Komentar ABI SYAKIR: Iya itu akan disebut sah. Tapi ada masalahnya. Pertama, jadwal shalat itu telah diterima secara meluas di dunia Islam, disiarkan juga melalui media-media massa dan lainnya. Jangankan mengundurkan 20 menit, mundur 5 menit saja bisa mengubah semua jadwal yang sudah “abadi” itu.

    Sambutan Saya: Jadwal abadi buatan manusia, yang diberlakukan pada masyarakat yang belum mengerti , maka jika masyarakat difahamkan duduk persoalannya, dibandingkan dengan jelas mana yang hukum Allah dan sunnah Rasul-Nya, dan mana hukum manusia yang menyalahinya; ini fajar shadiq yang diimaksud oleh Allah dan Rasul-Nya serta seluruh ulama, dan ini jadwal ahli falak yang menyalahi Allah dan Rasul-Nya, maka saya yakin seyakin -yakinya orang mukmin yang ingin shalatnya diterima oleh Allah akan memilih Allah bukan memilih ahli falak yang menyalahi Allah itu. Jadi masalahnya ilmu dan iman. Orang yang salah karena tidak tahu itu tidak masalah, yang masalah adalah yang tetap memilih hitung-hitungan ahli falak yang menyalahi Allah.
    Mengundur shalat 20 menit dari jadwal yang salah sangat mungkin bila sudah dibekali ilmu dan iman, misalnya di Pamekasan, Bangil, Jombang, Pandaan, Pasuruan, hal ini sudah dipraktekkan. Perlu diketahu bahwa jadwal shalat di masyarakat sebenarnya tidak seragam, prakteknya juga demikian, kalau tidak percaya coba hitung jarak antara adzan pertama dan adzan terakhir yang terdengar di kota antum. Jadi masih ada celah dan kemudahan, tapi bagi yang berilmu, iman dan sedikit keberanian.

    komentar ABI SYAKIR : Kedua, di masyarakat kita sudah dikenal luas ungkapan dalam hadits, “as shalatu ‘ala waqtiha” (shalat pada waktunya). Namun pemahamannya, shalat dilakukan di awal waktu. Nah, kalau mundur, banyak orang merasa seperti mengakhirkan shalat.

    Sambutan Saya: Ketidak tahuan membuat orang ragu-ragu, atau tidak tahu-menahu. Untuk itu penyebaran sunnah tentang waktu shalat perlu digalakkan. Bahkan bangsa kita yang mengikuti madzhab syafi’I banyak yang sudah tidak tahu tentang ajaran dan prinsip-prinsip Imam syafi’I -Rahimahullah-. Indikator yang paling mudah adalah berapa banyak yang memiliki kitab al-Umm? Berapa banyak dari yang memiliki itu membacanya? Berapa banyak yang mengajarkan itu di pesantrennya? Jadi pintunya adalah ilmu. Ilmu sebelum beramal. Maka ana berharap antum termasuk yang menyebarkan ilmu ini sebagai bentuk amal shalih, hak ukhuwah dan untuk melepas tanggung jawab di hadapan Allah -Subhanahu wata’ala-.

    ———————————–
    Abu Hamzah: “Maka menurut kaedah “al-Khuruj minal khilaf mustahab” (keluar dari perbedaan adalah dianjurkan”, serta kaedah “da’ ma waribuk ila ma la yaribuk” (tinggalkan apa yang meragukan menuju apa yang meyakinkan” maka shalat yang benar adalah diundur 20an menit dari jadwal yang ada.”

    Komentar ABI SYAKIR: Sebagai sebuah hujjah dalam pendapat fiqih, hal ini bisa diterima. Meskipun terbuka peluang, pihak yang lain akan mengajukan hujjah berbeda.

    Sambutan Saya: Ya, inilah yang diharapkan, mencari kebenaran dengan keikhlasan dan mengadu hujjah, mengikuti metodologi para ulama ahlu sunnah.”
    Sejujurnya, saya sangat berhasrat untuk mengetahui kelanjutan dari penentuan waktu Shubuh ini. Kalau ada pendapat yang kuat, insya Allah akan mengikuti, dengan pertolongan Allah. Wallahu A’lam bisshawaab.
    Sambutan Saya: “Maka ikuti terus pembahasan di majalah Qiblati. Untuk sekarang antum bisa download wawancara Syaikh Al-Albani (Ulama Yordania) dengan Syaikh Abu Ishak al-Huwaini ( Ulama Mesir) lengkap dengan transkrip dan terjemahannya, di http://www.qiblati.com. Ana sangat bergembira dengan saudara-saudara muslim yang siap menerima kebenaran dan hujjah, karena itu adalah tanda ketawadhuan seseorang dan tanda orang yang dicintai oleh Allah swt. Rasulullah saw bersabda:
    «من يُرِدِ اللهُ بهِ خَيراً يُفقِّهْهُ
    (HR. Bukhari:71, Muslim: 2342)
    Dan itu adalah orang yang dipermudah untuk masuk surga:
    ومَن سَلَك طَرِيقاً يطلُبُ به علماً سَهَّلَ اللهُ له طريقاً إلى الجنَّة
    (HR Ahmad: 8268; Turmudzi: 2716; Ibn Majah: 227 dll)
    Semoga Allah -Subhanahu wata’ala- menjadikan kita semua sebagai pencinta ilmu mengikuti jalan ke surga. Aamiin ya mujibassailiin.

  13. abisyakir berkata:

    @ Abu Hamzah.

    Syukran jazakumullah khair atas masukan dari Antum. Banyak informasi-informasi yang baru ketahui dari Antum, alhamdulillah. Saya akan coba mengikuti diskusi ini sampai ada keyakinan yang kuat, berdasarkan ilmu insya Allah. Itu untuk saya pribadi. Adapun karena kita ini sedikit banyak juga berhubungan dengan amanah dakwah, nah perlu memikirkan cara terbaik untuk “menghadapi” JWSA itu. Semoga Allah memberi hidayah dan taufik.

    Sekali lagi syukran jazakumullah khair.

    AMW.

  14. M. Harisman berkata:

    Menganggap bahwa tidak ada keteraturan dalam pola pergerakan alam semesta, dan menisbikan pencapaian sains atas pemahaman pola pergerakan tersebut, sehingga berkesimpulan bahwa JWSA/JWSF tidak dapat diterapkan adalah sikap yang sangat tergesa-gesa dan tanpa ilmu.

    Coba kemukan bantahan keilmuan atas kekurangan dari algoritma yang dipakai dalam perhitungan hisab, yakni :
    . algoritma VSOP87 untuk pergerakan matahari
    . algoritma ELP2000 untuk pergerakan bulan.

    Uraian lengkap tentang metodologi hisab jadwal Shalat, salah satunya dapat dilihat di :

    http://eramuslim.com/syariah/ilmu-hisab/cara-menghitung-waktu-shalat.htm

    Matahari dan Bulan memang terbukti bergerak menjauhi bumi, yang menyebabkan waktu juga akan mengalami perpanjangan. Tetapi ordenya membutuhkan waktu ribuan tahun. Kalau hanya dalam orde seratus atau duaratus tahun (1901 s/d 2100), penyimpangannya maksimal dalam hitungan detik.

    Sebagai ilustrasi bisa dilihat di :

    http://sains.kompas.com/read/xml/2009/06/22/05384639/bulan.ternyata.makin.menjauh

    … jutaan tahun dari sekarang, seiring dengan menjauhnya bulan, hari-hari di bumi pun akan semakin lama, hingga mencapai 40 hari dalam sebulan. Hari pun bisa berlangsung semakin lama, hingga 30 jam.

    Diskusi dengan kontributor ahli fiqh saja hanya akan menghasilkan debat yang berkepanjangan. Coba lihat dari persepsi ahli Astronomi. Ciptaan Allah adalah maha sempurna dan teratur, dan ilmu Matematika/Fisika yang ada saat ini telah membuktikan hal tersebut, meskipun tetap pada tingkat akurasi yang terbatas.

    Untuk masa 100, 200, atau 500 tahun, pergerakan kosmis sudah dapat diprediksi. Tentunya, setiap penyimpangan pergerakan benda-benda kosmis di sekitar kita akan segera dapat diketahui dan update/revisi/penyesuaian yang terkait atas hal tersebut dapat dilakukan. Sampai saat ini JWSA masih tetap up-to-date untuk digunakan (dalam artian penyimpangan belum sampai di level menit).

  15. Abu Shofiy berkata:

    @ M. Harisman
    saya sangat kagum dengan ilmu pengetahuan bapak, akan tetapi setelah saya membaca majalah Qiblati tentang Fajar, memang seperti yang disampaikan bahwa adzan subuh di daerah saya mendahului fajar subuh saya melihat sendiri suatu hari dijadwal kalender menunjukkan kalau tidak salah sekitar pukul 4.20-an sedangkan adzan sudah berkumandang pukul 4.11, sedangkan fajar muncul saat melihat dengan teman-teman di daerah saya pada pukul 4.43, coba anda sekali waktu untuk melihat fajar subuh yang sesungguhnya dan bandingkan dengan jadwal yang anda rujuk.
    kalau menurut anda ! perhitungan algoritma dengan penglihatan mata lebih bisa diterima yang mana jika keduanya bertentangan..?

  16. abisyakir berkata:

    @ Abu Shofiy.

    Syukran atas masukan Antum. Nah, ini yang ingin saya tanyakan sejak awal. Soal posisi matahari sesuai pergerakannya, dalam pandangan ilmu hisab. Ya, itu kita akui. Tetapi bagaimana dengan momen munculnya “fajar shiddiq” sendiri? Nah, itulah yang ingin saya tanyakan ke Pak M. Harisman. Saya ingin tahu, kalau ada teman-teman yang ru’yah sendiri saat kemunculan fajar di sebuah pantai tertentu. Alhamdulillah, Abu Shofiy memberikan info berharga. Sekali lagi syukran jazakumullah khair. Ngomong-ngomong, Abu Shofiy daerah Antum dimana ya?

    AMW.

  17. Abu Hamzah berkata:

    Sambutan untuk bapak M. Harisman:

    Betul, kita tidak boleh menolak atau menisbikan kebenaran, apakah itu kebenaran akal, syara` atau sains.

    Tetapi masalahnya sekarang bukan menisbikan astronomi, melainkan bagaimana memahami fajar shadiq menurut Rasulullah saw, lalu astronomi digunakan untuk memudahkan manusia dalam melaksanakan perintah Allah. Bukan berangkat dari fajar versi astronom kemudian umat Islam harus menerima begitu saja meski bertentangan dengan sunah Nabi. Jadi pertanyaan yang mudah dan sederhana adalah: Apakah hitungan para astronomi dalam menentukan jadwal shalat khususnya subuh mengacu kepada fajar shadiq atau tidak? Agama Islam itu mudah, dan pertanda waktu shalat itu sangat mudah, tidak perlu menunggu ada orang yang mengerti algoritma.

    Info bapak harisman penting, tetapi bukan disitu masalahnya. Melainkan secara riil waktu JWSA/JWSF untuk shalat subuh mendahului fajar shadiq (bukan astronomical light). Saya pikir sangat ironis jika kita seumur ini sebagai muslim tidak mengenal fajar shadiq yang dimaksud dalam al-Quran dan sunnah sebab ia adalah pertanda untuk awal puasa dan shalat kita.

    Semoga bapak harisman sempat membuka pojok fajar di qiblati.com untuk mengambil dan atau memberi manfaat.

    .

  18. Abu Shofiy berkata:

    @Abi Syakir

    Kebetulan saya tinggal di kota Malang yang kampungnya sudah dekat dengan Batu jadi di dataran tinggi. kalau saya melihat dari sudut orang awam saja dimana garis putih sudah tampak di ufuk. kebetulan sabtu 11 Juli 2009 pagi saya melakukan pengamatan lagi dan sempat saya abadikan hanya saja kamera hp yang saya pakai masih vga jadi kurang bagus, wal hasil saya tulis sebagai berikut :
    hari jum’at tanggal 10 juli 2009 saya lihat di Masjid ada jadwal waktu sholat yang otomatis tertulis waktu subuh 4.25 dan saya lihat di kalender untuk wilayah surabaya tanggal 8-12 juli 2009 subuh tertulis pukul 4.26 karena saya di Malang maka ditambah 0.5 jadi Malang subuhnya menurut kalender untuk tanggal tersebut pukul 4.26 30 detik, sedangkan adzan pertama kali terdengar pukul 4.19 itu di kampung lain sedang dikampung saya adzan pada pukul 4.24 iqomah di kampung lain terdengar pada pukul 4.36 sedang di kampung saya pada pukul 4.34, untuk fajar pada waktu itu belum tampak sama sekali setelah pukul 4.46 diufuk mulai terang tapi belum terlihat garis putih, pukul 4.49 sudah mulai tampak putih dan pukul 4.50 sudah tampak jelas fajar tersebut dan saya bisa mengambil gambarnya dengan modus malam memakai hp saya.

    saran saya buat para ikhwah di sini untuk mencoba melihat sendiri agar bisa menyimpulkan sendiri apakah waktu sholat subuh kita sudah benar atau belum, semoga bermanfaat.., wallahu a’lam

  19. M. Harisman berkata:

    Fajar shadiq dan fajar kadzib keduanya adalah efek dari pembiasan atmosfir. Dari beberapa rujukan pengamatan, posisi Matahari haruslah pada 15 hingga 20 derajat di bawah ufuk agar tidak ada lagi cahaya matahari yang dapat dibiaskan.

    Sudah menjadi Ijma’ bahwa yang dipakai sebagai penentuan awal waktu Shubuh adalah adalah saat munculnya Fajar shadiq hingga terbitnya matahari di ufuk. Tidak ada pertentangan atas hal ini.

    Dari Abdullah bin Umar ra bahwa Rasululah SAW bersabda,
    “Dan waktu shalat shubuh dari terbitnya fajar (shadiq) sampai sebelum terbitnya matahari.”
    (HR Muslim)

    Perbedaan pada perhitungan diakibatkan tidak adanya kesepakatan satu posisi derajat matahari yang di bawah ufuk, yakni pada range 15 s/d 20 derajat. Setiap perbedaan derajat menyebabkan perbedaan beberapa menit.

    Untuk lebih rincinya dapat dilihat pada tulisan dari Dr. Rinto Anugraha (Peneliti Pascadoktoral 2008-2010 di Kyushu University, Fukuoka, Japan), yang selengkapnya dapat dilihat di http://www.eramuslim.com .
    __________________________

    Shubuh saat fajar menyingsing pagi disebut dawn astronomical twilight yaitu ketika langit tidak lagi gelap dimana atmosfer bumi mampu membiaskan cahaya matahari dari bawah ufuk.

    Dalam referensi standar astronomi, sudut altitude untuk astronomical twilight adalah 18 derajat di bawah ufuk (= minus 18 derajat).

    Namun demikian ada beberapa pendapat mengenai sudut altitude matahari di bawah ufuk saat Shubuh dan Isya’. Diantaranya berkisar antara 15 hingga 20 derajat. Dengan demikian, perbedaan sudut yang digunakan akan menyebabkan perbedaan kapan datangnya waktu Shubuh dan Isya’.
    ___________________________

    http://www.eramuslim.com/syariah/ilmu-hisab/waktu-waktu-shalat.htm

    Waktu shubuh dimulai ketika munculnya fajar (shidiq) atau cahaya secara merata di langit timur. Meskipun saat itu matahari masih belasan derajat di bawah ufuk, namun akibat pembiasan atmosfer cahaya matahari dapat dibiaskan sehingga langit tidak lagi gelap. Beberapa catatan mengenai penentuan waktu Isya’ dan Shubuh disajikan pada catatan di bawah.

    Waktu shubuh berakhir saat matahari terbit..

    Ada beberapa catatan mengenai waktu shalat di atas.

    Pada tulisan terdahulu tentang Transformasi Sistem Koordinat, penulis sudah pernah menyinggung satu rumus penting yang berhubungan dengan waktu shalat, yaitu

    Cos(Hour Angle) = [sin(altitude) – sin(lintang)*sin(deklinasi)] / [cos(lintang)*cos(deklinasi)].

    Waktu shalat dapat ditentukan dengan perhitungan menggunakan rumus-rumus pergerakan matahari dengan tepat. Jika Hour Angle diketahui, maka sudut ini dapat dikonversi ke dalam waktu. Dari rumus di atas, ada beberapa parameter penting dalam menentukan waktu shalat untuk suatu tempat tertentu. Pertama, koordinat lintang (latitude) suatu tempat. Kedua, sudut deklinasi matahari yang berubah secara periodik sepanjang tahun. Deklinasi adalah salah satu koordinat dalam sistem koordinat ekuator (lihat tulisan tentang Mengenal Sistem Koordinat). Parameter lainnya yang menentukan meskipun tidak disebutkan dalam rumus di atas adalah koordinat bujur (longitude). Bujur suatu tempat berpengaruh pada penentuan waktu untuk tengah hari saat matahari melewati garis meridian setempat. Yang juga berperan penting dalam penentuan waktu untuk tengah hari adalah apa yang disebut Equation of Time. Equation of Time adalah selisih antara waktu saat matahari yang sesungguhnya melewati meridian dengan matahari fiktif yang bergerak dengan laju konstan. Terjadinya selisih ini akibat lintasan matahari mengitari bumi yang tidak berbentuk lingkaran melainkan elips. Pembahasan tentang Equation of Time lebih tuntas berikut rumus untuk memperoleh nilainya Insya Allah disajikan pada kesempatan lain.

    Dalam hal ini, datangnya waktu zhuhur saat matahari melewati meridian, datangnya waktu maghrib saat matahari terbenam, serta berakhirnya waktu shubuh saat matahari terbit dapat dihitung dengan akurat. Demikian pula, datangnya waktu ashar dapat ditentukan, meskipun terjadi perbedaan pendapat, apakah panjang bayangan itu satu atau dua kali tinggi benda (ditambah panjang bayangan saat Zhuhur). Perbedaan pendapat ini bukanlah mengenai bagaimana menentukan posisi matahari, namun perbedaan dalam menentukan definisi yang tepat mengenai kapan datangnya waktu Ashar.

    Adapun untuk datangnya waktu salat Isya’ maupun shubuh juga terjadi perbedaan pendapat. Penentuan kedua waktu tersebut tidak secara langsung berkaitan dengan posisi matahari, namun efek dari atmosfer yang membiaskan cahaya matahari dari bawah ufuk. Ada beberapa pendapat, misalnya altitude matahari itu berkisar antara 15 hingga 20 derajat di bawah ufuk agar tidak ada lagi cahaya matahari yang dapat dibiaskan. Diakui disini bahwa tidak ada satu pendapat mengenai sudut ini, sehingga perbedaan satu derajat saja akan berpengaruh pada perbedaan waktu shalat isya’ dan shubuh beberapa menit.

    Telah disebutkan di atas bahwa parameter penting dalam penentuan waktu shalat adalah lintang. Untuk daerah dengan lintang tinggi (di daerah sebelah utara 48,5 LU atau sebelah selatan 48,5 LS) dalam rentang waktu tertentu (beberapa hari hingga beberapa bulan), matahari tidak cukup tenggelam di bawah ufuk sepanjang waktu malam. Merujuk pada rumus di atas, untuk nilai Cos(Hour Angle) = 1 atau -1, posisi matahari di bawah ufuk (altitude negatif) tidak cukup tenggelam. Akibatnya, saat malam (yang didefinisikan dari saat matahari terbenam hingga terbit), langit tidak benar-benar gelap. Atmosfer bumi masih mampu membiaskan cahaya matahari sehingga langit masih nampak cukup terang sepanjang malam. Jadi jika hanya menggunakan perhitungan matematis semata, maka waktu isya’ dan shubuh tidak dapat ditentukan.

    Bahkan dalam kasus yang ekstrem, di daerah yang lintangnya sangat tinggi (sebelah utara 66,5 derajat LU atau sebelah selatan 66,5 derajat LS), matahari tidak pernah terbenam atau tidak pernah terbit selama beberapa hari hingga beberapa bulan. Jika matahari tidak pernah terbenam, akibatnya hanya waktu zhuhur dan ashar yang dapat ditentukan dengan perhitungan matematis. Sedangkan untuk kasus matahari yang tidak pernah terbit, hanya waktu shalat isya’ dan shubuh saja yang dapat ditentukan dengan perhitungan yang normal.

    Untuk kedua kasus ekstrem di atas, dimana langit tidak benar-benar gelap dan matahari tidak pernah terbit/terbenam, terdapat sejumlah pendapat/fatwa dari kalangan ulama. Masalah ini juga sudah pernah dibahas dalam muktamar ulama dari berbagai negara Islam beberapa dekade lalu. Insya Allah akan dibahas pada tulisan khusus.

    Dari paparan singkat di atas, yang diharapkan adalah adanya landasan pemahaman yang kokoh jika suatu saat ditemui terjadinya perbedaan waktu jadwal shalat. Dalam satu kesempatan penulis pernah menjawab pertanyaan seseorang yang menanyakan mengapa jadwal waktu shalat shubuh di Jakarta yang dikeluarkan oleh tiga lembaga itu berbeda-beda untuk hari yang sama. Satu lembaga menyatakan pukul 4:36 pagi. Jadwal lain menyatakan pukul 4:38 dan satunya lagi pukul 4:42. Jika kita memahami latarbelakang bagaimana penyusunan jadwal shalat, Insya Allah perbedaan tersebut dapat dipahami.

  20. Abu Shofiy berkata:

    @ M. Harisman

    membaca uraian bapak yang panjang lebar tentang fajar subuh (shodiq) saya jadi semakin bingung. kalau masalah kasus ekstrim yang bapak sebutkan memang suatu kasus berbeda ! akan tetapi kalau didaerah kita yang normal-normal saja semestinya bisa dilakukan pemantauan.

    ada beberapa pertanyaan : sebenarnya fajar subuh (shodiq) itu bisa dilihat oleh mata atau hanya bisa dihitung dengan rumus..? padahal saya melihat sendiri kok bisa..! kalau saya mengacu pada yang bapak tulis diatas :
    Dari Abdullah bin Umar ra bahwa Rasululah SAW bersabda,
    “Dan waktu shalat shubuh dari terbitnya fajar (shadiq) sampai sebelum terbitnya matahari.”
    (HR Muslim)
    dan pengertian fajar shadiq saya mengacu pada surat al baqorah
    “Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, Yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al-Baqarah: 187)

    berartikan fajar shadiq bisa dilihat dengan mata..
    dan seperti yang saya tulis ditulisan saya tentang pemantauan tanggal 11 juli 2009 itu bagaimana..?
    yang salah itu jadwal… atau.. pemahaman saya tentang fajar subuh yang salah..

    dan kalau rumus tersebut bertentangan dengan dalil qur’an yang mana yang harus ikut..? qur’an menyesuaikan rumus atau rumusnya yang perlu dikoreksi..?

    saya harap bapak M. Harisman mau menjawab beberapa pertanyaan yang saya ajukan agar saya lebih memahami masalah ini.

  21. M. Harisman berkata:

    Fajar Shidiq pastinya dapat dilihat dengan mata, dan untuk presisinya sebaiknya pengamatan dilakukan di tempat-tempat yang memungkinkan.

    Tidak ada keraguan akan apa yang tercantum dalam Al-Qur’an, semuanya mutlak benar adanya. Kalau anda cermati, tidak ada pertentangan antara hadits Ibnu Umar dengan QS 2:187.

    Kata “minal fajri” dalam QS 2:187 diturunkan berkenaan dengan orang-orang yang pada malam hari mengikat kakinya dengan tali putih dan tali hitam, apabila hendak puasa. Mereka makan dan minum sampai jelas terlihat perbedaan antara ke dua tali itu, Maka turunlah ayat “minal fajri”. Kemudian mereka mengerti bahwa ‘khaithul abydlu minal khaitil aswadi’ itu tiada lain adalah siang dan malam.
    (Diriwayatkan oleh al-Bukhari yang bersumber dari Sahl bin Sa’id.)

    Perhitungan waktu fajar shidiq yang ada sekarang ini hanyalah memasukkan waktu rata-rata pengamatan terlihatnya (dengan mata) fajar tersebut ke dalam suatu formula. Jadi angka 20 derajat yang dipilih itu adalah kesimpulan dari hasil kumpulan pengamatan.

    Secara matematis/hisab murni, waktu fajar shidiq dan waktu Isya’ tidak dapat diformulasikan, penentuan derajat haruslah dibackup dengan akumulasi data pengamatan. Lain halnya dengan waktu terbit dan terbenamnya matahari (0 dan 180 derajat), dimana formulasi mutlak dapat dilakukan tanpa himpunan hasil pengamatan.

    Jadi kalau ada yang meragukan kesepakatan -20 derajat yang ada sekarang ini, bisa dilakukan kembali himpunan pengamatan (mungkin dari beberapa titik pemantauan selama beberapa bulan/tahun), dan hasilnya akan menunjukkan suatu derajat rata-rata tertentu (secara matematis harusnya ada pada range -15 hingga -20 derajat).
    ____________________________

    http://bengkelfalak.org/jadwalsholat/jadwalsholat.html

    Waktu Subuh Waktunya diawali saat Fajar Shiddiq sampai matahari terbit (syuruk). Fajar Shiddiq ialah terlihatnya cahaya putih yang melintang mengikut garis lintang ufuk di sebelah Timur akibat pantulan cahaya matahari oleh atmosfer. Menjelang pagi hari, fajar ditandai dengan adanya cahaya samar yang menjulang tinggi (vertikal) di horizon Timur yang disebut Fajar Kidzib atau Fajar Semu yang terjadi akibat pantulan cahaya matahari oleh debu partikel antar planet yang terletak antara Bumi dan Mars . Beberapa menit kemudian cahaya ini seolah menyebar di cakrawala secara horizontal, dan inilah dinamakan Fajar Shiddiq. Secara astronomis Subuh dimulai saat kedudukan matahari ( s° ) sebesar 18° di bawah horizon Timur sampai sebelum piringan atas matahari menyentuh horizon yang terlihat (ufuk Mar’i / visible horizon). Di Indonesia khususnya Departemen Agama menganut kriteria sudut s=20° dengan alasan kepekaan mata manusia lebih tinggi saat pagi hari karena perubahan terjadi dari gelap ke terang.
    ___________________________

    http://rukyatulhilal.org/artikel/susiknan-awal-waktu-shalat-perspektif-syari-dan-sains.html

    Waktu Subuh adalah sejak terbit fajar sidik sampai waktu terbit matahari. Fajar sidik dalam falak ilmiy dipahami sebagai awal astronomical twilight (fajar astronomi), cahaya ini mulai muncul di ufuk timur menjelang terbit matahari pada saat matahari berada sekitar 18 di bawah ufuk (atau jarak zenit matahari=108 derajat). Pendapat lain menyatakan bahwa terbitnya fajar sidik dimulai pada saat posisi matahari 20 derajat di bawah ufuk atau jarak zenit matahari=110 derajat.

    Di Indonesia pada umumnya (atau hampir seluruhnya), salat Subuh dimulai pada saat kedudukan matahari 20 derajat di bawah ufuk hakiki (true horizon). Hal ini bisa dilihat misalnya pendapat ahli falak terkemuka Indonesia, yaitu Saadoe’ddin Djambek disebut-sebut oleh banyak kalangan sebagai mujaddid al-hisab (pembaharu pemikiran hisab) di Indonesia. Beliau menyatakan bahwa waktu Subuh dimulai dengan tampaknya fajar di bawah ufuk sebelah timur dan berakhir dengan terbitnya matahari. Menurutnya dalam ilmu falak saat tampaknya fajar didefinisikan dengan posisi matahari sebesar 20 derajat dibawah ufuk sebelah timur.
    Hal senada juga diberikan oleh Abdul Rochim yang menyebutkan bahwa awal waktu Subuh ditandai nampaknya fajar sidiq dan dianggap masuk waktu Subuh ketika matahari 20 derajat di bawah ufuk. Jadi jarak zenit matahari berjumlah 110 derajat (90+20). Sementara itu batas akhir waktu Subuh adalah waktu Syuruq (terbit), yaitu = -01 derajat.

  22. abisyakir berkata:

    @ Abu Shofiy

    Akhi, saya setuju dengan pendapat Antum, bahwa fajar shadiq itu bisa dilihat (bil ru’yah). Dan pada awalnya, memang beginilah syariat penentuan waktu-waktu shalat seperti yang disebutkan Nabi dalam hadits. Semuanya dengan metode ru’yah bil ‘ain. Jadi apa yang Antum sampaikan itu sudah benar, sudah sesuai dengan metode yang disebutkan oleh Nabi Saw.

    Namun yang dimaksud Al Akh, M. Harisman, kata beliau, kalau mengacu kepada sistem hisab astronomi, munculnya fajar itu bisa dihitung secara cermat, Sebab gerakan matahari memang cenderung stabil. Katanya, matahari saat 15 sampai 20 derajat di bawah ufuk, itu sudah masuk fajar. Namun perbedaan derajat 1 atau 2 derajat, secara riil bisa mempengaruhi perbedaan waktu kita, bisa beberapa menit bedanya.

    Singkat kata, perbedaan 5 derajat (dari 15 sampai 20 derajat di bawah ufuk), kalau dalam waktu riil itu bisa berbeda 5 sampai 30 menit. Tergantung ulama mana yang menjadi rujukan dalam menjelaskan sifat-sifat fajar shadiq itu. Kalau sifat fajar shadiq seperti yang diuraikan dalam majalah Qiblati, mungkin perbedaan waktunya bisa sampai 20-30 menit.

    Jadi disini ditemukan titik-temu. Pak Harisman menyebut, fajar muncul ketika posisi matahari antara 15-20 derajat di bawah ufuk. Perbedaan 5 derajat, dalam waktu riil bisa menjadi 5 sampai 30 menit. Tinggal kemudian sifat fajar shadiq seperti apa yang menjadi rujukan kita? Kalau seperti Qiblati, insya Allah sudah cocok, perbedaan sekitar 20-25 menit dari jadwal shalat Shubuh selama ini.

    Mungkin masalahnya, masyarakat selama ini belum memiliki kesepakatan tentang sifat fajar shadiq yang mereka yakini. Masyarakat menyandarkan sifat fajar itu kepada: jadwal shalat abadi atau jam dinding. Nah, ini sebenarnya salah. Harusnya bil ru’yah, jangan melulu menyandarkan pada jadwal baku seperti itu. Ya, setidaknya majalah Qiblati telah menunjukkan salah satu rujukan tentang sifat itu.

    Semoga bermanfaat. Amin.

    AMW.

  23. abisyakir berkata:

    @ Abu Shafiy dan M. Harisman

    Akhuna fillah, alhamdulillah pagi-pagi kita bisa shilaturahim disini. Pagi-pagi sudah membahas masalah penentuan waktu shalat. Masya Allah semoga berkah. Posisi ana disini hanya sekedar peninjau atau pengamat saja. He he he… Maklum, kurang menguasai masalahnya. Baru sebatas “konsumen”. Syukran jazkumullah atas perhatian antum semua. Alhamdulillah.

    AMW.

  24. Abu Shofiy berkata:

    @M. Harisman, Abi Syakir dan seluruh kaum muslimin yang saya hormati, dan yang saya cintai karena Allah.

    dari beberapa uraian bapak M. Harisman tentang perhitungan fajar dapat saya simpulkan kalau mengikuti jalannya Rasul yaitu melihat Fajar bil ru’ya lebih mudah dilakukan daripada perhitungan-perhitungan derajat apalagi ada perbedaan pendapat di derajat berapa. dan mungkin yang lebih selamat (hati-hati) adalah yang perhitungan mengikuti ru’ya bukan sebaliknya, kita harus berlapang dada dengan kesalahan yang mungkin sudah mendarah daging untuk penjadwalan waktu sholat subuh di negeri ini.
    walaupun ditelisik menurut perkataan pak M. harisman fajar subuh hanya bisa dilihat di tempat-tempat yang memungkinkan saja (maksudnya mungkin laut..?) kalau di tempat lain ..?
    di jaman Rasulullah para sahabat.. mungkin harus menunggu pemerintah menentukan berapa derajat dan di hitung untuk menentukan waktu shalat..? tapi entahlah mungkin mereka radiallahu anhum ajma’in memiliki metode tersendiri untuk menentukan waktu subuh.
    saya tidak menolak ilmu falak tapi sebagaimana yang saya lihat saya menganggap ada yang salah, apa yang salah penglihatan saya dan teman-teman yang ikut melihat ?

  25. M. Harisman berkata:

    Untuk melakukan ru’ya, perlu menyadari bahwa kondisi di jaman nabi dan jaman kita adalah berbeda, antara lain :

    (1) adanya penerangan yang berlebih di waktu malam saat ini (listrik), yang menyebabkan tingkat sensitifitas mata terhadap gelap/terang menjadi berkurang.

    (2) tingginya tingkat polusi/smog di udara saat ini.

    Ru’ya yang ideal harusnya dilakukan pada kondisi langit yang cerah, dengan penerangan alami (hanya bintang dan bulan), dan sewaktu bangun dari tidur (untuk melakukan ru’ya) penglihatan kita tidak bias dengan cahaya lampu listrik yang benderang.

  26. Abu Shofiy berkata:

    kesimpulan saya dari yang disampaikan bapak M. Harisman nih ya.. semoga saya salah dalam kesimpulan saya ini.. “untuk menyontoh apa yang dilakukan oleh Rasul dan para sahabat sudah tidak bisa dilaksanakan di zaman sekarang dalam hal fajar subuh karena situasinya tidak ideal” dan harus pakai hitungan gak bisa ru’ya dilakukan -mungkin sebagai ralat komentar pak M. Harisman sebelumnya yang mengatakan “Fajar Shidiq pastinya dapat dilihat dengan mata, dan untuk presisinya sebaiknya pengamatan dilakukan di tempat-tempat yang memungkinkan.” tempat memungkinkan disini = “tempat seperti di jaman Rasul yang tidak ada lampu dan kondisi langit yang cerah, dengan penerangan alami (hanya bintang dan bulan), dan sewaktu bangun dari tidur (untuk melakukan ru’ya) penglihatan kita tidak bias dengan cahaya lampu listrik yang benderang.”
    *ini syarat yang disyaratkan oleh Bapak M. Harisman lho..

    guyonane gini :
    kalau sahabat :”sami’na wa atho’na”
    kalau sekarang ada yang merubah :”sami’na wa hazabna” -aku yo krungu sakjane tapi tak itunge sek- jawanya “iyaa… saya dengar tapi tak hitung dulu lah”

    pertanyaan kecil yang harus dijawab hanya satu : apa kita pernah melihat fajar subuh atau kita takut “wedi karepe dewe” melihat fajar subuh ?
    kalau jawaban-e : “saya pernah melihat fajar subuh, tapi..”
    tanya lagi : “tapi kenapa..?”
    jawab : “saya gak yakin kalau itu fajar subuh, ciri-cirinya sih mirip dengan yang diterangkan oleh para ustad.. tapikan sekarang beda dengan zaman Rasul dulu..!”
    yang tanya : “Glodakzzz…. cirine podo”sama” kok gak yakin..?”

    kalau jawabane beda gimana misal
    jawab :”saya belum pernah melihat fajar dan gak ngeh cirinya gimana”
    sing tanya :”ya dibaca dulu diketerangan tentang fajar subuh kalau sudah paham nanti lihaten bisa apa gak..”
    sing jawab :”gimana sih cirinya..?”
    yang tanya : “kalau saya baca di Majalah kemarin ulama menjelaskan seperti ini “Sifat sinar Subuh yang terang itu, ia menyebar dan meluas di langit, sinarnya (terangnya) dan cahayanya memenuhi dunia hingga memperlihatkan jalan-jalan menjadi jelas.” Tafsir At-Thabari (2/167).”
    sing jawab : “itukan menurut ulama tersebut sing lain ada gak..?”
    sing tanya : “Fajar ada dua, fajar yang seperti ekor serigala tidak boleh shalat dan tidak mengharamkan makanan. Adapun fajar yang menyebar di ufuk maka boleh shalat dan tidak boleh makan. (saat puasa)” Shahihul Jami’ no. 4278.”
    sing tanya : “intinya fajar itu yang memisah antara malam dan siang jadi semakin lama semakin kelihatan terang.. sampai nanti matahari terbit”
    sing jawab : oh iya wis nanti coba tak lihate..!
    sing tanya : nah gitua.. nanti biar tahu fajar subuh itu seperti apa.. dan sholat subuhmu sudah masuk waktu atau sebelum waktu
    sing jawab : gak jadi wes… tak ikut jadwal kalenderae.. masio salah seng penting semangat…!
    sing jawab : glodakz.. maning…

  27. waroeng ubuntu berkata:

    saran saya yg paling sederhana…. mari kita sholat subuh di masjid dan lihat sendiri bahwa waktu sholat masih berada di fajar khadzib

    misalnya 10 menit kemudian kita pulang dr sholat subuh di masjid … mari lihat sendiri…. hari masih gelap bukan :mrgreen:

    Namun bila kita pulang 25-30 menit, kita akan mendapati Fajar Shadiq 😀 Insya Allah

  28. Faiz Abu Syaki berkata:

    bismillahi,,,menarik mengikuti diskusi sodare-sodare, apalagi komentera Bapak M. Harisman.
    ketika saya baca tulisan Pak. M. HArisman, jujur, sebagai orang yang ga paham astronomi, saya bingung. sehingga saya sempat berpikir, jika agama ini harus disyaratkan mengetahui rumus-rumus tersebut, pasti saya akan banyak-banyak istighfar, sebab yang saya rasakan hanyalah “mumet”. tetapi syukurlah, hal itu tidak disyaratkan dalam agama, sehingga orang seperti saya merasa aman. saya bayangkan sahabat mulia Bilal bin Abi Rabah RA sebagau mu’adzin Rasulullah, juga Ibn Umi Maktum RA. saya yakin seyakin-yakinnya bahwa keduanya tidak mengetahui rumusan ilmu falak tadi. tetapi perlu dicermati, mengapa Nabi SAW memerintahkan Bilal untuk mengumandangkan adzan di malam hari, yakni pada saat fajaz kadzib, padahal Bilal sehat penglihatan, sedangkan yang ditugasi untuk adzan Subuh adalah Ibn Umi Maktum RA yang tidak melihat (tuna netra) sehingga beliau tidak melantunkan adzan kecuali setelah diberitahu oleh yang lain bahwa fajar telah nampak. Bilal RA yang sehat penglihatan bisa langsung melihat fajar dengan sendirinya, bisa membedakan antara fajar yang palsu dan yang shodiq, sedangkan Ibn Umi Maktum RA mengandalkan penglihatan sahabat yang lain.
    ringkasnya, tidak ada pelatihan khusus untuk melihat fajar, sebab semuanya inderawi dan mudah, seperti halnya melihat hilal di awal bulan.
    sedangkan yang disampaikan Bapak M. Harisman seputar perbedaan waktu di masa Rasulullah SAW dan masa sekarang, saya pandang sebagai sesuatu yang tidak berpengaruh. sebab beragama itu bukan hanya untuk di masa Rasulullah SAW, justru ilmu pengetahuan modern juga ilmu perhitungan harusnya dibangun di atas landasan syariat. artinya jika menurut hitungan tertentu yang menggunakan sudut sekian derajat waktu sholat Subuh jam sekian atau sekian, dst. boleh dilaksanakan jika memang perhitungan itu terbukti secara empiris dengan kemunculan fajar shodiq.
    apalagi Bapak M. HArisman sendiri menyebutkan perbedaan sudut yang dipakai dalam ilmu hisab, sehingga masalahnya adalah khilafiyah. pertanyaannya jika dalam satu kota Jakarta misalnya, ada orang yang berpegang kepada penanggalan ISNA, kemudian orang yang kedua berpatokan pada penanggalan MWL (Robithoh) maka sholat Subuh mereka akan terpaut hingga 20 an menit. bagaimana tempat yang sama, atau mungkin masjid yang sama ada perbedaan jadual hingga selama itu, bisa dibiarkan?
    jika ada dua orang yang pergi melihat fajar, satu mengatakan telah melihat fajar, yang kedua mengatakan belum melihat fajar atau fajar belum muncul, maka yang yakin adalah pendapat orang yang kedua, hingga keduanya benar-benar sepakat bahwa fajar telah muncul.
    mohon maaf jika ada yang tidak berkenan, intinya bahwa ini masalah sholat, dan salah satu syarat sahnya sholat adalah masuknya waktu.
    jadi yang selamat adalah mengikuti jadual yang akhir, artinya mengakhirkan sholat hingga 20 an menit (berdasarkan perhitungan ahli falak yang lain) karena pada saat itu kita benar-benar yakin, plus waktu Subuh juga belum keluar.
    semoga Allah melimpahkan hidayahnya kepada kita semua.

  29. JADWAL WAKTU SHOLAT ABADI OTOMATIS :
    1. Adzan tiap waktu sholat
    2. Jadwal sholat fardhu berlaku 100 tahun
    3. Garansi 1 tahun
    4. Dapat digunakan di seluruh dunia
    5. Menggunakan seven segmen / dot matrik *
    6. Terdapat tilawah 24 jam *
    7. Terdapat Count Down Iqamah *

  30. Fais berkata:

    Yang dimaksud Bapak M. Harisman itu adalah “cobalah memahami perbedaan cara pandang”. Bukan langsung mengatakan yang ini salah yang itu benar. Dalam faktanya, penentuan waktu shalat dalam pembahasannya yang lebih detail dapat mudah ditemui dalam buku-buku klasik (baca: Kitab Kuning) setiap madzhab, padahal masing-masing madzhab mengutarakannya masih dengan cara indikasi fenomena alam, belum menggunakan “sistem jam”. Jika ingin benar-benar ikut Rasul saw mengapa membandingkan Jadwal shalat versi cetak dengan versi software? Toh keduanya -secara umum- menggunakan pendekatan matematis. Mengapa tidak langsung saja keluar rumah dan ke langit. Kalau pun itu dilakukan penulis yakin, amat tidak tertutup kemunginan setiap orang yang memandang yang langit akan memiliki persepsi yang berbeda dan pada akhir berbeda pendapat. Inilah yang ingin diutarakn oleh Bapak M. Harisman.

    Ketika kita bicara secara astronomi maka segala variabel yang berkaitan ya harus disertakan dan yang tidak berkaitan harus dikeluarkan. Bagi mereka yang tidak “terjun” dalam bidangnya mungkin memandang masalah ini masalah mudah.
    Dalam faktanya, fenomena alam adalah fenomena multitafsir karena didasarkan pada pengamatan panca indra yang -harus diakui” memilikibanyak sisi kelemahan. Maka berhentilah mengingankan persaman atau jika tidak bisa juga, maka cobalah mempelajari astronomi, tidak perlu secara luas, cukup hanya yang berkaitan dengan penentuan waktu shalat. Semoga masih ada waktu.

  31. rudi berkata:

    lebih cepat lebih baik, itu selogan JK
    jangan kamu sekali-kali memvonis hal yang sepele menjadi hal yang besar apakah kamu sudah benar yang kamu katakan itu, bisa saja kamu melebihkan kata kata yang menyesatkan encamkan kata2 itu…!!!!!

  32. Anonim berkata:

    Yang tau jadwal shalat subuh daerah pasuruan jawa timur kch tau q ea. . .
    Msk sih di sini jam 3:20 udah adzn??

  33. Anonim berkata:

    hari ini, rabu tgl 3 romadhon 1432h, posisiku di lombok timur..
    berhubung punya banyak waktu abis sahur,,
    kucoba pandangi langit timur, membelakangi mushola dan dapati orang2 memulai sholat saat gelap dan pulang saat baru saja fajar.

    barulah ku sholat.

    saat diumumkan di masjid, waktu imsak kan datang,, jam 04.41.
    imsak..imsaakk,,.. imsaaaaaaakh.. 🙂 jam 04.48.
    makan minum ku tutup kasus.
    10 menit berikutnya, 05.08. adzan berkumandang.jam 05.15 dah pada mulai sholat.
    aku malah pandangi langit…….. waiting,, waiting,,,
    tinggal sholat sunnah dulu,, liat langit lagi.. waiting,, waiting,,,
    kira2 jam 05.29 langit mulai keliatan fajar shodiknya,,,fajar yang tak hilang hingga terbit matahari.

    sepertinya memang yg bener ya yang memundurkan sedikit waktu subuh.
    wallahu a’lam.
    makasi untuk ilmu yang beredar

  34. Sayaneeh... berkata:

    Catatan saya :

    1. Majalah Qiblati telah mengadakan penelitian di beberapa tempat, dan mereka telah mengeluarkan jadwal sesuai hasil pengamatan mereka.
    Feb 2012 ustadz Agus Hasan Bashori (Majalah Qiblati) mengisi kajian di Masjid Al sofwah tentang koreksi jadwal sholat subuh..beliau menceritakan telah menyampaikan masalah ke pihak-pihak yang berkompeten seperti MUI, Depag,dll..ternyata ada kesan pihak-pihak tersebut tidak serius menanggapi..telah lama disampaikan, namun tidak ditindaklanjuti segera..

    Kesimpulannya, Masalah tersebut telah dilaporkan kepada Pemerintah(MUI, Depag), tapi belum ditanggapi dengan serius….

    pihak-pihak yang selama ini membantah Qiblati(seperti Dai Salafy2 Ust Zainal Abidin radiorodja, Majalah Al Furqon), umumnya ”TIDAK mengamati fajar seperti yang dilakukan Qiblati dan TIDAK boleh gegabah menyalahkan qiblati sebagai pihak yang memecah belah umat..MUI& Depag telah dilapori..

    2. penelitian di suatu tempat tidak bisa dijadikan patokan bagi daerah lain, karena ada perbedaan..Penelitian harus menyeluruh, Indonesia luas dengan kondisi geografis yang berbeda-beda

    3. perlu ada tim dibentuk di tiap daerah(jangan di satu lokasi saja) sesuai karena kondisi geografis indonesia berbeda-beda, mungkin ada ormas/lembaga islam besar yang siap mensupport. jangan terlalu berharap banyak kepada Pemerintah

    intinya jadwal waktu sholat adalah taufiqi, kalender abadi adalah ijtihady.Tapi, kita tidak boleh menvonis jadwal itu salah sedangkan kita tidak punya bukti..

  35. amr berkata:

    buat akhi abi syakir, kalau sekarang antum sholat subuhnya ikut jadwal yg mana? sesuai jadwal pemerintah atau seperti qiblati? skrg menurut antum yg rojih yg mana? jazakallah

  36. abisyakir berkata:

    @ Amr…

    Kalau saya meyakini yang sesuai pantauan fajar Qiblati. Maka itu saya shalat shubuh sering di rumah, karena belum ada di sekitar yang melakukan seperti itu. Menurut saya, wallahu a’lam, yang rajih itu (versi pantauan fajar shadiq Qiblati). Mereka punya banyak bukti (burhan wa bayan).

    Admin.

  37. Munir Aszari berkata:

    pada dasarnya, setiap negara memiliki kebijakan sendiri soal derajat penentuan sholat subuh, sedangkan siapa yang paling benar Allahualam
    karena memang qt tdak mungkin kembali ke masa lalu dan bertanya kepada Rasulullah Saw

    jd menurut saya yang paling benar adalah mengikuti ketentuan dari yang berhak mengisbat, yaitu pemerintah indonesia

  38. ibnu harj berkata:

    بسم الله
    bagaimana lo kita sholat shubuh berjama’ah dmasjid yg waktu shubhnya belum msuk apa harus shlat lg dirumah?jazakallohu khoir.

  39. Fulan1 berkata:

    Assalam…sya mw tnya,klo sholat isya shrusnya di medan jm 7.48,tp krna tdinya sya tdk tw,sya sholat jm 7.30.tu hukumnya gmn?syah tdk ya?

  40. abisyakir berkata:

    @ Fulan1…

    Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakaatuh. Ya, dengan alasan “tidak tahu”, amalan itu tetap sah. Ada beberapa kondisi tatkala kita dimaafkan oleh Allah Ta’ala, yaitu ketika lupa, ketika tidak sengaja (melakukan kesalahan), dan tidak tahu. Hal-hal demikian termasuk dimaafkan. Namun kalau sudah tahu, jangan diulangi lagi kesalahannya. Terimakasih.

    Admin.

  41. abisyakir berkata:

    @ Ibnu Harj…

    Ulama yang gigih serukan agar Umat Islam perbaiki waktu Shalat Shubuhnya adalah Syaikh Mamduh Al Bukhairi dengan Majalah Qiblati-nya. Terkait pertanyaan yang ditanyakan, kami menangkap nasehat beliau kira-kira sebagai berikut:

    = Mencari masjid yang telah mengkoreksi waktu shalat shubuhnya.
    = Kalau tidak ada, ya terpaksa shalat di rumah.
    = Bagaimanapun keadaannya, harus tetap menjaga persatuan kaum Muslimin.

    Kurang lebih begitu. Wallahu a’lam.

    Admin.

  42. Eka Agus Ardana berkata:

    Assalamualaikum, saya juga mendengar di daerah Malang, karena saya kuiah di salah satu Universitas di malang, adhzan subuhnya sekitar jam 3, tapi jarak suaranya jauh dari kost saya, sedangkan di daerah kost saya sekitar jam 4, beda 1 jam, itu kenapa ya adzannya kok bisa beda ?

  43. abisyakir berkata:

    @ Eka Agus…

    Oh itu, termasuk ADZAN PERTAMA, sifatnya membangunkan manusia untuk shalat tahajjud. Bukan untuk shalat Shubuh. Di kami juga ada begitu. Terimakasih.

    Admin.

  44. Fita Maftuhah berkata:

    Aasalamu’alaikum. Ikutan nimbrung terkait masalah ini gak sengaja baca blog ini saya ingat terkait perdebatan saya dengan bapak. waktu itu bapak bertanya pada saya terkait koreksi derejat fajar shodiq dr Depag. beliau menyampaikan saat ngitung bersama Tim katanya derajat yang dipakai dr Depag surabaya 19,1 derajat atau koma berapa gitu saya agak lupa. Sedangkan beliau membaca dari kitab-kitab beliau tertulis sekitar 15 – 17. Untuk wilayah bagian bujur Timur tertulis (16 -17 derajat) sedangkan bagian Barat (15 derajat). atau mungkin ketuker saya sendiri sdh agak lupa. Jadilah beliau sempat meragu dan minta memastikan di internet. Dan info yang saya peroleh Indonesia memakai 20 derajat, Dan saya sampaikan apa adanya ke beliau dan termasuk alasan alasannya terkait besarnya derajat tersebut. Dan beliau sepertinya masih meragu dengan besarnya derajat yang dipakai oleh pemerintah RI dan sempat membahasnya bersama rekan rekan terkait derajat ini. Dengan bersumber pada kitab berbahasa Arab beliau (bukan buku modern) Dan pengamatan di kampung saya, akhirnya beliau menghimbau mushola dan masjid sekitar untuk subuh berjeda 10 menitan dr Adzan, itung itung sambil nunggu jamaah karena mungkin faktor meragu tadi.

    dari artikel panjenengan saya mengambil titik kesimpulan, kalau terkait sah tidaknya sholat hal ini mgkin menjadi hal yang sangat penting. karna saya pernah mengalami kasus Karena akan berpergian ketika saya nunggu datangnya subuh dan ketika adzan selesai saya langsung buru-buru sholat untuk mengejar waktu. dan terkait para orang orang yang diamanahi menyebar jadwal di daerah daerah tentu hal ini akan menjadi beban moril terkait apa yang mereka sebar kalau itu memang kecepatan.
    mungkin perlu adanya sosiasilasi dari pemerintah pusat dasar apa yang dipakai terkait penetapan derejat koreksi fajar shodiq yang dipakai di Indonesia kepada para MUI daerah kabupaten. atau mungkin sidang isbat terkait penentuan derajat ini di berbagai daerah yang mungkin msh di anggap murni untuk pelaksanaan rukyah. jd tdk menimbulkan polemik di masyarakat.

  45. abisyakir berkata:

    @ Fita Maftuhah…

    Ahlan wa sahlan, semoga selalu Allah Ta’ala rahmati dengan ilmu, pemahaman, dan amal saleh. Amin amin. Ya benar apa yang Anda katakan. Memang perlu sosialisasi, sekaligus kehati-hatian, karena ini sensitif. Katanya, tim majalah Qiblati Malang telah berusaha komunikasi dengan berbagai pihak, dan tampaknya hasilnya kurang memuaskan. Wallahul Musta’an.

    Tapi tidak mengapa, upaya tetap perlu dilakukan untuk suatu kebaikan yang meluas, bi rohmatillah wa nashrih. Amin amin. Terimakasih untuk masukan dan pendapatnya.

    Admin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: