Membaca Pikiran Sri Mulyani

Siapa tidak kenal Sri Mulyani Indrawati? Rasanya hanya orang kuper yang tidak tahu siapa dirinya. Selain sebagai Menteri Keuangan, Sri Mulyani juga menjabat Menteri Perekonomian. Jabatannya sangat prestisius, semua politisi dan partai politik sangat “haus” ingin mencapai posisi yang diduduki Sri Mulyani ini.

Sekitar seminggu lalu ada dialog khusus antara Wimar Witoelar dengan Sri Mulyani, di MetroTV. Acaranya, Wimar Live, tayang di MetroTV, sekitar jam 20.30 WIB. Tema yang dikaji waktu itu tentang “pengelolaan hutang negara”. Sebagai Menteri Keuangan, jelas Sri Mulyani sangat berkompeten menjelaskan pemikiran-pemikirannya seputar isu hutang negara itu. Sekaligus dia bisa jelaskan garis ekonomi Kabinet SBY selama ini.

Saya tidak mengikuti acara secara tuntas, hanya sekitar seperempat acara bagian akhir. Disini kita akan kemukakan beberapa poin pemikiran penting  Dr. Sri Mulyani Indrawati, ekonom jebolan FE UI, yang pernah bekerja di IMF sebagai salah satu supervisor lembaga tersebut.

SEBAGIAN PEMIKIRAN SRI MULYANI

Sri mengaku sebagai orang Jawa yang lahir di Indonesia, sekolah di UI, lalu melanjutkan sekolah ke Amerika. Lalu pulang kembali ke Indonesia. Dia merasa tetap sebagai orang Indonesia, tidak pernah berubah menjadi orang bule, meskipun selama studi bergaul dengan banyak orang bule. Sri merasa kemudian mendapati dirinya sebagai bagian dari tatanan dunia yang concern utamanya adalah manusia itu sendiri.

Sri menyebut rakyat Indonesia termasuk “short memory lost” (memorinya pendek, cepat melupakan kejadian-kejadian sejarah). Di jaman Orde Baru Sri mendapati sistem ekonomi tertutup, lalu muncul era Reformasi yang mendobrak sistem itu, sehingga menjadi terbuka (minim proteksi) seperti saat ini. Lalu Sri mempertanyakan, ketika ekonomi sudah terbuka, mengapa saat ini muncul ide-ide untuk kembali kepada ekonomi tertutup (seperti Orde Baru)?

Sri mendapati masalah utama di era Orde Baru ialah faktor korupsi. Mengapa setelah Reformasi tidak memaksimalkan upaya-upaya pemberantasan korupsi itu sendiri? Jadi tidak perlu kembali ke sistem ekonomi tertutup.

Sri menyebut masalah hutang negara itu biasa. Dalam sistem ekonomi yang dia pelajari selama ini, di dunia ini sudah ada mekanisme untuk mengatur soal hutang itu. Entah, kalau ada planet lain yang menerapkan cara lain. Kata Sri, hutang itu biasa, lumrah saja, asalkan diatur sesuai mekanismenya. Contoh, kata dia, hutang luar negeri di bawah 30 % nilai GDP itu masih wajar atau aman. Jadi, semua sudah ada mekanismenya, tidak usah dirisaukan. Ada parameter, ketentuan jatuh tempo, cara pembayaran, syarat-syarat, dan sebagainya.

Sri mengkritik pemikiran yang berkembang selama ini. Kata dia, ada sebagian orang yang selalu berdalih, “Hutang negara kita sekian-sekian, setiap anak yang baru lahir sudah terbebani hutang sekian juta.” Kata Sri, logika seperti ini sepintas tampak benar. Padahal menurut dia di Jepang dan China, meskipun negaranya berhutang besar, namun mereka bisa menjadi raksasa ekonomi luar biasa. Meskipun sekarang ada ide ekonomi Syariah, tetap saja di Arab mereka berhutang juga.

Demikian sekilas pemikiran Sri Mulyani yang bisa saya tangkap dari acara Wimar Live itu. Mungkin ada pengutipan-pengutipan yang tidak tepat. Mohon dimaafkan kalau tidak tepat benar. Tapi insya Allah, poin-poin di atas bisa di-check kembali ke pihak Sri Mulyani atau MetroTV.

MENGKRITISI EKONOM LIBERAL

Kalau kita cermat mengikuti pemikiran-pemikiran Sri Mulyani Indrawati, akan tampak jelas bahwa orang ini benar-benar penganut madzhab ekonomi liberal. Bukan hanya liberal secara pemikiran ekonomi, bahkan liberal secara kebudayaan. Apa yang dia sebut sebagai “bagian dari warga dunia yang concern dengan manusia”  adalah jargon-jargon globalisasi. Harus diingat, salah satu prinsip ekonomi liberal adalah= anti proteksi!  Mereka paling benci kalau suatu negara memproteksi ekonominya dari serbuan produk-produk asing. WTO sendiri jelas berdiri di atas prinsip “world without border line”. Globalisasi dan liberalisme, seperti dua sisi mata uang, tidak bisa dipisahkan satu sama lain.

Kalau Sri menyebut dirinya sebagai orang Jawa, saya ragu. Dalam falsafah Jawa ada sebuah kredo, “Mangan ora mangan, syukur kumpul” (baik makan atau tidak makan, asal tetap berkumpul dengan keluarga). Prinsip ini sangat berbeda dengan konsep “warga dunia” yang diklaim Sri Mulyani itu.

Sri juga mengatakan, bahwa soal hutang itu masalah biasa saja. Ia ada mekanisme dan instrumen untuk mengelolanya, dengan sebaik-baiknya. Jadi hutang yang disebarkan lembaga-lembaga seperti IMF, Wordl Bank, ADB, CGI, dan lain-lain itu biasa. “Toh, semua ada mekanisme mengelolanya,” kata Sri Mulyani.

Mungkin karena Sri pernah menjadi seorang pejabat IMF, maka pikirannya pun mendukung agenda IMF. Betapa hutang (debt) itu telah menjadi INSTRUMEN PENJAJAHAN EKONOMI dari lembaga-lembaga donor dunia atau negara-negara industri maju terhadap negara-negara berkembang. Ini sudah menjadi rahasia umum. Indonesia selama ini telah masuk perangkap hutang (debt trap), dan tidak berkutik karena ditawan oleh hutang dan bunga-bunganya. Sampai dikatakan, 40 % anggaran APBN kita dipakai untuk menutupi hutang-hutang negara.

Justru sisi buruk pemikiran Sri Mulyani ada dalam konteks di atas. Bagaimana bisa dia mengatakan bahwa hutang lembaga-lembaga dunia itu merupakan stimulus ekonomi yang menguntungkan bagi suatu negara? Jelas-jelas semua ekonom tahu, bahwa Krisis Moneter 1997 terjadi di Indonesia karena mengalir derasnya hutang-hutang asing berjangka pendek, lalu harus dikembalikan dalam bentuk mata uang dollar. Begitu pula hancurnya ekonomi Indonesia saat ini adalah akibat penerapan Letter of Intends dari IMF yang disetujui Soeharto tahun 1997 lalu itu. Apa Sri Mulyani terlalu bodoh untuk mengingat semua ini?

Bahkan Joseph Stiglitz, dia mendapat hadiah Nobel Ekonomi karena tesisnya, bahwa sebagian besar resep ekonomi  IMF tidak menyehatkan, malah mematikan negara-negara “pasien” lembaga itu. Dr. Hendri Saparini menjelaskan, bahwa dalam salah satu butir Letter Of Intends dengan IMF, disana diatur tentang ekspor rotan mentah ke luar negeri. Bayangkan, betapa kejinya IMF sampai mengatur soal tata-niaga rotan! Apa mereka kurang kerjaaan menyinggung soal rotan? Mengapa tidak sekalian saja IMF menyebut soal trasi, sambel, cabe, jengkol, mlandingan, dan sebagainya? (IMF itu identik dengan syaitan ekonomi).

Manusia dimanapun kalau tertawan oleh hutang, dia akan tunduk dengan pihak yang memberinya hutang. Mekanisme pembayaran hutang seperti yang dikatakan Sri Mulyani itu hanya mengungtungkan pihak kreditor (pemberi hutang) dan sangat merugikan pihak debitor (penghutang). Ya, kreditor mana yang baik hati? Mereka jelas akan mengambil keuntungan sebesar-besarnya dari hutang-hutang yang mereka berikan.

Secara ekonomi, memang sebuah negara sulit terlepas sama sekali dari hutang. Meskipun dalam kenyataan ada juga yang mampu tidak terikat oleh beban hutang. Tetapi hutang yang benar itu bukan berdasarkan persepsi kreditor yang rata-rata menjadi biang sistem ribawi itu. Tetapi hutang itu berdasarkan kebutuhan riil kita, kita cari dengan mengutamakan jalan persaudaraan, dan tidak memakai mekanisme ribawi. Jika demikian caranya berhutang, insya Allah tidak akan ada penderitaan negara-negara di dunia.

Betapa buruknya pemikiran Sri Mulyani, dia seperti mengajak bangsa Indonesia terjun bebas ke mekanisme hutang ekonomi, lalu menjadi debitor sebaik-baiknya. Atau menjadi negara penghutang budiman. Di mata Sri Mulyani, seolah kalau kita ikuti semua tata-cara berhutang budiman itu, semuanya akan beres-beres saja.

Selain pandangan seperti itu tidak mencerminkan bahwa Sri adalah orang cerdas. Di sisi lain dia melupakan kenyataan besar selama ini, yaitu: KOLONIALISME BARU. Sri seolah tidak sedikit pun tahu bahwa proses kolonialisme itu masih ada sampai saat ini, bahkan caranya semakin canggih, dan penyebarannya semakin massif ke seluruh penjuru dunia. Sri tidak percaya dengan kolonialisme baru. Dalam kesempatan lain, dia sangat tidak suka dengan istilah “penjajahan” sebagaimana didengung-dengungkan banyak kalangan.

Sri disini bukan seorang pengamat, atau ekonom, apalagi ilmuwan. Dia lebih terlihat sebagai partisan saja, berpihak ke satu kepentingan, bahkan bisa jadi menjadi agen kepentingan itu. Sangat disayangkan!

Kolonialisme baru adalah kenyataan yang tak diragukan lagi. Kalau mau dibahas, tentu amat panjang lebar. Tetapi satu contoh saja yang mudah. Indonesia pernah membeli beberapa unit pesawat F16 ke Amerika. Tentu harganya amat sangat mahal. Suatu saat, pasca referendum di Timor Timur, Amerika menuduh Indonesia melakukan kejahatan HAM di Tim-Tim. Akibat tuduhan itu, Amerika menerapkan sanksi boikot pembelian spare part F16 ke Indonesia. Betapa susahnya TNI. Mereka mengoperasikan F16 dan menemui masalah-masalah, tetapi tidak bisa membeli spare part ke Amerika sebab diboikot dari sana.

Akibat kejadian itu, Indonesia melirik kemungkinan membeli pesawat Shukhoi dari Rusia. Ya, bagaimana lagi, dengan f16 bermasalah? Tetapi ketika Indonesia mau beli Shukhoi, Amerika mencak-mencak. Mereka tidak suka Indonesia bertransaksi dagang alutsista dengan Rusia. Nah, ini contoh kongkret bejatnya penjajahan jaman modern, meskipun bentuknya tidak selalu berupa agressi seperti di Irak atau Afghanistan.

Sri Mulyani susah kalau disodori fakta-fakta seperti di atas, sebab dia seperti sudah puas dengan pemikiran-pemikiran pro kapitalisme dunia. Dia akan selalu menolak fakta-fakta kolonialisme. Sri seperti menyuruh kita menjadi negara penghutang boediono, eh maksudnya negara penghutang budiman.

Sikap Sri Mulyani semakin jelas ketika dia mengatakan bahwa sistem ekonomi Orde Baru bersifat tertutup dan seiring Reformasi ia menjadi terbuka. Mengapa setelah terbuka, harus kembali tertutup?

Padahal proteksi ekonomi suatu negara sama dengan membela kepentingan negara itu agar tidak dijarah oleh negara-negara besar dunia atau oleh lembaga-lembaga drakula ekonomi seperti IMF, Bank Dunia, ADB, dan lain-lain. Proteksi ekonomi itu SAMA seperti cara kita mempertahankan negara dengan peperangan melawan musuh yang datang menyerang. Proteksi ekonomi dan proteksi keamanan itu tidak berbeda sama sekali. Proteksi keamanan tujuannya melindungi kehidupan manusia; begitu juga proteksi ekonomi.

Sebuah bangsa yang tidak memproteksi ekonominya, dijamin ia akan hancur berkeping-keping. Jepang dulu terkenal dengan sistem Dumping untuk memproteksi ekonomi negerinya. Begitu juga China, mereka juga memproteksi ekonominya. India dan Brasil sangat ketat dalam memproteksi pasar perdagangan hasil pertanian dari produk-produk asing. Petani Korea Selatan tidak segan menyerang aparat negaranya sendiri, demi memproteksi ekonomi mereka dari masuknya produk-produk asing. Bahkan Eropa menerapkan mata uang Euro, hal itu dalam rangka memproteksi kawasan Eropa dari serbuan Dollar Amerika dan Yen Jepang.

Hanya karena negara Indonesia ini, rakyatnya bodho-bodho dan gampang diapusi, maka pikiran-pikiran sesat semodel Sri Mulyani Indrawati itu menjadi laku keras. Bayangkan, pemikiran buruk seperti itu dimiliki seorang Menteri Keuangan RI. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan keselamatan, semoga Rabbul ‘alamiin selalu melindungi kaum Muslimin di negeri ini dari tangan-tangan zhalim kepentingan penjajah asing. Allahumma amin ya Karim ya Rabbul ‘Izzati amma yashifuun.

AMW.

Iklan

11 Responses to Membaca Pikiran Sri Mulyani

  1. abu naura berkata:

    YA MEMANG BEGITULAH KARAKTER SEORANG PEREMPUAN YANG TAK PAHAM AKAN AGAMA NYA , SEOLAH DIA MERSA ORANG YAMG PALING SEMPURNA DALAM HAL PEREKONOMIAN NEGARA SETELAH MENIMBA ILMU DARI PAMAN SAM THE DAJJAL NATION , SEDANG NABI PERNAH BERSABADA KETIKA SEBUAH NEGARA DIPIMPIN OLEH SEORANG WANIOTA MAKA TUNGGULAH KEHANCURANNYA…..

  2. yuta berkata:

    Satu sisi yang menurut saya belum dibahas…

    Bagaimana dengan korupsi ?

    Apapun sistemnya kalo mentalnya masih mental maling, mau bicara apa ?

  3. Ana Jiddan berkata:

    Jelas sudah keharaman untuk vote SBY Berbudi…

  4. rakyat berkata:

    Saya bukan pendukung Sri Mulyani. Tapi, mohon berhati-hatilah dalam menulis sesuatu yg menghakimi seseorang. Pahami lebih dalam konteksnya, gali informasi dari orang2 yang bisa dipercaya, kuasai ilmunya dengan baik sebelum berkomentar. Jangan sampai terjetrumus ke fitnah.
    Satu hal ingin saya bagi di sini, sejauh yg saya tahu, hutang itu merupakan salah satu instrumen pembiayaan selain ekuitas (dana sendiri) dan tidak diharamkan oleh agama Islam. Kelebihan hutang dibandingkan adalah dapat meningkatkan (leverage) nilai aset/proyek yang dimiliki karena konsep sharing risiko atau risiko investasinya relatif lebih kecil dibandingkan 100% ekuitas (0% hutang). Dan tolong juga diteliti, tidak ada satupun entitas (yg sukses tentuya) di dunia sekarang ini, termasuk di negara islami, yang tidak menggunakan hutang sebagai instrumen pembiayaannya.
    Debat kusir yang terjadi saat ini tentang neolib vs kerakyatan adalah omong kosong selama kebijakan yang diambil tidak berpihak kepada rakyat. Dan janganlah kita terjebak ke dalamnya. Telitilah jejak rekam figur2 yang menjadi think-tank di belakangnya. Jangan sampai kita menyesal 5 tahun ke depan.
    Yang pasti, memang lebih mudah berkomentar dan menghakimi orang dibandingkan menyodorkan solusi dan argumen yang bisa diterima banyak orang baik akademisi maupun praktisi.

    Terima kasih.
    -seorang rakyat Indonesia yang sedang studi doktoral bidang finance di Singapura-

  5. abisyakir berkata:

    @ rakyat.

    Terimakasih atas komentar Anda. Silakan baca-baca, semoga bermanfaat.

    Ya, saya tidak apriori dengan Sri Mulyani atau siapa saja. Tapi kita melihat pada track record dan buah pemikiran dia. Saya masih ingat waktu ramai-ramainya Krisis Moneter 1997, waktu itu Sri Mulyani seorang ekonom, doktor, dosen FE UI. Dia sangat kritis komentar-komentarnya, dan menuntut agar dilakukan perubahan secara radikal konsep ekonomi makro Indonesia. Pokoknya dia kritis benar, dan nama dia melambung justru karena Krisis Moneter 1997 itu. Tapi tahun 1998, 1999, dan entah berapa lama kemudian, tiba-tiba nama Sri Mulyani tenggelam dari peredaran. Sebagai ekonom, pengamat ekonomi, atau ilmuwan ekonomi, tidak terdengar namanya. Tahu tidak dia kemana? Ternyata, dia menjadi salah satu pejabat eksekutif IMF. Kalau tidak salah, dia menjadi supervisor IMF untuk wilayah Asia-Pasifik. Nah, saya merasa orang ini munafik sekali. Semula komentar-komentarnya kritis, tetapi kemudian “cari aman” sendiri dengan menjadi pejabat IMF. Memalukan!!!

    Selebihnya, setelah Sri menjadi orang IMF, ya apa lagi yang bisa diharapkan? Pikiran dia tidak jauh dari urusan moneter, kebijakan fiskal, hutang luar negeri, pajak, subsidi, suku bunga, indeks saham, investasi, pertumbuhan ekonomi, angka inflasi, dan sejenisnya. Jadi, cara berpikir dia, sebagaimana layaknya para penganut madzhab liberal, selalu kebijakan fiskal dan moneter. Mereka anti dengan pengembangan sektor riil. Sebab kalau bicara sektor riil, pasti dia akan bertemu dengan UKM yang jumlahnya puluhan juta. Orang-orang liberal anti ngurusi UKM, mereka lebih suka bicara “pertumbuhan ekonomi” yang dicapai oleh kemajuan-kemajuan semu dari korporasi-korporasi besar, bukan bisnis rakyat secara kolektif.

    Menyerahkan ekonomi ke tangan Sri Mulyani Cs. seperti menyerahkan harta-benda Ummat ke tangan asing. Na’udzubillah min dzalik.

    AMW.

  6. ivenxadytia berkata:

    wah… seru juga baca blog nya…
    success yah….

  7. Abdul Hafiz berkata:

    Kalo liat dari mukanya, Sri Mulyani tegas, jujur dan baik. Beda sama wajah2 banyak anggota DPR, pengacara, jaksa, polisi. di jaman dia, ekonomi jadi bagus. citra indonesia bagus. saya bisa kerja, orangtua saya bisa kerja lagi. tetangga2 saya juga kerja. banyak orang senang. apalagi SBY sudah bisa jaga stabilitas.

    untuk rakyat kecil mah, nggak peduli neolib atau neosep. yang penting bisa kerja, makan, sekolah, dan punya rumah.

    ngomong2, saya orang jawa tulen, tapi saya paling benci pepatah mangan ra mangan seng penting ngumpul! gara-gara pepatah ini, rumah saya (di jakarta) jadi tempat penampungan sanak sodara dari kampung. Stok beras seminggu cuma habis dlm 2-3 hari! Dasar gueblek. Yang bener: ngumpul ra ngumpul, seng penting gawe! Dapat duit baru ngumpul, itu baru nyenengi keluarga, bukannya nyusahi…

  8. Harsa Arizki berkata:

    Menurut pendapat saya sistem pengelolaan hutang yg baik adalah kunci pertumbuhan suatu negara. Ingat negara-negara maju seperti eropa barat dan amerika serikat pun tidak luput dari hutang, ingat marshall plan (bantuan AS kepada Eropa pasca perang dunia II) sejumlah 12 Milyar USD (kalau dihitung dengan nilai inflasi itu bisa nilainya berpuluh kali lipat nya sekarang), dan Amerika Serikat pun tercatat sebagai penghutang terbesar dari IMF.

    Tapi faktanya negara-negara tersebut menjadi kekuatan ekonomi yang besar di dunia internasional. Nah kunci sukses mereka apaan? bisa dibilang kunci sukses mereka adalah pengelolaan hutang yang baik (hutang digunakan secara efisien utk memajukan ekonomi negara dan masyarakatnya).

    Coba kita lihat fakta-fakta yang ada di dunia, hampir semua negara pun tidak luput dari hutang internasional baik negara maju, berkembang, apalagi negara miskin. Mungkin ada satu negara yang katanya sangat mandiri, dan bebas hutang internasional yaitu Korea Utara, kita lihat negara itu gimana ekonominya, rakyatnya mengalami kemiskinan secara keseluruhan. padahal prinsip negara itu khan ekonomi sosialisme komunisme, dimana negara mementingkan rakyatnya, yang terjadi malah arogansi pemerintah, pembutaan publik, kemiskinan total. Uang hanya dikuasai oleh pemerintah nya saja. Nah, tidak fair kalau kita tidak membandingkan dengan negara komunis lainnya, yaitu China, yang merupakan kekuatan ekonomi dengan pertumbuhan terbesar saat ini, memang pemerintahan nya sosialis komunis, tapi sistem ekonominya sangat liberal seperti yang di reformasikan oleh Deng Xiaoping.

    Salah satu kunci sukses China, adalah masuknya modal investasi asing secara besar-besaran ke China pasca reformasi ekonomi (Dekade 1990-an). Dimana pabrik-pabrik dibangun lapangan pekerjaan tercipta, ekonomi bergerak, nah apalagi kalau bukan pengelolaan hutang yang baik.

    menurut pandangan saya, kebijakan Bu Sri Mulyani sudah tepat. pertumbuhan ekonomi riil indonesia 4,4 % pada tahun 2009. sementara negara-negara maju dan eropa nol koma persen bahkan minus. rupiah stabil, IDX stabil, investasi asing meningkat tajam (lapangan pekerjaan pun tercipta). Coba bandingkan sama pemimpin kita terdahulu yang mengaku-ngaku pro-rakyat, ekonomi rakyat, tapi kenyataan nya malah menandatangani perjanjian outsourching (sistem kerja kontrak) bukannya itu sangat kapitalis dan nyata-nyata merugikan rakyat? juga penjualan asset-asset negara ke pihak asing (sangat parah, kenapa negara tidak meminjam uang untuk membangun perusahaan-perusahaan tersebut agar menjadi besar, dan setelah mampu melunasi hutangnya bisa menjadi penghasil lapangan pekerjaan dan pundi-pundi uang yang bisa digunakan utk mensejahterakan rakyat?).

    nah, fakta-fakta lah yang berbicara bukan hanya retorika belaka. tidak peduli apa itu neolib atau bukan kalau utk memajukan negara kenapa tidak?

  9. abisyakir berkata:

    @ Harsa Arizki…

    Hutang (debt) pada suatu kondisi dibutuhkan, misalnya kita punya potensi produksi besar dan permintaan pasar besar, sementara modal tidak ada. Nah, saat itu hutang bisa membantu.

    Pada saat yang lain, hutang hanya akan menjadi beban suatu negara. Bahkan pada kondisi yang pincang, hutang akan menjadi jebakan maut, sehingga suatu bangsa kehilangan KEDAULATAN-nya. Persis seperti yang terjadi di Indonesia, akibat hutang-hutang IMF, bangsa ini kehilangan kemandirian. Sekarang, apa-apa harus lapor negara asing, atau Bank Dunia, atau IMF, atau grup G20 dan lain-lain. Begitu bodohnya, sampai seorang menteri Kabinet SBY “dibajak” oleh Bank Dunia, dan kita malah bangga. (Bukan soal Sri Mulyaninya, tapi soal harga diri yang sangat rendah).

    Hutang itu hal manusiawi, maka Al Qur’an mengatur etika hutang-piutang. Tapi masalahnya, instrumen hutang ini sering dipakai kaum RENTENIR untuk menjajah orang lain. Ya, itulah keahlian spesial Yahudi. Yahudi menjadikan INSTRUMEN HUTANG untuk menguasai dunia, dan mereka sukses besar. Termasuk Yahudi saat ini ngangkangi ekonomi Indonesia. Ada informasi yang mengatakan, George Soros memasok uang untuk Bank Indonesia. Maka itu Soros marah ketika uang BI dipakai untuk menalangi Bank Century. Ingat, saat Soros bertemu Boediono?

    Catatan yang disampaikan Saudara @ Harsa Rizki masih terlalu umum. Tidak menjelaskan masalah sebenarnya, yaitu bahaya POLITIK RENTENIR di balik instrumen pinjam-meminjam. Sederhanya beginilah, Joseph Stigliz mendapat hadiah Nobel Ekonomi, justru karena kritik-kritiknya terhadap IMF. Kata dia, resep IMF lebih banyak membunuh pasiennya, daripada menyembuhkan.

    Contoh nyata, resep IMF tahun 1998 lalu di Indonesia lewat Letter of Intend. Justru resep itulah yang saat ini mematikan ekonomi Indonesia, merusaknya sedalam-dalamnya. Masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah.

    Kalau soal angka pertumbuhan ekonomi, indeks saham, kurs valas, dll. itu kan hanya dinikmati oleh orang-orang berekonomi kuat, orang-orang mapan ekonomi di perkotaan. Sedangkan di mata rakyat Indonesia yang menderita, semua parameter nilainya hanya seperti ASAP ban-ban yang dibakar para demostran di jalan-jalan.

    Ekonomi yang cocok untuk Indonesia, ya ekonomi koperasi itu. Seperti yang digagas Hatta. Kalau itu terlalu ekstrim, ya ekonomi yang melindungi kepentingan rakyat kecil dari keserakahan para kapitalis. Adapun ekonomi yang dianut oleh Sri Mulyani Cs, sebagai agama mereka, ya ini sih bukan ekonomi yang berkeadilan. Itu ekonomi eksploitasi dari kekuatan besar terhadap kekuatan kecil.

    Terimakasih.

    AMW.

  10. Harsa Arizki berkata:

    Memang benar seperti kata anda, tapi kita pun harus menyadari hal itu terjadi karena kita memiliki posisi tawar yg rendah dlm deal dgn lembaga keuangan internasional dan negara-negara maju. Sehingga kompromi-kompromi politik pun tentu harus dilakukan. Menurut saya kegagalan yg terjadi tersebut ya karena hutang itu di korupsi oleh orang-orang kita sendiri. Fakta-fakta di lapangan membuktikan bahwa Indonesia adalah negara terkorup di Asia Pasifik dengan indeks 9, 07 (nilai 10 ada skala korup tertinggi) pada tahun 2009. Selain itu birokrasi di Indonesia sangat parah, dimana investor asing maupun lokal tidak memiliki jaminan fix-tariff (pajak yg tetap) sehingga utk menentukan fix-cost (biaya tetap) biaya produksi menjadi sulit. Contoh nyata nya adalah, ketika seseorang ingin mengirim barang misal: kelapa sawit dari sumber bahan baku (perkebunan) ke pabrik, di perjalanan itu banyak pungli (pungutan liar) yang dilakukan oleh oknum pemerintah ataupun masyarakat lokal setempat, dan itu tidak hanya satu pos saja tapi bisa berpos-pos dan tidak pasti jumlahnya berapa (biayanya). belum masalah pengurusan ijin yg memerlukan instrumen suap agar lancar yg sudah membudaya. sehingga investor pun enggan untuk berinvestasi di Indonesia, sehingga kesempatan kerja pun menjadi lebih sedikit (tdk ada dana mana bisa berproduksi dan pastinya tidak ada lapangan pekerjaan). Mengapa investor lebih memilih utk menanamkan modalnya di China dan Vietnam? ya karena sistem birokrasi disana lebih jelas, sehingga penetapan biaya produksi pun menjadi jelas dan nilainya tetap. (awalnya di China pun mengalami masalah birokrasi seperti indonesia pada massa awal reformasi ekonomi 1990-an) utk jelasnya coba baca buku karangan Tim Clissold yang judulnya Mr. China. apabila kita lihat negara-negara eropa merekapun tidak menerapkan kapitalisme murni, contohnya Jerman yg cenderung lebih sosialis, misalnya pelayanan kesehatan (kecuali dokter gigi) gratis, sekolah sampai tingkat universitas gratis (khusus utk public school), jaminan sosial, tapi merekapun juga harus menanggun konsekuensinya yaitu nilai pajak yg tinggi (pajak di indonesia bisa dibilang cukup rendah/bahkan pengelolaan nya tidak efisien/mafia perpajakan banyak). Bahkan Amerika pun sebagai pusat kapitalisme skrg menerapkan Health Reform (sosialisme) yg di cetuskan oleh Barrack Hussein Obama. Dimana masyarakat yg tidak memiliki asuransi kesehatan dijamin oleh pemerintahnya. Hal ini bisa dilakukan karena pemerintahannya kaya sehingga mampu utk menanggung itu semua. Pemerintah Indonesia sulit utk melakukan itu smua ya karena modal (capital) yg dimiliki pemerintah rendah apabila dibagi oleh 220jt penduduk Indonesia. Saya akan berpendapat atas statement diatas ttg George Soros dan Bank Indonesia dimana George Soros menginvestasikan uangnya di Indonesia, secara logika misalnya saya meminjam uang dengan saudara utk melakukan usaha, tapi di perjalanan saya mengalami kegagalan atau uang itu digunakan untuk urusan pribadi saya, apa anda tidak marah? (secara anda pastinya mengharapkan keuntungan dengan memberi modal kepada saya). Jadi berpikir realistis lah ttg suatu masalah. Satu lagi membawa rasisme dlm membahas suatu hal, masalah rentenir ini pun harus kita sadari memang yg menciptakan sistem riba (bunga) itu adalah yahudi, tapi yang melakukannya bukan hanya orang yahudi saja tapi semua ras tidak peduli apapun agama suku ataupun bangsanya (Citibank Corporation saja sekarang yg memiliki adalah Negara Arab yg pastinya muslim/kalau gitu muslim melakukan riba juga dong?)kita harus sadar komputer (Bill Gates adalah yahudi) yg kita gunakan utk mengisi blog ini yg menciptakan adalah yahudi kalau benci dengan yahudi kenapa kita menggunakan komputer kalau begitu. Sebagai seorang muslim saya memandang masalah sesuai konteksnya. Kita harus menunjukan bahwa kita lebih baik daripada mereka, ayo!

  11. Firdaus Champay berkata:

    Yang pasti, memang lebih mudah berkomentar dan menghakimi orang dibandingkan menyodorkan solusi dan argumen yang bisa diterima banyak orang baik akademisi maupun praktisi.

    Terima kasih.
    -seorang rakyat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: