Rumitnya Kasus Hukum Manohara

Melihat konferensi pers Manohara dan para pengacaranya, sangat tampak mereka begitu optimis sekali akan berhasil memperkarakan Tengku Fahry dan keluarga Kerajaan Kelantan. Manohara telah membuktikan bahwa di tubuhnya terdapat bekas-bekas luka akibat perlakuan suaminya. Hal itu diperkuat oleh kesaksian dr. Abdul Mun’im Idris, ahli forensik RSCM, setelah dia melakukan pemeriksaan fisik kepada Manohara. Posisi dr. Mun’im Idris bisa dianggap sebagai GARANSI, bahwa luka-luka di tubuh Manohara memang ada dan nyata. Ya, siapa yang meragukan sosok dr. Mun’im yang sudah malang-melintang di dunia otopsi mayat itu? (Kecuali kalau ada khilaf-nya lho ya. Namanya juga manusia, tidak lepas dari khilaf dan alpa).

Kalau melihat sikap Hotman Paris, pengacara Manohara. Rasanya orang ini sangat bersemangat. Menggebu-gebu. Seolah posisi Tengku Fahri dan keluarganya sudah terhampar di telapak tangan, tinggal di-pithes saja. (Di-pithes itu bahasa Jawa, keadaannya seperti kutu rambut yang ditekan dengan kuku ibu jari, lalu bunyi “kletak”).

Kalau mau jujur, masalah hukum Manohara Pinot itu rumit dan sulit. Oke-lah Manohara sudah bebas, alhamdulillah. Tetapi untuk memperkarakan Tengku Fahry dan keluarganya, apalagi berharap mereka akan dipenjara, atau ganti “disileti” (he he he…), tampaknya sangat sulit. Kalau targetnya hanya Manohara bisa cerai dari suaminya, mungkin mudah, tetapi untuk memperkarakan Tengku Fahry dan keluarganya ke pengadilan sangat sulit.

Bukan pesimis lho ya, tapi realistis. Alasannya sebagai berikut:

[1]  Tempat Kejadian Perkara (TKP) kasus Manohara itu terjadi di Kelantan, di luar yuridiksi Indonesia. Hotman Paris, Farhat Abbas, dll. kan pengacara di Indonesia, bukan pengacara di Malaysia, atau pengacara dalam level hukum internasional.  Tindak kekerasan yang dituduhkan itu terjadi di Malaysia, atau di Negeri Kelantan. Otomatis yang kelak akan mengadili kasus ini adalah pengadilan di Kelantan. Ya, dimana lagi? Wong kejadiannya memang disana.

[2] Pihak yang dituntut Manohara adalah Putra Mahkota Kelantan dan keluarganya. Semua orang tahu bahwa di jaman modern ini susah mencari pengadilan yang benar-benar adil. Sebagian besar mahkamah hukum masih dipengaruhi oleh kekuasaan. Bahkan pengadilan di Amerika sekali pun, yang konon disebut-sebut sangat adil, tidak sepi dari intervensi kekuasaan.

Contoh mudah, George Bush menyerang Irak tahun 2003 dengan tuduhan di Irak memiliki reaktor senjata pemusnah massal. Tetapi setelah diselidiki, disana tidak ada reaktor yang dituduhkan. Artinya, Bush telah bohong ketika melakukan penyerangan ke Irak. Bush bisa disebut penjahat perang karena mengagresi bangsa lain dengan alasan bohong. Amerika sendiri bisa disebut The Real Terrorist Nation. Tetapi siapa berani mengadili George Bush? Padahal kesalahannya sangat terang benderang. Begitu pula dengan kondisi di Indonesia. Kita tahu, salah satu sebab yang membuat masyarakat sekarang hidup sengsara adalah Mega Skandal BLBI sekitar tahun 1997-1998. Sampai saat ini kasus itu masih gelap. Disana para pejabat senior Bank Indonesia, Departemen Keuangan, dan lainnya banyak yang terlibat BLBI. Namun sampai saat ini, tidak ada mantan pejabat Bank Indonesia yang dijebloskan ke penjara karena BLBI. Ini hanya contoh bahwa kekuasaan itu sangat kuat dalam mempengaruhi keadilan proses peradilan.

Ibu Manohara sendiri, Dessy Fajarina mengakui bahwa keliarga Kerajaan Kelantan sangat kaya. Mereka dengan uang yang dimiliki bisa berbuat apa saja. Nah, itu Bu Dessy sudah mengerti. Tetapi kalau memang pihak Manohara siap dengan segala konsekuensinya untuk memperkarakan keluarga Kerajaan Kelantan. Itu juga bisa ditempuh. Coba saja terus berproses, siapa tahu nanti akan ada keadilan seperti yang diharapkan. (Meskipun dalam hati, saya pesimistik).

[3] Kasus Manohara berada dalam ranah KDRT (Kekerasan dalam Rumah Tangga). Ia sangat berbeda dengan kasus kriminal biasa. KDRT itu terjadi dalam lingkup keluarga. Parameternya masih nisbi. Sebagian kekerasan dianggap melanggar hukum, sebagian lain dianggap tidak. Di Indonesia sendiri kalau tidak salah KDRT telah menjadi salah satu muatan hukum yang berlaku. Namun apakah di Malaysia juga menerapkan hal itu?

Sebagai contoh, seorang suami menampar isterinya. Oleh sebagian orang itu diklaim sebagai KDRT. Tetapi oleh sebagian yang lain, tidak. Nah, ini sangat menyulitkan proses hukumnya. Berbagai kenyataan dalam rumah-tangga itu sulit dipetakan muatan hukumnya. Bayangkan, poligami pun oleh sebagian aktivis gender dianggap KDRT. Padahal dalam Islam, poligami diperbolehkan dengan batasan-batasan tertentu.

[4] Tidak mudah membuktikan bahwa Tengku Fahry telah melakukan perbuatan kekerasan kepada Manohara. Manohara memiliki gambar berupa bekas-bekas luka di tubuhnya, dan hal itu diklaim sebagai bekas sayatan benda tajam. Gambar-bambar luka itu ada, namun bagaimana meyakinkan hakim bahwa pelaku kekerasan pada tubuh Manohara itu suaminya, Tengku Fahry? Dr. Mun’im Idris ketika ditanya TVOne, bisakah luka-luka di tubuh Manohara itu disimpulkan sebagai bekas penganiayaan suaminya? Dia mengatakan, vitsum itu hanya melaporkan hasil akhir kondisi tubuh seseorang, ia tidak bisa menjelaskan proses terjadinya sesuatu.

Tengku Fahry bisa didakwa melakukan kekerasan atau kezhaliman kepada isteri, kalau memang ada bukti-bukti yang memperkuat hal itu. Misalnya berupa rekaman video perbuatannya, atau berupa kesaksian orang-orang di sekitarnya, atau bukti-bukti lain yang memperkuat tuduhan. Kalau tidak ada, selain hanya bukti luka-luka di tubuh Manohara, maka tuduhan Manohara bisa mudah dipatahkan. Singkat kata, pihak Kelantan nanti akan membantah, “Buktikan bahwa Fahry melukai tubuh Manohara!” Lalu dijawab: “Ini buktinya, berupa luka-luka di tubuh Manohara.” Nanti akan dibantah lagi: “Benarkah luka itu yang menyebabkannya Tengku Fahry? Bisa saja Manohara, atau orang lain selain Manohara dan Fahry?” Nah, bagaimana menjawabnya, kalau ada pertanyaan seperti itu?

Sungguh, kasus Manohara ini tidak semudah kita mengonsumsi berita-berita di media massa. Dibutuhkan proses yang tidak mudah agar Manohara bisa mencapai yang diinginkan, yaitu pihak keluarga Kerajaan Kelantan diberi sanksi berat akibat penderitaan fisik yang menimpanya. Jalan ke arah sana masihlah panjang. Apakah Hotman Paris atau Farhat Abbas siap menjalani prosesnya yang berliku? Ya, itu terserah bagaimana komitmen mereka.

Dalam Al Qur’an ada sebuah ayat menarik:

“Isteri-isterimu seperti ladang bagimu, maka maka datangilah ladangmu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.” (Surat Al Baqarah: 223).

Tafsir ayat ini kurang-lebih, seorang suami boleh berhubungan seksual dengan isterinya, baik dari arah depan maupun dari arah belakang. Termasuk dari samping juga tidak apa-apa. Namun kalau dari arah belakang, tidak boleh melului lubang anus (dubur), tetapi harus tetap melalui vagina (farji). Hubungan seksual melalui anus itu haram secara mutlak.

Jadi, kebebasan ekspresi dalam hubungan seksual, menurut ajaran Islam, hanya dalam masalah gaya saja. Dari depan, belakang, atau samping, tidak masalah; asalkan tetap dari arah vagina. Adapun hubungan seksual melalui anus, seperti yang banyak dilakukan para pelaku Sodomi, baik kepada wanita maupun laki-laki (homoseks), haram secara mutlak. Termasuk haram, ialah hubungan seksual “berjamaah” seperti yang banyak dilakukan binatang-binatang pornografi di internet dan video. Haram juga melakukan perbuatan kekerasan kepada isteri, misalnya dengan sayatan, pukulan, tendangan, gigitan, dll. yang bisa menyiksa atau melukai isteri. Itu perbuatan biadab, lebih buruk dari perilaku binatang. Binatang itu kalau berhubungan seksual dengan sesamanya tidak melakukan aksi-aksi kekerasan yang melukai pasangannya. (Seandainya ada laki-laki yang melakukan perbuatan seperti itu kepada isterinya, lalu laki-laki itu menjadi raja di suatu tempat; misalnya ada kondisi demikian; dijamin negeri tempatnya berkuasa akan penuh sengsara).

Tidak ada satu pun dalil bisa dibenarkan untuk memasukkan cara-cara keji dalam mahligai rumah-tangga Islami. Bahkan Nabi Saw pernah mengatakan, “Khiyarukum khiyarukum li nisaa’ihim” (sebaik-baik kalian adalah yang paling baik sikapnya kepada wanita-wanitanya). Kalau misal ada, misalnya ada ya, suami yang senang melihat isterinya menderita, lalu dia sangat menikmati tetesan-tetesan darah yang keluar dari kulit isterinya; suami itu lebih baik disuruh hubungan seksual dengan singa betina yang seminggu tidak diberi makan. Nah, tuh lakukan saja yang “begituan” kepada singa betina itu! Nanti biar dia sendiri yang berdarah-darah badannya, lalu seminggu kemudian, ditemukan gigi-gigi suami brengsek itu dalam kotoran singa betina tersebut.

Kalau melihat kasus Manohara ini, lucu sekali rasanya. Betapa banyak wanita yang iri dengan kecantikan Manohara, termasuk presenter-presenter wanita di TV. Mereka membaca berita atau memandu diskusi di TV sambil kesal di hati, karena tidak memiliki kecantikan seindah Manohara. Tetapi kecantikan itu ternyata tidak otomatis membawa bahagia. Persis seperti yang dialami Manohara sendiri. Kecantikan malah membuatnya dirudung berbagai fitnah (cobaan).

Oh Manohara…oh dunia. Kayaknya dari dulu, hanya begini-begini saja. Iya nggak?

Wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.

(“pengamat kasus Manohara”. He he he…).

Iklan

2 Responses to Rumitnya Kasus Hukum Manohara

  1. Yasir Alkaf berkata:

    wakakakaka
    penutupnya ituloh
    ‘pengamat kasus Manohara’ :))

    tp ya saia sepakat emang sulit utk diungkap kasusnya. lebih baik fokus cerai saja drpd ribet,

    tp beda lagi klo ksus pidana ini dikaitkan dg usaha ‘menaikan eksistensi manohara d TV’. skdr cerai saja nilai menariknya lebih sdkt drpd cerai yg diiringi pidana penyiksaan ^_^

    toh nyatanya dia jga tampak enjoy tampil d TV kan?
    ^_^

    *hadooh, komennya ke mana2

  2. Wajib berkata:

    Boleh dibuktikan:
    1. Lari dari Malaysia tahun 2008. Tak masuk akal seorang puteri lari dari istana jika bukan tidak gembira
    2. Gambar foto dari Handfon
    3. Repot polis walaupun di indonesia, adalah dokumen bukti.
    4. Keterangan bersumpah Mano nanti di Mahkamah
    5. Keterangan bersumpah Ibu Manohara diberitahu awal oleh Manohara bahawa beliau didera.
    6. Keterangan Ibu dan Manohara bahawa Manohara telah diculik (tanpa izinnya)
    Memang saksi tiada. Kes kes begini mana ada saksi. Mana orang akan buat jahat dengan kehadiran saksi?
    Perkara-perkara tersebut adalah koroborasi kasus Manohara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: