Siapakah Salafi?

Sebuah tulisan yang diambil dari buku WAJAH SALAFI EKSTREM: Propaganda Menyebarkan Fitnah dan Permusuhan. Diterbitkan oleh Ad Difa’ Press, Bandung. Tulisan ini dimaksudkan untuk menjelaskan istilah Salafi dan pengertiannya dalam kehidupan kaum Muslimin. Semoga bermanfaat! Amin ya Karim.

=================================================================================

Istilah Salafi telah dibahas di berbagai kesempatan. Banyak tulisan-tulisan yang mengupas istilah Salafi dari sisi asal kata, makna, maupun aplikasinya dalam kehidupan nyata. Salah satu contoh tulisan dalam topik ini ialah Hakikat Dakwah Salafiyah, karya Abu Muhammad Dzulkarnain, dimuat di salafy.or.id, 20 November 2006. Tulisan ini tidak jauh beda dengan karya Syaikh Salim Al Hilaly berjudul As Salaf Was Salafiyyah: Lughah Wa Istilah Wa Zamanan.

Secara sederhana, Salafi berarti orang-orang di jaman sekarang yang mengikuti generasi Salaf. Generasi Salaf yaitu manusia-manusia yang hidup di jaman dahulu. Namun, Salaf yang dimaksud tidak bersifat mutlak, sebab Fir’aun, Bani Israil, atau orang-orang Arab jahiliyah, mereka juga Salaf. Salaf yang dimaksud adalah Salaf yang baik, yaitu tiga generasi Islam permulaan (Generasi Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam dan para Shahabat radhiyallahu ‘anhum; generasi Tabi’in rahimahumullah; dan generasi Tabi’ut Tabi’in rahimahumullah). Itulah yang kerap disebut As Salafus Shalih, yaitu para pendahulu Ummat Islam yang shalih. Atau juga ada yang menyebut, Al Qurun Al Mufadhalah (generasi yang mulia).

Istilah Salafi merujuk kepada pengertian, seseorang yang mengikuti ajaran Salafus Shalih radhiyallahu ‘anhum. Adapun bentuk jamak (plural) dari Salafi ialah Salafiyun atau Salafiyin. Lawan dari kata Salafi ialah Khalafi atau Khalafiyun, yaitu orang-orang yang mengikuti ajaran manusia di jaman kemudian (mutakhir). Dalam buku-buku sering disebut istilah ‘Ulama Salaf’ dan ‘Ulama Khalaf’. Pembedaan Salafi atau Khalafi pada asalnya berpangkal dari perbedaan jaman (kurun waktu); Salaf di masa lalu, Khalaf di masa kini.

MAYORITAS MUSLIM SALAFI

Kalau mau jujur, sebenarnya mayoritas Ummat Islam saat ini, mereka berpaham Salafi.[1] Artinya, mereka mengikuti jejak Salafus Shalih, yaitu Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam dan para Shahabat, para Tabi’in, dan Tabi’ut Tabi’in radhiyallahu ‘anhum. Mereka mengikuti ajaran yang ditinggalkan oleh generasi terbaik dalam sejarah Islam itu.

Banyak bukti bisa disebutkan, bahwa mayoritas Ummat Islam saat ini adalah Salafi, dalam arti menjadi pengikut dan pewaris kegemilangan Salafus Shalih. Sebagian buktinya adalah sebagai berikut:

  • Ummat Islam membaca, menghafal, mengkaji, dan mengajarkan Al Qur’an Al Karim. Al Qur’an yang kita baca saat ini adalah Mushaf Utsmani yang ditulis dan dibukukan di masa Khalifah Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu. Khalifah Utsman berasal dari generasi Salafus Shalih, berarti kita mengikuti kaum Salaf.
  • Bacaan Tilawah Al Qur’an kita selama ini adalah salah satu dari tujuh bacaan Al Qur’an (Qira’ah Sab’ah) yang diwariskan dari jaman Salafus Shalih, khususnya dari riwayat Hafsh ‘an Ashim.
  • Hadits-hadits Nabi yang kita imani, kita yakini, kita amalkan, dan kita ajarkan selama ini, semua itu bersumber dari Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam, diterima oleh para Shahabat radhiyallahu ‘anhum, lalu diajarkan oleh para Salaf sampai ke imam-imam hadits. Hasil kodifikasi imam-imam hadits itulah yang kemudian sampai kepada kita. Setiap hadits shahih yang kita terima bersumber dari jaman Salafus Shalih.
  • Ilmu Bahasa Arab yang kita pahami, konsep Nahwu, Sharaf, serta cabang-cabang ilmu Sastra Arab, semua itu bersumber dari ajaran Salaf. Di jaman itu memang belum ada buku-buku pelajaran bahasa Arab seperti sekarang, tetapi konsep bahasa Arab Fusha (standar) diajarkan dari jaman ke jaman.
  • Sejarah perjuangan Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam (Shirah Nabawiyah) yang kita kagumi dan banggakan, ia juga bersumber dari khazanah Salaf. Begitu pula dengan sejarah Khulafa’ur Rasyidin radhiyallahu ‘anhum, biografi para Shahabat dan Shahabiyah radhiyallahu ‘anhum, biografi para Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in, imam mujtahid, imam ahli hadits, para Khalifah yang shalih, panglima perang, ahli ibadah, dan sebagainya.
  • Konsepsi akidah shahihah, yang selamat dari penyimpangan kaum Khawarij, Rafidhah (Syi’ah), Mu’tazilah, Jabbariyyah, Qadariyyah, Murji’ah, Jahmiyyah, Shufiyah, dll. juga bersumber dari ajaran Salafus Shalih.
  • Kaidah-kaidah ilmiyah, seperti kaidah Ushul Fiqih, Ushul Tafsir, dan kaidah Musthalah Hadits, yang banyak dipelajari di universitas-universitas, madrasah, ma’had, pesantren, dll. semua itu disusun oleh ulama Salaf. Salah satu contoh, kitab Ar Risalah karya Imam Syafi’i rahimahullah disebut sebagai fondasi pengembangan ilmu Ushul Fiqih.
  • Buku-buku yang kita warisi seperti Tafsir Ibnu Jarir At Thabari, Tafsir Al Qurthubi, Tafsir Ibnu Katsir, Kitab Shahih Bukhari, Kitab Shahih Muslim, Kitab Sunan Abu Dawud, dan lain-lain, semua itu juga warisan Salafus Shalih. Meskipun kitab-kitab itu tidak disusun di tiga jaman Islam permulaan, tetapi isinya merujuk kepada riwayat-riwayat dari era Salafus Shalih.
  • Ummat Islam mewarisi praktik amal-amal ibadah, seperti Shalat, Zakat, Shaum, Haji, Umrah, dan sebagainya. Termasuk amal-amal ibadah jama’i seperti Shalat berjamaah, Shalat Jum’at, Shalat ‘Ied, Shalat Tarawih, Shalat Istisqa’, merawat jenazah, dan seterusnya.
  • Ummat Islam juga mewarisi tatacara penamaan Islami. Anak-anak Muslim diberi nama Muhammad, Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Ja’far, Hamzah, Mu’adz, Abdullah, Husein, Hasan, dsb. Kalau nama anak perempuan seperti Khadijah, Aisyah, Fathimah, Zainab, Ummu Kultsum, Asma’, Hafshah, dll. Mengapa nama-nama itu dipakai? Karena Ummat Islam mengharapkan anak-anaknya meneladani Salafus Shalih.
  • Ummat Islam juga mewarisi sistem pemerintahan, kebudayaan, dan peradaban Salafus Shalih yang kemudian diwarisi dan diperkaya oleh generasi-generasi berikutnya. Khilafah Islamiyyah yang pernah eksis di Dunia Islam, ia adalah warisan Salafus Shalih, sejak era Khulafaur Rasyidin. Namun seiring lenyapnya sistem Khilafah dan berkembangnya negara-negara nasionalisme, warisan peradaban Salafus Shalih itu pun tercerai berai. Nasib Ummat Islam akhirnya seperti “anak ayam kehilangan induk”. Disana tidak ada tatanan yang secara sistematik melindungi peradaban Islam.
  • Ummat Islam juga mewarisi situs-situs Islami bersejarah, masjid, madrasah, sampai wilayah-wilayah teritorial. Kota Makkah dengan Masjidil Haram-nya, Kota Madinah dengan Masjid Nabawi-nya, Masjidil Aqsha di Palestina, dan lain-lain adalah situs-situs bersejarah peninggalan Salafus Shalih.
  • Dan lain-lain.

Dengan demikian, mayoritas Ummat Islam saat ini sebenarnya Salafi, karena mengikuti, mewarisi, dan meneruskan ajaran-ajaran Salafus Shalih. Bahkan seseorang yang tidak memiliki banyak ilmu selain hanya ilmu membaca Al Qur’an secara tartil (mengikuti kaidah-kaidah tajwid), dia juga Salafi, dari sisi ilmu membaca Al Qur’an. Begitu pula dengan orang-orang yang menekuni ilmu hadits, ilmu tafsir, ilmu fiqih, ilmu Bahasa Arab, dsb. mereka juga Salafi selama tekun meneruskan, mengamalkan, mengajarkan, dan melestarikan ajaran para Salaf yang mulia.

Bahkan, seseorang disebut Muslim karena dia mengikuti Salafus Shalih, baik sedikit atau banyak. Jika dalam dirinya tidak ada sedikit pun ajaran, warisan, atau jejak Salafus Shalih, pada hakikatnya dia bukan Muslim. Seorang Khalafi sejati, tidak mengikuti Salafus Shalih dalam segala hal, sebenarnya dia adalah kafir. Tidak diragukan lagi hal itu. Contoh, para penganut Ahmadiyyah, yang beriman kepada Mirza Ghulam Ahmad, dan meninggalkan Kitabullah dan Sunnah Nabi, mereka telah keluar dari Islam. Begitu pula pengikut Lia Eden (agama Salamullah), ketika mereka meninggalkan Salafus Shalih dan mengimani Lia Aminuddin, mereka murtad dari Islam. Termasuk para penganut agama Liberal (Sekularisme, Pluralisme, dan Liberalisme). Pemikir-pemikir Liberal mayoritas memusuhi prinsip-prinsip dasar manhaj Salafus Shalih, dan mereka bersusah-payah ingin membuat manhaj baru. Akibatnya, mereka pun keluar dari Islam.

Salafiyah atau ajaran Salafus Shalih, adalah manhaj Islam. Kita semua ini Salafi, dengan pengertian mengikuti Salafus Shalih. Adapun mereka yang berlepas diri dari ajaran Salafus Shalih, tidak mau meneladaninya secara mutlak, berarti telah keluar dari Islam. Tidak akan pernah ada ajaran Islam, tanpa peranan Salafus Shalih. Salaf adalah pelopor dan perintis ajaran Islam. Meninggalkan Salafus Shalih secara mutlak sama saja dengan meninggalkan keridhaan Allah. Dalam Al Qur’an, “Dan orang-orang yang mula pertama masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah telah ridha kepada mereka, dan mereka pun telah ridha kepada Allah.” (At Taubah: 100).

Pada akhirnya, Salafiyah adalah ajaran Islam itu sendiri. Tidak pernah ada Islam, tanpa peranan para Salafus Shalih. Mereka yang mula pertama menerima Islam, mengimaninya, melaksanakannya sebaik-baiknya, kemudian meninggalkan warisan ajaran Islam (at turats al Islamiy) kepada generasi selanjutnya.

MEMONOPOLI AJARAN SALAF

Adapun realitas pelaksanaan ajaran Salafus Shalih itu sendiri bertingkat-tingkat. Ada yang mampu meneladani dengan komitmen tinggi, ada yang sedang, dan ada yang lemah. Semua itu menunjukkan kedalaman kualitas agama seseorang. Dalam Al Qur’an, “Kemudian Kami wariskan Al Kitab itu kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami. Di antara mereka ada yang menzhalimi dirinya sendiri, di antara mereka ada yang pertengahan, dan di antara mereka ada yang bersegera dalam berbuat kebajikan, atas ijin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar.” (Faathir: 32).

Lazimnya, para perintis adalah orang-orang yang paling baik, paling mulia, dan paling sempurna dalam beragama. Dalam Al Qur’an, para Salafus Shalih itu disebut dengan istilah Khairu Ummah (lihat Surat Ali Imran: 110). Dalam hadits, Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam juga memuji generasi Salafus Shalih, “Sebaik-baik manusia adalah generasiku (Nabi dan para Shahabat), kemudian sesudahnya (generasi Tabi’in), dan kemudian sesudahnya (generasi Tabi’ut Tabi’in).” (HR. Bukhari Muslim). Salafus Shalih menjadi tonggak kesempurnaan pemahaman dan pelaksanaan ajaran Islam. Sedangkan para pengikut Salafus Shalih bertingkat-tingkat, sesuai dengan kualitas keislaman masing-masing. Dan semua ini lumrah belaka, generasi pelopor mencerminkan kualitas terbaik, sementara para pengikutnya bermacam-macam tingkatannya.

Namun sayang, di atas semua ini ada sebagian orang yang ingin memonopoli kebenaran. Mereka mengklaim sebagai “pewaris tunggal” kebesaran Salafus Shalih.[2] Mereka memahami ajaran Salafus Shalih sedemikian rupa, sehingga tidak ada yang berhak memikul nama Salaf, selain diri mereka sendiri. Siapapun yang tidak berpaham seperti mereka, dianggap bukan Salafi, melainkan Khalafi. Klaim seperti itu semakin diperkuat dengan menjadikan hadits “73 golongan” sebagai hujjah. Mereka meyakini diri sebagai Salafi sejati, satu-satunya golongan yang dijamin selamat, satu-satunya kelompok yang mendapat pertolongan, dan pemangku predikat Al Jamaah. Sedangkan yang berada di luar mereka dianggap “kulluhum fin naar” (semuanya di neraka). Na’udzubillah wa na’udzubillah minan naar.

Disinilah mulai muncul beragam masalah. Ada sebagian orang yang mengklaim Salafi, tetapi tidak memahami istilah itu dan konsekuensinya; ada yang sangat membanggakan istilah Salafi, sehingga hari-harinya hanya disibukkan untuk menjelek-jelekkan orang lain; ada yang memaknai istilah Salafi secara sempit, dengan standar keikut-sertaan seseorang dalam suatu majlis taklim; ada yang berebut istilah Salafi, sehingga terlibat perselisihan tajam; ada yang rela berpisah jalan, berpecah-belah, saling memusuhi, karena merasa paling berhak memangku istilah itu; bahkan tidak sedikit yang kemudian membenci ajaran Salafiyah, karena merasa tidak simpatik melihat perilaku buruk para pengaku Salafi.

SALAFI SEBAGAI PEMBEDA

Seorang ulama pernah mengatakan: “Jika kamu berkata: ‘Saya seorang Muslim yang berdasarkan Al Qur’an dan As Sunnah,’ (perkataan itu –pen.) tidaklah mencukupi. Sebab kelompok-kelompok seperti Asy’ariyyah, Maturidiyyah, dan Hizbiyyun juga mengaku, bahwa mereka mengikuti kedua pedoman tersebut. Dengan demikian, tidak diragukan lagi, bahwa penyebutan yang jelas, terang, dan dapat membedakan, adalah dengan mengatakan, ‘Saya seorang Muslim yang berasaskan Al Qur’an dan As Sunnah yang berada di atas manhaj Salafus Shalih.’ Singkatnya, Anda berkata, ‘Saya adalah seorang Salafi.’”

Sekilas pandang, pernyataan di atas tampak benar. Namun kalau dihayati lebih dalam, disana akan ditemukan masalah-masalah.

Pertama, hendaklah kita tidak membuat dikotomi (pertentangan) antara Al Qur’an dan Sunnah dan manhaj Salaf, sebab Al Qur’an dan Sunnah juga berasal dari era Salaf. Siapa bisa memungkiri bahwa keduanya diwariskan dari generasi Salafus Shalih sampai ke jaman kita ini?

Kedua, siapapun yang beriman kepada Al Qur’an dan Sunnah secara kaaffah dan konsisten, mereka pasti akan mengikuti Salafus Shalih. Dalam Al Qur’an dan Sunnah itu sudah diterangkan dengan jelas tentang keutamaan-keutamaan Salafus Shalih. Jadi, hendak kemana lagi kita akan berpaling? Tidak cukupkah Al Qur’an menyebut Nabi dan para Shahabat sebagai Khairu Ummah?

Ketiga, jika suatu kaum telah selamat sepenuhnya dari penyimpangan atau pelanggaran terhadap Al Qur’an dan Sunnah, Nabi shallallah ‘alaihi wa sallam menjanjikan bahwa mereka tidak akan sesat selama-lamanya. Seperti disebut dalam hadits, “Telah aku tinggalkan untuk kalian dua perkara, selama kalian berpegang kepada keduanya, kalian tidak akan sesat selamanya, ia adalah: Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR. Imam Malik).[3]

Keempat, seandainya ada penyimpangan pada kelompok-kelompok tertentu, apakah Asy’ariyyah, Maturidiyyah, Hizbiyun, dan sebagainya, pasti penyimpangan itu bisa diketahui dengan Al Qur’an dan Sunnah. Darimana kita tahu bahwa semua itu menyimpang, jika tidak berlandaskan Al Qur’an dan Sunnah? Bukankah Allah Ta’ala telah menyatakan bahwa Syariat Islam itu telah lengkap, sempurna, dan diridhai oleh-Nya? (Lihat Surat Al Maa’idah: 3). Jika ada tambahan lain setelah sempurnanya Syariat agama ini, berarti ia adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.

Kelima, jika suatu kaum mengklaim telah mengikuti Al Qur’an dan Sunnah, namun dalam praktiknya mereka menyimpang, hal itu bukan karena mengikuti Al Qur’an dan Sunnah tidak mencukupi, tetapi apa yang mereka katakan hanyalah sebatas slogan (kata-kata indah semata). Dan slogan seperti itu seringkali dipakai untuk menutupi keburukan-keburukan dengan kata-kata manis. Para penguasa politik termasuk paling sering memakai slogan-slogan tanpa makna.

Jika hakikatnya hanya slogan, berarti tidak bisa dihukumi seperti perkataan-perkataan yang diucap penuh keyakinan dan sikap iltizam. Sama seperti sebagian orang yang sering mengucapkan, “Ana Salafi!” (Saya ini seorang Salafi, pengikut Salafus Shalih). Atau, “Nahhu Salfiyun!” (Kami ini orang-orang Salafi). Namun dalam praktik, mereka tidak bisa membedakan antara Daulah Islamiyyah dengan sistem negara sekuler-nasionalis, sehingga mereka samakan antara kedudukan Amirul Mukminin dengan presiden negara sekuler. Hal itu jelas merupakan kebathilan besar yang tidak diingkari oleh akal-akal sehat. Kasus seperti ini hanya sebuah contoh, bahwa slogan yang indah tidak selalu cocok dengan kenyataan di lapangan.

Dr. Ibrahim bin Muhammad Al Buraikan pernah mengatakan, “Dengan ini diketahui, bahwa pensifatan dengan Salaf itu merupakan pujian atas setiap orang yang menjadikannya sebagai qudwah (teladan) dan manhaj (metode). Adapun mensifati diri dengan Salaf tanpa merealisasikan kandungan lafadz ini, maka tidak ada pujian baginya, karena ukuran (Salafi atau tidak) adalah praktik dari nama tersebut, bukan sekedar nama tanpa pelaksanaan.” (Beda Salaf dengan “Salafi”, hal. 8).

Ketika agama menjadi alat untuk berbangga-bangga diri di depan manusia, bukan sebagai penghambaan ikhlas kepada Allah, akibatnya timbul berbagai macam masalah, bukan maslahat dan barakah. Padahal seandainya tidak ada satu pun manusia mengakui kita sebagai Salafi, selama kita memang komitmen mengikuti jalan Salafus Shalih, tidak ada persoalan yang perlu dikhawatirkan. Bukankah sasaran ibadah itu ialah kepada Allah, bukan kepada selain-Nya?

Dalam Al Qur’an, “Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku, adalah untuk Allah, Rabb seluruh alam.” (Al An’aam: 162).

Wallahu a’lam bisshawaab.

Abu Muhammad Al Nusantari.


[1] Bagi sebagian orang yang telah terbelenggu sikap ta’ashub (fanatisme) luar biasa, pernyataan seperti ini akan terasa bagaikan ‘petir yang menggelegar di siang hari bolong. Mereka seperti tidak lapang hati jika Allah memberikan kebaikan kepada hamba-hamba-Nya.

[2] Kalau dalam bisnis, seperti pemegang ‘merk tunggal’. Orang lain dilarang memakai ‘merk’ itu untuk keperluan apapun, jika tidak ijin kepadanya.

[3] Ketika menjelaskan pentingnya berpegang kepada Al Qur’an dan Sunnah, Imam Nawawi rahimahullah mengatakan: “Sesungguhnya, keduanya adalah sumber yang tidak ada bandingannya. Tidak ada petunjuk kecuali dari keduanya. Keduanya terpelihara dari kesalahan, serta keselamatan hanya bagi orang yang berpegang kepada keduanya, dan berpegang teguh kepada tali keduanya. Hanya keduanya yang bisa membedakan antara yang haq dan yang bathil dengan jelas, dan sebagai hujjah yang nyata di antara kebenaran. Jika keduanya diikuti akan mendapat petunjuk, dan akan tersesat bila keduanya diabaikan. Maka kewajiban untuk kembali kepada Al Qur’an dan Sunnah sudah menjadi ketetapan dan hal yang mesti dalam agama ini.” (Ensiklopedi Sunnah-Syi’ah, jilid I, hal. 111. Diambil dari Faidhul Qadir, juz III, hal. 240-241).

Iklan

4 Responses to Siapakah Salafi?

  1. Revaldo Zen berkata:

    Memang ada ya kelompok yg benar2 seperti ini??

  2. detektipyamato berkata:

    Bismillah,, kebenaran sejati hanyalah berada pada orang yang mengikuti kebenaran tersebut. Meski, terkadang dikotomi nisbah kepada salafiyyin dijadikan kesempatan untuk sebagian2 oknum. Maaf, mereka juga sama dengan pemikiran anda bahwa semua juga salafiyyin, nah disinilah kekeliruannya. Dalam syair yg indah telah dikatakan bahwa “banyak orang mempunyai hubungan dengan Layla, namun layla tidak pernah mengakui akan hal tersebut”

  3. rofii berkata:

    bolehkah kita mengkafirkan orang lain, dan bagaimana batasanya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: