Mengapa Kita Harus Menolak SBY?

Bismillahirrahmaanirrahiim. Alhamdulillah Rabbil ‘alamin, was shalatu was salamu ‘alan Nabi Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du.

Andai saya ditanya, “Apakah Anda menolak SBY?” Dengan tegas saya akan menjawab: “Ya, tolak 100 %.” Tidak peduli sebagian orang berdalil tentang “taat ulil amri”, “menasehati ulil amri dengan diam-diam”, “jangan mencela ulil amri”, dan sebagainya. Sebab, dalil-dalil itu tidak diletakkan sesuai konteksnya (waqi’iyyah-nya). Ia malah diangkat untuk mendalili kebathilan. Na’udzubillah min dzalik.

Menolak SBY dilandasi beberapa pertimbangan, antara lain:

[1] Selama kepemimpinan tokoh ini, bangsa Indonesia panen bencana. Termasuk bencana-bencana mengerikan seperti Tsunami Aceh, gempa bumi Yogya, lumpur Lapindo, dan lain-lain. Hal itu menjadi burhan, bahwa kepemimpinan orang ini sangat penuh masalah. Tidak diridhai oleh Allah sehingga terjadi begitu banyak bencana. Di jaman Soeharto saja, yang katanya penuh korupsi dan sebagainya itu, tidak ada bencana-bencana mengerikan seperti jaman SBY. Termasuk di dalamnya bencana kemanusiaan, seperti kecelakaan transportasi.

Sebagian orang menolak hujjah ini dengan alasan, “Jangan kaitkan soal bencana alam dengan politik. Itu tidak ada kaitannya.” Atas pernyataan itu, saya jawab, “Apakah Anda percaya bahwa bencana itu datang tanpa sebab apapun? Apakah Anda percaya bahwa bencana tidak ada hubungannya dengan dosa-dosa manusia? Apakah Anda percaya bahwa keshalihan dan ketakwaan, tidak memberi manfaat apapun bagi hidup manusia?” Jika Anda percaya hal itu,  berarti Anda bukan orang beragama, tetapi sekuler, atau bahkan atheis.

Dalam Al Qur’an disebutkan, “Seandainya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa (kepada Allah), benar-benar akan Kami bukakan atas mereka barakah-barakah dari langit dan bumi. Akan tetapi mereka mendustakan (agama Allah), sehingga Kami siksa mereka karena perbuatannya.” (Al A’raaf: 96).

Hanya orang sekuler, freemasonries, atau atheis yang tidak percaya hubungan antara dosa-dosa manusia dengan bencana yang terjadi di sekitarnya. Bisa jadi, selama ini kita telah memilih pemimpin yang sangat salah, orang-orang yang zhahirnya tampak “Islami”, tetapi hatinya menyembunyikan permusuhan keras.

[2] Memilih Sri Mulyani dan kawan-kawan sebagai pengatur urusan ekonomi. Adalah suatu bencana mengerikan ketika urusan keuangan negara dan perekonomian diserahkan kepada mantan pejabat IMF, yaitu orang-orang yang cara berpikirnya menganut paham ekonomi IMF. Perlu diketahui, bahwa IMF adalah sumber kehancuran ekonomi Indonesia. IMF telah melakukan kejahatan-kejahatan sistematik yang sulit dimaafkan oleh orang-orang waras di negeri ini.

Di antara kejahatan IMF:

(a) Mereka mendesak Pemerintah melikuidasi 16 bank nasional tahun 1997. Akibatnya industri perbankan nasional hancur, kurs rupiah terjun bebas sampai turun 300 %, bahkan pernah melebihi 400 % (dari patokan Rp. 2.500,- per dollar sampai di atas Rp. 15.000 per dollar).

(b) IMF juga yang memicu munculnya mega skandal BLBI, sehingga negara kehilangan dana lebih dari Rp. 500 triliun. BLBI sebagaimana namanya, Bantuan Likuiditas Bank Indonesia tadinya ditujukan untuk menyelamatkan bank-bank nasional dari rush (kehabisan modal akibat uang masyarakat ditarik secara serentak). Dan semua orang tahu, IMF tidak berbuat apa-apa tentang skandal BLBI yang sukses memiskinkan bangsa Indonesia itu.

(c) IMF sukses menghancurkan kurs rupiah, sehingga yang semula di patokan Rp. 2.500,- per dollar saat ini selama 10 tahun terakhir ada di level Rp. 10.000,- per dollar. Betapa susahnya kurs rupiah itu naik ke atas, menguat terhadap dollar. Bahkan hampir-hampir tidak pernah bisa, sebab kurs kita mengikuti situasi pasar. Padahal sebagai negara merdeka, kita bebas menentukan kebijakan kurs. Andai bangsa ini mau, kurs rupiah bisa dipatok pada kisaran Rp. 5.000,- per dollar. Memang pada mulanya kita akan hidup susah dengan kebijakan ini, tetapi kalau bertahan dalam waktu 3 tahunan, kita akan bisa adaptasi dan siap mencapai kemapanan ekonomi.(Aneh, katanya negara merdeka, tetapi untuk soal kebijakan kurs saja tidak independen. Merdeka apane, Cak?).

(d) IMF menjerumuskan bangsa Indonesia dalam pusaran ekonomi terbuka, kapitalisme yang semakin kuat, dan dominasi bisnis asing yang luar biasa. Dan memang gol dari gerakan IMF memang ke arah ini.

(e) IMF bersama Bank Dunia, ADB, IGGI, CGI, dan lain-lain telah menjerumuskan bangsa Indonesia dalam debt trap (jebakan hutang). Inilah hutang yang menyandera kemerdekaan kita. Hal itu sudah terjadi sejak era Orde Baru, dan semakin menggila setelah ditanda-tangani Letter Of Intends dengan IMF di tahun 1997.

Memilih orang IMF, mantan IMF, atau berpemikiran ekonomi sehaluan dengan IMF sama saja dengan menyerahkan diri kepada orang-orang yang telah menghancurkan kehidupan kita sehancur-hancurnya. Dari sisi ini, haram hukumnya memilih SBY dan wajib hukumnya menolak dia.

[3] Kebijakan SBY tidak memiliki komitmen moral yang baik. Lihatlah, budaya masyarakat, pergaulan sosial, perilaku birokrasi, kaum elit, perilaku generasi muda, mahasiswa, para seniman, pelaku bisnis, dunia karier, dan lain-lain. Banjir hedonisme ada dimana-mana. Dan negara di bawah SBY tidak memiliki komitmen untuk memperbaiki kondisi ini. Pornografi, tayangan TV, aliran sesat, paham liberal, sekularisme, dan lain-lain marak. Hampir-hampir SBY tidak memiliki desain apapun untuk membangun moral masyarakat. Dia sangat percaya dengan mekanisme demokrasi dan mekanisme pasar. Biarlah masyarakat menentukan sendiri keadaan moralnya.

Sebagai contoh, SBY sangat membanggakan tentang “sekolah gratis”. Seakan-akan ia dianggap sebagai “syurga nyata” dalam kehidupan masyarakat. Tetepi pernahkah dia berpikir, bahwa anggaran puluhan triliun untuk sekolah gratis itu tidak menyelematkan para pelajar kita dari kehancuran moral. Pornografi, seks bebas, pelacuran, aborsi, dan lain-lain menjadi bagian dari kehidupan para pelajar kita saat ini.

Termasuk yang dikeluhkan banyak aktivis Islam, yaitu sikap SBY yang lemah dalam soal Ahmadiyyah. Ketika terjadi Insiden Monas 1 Juni 2008, SBY sangat keras mengecam FPI atau aktivis Islam. Dia sangat marah dan hal itu tersiar ke seluruh penjuru negeri. Tetapi pernahkah dia semarah itu kepada Ahmadiyyah? Mungkin SBY akan berdalil dengan “mekanisme hukum”. Nah, sekarang sudah satu tahun sejak Insiden Monas, mengapa masalah Ahmadiyyah belum juga dibereskan dengan “mekanisme hukum”?

[4] SBY sangat tampak sebagai sosok pemimpin yang American Oriented. Banyak alasan-alasan yang bisa disebutkan, seperti dalam tulisan “Icon Amerika di SBY”. Lihatlah bagaimana ekspressi SBY saat memuji-muji Barack Obama. Padahal presiden yang bersangkutan tetap mempertahankan pasukannya di Irak; menambah kekuatan invasinya di Afghanistan; hanya memberi solusi “bibir” saja untuk kemerdekaan Palestina; serta mendukung Pakistan memerangi Thaliban di Lembah Swat dan lainnya.

Dibandingkan sosok presiden manapun di Indonesia, SBY paling “berbau” Amerika. Dia tidak bisa menunjukkan keberpihakannya kepada kepentingan nasional, melebihi kepentingan asing.

[5] Kedustaan regim SBY dalam soal kebijakan kenaikan harga BBM tahun 2005, 2007. Sebagai contoh, SBY mengklaim pemerintahannya adalah satu-satunya pemerintahan yang pernah menurunkan harga BBM. Hal itu diklaim sebagai “bukti sukses” pemerintahannya. Padahal penurunan harga BBM nasional adalah karena penurunan harga minyak dunia ke level US 40 per barrel. Jadi sama sekali bukan karena Pemerintahan SBY. Bahkan kalau mau fair, seharusnya SBY menurunkan harga BBM ke masa sebelum November 2005 ketika harga bensin masih Rp. 2000,- per liter. Sebab mengikuti harga minyak dunia tahun 2005, ia ada di level US$ 60 per barrel seperti saat ini.

Dampak mengerikan dari kenaikan harga BBM secara ekstrim itu, membuat ekonomi Indonesi kembali terhempas, setelah masyarakat susah-payah bangkit. Seakan negara tidak ada political will untuk memprotek kemampuan ekonomi rakyatnya sendiri. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

[6] SBY adalah sosok pemimpin melankolik, tebar pesona, mendayu-dayu, suka “curhat” di depan umum. Pemimpin seperti ini sangat berbahaya bagi bangsa Indonesia yang sedang bekerja sangat keras untuk membebaskan diri dari segala keterpurukan. SBY hampir-hampir tidak memiliki suatu determinasi untuk melawan tekanan asing, tekanan konglomerat, tekanan korporasi, dan sebagainya.

Contoh, tentang Indonesia keluar dari IMF. Keputusan ini diambil setelah IMF selesai tertawa terbahak-bahak selama 10 tahun penuh, setelah lembaga itu sukses besar menghancurkan ekonomi Indonesia. Ya, kita keluar dari IMF setelah lembaga itu puas menghina-rendahkan martabat bangsa kita. Bahkan keluarnya Indonesia, hanya sekedar keluar “kulit” saja. Secara pemikiran, madzhab ekonomi, sistem moneter, kebijakan fiskal, dll. masih “ngeplek” ajaran IMF. Lha, wong orang IMF-nya sendiri, Boediono malah didaulat menjadi Gubernur BI.

Langkah menolak SBY bukan karena soal Boediono seperti yang diajarkan oleh politik Amien Rais. Memang SBY sendiri harus ditolak karena kebijakan-kebijakan politiknya. Tidak peduli dia berpasangan dengan siapapun, sekalipun dengan Hidayat Nur Wahid atau Hatta Radjasa, dia harus tetap ditolak. Menolak SBY adalah bagian dari upaya kita untuk membela Islam dan menyelamatkan kehidupan kaum Muslimin, serta generasi muda Islam di masa nanti.

Hanya Allah tempat kita bergantung, dan hanya kepada-Nya kita mengadu. “La yanshurannallaha man yanshuruh” (Allah benar-benar akan menolong siapa yang menolong agama-Nya. Surat Al Hajj). Jangan takut saudaraku untuk menetapi jalan kebenaran, sebab Allah selalu bersama hamba-hamba-Nya yang komitmen membela agama-Nya.

Wallahu A’lam bisshawaab.

Bandung, 19 Juni 2009.

Joko Waskito bin Boeang Al Jawiy.

Iklan

93 Responses to Mengapa Kita Harus Menolak SBY?

  1. Musafir Laut berkata:

    Assalaamu’alaikum wr. wb.

    Ustadz Joko,

    Kapan Antum menulis artikel yang mengkritisi JK-Win dan Mega-Pro? Ana sudah lama menunggu …

    Mengapa kita harus menolak JK-Win?
    Mengapa kita harus menolak Mega-Pro
    Mengapa kita harus Golput pada Pilpres?

    Biar adil, dong …
    Jangan cuma pintar ‘menguliti’ SBY dan PKS doang, ya ustadz.

    Wassalaamu’alaikum wr. wb.
    ~ML~

  2. abisyakir berkata:

    Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakaatuh.

    Pada dasarnya, saat ini bangsa Indonesia menghadapi dua kekuatan besar, yaitu:

    SATU: Kekuatan politik pro asing.
    DUA: Kekuatan politik pro kepentingan nasional.

    Pihak pertama diperankan oleh SBY dan kawan-kawan; pihak kedua diperankan oleh JK-Win dan Mega Pro. Maka tidak mengherankan, kalau di lapangan dua pihak terakhir kelihatan akur dan saling toleransi. Kenyataan ini merupakan dikotomi besar kekuatan politik nasional.

    Partai-partai label Islam, kebetulan ikut bersinergi dengan SBY. Merapat ke kekuasaan, untuk mendapat kompensasi kekuasaan yang lumayan. Singkat kata, bagi-bagi kekuasaan demi kenikmatan dunia, dengan meninggalkan prinsip-prinsip perjuangan Islam. Padahal selama ini mereka dimuliakan manusia karena Islam. Tetapi Islam kemudian dikhianati dengan “dijual murah” untuk mendapat kompensasi jabatan menteri.

    Dengan demikian, kita perlu memilih calon Presiden-Wapres yang pro kepentingan nasional. Bukan pro asing. Dan watak demikian sudah ditularkan sejak dulu oleh nenek-nenek moyang kita dalam semangat anti kolonialisme. Hanya sekarang saja, gara-gara BLT, sekolah gratis, PNPM Mandiri, Jamkesmas, Raskin, dll. lalu masyarakat lupa dengan amanah perjuangan anti kolonialisme itu.

    Padahal andai kita bersikap anti asing, hal itu demi masa depan generasi muda Islam di masa nanti. Kalau sekarang saja kita merasa susah menjalani kehidupan yang berat ini, apalagi nanti kalau anak-cucu kita telah dewasa? Siapa bisa menjamin hidup mereka akan lebih baik?

    Sikap-sikap militan dalam membela Ummat sering ditafsirkan sebagai sikap radikal, ekstrem, dan sebagainya. Padahal niat kita baik, yaitu menyelamatkan kehidupan Ummat nanti. Adapun orang-orang seperti @ Musafir Laut ini, mereka memandang kehidupan hanya sebatas yang tampak di matanya. Mereka tidak mau berpikir jauh ke depan tentang masa depan Islam nanti. Ya, terserah, setiap orang memikul pilihan hidupnya.

    Ya Allah ya ‘Alim, andai orang-orang seperti @ Musafir Laut ini tidak tahu, berilah pengetahuan dan ilmu. Andai dia tidak berani bersikap, berilah hatinya keberanian bersikap. Andai dia khawatir dengan penghasilannya, berilah ganti penghasilan yang lebih baik dan barakah. Andai dia takut kehilangan teman-teman, berilah ganti teman-teman yang mulia dan jujur. Andai dia selalu gelisah, beri ketenangan jiwanya. Andai atas semua nikmat itu, dia tetap tidak bersyukur dan memilih menguji Ummat dengan perbuatan-perbuatannya, ya kepada-Mu kami serahkan jiwa-jiwa mereka. Engkau lebih tahu dan lebih adil dalam memperlakukan mereka. Amin Allahumma amin. Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.

    AMW.

  3. whongislam berkata:

    mas aby izin buat di taut di face book… dari mas apriyanto .

  4. Presiden AS berkata:

    Assalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.

    Saya hanya hendak menanggapi poin nomor 1. Jika asumsi Anda memang demikian, bahwa bencana yang datang bertubi-tubi berbanding lurus dengan dosa, maka saya ingin mengajukan sebuah fakta, kenapa seorang bocah yang masih bersih dari dosa, banyak yang terkena beragam penyakit, atau ada yang setiap hari disiksa orang tua, dan bahkan baru-baru ini, beberapa waktu lalu, seorang bocah tewas terkena siraman kuah bakso ketika terjadi sweeping PKL oleh Satpol PP.

    Bisa Anda jelaskan, bagaimana musibah tersebut bisa menimpa seorang bocah yang tak tahu apa-apa?

    Lalu jika yang menjadi ukuran ketidak-ridhaan Allah adalah dosa dan hal-hal yang tak sejalan dengan Al-Qur’an, bisa Anda paparkan, kenapa bencana-bencana itu tidak ditimpakan Allah untuk Amerika Serikat yang sering disebut sebagai negara “kafir”?

  5. poin pertama anda sudah cukup untuk bikin saya ngakak! 😆

    Hanya orang sekuler, freemasonries, atau atheis yang tidak percaya hubungan antara dosa-dosa manusia dengan bencana yang terjadi di sekitarnya. Bisa jadi, selama ini kita telah memilih pemimpin yang sangat salah, orang-orang yang zhahirnya tampak “Islami”, tetapi hatinya menyembunyikan permusuhan keras.

    dan sayangnya saya juga percaya kalo Tuhan itu mahaadil. Dia nggak akan menimpakan bayaran kesalahan orang lain ke orang yang nggak ada sangkut-pautnya dengan kesalahan yang dilakukan orang lain tersebut.

    maka sebut saja saya ini seorang atheis yang percaya kalo Tuhan itu mahaadil 😈

    *masih ngakak*

    tapi alhamdulillah poin2 berikutnya masih bisa ditulis dengan sedikit lebih logis :mrgreen:

    trus, penilaian ini:

    Adapun orang-orang seperti @ Musafir Laut ini, mereka memandang kehidupan hanya sebatas yang tampak di matanya. Mereka tidak mau berpikir jauh ke depan tentang masa depan Islam nanti. Ya, terserah, setiap orang memikul pilihan hidupnya.

    datangnya dari mana?

    sepengeliatan saya, komentator tersebut cuma bertanya sama sampeyan, kok. lalu kok bisa2nya sampeyan langsung memberikan justifikasi atas dirinya? apa perlunya? korelasinya dengan pertanyaan ada di mana? ad hominem, ah. dan ad hominem bukanlah cara yang bagus dalam melontarkan sebuah argumen-balik

  6. hadi berkata:

    Setuju…..amien…

  7. luqmansyauqi berkata:

    Sekarang pilihannya cuma 3. review kandidat yang lain mana. Terus? mau golput?

  8. joko susilo berkata:

    semua diatas hanyalah sebuah opini, bisa ya bisa tidak.
    1. masalah bencana apakah akibat sby atau bukan, hanya Allah swt yang maha tahu.
    2. kekurangan kekurangan lain selama sby memerintah pasti ada. apa lagi kalo ustad hanya ingin “menguliti” sby. siapapun pemimpinnya pasti ada kekurangannya.
    3. banyak orang atau rakyat indonesia yang merasakan bahwa dibawah kepemiminan sby, indonesia lebih baik. terbukti suara terbanyak rakyat indonesia masih mengehendaki sby, setidaknya partainya. Allah swt tidak membiarkan ummatnya memiliki pilihan yang salah.
    mudah-mudahan tgl 8 juli nanti Allah swt, menunjukan pilihan yg terbaik buat ummatnya yg berada dinegri tercinta ini. saya tidak mengatakan bahwa pilihan terbaik itu sby, tetapi siapapun yg terpilih itu adalah pilihan yg terbaik buat bangsa indonesia. karena saya yakin dari ketiga calon tidak ada yg ingin jadi presiden dengan tujuan menyengsarakan rakyat, pasti demi kesejahteraan rakyat. amin

  9. abu naura berkata:

    Tenang ustadz, tenang, hadapi mereka dengan senyuman terindah mu, isya allah akan datang kujujuran hati mereka dalam melihat realitas yang ada…

  10. bocah_ajaib berkata:

    ass, pak ustadz.
    artikelnya bagus tapi sayang kurang objektif. ingat kita tidak boleh berpikir satu sisi saja. karena hidup itu adalah dua sisi. ada siang dan malam, ada tua dan muda, ada kaya dan miskin. kita jangan selalu memikirkan kejelekan orang saja, atau buruk sangka karena itu dosa menurut Al-Quran. lebih baik kita berpositif thinking. toh juga tidak ada manusia yang sempurna. karena cuma malaikat saja yang tidak berdosa. benar begitu pak ustadz……..
    wass…..

  11. abu berkata:

    Saya sedikit berbeda dgn ANDA “Ustadz” :
    Tuhan tidak akan memberikan ujian (bs berupa bencana dll) kepada orang yang tidak mampu memikulnya.
    Tuhan telah menimpakan bencana kepada Indonesia bisa diliat sebagai pembersih dosa-dosa yg telah dilakukan tempo dulu yg kita tahu cukup kronis, baik dari perilaku masyarakatnya maupun perilaku PEJABAT negaranya.
    Tuhan menunggu waktu yg tepat…saat dimana Indonesia dipimpin oleh seorang Pemimpin yang mampu memikul ujian itu.
    Mestinya anda cukup bersyukur menghadapi realitas itu.
    Ambillah hikmah dari semua kejadian “Ustadz”
    Jangan terlalu suudzon.

  12. celotehanakbangsa berkata:

    Selamat siang Juragan,,

    saya yakin dan seyakin-yakinnya bahwa pemerintah yang hanya pandai untuk memakai gincu dan tebal sebagai kamuflase untuk menutupi keadaannya yang sebenarnya sangat berantakan..

    Masihkah rakyat mau dibodohi lagi untuk kedua kalinya oleh calon Incumbent tsb,,

    Dalam kampanye di Kendari, Capres Susilo Bambang Yudhoyono mengajak masyarakat untuk tidak memilih calon presiden yang terlalu banyak berjanji dan belum terbukti kerjanya untuk kemajuan negara. Dalam kampanye di Malang, SBY mengatakan dirinya dikeroyok oleh capres lain, dan ia mengatakan ia adalah seorang satria yang tidak akan membalas serangan. Tidak tanggung-tanggung, SBY menunjuk jari telunjuknya kepada capres lain yang banyak janji, tapi ia lupa bahwa 3 jari lainnya menunjuk kepada dirinya sendiri. Dengan mengatakan bahwa jangan piilih capres yang banyak janji, maka bagi masyarakat yang tidak amnesia akan tertawa “toh… selama hampir 5 tahun pemerintahannya, SBY gagal dalam menepati janji-janji kuantitatif“. Pak SBY lupa, siapa yang pertama kali mengatakan “slogan takabur”.

  13. celotehanakbangsa berkata:

    klo juragan sudi,, mampirlah k blog saya,,

    http://celotehanakbangsa.wordpress.com

  14. omiyan berkata:

    yang membikin saya kecewa adalah sikap pemimpin partai Islam padahal pada saat sby teleh mentapkan wakilnya yaitu boediono seharusnya mereka berpikir untuk menjadi satu kekuatan antar partai Islam karena secara tidak langsung SBY tidak percaya akan wakil dari partai Islam

    selain itu saya emang tidak begitu suka dengan SBY yang emang terlalu memuja Amerika apalagi ketika dia mengatakan AMerika adalah rumah kedua nya…ironis

    saya berharap JK-Win lah pemenangnya

  15. abbu hassan berkata:

    Mengapakah kita selalu berpikir negatif ttg America dan kroni2 nya ? Mengapa kita tidak berpikir dulu bahwa budaya kita ini sudah mulai hilang; mulai punah tergerus budaya dari Arab ? Coba lihat, bahasa2 daerah kita sudah mulai banyak yang punah. Agama2 “tradisional” yg seharusnya tetap eksis, mulai punah karena dianggap ATHEIS dan BERBAHAYA! Apakah orang2 yg mengagung-angungkan bahwa dirinya BERTUHAN itu sebenarnya BERTUHAN, ketika dirinya mengancam dan menghujat dan mencela orang2 yang TIDAK SAMA TUHANNYA ? Ingatlah bahwa orang mempunyai pandangan yang berbeda; setiap orang TIDAK SAMA!

    Ya Allah ya ‘Alim, andai orang-orang seperti Uztads Joko ini tidak tahu, berilah pengetahuan dan ilmu. Andai dia tidak berani bersikap positif, berilah hatinya keberanian bersikap yang positif. Andai dia khawatir dengan penghasilannya, berilah ganti penghasilan yang lebih baik dan barakah. Andai dia takut kehilangan teman-teman, berilah ganti teman-teman yang mulia dan jujur. Andai dia selalu gelisah, beri ketenangan jiwanya. Andai atas semua nikmat itu, dia tetap tidak bersyukur dan memilih menguji Umat-Mu dengan perbuatan-perbuatannya, ya kepada-Mu kami serahkan. Engkau lebih tahu dan lebih adil dalam memperlakukan mereka.

    Amin Allahumma amin. Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.

  16. Presiden AS berkata:

    Omong-omong, komentar saya sebelumnya mana ya? Hmm…

  17. Musafir Laut berkata:

    Ya, ustadz …

    Apakah Antum sudah lupa dengan dosa dan kejahatan Golkar sebagai partai sekuler selama puluhan tahun terhadap Umat Islam di Indonesia? Apakah Antum tidak kritis terhadap hal ini? Apakah Antum merasa bahwa Golkar telah berubah dan kini berpihak terhadap Umat dan dakwah? Apakah tidak up-to-date lagi untuk membahas perilaku khianat Golkar tersebut?

    Mengapa pena Antum tidak bisa tajam ketika menilai sosok JK-Win dan sepak terjang Golkar selama ini? Saya percaya bahwa JK-Win tidak bisa tegas terhadap perilaku korupsi yang sudah mengakar di seluruh jaringan Golkar di seluruh Indonesia, jika dia menjadi presiden. Tengoklah, banyak pejabat Golkar yang terlibat kasus korupsi di pusat maupun di daerah. Janganlah berdalih bahwa pengungkapan kasus korupsi itu tebang pilih. Lha, bila mereka tidak berperilaku korupsi tentu sulit KPK menjadikan mereka sebagai tersangka.

    Meski zaman Orde Baru telah berlalu, perilaku korupsi Golkar tidak juga berubah. Apa yang diharapkan dari Ummat terhadap Golkar? Golkar sekuler dan mungkin selamanya akan tetap sekuler, meskipun banyak tokoh dan isterinya mengenakan jilbab.

    Apakah Antum tidak mempunyai data tentang kekurangan dan kelemahan JK dan Wiranto sehingga Antum tidak kunjung menulis perspektif Antum yang kritis terhadap mereka dan Golkar? Apakah sebaiknya Antum pasang banner kampanye JK dalam blog Antum ini sehingga para pembaca dapat mengidentifikasi Antum pro JK-Win, bila ternyata Antum tidak berani mengkritisi JK-Win.

    Antum kurang adil dalam menimbang SBY dan PKS. Ketika Antum ungkap kekurangan dan kesalahannya, Antum lupa tidak menyertakan kebaikan dan prestasinya. Antum menggiring orang lewat opini pada blog ini supaya membenci SBY dan PKS, bukannya menggiring supaya pembaca menimbang ketiga calon capres dan cawapres dengan kelebihan dan kekurangannya bagi Umat dan dakwah.

    Lebih baik, Antum mengkampanyekan gerakan shalat istikharah yang merupakan sunnah Rasulullaah SAW yang telah lama ditinggalkan oleh mayoritas Umat Islam. Antum beberkan keutamaan shalat istikharah dalam memilih pemimpin Ummat disamping mengkritisi sepak terjangnya.

    Ya Allah, anugerahilah kami kejernihan hati dan pikiran yang menyebabkan kami bisa berlaku adil meskipun terhadap musuh kami sendiri.

    Ya Allah, janganlah Engkau biarkan tumbuh rasa “ghil” di dalam hati kami terhadap sesama orang beriman.

  18. abisyakir berkata:

    @ Presiden AS.

    Anda mengatakan: “Kenapa seorang bocah yang masih bersih dari dosa, banyak yang terkena beragam penyakit, atau ada yang setiap hari disiksa orang tua, dan bahkan baru-baru ini, beberapa waktu lalu, seorang bocah tewas terkena siraman kuah bakso ketika terjadi sweeping PKL oleh Satpol PP. Bisa Anda jelaskan, bagaimana musibah tersebut bisa menimpa seorang bocah yang tak tahu apa-apa?”

    Jawab: Anda pernah mendengar hadits Nabi Saw bahwa seorang anak itu dilahirkan dalam keadaan fithrah (Islam), hanya orangtuanya yang membuat dia menjadi Yahudi, Nashrani, atau Majusi. Dapat diambil hikmah disini, bahwa kelahiran seorang bayi itu bersih dan suci. Tapi keadaan orangtua atau keluarganyalah yang membuat kondisi dia menjadi lebih baik, atau lebih buruk.

    Anak kecil atau anak bayi tertimpa musibah, apakah hal ini aneh? Bukankah musibah menimpa siapa saja, tanpa memandang umur? Hanya masalahnya, kalau musibah menimpa seorang anak kecil, hal itu bukan karena dosa-dosanya, tetapi karena takdir Allah. Perlu diingat, musibah itu tidak selalu datang karena dosa. Namun salah satunya memang karena dosa-dosa manusia. Sejak jaman Nabi pun sudah ada anak-anak kecil yang meninggal, atau tertimpa musibah. Seperti contoh putra-putra Nabi sendiri, Qasim, Ibrahim, dan Abdullah.

    Anda mengatakan: “Lalu jika yang menjadi ukuran ketidak-ridhaan Allah adalah dosa dan hal-hal yang tak sejalan dengan Al-Qur’an, bisa Anda paparkan, kenapa bencana-bencana itu tidak ditimpakan Allah untuk Amerika Serikat yang sering disebut sebagai negara “kafir”?”

    Jawab: Lho, apakah Anda tidak tahu bahwa Amerika itu sebenarnya sangat banyak tertimpa bencana, baik bencana alam maupun bencana kemanusiaan? Saya sebutkan, misalnya badai Catherina, badai Rita, angin Tornado, banjir di California, hembusan hawa panas, dll. Kemudian bencana moralitas seperti kriminalitas, pembunuhan, narkoba, gengster, vandalisme, perkosaan, AIDS, aborsi, homoseksual, dll. Kemudian akhir-akhir ini mereka mengalami krisis ekonomi sangat parah akibat merebaknya praktik ribawi dalam kehidupan mereka. Warga Amerika sendiri menjadi entitas yang sangat dibenci dunia internasional karena perilaku pemimpin-pemimpinnya yang maniak.

    Bencana-bencana itu masih akan susul-menyusul, seiring kezhaliman mereka di pentas dunia. Termasuk kezhaliman akbar mereka membuat penjara-penjara seperti Guantanamo, Abu Ghraib, Beghram, Kandahar, dll. Doa-doa kaum Mukminin yang mereka siksa tanpa alasan yang benar, akan terus menjerumuskan negara itu dalam kehancuran sehancur-hancurnya. Ini hanya masalah waktu saja. Yakinlah, Amerika akan hancur.

    Memang ada perbedaan perlakuan kepada kaum Muslim dengan orang kafir. Muslim yang baik, kalau berdosa cepat diingatkan dengan berbagai bencana, agar segera memperbaiki diri. Tetapi orang kafir seringkali setelah berbuat zhalim malah bertambah-tambah kekuatan dan nikmatnya. Namun di suatu titik ketika kezhaliman mereka sudah klimaks, mereka akan dihancurkan sehancur-hancurnya. Hal itu disebut istidraj, bisa dibaca dalam Surat Al An’aam.

    Demikian jawaban saya.

    AMW.

  19. Presiden AS berkata:

    Pertimbangan nomor satu itu yang membikin saya gerah. Seenak jidat saja pemilik blog ini main vonis.

  20. abisyakir berkata:

    @ Joesatch (susah juga nulis nama Anda).

    Anda mengatakan: “Dan sayangnya saya juga percaya kalo Tuhan itu mahaadil. Dia nggak akan menimpakan bayaran kesalahan orang lain ke orang yang nggak ada sangkut-pautnya dengan kesalahan yang dilakukan orang lain tersebut.
    maka sebut saja saya ini seorang atheis yang percaya kalo Tuhan itu mahaadil 😈 *masih ngakak*”

    Ya, silakan ngakak. Disini bebas ngakak, asal tetap memakai akal sehat.

    Saya yakin, orang-orang seperti Anda ini termasuk sekularis. Mereka tidak percaya bahwa kehidupan publik sangat dipengaruhi oleh keimanan dan ketakwaan penduduknya. Begitu pula, kehancuran publik sangat dipengaruhi oleh dosa-dosa penduduknya. Padahal Allah Ta’ala telah menceritakan banyak kaum-kaum yang musnah di muka bumi karena dosa-dosa mereka. Kaum Nabi Nuh, kaum Tsamud, ‘Aad, kaum Sodom, negeri Madyan, negeri Saba’, dll. mereka telah musnah karena dosa-dosanya. Bukti-bukti arkheologisnya masih dapat dilihat dengan sempurna pada saat ini. Kalau mau dilebarkan lagi, ada negeri Pompei, kaum Inca, Atlantis, dll. yang juga tinggal puing-puing. Dalam kasus negeri Pompei sampai disisakan jenazah-jenazah mereka secara utuh.

    Dalam kasus SBY. Mari kita lihat dengan akal sehat secara jernih, tanpa emosi. Di era Pemerintahan siapa di Indonesia ini yang penuh musibah bencana-bencana mengerikan kurang dari 5 tahun? Apakah Soekarno, Soeharto, BJ. Habibie, Wahid, atau Mega? Tolong jawab secara gentle, tanpa basa-basi!

    Kita bukan orang bodoh yang main tuduh, tetapi faktanya ada. Bayangkan, dalam kasus gempa bumi di Yogya. Waktu itu semua mata tertuju ke Yogya Utara, disana ada ancaman Gunung Merapi. Segala persiapan telah disiapkan untuk mengantisipasi meledaknya Merapi. (Disinilah Mbah Marijan kemudian menjadi terkenal, dan sekarang dia jadi “bintang iklan” akibat “promosi” oleh Gunung Merapi). Tetapi kemudian terjadi gempa bumi paling mengerikan di Indonesia, hanya dalam waktu beberapa menit, 5000 sampai 6000 warga meninggal. Dan gempa itu muncul dari arah Selatan. Dari arah utara telah disiapkan, bencana malah muncul dari Selatan.

    Begitu bertubi-tubinya bencana tersebut, seakan memberi peringatan keras kepada bangsa Indonesia yang telah memilih pemimpin yang salah. Andai pemimpin itu shalih, insya Allah bangsa kita tidak akan dihinakan oleh bencana-benacana seperti itu. Bahkan bencana itu masih muncul di tahun 2009, yaitu “Tsunami kecil” di Situ Gintung. Situ Gintung bukan di pelosok Aceh sana, tetapi di kawasan Tangerang, tidak terlalu jauh dari Istana Negara.

    Saya hanya ingin bertanya, apakah bila nanti SBY terpilih lagi, lalu muncul “serial” bencana-bencana lainnya, orang seperti Anda ini masih bisa ngakak? Kalau masih bisa, berarti saya cukup mengatakan: A’udzubillah minas syaithanir rajiim. (Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan terkutuk). Bisa jadi, yang sedang saya hadapi itu, jika sudah sedemikian arogan, pada dasarnya adalah syaitan. Na’udzubillah min dzalik.

    Jangan menjadi manusia sekuler, agar Anda selamat. Mengaitkan segala bencana kepada dosa-dosa manusia, lalu kita bertaubat dan memperbaiki diri sesudah itu; ini adalah jalan yang benar, jalan manusia yang hanif (lurus).

    AMW.

  21. abisyakir berkata:

    @ Joesatch.

    Anda mengatakan: “Sepengeliatan saya, komentator tersebut cuma bertanya sama sampeyan, kok. lalu kok bisa2nya sampeyan langsung memberikan justifikasi atas dirinya? apa perlunya? korelasinya dengan pertanyaan ada di mana? ad hominem, ah. dan ad hominem bukanlah cara yang bagus dalam melontarkan sebuah argumen-balik.”

    Jawab: Anda ini sok tahu. @ Musafir Laut itu bukan kali ini saja masuk kesini. Dia sudah berkali-kali. Meskipun kita sudah memberi argumen-argumen, dia tetap saja seperti itu. Anda ini sok tahu. Coba deh cari komentar-komentar @ Musafir Laut yang lain, baru silakan ikut nimbrung.

    AMW.

  22. Presiden AS berkata:

    Oh, saya pikir komentar saya belum ditanggapi. Mohon maaf saya keburu naik darah.

    Saya kutip kalimat anda :

    Hanya masalahnya, kalau musibah menimpa seorang anak kecil, hal itu bukan karena dosa-dosanya, tetapi karena takdir Allah.

    Sepertinya Anda ini juru bicara Allah, hebat bisa tahu hal-hal di luar pengetahuan seperti ini. Tapi oke, takdir. Kenapa Allah sampai harus menakdirkan seorang anak tertimpa musibah, tidak ditakdirkan saja kepada orang yang lebih pantas mendapatkannya?

    Perlu diingat, musibah itu tidak selalu datang karena dosa. Namun salah satunya memang karena dosa-dosa manusia.

    Jadi pilihan tegas Anda yang mana, yang “tidak selalu karena dosa” atau “karena dosa”? Anda bilang kepemimpinan SBY bermasalah, sehingga itu sebabnya Allah menurunkan beragam musibah di Tanah Air. Kenapa Anda tidak berasumsi kalau semua ini adalah “ujian”? Sejauh pemahaman saya, manusia tak ada yang bisa tahu skenario dan pikiran Tuhan, Bung. Apakah bencana yang datang bertubi-tubi adalah sebentuk kemurkaan Allah ataukah bukan, hanya Allah yang tahu.

    Yang saya sayangkan dari presuposisi Anda adalah pelimpahan kesalahan hanya kepada satu orang pemimpin. Coba Anda posisikan, misal Anda presiden, lalu terjadi kebakaran di daerah saya misalnya, kemudian saya mengutuk, “ini pasti karena negeri ini dipimpin oleh orang macam anda, anda pasti nggak beres”, apa anda akan berlapang dada menerima pernyataan itu?

    Untuk Amerika, ya ya ya, saya tahu, Amerika memang selalu menghadapi bencana tahunan, tapi kalau melihat kapasitas kejahatan yang dilakukan orang per orangnya di sana, kenapa Allah tidak langsung saja menghancurkan Amerika sampai tak bersisa, toh di sana semuanya lengkap, mulai dari homoseks, lesbianisme, penyiksaan, diskriminasi, terorisme, dan lain sebagainya. Hmm? Ngapain pula sampai harus menunggu waktu kehancurannya? Gimana Allah dalam pandangan sampeyan yang sebenarnya ini?

    Itu surah al-a’raaf yang anda kutip, bisa Anda sodorkan asbab an nuzul-nya? biar saya bisa mengerti konteksnya.

    Hanya orang sekuler, freemasonries, atau atheis yang tidak percaya hubungan antara dosa-dosa manusia dengan bencana yang terjadi di sekitarnya.

    Anda terlalu cepat memvonis. Saya sendiri kalau copy cara anda, saya bisa saja menyebut orang-orang yang main label sekuler, atheis dll sebagai orang yang tidak menggunakan akalnya. Ada banyak variabel, ya Abu, yang menyebabkan suatu bencana terjadi, dan ini tak perlu melihat kondisi apakah penduduk di situ bergelimang dosa ataukah tidak.

  23. abisyakir berkata:

    @ Joko Susilo.

    Kalau tidak salah, Anda yang memberi link ke download “gambar masjid-masjid di Eropa” itu ya. Saya lupa-lupa ingat. Tapi kalau benar Anda yang melakukan, mohon bertaubatlah kepada Allah.

    Poin 1: Kan dalam tulisan itu sudah disebutkan, “Akan tetapi mereka mendustakan (agama Allah), maka Kami siksa mereka karena perbuatannya.” (Surat Al A’raaf). Ayat-ayat seperti demikian ini banyak, hanya saya kurang lapang waktu untuk mengumpulkannya.

    Ya, memang tidak ada yang tahu kepastian hubungan antara SBY dengan bencana-bencana itu. Hanya Allah yang tahu, tetapi kita bisa membandingkan kepemimpinan SBY dengan pemimpin-pemimpin sebelumnya. Disana jelas sekali bedanya. Di jaman Gus Dur yang brengsek saja, bencana-bencana itu tidak sehebat di era SBY. Saya menduga, hal ini karena SBY konsisten memakai orang-orang berpemikiran IMF untuk mengurus ekonomi negara. Di jaman Gus Dur, dia memakai Kwik Kian Gie dan Rizal Ramli sebagai Menteri Ekonomi. IMF jelas sudah menghancurkan ekonomi Indonesia sehancur-hancurnya, lalu dipakai lagi orang-orangnya. Sampai Mei 2009, Boediono masih tercatat sebagai anggota IMF. Katanya sekarang sudah diganti Miranda Goeltom.

    Poin 3: Anda mengatakan: “Banyak orang atau rakyat indonesia yang merasakan bahwa dibawah kepemiminan sby, indonesia lebih baik. terbukti suara terbanyak rakyat indonesia masih mengehendaki sby, setidaknya partainya. Allah swt tidak membiarkan ummatnya memiliki pilihan yang salah.”

    Ya, karena bangsa Indonesia sebagian besar masih awam, jahil secara ilmu. Bangsa Indonesia tidak pernah tahu kalau SBY pernah mengatakan ke TV Aljazeera, “Amerika adalah negeri kedua saya. Saya mencintainya, dengan segala kesalahannya.” Perkataan seperti itu kan seperti kalimat bai’at agar menjadi agen kepentingan asing. Para aktivis Islam banyak tahu masalah ini.

    Apalagi banyak pemilih di Indonesia ini umumnya ibu-ibu, gadis-gadis, kaum wanita. Mereka kesengsem dengan SBY karena gagah, tampan, sopan. Mereka lupa kalau SBY telah menaikkan BBM lebih dari 130 %, di jaman SBY banyak bencana, termasuk bencana transportasi, lumpur Lapindo menyembur tidak kering-kering sampai saat ini. Orang kita terlalu mudah tergoda oleh “rekayasa pencitraan”.

    Dan jangan lupa, dalam Pemilu Legislatif 2009 lalu, ada sekitar 40 juta warga kehilangan hak pilihnya. Komnas HAM menyebut itu pelanggaran HAM serius. Hanya sayang, tidak ada kelanjutan dari rekomendasi Komnas HAM itu. Bayangkan, bagaimana kalau Megawati dulu melakukan kecurangan-kecurangan Pemilu? Tentu SBY tidak akan menjadi Presiden. Tetapi setelah SBY menyelenggarakan Pemilu, ia menjadi Pemilu terburuk sepanjang sejarah Pemilu di Indonesia.

    Masyarakat kita “terlalu jahil” untuk memahami semua ini. Mereka bersikap dengan hawa nafsu, bukan dengan akal sehat. Kalau suatu bangsa lebih mendahulukan hawa nafsu, alamat akan hancur negara itu.

    AMW.

  24. abisyakir berkata:

    @ Bocah Ajaib.

    Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakaatuh.

    Ya Akhi, kehidupan ini terdiri dari dua sisi. Itu sudah Sunnatullah.

    Anda mengatakan: “Kita jangan selalu memikirkan kejelekan orang saja, atau buruk sangka karena itu dosa menurut Al-Quran. lebih baik kita berpositif thinking. toh juga tidak ada manusia yang sempurna. karena cuma malaikat saja yang tidak berdosa. benar begitu pak ustadz……..
    wass…..

    Jawab: Disini ingin saya jelaskan metode saya dalam melihat kepemimpinan SBY, antara lain:

    [o] Jelas, SBY tidak berbuat keburukan melulu, pasti ada kebaikan-kebaikannya. Itu pasti. Betapa tidak, selama 5 tahun dia diberi anggaran sekitar 1000 triliun untuk memimpin bangsa Indonesia. Masak sih, dari anggaran sebesar itu hanya untuk keburukan? Jelas tidak mungkin. Hanya pemimpin-pemimpin Mafia yang akan melakukan keburukan total dalam kepemimpinannya.

    [o] Ketika melihat regim SBY, kita harus menghitung madharat dan maslahatnya. Lebih banyak mana madharat dan maslahatnya? Kalau lebih banyak madharat, berarti buruk; kalau lebih banyak maslahat, berarti baik. Secara umum, saya setuju dengan para kritikus yang menyimpulkan kepemimpinan SBY ini gagal. Artinya, saya setuju dengan kesimpulan bahwa di jaman SBY ini lebih banyak madharatnya.

    [o] Untuk menilai segi maslahat kehidupan Ummat, lihat pada parameter dasarnya, yaitu: Perlindungan agama, perlindungan jiwa, perlindungan harta, perlindungan akal, dan perlindungan keturunan. Ini kaidah dasarnya, dan bisa ditambah parameter lain seperti kehormatan, harmoni keluarga, kedamaian sosial, martabat, kualitas keilmuwan, dan sebagainya. Tetapi secara dasar, dalam 5 perkara di atas.

    Secara agama: Kaum liberal merajalela, Ahmadiyyah dibiarkan, aliran sesat panen raya, Kristenisasi terus gencar, perang melawan terorisme berubah menjadi penodaan citra dakwah Islam, kemusyrikan semakin meluas, demoralisasi semakin meluas, sikap acuh kepada agama semakin kuat, dsb.

    Secara jiwa: Jutaan kaum Muslimin hidup dalam kesengsaraan, tidak mampu menyediakan kebutuhan gizi minimal, kemiskinan terus bertambah (uniknya BPS menurunkan kriteria kemiskinan menjadi lebih buruk dari sebelumnya), banyak yang mati karena bencana alam, kecelakaan transportasi, konflik sosial, kriminalitas, dll.

    Secara harta: Ini yang paling parah, sehingga SBY dituduh sebagai penganut Neolib. Hutang negara bertambah sekitar 400 triliun selama 5 tahun. Blog Cepu diberikan ke Exxon, Carefour merajalela, supermarket mematikan pasar tradisional, produk Chin merajai pasar domestik, jutaan UKM gulung tikar karena kesulitan modal (Bank Indonesia memberlakukan sistem “uang ketat”), kenaikan harga BBM membuat kemiskinan berlipat ganda, iklim bisnis semakin sengit dan kotor, program BLT menaikkan inflasi, dan sebagainya. Banyak kalau disebut satu per satu.

    Secara akal, keturunan, dan lainnya: Regim SBY tidak komitmen dengan moral masyarakat. SBY tampak alim, hanya saat menjelang Pemilu saja. Maklum, orang Indonesia gampang diapusi.

    Saya tidak berburuk sangka, wong ini memang nyata dan ada bukti-buktinya. Banyak orang tahu kenyataan itu. Kalau saya menduga-duga, baru disebut buruk sangka. Wong ini riil kok.

    Ya, Anda menyuruh positif thinking. Positif thinking untuk hari ini adalah: Menyelamatkan masa depan Ummat Islam dengan segala kemampuan yang kita miliki, dan jangan mengulangi segala catatan bencana dan kehancuran yang sudah terjadi. Itu positif thinkingnya.

    Mohon, Anda jangan mencampur-adukkan kalimat-kalimat yang manis (seperti positive thinking dengan kebathilan yang tampak nyata di depan mata). Jangan-jangan, nanti Anda akan positive thinking kepada penjajahan, konspirasi IMF, pemiskinan penduduk, penghancuran negara, tipu daya syaitan, bahkan bisa jadi Anda akan positif thinking kepada siksa neraka. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

    AMW.

  25. abisyakir berkata:

    @ Abu.

    Anda mengatakan: “Tuhan telah menimpakan bencana kepada Indonesia bisa diliat sebagai pembersih dosa-dosa yg telah dilakukan tempo dulu yg kita tahu cukup kronis, baik dari perilaku masyarakatnya maupun perilaku PEJABAT negaranya.”

    Jawab: Pemikiran seperti itu justru aneh. Siapa yang berbuat, siapa yang menanggung akibat? Apa Anda mau menerima kenyataan seperti itu dalam kehidupan Anda? Misalnya, hidup Anda susah karena dosa kakek-nenek Anda di masa lalu? Dalam Al Qur’an disebutkan prinsip besar, “Laa taziru waziratu wizra ukhra” (seseorang tidak menanggung dosa orang lain).

    Tidak benar pemikiran seperti itu. Justru saya berpendapat: “Ummat Islam di Indonesia dihukum oleh Allah dengan bencana-bencana, karena telah rela memilih pemimpin yang salah.

    Saat ini saja, masyarakat diingatkan dengan bencana transportasi udara, kapal laut yang terus bertubi-tubi. Setelah Fokker, lalu Hercules, lalu Puma, lalu lainnya. Ini terjadi di depan mata kita. Malah, sebelum Pemilu April 2009 sudah terjadi Situ Gintung. Hanya karena masyarakatnya yang bodoh pangbodohna, maka SBY terpilih lagi. Wong Allah sudah menunjukkan bukti-bukti di depan mata, kok malah diabaikan. Saya khawatir, kalau SBY terpilih lagi, kelak bangsa ini akan tertimpa musibah yang lebih perih lagi.

    Anda mengatakan: “Tuhan menunggu waktu yg tepat…saat dimana Indonesia dipimpin oleh seorang Pemimpin yang mampu memikul ujian itu.”

    Jawab: Ini teori dari mana lagi? Ora mudeng aku. Kok ada teori seperti ini? Coba lihat kehidupan Nabi Saw dalam perjuangan di Makkah dan Madinah. Apakah SBY lebih kuat dari Nabi dalam memikul amanah kehidupan? Jelas, SBY tidak ada apa-apanya dibandingkan Nabi. Tetapi apakah kemudian Nabi Saw selama hidupnya, beliau memikul dosa orang-orang jahiliyah Arab sejak jaman Ibrahim sampai jaman Abu Thalib? Tidak sama sekali.

    Dalam Al Qur’an disebutkan, “Laha maa kasabat, wa lakum maa kasabtum” (bagi ummat-ummat terdahulu apa yang mereka perbuat, dan bagimu apa yang kamu perbuat). Jelas, semua masalah itu ditanggung masing-masing orang/kaum, bukan saling memindah beban.

    Anda mengatakan: “Mestinya anda cukup bersyukur menghadapi realitas itu. Ambillah hikmah dari semua kejadian “Ustadz”. Jangan terlalu suudzon.

    Jawab: Sejujurnya, saya sudah tidak menyukai SBY sejak dia membuat Partai Demokrat. Kenapa harus Partai Demokrat, mengambil ide dari politik Amerika? Apa di Indonesia tidak ada ide. Tetapi waktu itu saya dan kita semua tidak bisa berbuat apa-apa, sebab belum tahu model kepemimpinan SBY. Nah, setelah 5 tahun melihat track record SBY, na’udzubillah min dzalik deh. Belum ada pemimpin yang sebegitu menggelisahkan hati, selain orang ini. Padahal kami sama-sama Jawa Timur, lho.

    Ya, ke depan, apa kita mau serial penderitaan panjang Ummat Islam ini akan terus berlanjut? Ya, yang mau silakan tempuh jalanmu; kami akan beramal sesuai jalan kami. Yang jelas, kalau SBY terpilih kembali, alamat bangsa Indonesia akan lebih menderita lagi. Menderita karena bencana, dan menderita karena politiknya yang berpihak kepentingan asing.

    Ya, saya hanya mengingatkan. Terserah Anda akan mengikuti atau tidak. Mari kita sama-sama melihat hasilnya nanti. Yang jelas, para pembela SBY hari ini adalah orang-orang yang memikul dosa sangat besar akibat penderitaan kaum Muslimin di Indonesia, dalam pengadilan di akhirat nanti.

    Hanya Allah tempat kita bergantung dan mengadu.

    AMW.

  26. abisyakir berkata:

    @ celoteh anak bangsa.

    Ya Kisanak, insya Allah kalau ada musim yang tenang, angin semilir, daun-daun menghijau, “seorang kesatria” akan mampir kesana. (Maaf, saya jadi ikut-ikutan memakai istilah “kesatria”. Ya, sedikit nebeng Pak SBY gak apa-apa kan?). Kita perlu berguru ilmu kanuragan untuk menghadapi daripada resiko ontran-ontran. (Ini lagi nostalgia dengan era Ketoprak di masa kecil dulu).

    == Waskito ==

  27. Presiden AS berkata:

    Saya hanya ingin bertanya, apakah bila nanti SBY terpilih lagi, lalu muncul “serial” bencana-bencana lainnya, orang seperti Anda ini masih bisa ngakak?

    Saya ingin ikut bertanya, apabila nanti bukan SBY yang terpilih namun bencana-bencana masih bertandang, bagaimana, masih mempersoalkan pemimpinnya? Lalu kalau seandainya kita ganti presiden lagi, tapi tetap banyak bencana, masih tetap seperti sebelumnya? Lalu kalau untuk yang kesekian kalinya kita mengangkat pemimpin yang Anda bilang shalih, tapi bencana masih saja terjadi, dan ekonomi Indonesia masih saja memble, gimana? Hmm?

  28. abisyakir berkata:

    @ Abbu Hassan.

    Mula-mula saya akn jawab doa Anda dulu:

    “Ya Allah ya ‘Alim, andai orang-orang seperti Uztads Joko ini tidak tahu, berilah pengetahuan dan ilmu. Andai dia tidak berani bersikap positif, berilah hatinya keberanian bersikap yang positif. Andai dia khawatir dengan penghasilannya, berilah ganti penghasilan yang lebih baik dan barakah. Andai dia takut kehilangan teman-teman, berilah ganti teman-teman yang mulia dan jujur. Andai dia selalu gelisah, beri ketenangan jiwanya.”

    Jawab: Amin Allahumma amin. Kabulkanlah, kabulkanlah, kabulkanlah ya Ilahi ya Rahmaan. Amin Allahumma amin. Dan jadikanlah hamba-Mu ini pandai bersyukur, dan tidak mengkufuri nikmat-nikmat-Mu. Allahumma amin.

    Kemudian pernyataan Anda:

    “Mengapakah kita selalu berpikir negatif ttg America dan kroni2 nya ? Mengapa kita tidak berpikir dulu bahwa budaya kita ini sudah mulai hilang; mulai punah tergerus budaya dari Arab ? Coba lihat, bahasa2 daerah kita sudah mulai banyak yang punah. Agama2 “tradisional” yg seharusnya tetap eksis, mulai punah karena dianggap ATHEIS dan BERBAHAYA! Apakah orang2 yg mengagung-angungkan bahwa dirinya BERTUHAN itu sebenarnya BERTUHAN, ketika dirinya mengancam dan menghujat dan mencela orang2 yang TIDAK SAMA TUHANNYA ? Ingatlah bahwa orang mempunyai pandangan yang berbeda; setiap orang TIDAK SAMA!”

    Jawab:

    – Berpikir negatif ke orang kafir, meskipun mereka tidak berbuat jahat kepada kita: TIDAK APA-APA. Boleh, malah perlu. Ini untuk kewaspadaan. Hukum husnuzhan itu hanya berlaku bagi sesama Muslim.

    – Kita jangan berpikir negatif ke Amerika, tetapi harus memperlakukan mereka sebagai bangsa kafir yang zhalim. Bukti-buktinya terlalu banyak, antara lain: Mereka serang Surabaya 10 November 1945, mereka dukung Israel terus-menerus, mereka fitnah Ummat Islam dalam soal WTC 11 September, mereka serang Irak dan Afghanistan, sampai jutaan Muslim meninggal disana, mereka kejar-kejar ribuan dai dan aktivis Islam dengan alasan terorisme, mereka kuras kekayaan Indonesia melalui Freeport, Caltex, Exxon, Newmont, dll. mereka penjara ribuan aktivis Islam dan disiksa sangat berat di Guantanamo, Beghram, Abu Ghraib, dll. Waduh, waduh, Amerika itu sudah layak untuk didoakan agar dihukum negeri itu, dihancurkan, diguncangkan, kecuali orang-orang Muslim yang tinggal di dalamnya.

    – Anda mengatakan: Apakah orang2 yg mengagung-angungkan bahwa dirinya BERTUHAN itu sebenarnya BERTUHAN, ketika dirinya mengancam dan menghujat dan mencela orang2 yang TIDAK SAMA TUHANNYA ? Ingatlah bahwa orang mempunyai pandangan yang berbeda; setiap orang TIDAK SAMA!”

    Lho, sebagai Muslim, kami ini kan hanya mengikuti tuntunan Al Qur’an dan As Sunnah saja. Apa yang diajarkan disana kami ikuti, ya sudah begitu saja. Kalau Al Qur’an mengajarkan kami untuk menghujat kekafiran, akan kami lakukan; kalau As Sunnah mengajarkan kami membenci kemunafikan, akan kami lakukan.

    Kalau mau protes, jangan kepada kami. Kami ini hanya orang operasional. Kami ini hanya pelaksana juklak saja. Kalau mau protes, silakan protes kepada yang menurunkan Al Qur’an dan As Sunnah! Silakan Anda protes kesana, nanti kalau ada hasilnya boleh beritahu kami!

    Allah telah menyempurnakan agama ini, ia telah tetap, tidak ditambah-tambah dan dikurangi lagi. Tugas kami, sami’na wa atha’na (kami dengar dan kami taat). Dan inilah makna agama kami. Kalau orang protes, kecewa, atau apalah, kami hanya akan mengatakan: Lakum dinukum wa liya din.

    Ummat Islam di Indonesia berhak mengklaim hak-haknya. Sebab Islam dan kaum Muslimin sangat besar jasanya bagi bangkitnya negara yang bernama Indonesia ini. Andai mayoritas penduduk Indonesia bukan Muslim, pasti negara ini akan terpecah-belah menjadi negara-negara kecil seperti di Eropa. Hanya Islam-lah yang menyatukan bangsa ini. Hanya pahlawan-pahlawan Islam yang telah merintis kemerdekaan bangsa ini.

    Wajar dong, kami sebagai anak-keturunan kaum Muslimin menuntut hak-hak kami. Toh, kami tidak menuntut hak di Singapura, Filipina, Australia, atau Amerika. Kami menuntut hak di Indonesia, negara yang diperjuangan dengan darah, air mata, dan keringat kaum Muslimin.

    Trus apa lagi, Aba Hassan?

    AMW.

  29. abisyakir berkata:

    @ Musafir Laut.

    Ahlan wa sahlan, mari kita teruskan diskusi kita. Semoga Allah melimpahkan ilmu kepada saya, Anda, dan kita semua. Allahumma amin.

    ML: “Apakah Antum sudah lupa dengan dosa dan kejahatan Golkar sebagai partai sekuler selama puluhan tahun terhadap Umat Islam di Indonesia? Apakah Antum tidak kritis terhadap hal ini? Apakah Antum merasa bahwa Golkar telah berubah dan kini berpihak terhadap Umat dan dakwah? Apakah tidak up-to-date lagi untuk membahas perilaku khianat Golkar tersebut?”

    Jawab: Tidak, saya tidak lupa. Insya Allah kita juga masih ingat sebagian track record Soekarno, Soeharto, Habibie, dan lain-lain. Insya Allah masih ingat, meskipun sebagian-sebagian. Hanya Allah yang Maha Sempurna kebaikan-Nya.

    Golkar sendiri kan berubah-ubah kekuatannya. Mula-mula dia di bawah Soeharto dengan dukungan Korpri dan ABRI. Lalu menjadi “paradigma baru” di era Akbar Tanjung. Lalu berubah lagi setelah berada di bawah JK. Golkar jaman Akbar Tanjung beda dengan jaman JK. Buktinya, kemarin Akbar ingin merapat ke SBY, tetapi gagal. Akbar malah sempat menggalang kekuatan DPD-DPD Golkar untuk mbalelo terhadap JK.

    Golkar di jaman Soeharto itu direpresentasikan oleh Mbak Tutut dan Jendral R. Hartono lewat Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB). (Maaf, nama partainya benar ya? Saya agak lupa tepatnya). Justru partai Mbak Tutut ini sekarang merapat ke SBY. Dalam deklarasi SBY-Berbudi di Bandung kemarin Jendral R. Hartono tampil mendukung SBY.

    Jadi, Golkar mana yang Anda maksudkan?

    ML: “Mengapa pena Antum tidak bisa tajam ketika menilai sosok JK-Win dan sepak terjang Golkar selama ini? Saya percaya bahwa JK-Win tidak bisa tegas terhadap perilaku korupsi yang sudah mengakar di seluruh jaringan Golkar di seluruh Indonesia, jika dia menjadi presiden. Tengoklah, banyak pejabat Golkar yang terlibat kasus korupsi di pusat maupun di daerah. Janganlah berdalih bahwa pengungkapan kasus korupsi itu tebang pilih. Lha, bila mereka tidak berperilaku korupsi tentu sulit KPK menjadikan mereka sebagai tersangka.”

    Jawab: Seharusnya yang menjawab ini DPP Golkar, bukan saya. Saya tidak ada kaitannya sama sekali dengan Golkar. Saya hanya pro pemimpin yang pro kepentingan masyarakat Indonesia. Andai SBY bersikap seperti itu, insya Allah saya akan pro dia. Apa yang baik bagi Ummat, itulah yang kita dukung.

    Anda sebut korupsi di Golkar sudah mengakar, di pusat dan daerah. Maaf, saya tidak bisa membenarkan pendapat Anda, dan tidak juga menyalahkan. Anda harus menyebut data-data, fakta-fakta nyata, bukan klaim semacam itu. Ya kalau hanya klaim, kita bisa membuat seribu klaim sesuka hati. Kalau Anda punya data-data soal korupsi pejabat-pejabat Golkar, silakan sampaikan disini. Siapa tahu bermanfaat bagi mereka yang ingin tahu.

    Tapi jangan lupa juga tentang nepotisme di dalam keluarga SBY. Itu juga nyata dan faktual.

    ML: “Meski zaman Orde Baru telah berlalu, perilaku korupsi Golkar tidak juga berubah. Apa yang diharapkan dari Ummat terhadap Golkar? Golkar sekuler dan mungkin selamanya akan tetap sekuler, meskipun banyak tokoh dan isterinya mengenakan jilbab. Apakah Antum tidak mempunyai data tentang kekurangan dan kelemahan JK dan Wiranto sehingga Antum tidak kunjung menulis perspektif Antum yang kritis terhadap mereka dan Golkar? Apakah sebaiknya Antum pasang banner kampanye JK dalam blog Antum ini sehingga para pembaca dapat mengidentifikasi Antum pro JK-Win, bila ternyata Antum tidak berani mengkritisi JK-Win.”

    Jawab: Apa yang Anda katakan itu kebanyakan klaim. Itu berbahaya lho. Anda harus membuktikan klaim-klaim anda dengan bukti-bukti yang valid. Minimal dengan argumentasi yang rasional. Jangan asal klaim semacam itu, hanya karena Anda orang PKS dan sangat menunggu-nunggu PKS dapat kursi menteri kalau SBY menang.

    Sekali lagi, saya mendukung pemimpin yang pro kepentingan nasional. Bukan pemimpin pro asing, pro IMF, pro ekonomi pasar, liberal-kapitalistik. Ini frame-nya. Jadi bukan soal Golkar, Hanura, atau apalah. Andai track record SBY selama 5 tahun terakhir pro rakyat (kaum Muslimin), blog ini akan saya penuhi dengan senyum-senyum SBY yang melankolik itu.

    Pandangan Anda itu mulai sengak. Masak ada isteri-isteri pemimpin yang konsisten memakai jilbab, dikatakan: “Golkar sekuler dan mungkin selamanya akan tetap sekuler, meskipun banyak tokoh dan isterinya mengenakan jilbab.”

    Andai Golkar sekuler, apakah PKS tidak sekuler? Apa sih sisi Islami partai PKS? Coba sebutkan apa sisi Islaminya? Partai ini juga sekuler, menghamba kekuasaan. Hanya saja, ada sekuler yang pro kepentingan kaum Muslimin, dan ada sekuler yang pro kekuasaan, untuk dapat kursi menteri dengan menjual “merk dakwah”.

    Saya tidak akan pasang banner kampanye JK, atau Mega Pro. Tapi cukup menulis, betapa kaum Muslimin harus berjihad mempertahankan kehidupan dan masa depannya, dengan segala kemampuan yang ada. Cukuplah kehancuran total akibat IMF di tahun-tahun kemarin menjadi seburuk-buruk pelajaran bagi kita. Jangan beri lagi kesempatan IMF menghancurkan kehidupan kita. Ya Allah hancurkan laknat-laknat IMF itu dan selamatkan kaum Muslimin. Allahumma amin. Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajmain. Amin.

    ML: “Antum kurang adil dalam menimbang SBY dan PKS. Ketika Antum ungkap kekurangan dan kesalahannya, Antum lupa tidak menyertakan kebaikan dan prestasinya. Antum menggiring orang lewat opini pada blog ini supaya membenci SBY dan PKS, bukannya menggiring supaya pembaca menimbang ketiga calon capres dan cawapres dengan kelebihan dan kekurangannya bagi Umat dan dakwah.”

    Jawab: Tidak saudara. Bukan hanya saya yang kritis kepada SBY dan PKS. Anda salah besar kalau meanggap hanya saya yang mengkritik mereka. Terlalu banyak fakta-fakta di media betapa ada arus kuat di kalangan masyarakat yang tidak suka dengan kebijakan SBY; begitu juga arus kuat di kalangan Ummat yang kritis kepada PKS. Apa Anda tidak pernah dengar sikap keras Muhammadiyyah kepada PKS? Anda salah Akhi, kalau hanya melihat saya dalam urusan ini. Di bandingkan PKS Watch, saya belum ada apa-apanya.

    Cukuplah reputasi SBY selama 5 tahun terakhir sebagai bukti yang tidak perlu penjelasan lagi. Apa Anda tidak melihat track record mereka ya? Atau Anda sudah tertutup api fanatisme, jadi membabi buta?

    ML: “Lebih baik, Antum mengkampanyekan gerakan shalat istikharah yang merupakan sunnah Rasulullaah SAW yang telah lama ditinggalkan oleh mayoritas Umat Islam. Antum beberkan keutamaan shalat istikharah dalam memilih pemimpin Ummat disamping mengkritisi sepak terjangnya. Ya Allah, anugerahilah kami kejernihan hati dan pikiran yang menyebabkan kami bisa berlaku adil meskipun terhadap musuh kami sendiri. Ya Allah, janganlah Engkau biarkan tumbuh rasa “ghil” di dalam hati kami terhadap sesama orang beriman.”

    Jawab: Saya heran juga dengan pemikiran seperti Tuan @ Musafir ini. Dalam tulisan saya sudah disebutkan sekian banyak fakta fundamental, kok diabaikan begitu saja. Fakta-fakta itu sangat fundamental. Ia tidak bisa terhapus gara-gara BLT, PNPM Mandiri, Sekolah Gratis, Jamkesmas, Raskin, dan sebagainya. Wong akibatnya sangat mengguncang sendi-sendi negara dan masa depan kaum Muslimin.

    Kita boleh istikharah kalau menghadapi masalah yang samar (syubhat). Kalau masalahnya jelas, sangat terang, tidak ada keraguan lagi, bukan istikharah, tapi sikap wala’ wal bara’. Begitu kaidahnya. Kalau sudah nyata dan jelas, kita harus bersikap tegas, bukan ragu-ragu lagi.

    Semoga Allah menunjuki saya, Anda, dan kita semua ke jalan yang diridhai-Nya. Allahumma amin.

    AMW.

  30. Musafir Laut berkata:

    Quote:
    “Adapun orang-orang seperti @ Musafir Laut ini, mereka memandang kehidupan hanya sebatas yang tampak di matanya. Mereka tidak mau berpikir jauh ke depan tentang masa depan Islam nanti. Ya, terserah, setiap orang memikul pilihan hidupnya”.

    Inilah gaya ustadz Abisyakir ketika menghadapi kritik dari orang yang tidak sependapat dengan pemikirannya. Antum memandang orang yang berbeda cara pandang dengan Antum, dengan pandangan yang rendah.

    Padahal ana mengajak Antum juga berlaku objektif dengan juga berani mengkritisi JK dan Golkar. Kalau Mega dan PDI-P-nya tidak perlulah diulas lagi, karena kita sudah tahu sepak terjangnya sejak dulu.

    Apakah Antum kira pasangan JK-Win dan Mega-Pro untuk benar-benar membela pro kepentingan nasional? Menurut ana, ketiga-tiganya sedang menjual kepentingan nasional untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya. Mereka semua sedang jual kecap !

    Terhadap SBY & PKS, Antum seolah-olah wajib untuk ber-su’uzhan, sedangkan terhadap JK dan Golkar, Antum sepertinya wajib untuk ber-hunuzh-zhan.

    Ingat, dosa-dosa Golkar dan PDI-P selama ini terhadap Ummat ya, Ustadz. Ana salut dengan Antum, bila Antum juga kemukakan dosa-dosa mereka itu di dalam blog ini sebagaimana Antum menguliti SBY dan PKS.

    Silakan Antum berpihak kepada salah satu capres-cawapres atau golput, itu hak Antum. Yang penting, ketika pembaca mengunjungi blog ini, tidak bingung menilai Antum, apakah Antum itu seorang ustadz ataukah seorang anggota tim sukses pasangan capres-cawapres tertentu???

    Sorry, ana bukan antek SBY, tapi juga bukan antek JK & Golkar. Ana senang dengan beberapa ulasan Antum tentang SBY, Demokrat dan PKS, tapi ana bukan tipe orang yang menghiasi hati dan pikirannya dengan berburuk sangka, karena SBY & PKS bukan orang kafir yang perlu selalu di-su-uzhoni.

    Ana mengerti dengan perselisihan sebagian pengurus Muhammadiyyah terhadap PKS. Ada kesalahan di pihak PKS dan ada juga kesalahan di pihak Muhammadiyah. Disamping itu ada pihak ketiga yang memanfaatkan situasi keruh itu yakni kalangan Sepilis. Tentu Antum sudah baca buku “Ilusi Negara Islam”. Ana nantikan tulisan Antum yang membedah buku itu …

    Banyak topik keummatan yang juga penting Antum ulas dalam blog ini. Tidak melulu cuma politik dan politik, ya Ustadz.

  31. sebelum lebih lanjut menurunkan justifikasi kepada saya, menurut anda apa definisi dari kata “sekuler”?

    (saya belum mau bertanya kenapa negara termakmur di dunia ternyata isinya orang-orang yang dianggap kafir dan pendosa dalam islam. saya takut diskusi jadi nggak seru karena argumen anda di poin pertama langsung terpatahkan)

    tentang kesok-tahuan saya, saya minta maaf. tapi tetap, kan, anda memberi justifikasi yang di luar konteks pertanyaannya? iya kan? anda membawa2 pribadi orang yang bertanya pada anda; shoot the person, not the message. itu fallacy, lebih khususnya lagi adalah ad hominem. dan fallacy, apalagi ad hominem, adalah hal buruk dalam sebuah diskusi.

  32. @ Presiden AS

    sepertinya saya tidak perlu turun-tangan lebih lanjut. cukup sampeyan saja, brother, yang mengingatkan supaya tidak ada lagi vonis dini, justifikasi sepihak, dan – yang terpenting – bisa menimbang amalan orang per orang macam Tuhan saja.

    oh ya, tolong sembari mengingatkan, yang bersangkutan diajari juga tentang apa itu fallacy 😆

    *terhibur liat komen Presiden AS*

  33. Dalam kasus SBY. Mari kita lihat dengan akal sehat secara jernih, tanpa emosi. Di era Pemerintahan siapa di Indonesia ini yang penuh musibah bencana-bencana mengerikan kurang dari 5 tahun? Apakah Soekarno, Soeharto, BJ. Habibie, Wahid, atau Mega? Tolong jawab secara gentle, tanpa basa-basi!

    antara soeharto dan – anggaplah – sby, siapa yang lebih membuat bangsa ini menderita? krisis ekonomi yang nggak rampung2 sampe sekarang, menurut anda, gara2 ulah pemerintahannya siapa?

    32 tahun membuat “dosa” kemanusiaan yang lebih besar (liat penculikan dan penghilangan orang2 yang vokal pada pemerintahan, liat eksploitasi dan pemusatan kekayaan alam daerah ke pulau jawa yang membuat rakyat daerah merana, liat konflik bersenjata di aceh atau timtim, liat betapa kroni2nya menggerogoti kekayaan negara), pada faktanya memang bolehlah kalo dibilang pemerintahannya soeharto lebih sedikit bencana alamnya.

    jadi, apa bencana alam bisa dijadikan standar baik-buruknya sebuah pemerintahan? oh, get real, dong, tuan… 😈

    sudah saya jawab dengan gentle. saya akui masa soeharto bencana alamnya lebih sedikit. maka, sekarang giliran anda menjawab pertanyaan saya 😉

  34. Musafir Laut berkata:

    “Kita boleh istikharah kalau menghadapi masalah yang samar (syubhat). Kalau masalahnya jelas, sangat terang, tidak ada keraguan lagi, bukan istikharah, tapi sikap wala’ wal bara’. Begitu kaidahnya. Kalau sudah nyata dan jelas, kita harus bersikap tegas, bukan ragu-ragu lagi.”

    Wah, hebat … hebat … Ustadz.
    Antum sudah tidak perlu shalat istikharah lagi dalam mensikapi ketiga capres-cawapres ini. Luarbiasa …
    Antum tentu ingat kisah Ummu Salamah dipinang Rasulullaah SAW. Ummu Salamah saja masih butuh istikharah. Antum sudah yakin pilihan 100% itu benar.

    Antum sudah terkesima dengan kampanye pro kepentingan nasional yang dijual oleh JK-Win & Mega-Pro rupanya. Ya, sudah … Ana cuma mengajak Antum untuk bersikap adil dan seimbang menilai ketiga pasangan calon itu.

    Afwan, kebencian Antum kepada salah satu pasangan telah mencapai ubun-ubun. Mengapa Antum bisa membahas kelebihan-kelebihan Prabowo, tapi pelit untuk mengakui keberhasilan SBY? Mengapa Antum tidak menghakimi pilihan politik Prabowo dengan berkoalisi dengan Mega & PDI-P?

    Insya Allah, ana belum bosan menanggapi tulisan-tulisan Antum. Mudah-mudahan Antum pun demikian. Anggap saja ana murid yang bengal dan bawel terhadap ucapan dan sikap Antum, ya Ustadz.

  35. dobelden berkata:

    Klo tolak semua capres gimana?? 😐 ga ada yg sreg

  36. faread berkata:

    yah kalo dah bencana ya bencana aja…
    semua bencana udah di tentukan..
    buat apa bawa bawa orang..
    aneh amat…

  37. AbdurRahman berkata:

    Bismillah, assalamu’alaykum.
    Menasehati penguasa tidak boleh dengan membeberkan aib-aibnya di depan publik seperti yang dilakukan kebanyakan orang dan pemilik blog ini -semoga Allah Ta’ala memberikan hidayah kepada mereka.
    Inilah petunjuk Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dalam menasehati penguasa:
    “Barangsiapa yang ingin menasehati penguasa, maka janganlah ia menampakkannya secara terbuka (kepada khalayak), tetapi hendaklah dia menyepi dengannya dan mendekatinya, lalu apabila penguasa tersebut menerima nasehatnya maka itulah yang diinginkan, jika tidak maka ia telah melaksanakan kewajibannya”. (HR. Thabrani, dishohihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Zhilalul Jannah no. 1096).

    Haruskah mentaati penguasa, apabila penguasa tersebut memerintahkan kita melakukan suatu perkara yang tidak bertentangan dengan hukum Allah, meskipun di sisi lain kepemimpinannya tidak Islamy?
    Jawab: Harus taat, karena demikianlah petunjuk Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dalam sabdanya:
    “Patuh dan taatilah pemimpinmu walaupun dia memukul punggungmu dan mengambil hartamu, patuhilah dan taatilah” (HR. Muslim 12/236-237).

    Semoga bermanfaat bagi orang-orang yang mau tunduk kepada dalil, meskipun bertentangan dengan hawa nafsunya.

    Dan janganlah menolak hadits meski hadits tersebut bertentangan dengan kebiasaan kebanyakan orang (baca: sebagian aktifis Islam) atau bertentangan dengan akal kita, karena yang salah tentu bukan hadits yang datang dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam yang ma’shum, tetapi kebanyakan manusia serta akal manusia yang terbatas itulah yang salah, karena tidak mau tunduk kepada kebenaran.

    Hadaakumullahu ilal haq.

  38. abisyakir berkata:

    @ Joesatch.

    Apa itu “sekuler”?

    Menurut kamus Oxford yang saya baca. Sekuler artinya: sedikit penghormatan kepada sesuatu yang berhubungan dengan agama. Secara istilah, sekuler artinya sistem pemerintahan yang menolak campur-tangan agama di dalamnya. Contoh terbaik dalam hal ini adalah pemerintahan Eropa yang mengamputasi peranan Gereja/Injil dalam pemerintahannya. Hal itu kemudian diterapkan di dunia Islam untuk pertama kalinya di Turki Utsmani oleh Kemal At Taturk laknatullah ‘alaih.

    Pemerintahan sekuler menurut Islam, adalah pemerintahan yang tidak menjadikan Al Qur’an dan Sunnah sebagai konsitusi pemerintahannya. Indonesia termasuk negara sekuler. Meskipun sekularisasinya tidak seekstrim di Turki atau negara-negara Komunis. Tetapi hakikatnya tetap sekuler, sebelum negara ini mengakui kedaulatan hukum Al Qur’an dan Sunnah untuk mengatur seluruh sisi kehidupannya.

    Namun rakyat Indonesia tidak serta-merta disebut kafir karena keadaan negara yang sekuler ini. Tidak. Tergantung keadaan mereka masing-masing. Kalau mereka anti kepada peranan agama dalam kehidupan, termasuk tidak percaya bahwa bencana yang menimpa masyarakat (bukan musibah yang menimpa individu) berhubungan dengan keimanan, mereka disebut juga sebagai sekuler. Meskipun tingkat sekularitas itu bertingkat-tingkat. Ada yang kondisinya fasik, tetapi paling ekstrem sampai kafir harbi.

    Ya, soal ad hominem. Harapan semua kalangan, tentu kita bisa diskusi dengan baik, jujur, menerima kebenaran yang datang dari mana saja. Tetapi suatu saat ada orang-orang bandel, fanatis, yang tidak mau menerima kebenaran, meskipun sudah ditunjukkan sedemikian jelasnya.

    Justru orang-orang fanatik buta semacam itu yang susah diajak diskusi. Sekali waktu dia perlu diberi pelajaran. Toh, kalau “diserang secara pribadi”, saya tetap tidak tahu siapa pribadi orang itu. Misal, dia memakai nama @ Musafir Laut. Siapa ini si ML? Siapa dia, dimana orangnya, bagaimana wajahnya? Jadi apa artinya ad hominem kepada nama user yang tidak jelas itu?

    Saya berharap @ Joestch jawab beberapa pertanyaan itu, dan jangan kabur dari arena. Sebab orang-orang seperti Anda ini mudah menembak dari mana saja. Nanti kalau ada bantahan, buru-buru “ngacir”. Itu tidak sportif. Saya janji sama Anda wahai @ joesatch. Kalau Anda memperlihatkan identitas diri dengan jelas, seperti saya memperlihatkan hal itu di blog ini, Anda akan “diharamkan” menerima perlakuan ad hominem.

    AMW.

  39. abisyakir berkata:

    @ Joesatch.

    Anda mengatakan: “Antara soeharto dan – anggaplah – sby, siapa yang lebih membuat bangsa ini menderita? krisis ekonomi yang nggak rampung2 sampe sekarang, menurut anda, gara2 ulah pemerintahannya siapa?”

    Jawab: Saya pelajari masalah ini jauh lebih dalam. Malah sudah terwujud dalam bentuk buku. Hanya sayangnya, saya sulit mencari penerbit yang mau menerbitkan buku itu. Informasi yang saya ketahui, insya Allah tidak se-simple yang Anda ketahui.

    Anda perlu tahu, Krisis Ekonomi 1997 itu terjadi karena ulah para konglomerat yang mencari pinjaman dari bank-bank asing dengan masa jatuh tempo pendek. Kurs rupiah waktu itu turun ke level Rp. 4.000 dari semula sekitar Rp. 2.500,-. Meskipun krus rupiah turun “hanya” 1.500, tetapi dampaknya sangat kuat. Sehingga Soeharto berencana memberlakukan sistem CBS di Indonesia. Untuk itu dia mengundang Prof. Steve Henki untuk mengkaji kemungkinan penerapan sistem CBS di Indonesia. Tetapi ketika Amerika, Bank Dunia, dan IMF mendengar Indonesia akan memberlakukan CBS, mereka mencak-mencak semua. Mereka mengancam akan menghentikan bantuan pinjaman US$ 43 miliar ke Indonesia, kalau sampai berani menerapkan CBS.

    Di sisi lain, banyak pakar ekonomi, termasuk Gubernur Bank Indonesia, mendesak Pak Harto menerima tawaran IMF. Semula Soeharto menolak keras, sebab kata dia resep IMF itu akan mematikan Indonesia. Namun karena desakan luar biasa dari pakar, media massa, Bank Indonesia, LSM, dll. akhirnya Soeharto takluk, dan mau menandatangani perjanjian LoI dengan IMF. Isinya ada sekitar 180 butir perjanjian, semuanya mencekik rakyat Indonesia. Sampai urusan rotan saja diatur. Merebaknya supermarket2 seperti saat ini adalah dampak dari resep IMF itu.

    Secara umum, yang membunuh ekonomi kita adalah IMF. Hal itu dibenarkan oleh Joseph Stiglitz, pemenang Nobel ekonomi. Kata dia, resep IMF lebih banyak membunuh pasiennya, daripada menyelamatkan.

    Ekonomi Soeharto itu sangat berpihak ke sektor riil, pembangunan pertanian, peternakan, perkebunan, koperasi, pedesaan, dll. Itu sangat jelas, bagi yang mau melihat dengan jujur. Hanya gara-gara makar IMF yang didukung antek-anteknya di Indonesia, ekonomi Soeharto hancur-lebur.

    Jadi, Soeharto itu memiliki banyak kesalahan. Tidak diragukan lagi. Tetapi menyebut dia sebagai penyebab kesengsaraan ekonomi rakyat Indonesia saat ini, itu tidak adil. Soeharto boleh disalahkan untuk hal-hal yang memang dia bersalah. Tetapi untuk yang tidak bersalah, sementara dia sudah berusaha mati-matian berusaha, ya tidak adil menyalahkan dia.

    Adapun saat ini, siapakah SBY?

    Dia adalah pemimpin Indonesia yang telah terbukti melanjutkan kebijakan ekonomi ala IMF dan bermaksud “LANJUTKAN” kebijakan yang zhalim bagi rakyat Indonesia itu. Jadi, SBY ini masih satu garis dengan kepentingan IMF di masa lalu. Buktinya mudah saja? Siapa Sri Mulyani, siapa Boediono? Mereka adalah mantan-mantan pejabat IMF yang telah dicuci otaknya untuk menghamba kepada ekonomi versi IMF.

    Anda bisa mengerti penjelasan ini? Semoga.

    AMW.

  40. abisyakir berkata:

    @ Musafir Laut.

    Antum mengatakan:

    “Wah, hebat … hebat … Ustadz. Antum sudah tidak perlu shalat istikharah lagi dalam mensikapi ketiga capres-cawapres ini. Luarbiasa …Antum tentu ingat kisah Ummu Salamah dipinang Rasulullaah SAW. Ummu Salamah saja masih butuh istikharah. Antum sudah yakin pilihan 100% itu benar.”

    Jawab: Lho, selama 5 tahun terakhir, apa mata, telinga, hati Antum tidak berfungsi ya? Antum melihat apa saja selama 5 tahun terakhir kepemimpinan SBY? Saya itu ya, setelah kejadian Tsunami Desember 2004, tidak percaya dengan pemerintahan SBY. Saya tidak percaya, orang ini akan membawa kebaikan. Sebab Indonesia baru “dihadiahi” bencana banjir paling dahsyat sepanjang sejarah nasional itu. Ingat, itu hanya beberapa bulan setelah SBY diangkat menjadi Presiden RI.

    Dan cerita-cerita selanjutnya tidak pernah berhenti bangsa ini didera oleh cobaan-cobaan mengerikan. Belum pernah ada pemimpin di Indonesia, sekalipun Abdurrahman Wahid, yang dicoba dengan bencana-bencana alam mengerikan, selain SBY.

    Saya bukan menolak istikharah, tidak mungkin seorang Muslim akan menolak istikharah. Hanya saja, dalam hal seperti ini kaidahnya bukan istikharah, tetapi “fa’tabiru yaa ulil abshar” (ambillah pelajaran, wahai orang-orang berakal). Dari sana, saya baru menerapkan sikap wala’ wal bara’. Apalagi di tulisan lain (Icon Amerika di SBY) sudah saya jelaskan tentang kedekatan tokoh ini dengan Amerika.

    Antum mengatakan:

    “Antum sudah terkesima dengan kampanye pro kepentingan nasional yang dijual oleh JK-Win & Mega-Pro rupanya. Ya, sudah … Ana cuma mengajak Antum untuk bersikap adil dan seimbang menilai ketiga pasangan calon itu.”

    Jawab: Ya, itu hak politik saya dong bersikap. Apa yang berhak menilai hanya Anda saja? Apa hanya PKS-ers saja yang boleh menilai SBY-Boed? Coba Antum perhatikan dalam blog ini, apakah saya mewajibkan para pembaca mengikuti apa saja yang saya inginkan?

    Selama hak politik saya diakui, bebas dong menilai apa saja. Toh, kaidah saya “pro kepentingan nasional”, bukan secara spesifik mengarah ke JK-WIN atau Mega Pro. Antum melihat itu tidak sih, man?

    Antum berkata:

    “Afwan, kebencian Antum kepada salah satu pasangan telah mencapai ubun-ubun. Mengapa Antum bisa membahas kelebihan-kelebihan Prabowo, tapi pelit untuk mengakui keberhasilan SBY? Mengapa Antum tidak menghakimi pilihan politik Prabowo dengan berkoalisi dengan Mega & PDI-P?”

    Jawab: Ya, saya berpihak ke kepentingan Ummat Islam. Mereka telah mendapat perlakuan sangat buruk dari kepemimpinan SBY. Maka jangan kembali mereka mendapat “LANJUTKAN” berupa kezhaliman bertubi-tubi terhadap kehidupannya. Siapapun yang menghamba ekonomi model IMF harus dicegah, jangan dibiarkan. Sebab nanti ia akan mematikan Islam dan menghancurkan hidup kaum Muslimin. Apa yang saya lakukan adalah nahi munkar, sekuat kemampuan. Bukan soal kebencian ke A, B, atau C.

    Tolong dong, pahami man! Ini urusan masa depan kaum Muslimin. Kalau Anda tidak peduli dengan Ummat ini, yakinlah Anda akan menyusuri kehidupan sangat gelap di masa nanti. Saya mengingatkan, selagi masih mampu mengingatkan, menyingkirkan dari menjadi “pembela SBY”.

    Soal Prabowo, PDIP, dll. lagi-lagi kaidahnya jangan dibawa ke masalah PERSONAL. Tetapi pada pentingnya Ummat Islam Indonesia memperjuangkan kehidupannya, salah satunya masalah ekonomi. Kita harus menjaga ekonomi Ummat dengan alasan menjaga harta-benda kaum Muslimin.

    Jadi jangan dibawa ke soal-soal PERSONAL. Ini masalahnya cara kita memahami Islam, lalu menerapkannya dalam kehidupan nyata.

    Anda mengatakan:

    “Insya Allah, ana belum bosan menanggapi tulisan-tulisan Antum. Mudah-mudahan Antum pun demikian. Anggap saja ana murid yang bengal dan bawel terhadap ucapan dan sikap Antum, ya Ustadz.”

    Jawab: Ya, kita sama-sama belajar. Selagi ada niat baik, insya Allah akan selalu ada sikap baik. Mohon maaf kalau dalam diskusi saya sering melontarkan kata-kata kasar. Kepada Allah jua saya memohon ampunan atas sikap-sikap yang berlebihan.

    AMW.

  41. abisyakir berkata:

    @ Abdurrahman.

    Saya tidak mengingkari dalil-dalil, tapi saya coba menempatkan dalil-dalil itu sebagaimana mestinya. Anda dan orang-orang seperti Anda ini sering melakukan talbis, mencampur-adukkan dalil haq dengan kebathilan.

    Harusnya kalau berdalil itu melihat dua sisi: Dilalah syar’iyyah dan fahmu waqi’iyyah. Lihat dalil Syar’inya, lalu lihat juga konteks masalahnya. Hal ini ditujukan agar kita tidak merusak agama ini. Para ulama dalam berdalil selalu memperhatikan dalil dan konteks. Jangan dicampur-aduk, seperti orang-orang berhati sakit.

    Menempatkan dalil-dalil penghormatan kepada Khalifah Islam, lalu diterapkan kepada para penguasa sekuler yang anti hukum Islam, ini adalah: PENGKHIANATAN BESAR DALAM ISLAM. Demi Allah, ini adalah KEBATHILAN BESAR yang tidak tertutup dari mata orang-orang yang memahami.

    Sikap kita kepada penguasa sekuler bukan bersikap lunak-lunak, tetapi meluruskannya, berdakwah kepadanya, dan mencegah kemungkarannya. Kita harus berusaha mengajak mereka menetapi kepemimpinan Islami, bukan kepemimpinan sekuler.

    Demikian, wallahu A’lam bisshawaab.

    AMW.

  42. iben berkata:

    bagaimana sang “musafir” ?
    Laut memang telah antum lampaui sedemikian panjang . Antum bagaikan kapal yang sudah berlayar sampai jauh dan jauuuuuh sekali namun sebelum sampai di ambang lautan , antum bergegas kembali tanpa mampu mendapatkan bekal apapun dari proses berkelana antum…begitu hampa !! sang “musafir” yang kehilangan pegangan…….

  43. joko susilo berkata:

    @ Joko Susilo.

    JS: 1. saya bukan joko susilo yg ustad maksud

    Jawab: Maapin. Lagian kenapa pake nama yang sama. Sama lagi sama aku. He he he…

    JS: 2. ustad terlalu tendensius dalam menjastis seseorang

    Jawab: Maapin kalau saya salah. Kepada Allah aku mohon ampunan.

    JS: 3. ustad ini seorang ustad yg belajar politik, ato seorang politikus yg belajar jd ustad.

    Jawab: Terserah ente saja gimana enaknye. Yang penting, Allah berikan ilmu yang manfaat, hati yang khusyuk, jiwa yang puas, dan doa yang dikabulkan. Buat kamu, aku, dan buat saudara-saudara Muslim semua. Amin.

    JS: 4. semua ulasan ustad adalah tendensius ke capres mega atau jk, sehingga ustad menganggap semua pendukung sby adalah kumpulan org bodoh, org sesat, org yg buta mata hatinya, org melankolis, org yg tertipu dll. gimana dengan pendukung jk ato mega?

    Jawab: Oh, kagak boy. Saya tidak secara khusus pilih JK-Win atau Mega Pro. Ya ginilah. Bayangkan ada Pemilu legislatif. Disitu kan parte-parte pada memuji diri sendiri, ama serang parte lain. Ya, di dunia politik yang begituan kan banyak ye.

    Eh, man. Maapin ye. Apa ada tuduhan seperti yang kamu sebut itu pada tulisan-tulisan itu? Kalau ada yang kamu sebut itu, misalnya memang berlebihan, insya Allah nanti aku perbaiki.

    JS: 5. gimana kalo saya berkomentar, Jusuf kalla masih jadi wakil presiden aja, bencana ada dimana-mana, apalagi kalo jadi presiden?

    Jawab: Itu lho, seperti kata tim sukses SBY. “Ide BLT memang dari Pak JK. Tapi tanpa tanda tangan Pak SBY, mana bisa ada BLT?” Ya begitulah. JK bisa saja disebut penyebab bencana-bencana alam di Tanah Air. Misalnye kita katain gitu ye. Tapi “tanpa tanda tangan SBY” JK belum bisa jadi penyebab bencana. He he he…jadi balik lagi deh ke pimpinan di atasnye JK. Siapa ntu? Tahulah…

    JS: 6. saya berpikir dengan akal sehat saya dan secara rasional, saya yakin bila sby terpilih, indonesia akan lebih baik. dan walaupun saya menolak mega atau jk saya yakin mega ato jk tidak mempunyai tujuan menyengsarakan rakyat. tolong buka mata hati dalam menjastis seseorang.

    Jawab: Begini boy, itu kan pendapat saya. Bisa bener, bisa tidak. Ya, namanya juga pendapat manusia. Kita nih kan berdalil berdasarkan fakta-fakta yang kita saksikan sama-sama. You bisa aja punya pendirian lain, you juga boleh kok tulis artikel: “Mengapa Kita Harus Menolak JK-Win dan Mega Pro?” Misalnya kayak begitu. Asal tulisan kamu itu ada dasarnya, bukan asal-asalan.

    Gimana ye, masak kita kagak boleh menilai orang? Kita disuruh terima beres aje gitu? Lha, SBY juga menjastis orang, misalnya: “Jangan takabbur… Cepat boleh tapi jangan ceroboh… Kepemimpinan jangan campur aduk dengan interest perusahaan… Bapak kok dikeroyok…” Lha, itu kan juga judgement.

    Komentar-komentar kamu juga banyak yang judgement ke saya. Iya kan? Ngaku saja deh.

    AMW.

  44. Presiden AS berkata:

    Saya pelajari masalah ini jauh lebih dalam. Malah sudah terwujud dalam bentuk buku. Hanya sayangnya, saya sulit mencari penerbit yang mau menerbitkan buku itu.

    O, ini menjadi burhan pula, bahwa buku Anda pasti bermasalah™, makanya Allah mempersulit Anda mendapatkan penerbit yang mau menerbitkan buku Anda.

    Demikian.

  45. Menurut kamus Oxford yang saya baca. Sekuler artinya: sedikit penghormatan kepada sesuatu yang berhubungan dengan agama. Secara istilah, sekuler artinya sistem pemerintahan yang menolak campur-tangan agama di dalamnya. Contoh terbaik dalam hal ini adalah pemerintahan Eropa yang mengamputasi peranan Gereja/Injil dalam pemerintahannya. Hal itu kemudian diterapkan di dunia Islam untuk pertama kalinya di Turki Utsmani oleh Kemal At Taturk laknatullah ‘alaih.

    Pemerintahan sekuler menurut Islam, adalah pemerintahan yang tidak menjadikan Al Qur’an dan Sunnah sebagai konsitusi pemerintahannya. Indonesia termasuk negara sekuler. Meskipun sekularisasinya tidak seekstrim di Turki atau negara-negara Komunis. Tetapi hakikatnya tetap sekuler, sebelum negara ini mengakui kedaulatan hukum Al Qur’an dan Sunnah untuk mengatur seluruh sisi kehidupannya.

    sudah pernah saya bahas, kok 😀

    Ya, soal ad hominem. Harapan semua kalangan, tentu kita bisa diskusi dengan baik, jujur, menerima kebenaran yang datang dari mana saja. Tetapi suatu saat ada orang-orang bandel, fanatis, yang tidak mau menerima kebenaran, meskipun sudah ditunjukkan sedemikian jelasnya.

    saya malah ngeliatnya andalah yang terkesan fanatik pada asal-bukan-sby. sebagai bagian dari kefanatikan anda, anda menolak untuk mengkritisi 2 kandidat pasangan capre-cawapres lainnya.

    saking fanatiknya juga, anda tidak menerima dalih apapun jika ada komentator yang berseberangan pendapatnya dengan anda. implementasinya, anda ber-fallacy kepada mereka 😀

    itu kesan yang saya tangkap tentang anda berangkat dari diskusi yang terjadi di sini.

    Justru orang-orang fanatik buta semacam itu yang susah diajak diskusi. Sekali waktu dia perlu diberi pelajaran. Toh, kalau “diserang secara pribadi”, saya tetap tidak tahu siapa pribadi orang itu. Misal, dia memakai nama @ Musafir Laut. Siapa ini si ML? Siapa dia, dimana orangnya, bagaimana wajahnya? Jadi apa artinya ad hominem kepada nama user yang tidak jelas itu?

    masalahnya bukanlah pada “apa artinya ad hominem kepada nama user yang tidak jelas itu?”. ad hominem tetaplah ad hominem. fallacy tetaplah fallacy. tidak peduli kepada siapa anda melakukannya, ketika anda melakukan fallacy, anda tetaplah seorang pelaku fallacy.

    lagian, kalo memang anda mampu untuk tidak ber-fallacy, kenapa pula anda harus ber-fallacy? analoginya, kalo anda bisa mengontrol emosi anda, kenapa pula anda harus mengumbar emosi anda?

    jadi, kalo misalnya sekarang saya beberkan jati diri saya sejujur2nya kepada anda – wallahi – apakah anda juga mau menghentikan justifikasi sepihak anda kepada saya yang sudah anda lakukan sebelumnya? khawatirnya, walaupun saya sudah jujur, anda masih akan tetap ber-fallacy dengan alasan “saya tetap tidak tahu siapa pribadi orang itu”? 😉

    Saya pelajari masalah ini jauh lebih dalam. Malah sudah terwujud dalam bentuk buku. Hanya sayangnya, saya sulit mencari penerbit yang mau menerbitkan buku itu. Informasi yang saya ketahui, insya Allah tidak se-simple yang Anda ketahui.

    oh, ya? dan saya sebenernya juga tidak mengharapkan jawaban sesimpel jawaban anda.

    btw, aha, ada fallacy lagi di sini: “Informasi yang saya ketahui, insya Allah tidak se-simple yang Anda ketahui

    well, well, well, ad hominem lagi. justifikasi sepihak. dari mana anda yang beralasan “saya tetap tidak tahu siapa pribadi orang itu” bisa tahu sampai di mana kedalaman ilmu saya? 😈

    okelah, tapi kita bisa lanjut lagi. bandingkan saja jawaban simpel anda dengan pertanyaan saya yang kompleks dan menyangkut banyak aspek:

    Anda perlu tahu, Krisis Ekonomi 1997 itu terjadi karena ulah para konglomerat yang mencari pinjaman dari bank-bank asing dengan masa jatuh tempo pendek. Kurs rupiah waktu itu turun ke level Rp. 4.000 dari semula sekitar Rp. 2.500,-. Meskipun krus rupiah turun “hanya” 1.500, tetapi dampaknya sangat kuat. Sehingga Soeharto berencana memberlakukan sistem CBS di Indonesia. Untuk itu dia mengundang Prof. Steve Henki untuk mengkaji kemungkinan penerapan sistem CBS di Indonesia. Tetapi ketika Amerika, Bank Dunia, dan IMF mendengar Indonesia akan memberlakukan CBS, mereka mencak-mencak semua. Mereka mengancam akan menghentikan bantuan pinjaman US$ 43 miliar ke Indonesia, kalau sampai berani menerapkan CBS.

    oke, masalah ekonomi…

    Di sisi lain, banyak pakar ekonomi, termasuk Gubernur Bank Indonesia, mendesak Pak Harto menerima tawaran IMF. Semula Soeharto menolak keras, sebab kata dia resep IMF itu akan mematikan Indonesia. Namun karena desakan luar biasa dari pakar, media massa, Bank Indonesia, LSM, dll. akhirnya Soeharto takluk, dan mau menandatangani perjanjian LoI dengan IMF. Isinya ada sekitar 180 butir perjanjian, semuanya mencekik rakyat Indonesia. Sampai urusan rotan saja diatur. Merebaknya supermarket2 seperti saat ini adalah dampak dari resep IMF itu.

    hmmm… ekonomi lagi…

    Secara umum, yang membunuh ekonomi kita adalah IMF. Hal itu dibenarkan oleh Joseph Stiglitz, pemenang Nobel ekonomi. Kata dia, resep IMF lebih banyak membunuh pasiennya, daripada menyelamatkan.

    oopsss… masih ekonomi

    Ekonomi Soeharto itu sangat berpihak ke sektor riil, pembangunan pertanian, peternakan, perkebunan, koperasi, pedesaan, dll. Itu sangat jelas, bagi yang mau melihat dengan jujur. Hanya gara-gara makar IMF yang didukung antek-anteknya di Indonesia, ekonomi Soeharto hancur-lebur.

    errr… ekonomi terus?

    Jadi, Soeharto itu memiliki banyak kesalahan. Tidak diragukan lagi. Tetapi menyebut dia sebagai penyebab kesengsaraan ekonomi rakyat Indonesia saat ini, itu tidak adil. Soeharto boleh disalahkan untuk hal-hal yang memang dia bersalah. Tetapi untuk yang tidak bersalah, sementara dia sudah berusaha mati-matian berusaha, ya tidak adil menyalahkan dia.

    tetap ekonomi???

    hei, saya bertanya pada banyak aspek, pak. bukan cuma ketidak-tegasan soeharto di seputar masalah ekonomi, yang mana ketidak-tegasan itu – kalo yang anda katakan adalah benar – buat saya adalah kesalahan juga, apapun latar-belakangnya; nyatanya toh, faktanya yang dirasakan, rakyat jadi menderita 😉

    mana jawaban untuk penculikan dan penghilangan orang2 yang vokal pada pemerintahan, eksploitasi dan pemusatan kekayaan alam daerah ke pulau jawa yang membuat rakyat daerah merana, konflik bersenjata di aceh atau timtim, dan kroni2nya yang menggerogoti kekayaan negara?

    dan, errr… itu belum termasuk hak berbicara orang per orang yang dibungkam, lho. belum juga kita ngobrol tentang coup de etat halus yang dilakukannya sampai dengan kontroversi pki dan supersemar.

    tapi setidaknya anda sudah mengakui kalo soeharto bersalah. perkaranya sekarang, kenapa pas masa soeharto, endonesa ini sedikit tertimpa bencana alam?

    ini jadi nggak sesuai dengan kesimpulan anda yang mengatakan kalo pemerintahannya nggak beres, maka akibatnya terjadi banyak bencana alam, seperti poin pertama tulisan anda. dosa soeharto, menurut saya, jauh lebih besar ketimbang dosa pemerintahan sby.

    kalo ternyata kesimpulannya nggak sesuai, bahwa ketidak-beresan pemerintah adalah penyulut terjadinya bencana alam, otomatis ada yang salah dengan premis anda pada poin pertama.

    kekacauan pada premis anda itulah yang akhirnya bikin saya jadi ngakak 😆

    @ Presiden AS
    maaf, saya terpaksa menjilat ludah saya sendiri untuk mencukupkan segalanya pada sampeyan. habisnya gatel, sih :mrgreen:

  46. Musafir Laut berkata:

    @ Musafir Laut.

    Ya, kita lanjutkan diskusi. Tapi saya coba lebih rileks. Komentar Antum akan saya jawab pendek-pendek, dengan bahasa Betawi. Ya, biar tidak tegang melulu. Sesekali santai. Oke…

    @ Musafir: Ya, Ustadz.

    Jawab: Ya, ada ape?

    @ Musafir: Sorry, ana bukan antek SBY, tapi juga bukan antek JK & Golkar. Sejak awal ana berinteksi dengan blog ini, ana tidak memuji-muji SBY seperti tim sukses SBY.

    Jawab: Siape lagi yang bilang situ antek SBY? Kagak ade.

    @ Musafir: Ana mengakui ketulusan Antum memperjuangkan kepentingan nasional dan ummat, tapi ana tidak percaya dengan JK-Win dan Mega-Pro benar-benar berjuang untuk kepentingan nasional dan ummat.

    Jawab: Makasih, makasih, gue jadi GR. He he he…

    @ Musafir: Apakah Antum benar-benar tahu siapa di belakang JK-Win dan Mega-Pro, sehingga Antum yakin dengan kejujuran mereka berjuang pro kepentingan nasional?

    Jawab: Tahu dikit-dikit. Gue bukan Nyak Babe-nye, jadi kagak tahu banyak soal orang-orang ntu. Maapin kalo penilaian gue kagak obyektif.

    @ Musafir: Mengapa hal ini tidak Antum kritisi JK-Win dan Mega-Pro sebagaimana Antum mengkritisi SBY dan bala tentaranya. Sampai-sampai Rizal Mallarangeng, Saiful Mujani dan Arya Bima, Antum bongkar kedok mereka.

    Jawab: Gue punya hak politik kan, Bang. Boleh dong gue pilih sikap politik gue? Lu juga boleh kok kritik anggota tim sukses JK-Win, Mega-Pro. Boleh, boleh,…gak usah ijin gue dulu lagi.

    @ Musafir: Mengapa Prabowo akhirnya “kawin paksa” dengan Mega dan PDI-P padahal beliau tahu mudharat-nya Mega dan PDI-P bagi Ummat dan bangsa?

    Jawab: “Kawin paksa”? Penghulunye siape, Bang? Wah, seru deh kalo bisa liat acara “akad nikah”-nye. Harusnye, Prabowo “kawin cinte murni” ame PKS tuh. Biar romantis, gitu. Tapi mana mau PKS gaul ama orang-orang macam Prabowo gitu? PKS gaulnya ama ustadz-ustadz politik.

    @ Musafir: Mengapa Prabowo tidak menahan diri selama 5 tahun kedepan untuk menjadi tokoh perubahan pro kepentingan nasional, daripada berkoalisi dengan partai dimana kelompok-kelompok anti-syariat Islam begitu dominan di dalamnya?

    Jawab: Waduh, gue gak tahu deh kenape? ‘Kali pingin mewarnai PDIP ‘kali ye… Wah, gue jadi ikut-ikutan jawaban “ngeles” macam lu lu pade.

    @ Musafir: Ana cuma mengajak Antum bersikap yang proporsional. Antum keliru menilai bahwa ana membela SBY dan mengajak Antum berubah pendapat tentang SBY. TIDAK !!! Ana menyayangkan sikap Antum yang pro kepentingan nasional tapi tidak berani mengungkap kelemahan dan keburukan JK-Win dan Mega-Pro. Kritik ana sederhana, bukan?

    Jawab: Ya, ntar kalo gue kritik JK-Win, juga kritik Mega Pro (bukan GL Pro lo ya), ntar kita gak punya kandidat siape-siape, Bang. Jadinye kita golput lagi. Ya, harus disisain gitu, mana kek yang bisa dipilih gitu. Jangan ditabokin semua, ntar gak ada pilihan jadinye. Lagian, gue kan tidak secara khusus pilih JK-Win atau Mega Pro. Itu biar kelihatan masih obyektif gitu.

    @ Musafir: Para cendikiawan pro kepentingan nasional adalah pihak yang berani bersikap kritis menilai semua pasangan capres-cawapres tanpa terkecuali. Kita menguji kesungguhan mereka berjuang untuk kepentingan nasional dari track record mereka selama ini. Bukan cuma berpatokan oleh janji-janji surga dari semua kandidat, yang sama-sama menjual kecap “untuk kepentingan rakyat”.

    Jawab: Sentuju betul itu, eh maksudnye setuju. Tapi gini lah, Bang, gue ikut pandangan Dr. Hendri Saparini saja deh. Kata dia, dari tiga kandidat itu, dua pro kepentingan nasional, satu pro ekonomi liberal. Nah, itu aje gue jadikan “bumper”, eh maksudnya jadi referensi. Kok jadi buka rahasia ye, soal “bumper”?

    Gue ngeliat juga faktor track record itu. Ya, lu bisa lah baca ulang tulisan gue itu. Disitu kan udeh ada pertimbangan-pertimbangannye. Soal JK-Win, ame Mega Pro, sudah sempurna, sudah ideal, sudah tangguh, jujur, tidak jualan kecap: gue kagak percaya. Ya, pastilah die-die punya banyak kelemahan. Tapi kite disini ye, milih yang madhorotnye lebih kecil gitu. Kalau soal kelemahan, kesalahan, mereka tuh master-nye, Bang. Tapi ya adalah sisi-sisi baiknya sebagian kandidat dibandingin kandidat lainnye. Jadi, ini soal timbang maslahat-madharat gitu.

    Bang @ Musafir, maapin ye kalo jawabannye kayak tidak serius. Maksud gue, biar tidak tegang terus gitu. Lagian, sesekali ikut gayanye anak-anak ABG. He he he… Ngomong-ngomong Pak @ Musafir masih ABG atau sudah SKG (Sudah Kelewat Gede)?

    Makasih ya ama masukan-masukannya. Jazakumullah khairan jaza’.

    AMW.

  47. Ardisyam berkata:

    assalamu’aliakum,

    Ustadz Joko, saya tidak memberi komentar apa-apa lagi, soalnya saya banyak setuju dengan pendapat ustadz.

    wassalam

  48. abu naura berkata:

    ………ini baru seorang seorang musafir yang sudah teruji oleh ombang- ambing gelombang laut yang begitu dahsyat..

  49. abu naura berkata:

    ………ini baru seorang musafir yang sudah teruji oleh ombang- ambing gelombang laut yang begitu dahsyat..

  50. abu naura berkata:

    …inilah sang musafir telah kembali mari kita sambut kedatangan nya dengan senyum terindah….

  51. joko susilo berkata:

    ah ustad,,, kacian dech lu

  52. Presiden AS berkata:

    Sistem komentar di sini kok aneh ya, komentar saya mencelat ke atas, saya kira belum masuk, kirim lagi malah double-comment. 😦

    .
    .
    .

    @ Mas Joe
    sampeyan yang lebih kapabel, silaken dilanjutken :mrgreen:

  53. abisyakir berkata:

    @ Presiden AS.

    Maap, Mr. President. Emang sempet ada masalah ketika saya jawab komentar-komentar Anda.

    Ehhem, saya jadi “merasa dikeroyok” disini sama pendukung-pendukung SBY. Tapi tenanglah, kan ada Tuhan, ada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan rakyat Indonesia.

    He he he, kok jadi ikut-ikutan “curhat” di blog ya. Maapin Pak Presiden.

    Soal buku itu. Ia tidak memotret soal kompetisi politik sekarang. Ia lebih bersifat moralis dan realistik. Bukunya moralis, memberi pandangan berbeda dari mainstream. Karena penerbitnya rata-rata “pro pasar”, jadi agak sulit membawa wacana yang berbeda dengan mainstream.

    Demikian juga.

    AMW.

  54. untunglah saya bukan pendukung sby. jadinya nggak ikutan dituduh sebagai salah satu pengeroyok :mrgreen:

  55. abisyakir berkata:

    @ joesatch.

    Mula-mula saya mau tanya: Anda ini laki-laki apa perempuan ya? Di board ada nama satrianto, jelas ini nama laki-laki. Tapi kok fotonya cewek berjilbab hitam ya? Trus di e-mail Anda menulis alamat: myluvliciagarette@… Atau my lovely cigarette. Maaf, Anda pecandu rokok?

    Baik saya tanggapi komentar Anda:

    @ joe: sudah pernah saya bahas, kok 😀

    Jawab: Kan itu sesuai permintaan kamu yang mau tahu soal istilah sekuler? Masak lupa sih?

    @ joe: saya malah ngeliatnya andalah yang terkesan fanatik pada asal-bukan-sby. sebagai bagian dari kefanatikan anda, anda menolak untuk mengkritisi 2 kandidat pasangan capre-cawapres lainnya.

    Jawab: Lho, kan sebelum mengkritik saya sebutkan dasar-dasarnya, bukti-buktinya. Masak yang begitu disebut fanatik? Kalau saya benci membabi-buta, itu baru fanatik. Lagian saya kan tidak secara khusus nyuruh milih salah satu kandidat selain SBY-Boediono.

    @ joe: saking fanatiknya juga, anda tidak menerima dalih apapun jika ada komentator yang berseberangan pendapatnya dengan anda. implementasinya, anda ber-fallacy kepada mereka 😀

    Jawab: Lho, lihat dulu masalahnya dong. Soal waktu shalat Shubuh, soal buku Salafi ekstrem, dan lain-lain, kalau memang ada komentar yang saya anggap benar, ya diterima tho. Lain soal SBY ini. Ini kan sikap politik seseorang yang diakui oleh UU yang berlaku. Masak saya harus menuruti setiap komentar yang berbeda dengan pendirian politik saya? Justru Anda itu, ketika sudah dijawab pertanyaan-pertanyaannya, Anda tidak mau menghargai pandangan orang lain. Anda terus saja menembak saya dengan istilah ad hominem.

    @ joe: itu kesan yang saya tangkap tentang anda berangkat dari diskusi yang terjadi di sini.

    Jawab: Namanya juga manusia, tidak ada yang sempurna. Mengharap manusia sempurna, seperti mengharap seseorang berubah wujud menjadi Malaikat. Itu tidak mungkin. Saya akui, aku nih tidak sempurna. Sama lah seperti anda-anda ini. Tapi saya tidak memakai “foto cewek berjilbab” untuk menutupi diri.

    @joe: masalahnya bukanlah pada “apa artinya ad hominem kepada nama user yang tidak jelas itu?”. ad hominem tetaplah ad hominem. fallacy tetaplah fallacy. tidak peduli kepada siapa anda melakukannya, ketika anda melakukan fallacy, anda tetaplah seorang pelaku fallacy.

    Jawab: Ya, itu menurut teori Anda, hukum Anda, sudut kepentingan Anda. Mau bukti? Apa ada dalil legal dari pernyataan Anda itu? Coba sebutkan rujukan legalnya, misal UU ITE. Ada gak?

    Anda dan kawan-kawan enak, bisa “nembaki” orang sesuka hati. Kami di domain yang riil, dengan nama, identitas, serta foto riil. Sementara Anda berada di doman “hit and run”. Dari sana saja sudah ada sisi ketidak-adilan. Bagaimana kita akan bersikap lembut/santun kepada “para sniper” itu?

    Apakah dalam track record Anda, selalu bersikap adil? Lalu bagaimana dengan kata-kata Anda di komentar paling pertama: “Saya mau ngakak…” Ini bukan ad hominem? Saya justru mulai kesal dengan Anda sejak Anda memakai kalimat “ngakak” itu. Anda suka kalau orang lain “meng-ngakak-kan” diri Anda? Coba jawab secara jujur!

    @ joe: lagian, kalo memang anda mampu untuk tidak ber-fallacy, kenapa pula anda harus ber-fallacy? analoginya, kalo anda bisa mengontrol emosi anda, kenapa pula anda harus mengumbar emosi anda?

    Jawab: Iya, kalau diskusi seperti ini baru kemarin saya mulai. Sudah bertahun-tahun, saya mengalami situasi seperti itu. Maka itu dalam Al Qur’an dikatakan, “Wa laa tujaadilu ahlal kitabi, illa billati hiya ahsan, illal ladzina zhalamu minhum” (dan janganlah membantah Ahlul Kitab, melainkan dengan cara yang terbaik, kecuali terhadap orang-orang yang zhalim di antara mereka). Kira-kira seperti itu dalam Al Ankabuut 46. Artinya, batas debat itu ya dalam konteks yang baik-baik saja. Kalau salah satu pihak sudah tidak adil, ya jangan dilayani secara lembut.

    @ joe: jadi, kalo misalnya sekarang saya beberkan jati diri saya sejujur2nya kepada anda – wallahi – apakah anda juga mau menghentikan justifikasi sepihak anda kepada saya yang sudah anda lakukan sebelumnya? khawatirnya, walaupun saya sudah jujur, anda masih akan tetap ber-fallacy dengan alasan “saya tetap tidak tahu siapa pribadi orang itu”? 😉

    Jawab: Oh ya, saya siap. Sebab orang beriman itu terikat syarat yang dibuatnya sendiri. Ya, kalau saya tahu Anda seperti apa, insya Allah tidak akan kesal. Saya terus terang kesal dengan para “sniper” itu. Mereka “hit and run”, lalu kabur tak karuan rimbanya.

    @ joe: oh, ya? dan saya sebenernya juga tidak mengharapkan jawaban sesimpel jawaban anda.

    Jawab: Anda ini cukup mahir bermain kata-kata. Kalau saya jawab dengan kalimat lain, pasti Anda akan mengejar dengan cara berbeda.

    @ joe: btw, aha, ada fallacy lagi di sini: “Informasi yang saya ketahui, insya Allah tidak se-simple yang Anda ketahui”

    Jawab: Ya, silakan Anda lihat debat di TV deh. Atau debat di board-board internet. Lalu terapkan “kepekaan” Anda yang luar biasa itu disana. Saya meyakini, Anda ini hanya sedang “menguliti” saya sekuat kemampuan.

    @ joe: well, well, well, ad hominem lagi. justifikasi sepihak. dari mana anda yang beralasan “saya tetap tidak tahu siapa pribadi orang itu” bisa tahu sampai di mana kedalaman ilmu saya? 😈

    Jawab: Anda mengatakan, “justifikasi sepihak”. Apa ini bukan ad hominem juga buat saya? Darimana Anda meyakini bahwa saya melakukan justifikasi sepihak seperti yang Anda tuduhkan?

    @ Joe: okelah, tapi kita bisa lanjut lagi. bandingkan saja jawaban simpel anda dengan pertanyaan saya yang kompleks dan menyangkut banyak aspek:

    Jawab: Apakah kalimat “jawaban simpel anda” bukan ad hominem juga? Begitu juga “pertanyaan saya yang kompleks” apakah bukan memuji diri sendiri? [Maaf, saya mulai menikmati cara debat yang Anda ajarkan disini. Oh ho, ternyata manis juga ya….Jangan ketawa ya…].

    @ Joe: oke, masalah ekonomi…
    hmmm… ekonomi lagi…
    oopsss… masih ekonomi
    errr… ekonomi terus?
    tetap ekonomi???

    Jawab: Maaf, anda sudah melakukan fallacy beberapa kali. Mohon dihitung dulu. Nanti bon-nya menyusul.

    @ Joe: hei, saya bertanya pada banyak aspek, pak. bukan cuma ketidak-tegasan soeharto di seputar masalah ekonomi, yang mana ketidak-tegasan itu – kalo yang anda katakan adalah benar – buat saya adalah kesalahan juga, apapun latar-belakangnya; nyatanya toh, faktanya yang dirasakan, rakyat jadi menderita 😉

    Jawab: Wah, Anda ini sudah ad hominem ke Soeharto. Sudah cukup ke saya sajalah, jangan ke orang lain. Apalagi orang sudah meninggal. Ya, memang harusnya Soeharto waktu itu tidak menjadi presiden. Tetapi “polisi fallacy” seharusnya yang menjadi Presiden. Mungkin dia bisa lebih tangguh dari Soeharto. Di bawah kepemimpinan “provost ad hominem”, mungkin rakyat akan adil, makmur, sejahtera, damai, sejahtera, gemah, ripah,…

    @ joe: mana jawaban untuk penculikan dan penghilangan orang2 yang vokal pada pemerintahan, eksploitasi dan pemusatan kekayaan alam daerah ke pulau jawa yang membuat rakyat daerah merana, konflik bersenjata di aceh atau timtim, dan kroni2nya yang menggerogoti kekayaan negara?

    Jawab: Ya, harusnya yang jadi presiden seorang malaikat, biar tidak ada kekurangannya. Semua pemimpin ada kurangnya, Pak. Kalo dirinci satu per satu, hanya Nabi Saw yang selamat dari kesalahan. Anda mau pilih pemimpin merek apapun, pasti ada kurangnya. Coba deh cari satu saja pemimpin yang no mistake! Saya tunggu hasil perburuan Anda ya…

    @ Joe: dan, errr… itu belum termasuk hak berbicara orang per orang yang dibungkam, lho. belum juga kita ngobrol tentang coup de etat halus yang dilakukannya sampai dengan kontroversi pki dan supersemar.

    Jawab: Saya tidak dalam posisi membela Orde Baru lho ya. Ya, kita sama-sama tahulah mereka. Dulu saya sering bentrok dengan orangtua gara-gara sistem Orde Baru. Ini konteksnya bukan kesana. Tapi soal IMF sebagai biang kehancuran ekonomi Indonesia saat ini. Jadi jangan dibawa ke soal PKI, Supersemar, atau apalah, seperti yang dibahas oleh Rizki Ridyasmara di Eramuslim. Itu terlalu jauh kaitan masalahnya.

    @ joe: tapi setidaknya anda sudah mengakui kalo soeharto bersalah. perkaranya sekarang, kenapa pas masa soeharto, endonesa ini sedikit tertimpa bencana alam?

    Jawab: Ya, Soeharto punya banyak salah dan kezhaliman juga. Ini sudah saya bahas di beberapa tulisan. Coba dicek kembali, salah satunya, “Menghargai Jasa Seorang Muslim”. Coba cari tulisan-tulisan saya yang ada kaitannya dengan Soeharto, lalu Anda boleh komentar kemudian.

    @ Joe: ini jadi nggak sesuai dengan kesimpulan anda yang mengatakan kalo pemerintahannya nggak beres, maka akibatnya terjadi banyak bencana alam, seperti poin pertama tulisan anda. dosa soeharto, menurut saya, jauh lebih besar ketimbang dosa pemerintahan sby.

    Jawab: Ya, tidak beresnya pemerintahan itu kan bertingkat-tingkat. Ada yang ringan dan ada yang berat. Menjadi regim pro asing dan mempekerjakan orang IMF/mantan IMF itu kesalahan sangat mendasar. Sikap cuek dengan moral, cuek dengan SEPILIS, aliran sesat, mengecam FPI, membela AKKBB, itu masalah mendasar. Jadi kalo dicari pemerintahan yang “no mistakes”, Anda pasti akan puyeng. Mana ada yang begitu?

    @ joe: kalo ternyata kesimpulannya nggak sesuai, bahwa ketidak-beresan pemerintah adalah penyulut terjadinya bencana alam, otomatis ada yang salah dengan premis anda pada poin pertama.

    Jawab: Ya, tidak sesimple itu. Kan pembanding soal bencana ini bukan hanya Soeharto, tetapi Habibie, Mega, juga Abdurrahman Wahid. Saya itu tidak membuat premis, tetapi memahami “premis” yang ditunjukkan oleh Allah di depan mata kita semua. Maunya sih tidak menuduh SBY begini begini, tetapi apa mau dikata, memang faktanya di jaman dia banyak bencana kok? Tinggal masalahnya, Anda percaya tidak bahwa bencana itu ada kaitannya dengan kesalahan kolektif sebuah bangsa? Kalau saya percaya, sesuai Al A’raaf 96.

    @ Joe: kekacauan pada premis anda itulah yang akhirnya bikin saya jadi ngakak 😆

    Jawab: Nah, ini dia puncak ad hominem Anda. Singkat kata, Anda itu tidak mau dirugikan sedikit pun. Secuil pun marah, kalau dirugikan. Tetapi Anda tidak tahu diri dalam mem-fallacy orang lain. Justru gaya bahasa murni ad hominem ini yang membuat saya kesal dengan Anda. Sok suci, tapi tidak tahu diri. Maaf, saya terpaksa gunakan kata-kata kasar ini. Sebab memang sikap Anda seperti itu.

    @ Joe: Presiden AS. maaf, saya terpaksa menjilat ludah saya sendiri untuk mencukupkan segalanya pada sampeyan. habisnya gatel, sih.

    Jawab: Oh ya, man saya sanggupi tantangan Anda. Blog ini terbuka buat Anda untuk berdiskusi panjang lebar dengan saya. Tidak usah ragu-ragu. Tumpahkan semua “kegatelan” Anda disini. Mari kita sama-sama berdiskusi untuk memahami sebagian ilmu Allah.

    Itu dulu, wahai “mr. police ad hominem”.

    AMW.

  56. ian berkata:

    ngomongin politik emank ngomongin hal yang gak bakal ada habisnya ya 😉

  57. Musafir Laut berkata:

    Tengkiyu berat, Boss, atas tanggapan Lu. Sorry, anak gue udah 3, Boss. Jadi gue bukan ABG lagi.

    Akhirnya, kesimpulan gue dari diskusi panjang ini, Lu memang cuma berani menulis artikel-artikel yang mengkritik SBY-Budiono dan kagak berani mengkritik JK-Win & Mega-Pro. Kritik terhadap JK selama jadi wapres-nya SBY selama 5 tahun terakhir, pun kagak. Kalo begitu sikap Lu, gue maklum 100% dah.

    Insya Allah, gue ambil segala hal yang baik-baik dari Lu, karena Lu khan ustadz? Gue tendang jauh-jauh gaya Lu yang kagak imbang dalam menilai kelebihan dan kekurangan capres.

    Akhirnya, wa iyyakum. Semoga Allah balas amal shaleh Lu dengan pahala yang bejibun.

    Besok lusa gue kembali ke darat. Sebelum nyontreng, gue pasti shalat istikharah. Minta petunjuk dari Allah, kandidat yang terbaik buat gue sekeluarga, buat dakwah dan Ummat.

    Wassalaam … ilal-liqaa’ 🙂

  58. Mula-mula saya mau tanya: Anda ini laki-laki apa perempuan ya? Di board ada nama satrianto, jelas ini nama laki-laki. Tapi kok fotonya cewek berjilbab hitam ya? Trus di e-mail Anda menulis alamat: myluvliciagarette@… Atau my lovely cigarette. Maaf, Anda pecandu rokok?

    kenapa anda nggak masuk ke blog saya aja dan liat halaman “about”nya? di situ ada semua yang anda tanyakan kok 😉

    Kan itu sesuai permintaan kamu yang mau tahu soal istilah sekuler? Masak lupa sih?

    yang saya katakan sebagai “sudah pernah saya bahas” itu adalah bab tentang khilafahnya. maaf kalo anda jadi rancu dalam mengartikan kalimat saya

    Lho, kan sebelum mengkritik saya sebutkan dasar-dasarnya, bukti-buktinya. Masak yang begitu disebut fanatik? Kalau saya benci membabi-buta, itu baru fanatik. Lagian saya kan tidak secara khusus nyuruh milih salah satu kandidat selain SBY-Boediono.

    errr…maksud anda, sudah anda tulis dasar-dasarnya, bukti-buktinya, dengan premis dan kesimpulan yang ngaco seperti pada poin pertama anda?

    mohon diperhatikan lagi, pak, sejak awal saya komen, saya cuma menyoroti poin pertama berikut premis dan kesimpulan anda yang ngaco ditambah fallacy-fallacy anda ketika menanggapi komentar dari komentator lain. that’s it 😀

    Lho, lihat dulu masalahnya dong. Soal waktu shalat Shubuh, soal buku Salafi ekstrem, dan lain-lain, kalau memang ada komentar yang saya anggap benar, ya diterima tho. Lain soal SBY ini. Ini kan sikap politik seseorang yang diakui oleh UU yang berlaku. Masak saya harus menuruti setiap komentar yang berbeda dengan pendirian politik saya? Justru Anda itu, ketika sudah dijawab pertanyaan-pertanyaannya, Anda tidak mau menghargai pandangan orang lain. Anda terus saja menembak saya dengan istilah ad hominem.

    saya nggak sampai sejauh itu. saya cuma – sekali lagi – menyoroti premis dan kesimpulan yang ngaco, serta fallacy-fallacy dari anda.

    anda mau berseberangan dengan komentator lain dalam hal sikap politik, itu memang hak anda. saya nggak membahas anda boleh berseberangan atau tidak. saya cuma bilang, anda berfallacy pada komentator yang kebetulan tidak sependapat dengan anda.

    Namanya juga manusia, tidak ada yang sempurna. Mengharap manusia sempurna, seperti mengharap seseorang berubah wujud menjadi Malaikat. Itu tidak mungkin. Saya akui, aku nih tidak sempurna. Sama lah seperti anda-anda ini. Tapi saya tidak memakai “foto cewek berjilbab” untuk menutupi diri.

    apa hubungannya sebuah gravatar dengan konteks pembahasan kita? ah, another fallacy, i think :mrgreen:

    Ya, itu menurut teori Anda, hukum Anda, sudut kepentingan Anda. Mau bukti? Apa ada dalil legal dari pernyataan Anda itu? Coba sebutkan rujukan legalnya, misal UU ITE. Ada gak?

    anda meminta? allrite, sparky! 😈

    ini.

    dan ini.

    yang saya ajukan itu bersifat keilmuan dan ilmiah, lho 😆

    Anda dan kawan-kawan enak, bisa “nembaki” orang sesuka hati. Kami di domain yang riil, dengan nama, identitas, serta foto riil. Sementara Anda berada di doman “hit and run”. Dari sana saja sudah ada sisi ketidak-adilan. Bagaimana kita akan bersikap lembut/santun kepada “para sniper” itu?

    kesimpulan dini.

    dibanding anda, saya lebih berada di domain yang riil. saya nyewa hosting dan domain pribadi yang pendaftarannya memakai katepe saya. anda bisa whois domain saya lewat gugel dan mendapatkan jati diri komplit saya sesuai yang tercatat di katepe saya dan terdaftar di PublicDomainRegistry.com.

    sedangkan anda? anda memakai domain yang berbasis layanan gratis dari wordpress, kan? nah, siapa yang sekarang bertindak tidak adil? saya atau anda? sapa yang hit and run? saya atau anda? anda relatif tidak dilarang menggunakan id palsu ketika mendaftar di wordpress, lho. tapi saya? saya harus menyerahkan fotokopi katepe saya ketika akan menyewa hosting dan domain via idwebhost.

    tapi…kita pass aja pembahasan tentang masalah domain ini. ini bukan tema sentral apa yang mau saya bahas, sebenarnya :mrgreen:

    Apakah dalam track record Anda, selalu bersikap adil? Lalu bagaimana dengan kata-kata Anda di komentar paling pertama: “Saya mau ngakak…” Ini bukan ad hominem? Saya justru mulai kesal dengan Anda sejak Anda memakai kalimat “ngakak” itu. Anda suka kalau orang lain “meng-ngakak-kan” diri Anda? Coba jawab secara jujur!

    kalo saya salah, kalo saya ngawur, artinya saya memang layak ditertawakan!

    itu, link yang saya kasih di atas sudah dibaca belum? kalo belum, saya kasih arti gampangnya aja supaya anda paham definisi ad hominem:

    argumentum ad hominem adalah fallacy yang seringkali dipakai dalam perdebatan tanpa ujung pangkal. argumen yang dikemukakan sering tidak tepat sasaran pada pesan/argumen yang disampaikan oleh orang lain tetapi justru menuju pada si pemberi pesan/argumen itu sendiri (shoot the messenger, not the message).

    ad hominem sebenarnya banyak bentuknya, tapi saya hanya menyampaikan 2 ciri dari fallacy jenis ini yaitu: abusive dan guilty by association.

    abusive; sering digunakan ketika seseorang tidak menerima suatu argumen tetapi justru mengarahkan argumennya sendiri dengan menyerang si pembuat argumen, misalnya:

    Kau mengatakan bahwa seorang atheis bisa bermoral, maka sekarang aku tahu kalau kau mengabaikan anak dan istrimu.

    Apakah dengan itu kita harus menutup rumah ibadah ? Hitler dan Stalin akan sangat setuju denganmu.

    guilty by association; terjadi ketika kita mengkaitkan argumen yang disampaikan dengan sesuatu hal diluar argumen itu, kemudian menyerang si pembuat argumen, misalnya:

    Kamu berpendapat bahwa diskriminasi positif adalah hal yang baik maka Kamu seorang berkulit putih.

    Kamu mengatakan bahwa kesenjangan antara kaya dan miskin adalah hal yang tidak bisa diterima; orang-orang komunis juga mengatakan demikian, maka kamu seorang komunis.

    oh, ya, supaya tidak melanggar etika blogging, itu saya ambil dari: http://fertobhades.wordpress.com/2007/05/27/argumentum-ad-pusingam/

    silakan dan boleh dibaca kelanjutannya, kok 8)

    maka jawaban saya: saya tidak melakukan ad hominem. saya mengakak’i tulisan anda, kok. saya mengakak’i argumen anda tanpa menyeret2 pribadi anda sebagai bagian dari argumen saya.

    anda kesal? kalo anda kesal ya silakan anda jawab dengan argumen yang lebih bagus, dong. bukan dengan rentetan fallacy yang malah bikin saya makin senyum-senyum aja 😉

    Iya, kalau diskusi seperti ini baru kemarin saya mulai. Sudah bertahun-tahun, saya mengalami situasi seperti itu. Maka itu dalam Al Qur’an dikatakan, “Wa laa tujaadilu ahlal kitabi, illa billati hiya ahsan, illal ladzina zhalamu minhum” (dan janganlah membantah Ahlul Kitab, melainkan dengan cara yang terbaik, kecuali terhadap orang-orang yang zhalim di antara mereka). Kira-kira seperti itu dalam Al Ankabuut 46. Artinya, batas debat itu ya dalam konteks yang baik-baik saja. Kalau salah satu pihak sudah tidak adil, ya jangan dilayani secara lembut.

    jadi karena sudah anda lakukan selama bertahun-tahun maka hal itu anda anggap sebagai hal yang wajar meskipun itu merupakan kesesatan logika?

    wahwahwah, ndak heran kalo masa kejayaan islam waktu jaman dulu, saat ini hanya bisa dijadikan kenangan indah. mutu umatnya masih ada yang modelnya kayak gitu, sih 😆

    dan masalahnya, kapan saya berlaku tidak adil? lantas kenapa saya harus diberondong dengan rentetan fallacy? siapa yang lebih tidak adil sudah saya bahas di atas, lho 😀

    Oh ya, saya siap. Sebab orang beriman itu terikat syarat yang dibuatnya sendiri. Ya, kalau saya tahu Anda seperti apa, insya Allah tidak akan kesal. Saya terus terang kesal dengan para “sniper” itu. Mereka “hit and run”, lalu kabur tak karuan rimbanya.

    dan sejak awal saya berkomentar, saya sudah meninggalkan jejak-balik yang berisi jati diri saya untuk anda temukan sendiri faktanya.

    errr…sayangnya saya toh masih mengalami berbalik dari apa yang anda janjikan bahwa anda siap. sepertinya ada yang bukan cuma tidak adil di sini, tapi juga tidak konsisten 😈

    Anda ini cukup mahir bermain kata-kata. Kalau saya jawab dengan kalimat lain, pasti Anda akan mengejar dengan cara berbeda.

    main tebak-tebakan dan pasti-pastian, nih? 😉

    sayangnya nggak seperti itu. simpel, saya tidak akan mengejar anda kalo premis dan kesimpulan anda nggak ngaco. itu aja, kok.

    Ya, silakan Anda lihat debat di TV deh. Atau debat di board-board internet. Lalu terapkan “kepekaan” Anda yang luar biasa itu disana. Saya meyakini, Anda ini hanya sedang “menguliti” saya sekuat kemampuan.

    sayang sekali keyakinan anda – lagi-lagi – salah. saya cuma mau mengoreksi cara anda berlogika, kok. sudah saya tegaskan di atas, kan, apa yang mau saya bahas?

    kalo logika anda sudah benar, ya sudah, habis perkara. tidak akan ada lagi pertanyaan dari saya. beres, kan? 😀

    Anda mengatakan, “justifikasi sepihak”. Apa ini bukan ad hominem juga buat saya? Darimana Anda meyakini bahwa saya melakukan justifikasi sepihak seperti yang Anda tuduhkan?

    tentu bukan. silakan dibaca lagi definisi tentang apa yang anda tanyakan dari link yang saya ajukan di atas.

    oke?

    sudah?

    nah, sekarang siapa yang di awal diskusi mengatai saya sebagai sekuler dan memiliki pengetahuan yang simpel? apa itu bukan justifikasi sepihak? memang benar, kan, kalo anda melakukan justifikasi sepihak kepada saya tanpa niatan untuk melakukan klarifikasi terlebih dahulu?

    jadi? ad hominemkah yang saya lakukan? ah, jika kita mengacu pada definisi ad hominem di atas, maka jawabannya adalah tidak. oh ya, “ad hominem” dan “melakukan tuduhan” itu tidak sama, lho. jangan sampai salah tafsir, pak 🙂

    saya mengatakan anda melakukan justifikasi sepihak berdasarkan pernyataan ngawur dari anda yang saya terima. di lain pihak, anda mengeluarkan statement ngawur tentang saya sebagai bagian dari argumen anda.

    saya nggak tau apa tujuan anda menyerang pribadi saya seperti itu yang di luar konteks pembicaraan? untuk mengerdilkan posisi sayakah? untuk membuat kesan ke orang lain bahwa orang yang bernuansa negatif seperti saya ini tidak pantas didengar dan selalu salah kalau berbicarakah?

    Apakah kalimat “jawaban simpel anda” bukan ad hominem juga? Begitu juga “pertanyaan saya yang kompleks” apakah bukan memuji diri sendiri? [Maaf, saya mulai menikmati cara debat yang Anda ajarkan disini. Oh ho, ternyata manis juga ya….Jangan ketawa ya…].

    maaf, bisa anda baca lagi definisi dari ad hominem yang sudah saya sertakan di atas? saya yakin anda akan menemukan “bukan” sebagai jawabannya.

    yang saya tulis itu fakta, lho. pertanyaan saya memang kompleks kalo dibandingkan jawaban anda. lihat saja aspek-aspeknya. dan jawaban anda juga terlihat simpel kalo dibandingkan dengan pertanyaan-pertanyaan saya. jadi, pribadi anda yang mana yang saya serang? :mrgreen:

    Maaf, anda sudah melakukan fallacy beberapa kali. Mohon dihitung dulu. Nanti bon-nya menyusul.

    anda yakin statement anda nggak keliru? 😈

    coba dicek lagi deh apa definisi dari fallacy. lha saya kan cuma menanggapi bahasan ekonomi yang pada faktanya memang anda kemukakan dengan kata “ekonomi” juga. nha, salahnya di mana? fallacy di bagian mananya?

    Wah, Anda ini sudah ad hominem ke Soeharto. Sudah cukup ke saya sajalah, jangan ke orang lain. Apalagi orang sudah meninggal. Ya, memang harusnya Soeharto waktu itu tidak menjadi presiden. Tetapi “polisi fallacy” seharusnya yang menjadi Presiden. Mungkin dia bisa lebih tangguh dari Soeharto. Di bawah kepemimpinan “provost ad hominem”, mungkin rakyat akan adil, makmur, sejahtera, damai, sejahtera, gemah, ripah,…

    ini baru yang namanya ad hominem. masuknya kategori abusive; mengarahkan argumennya sendiri dengan menyerang si pembuat argumen. kenapa saya yang harus dibawa-bawa untuk jadi presiden? apa hubungannya pribadi saya dengan bahasan tentang kesalahannya soeharto. ada saya ataupun tidak toh soeharto tetap salah, kan?

    Ya, harusnya yang jadi presiden seorang malaikat, biar tidak ada kekurangannya. Semua pemimpin ada kurangnya, Pak. Kalo dirinci satu per satu, hanya Nabi Saw yang selamat dari kesalahan. Anda mau pilih pemimpin merek apapun, pasti ada kurangnya. Coba deh cari satu saja pemimpin yang no mistake! Saya tunggu hasil perburuan Anda ya…

    nha…kalo kayak gitu, kenapa anda mengeluarkan statement anda seperti pada poin nomer 1 tulisan anda. jawaban anda sekarang sudah menggugurkan kesimpulan awal anda sendiri, lho. besar dosa seorang pemimpin pemerintahan tidaklah bisa diklaim dan dijadikan parameter penyebab banyaknya bencana di negara yang dipimpinnya

    anda tahu swiss? apa sebutannya? negara termakmur di dunia, kan? siapa pemimpinnya? dalam agama yang anda anut, pemimpinnya masuk kategori kafir, nggak? bagaimana mayoritas rakyatnya? kafir juga atau bukan?

    nah, kalo kita mau mendasarkan pada premis yang terdapat di poin pertama anda, harusnya swiss nggak mungkin jadi negara termakmur di dunia, dong? iya, kan?

    Ya, Soeharto punya banyak salah dan kezhaliman juga. Ini sudah saya bahas di beberapa tulisan. Coba dicek kembali, salah satunya, “Menghargai Jasa Seorang Muslim”. Coba cari tulisan-tulisan saya yang ada kaitannya dengan Soeharto, lalu Anda boleh komentar kemudian.

    alhamdulillah anda mau mengakui kalo soeharto banyak kezhaliman.

    jadi, poin pertama tulisan anda di sini itu premis dan kesimpulannya saling bertabrakan, nggak?

    tulisan anda ngaco, nggak?

    Ya, tidak beresnya pemerintahan itu kan bertingkat-tingkat. Ada yang ringan dan ada yang berat. Menjadi regim pro asing dan mempekerjakan orang IMF/mantan IMF itu kesalahan sangat mendasar. Sikap cuek dengan moral, cuek dengan SEPILIS, aliran sesat, mengecam FPI, membela AKKBB, itu masalah mendasar. Jadi kalo dicari pemerintahan yang “no mistakes”, Anda pasti akan puyeng. Mana ada yang begitu?

    akhirnya, menentukan kadar kesalahan itu memang nggak gampang, tho?

    dengan ini argumen anda sendiri di awal tulisan jadi gugur dengan sendirinya, kecuali kalo anda memang nggak puyeng ketika menentukan kadar kesalahan seorang pimpinan. tapi saya nggak yakin tentang hal itu. setahu saya itu wewenang tuhan, dan bukan wewenang anda :mrgreen:

    maka pertanyaannya, menurut anda, siapakah di antara soeharto dan sby yang lebih zhalim kepada rakyatnya dan lebih berdosa?

    Ya, tidak sesimple itu. Kan pembanding soal bencana ini bukan hanya Soeharto, tetapi Habibie, Mega, juga Abdurrahman Wahid. Saya itu tidak membuat premis, tetapi memahami “premis” yang ditunjukkan oleh Allah di depan mata kita semua. Maunya sih tidak menuduh SBY begini begini, tetapi apa mau dikata, memang faktanya di jaman dia banyak bencana kok? Tinggal masalahnya, Anda percaya tidak bahwa bencana itu ada kaitannya dengan kesalahan kolektif sebuah bangsa? Kalau saya percaya, sesuai Al A’raaf 96.

    memangnya kalo ada bencana alam itu pasti gara-gara ketidakbecusan pemimpinnya? 😆

    bagaimana dengan swiss? mereka jauh lebih layak untuk hancur ketimbang endonesa, lho, kalo sampeyan ngotot mengartikan ayat yang anda bawa itu secara tekstual menurut porsi anda sendiri.

    apa contoh yang saya ajukan masih kurang? saya bisa ajukan 10 negara kafir lain yang lebih makmur dari endonesa dan relatif bebas bencana alam selama tahun-tahun terakhir, lho 😛

    lagipula, memangnya penafsiran ayat alqur’an ala sampeyan itu 100% pasti benar? tingkat pemahaman anda terhadap “premis” yang diberikan allah itu apa betul-betul bisa dijamin keakuratannya, tepat sasaran sesuai maksud dari allah sendiri?

    saya nggak mempermasalahkan siapa sang pemberi “premis” dalam alqur’an, lho. saya mempermasalahkan siapa yang mencoba memahami “premis” itu dan tingkatan pemahamannya.

    Nah, ini dia puncak ad hominem Anda. Singkat kata, Anda itu tidak mau dirugikan sedikit pun. Secuil pun marah, kalau dirugikan. Tetapi Anda tidak tahu diri dalam mem-fallacy orang lain. Justru gaya bahasa murni ad hominem ini yang membuat saya kesal dengan Anda. Sok suci, tapi tidak tahu diri. Maaf, saya terpaksa gunakan kata-kata kasar ini. Sebab memang sikap Anda seperti itu.

    hahahaha 😆

    sekali lagi, saya mengakak’i argumen anda lewat argumen saya. saya tidak menyeret-nyeret pribadi anda dalam argumen saya. yang saya serang adalah argumen anda dan bukan pribadi anda. maka di mana letak ad hominemnya? jadi tolong sekali lagi anda baca apa itu definisi dari ad hominem 😀

    Oh ya, man saya sanggupi tantangan Anda. Blog ini terbuka buat Anda untuk berdiskusi panjang lebar dengan saya. Tidak usah ragu-ragu. Tumpahkan semua “kegatelan” Anda disini. Mari kita sama-sama berdiskusi untuk memahami sebagian ilmu Allah.

    Itu dulu, wahai “mr. police ad hominem”.

    dan sayangnya kesanggupan anda itu dilalui lewat berkali-kali kesalahan pemahaman, kan? 😆

    itu dulu, duhai “tuan terdakwa ad hominem” 😈

  59. yaaaahhh…komen saya masuk moderasi

  60. hoh…
    komen saya masih terperangkap moderasi 😛

    nambah aja, deh

    jadi gini, pak, saya bahas satu-satu aja.

    premis 1: pemimpin yang buruk membawa bencana bagi endonesa

    premis 2: sby adalah pemimpin yang buruk

    kesimpulan: sby membawa bencana bagi endonesa

    sejauh ini memang tidak ada masalah dengan kesimpulannya…kalo saja premisnya tepat. masalahnya sekarang, apakah premisnya sudah tepat?

    kalo anda mengaitkan banyaknya bencana di endonesa dengan ayat “Seandainya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa (kepada Allah), benar-benar akan Kami bukakan atas mereka barakah-barakah dari langit dan bumi. Akan tetapi mereka mendustakan (agama Allah), sehingga Kami siksa mereka karena perbuatannya,” tentu otomatis premis anda jadi cacat!

    cacatnya adalah di situ disebutkan allah akan menimpakan azab jika mereka (penduduk suatu negeri) mendustakan agama allah.

    sekarang, siapakah yang disebut sebagai penduduk suatu negeri? apakah cukup dialamatkan kepada sby aja? tidak, menurut saya. penduduk suatu negeri ya menyangkut presidennya dan juga masyarakatnya.

    kalo cuma presidennya yang buruk, apa adil jika suatu azab lantas ditimpakan ke masyarakatnya? orang yang nggak bersalah kok ikut2an menanggung kesalahan orang lain? ayat mana di alqur’an yang mengajarkan tentang dosa waris ataupun dosa bagi-bagi?

    azab, menurut saya, cuma bisa ditimpakan kepada suatu negeri jika presiden dan masyarakatnya sama2 bejat.

    sekarang kalo masyarakatnya sendiri yang bejat dan akhirnya ketimpa azab, tentunya kesalahan itu juga nggak boleh serta-merta dialamatkan ke presidennya, dong. kan yang bejat rakyatnya, bukan presidennya.

    karenanya saya mencacat cara anda berlogika. keburukan pemerintahan seorang presiden tidak bisa dijadikan parameter penyebab terjadinya banyak bencana alam di endonesa. azab baru bisa diterima kalo ya presidennya, ya pemerintahannya, ya rakyatnya sama2 bejat semua. tidak bijaksana menimpakan kesalahan kepada 1 orang aja.

    setau saya tidak pernah ada riwayat dalam islam yang menyebutkan suatu kaum binasa gara2 kebejatan pemimpinnya thok. nggak ada cerita masyarakat suatu negeri yang nggak bersalah ikut2an menanggung azab dari allah akibat kebejatan pemimpinnya. kalo ada, tolong anda tunjukkan, pak. dan saya akan mengakui kesalahan saya serta kebenaran ucapan anda.

    see? 😉

  61. abisyakir berkata:

    @ Joesatch:

    Masya Allah, atas takdir Allah jua. Tadinya komentar Anda ini sudah saya jawab hampir setengahnya. Tetapi lantaran kesalahan ketik/copy satu atau dua huruf, berakibat fatal. Saya kehilangan data-data yang sudah diketik itu. Tapi saya berjanji akan membahas jawaban Anda ini dalam sebuah tulisan tersendiri. Saya ingin perlihatkan sisi-sisi yang tidak tampak secara mudah kalau dibaca sekilas. Tetapi kalau dicermati, akan memperlihatkan jati diri si pembuat pesan itu sendiri.

    Mohon maaf, jawaban Anda sebanyak ini belum saya komentari. Tapi insya Allah akan ditulis secara tersendiri. Nah, itu adalah “kanal” yang saya sediakan untuk mewadahi dialog di antara kita. Meskipun sebenarnya, awalnya adalah soal SBY. Mohon bersabar menunggu!

    AMW.

  62. abisyakir berkata:

    @ Presiden AS:

    ==> “Sepertinya Anda ini juru bicara Allah, hebat bisa tahu hal-hal di luar pengetahuan seperti ini. Tapi oke, takdir. Kenapa Allah sampai harus menakdirkan seorang anak tertimpa musibah, tidak ditakdirkan saja kepada orang yang lebih pantas mendapatkannya?”

    Jawab: Lho, yang jadi “juru bicara” itu kan Nabi, jelas bukan kita-kita. Mereka yang menyampaikan risalah Allah. Soal takdir itu memang benar adanya. Putra Nabi, Qasim dan Ibrahim, mereka meninggal ketika kecil. Padahal kalau ditanya, “Apa sih dosa mereka?”

    Lho, kematian itu kan sebagai musibah yang menimpa siapa saja, tak kenal umur. Ada yang usia 100 tahun belum meninggal, ada yang masih di kandungan sudah gugur. Ini jelas takdir.

    ==> “Jadi pilihan tegas Anda yang mana, yang “tidak selalu karena dosa” atau “karena dosa”? Anda bilang kepemimpinan SBY bermasalah, sehingga itu sebabnya Allah menurunkan beragam musibah di Tanah Air. Kenapa Anda tidak berasumsi kalau semua ini adalah “ujian”? Sejauh pemahaman saya, manusia tak ada yang bisa tahu skenario dan pikiran Tuhan, Bung. Apakah bencana yang datang bertubi-tubi adalah sebentuk kemurkaan Allah ataukah bukan, hanya Allah yang tahu.”

    Jawab: Ya, kan ada parameternya. Masak dalam 5 tahun masa regim SBY, kita terjadi musibah-musibah mengerikan, secara beruntun. Rata-rata musibahnya “pemecah rekor”. Padahal di masa Soeharto, Habibie, Wahid, Megawati, tidak seperti itu kok. Kan ada parameternya.

    Andai akhirnya, saya simpulkan: SBY sebagai pemimpin pengundang bencana. Apa salah saya? Apa saya salah? Toh, sebagai manusia, warga negara ini, saya berhak dong membuat kesimpulan atas suatu masalah. Kalau para pendukung SBY punya kesimpulan, “Itu semua karena ujian untuk kita semua.” Itu silakan saja. Toh, saya tidak menyerang pendapat mereka. Akhirnya, saya tetap berada di atas pendapat saja.

    ==> “Yang saya sayangkan dari presuposisi Anda adalah pelimpahan kesalahan hanya kepada satu orang pemimpin. Coba Anda posisikan, misal Anda presiden, lalu terjadi kebakaran di daerah saya misalnya, kemudian saya mengutuk, “ini pasti karena negeri ini dipimpin oleh orang macam anda, anda pasti nggak beres”, apa anda akan berlapang dada menerima pernyataan itu?”

    Jawab: Bencana alam itu memiliki pola berbeda. Ia menjadi instrumen yang sering dipakai oleh Allah untuk mengadzab atau memperingatkan hamba-hamba-Nya. Coba baca Surat Al An’aam, Al A’raaf, Huud. Disana akan tergambar jelas, bahwa bencana alam ada hubungannya dengan amal-amal manusia. Ini kalau kita percaya dengan tadzkirah dari Al Qur’an.

    Misalnya ya, saya menjadi presiden RI. Ini hanya misal saja. Lalu belum lama menjadi presiden, langsung terjadi bencana mengerikan di negeri ini, misal seperti Tsunami di Aceh beberapa waktu lalu.

    Demi Allah, jika terjadi demikian. Saya akan meminta mundur dari jabatan, dan memilih bertaubat sampai saat datangnya ajal. Saya akan meletakkan jabatan, dan takut akan murka Allah.

    Mungkin saja, bencana itu datang bukan karena dosa saya sebagai pemimpin. Tetapi teguran Allah yang keras atas negeri yang saya pimpin, andai demikian, sudah cukup untuk menjadi peringatan, bahwa ada yang salah dengan diri saya. Sebaiknya saya mundur, dan banyak-banyak istighfar.

    ==> “Untuk Amerika, ya ya ya, saya tahu, Amerika memang selalu menghadapi bencana tahunan, tapi kalau melihat kapasitas kejahatan yang dilakukan orang per orangnya di sana, kenapa Allah tidak langsung saja menghancurkan Amerika sampai tak bersisa, toh di sana semuanya lengkap, mulai dari homoseks, lesbianisme, penyiksaan, diskriminasi, terorisme, dan lain sebagainya. Hmm? Ngapain pula sampai harus menunggu waktu kehancurannya? Gimana Allah dalam pandangan sampeyan yang sebenarnya ini?”

    Jawab: Ya kehidupan ini kan ujian, agar Allah melihat siapa yang lebih baik amalnya. Kalau setiap dosa manusia langsung “disikat” oleh Allah, ya apa gunanya Dia menciptakan dunia ini sebagai ujian?

    Perlakuan terhadap orang-orang kafir memang berbeda. Di jaman Nabi-nabi dulu, ketika mereka telah klimaks durhaka, mereka diadzab dengan hujan batu, banjir, gempa bumi, suara keras, kilat, dll.

    Namun setelah Islam datang. Perlakuan kepada mereka berbeda. Tidak setiap orang kafir yang berdosa, seketika ditimpakan bencana. Disini ada dua kewajiban besar kaum Muslimin: Pertama, mendakwahi orang kafir agar mereka kembali ke jalan islam; Kedua, memerangi orang kafir yang tidak mau kembali ke jalan Islam. Jadi, “bencana” bagi orang kafir itu muncul dari tanggung-jawab ummat Islam untuk mengislamkan bumi dengan Tauhid. Namun ketika dakwah Islam tidak mampu berbuat apa-apa, orang-orang kafir itu tetap mendapat bencana juga.

    Tentang asbabun nuzul surat Al A’raaf, maaf belum bisa saya sampaikan saat ini. Tidak setiap ayat Al Qur’an itu ada (terkodifikasi) asbabun nuzulnya. Lagi pula, kaidahnya kan “pelajaran itu dilihat lafadz umumnya, bukan sebab khususnya.” Kalau tidak percaya, baca beberapa ayat setelah Al A’raaf ayat 96 itu. Disana akan memberi pelajaran lebih baik.

    ==> “Anda terlalu cepat memvonis. Saya sendiri kalau copy cara anda, saya bisa saja menyebut orang-orang yang main label sekuler, atheis dll sebagai orang yang tidak menggunakan akalnya. Ada banyak variabel, ya Abu, yang menyebabkan suatu bencana terjadi, dan ini tak perlu melihat kondisi apakah penduduk di situ bergelimang dosa ataukah tidak.”

    Jawab: Ini memang menjadi pelajaran berharga bagi Ummat ini. Banyak orang yang sudah tidak lagi percaya bahwa bencana itu ada hubungannya dengan dosa-dosa manusia. Padahal banyak sekali ayat-ayat Al Qur’an yang menjelaskan hal itu. Mungkin karena kita kurang mau membaca Al Qur’an kali ya.

    Cukuplah contoh hancurnya peradaban-peradaban masa lalu seperti kaum Tsamud, Aad, Madyan, Sodom, Saba’, Pompei, Atlantis, Inca, dll. itu sebagai pelajaran. Bahkan tenggelamnya peradaban Majapahit seperti ditelan bumi itu, juga bisa jadi pelajaran.

    Jadi sangat disayangkan, kalau ada Muslim yang tidak percaya hubungan antara bencana alam dengan dosa manusia. Sangat disayangkan sekali.

    AMW.

  63. abisyakir berkata:

    @ Presiden AS

    Kalau pemimpinnya lebih shalih, lebih takwa, lebih baik di hadapan Allah. Tidak mengkhianati Ummat, yakinlah insya Allah negara akan lebih baik. Itu pemahaman yang diajarkan Kitabullah dan Sunnah.

    AMW.

  64. abisyakir berkata:

    @ joesatch:

    Nada komentar anda ini penuh dengan penghinaan. Ya, itu hak Anda bersikap. Insya Allah akan saya sediakan “kanal” tersendiri untuk debat antara saya dengan Anda. Untuk komentar Anda yang panjang itu, saya akan tulis dalam tulisan tersendiri. Itu kanalnya.

    Demi Allah, kita tidak boleh lemah menghadapi orang-orang arogan.

    AMW.

  65. abisyakir berkata:

    @ Joesatch:

    ==> “cacatnya adalah di situ disebutkan allah akan menimpakan azab jika mereka (penduduk suatu negeri) mendustakan agama allah.sekarang, siapakah yang disebut sebagai penduduk suatu negeri? apakah cukup dialamatkan kepada sby aja? tidak, menurut saya. penduduk suatu negeri ya menyangkut presidennya dan juga masyarakatnya.”

    Jawab: Lho, pertanyaannya: Siapa yang memilih SBY sebagai pemimpin? Apa dia bisa njumbul begitu saja tanpa dipilih oleh mayoritas rakyat? Iya benar, penduduk suatu negeri meliputi pemimpin dan rakyatnya. Dan ketika rakyat memilih pemimpin yang salah, mereka pun dihukum dengan banyak bencana.

    Kalau orang Muslim, kalau salah memang cepat diingatkan dengan berbagai musibah. Kalau orang kafir salah, tidak seketika diingatkan, tetapi ditunggu sampai dosa-dosanya melampaui batas.

    Musibah bagi Muslim bersifat kaffarat (menggugur dosa); bagi orang kafir, berbagai kenikmatan yang mereka dapat bersifat istidraj (pemberian agar mereka semakin melampaui batas, sebelum dihancurkan sehancur-hancurnya).

    ==> “kalo cuma presidennya yang buruk, apa adil jika suatu azab lantas ditimpakan ke masyarakatnya? orang yang nggak bersalah kok ikut2an menanggung kesalahan orang lain? ayat mana di alqur’an yang mengajarkan tentang dosa waris ataupun dosa bagi-bagi?

    azab, menurut saya, cuma bisa ditimpakan kepada suatu negeri jika presiden dan masyarakatnya sama2 bejat.”

    Jawab: Lho, yang memilih pemimpin itu siapa? Yang mengangkat siapa? Yang menyetujui, meridhai, mendukung siapa? Jelas yang mendukung dia adalah rakyatnya kan.

    Seperti Fir’aun di Mesir. Mengapa bukan hanya Fir’aun saja yang tertimba bencana-bencana di Mesir ketika itu?

    Pemimpin itu dalam istilah sering disebut Ra’is (kepala). Ia ibarat kepala. Kalau kepalanya rusak, otomatis seluruh badan akan rusak juga.

    Soal dosa warisan, lho siapa yang bilang dosa warisan? Ini kan dosa yang terjadi pada kurun yang sama, dilakukan rakyat dan pemimpin pada waktu yang sama. Masak disebut warisan? Anda mengerti istilah waris-mewarisi?

    ==> “sekarang kalo masyarakatnya sendiri yang bejat dan akhirnya ketimpa azab, tentunya kesalahan itu juga nggak boleh serta-merta dialamatkan ke presidennya, dong. kan yang bejat rakyatnya, bukan presidennya.”

    Jawab: Lalu kalau Anda orang berakal, bisakah Anda pahami bahwa pemimpin tidak ada hubungannya dengan rakyatnya? Jadi pemimpin jalan sendiri, rakyat jalan sendiri. Begitu kah.

    Kalau rakyat bejat, tetapi pemimpin baik, dia akan mengarahkan rakyatnya menjadi baik. Kalau rakyat baik, tetapi pemimpin bejat, dia akan menzhalimi hak-hak rakyatnya. Kalau mereka sama-sama bejat, maka datangnya adzab tinggal menunggu waktu saja.

    ==> “karenanya saya mencacat cara anda berlogika. keburukan pemerintahan seorang presiden tidak bisa dijadikan parameter penyebab terjadinya banyak bencana alam di endonesa. azab baru bisa diterima kalo ya presidennya, ya pemerintahannya, ya rakyatnya sama2 bejat semua. tidak bijaksana menimpakan kesalahan kepada 1 orang aja.”

    Jawab: Lho, itu bisa. Caranya dengan membandingkan dengan pemimpin-pemimpin sebelumnya. Itu satu caranya.

    Kalau seorang pemimpin terpilih, lalu rakyat meridhainya, lalu terjadi banyak bencana. Ya, itu kesalahan kolektif. Salah pemimpin yang dipilih, dan salah rakyat yang memilihnya.

    Terus terang saya simpel saja. Saya bandingkan SBY dengan presiden-presiden sebelumnya. Itu saja, mulanya.

    Demi Allah, kalau saya di posisi SBY, lalu terjadi bencana Tsunami di Aceh. Saya akan mundur dari jabatan presiden, setelah membereskan dampak bencana Tsunami itu. Saya malu kepada Allah, sebab “ketempatan” bencana alam di negeri yang saya pimpin. Biarpun orang menyuruh saya berlama-lama sampai masa bakti habis, saya tidak peduli.

    Sebab, kalau Allah sudah menakdirkan suatu bencana terjadi di suatu tempat, pasti hal itu karena telah Dia pertimbangkan dengan segala macam konsiderannya. Bisa jadi, terpilihnya saya, ini hanya misal saja, merupakan salah satu konsideran di balik jatuhnya bencana itu.

    Tapi kalau di negeri ini kan pemimpinnya “muka tembok”, atau “muka badak”. Meskipun sudah jelas-jelas menyengsarakan rakyat, masih saja: “Lanjutkan!”

    ==> “setau saya tidak pernah ada riwayat dalam islam yang menyebutkan suatu kaum binasa gara2 kebejatan pemimpinnya thok. nggak ada cerita masyarakat suatu negeri yang nggak bersalah ikut2an menanggung azab dari allah akibat kebejatan pemimpinnya. kalo ada, tolong anda tunjukkan, pak. dan saya akan mengakui kesalahan saya serta kebenaran ucapan anda.”

    Jawab: Benar kata Anda, yang menjadi penyebab itu bukan hanya pemimpin doang. Tetapi rakyatnya juga. Tetapi siapa yang memilih pemimpin itu? Apa dia bisa njumbul sendiri, tanpa tangan rakyatnya?

    Kalaupun ada riwayat itu tentang pemimpin wanita. Ketika orang Persia mengangkat raja wanita, Nabi mengatakan, “Tidak akan beruntung suatu kaum yang pemimpinnya wanita.”

    Tetapi secara fakta memang ada. Yaitu saat bangsa Turki memilih Kemal At Taturk sebagai pemimpin. Maka sejak itu Turki tidak pernah jaya lagi. Malah sampai saat ini mereka terus “ngemis” minta gabung dengan Eropa. Padahal dulu di jaman Islam mereka sangat disegani Eropa.

    Oh ya, satu lagi yang perlu anda renungkan tentang Fir’aun di Mesir. Ini jelas-jelas disebutkan dalam Al Qur’an. Kezhaliman Fir’aun membuatnya ditenggelamkan di laut merah bersama bala tentaranya, bukan hanya Fir’aun sendiri. Fir’aun juga menjadi penyebab datangnya banyak bencana bagi rakyat Mesir, seperti wabah belalang, katak yang banyak, air menjadi darah, dll.

    AMW.

  66. seseorang tidak berhak untuk dihukum atas ketidak-tahuannya, kan?

    dus, berdosa atau tidak si sby ini, itu sendiri masih bisa diperdebatkan dengan sangat panjang, kecuali kalo memang statement anda 100% benar. tetapi – lagi-lagi – benar atau tidaknya statement anda, hal itu sendiri masih patut dipertanyakan, kan?

    yeah, alasannya seperti komen saya yang menyertakan banyak link terkait di atas sebelumnya. lagipula anda juga berkali-kali berkata “bisa jadi”, yang menunjukkan ketidak-pastian dan ketidak-yakinan terhadap pernyataan anda sendiri.

    suatu hal yang masih ngambang seharusnya tidak boleh dijadikan pondasi untuk menjatuhkan sebuah vonis. padahal, tanpa poin pertama anda tersebut, sepertinya saya bisa menerima argumen-argumen anda berikutnya 😉

    and then, saya tunggu tulisan anda. dan saya berharap tidak ada hal yang pernah dibahas oleh madsen pirie di bukunya – yang berjudul “how to win every argument: the use and abuse of logic” – pada tulisan anda berikutnya.

  67. Lho, pertanyaannya: Siapa yang memilih SBY sebagai pemimpin? Apa dia bisa njumbul begitu saja tanpa dipilih oleh mayoritas rakyat? Iya benar, penduduk suatu negeri meliputi pemimpin dan rakyatnya. Dan ketika rakyat memilih pemimpin yang salah, mereka pun dihukum dengan banyak bencana.

    ini yang saya sebut sebagai ketidak-tahuan. orang tidak berhak dihukum atas ketidak-tahuannya, kan?

    Kalau orang Muslim, kalau salah memang cepat diingatkan dengan berbagai musibah. Kalau orang kafir salah, tidak seketika diingatkan, tetapi ditunggu sampai dosa-dosanya melampaui batas.

    Musibah bagi Muslim bersifat kaffarat (menggugur dosa); bagi orang kafir, berbagai kenikmatan yang mereka dapat bersifat istidraj (pemberian agar mereka semakin melampaui batas, sebelum dihancurkan sehancur-hancurnya).

    betul. tapi bagaimana kalo itu sifatnya adalah ujian, dan bukan azab?

    Lho, yang memilih pemimpin itu siapa? Yang mengangkat siapa? Yang menyetujui, meridhai, mendukung siapa? Jelas yang mendukung dia adalah rakyatnya kan.

    Seperti Fir’aun di Mesir. Mengapa bukan hanya Fir’aun saja yang tertimba bencana-bencana di Mesir ketika itu?

    Pemimpin itu dalam istilah sering disebut Ra’is (kepala). Ia ibarat kepala. Kalau kepalanya rusak, otomatis seluruh badan akan rusak juga.

    yang tertimpa memang bukan cuma firaun, kok. tapi mereka yang tetap mendukung kesalahan firaun.

    bedanya, allah ketika itu langsung mengirimkan utusannya untuk memperjelas keadaan siapa yang benar dan siapa yang salah. nah, konteks kita ada pada jaman sekarang, bukan jaman firaun, pak.

    musa, setiap kata2nya adalah benar, karena dia langsung mendapat petunjuk dari allah. sedangkan di era kita sekarang, siapa yang bisa menjamin bahwa kata2nya adalah 100% kepanjangan dari kata2 allah? ketika anda mengatakan sby bersalah tentu kadarnya tidak sama ketika musa mengatakan bahwa firaun bersalah.

    musa sendiri membuktikan di depan firaun bahwa dia adalah pesuruh allah lewat mukjizat2nya. mereka yang mendukung firaun pun sudah melihatnya tetapi sayangnya tetap ngeyel. sedangkan sekarang, siapa yang bisa membuktikan kalo kata2nya adalah kepanjangan dari kata2 allah? anda yakin penafsiran anda 100% benar dengan beberapa ke”bisa-jadi”an anda?

    ini masih bisa diperdebatkan dengan panjang dan masih sangat absurd.

    Pemimpin itu dalam istilah sering disebut Ra’is (kepala). Ia ibarat kepala. Kalau kepalanya rusak, otomatis seluruh badan akan rusak juga.

    tidak bisa serta-merta seperti itu. tidak pernah liat pemimpin-pemimpin yang diktator dan menindas rakyatnya sendiri? dalam hal ini yang salah cuma pemimpinnya. rakyatnya bahkan ikut-ikutan jadi korban kediktatoran pemimpinnya. jadi, pemimpin rusak belum tentu rakyatnya juga rusak. bisa jadi rakyat adalah korban dari kerusakan sang pemimpin.

    Soal dosa warisan, lho siapa yang bilang dosa warisan? Ini kan dosa yang terjadi pada kurun yang sama, dilakukan rakyat dan pemimpin pada waktu yang sama. Masak disebut warisan? Anda mengerti istilah waris-mewarisi?

    saya juga nulis tentang dosa bagi-bagi. ya yang saya maksud adalah sifatnya sama seperti dosa waris; orang lain yang berdosa, kita ikut menanggung getahnya.

    ya kayak yang saya bilang, sekalipun misalnya sby yang bersalah, kenapa rakyatnya harus ikut2an dihukum? bagaimana kalo rakyat itu cuma korban dari kerusakan presidennya, dan bukan sama-sama pelaku kerusakan? apa itu bukan dosa bagi-bagi?

    Lalu kalau Anda orang berakal, bisakah Anda pahami bahwa pemimpin tidak ada hubungannya dengan rakyatnya? Jadi pemimpin jalan sendiri, rakyat jalan sendiri. Begitu kah.

    sekali lagi, bagaimana kalo rakyat cuma berstatus sebagai korban? seperti halnya orang-orang israel yang ditindas firaun dan kemudian dibebaskan oleh musa? terus juga, bagaimana rakyat ketika mereka memilih pemimpinnya bisa tahu apakah pemimpinnya bakal berdosa atau tidak? sepertinya kok ya anda ini menolak kemungkinan-kemungkinan kompleks lainnya macam ini?

    Kalau rakyat bejat, tetapi pemimpin baik, dia akan mengarahkan rakyatnya menjadi baik. Kalau rakyat baik, tetapi pemimpin bejat, dia akan menzhalimi hak-hak rakyatnya. Kalau mereka sama-sama bejat, maka datangnya adzab tinggal menunggu waktu saja.

    nah, bagaimana rakyatnya tahu kalo pemimpin bejat sebelum mereka sendiri merasakan kebejatan pemimpinnya? bagaimana mereka bisa merasakan kalo si pemimpin bejat tidak terpilih untuk memimpin terlebih dahulu? dan bagaimana kalo akhirnya mereka sendiri tertindas dan tidak mampu melawan pemimpinnya?

    dan lagi-lagi balik lagi, bejat atau tidak, bencana itu azab atau ujian, siapa yang bisa tahu kepastiannya? kalo cuma mengotak-atik-gathukkan seperti yang anda lakukan, semua orang, sih, juga bisa.

    Lho, itu bisa. Caranya dengan membandingkan dengan pemimpin-pemimpin sebelumnya. Itu satu caranya.

    Kalau seorang pemimpin terpilih, lalu rakyat meridhainya, lalu terjadi banyak bencana. Ya, itu kesalahan kolektif. Salah pemimpin yang dipilih, dan salah rakyat yang memilihnya.

    Terus terang saya simpel saja. Saya bandingkan SBY dengan presiden-presiden sebelumnya. Itu saja, mulanya.

    ooo…jadi anda beranggapan dosa sby lebih besar dari dosa – misalnya – soeharto?

    oke, saya berpendapat dosa soeharto tetap lebih besar. dan saya memang bisa salah. tapi apa anda sendiri nggak mungkin salah?

    belum lagi perkara tentang swiss, lho…

    Demi Allah, kalau saya di posisi SBY, lalu terjadi bencana Tsunami di Aceh. Saya akan mundur dari jabatan presiden, setelah membereskan dampak bencana Tsunami itu. Saya malu kepada Allah, sebab “ketempatan” bencana alam di negeri yang saya pimpin. Biarpun orang menyuruh saya berlama-lama sampai masa bakti habis, saya tidak peduli.

    masalahnya adalah apa anda bisa menafsirkan dengan tepat, tsunami itu adalah azab atau ujian bagi kepemimpinan anda?

    okelah seandainya itu memang azab, rakyat aceh toh tidak tahu apa2 kalo mereka sudah memilih pemimpin yang salah sampai dengan mereka tertimpa bencana tsunami. nah, apa itu adil? apa adil ketika seseorang belum tahu apa kesalahannya tapi sudah menerima hukumannya terlebih dahulu? apa allah pernah menjanjikan azab yang macam begitu? apa allah pernah menyabdakannya dalam alqur’an? allah cuma menjanjikan azab buat mereka yang nyata2 mendustakan agama allah, kan?

    pendukung firaun nyata2 sudah menyaksikan kebenaran dari musa, dan mereka mengingkarinya. rakyat aceh? mereka belum sempat diperingati (kalo mereka sudah memilih pemimpin yang salah), mereka belum sempat menyaksikan kebenaran (kalo mereka sudah memilih pemimpin yang salah juga), mereka belum tahu kesalahan mereka (lagi-lagi kalo mereka sudah memilih pemimpin yang salah), lalu tau2 langsung ketimpa azab. gitu? kalo gitu, bagi rakyat aceh, mana 2nd chance untuk memperbaiki diri yang dijanjikan sama allah sendiri?

    Sebab, kalau Allah sudah menakdirkan suatu bencana terjadi di suatu tempat, pasti hal itu karena telah Dia pertimbangkan dengan segala macam konsiderannya. Bisa jadi, terpilihnya saya, ini hanya misal saja, merupakan salah satu konsideran di balik jatuhnya bencana itu.

    Tapi kalau di negeri ini kan pemimpinnya “muka tembok”, atau “muka badak”. Meskipun sudah jelas-jelas menyengsarakan rakyat, masih saja: “Lanjutkan!”

    betul. tapi itu jika dan hanya jika si pemimpin dijamin sama allah 100% bersalah. sedangkan “bisa jadi” bukannya menunjukkan sebuah ketidak-pastian? ingat, tidak ada azab yang datang tanpa peringatan. argumen anda tentang dosa sby, kesalahan rakyat aceh, dan tsunami aceh otomatis gugur.

    Benar kata Anda, yang menjadi penyebab itu bukan hanya pemimpin doang. Tetapi rakyatnya juga. Tetapi siapa yang memilih pemimpin itu? Apa dia bisa njumbul sendiri, tanpa tangan rakyatnya?

    balik ke masalah salah-peringatan-ngeyel-azab. nggak adil kalo flowchartnya langsung salah-azab tanpa peringatan dan tanpa 2nd chance untuk memperbaiki diri dulu.

    jadi?

    bagaimana dengan argumen anda?

    tepat atau kurang tepat?

    Kalaupun ada riwayat itu tentang pemimpin wanita. Ketika orang Persia mengangkat raja wanita, Nabi mengatakan, “Tidak akan beruntung suatu kaum yang pemimpinnya wanita.”

    riwayat yang ini pun masih ramai diperdebatkan penafsirannya, lho. dan masih banyak ulama yang saling silang pendapat untuk perkara ini. dan lagi-lagi, siapa ulama yang penafsirannya 100% benar, itu semua baru bisa diketahui besok pas di akhirat, kan?

    ada yang berani mengklaim kalo kebenaran cuma milik dirinya sendiri? 😉

    Tetapi secara fakta memang ada. Yaitu saat bangsa Turki memilih Kemal At Taturk sebagai pemimpin. Maka sejak itu Turki tidak pernah jaya lagi. Malah sampai saat ini mereka terus “ngemis” minta gabung dengan Eropa. Padahal dulu di jaman Islam mereka sangat disegani Eropa.

    Oh ya, satu lagi yang perlu anda renungkan tentang Fir’aun di Mesir. Ini jelas-jelas disebutkan dalam Al Qur’an. Kezhaliman Fir’aun membuatnya ditenggelamkan di laut merah bersama bala tentaranya, bukan hanya Fir’aun sendiri. Fir’aun juga menjadi penyebab datangnya banyak bencana bagi rakyat Mesir, seperti wabah belalang, katak yang banyak, air menjadi darah, dll.

    tidak relevan.

    saya sudah menjabarkan argumen saya perihal ini di atas. dan saya masih belum mendapatkan jawaban kalo ada suatu kaum yang tidak bersalah tapi ikut2an menerima azab sebagai bayaran dosa yang diperbuat pemimpinnya. silakan lihat kembali logika saya tentang tsunami aceh

    eh ya, bahasan kita jadi melebar gini, kan? well, ternyata masalah sby sendiri berdosa atau tidak, rakyat ikut berdosa atau tidak pun masih bisa dibahas dengan sangat panjang, kan? karena itu saya bilang: poin pertama tulisan anda di atas adalah sebuah kesimpulan yang terburu2. nggak bisa sesimpel itu. ada banyak parameter yang harus dikaji dan diambil

  68. Masya Allah, atas takdir Allah jua. Tadinya komentar Anda ini sudah saya jawab hampir setengahnya. Tetapi lantaran kesalahan ketik/copy satu atau dua huruf, berakibat fatal. Saya kehilangan data-data yang sudah diketik itu.

    jangan2, bisa jadi allah tidak ridho dengan tulisan anda, kan? :mrgreen:

  69. ah, penghinaan di bagian mananya?

    kalopun ada, yang langsung mengarah ke anda secara personal, itu tidak akan saya lakukan duluan kalo saya tidak didahului. kalo saya ditampar, saya boleh balas nampar, kan? ada keharusan kalo saya ditampar pipi kirinya maka saya harus diam saja dan lebih baik lagi kalo saya membiarkan pipi kanan saya untuk ditampar juga?

    sekarang, siapa yang lebih dahulu mengatai saya sebagai sekuler yang butuh cepat-cepat bertobat? kesannya seperti saya ini memang berdosa lebih banyak ketimbang anda. anda sendirilah yang duluan menganggap derajat saya lebih rendah ketimbang anda, tho?

    dan lagi, perkaranya, di bagian mana saya mengeluarkan hinaan untuk anda?

    Demi Allah, kita tidak boleh lemah menghadapi orang-orang arogan.

    betul. saya akan segera mengaplikasikan nasehat anda yang ini. saya harus lebih kuat. jadi kalo nanti anda menghina saya lagi, saya bakal coba membalas dengan 1000 kali lebih hebat 😆

  70. abisyakir berkata:

    @ Joesatch:

    (Ini masih menjawab komen-komen “terpanjang” Anda itu. Insya Allah, apa yang Anda tulis disini tidak dibiarkan. Hanya soal waktu dan kesempatan saja. Sebab secara keseharian cukup banyak beban amanah yang memang harus dikerjakan. Yakinlah, tidak ada istilah lemah menghadapi “yang legendaris”).

    @ Joesatch “yang legendaris”:

    Tadinya, saya mau tulis komen anda ini dalam tulisan tersendiri. Namun tidak jadi, sebab substansinya terlalu spesifik. Terus terang saya sangat tertantang dengan komen-komen anda, sebab saya melihat nuansa arogansi yang luar biasa. Dan jangan khawatir, komen-komen yang sekalipun offensive ke saya, kalau masih patut, tidak akan dihapus. Oh ya, ini adalah komen kesekian kalinya, setelah berkali-kali saya gagal meng-up load jawaban saya ke Anda.
    Berikut jawaban saya atas komen-komen Anda:

    =================================
    Mula-mula saya mau tanya: Anda ini laki-laki apa perempuan ya? Di board ada nama satrianto, jelas ini nama laki-laki. Tapi kok fotonya cewek berjilbab hitam ya? Trus di e-mail Anda menulis alamat: myluvliciagarette@… Atau my lovely cigarette. Maaf, Anda pecandu rokok?
    Anda: “kenapa anda nggak masuk ke blog saya aja dan liat halaman “about”nya? di situ ada semua yang anda tanyakan kok.”
    Jawab: Saya tidak selalu periksa setiap data para komentator. Di situs itu jelas anda seorang laki-laki. Tapi saya hanya mendapat sedikit data di situs anda. Jadi apa-apa yang saya tanyakan belum semua terjawab. Tapi yakin, anda laki-laki. Soal foto jilbab yang anda pakai, bagi saya itu sebuah cela. Mengapa pakai foto wanita, padahal anda punya foto sendiri. Paling tidak pakailah foto netral, missal benda-benda, alat, senjata, atau apalah. Hal seperti ini sungguh tidak terpuji dilakukan seorang laki-laki.
    ============================

    Kan itu sesuai permintaan kamu yang mau tahu soal istilah sekuler? Masak lupa sih?
    Anda: “yang saya katakan sebagai “sudah pernah saya bahas” itu adalah bab tentang khilafahnya. maaf kalo anda jadi rancu dalam mengartikan kalimat saya”
    Jawab: Ini juga kalimat munafik. Anda meminta maaf, tetapi lalu menuduh orang lain rancu dalam memahami. Seolah yang bisa paham dengan baik, hanya Anda saja.

    =============================

    Lho, kan sebelum mengkritik saya sebutkan dasar-dasarnya, bukti-buktinya. Masak yang begitu disebut fanatik? Kalau saya benci membabi-buta, itu baru fanatik. Lagian saya kan tidak secara khusus nyuruh milih salah satu kandidat selain SBY-Boediono.
    Anda: “errr…maksud anda, sudah anda tulis dasar-dasarnya, bukti-buktinya, dengan premis dan kesimpulan yang ngaco seperti pada poin pertama anda?”
    Jawab: Lagi-lagi anda berkata kasar. Sekarang menuduh saya ngaco. Betapa banyak anda menyerang saya soal ad hominem. Tetapi saat yang sama anda tunjukkan cara terbaik meng-ad hominem orang lain.
    Seburuk-buruk pemahaman saya tentang premis bencana dan konklusi kepemimpinan SBY itu, setidaknya ada dasarnya dari Al Qur’an. Sedangkan anda “mengacokan” pandangan saya dengan tidak menunjukkan komparasi pandangan yang layak. Anda hanya berputar2 di soal ad hominem.

    ===========================

    Anda: “mohon diperhatikan lagi, pak, sejak awal saya komen, saya cuma menyoroti poin pertama berikut premis dan kesimpulan anda yang ngaco ditambah fallacy-fallacy anda ketika menanggapi komentar dari komentator lain. that’s it
    Jawab: Lagi-lagi anda mengulang soal ngaco. Tapi dari sini saya akan coba tulis secara tersendiri hubungan antara pemimpin dengan bencana alam. Anda anggap itu “fallacy” sebab memang terlalu ringkas untuk anda pahami uraiannya. Tapi saya janji akan tulis soal itu dalam waktu dekat.
    ============================

    Lho, lihat dulu masalahnya dong. Soal waktu shalat Shubuh, soal buku Salafi ekstrem, dan lain-lain, kalau memang ada komentar yang saya anggap benar, ya diterima tho. Lain soal SBY ini. Ini kan sikap politik seseorang yang diakui oleh UU yang berlaku. Masak saya harus menuruti setiap komentar yang berbeda dengan pendirian politik saya? Justru Anda itu, ketika sudah dijawab pertanyaan-pertanyaannya, Anda tidak mau menghargai pandangan orang lain. Anda terus saja menembak saya dengan istilah ad hominem.
    Anda: “saya nggak sampai sejauh itu. saya cuma – sekali lagi – menyoroti premis dan kesimpulan yang ngaco, serta fallacy-fallacy dari anda.
    anda mau berseberangan dengan komentator lain dalam hal sikap politik, itu memang hak anda. saya nggak membahas anda boleh berseberangan atau tidak. saya cuma bilang, anda berfallacy pada komentator yang kebetulan tidak sependapat dengan anda.”
    Jawab: Ya, andai saya dianggap telah melakukan hal itu, saya memohon maaf. Ya, ini peringatan bagi saya agar lebih hati-hati. Terimakasih sudah diingatkan.
    Hanya masalahnya, sekali waktu anda berdiri di soal “premis-konklusi” yang ngaco, tetapi nanti berpindah ke soal ad hominem. Terus terang lumayan juga mengikuti gaya diskusi anda.

    ============================

    Namanya juga manusia, tidak ada yang sempurna. Mengharap manusia sempurna, seperti mengharap seseorang berubah wujud menjadi Malaikat. Itu tidak mungkin. Saya akui, aku nih tidak sempurna. Sama lah seperti anda-anda ini. Tapi saya tidak memakai “foto cewek berjilbab” untuk menutupi diri.
    Anda: apa hubungannya sebuah gravatar dengan konteks pembahasan kita? ah, another fallacy, i think
    Jawab: Lho itu ada hubungannya. Dalam masalah-masalah kecil saja Anda begitu peka dengan soal ad hominem dan fallacy. Namun dalam soal “foto cewek berjilbab” itu, mengapa ia dipandang sederhana?
    Ini kan bukti, bahwa anda ingin dipahami secara sempurna. Tetapi soal sikap anda sendiri yang tidak patut dalam soal avatar itu, Anda anggap biasa-biasa saja.

    ===========================
    Ya, itu menurut teori Anda, hukum Anda, sudut kepentingan Anda. Mau bukti? Apa ada dalil legal dari pernyataan Anda itu? Coba sebutkan rujukan legalnya, misal UU ITE. Ada gak?
    Anda: “anda meminta? allrite, sparky! ini. dan ini. yang saya ajukan itu bersifat keilmuan dan ilmiah, lho

    Jawab: Oke saya sudah baca refrennsi itu, meskipun baru sekilas. Mari kita terapkan dalam konteks diskusi di blog ini! Taruhlah saya melakukan ad hominem kepada komentator-komentator tertentu. Andai itu dibawa ke “mekanisme hukum”, bagaimana menilainya? Secara informasi, identitas saya jelas. Sedangkan para komentator itu bagaimana? Apakah mereka juga memiliki identitas yang jelas?

    ============================

    Anda dan kawan-kawan enak, bisa “nembaki” orang sesuka hati. Kami di domain yang riil, dengan nama, identitas, serta foto riil. Sementara Anda berada di doman “hit and run”. Dari sana saja sudah ada sisi ketidak-adilan. Bagaimana kita akan bersikap lembut/santun kepada “para sniper” itu?
    Anda: kesimpulan dini. dibanding anda, saya lebih berada di domain yang riil. saya nyewa hosting dan domain pribadi yang pendaftarannya memakai katepe saya. anda bisa whois domain saya lewat gugel dan mendapatkan jati diri komplit saya sesuai yang tercatat di katepe saya dan terdaftar di PublicDomainRegistry.com.
    sedangkan anda? anda memakai domain yang berbasis layanan gratis dari wordpress, kan? nah, siapa yang sekarang bertindak tidak adil? saya atau anda? sapa yang hit and run? saya atau anda? anda relatif tidak dilarang menggunakan id palsu ketika mendaftar di wordpress, lho. tapi saya? saya harus menyerahkan fotokopi katepe saya ketika akan menyewa hosting dan domain via idwebhost. tapi…kita pass aja pembahasan tentang masalah domain ini. ini bukan tema sentral apa yang mau saya bahas, sebenarnya
    Jawab: Lho, soal kejujuran itu tidak tergantung masalah domain gratis atau bayar. Kejujuran itu bisa di domain wordpress dan lainnya, sementara kebohongan juga bisa di domain bayar. Jangankan soal KTP, passport saja bisa dipalsukan kok. SIM, STNK, juga bisa dipalsukan, ijazah juga bisa. Itu ada kasus-kasusnya di masyarakat.
    Soal kejujuran itu bukan masalah domain gratis atau tidak, tetapi isi data yang dimasukkan dalam suatu instrument online.

    ==============================

    Apakah dalam track record Anda, selalu bersikap adil? Lalu bagaimana dengan kata-kata Anda di komentar paling pertama: “Saya mau ngakak…” Ini bukan ad hominem? Saya justru mulai kesal dengan Anda sejak Anda memakai kalimat “ngakak” itu. Anda suka kalau orang lain “meng-ngakak-kan” diri Anda? Coba jawab secara jujur!
    Anda: kalo saya salah, kalo saya ngawur, artinya saya memang layak ditertawakan!

    Jawab: Terus terang saya bukan tipe orang yang menertawakan orang lain, kalau tidak ada alasan yang patut. Toh asalnya kita beda pendapat soal “SBY dan bencana alam”. Beda pendapat boleh tidak ya? Boleh kan? Artinya, kalau Anda tidak setuju pandangan saya. Anda tinggal tulis pandangan pembanding, dan mari diskusi dengan baik. Mengapa belum apa-apa sudah dimulai dengan “ngakak”?
    Dan harusnya, seorang Muslim itu memiliki kesopanan pada ayat Al Qur’an. Andai saya salah membuat intepretasi, setidaknya yang sopan lah kepada Al Qur’an. Anda bisa tulis pandangan lain yang bias jadi lebih tepat. Terus terang, di mata saya, anda ini sangat arogan orangnya. Oleh itu saya ingin melayani anda sekuat kemampuan, kalau Allah kehendaki.

    ============================

    Anda: itu, link yang saya kasih di atas sudah dibaca belum? kalo belum, saya kasih arti gampangnya aja supaya anda paham definisi ad hominem:
    argumentum ad hominem adalah fallacy yang seringkali dipakai dalam perdebatan tanpa ujung pangkal. argumen yang dikemukakan sering tidak tepat sasaran pada pesan/argumen yang disampaikan oleh orang lain tetapi justru menuju pada si pemberi pesan/argumen itu sendiri (shoot the messenger, not the message).
    ad hominem sebenarnya banyak bentuknya, tapi saya hanya menyampaikan 2 ciri dari fallacy jenis ini yaitu: abusive dan guilty by association.
    abusive; sering digunakan ketika seseorang tidak menerima suatu argumen tetapi justru mengarahkan argumennya sendiri dengan menyerang si pembuat argumen, misalnya:
    Kau mengatakan bahwa seorang atheis bisa bermoral, maka sekarang aku tahu kalau kau mengabaikan anak dan istrimu.
    Apakah dengan itu kita harus menutup rumah ibadah ? Hitler dan Stalin akan sangat setuju denganmu.
    guilty by association; terjadi ketika kita mengkaitkan argumen yang disampaikan dengan sesuatu hal diluar argumen itu, kemudian menyerang si pembuat argumen, misalnya:
    Kamu berpendapat bahwa diskriminasi positif adalah hal yang baik maka Kamu seorang berkulit putih.
    Kamu mengatakan bahwa kesenjangan antara kaya dan miskin adalah hal yang tidak bisa diterima; orang-orang komunis juga mengatakan demikian, maka kamu seorang komunis.
    Jawab: Sudah saya buka dan baca, meskipun tidak detail. Secara umum saya paham yang dimaksud disana, insya Allah. Terimakasih sudah dibantu memahami.

    ================================

    Anda: oh, ya, supaya tidak melanggar etika blogging, itu saya ambil dari: http://fertobhades.wordpress.com/2007/05/27/argumentum-ad-pusingam/
    silakan dan boleh dibaca kelanjutannya, kok
    Jawab: Oke, saya sepakat dengan etika yang baik dalam diskusi. Hal itu sesuai anjuran Al Qur’an: Wa jaadil hum billati hiya ahsan. Oke saya terima hal-hal yang baik, selama tidak bertentangan dengan Syariat Islam.
    Lalu bagaimana dengan penghinaan Anda sendiri, seperti: ngakak, rancu, ngaco, dan lain-lain itu? Apa hal tersebut dimuat dalam etika blogging tersebut.
    Terus dengan sikap anda, memakai avatar orang lain yang berbeda gender. Apa itu juga diatur dalam etika tersebut?
    Kalau tidak diatur, wah berarti saya yang malang. Hanya saya yang bisa kena “delik” etika tersebut, sementara orang lain yang saya anggap tidak patut bisa bebas lepas.
    Jadi, sebelum “mengetikakan” orang lain, lihat dulu diri sendiri.

    ===================================

    Anda: maka jawaban saya: saya tidak melakukan ad hominem. saya mengakak’i tulisan anda, kok. saya mengakak’i argumen anda tanpa menyeret2 pribadi anda sebagai bagian dari argumen saya. anda kesal? kalo anda kesal ya silakan anda jawab dengan argumen yang lebih bagus, dong. bukan dengan rentetan fallacy yang malah bikin saya makin senyum-senyum aja
    Jawab: Nah, ini salah satu bukti kebodohan Anda. Sungguh, suatu bukti valid yang tidak diragukan lagi. Ketika Anda mengakaki tulisan saya, sebenarnya saat itu anda sedang mengakaki penulis tulisan tersebut. Contoh, anda memaki makanan, “Makanan ini busuk, basi, tengik, pahit, seperti racun!” Pada saat yang sama anda sedang memaki pembuat makanan itu sendiri. Iya kan? Kalau yang membuat makanan mendengar makian anda, dia bisa marah. Kalau kita memaki sebuah produk, saat yang sama kita sudah memaki produsennya. Ini logika sederhana yang dipahami sekalipun oleh anak kecil.
    Soal hubungan antara “SBY dan bencana” sungguh tidak bisa saya muat dalam diskusi di topic ini, sebab akan terlalu panjang. Cobalah bersabar sebentar. Insya Allah akan saya tulis pembahasan yang lebih baik, agar anda tidak menuduh saya fallacy.

    ================================
    Iya, kalau diskusi seperti ini baru kemarin saya mulai. Sudah bertahun-tahun, saya mengalami situasi seperti itu. Maka itu dalam Al Qur’an dikatakan, “Wa laa tujaadilu ahlal kitabi, illa billati hiya ahsan, illal ladzina zhalamu minhum” (dan janganlah membantah Ahlul Kitab, melainkan dengan cara yang terbaik, kecuali terhadap orang-orang yang zhalim di antara mereka). Kira-kira seperti itu dalam Al Ankabuut 46. Artinya, batas debat itu ya dalam konteks yang baik-baik saja. Kalau salah satu pihak sudah tidak adil, ya jangan dilayani secara lembut.
    Anda: “jadi karena sudah anda lakukan selama bertahun-tahun maka hal itu anda anggap sebagai hal yang wajar meskipun itu merupakan kesesatan logika?”
    Jawab: Maksud saya. Saya sering berhadapan dengan user-user kamuflase, yang ada suaranya, tetapi tidak jelas pemilik suara itu. Nah, user-user kamuflase itu tidak semuanya sopan. Banyak juga yang sangat offensive. Nah, dalam pengalaman itu, apa yang anda persoalkan tersebut belum ada apa-apanya. Coba buka track diskusi saya dengan kalangan Salafi.
    Begini, secara umum saya tidak suka sikap offensive. Saya baru offensive pada beberapa kondisi: a. menghadapi orang arogan; b. lawan bicara saya memulai dahulu melakukan serangan; c. lawan bicara saya orang fanatic yang tidak mau menerima kebenaran, meskipun berbagai argument sudah dikemukakan.
    Kan dalam surat Al Ankabut itu sudah dijelaskan, “Janganlah berdebat dengan ahli kitab, melainkan dengan cara yang baik. Kecuali terhadap orang-orang zhalim di antara mereka.” Ini patokannya etika debat Islami.

    ===============================
    Anda: wahwahwah, ndak heran kalo masa kejayaan islam waktu jaman dulu, saat ini hanya bisa dijadikan kenangan indah. mutu umatnya masih ada yang modelnya kayak gitu, sih
    Jawab: Untuk kesekian kalinya anda melakukan ad hominem. Artinya, anda merasa sebagai mutu ummat terbaik yang bisa mengulang kejayaan Islam masa lalu. Sementara orang seperti saya dan semisalnya, dianggap “tidak mutu”. Ini ad homimen bukan?
    Terus terang kalau menghadapi orang yang kesatria, saya suka. Tapi menghadapi orang-orang sakit seperti ini, cukup capek juga. Dia ingin orang lain sempurna, pada saat yang sama dia memiliki sekian banyak cela yang tidak layak. Laa haula wa laa quwwata illa billah.
    Ya Allah perbaiki hatiku dan hati Mas Satrianto ini agar lebih lembut dan cepat menyambut kebaikan-kebaikan dari-Mu. Allahumma amin.

    ================================
    Anda: dan masalahnya, kapan saya berlaku tidak adil? lantas kenapa saya harus diberondong dengan rentetan fallacy? siapa yang lebih tidak adil sudah saya bahas di atas, lho
    Jawab: Ya itu, anda menuntut saya sempurna. Sampai setiap kalimat yang saya tulis, anda nilai apakah ia ada unsure ad hominem dan fallacy-nya. Sungguh, kalau terhadap setiap kalimat dalam diskusi di internet anda berlakukan cara itu, anda bisa gila. Kita santai saja, man. Tetapi anehnya, anda tidak merasa kalau berkali-kali menghina orang lain (saya).

    =================================

    Oh ya, saya siap. Sebab orang beriman itu terikat syarat yang dibuatnya sendiri. Ya, kalau saya tahu Anda seperti apa, insya Allah tidak akan kesal. Saya terus terang kesal dengan para “sniper” itu. Mereka “hit and run”, lalu kabur tak karuan rimbanya.
    Anda: “dan sejak awal saya berkomentar, saya sudah meninggalkan jejak-balik yang berisi jati diri saya untuk anda temukan sendiri faktanya.”
    Jawab: Saya sudah melihat situs yang anda tunjukkan, tetapi hanya sedikit data yang saya dapat. Hanya nama, dan kuliah di UGM. Data-data lain tidak tahu. Mungkin kalau saya periksa ke tempat anda daftar domain, mungkin saya bisa tahu. Lagian untuk apa serumit itu?
    Apa sih susahnya anda berterus terang di depan pembaca blog ini? Apa salahnya? Toh, anda mengakui bukan orang “kamuflase”. Harusnya mudah kan. Ya, tinggal sebut saja data-data yang diminta. Cuma itu kok. Tapi ini mbulet gak karuan.
    Anda itu pelit. Orang lain meminta kejelasan, anda suruh cari sendiri. Ya Ilahi ya Rabbi, itu sikap arogan yang tidak patut. Mengapa anda tidak memudahkan orang lain. Toh, saya sudah coba lihat situs anda, ternyata datanya sedikit sekali. Misal, anda sangat menyukai Saskia Mecca, lalu ada foto dia di situs anda itu.

    ===============================

    Anda: errr…sayangnya saya toh masih mengalami berbalik dari apa yang anda janjikan bahwa anda siap. sepertinya ada yang bukan cuma tidak adil di sini, tapi juga tidak konsisten
    Jawab: Nah, itu dia model cara berpikir keliru. Saya butuh data, anda suruh cari sendiri. Pas dilihat di situs anda, hanya minim. Terus saya disuruh cari di google, cari orang “yang legendari”. Amit amit deh nuruti nafsu orang arogan macam gitu. Buang-buang waktu menyelidiki anda untuk membuktikan bahwa anda orang terkenal di dunia internet.

    ===============================

    Anda ini cukup mahir bermain kata-kata. Kalau saya jawab dengan kalimat lain, pasti Anda akan mengejar dengan cara berbeda.
    Anda: “main tebak-tebakan dan pasti-pastian, nih? sayangnya nggak seperti itu. simpel, saya tidak akan mengejar anda kalo premis dan kesimpulan anda nggak ngaco. itu aja, kok.
    Jawab: Anda itu sungguh mbulet orangnya. Kalo dibahas soal premis dan konlusi, anda akan lari ke soal ad hominem. Kalau dilayani soal ad hominem, anda lari lagi ke soal premis-konklusi. Begitu terus-menerus. Ya Ilahi ya Rabbi, kok ada orang seperti ini. Sehari-hari dia makan apa saja ya, kok out putnya seperti ini?

    ===============================
    Ya, silakan Anda lihat debat di TV deh. Atau debat di board-board internet. Lalu terapkan “kepekaan” Anda yang luar biasa itu disana. Saya meyakini, Anda ini hanya sedang “menguliti” saya sekuat kemampuan.
    Anda: sayang sekali keyakinan anda – lagi-lagi – salah. saya cuma mau mengoreksi cara anda berlogika, kok. sudah saya tegaskan di atas, kan, apa yang mau saya bahas? kalo logika anda sudah benar, ya sudah, habis perkara. tidak akan ada lagi pertanyaan dari saya. beres, kan?

    Jawab: Lho, anda harus fair juga. Namanya diskusi, ya kita harus berani komparasi. Ini kan diskusi public, ya kita komparasi dengan diskusi lain. Cara diskusi yang sangat “sensitive” seperti yang anda lakukan itu sulit ditemukan. Apalagi di internet. Tapi setidaknya, anda terapkan dulu sikap etik itu ke diri anda sendiri. Jangan menuntut saya harus sempurna, sementara anda sangat arogan, sering menghina orang (saya). Dari jawaban-jawaban anda itu sudah jelas tampak, bahwa hati anda memang sakit.

    ================================
    Anda mengatakan, “justifikasi sepihak”. Apa ini bukan ad hominem juga buat saya? Darimana Anda meyakini bahwa saya melakukan justifikasi sepihak seperti yang Anda tuduhkan?
    tentu bukan. silakan dibaca lagi definisi tentang apa yang anda tanyakan dari link yang saya ajukan di atas. oke? sudah?
    Jawab: Lho, anda mengatakan saya melakukan justifikasi sepihak. Ini kan merupakan vonis. Darimana kebenaran konklusi anda itu? Tentu dari penilaian anda sendiri. Tetapi apakah saya telah setuju dengan tuduhan anda itu? Atau apakah saya nyaman dengan tuduhan anda itu? Jelas tuduhan anda pun sepihak, belum dibuktikan. Ini ad hominem juga.

    ==============================================

    Anda: nah, sekarang siapa yang di awal diskusi mengatai saya sebagai sekuler dan memiliki pengetahuan yang simpel? apa itu bukan justifikasi sepihak? memang benar, kan, kalo anda melakukan justifikasi sepihak kepada saya tanpa niatan untuk melakukan klarifikasi terlebih dahulu?
    Jawab: Maksud saya, orang yang tidak mempercayai hubungan antara dosa manusia dengan keadaan masyarakat, itu tidak percaya dengan pandangan Qur’ani yang sangat banyak menyebutkan keterkaitan antara dosa dan nasib manusia di dunia. Nah, banyak di kalangan Muslim ini yang tidak percaya hal itu. Mereka anggap bencana-bencana hanya fenomena alam biasa. Padahal dalam Surat Al An’aam, Al A’raaf, Hud, dan lainnya banyak dibahas tentang bencana-bencana yang menimpa manusia karena dosa-dosanya.
    Cara berpikir anda ketika menepiskan poin pertama dari saya, yang anda sebut “premis dan kesimpulan” itu, seperti pemikiran banyak orang tersebut. Tentu saya tidak mengatakan ke anda: Kamu seorang sekuler! Hanya mengingatkan, agar kita hati-hati dalam mengingkari pandangan Al Qur’an tentang “bencana dan dosa” itu.

    Tapi secara umum, memang masalah ini perlu dijelaskan lebih jauh. Maksudnya, tentang hubungan antara “bencana dan dosa manusia”. Kalau pembahasannya sempit seperti saat ini, memang peluang salah paham sangat tinggi. Insya Allah hal itu akan saya jelaskan, dengan memohon pertolongan Allah.
    Kalau kemudian saya disebut melakukan justifikasi sepihak, okelah saya memohon maaf. Dan saya cabut pernyataan saya tersebut.

    ===========================
    Anda: jadi? ad hominemkah yang saya lakukan? ah, jika kita mengacu pada definisi ad hominem di atas, maka jawabannya adalah tidak. oh ya, “ad hominem” dan “melakukan tuduhan” itu tidak sama, lho. jangan sampai salah tafsir, pak
    saya mengatakan anda melakukan justifikasi sepihak berdasarkan pernyataan ngawur dari anda yang saya terima. di lain pihak, anda mengeluarkan statement ngawur tentang saya sebagai bagian dari argumen anda.
    Jawab: Nah, ini bertambah lagi. Mula-mula “ngakak”, lalu rancu, rancu ngaco, sekarang ngawur. Ini anda katakana sendiri lho ya, banyak yang menjadi saksinya.
    Anda ingin saya bersikap sangat etik, sementara anda melakukan hal yang sangat tidak etik. Dalam hal seperti ini, anda maunya saya ngertiin anda terus; sementara anda tidak menunjukkan sikap seperti orang terpelajar yang layak dihargai.

    =============================

    Anda: saya nggak tau apa tujuan anda menyerang pribadi saya seperti itu yang di luar konteks pembicaraan? untuk mengerdilkan posisi sayakah? untuk membuat kesan ke orang lain bahwa orang yang bernuansa negatif seperti saya ini tidak pantas didengar dan selalu salah kalau berbicarakah?
    Jawab: Tidak wahai saudara, tidak seperti sangkaanmu. Jadi, ceritanya, anda ini baru masuk blog LANGIT BIRU. Setahu saya anda baru masuk. Wallahu A’lam kalau sudah lama.
    Belum apa-apa anda komentar langsung menyerang saya dengan kalimat, “Saya ngakak.” Terus terang, jarang pengunjung sini yang berbuat seperti itu. Nah, itu awalnya yang membuat saya langsung tidak simpatik dengan anda. Sungguh kata-kata “ngakak” itu merupakan penghinaan. Saya tidak mau dengan kata seperti itu. Kalau memang tidak setuju oke, mari diskusi baik-baik, bukan langsung offensive begitu.

    ============================
    Apakah kalimat “jawaban simpel anda” bukan ad hominem juga? Begitu juga “pertanyaan saya yang kompleks” apakah bukan memuji diri sendiri? [Maaf, saya mulai menikmati cara debat yang Anda ajarkan disini. Oh ho, ternyata manis juga ya….Jangan ketawa ya…].
    Anda: maaf, bisa anda baca lagi definisi dari ad hominem yang sudah saya sertakan di atas? saya yakin anda akan menemukan “bukan” sebagai jawabannya.
    Jawab: Coba diingat. Anda kan baru dalam komentar ini member link soal ad hominem dan fallacy. Sementara jawaban saya itu sudah muncul sejak awal, sebelum anda member link-nya. Iya kan?

    =======================
    Anda: yang saya tulis itu fakta, lho. pertanyaan saya memang kompleks kalo dibandingkan jawaban anda. lihat saja aspek-aspeknya. dan jawaban anda juga terlihat simpel kalo dibandingkan dengan pertanyaan-pertanyaan saya. jadi, pribadi anda yang mana yang saya serang?
    Jawab: Iya, jawaban rincinya tidak bisa dikemukakan sekarang. Nanti insya Allah akan dijawab dalam tulisan yang relevan. Kalau disini, terlalu panjang.

    Maaf, anda sudah melakukan fallacy beberapa kali. Mohon dihitung dulu. Nanti bon-nya menyusul.
    Anda: anda yakin statement anda nggak keliru?
    Jawab: Mungkin tepatnya melakukan ad hominem, bukan fallacy. Itu ad hominem juga lho, dalam arti meremehkan, atau mengangkap sepele argumentasi orang lain. Ya, semua orang yang baca bisa berkesimpulan buruk tentang apa yang saya kemukakan.

    ==============================
    Anda: coba dicek lagi deh apa definisi dari fallacy. lha saya kan cuma menanggapi bahasan ekonomi yang pada faktanya memang anda kemukakan dengan kata “ekonomi” juga. nha, salahnya di mana? fallacy di bagian mananya?
    Jawab: Ya, lebih tepatnya ad hominem secara halus. Sebab kalau tanggapan anda bersih, pasti anda tidak akan memakai kata-kata yang bernada meremehkan itu.
    ============================
    Wah, Anda ini sudah ad hominem ke Soeharto. Sudah cukup ke saya sajalah, jangan ke orang lain. Apalagi orang sudah meninggal. Ya, memang harusnya Soeharto waktu itu tidak menjadi presiden. Tetapi “polisi fallacy” seharusnya yang menjadi Presiden. Mungkin dia bisa lebih tangguh dari Soeharto. Di bawah kepemimpinan “provost ad hominem”, mungkin rakyat akan adil, makmur, sejahtera, damai, sejahtera, gemah, ripah,…
    Anda: ini baru yang namanya ad hominem. masuknya kategori abusive; mengarahkan argumennya sendiri dengan menyerang si pembuat argumen. kenapa saya yang harus dibawa-bawa untuk jadi presiden? apa hubungannya pribadi saya dengan bahasan tentang kesalahannya soeharto. ada saya ataupun tidak toh soeharto tetap salah, kan?
    Jawab: Lho, memang faktanya banyak kok komen-komen anda yang menghina saya. Coba baca ulang jawaban saya di bagian ini. Soal Soeharto, kan anda mulai “ngeles”. Padahal itu nyata kan. Mengapa bukan anda yang menuntut Soeharto ke pengadilan sewaktu dia hidup, bahkan saat ini pun masih bisa? Kalau mengikuti standar etika anda, anda sudah jatuh dengan modal komentar anda sendiri.

    ===============================

    Ya, harusnya yang jadi presiden seorang malaikat, biar tidak ada kekurangannya. Semua pemimpin ada kurangnya, Pak. Kalo dirinci satu per satu, hanya Nabi Saw yang selamat dari kesalahan. Anda mau pilih pemimpin merek apapun, pasti ada kurangnya. Coba deh cari satu saja pemimpin yang no mistake! Saya tunggu hasil perburuan Anda ya…
    Anda: nha…kalo kayak gitu, kenapa anda mengeluarkan statement anda seperti pada poin nomer 1 tulisan anda. jawaban anda sekarang sudah menggugurkan kesimpulan awal anda sendiri, lho. besar dosa seorang pemimpin pemerintahan tidaklah bisa diklaim dan dijadikan parameter penyebab banyaknya bencana di negara yang dipimpinnya.
    Jawab: Maksud saya, kesalahan manusia pasti ada, termasuk Soeharto. Tetapi ada kesalahan-kesalahan fundamental yang bisa dilakukan seorang pemimpin. Misalnya, saat Soekarno melindungi eksistensi PKI, itu sangat fundamental. Dan SBY itu memiliki kesalahan-kesalahan fundamental, soal kebijakan dia yang pro asing. Ya, kalau kesalahn-kesalahan jelas ada, tetapi kesalahan fundamental tidak selalu ada di setiap pemimpin.
    SBY pernah mengatakan ke stasiun Aljazeera, “America is my second country. I love it with all of it faults.” Kurang lebih seperti itu. Data ini bisa dicari di internet. Di kalangan aktivis Islam, ini sudah dikenal. Ini salah satu kesalahan fundamental dia.

    ================================

    Anda: “anda tahu swiss? apa sebutannya? negara termakmur di dunia, kan? siapa pemimpinnya? dalam agama yang anda anut, pemimpinnya masuk kategori kafir, nggak? bagaimana mayoritas rakyatnya? kafir juga atau bukan?
    nah, kalo kita mau mendasarkan pada premis yang terdapat di poin pertama anda, harusnya swiss nggak mungkin jadi negara termakmur di dunia, dong? iya, kan?”
    Jawab: Makmurnya Swiss itu karena dia menjadi pusat keuangan dunia, menjadi pusat lalu lintas keuangan. Ini seperti negara Singapura. Anda tahu sendiri, pemegang kendali keuangan itu adalah Yahudi. Jadi makmurnya Swiss lebih karena system ribawi Yahudi.
    Itu yang pertama. Kemudian, perlakuan Allah kepada negeri Muslim berbeda dengan negeri kafir. Kerap kali negeri kafir diberi kemakmuran besar, seperti kaum-kaum di masa lalu yang membangkan kepada para Nabi dan Rasul, seperti kaum Aad, Tsamud, Madyan, Sodom, dan lainnya. Rata-rata ekonomi makmur. Kalau mereka tetap dalam kekafirannya, pasti Allah akan menimpakan bala’ dengan segala bentuknya.
    Pada dasarnya, setiap dosa manusia ada hukumannya. Hukuman bisa seketika, bisa ditunda. Allah Ta’ala tidak mengingkari janji-Nya. Insya Allah lain kesempatan hal ini akan dibahas lebih jauh.

    ==== disambung di jawaban berikutnya ===

    AMW.

  71. abisyakir berkata:

    @ Joesatch:

    Masih lanjutan dari jawaban di atas. Kebetulan waktu itu terpotong.

    Ya, Soeharto punya banyak salah dan kezhaliman juga. Ini sudah saya bahas di beberapa tulisan. Coba dicek kembali, salah satunya, “Menghargai Jasa Seorang Muslim”. Coba cari tulisan-tulisan saya yang ada kaitannya dengan Soeharto, lalu Anda boleh komentar kemudian.

    Anda: alhamdulillah anda mau mengakui kalo soeharto banyak kezhaliman.

    Jawab: Bukan hanya saya. Banyak orang tahu tentang kezhaliman Soeharto. Tetapi juga banyak orang mengakui bahwa di jaman Soeharto secara ekonomi dan moral lebih baik daripada jaman sekarang. Tolong deh, baca dulu tulisan-tulisan saya tentang Soeharto, misalnya: “Menghargai Jasa Seorang Muslim”.

    Kalau mencari seorang pemimpin yang bersih dari salah, jelas di Indonesia tidak ada. Hampir setiap pemimpin memiliki “koleksi” kesalahan-kesalahan. Itu sudah dimaklumi.

    ==========================

    Anda: jadi, poin pertama tulisan anda di sini itu premis dan kesimpulannya saling bertabrakan, nggak?
    tulisan anda ngaco, nggak?

    Jawab: Katakanlah, premis dan konklusi saya keliru. Misalnya demikian. Katakanlah seperti itu dulu. Lalu bagaimana dengan komparasi kepemimpinan setiap Presiden? Coba menurut Anda, apakah presiden-presiden sebelumnya mengalami bencana-bencana mengerikan seperti di jaman SBY?

    Saya sudah siapkan kajian khusus tentang masalah “Pemimpin dan Bencana” ini. Mohon sabar sejenak. Dan disana akan saya jelaskan, bahwa tidak ada konklusi yang keliru. Hanya sekali lagi, Anda terlalu simple memahaminya.

    ================================

    Ya, tidak beresnya pemerintahan itu kan bertingkat-tingkat. Ada yang ringan dan ada yang berat. Menjadi regim pro asing dan mempekerjakan orang IMF/mantan IMF itu kesalahan sangat mendasar. Sikap cuek dengan moral, cuek dengan SEPILIS, aliran sesat, mengecam FPI, membela AKKBB, itu masalah mendasar. Jadi kalo dicari pemerintahan yang “no mistakes”, Anda pasti akan puyeng. Mana ada yang begitu?

    Anda: akhirnya, menentukan kadar kesalahan itu memang nggak gampang, tho?
    dengan ini argumen anda sendiri di awal tulisan jadi gugur dengan sendirinya, kecuali kalo anda memang nggak puyeng ketika menentukan kadar kesalahan seorang pimpinan. tapi saya nggak yakin tentang hal itu. setahu saya itu wewenang tuhan, dan bukan wewenang anda.

    Jawab: Setiap dosa pemimpin itu ada balasannya. Allah tidak akan mengingkari janji-Nya untuk membalas orang-orang durhaka. Hanya saja, ada yang salahnya kecil, sedang, dan ada yang fundamental. Kesalahan SBY menurut saya sangat fundamental. Apa itu? Dia mempekerjakan pejabat atau mantan pejabat IMF di tim ekonominya. Padahal IMF itulah biang kehancuran negeri ini sejak 1997. Jadi ini dosa pengkhianatan berat.

    ==========================

    Anda: maka pertanyaannya, menurut anda, siapakah di antara soeharto dan sby yang lebih zhalim kepada rakyatnya dan lebih berdosa?

    Jawab: Dengan memahami kondisi buruk yang dialami Ummat Islam saat ini di bawah SBY, saya haqqul yakin SBY lebih buruk dari Soeharto. Faktanya, selama 32 tahun Soeharto hutang negara mencapai 1400 triliun. Tetapi selama 5 tahun SBY, hutang negara sekitar 400 triliun. Ini baru satu data saja.

    ===========================
    Ya, tidak sesimple itu. Kan pembanding soal bencana ini bukan hanya Soeharto, tetapi Habibie, Mega, juga Abdurrahman Wahid. Saya itu tidak membuat premis, tetapi memahami “premis” yang ditunjukkan oleh Allah di depan mata kita semua. Maunya sih tidak menuduh SBY begini begini, tetapi apa mau dikata, memang faktanya di jaman dia banyak bencana kok? Tinggal masalahnya, Anda percaya tidak bahwa bencana itu ada kaitannya dengan kesalahan kolektif sebuah bangsa? Kalau saya percaya, sesuai Al A’raaf 96.

    Anda: memangnya kalo ada bencana alam itu pasti gara-gara ketidakbecusan pemimpinnya?
    bagaimana dengan swiss? mereka jauh lebih layak untuk hancur ketimbang endonesa, lho, kalo sampeyan ngotot mengartikan ayat yang anda bawa itu secara tekstual menurut porsi anda sendiri.

    Jawab: Berbagai pertanyaan Anda seputar bencana ini sudah saya jawab, hanya dalam tulisan terpisah. Mohon sabar menunggu.

    ========================

    Anda: apa contoh yang saya ajukan masih kurang? saya bisa ajukan 10 negara kafir lain yang lebih makmur dari endonesa dan relatif bebas bencana alam selama tahun-tahun terakhir, lho.

    Jawab: Ya, sabar menunggu.

    =============================

    Anda: lagipula, memangnya penafsiran ayat alqur’an ala sampeyan itu 100% pasti benar? tingkat pemahaman anda terhadap “premis” yang diberikan allah itu apa betul-betul bisa dijamin keakuratannya, tepat sasaran sesuai maksud dari allah sendiri?

    Jawab: Harus dibedakan antara “menafsirkan” dengan “berdalil”. Untuk menafsirkan dibutuhkan perangkat-perangkat yang banyak. Namun untuk berdalil itu lebih leluasa. Karena kaidahnya, pelajaran dalam Al Qur’an itu diambil dari lafadz umumnya, bukan sebab khususnya. Tentu saja, dalam berdalil tidak ada kepastian kebenaran pendalilan itu. Yang pasti-pasti hanya penafsiran Nabi Saw. Tetapi berdalil itu boleh.

    ============================

    Anda: saya nggak mempermasalahkan siapa sang pemberi “premis” dalam alqur’an, lho. saya mempermasalahkan siapa yang mencoba memahami “premis” itu dan tingkatan pemahamannya.

    Jawab: Ya Allah, Anda ini sok arogan orangnya. Kalau Anda mempermasalahkan premis-kesimpulan saya, mengapa tidak anda buat pandangan pembanding? Siapa tahu pendapat anda itu lebih baik. Ini tidak, muter-muter saja soal ad hominem, nanti ke premis, lalu ke ad hominem sendiri, lalu ke premis lagi. Ya Allah, makan apa orang ini sehari-hari?

    ===============================

    Nah, ini dia puncak ad hominem Anda. Singkat kata, Anda itu tidak mau dirugikan sedikit pun. Secuil pun marah, kalau dirugikan. Tetapi Anda tidak tahu diri dalam mem-fallacy orang lain. Justru gaya bahasa murni ad hominem ini yang membuat saya kesal dengan Anda. Sok suci, tapi tidak tahu diri. Maaf, saya terpaksa gunakan kata-kata kasar ini. Sebab memang sikap Anda seperti itu.

    Anda: hahahaha. Sekali lagi, saya mengakak’i argumen anda lewat argumen saya. saya tidak menyeret-nyeret pribadi anda dalam argumen saya. yang saya serang adalah argumen anda dan bukan pribadi anda. maka di mana letak ad hominemnya? jadi tolong sekali lagi anda baca apa itu definisi dari ad hominem.

    Jawab: Saya pun begitu, saya bilang anda “berpemahaman simple”. Anda marah. Tetapi saat yang sama anda sebut saya dengan: ngakak, ngaco, rancu, ngawur, dll. Ya Ilahi, Anda bisa lihat sendiri, siapa sebenarnya yang menerapkan ad hominem dengan sangat konsisten?

    Kalau anda “ngakak”-i suatu tulisan, itu sama dengan mengakaki penulisnya. Sebab produk itu tidak bisa dipisahkan dari produsennya. Ini logika yang dipahami sekalipun oleh anak kecil.

    Demikian jawaban saya untuk komen “terpanjang” dari “yang legendaris. Semoga para pembaca bisa mengambil pelajaran sebaik-baiknya. Amin.

    AMW.

  72. abisyakir berkata:

    @ Joesatch:

    Betul, seseorang tidak dihukum atas ketidak-tahuannya. Tetapi untuk selevel pemimpin Indonesia, ketidak-tahuan apalagi yang masih ada padanya? Wong, ilmu, dakwah, peringatan, khutbah, buku, dll. itu sangat banyak.

    Iya, memang itu diperdebatkan. Maka itu anda boleh punya kesimpulan berbeda. Maka itu kalau berpendapat yang sopan sedikit. Jangan apa-apa langsung nembak “ngakak”. Ini bukan tipe sifat orang terpelajar.

    Lagi pula, dengan prinsip komparasi, sudah jelas faktanya di jaman SBY banyak bencana alam besar. Berbeda dengan di masa pemimpin sebelumnya. Jadi harusnya, kalau kita tidak ingin dihujani bencana-bencana lagi, tolong jangan diulangi milih SBY. Itu adalah tindakan preventif agar Indonesia tidak dilanda bencana-bencana lagi. Ya, kita bersikap hati-hati untuk 5 tahun ke depan apa salahnya?

    Kalau SBY terpilih lagi, lalu masih terus negeri ini dilanda bencana2, maka semoga orang-orang seperti @ Satrianto ini ikut memikul dosanya. Sebab dia seperti manusia yang tidak bisa mengambil pelajaran dari catatan kepemimpinan.

    Soal pernyataan mengambang atau “bisa jadi”. Ya benar adanya. Lho, kamu masuk ke blog ini seperti kamu ingin membaca Al Qur’an yang bersifat pasti ya? Itu salah. Dalam halaman “seputar blog ini” sudah dijelaskan, tulisan-tulisan di blog ini sifatnya wacana. Hai dul, ingat ya, Fatwa MUI pun merupakan pendapat, bisa benar bisa salah. Kok kamu memastikan bahwa tulisanku ini sifatnya vonis? Aneh yo.

    Anda: “and then, saya tunggu tulisan anda. dan saya berharap tidak ada hal yang pernah dibahas oleh madsen pirie di bukunya – yang berjudul “how to win every argument: the use and abuse of logic” – pada tulisan anda berikutnya.”

    Jawab: Oh tidak saudara. Saya tidak peduli siapa Madsen Pirie. Yang jelas Al Qur’an sudah menjelaskan, “Wa jaadilhum billati hiya ahsan” (bantahlah mereka dengan sesuatu yang lebih baik). Ini prinsip saya.

    Sungguh, kalau sejak awal anda berdiskusi dengan baik tidak memakai kata-kata “ngakak”, rancu, ngaco, ngawur, dll. semisal itu. Insya Allah akan dilayani dengan baik. Coba deh Anda lihat track diskusi disini. Anda carikan buktinya, apakah saya seperti yang anda sangka itu?

    AMW.

  73. abisyakir berkata:

    @ joesatch:

    Bisa jadi juga seperti sangkaan Anda. Saya mohon ampunan kepada Allah atas apa yang salah dari urusan ini.

    Tapi coba perhatikan dengan jeli komen anda ini: “jangan2, bisa jadi allah tidak ridho dengan tulisan anda, kan?

    Anda merasa tidak bahwa tulisan ini juga bermakna offensif kepada saya? Ada unsur ad hominem disana?

    Kalau Allah tidak rido dengan suatu tulisan, jelas itu termasuk penulisnya. Iya kan.

    Dan pertanyaannya, apakah setiap tulisan anda diridhai oleh Allah?

    Lalu bagaimana dengan soal “premis-kesimpulan” yang berkali-kali anda tanyakan itu? Bagaimana anda menghubungkan kegagalan saya up load dengan keridhoan Allah? Bukankah ini fallacy juga.

    Satu pesan saya: BELILAH CERMIN!!!

    Tolong bercerminlah sebelum melihat orang lain.

    AMW.

  74. abisyakir berkata:

    @ joesatch:

    Lho, pertanyaannya: Siapa yang memilih SBY sebagai pemimpin? Apa dia bisa njumbul begitu saja tanpa dipilih oleh mayoritas rakyat? Iya benar, penduduk suatu negeri meliputi pemimpin dan rakyatnya. Dan ketika rakyat memilih pemimpin yang salah, mereka pun dihukum dengan banyak bencana.

    ini yang saya sebut sebagai ketidak-tahuan. orang tidak berhak dihukum atas ketidak-tahuannya, kan?

    Jawab: Kan pertanyaan pertama soal keterlibatan rakyat, bukan dosa pemimpin sendiri. Pemilu sudah jelas merupakan mekanisme pilihan oleh rakyat. Ketidak-tahuan itu kan istilahnya jahil. Jahil memang dimaafkan, kalau belum diberi ilmu. Tetapi untuk di Indonesia ini ilmu apa sih yang belum disampaikan?

    Kalau orang Muslim, kalau salah memang cepat diingatkan dengan berbagai musibah. Kalau orang kafir salah, tidak seketika diingatkan, tetapi ditunggu sampai dosa-dosanya melampaui batas.

    Musibah bagi Muslim bersifat kaffarat (menggugur dosa); bagi orang kafir, berbagai kenikmatan yang mereka dapat bersifat istidraj (pemberian agar mereka semakin melampaui batas, sebelum dihancurkan sehancur-hancurnya).

    betul. tapi bagaimana kalo itu sifatnya adalah ujian, dan bukan azab?

    Jawab: Lalu yang tahu pasti ini ujian atau adzab itu siapa? Ada tidak yang tahu pasti? Tidak kan. Kita hanya menduga-duga saja.

    Orang seperti saya tidak salah dong mengkomparasikan pemimpin yang satu dengan lainnya, sesuai fakta-fakta yang ada. Lalu untuk 5 tahun ke depan kita hati-hati. Kata Nabi, “Orang Mukmin itu tidak akan terperosok lubang yang sama sampai dua kali.”

    Siapa yang mau tanggung-jawab kalau nanti bencana-bencana itu terus terjadi? Apakah anda dan orang2 semisal anda mau menanggung dosa kaum muslimin akibat bencana-bencana itu?

    Lho, yang memilih pemimpin itu siapa? Yang mengangkat siapa? Yang menyetujui, meridhai, mendukung siapa? Jelas yang mendukung dia adalah rakyatnya kan.

    Seperti Fir’aun di Mesir. Mengapa bukan hanya Fir’aun saja yang tertimba bencana-bencana di Mesir ketika itu?

    Pemimpin itu dalam istilah sering disebut Ra’is (kepala). Ia ibarat kepala. Kalau kepalanya rusak, otomatis seluruh badan akan rusak juga.

    yang tertimpa memang bukan cuma firaun, kok. tapi mereka yang tetap mendukung kesalahan firaun.

    bedanya, allah ketika itu langsung mengirimkan utusannya untuk memperjelas keadaan siapa yang benar dan siapa yang salah. nah, konteks kita ada pada jaman sekarang, bukan jaman firaun, pak.

    Jawab: Lho, kan anda nanya soal dalil-dalil yang bisa dijadikan rujukan. Ya, Fir’aun itu salah satunya. Lagi pula, apakah Al Qur’an itu kitab yang hanya berlaku di satu masa saja? Coba jawab secara jujur.

    Seperti kata para ahli, sejarah itu selalu berulang. Apa yang terjadi di masa lalu, bisa kembali terjadi di masa kini. Hanya aspek realitasnya berbeda.

    Di masa Nabi, beliau pernah mengirim surat ke Kisra Persia, mengajaknya masuk Islam. Ternyata surat itu dirobek-robek oleh Kisra. Maka Nabi mendoakan, kerajaan Persia nanti akan dirobek-robek oleh Allah. Dan ternyata benar, di jaman Khalifah Umar, Persia mampu diruntuhkan. Ini sebuah dalil, perbuatan seorang pemimpin berpengaruh langsung ke rakyatnya. Kalau Kisra bersikap sopan, mungkin tidak akan runtuh seperti itu.

    musa, setiap kata2nya adalah benar, karena dia langsung mendapat petunjuk dari allah. sedangkan di era kita sekarang, siapa yang bisa menjamin bahwa kata2nya adalah 100% kepanjangan dari kata2 allah? ketika anda mengatakan sby bersalah tentu kadarnya tidak sama ketika musa mengatakan bahwa firaun bersalah.

    musa sendiri membuktikan di depan firaun bahwa dia adalah pesuruh allah lewat mukjizat2nya. mereka yang mendukung firaun pun sudah melihatnya tetapi sayangnya tetap ngeyel. sedangkan sekarang, siapa yang bisa membuktikan kalo kata2nya adalah kepanjangan dari kata2 allah? anda yakin penafsiran anda 100% benar dengan beberapa ke”bisa-jadi”an anda?

    ini masih bisa diperdebatkan dengan panjang dan masih sangat absurd.

    Jawab: Ya, di jaman ini ada Kitabullah dan Sunnah. Itu pedoman kita. Tidak perlu menanti datangnya Nabi/Rasul. Nabi kan bilang, “Aku tinggalkan dua perkara, kalian tidak akan tersesat selama berpegang kepada keduanya, yaitu Kitabullah dan Sunnah-ku.”

    Menurut Al Qur’an dan Sunnah, yang benar itu adalah seorang pemimpin Islami dengan UU dan sistem Islami. Ini yang benar. Tetapi karena hal itu belum ada, ya kita pertimbangkan maslahat-madharat.

    Menurut saya, di jaman SBY sudah jelas-jelas banyak madharatnya. Maka jangan dipilih lagi lah. Ini bukan vonis, tapi upaya kehati-hatian agar madharat tidak mengerikan seperti itu lagi. Soal masih ada madharat jelas. Tapi minimal dikurangi dengan terpilihnya pemimpin yang tepat.

    Pemimpin itu dalam istilah sering disebut Ra’is (kepala). Ia ibarat kepala. Kalau kepalanya rusak, otomatis seluruh badan akan rusak juga.

    tidak bisa serta-merta seperti itu. tidak pernah liat pemimpin-pemimpin yang diktator dan menindas rakyatnya sendiri? dalam hal ini yang salah cuma pemimpinnya. rakyatnya bahkan ikut-ikutan jadi korban kediktatoran pemimpinnya. jadi, pemimpin rusak belum tentu rakyatnya juga rusak. bisa jadi rakyat adalah korban dari kerusakan sang pemimpin.

    Jawab: Iya benar, bisa jadi rakyat jadi korban kezhaliman pemimpin. Itu secara fakta sejarah memang ada dan terjadi. Tetapi menurut nalar umum saja, seorang pemimpin itu sangat berpengaruh. Kalau tidak percaya, berarti anda meragukan konsep leadership dong. Di rumah-tangga ada pemimpin, di kelas ada pemimpin, di jurusan IT UGM ada pemimpin, di kafe-kafe gaul ada bosnya, dll. Semua ada pimpinannya, sampai binatang-binatang pun ada pemimpinnya.

    Masak anda meragukan logika kepemimpinan sih? Kan sudah kuliah di UGM? Masak sih. Saya tidak percaya.

    Soal dosa warisan, lho siapa yang bilang dosa warisan? Ini kan dosa yang terjadi pada kurun yang sama, dilakukan rakyat dan pemimpin pada waktu yang sama. Masak disebut warisan? Anda mengerti istilah waris-mewarisi?

    saya juga nulis tentang dosa bagi-bagi. ya yang saya maksud adalah sifatnya sama seperti dosa waris; orang lain yang berdosa, kita ikut menanggung getahnya.

    Jawab: Kalau dihubungkan dengan pemimpin, itu bisa. Pemimpin yang buruk bisa membuat pengikutnya semakin berdosa. Tidak percaya? Coba lihat pemimpin gangster, kriminal, mafia, koruptor, dll. Kalau dihubungkan dengan pemimpin: Bisa pemimpin mempengaruhi rakyat; atau rakyat mempengaruhi pemimpin; atau kedua-duanya saling mempengaruhi.

    ya kayak yang saya bilang, sekalipun misalnya sby yang bersalah, kenapa rakyatnya harus ikut2an dihukum? bagaimana kalo rakyat itu cuma korban dari kerusakan presidennya, dan bukan sama-sama pelaku kerusakan? apa itu bukan dosa bagi-bagi?

    Jawab: Di bagian sebelumnya anda malah mengatakan, kalau rakyatnya bejat, mengapa yang disalahkan pemimpinnya? Nah, sekrang terbalik. Kalau pemimpin salah, kenapa rakyat harus menanggung dosa? Ya, ini anda tulis sendiri lho. Tidak ada intervensi saya disana.

    Lalu kalau Anda orang berakal, bisakah Anda pahami bahwa pemimpin tidak ada hubungannya dengan rakyatnya? Jadi pemimpin jalan sendiri, rakyat jalan sendiri. Begitu kah.

    sekali lagi, bagaimana kalo rakyat cuma berstatus sebagai korban? seperti halnya orang-orang israel yang ditindas firaun dan kemudian dibebaskan oleh musa? terus juga, bagaimana rakyat ketika mereka memilih pemimpinnya bisa tahu apakah pemimpinnya bakal berdosa atau tidak? sepertinya kok ya anda ini menolak kemungkinan-kemungkinan kompleks lainnya macam ini?

    Jawab: Ya, disanalah bukti pentingnya kepemimpinan Musa kepada Bani Israil. Artinya, Allah tetap membela kesengsaraan Bani Israil dengan munculnya Nabi dari kalangan mereka sendiri.

    Bagaimana rakyat tahu kalau pemimpin akan berdosa? Ya tidak ada yang tahu hal ghaib, selain Allah. Tapi setidaknya, kita bisa belajar dari masa lalu yang sudah jelas-jelas itu. Kalau faktanya memang banyak bencana, jangan diulangi lagi. Khawatir nanti terjadi bencana-bencana lagi.

    Kalau rakyat bejat, tetapi pemimpin baik, dia akan mengarahkan rakyatnya menjadi baik. Kalau rakyat baik, tetapi pemimpin bejat, dia akan menzhalimi hak-hak rakyatnya. Kalau mereka sama-sama bejat, maka datangnya adzab tinggal menunggu waktu saja.

    nah, bagaimana rakyatnya tahu kalo pemimpin bejat sebelum mereka sendiri merasakan kebejatan pemimpinnya? bagaimana mereka bisa merasakan kalo si pemimpin bejat tidak terpilih untuk memimpin terlebih dahulu? dan bagaimana kalo akhirnya mereka sendiri tertindas dan tidak mampu melawan pemimpinnya?

    dan lagi-lagi balik lagi, bejat atau tidak, bencana itu azab atau ujian, siapa yang bisa tahu kepastiannya? kalo cuma mengotak-atik-gathukkan seperti yang anda lakukan, semua orang, sih, juga bisa.

    Jawab: Ya, untuk yang sudah-sudah biarlah berlalu. Kita melihat ke depan. Jangan sampai yang buruk terulang lagi. Iya kan?

    Ya, kita tidak tahu kepastiannya. Tapi ingat dua hal: (1) Kita tahu bahwa bencana-bencana itu telah menjadi FAKTA. (2) Kita bisa menjaga diri agar selamat untuk masa selanjutnya.

    Adapun yang sudah2, biarlah berlalu. Tapi ke depan jangan terjadi lagi.

    Andai saya salah mengira, misalnya di jaman SBY yang ke-2 ternyata Indonesia aman-aman saja. Ya Alhamdulillah, kita sama-sama mensyukuri hal itu. Artinya, perkiraan saya itu tidak berbahaya akibatnya. Orang hanya akan mengatakan, “Pak perkiraan salah. Lihat ini SBY ke-2 baik-baik saja.” Ya, paling saya sendiri yang “rugi” karena salah kira.

    Tapi bagaimana kalau perkiraan itu benar? Lalu siapa yang mau tanggung-jawab? Anda dan kawan2?

    Di TI kan anda diajari bahasa pemograman yang bermodel “dikotomi”. Setiap keputusan bisa YES, bisa NO. Kalau YES apa konsekuensinya; kalau NO apa konsekuensinya? Ya, sudah ngelotok lah anda soal itu.

    Lho, itu bisa. Caranya dengan membandingkan dengan pemimpin-pemimpin sebelumnya. Itu satu caranya.

    Kalau seorang pemimpin terpilih, lalu rakyat meridhainya, lalu terjadi banyak bencana. Ya, itu kesalahan kolektif. Salah pemimpin yang dipilih, dan salah rakyat yang memilihnya.

    Terus terang saya simpel saja. Saya bandingkan SBY dengan presiden-presiden sebelumnya. Itu saja, mulanya.

    ooo…jadi anda beranggapan dosa sby lebih besar dari dosa – misalnya – soeharto?

    Jawab: Jujur saya mengatakan: Ya! Ini persepsi saya, lho. Sifatnya relatif.

    oke, saya berpendapat dosa soeharto tetap lebih besar. dan saya memang bisa salah. tapi apa anda sendiri nggak mungkin salah?

    belum lagi perkara tentang swiss, lho…

    Jawab: Ya, saya bisa salah. Maklum manusia. Saya kan sudah bilang di jawaban sebelumnya, “Saya tidak sempurna.” Bisa jadi perkiraan saya salah. Toh, maksud saya: Jangan lagi Ummat Islam di Indonesia menderita sengsara akibat aneka rupa bencana itu. Ini upaya kehati-hatian agar bencana tidak menimpa Ummat ini lagi. Apa anda akan disebut salah, kalau khawatir dengan nasib buruk Ummat? Andai tidak ada fakta-fakta mengerikan di jaman SBY, insya Allah saya akan dukung dia jadi presiden lagi.

    Demi Allah, kalau saya di posisi SBY, lalu terjadi bencana Tsunami di Aceh. Saya akan mundur dari jabatan presiden, setelah membereskan dampak bencana Tsunami itu. Saya malu kepada Allah, sebab “ketempatan” bencana alam di negeri yang saya pimpin. Biarpun orang menyuruh saya berlama-lama sampai masa bakti habis, saya tidak peduli.

    masalahnya adalah apa anda bisa menafsirkan dengan tepat, tsunami itu adalah azab atau ujian bagi kepemimpinan anda?

    Jawab: Nanti tunggu tulisan yang sedang disusun. Mohon maaf sekali, belum bisa dijawab disini.

    okelah seandainya itu memang azab, rakyat aceh toh tidak tahu apa2 kalo mereka sudah memilih pemimpin yang salah sampai dengan mereka tertimpa bencana tsunami. nah, apa itu adil? apa adil ketika seseorang belum tahu apa kesalahannya tapi sudah menerima hukumannya terlebih dahulu? apa allah pernah menjanjikan azab yang macam begitu? apa allah pernah menyabdakannya dalam alqur’an? allah cuma menjanjikan azab buat mereka yang nyata2 mendustakan agama allah, kan?

    Jawab: Bencana itu pelajaran untuk semua pihak. Pelajaran bagi yang mengalami, pelajaran bagi pemimpin, pelajaran bagi masyarakat yang menjadi saksi, bahkan pelajaran bagi dunia secara umum. Bisa jadi rakyat Aceh juga memiliki kesalahan, begitu pula bangsa Indonesia, dan para pemimpin politik. Tidak mungkin tanpa kesalahan Allah mendatangkan bencana? Sekarang tinggal dihitung saja, apa saja kesalahan rakyat dan pemimpin ini? Kalau merasa suci, wah itu satu kesalahan lain yang sangat serius.

    Secara etika, seorang pemimpin harusnya malu ketika terjadi bencana di negerinya. Itu saja. Harusnya malu. Sebab Allah tidak mungkin menurunkan bencana secara semena-mena. Maha Suci Allah.

    pendukung firaun nyata2 sudah menyaksikan kebenaran dari musa, dan mereka mengingkarinya. rakyat aceh? mereka belum sempat diperingati (kalo mereka sudah memilih pemimpin yang salah), mereka belum sempat menyaksikan kebenaran (kalo mereka sudah memilih pemimpin yang salah juga), mereka belum tahu kesalahan mereka (lagi-lagi kalo mereka sudah memilih pemimpin yang salah), lalu tau2 langsung ketimpa azab. gitu? kalo gitu, bagi rakyat aceh, mana 2nd chance untuk memperbaiki diri yang dijanjikan sama allah sendiri?

    Jawab: Wah, jadi bertambah panjang masalahnya. Mohon untuk sabar menanti tulisan itu. Insya Allah, kalau saya tidak keburu wafat atau tidak menghadapi kendala, insya Allah akan dijelaskan kajian teologisnya.

    Sekali lagi, FAKTA yang terjadi itu bisa jadi pelajaran. Selanjutkan pikirkan KESELAMATAN masa selanjutnya. Di Indonesia ini aneh, sudah ada FAKTA seperti itu tapi yang bersangkutan masih diidolakan. Jadi sebenarnya, siapa yang belum memberi peringatan? Bencana-bencana kemarin itu bukan peringatan ya?

    Sebab, kalau Allah sudah menakdirkan suatu bencana terjadi di suatu tempat, pasti hal itu karena telah Dia pertimbangkan dengan segala macam konsiderannya. Bisa jadi, terpilihnya saya, ini hanya misal saja, merupakan salah satu konsideran di balik jatuhnya bencana itu.

    Tapi kalau di negeri ini kan pemimpinnya “muka tembok”, atau “muka badak”. Meskipun sudah jelas-jelas menyengsarakan rakyat, masih saja: “Lanjutkan!”

    betul. tapi itu jika dan hanya jika si pemimpin dijamin sama allah 100% bersalah. sedangkan “bisa jadi” bukannya menunjukkan sebuah ketidak-pastian? ingat, tidak ada azab yang datang tanpa peringatan. argumen anda tentang dosa sby, kesalahan rakyat aceh, dan tsunami aceh otomatis gugur.

    Jawab: Ya, masak sih masyarakat seluruh Indonesia tidak diberi peringatan? Coba misal, ini hanya misal, SBY dan partainya jelas sekuler nasionalis; istilah partai demokrat sendiri tidak ada di sejarah Indonesia, itu produk Amrik; SBY sangat mengelu-elukan Obama; SBY mengangkat Sri Mulyani, Boediono, dll. Kebijakan ekonomi SBY pro pasar bebas. Dan lain-lain. Masak sih yang begini tidak kelihatan?

    Benar kata Anda, yang menjadi penyebab itu bukan hanya pemimpin doang. Tetapi rakyatnya juga. Tetapi siapa yang memilih pemimpin itu? Apa dia bisa njumbul sendiri, tanpa tangan rakyatnya?

    balik ke masalah salah-peringatan-ngeyel-azab. nggak adil kalo flowchartnya langsung salah-azab tanpa peringatan dan tanpa 2nd chance untuk memperbaiki diri dulu.

    jadi?

    bagaimana dengan argumen anda?

    tepat atau kurang tepat?

    Jawab: Kalau seorang pemimpin melakukan pengkhianatan besar, itu bisa terjadi. Tetapi alasannya tentu tidak hanya dia. Juga soal kesalahan pihak yang akan “ketempatan bencana”. Bisa saja bencana terjadi di manapun di sebuah negeri, tetapi ditetapkan di suatu tempat dengan Hikmah Allah.

    Jadi kesalahan strategis ada, kesalahan lokal ada. Kalau flowchart-nya lebih kompleks mungkin bisa dipahami. Bukan hanya linear seperti yang anda sebut. Misalnya variabelnya ditambah, ada kualitas kesalahan, akumulasi, serta sisi strategisnya.

    Kalaupun ada riwayat itu tentang pemimpin wanita. Ketika orang Persia mengangkat raja wanita, Nabi mengatakan, “Tidak akan beruntung suatu kaum yang pemimpinnya wanita.”

    riwayat yang ini pun masih ramai diperdebatkan penafsirannya, lho. dan masih banyak ulama yang saling silang pendapat untuk perkara ini. dan lagi-lagi, siapa ulama yang penafsirannya 100% benar, itu semua baru bisa diketahui besok pas di akhirat, kan?

    Jawab: Soal surat ke Kisra Persia yang dirobek-robek itu riwayat yang valid, lho. Maaf agak menyusul itu.

    ada yang berani mengklaim kalo kebenaran cuma milik dirinya sendiri? 😉

    Jawab: Bagaimana pun tulisan atau diskusi ini kan pendapat, boleh diterima boleh ditolak. Namun dalam meyakini satu pendapat, saya meyakininya. Alhamdulillah.

    Tetapi secara fakta memang ada. Yaitu saat bangsa Turki memilih Kemal At Taturk sebagai pemimpin. Maka sejak itu Turki tidak pernah jaya lagi. Malah sampai saat ini mereka terus “ngemis” minta gabung dengan Eropa. Padahal dulu di jaman Islam mereka sangat disegani Eropa.

    Oh ya, satu lagi yang perlu anda renungkan tentang Fir’aun di Mesir. Ini jelas-jelas disebutkan dalam Al Qur’an. Kezhaliman Fir’aun membuatnya ditenggelamkan di laut merah bersama bala tentaranya, bukan hanya Fir’aun sendiri. Fir’aun juga menjadi penyebab datangnya banyak bencana bagi rakyat Mesir, seperti wabah belalang, katak yang banyak, air menjadi darah, dll.

    tidak relevan.

    Jawab: Ya jangan bilang tidak relevan. Nanti semua pelajaran sejarah, harus dihapus deh. Untuk apa sih sejarah? Kan biar kaum di jaman berikutnya bisa mengambil pelajaran. Itu soal mengambil pelajaran sejarah.

    saya sudah menjabarkan argumen saya perihal ini di atas. dan saya masih belum mendapatkan jawaban kalo ada suatu kaum yang tidak bersalah tapi ikut2an menerima azab sebagai bayaran dosa yang diperbuat pemimpinnya. silakan lihat kembali logika saya tentang tsunami aceh

    Jawab: Riwayat itu ada, saya lihat dalam Riyadhus Shalihin. Tetapi memang, masing-masing orang yang jadi korban, kelak dibangkitkan sesuai amal masing-masing. Jadi tidak dipukul rata salah semua. Tidak demikian. Masak dalam bencana Tsunami di Aceh, banyak anak-anak kecil wafat, masak akan disebut durhaka. Bahkan banyak yang shalih, mayatnya tercium aroma wangi. Sekali lagi, kelak dibangkitkan sesuai amal masing2.

    eh ya, bahasan kita jadi melebar gini, kan? well, ternyata masalah sby sendiri berdosa atau tidak, rakyat ikut berdosa atau tidak pun masih bisa dibahas dengan sangat panjang, kan? karena itu saya bilang: poin pertama tulisan anda di atas adalah sebuah kesimpulan yang terburu2. nggak bisa sesimpel itu. ada banyak parameter yang harus dikaji dan diambil

    Jawab: Ya, ini bagian dari kelemahan komunikasi seperti ini. Kalau saya jabarkan sampai tuntas, dengan ijin Allah, tulisan saya itu menjadi “terlalu berat”. Maka dibutuhkan penjelasan tambahan khusus soal itu. Kapan itu? Doakan segera bisa dimuat. Percaya atau tidak percaya? Ya, saya tawakkal kepada Allah.

    Tapi sebagai pendapat, saya hormati kesimpulan anda. Hanya diskusi ini menjadi tidak enak, ketika anda membuka dengan “opening” soal “ngakak” itu. Maka, selanjutnya terjadi saling serang yang mungkin tidak nyaman dilihat. Andai anda berpendapat dengan cara selembut kalimat terakhir itu, sungguh tidak layak disia-siakan. Saya akan menyambut baik semampunya.

    Tetapi bagaimanapun, mohon dimaafkan kalau dari semua ini anda merasa saya memiliki sekian banyak kesalahan. Sekali lagi mohon maaf, semoga Allah mengampuni dosa-dosa saya. Allahumma amin.

    AMW.

  75. Saya tidak selalu periksa setiap data para komentator. Di situs itu jelas anda seorang laki-laki. Tapi saya hanya mendapat sedikit data di situs anda. Jadi apa-apa yang saya tanyakan belum semua terjawab. Tapi yakin, anda laki-laki. Soal foto jilbab yang anda pakai, bagi saya itu sebuah cela. Mengapa pakai foto wanita, padahal anda punya foto sendiri. Paling tidak pakailah foto netral, missal benda-benda, alat, senjata, atau apalah. Hal seperti ini sungguh tidak terpuji dilakukan seorang laki-laki.

    sedikit? anda yakin? anda sudah explore blog saya? wong ada halaman about-nya, kok. kalo sudah yakin saya laki-laki ya sudah. tentang saya pake foto wanita, oui, itu hak saya, donk. kenapa anda anggap cela? ada aturan tentang hal itu? ini subyektif sekali.

    lagipula, apakah saya laki-laki atau perempuan sekalipun, apa itu lantas jadi berhubungan dengan argumen saya buat anda?

    Ini juga kalimat munafik. Anda meminta maaf, tetapi lalu menuduh orang lain rancu dalam memahami. Seolah yang bisa paham dengan baik, hanya Anda saja.

    menuduh? saya pake “kalo”, lho. “kalo” itu adalah kata syarat 😛

    Lagi-lagi anda berkata kasar. Sekarang menuduh saya ngaco. Betapa banyak anda menyerang saya soal ad hominem. Tetapi saat yang sama anda tunjukkan cara terbaik meng-ad hominem orang lain.
    Seburuk-buruk pemahaman saya tentang premis bencana dan konklusi kepemimpinan SBY itu, setidaknya ada dasarnya dari Al Qur’an. Sedangkan anda “mengacokan” pandangan saya dengan tidak menunjukkan komparasi pandangan yang layak. Anda hanya berputar2 di soal ad hominem.

    yang saya bilang kaco apanya? tulisan anda, kan? premis anda, kan? masalahnya, tulisan anda memang ngaco atau nggak? saya bicara fakta yang masih dalam konteks langsung pembahasan. kalo yang saya bilang kaco adalah otak anda, barulah itu namanya saya berkata kasar kepada anda.

    dan, dasar alqur’an yang anda pegang pun ternyata penafsirannya masih bisa dibahas panjang, kan? premis yang tanpa pondasi jelas itulah yang saya bilang ngaco.

    Lagi-lagi anda mengulang soal ngaco. Tapi dari sini saya akan coba tulis secara tersendiri hubungan antara pemimpin dengan bencana alam. Anda anggap itu “fallacy” sebab memang terlalu ringkas untuk anda pahami uraiannya. Tapi saya janji akan tulis soal itu dalam waktu dekat.

    sebelumnya, biar nanti nggak salah-salah lagi, saya sarankan bukunya madsen pirie dibaca dulu. ada versi bahasa endonesanya kok. judulnya “rahasia selalu menang berargumentasi: penggunaan dan penyalahan logika”.

    yeah…biar anda bisa menerapkan premis dan kesimpulan yang sejalan untuk tulisan anda berikutnya saja.

    Ya, andai saya dianggap telah melakukan hal itu, saya memohon maaf. Ya, ini peringatan bagi saya agar lebih hati-hati. Terimakasih sudah diingatkan.
    Hanya masalahnya, sekali waktu anda berdiri di soal “premis-konklusi” yang ngaco, tetapi nanti berpindah ke soal ad hominem. Terus terang lumayan juga mengikuti gaya diskusi anda.

    bagaimana kalo saya sederhanakan jadi begini:

    1. premis dan kesimpulan yang salah adalah yang anda tulis pada poin pertama;

    2. ad hominem adalah gaya anda dalam berargumen ketika menjawab komentator yang kebetulan memiliki pandangan berseberangan dengan anda.

    see?

    anda melakukan kesesatan logika pada tulisan awal anda sendiri, dan anda melanjutkannya dengan kesalahan logika lagi ketika membalas sanggahan para komentator anda demi mempertahankan kesalahan logika awal yang sudah anda buat sebelumnya. that’s it.

    Lho itu ada hubungannya. Dalam masalah-masalah kecil saja Anda begitu peka dengan soal ad hominem dan fallacy. Namun dalam soal “foto cewek berjilbab” itu, mengapa ia dipandang sederhana?
    Ini kan bukti, bahwa anda ingin dipahami secara sempurna. Tetapi soal sikap anda sendiri yang tidak patut dalam soal avatar itu, Anda anggap biasa-biasa saja.

    😆

    apakah foto bakal mempengaruhi kualitas argumen saya? oh, come on…bahas saja argumen saya tanpa mengait-ngaitkannya dengan hal lain yang tidak berhubungan.

    fokus ke konteks bahasan kita, donk. kalo anda ngotot mempermasalahkan foto saya lagi, oui, ini jenis fallacy juga; namanya red herring :mrgreen:

    Oke saya sudah baca refrennsi itu, meskipun baru sekilas. Mari kita terapkan dalam konteks diskusi di blog ini! Taruhlah saya melakukan ad hominem kepada komentator-komentator tertentu. Andai itu dibawa ke “mekanisme hukum”, bagaimana menilainya? Secara informasi, identitas saya jelas. Sedangkan para komentator itu bagaimana? Apakah mereka juga memiliki identitas yang jelas?

    kembali lagi pada komentar saya jauh sebelum ini: tidak peduli kepada siapa anda melakukan kesalahan logika, ketika anda melakukannya maka anda sudah melakukan kesalahan logika.

    kesalahan logika bukanlah menjadi sebuah kebenaran ketika anda melakukannya untuk komentator yang tidak jelas identitasnya. begitu pula sebaliknya.

    kenapa anda harus berfallacy kalo anda mampu untuk tidak berfallacy?

    Lho, soal kejujuran itu tidak tergantung masalah domain gratis atau bayar. Kejujuran itu bisa di domain wordpress dan lainnya, sementara kebohongan juga bisa di domain bayar. Jangankan soal KTP, passport saja bisa dipalsukan kok. SIM, STNK, juga bisa dipalsukan, ijazah juga bisa. Itu ada kasus-kasusnya di masyarakat.
    Soal kejujuran itu bukan masalah domain gratis atau tidak, tetapi isi data yang dimasukkan dalam suatu instrument online.

    lalu kenapa sebelumnya anda sendiri bisa yakin dan mengatakan jati diri saya nggak jelas? 😉

    kalo cara berpikir anda seperti ini, saya juga bisa bilang, “siapa tahu aja yang anda cantumkan itu bukan foto anda sendiri, nama yang anda pakai bukan nama anda sendiri.”

    nah, saya juga bisa, kan, berpikir seperti itu?

    look… apapun itu, setidaknya saya melalui sebuah birokrasi yang jauh lebih kompleks dan formal daripada anda ketika memutuskan untuk memiliki sebuah blog. yang artinya, saya melalui sebuah proses di mana di dalamnya lebih susah lagi kalo kita ingin melakukan pemalsuan sebuah identitas. punya blog berbayar tidak sesimpel punya blog gratisan.

    maka, ketika parameter keduanya saja sudah jauh berbeda, tentu saja anda tidak bisa langsung membandingkannya dengan sesuka anda tanpa melihat parameter-parameter yang ada dan berlaku.

    Terus terang saya bukan tipe orang yang menertawakan orang lain, kalau tidak ada alasan yang patut. Toh asalnya kita beda pendapat soal “SBY dan bencana alam”. Beda pendapat boleh tidak ya? Boleh kan? Artinya, kalau Anda tidak setuju pandangan saya. Anda tinggal tulis pandangan pembanding, dan mari diskusi dengan baik. Mengapa belum apa-apa sudah dimulai dengan “ngakak”?

    kalo mau gampang-gampangan, anda sendiri juga belum apa-apa sudah ngecap sekuler dan freemasonries untuk perkara yang masih bisa jauh diperdebatkan?

    Dan harusnya, seorang Muslim itu memiliki kesopanan pada ayat Al Qur’an. Andai saya salah membuat intepretasi, setidaknya yang sopan lah kepada Al Qur’an. Anda bisa tulis pandangan lain yang bias jadi lebih tepat. Terus terang, di mata saya, anda ini sangat arogan orangnya. Oleh itu saya ingin melayani anda sekuat kemampuan, kalau Allah kehendaki.

    kesalahan logika mendasar seperti itu buat saya adalah hal yang lucu. jadi tidak bolehkah saya tertawa? ketika anda berniat membahas hal-hal yang kompleks seperti yang anda bahas ini, sewajarnya kalo anda meminimalisir kesalahan logika anda. kalo tidak? ya jadi lucu. jadi bahan tertawaan orang. itu wajar.

    saya geli setengah mati ketika membaca tulisan anda. dan nampaknya yang geli bukan cuma saya aja, kan? :mrgreen:

    Sudah saya buka dan baca, meskipun tidak detail. Secara umum saya paham yang dimaksud disana, insya Allah. Terimakasih sudah dibantu memahami.

    sama-sama. selebihnya, saran saya, cobalah untuk lebih mendetail, karena apa yang masih anda permasalahkan sampai sekarang seharusnya bisa terjawab di sana. pranala luar dari tiap-tiap halaman yang saya ajukan – kalo perlu – anda perhatikan juga.

    Sudah saya buka dan baca, meskipun tidak detail. Secara umum saya paham yang dimaksud disana, insya Allah. Terimakasih sudah dibantu memahami.

    Oke, saya sepakat dengan etika yang baik dalam diskusi. Hal itu sesuai anjuran Al Qur’an: Wa jaadil hum billati hiya ahsan. Oke saya terima hal-hal yang baik, selama tidak bertentangan dengan Syariat Islam.
    Lalu bagaimana dengan penghinaan Anda sendiri, seperti: ngakak, rancu, ngaco, dan lain-lain itu? Apa hal tersebut dimuat dalam etika blogging tersebut.
    Terus dengan sikap anda, memakai avatar orang lain yang berbeda gender. Apa itu juga diatur dalam etika tersebut?
    Kalau tidak diatur, wah berarti saya yang malang. Hanya saya yang bisa kena “delik” etika tersebut, sementara orang lain yang saya anggap tidak patut bisa bebas lepas.
    Jadi, sebelum “mengetikakan” orang lain, lihat dulu diri sendiri.

    anda memulai red herring lagi, eh? :mrgreen:

    yang saya maksud sebagai etika blogging kali ini konteksnya adalah perkara kopi-peist tulisan orang lain. saya memberi link ke blog milik bang fertob karena saya mengopi tulisannya. jadi supaya saya tidak dianggap menyalahi etika blogging, ya saya sertakan link url asalnya.

    tentang penghinaan saya, hei, apa yang saya “hina” adalah argumen anda, kan? saya toh tidak melakukan penghinaan secara personal ke diri anda yang tidak ada hubungannya dengan argumen itu sendiri.

    beda dengan anda yang mempermasalahkan foto, domain, dan segala hal yang tidak ada hubungannya dengan argumen itu sendiri.

    Nah, ini salah satu bukti kebodohan Anda. Sungguh, suatu bukti valid yang tidak diragukan lagi. Ketika Anda mengakaki tulisan saya, sebenarnya saat itu anda sedang mengakaki penulis tulisan tersebut. Contoh, anda memaki makanan, “Makanan ini busuk, basi, tengik, pahit, seperti racun!” Pada saat yang sama anda sedang memaki pembuat makanan itu sendiri. Iya kan? Kalau yang membuat makanan mendengar makian anda, dia bisa marah. Kalau kita memaki sebuah produk, saat yang sama kita sudah memaki produsennya. Ini logika sederhana yang dipahami sekalipun oleh anak kecil.
    Soal hubungan antara “SBY dan bencana” sungguh tidak bisa saya muat dalam diskusi di topic ini, sebab akan terlalu panjang. Cobalah bersabar sebentar. Insya Allah akan saya tulis pembahasan yang lebih baik, agar anda tidak menuduh saya fallacy.

    itu memang sifat dasar manusia. itu bisa dimengerti. saya pahami itu. tapi ketika masakannya memang nggak enak, ketika produknya memang keliru, ya seharusnya terima saja kesalahannya, terutama kalo pembahasan kesalahannya itu tidak meluber ke hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan konteks yang sedang dibahas.

    silakan marah. tapi marahlah secara proporsional. kalo dikatakan masakan anda nggak enak, ya nggak usah nyeret ke, “anda bilang masakan saya nggak enak, anda pasti sekuler. saya sarankan anda cepat-cepat bertobat.”

    hei, saya sekuler ataupun bukan, itu nggak ada hubungannya dengan konteks pembahasan. karena apa? karena ketidak-enakan masakan anda itu bisa juga dibahas sama orang yang tidak sekuler sekalipun.

    e sama dengan em ce kuadrat tetaplah berlaku sebagai e sama dengan em ce kuadrat ketika itu dilontarkan oleh seorang anak esde sekalipun, ketika itu dikatakan oleh mereka yang bukan einstein.

    lihat argumennya, bukan lihat siapa pelontar argumennya. serang argumennya, dan jangan pula serang siapa homo sapiens di balik argumen itu. sekalipun saya ini seorang alien dari planet namec, pribadi saya tidak ada sangkut-pautnya dengan argumen yang saya keluarkan; apalagi cuma masalah gravatar dan domain.

    Maksud saya. Saya sering berhadapan dengan user-user kamuflase, yang ada suaranya, tetapi tidak jelas pemilik suara itu. Nah, user-user kamuflase itu tidak semuanya sopan. Banyak juga yang sangat offensive. Nah, dalam pengalaman itu, apa yang anda persoalkan tersebut belum ada apa-apanya. Coba buka track diskusi saya dengan kalangan Salafi.
    Begini, secara umum saya tidak suka sikap offensive. Saya baru offensive pada beberapa kondisi: a. menghadapi orang arogan; b. lawan bicara saya memulai dahulu melakukan serangan; c. lawan bicara saya orang fanatic yang tidak mau menerima kebenaran, meskipun berbagai argument sudah dikemukakan.
    Kan dalam surat Al Ankabut itu sudah dijelaskan, “Janganlah berdebat dengan ahli kitab, melainkan dengan cara yang baik. Kecuali terhadap orang-orang zhalim di antara mereka.” Ini patokannya etika debat Islami.

    lihat-lihat offensenya ke arah mana, donk. ke arah argumen anda atau ke arah pribadi anda 😉

    Untuk kesekian kalinya anda melakukan ad hominem. Artinya, anda merasa sebagai mutu ummat terbaik yang bisa mengulang kejayaan Islam masa lalu. Sementara orang seperti saya dan semisalnya, dianggap “tidak mutu”. Ini ad homimen bukan?
    Terus terang kalau menghadapi orang yang kesatria, saya suka. Tapi menghadapi orang-orang sakit seperti ini, cukup capek juga. Dia ingin orang lain sempurna, pada saat yang sama dia memiliki sekian banyak cela yang tidak layak. Laa haula wa laa quwwata illa billah.
    Ya Allah perbaiki hatiku dan hati Mas Satrianto ini agar lebih lembut dan cepat menyambut kebaikan-kebaikan dari-Mu. Allahumma amin.

    bukan. saya malah prihatin.

    mengandalkan fallacy ketika mendebat argumen seseorang memang sebuah hal yang nggak mutu. jadinya ya saya prihatin sekaligus mengakui fakta kalo umat islam masih banyak yang nggak mutu. ya pantas aja jadinya umat islam sendiri nggak maju-maju.

    kalo modelnya kayak gini terus, ya sampai kapan juga kejayaan islam cuma tinggal kenangan, terlepas apakah saya termasuk dalam golongan itu atau bukan.

    saya memiliki cela atau bukan, itu tidak bisa dijadikan sebuah alasan kalo anda sah-sah saja melakukan kesalahan. itu bukan pembenaran untuk fallacy yang anda lakukan. meskipun saya ini seekor anjing, ambillah kebenaran itu dari mulut seekor anjing sekalipun.

    lagipula, saya sendiri sebisa mungkin menghindari fallacy, kok P

    Ya itu, anda menuntut saya sempurna. Sampai setiap kalimat yang saya tulis, anda nilai apakah ia ada unsure ad hominem dan fallacy-nya. Sungguh, kalau terhadap setiap kalimat dalam diskusi di internet anda berlakukan cara itu, anda bisa gila. Kita santai saja, man. Tetapi anehnya, anda tidak merasa kalau berkali-kali menghina orang lain (saya).

    ketika anda memang membahas hal-hal yang tidak ada sangkut-pautnya dengan argumen saya, jadi saya harus diam saja?

    saya memang tidak merasa menghina anda. kalopun menghina, yang saya “hina” adalah produk anda, bukan pribadi di balik si pembuat produk. saya ndak pernah mempermasalahkan blog anda ini gratisan atau berbayar, foto anda itu palsu atau nggak. sebisa mungkin saya hindari segala hal yang tidak berhubungan seperti itu.

    ini cuma masalah pembiasaan diri ketika berdiskusi aja, kok. makanya saya sarankan kepada anda supaya membaca buku yang saya ajukan.

    tentang diskusi di internet, apakah kalo mereka salah dalam berlogika maka kita juga harus ikut-ikutan salah? ini bukan tentang bisa gila atau tidak. ini tentang bagaimana kita membiasakan diri untuk tidak berfallacy ketika berdiskusi; bukan malah ikut-ikutan cara diskusi yang salah meskipun itu jamak dilakukan.

    Saya sudah melihat situs yang anda tunjukkan, tetapi hanya sedikit data yang saya dapat. Hanya nama, dan kuliah di UGM. Data-data lain tidak tahu. Mungkin kalau saya periksa ke tempat anda daftar domain, mungkin saya bisa tahu. Lagian untuk apa serumit itu?
    Apa sih susahnya anda berterus terang di depan pembaca blog ini? Apa salahnya? Toh, anda mengakui bukan orang “kamuflase”. Harusnya mudah kan. Ya, tinggal sebut saja data-data yang diminta. Cuma itu kok. Tapi ini mbulet gak karuan.
    Anda itu pelit. Orang lain meminta kejelasan, anda suruh cari sendiri. Ya Ilahi ya Rabbi, itu sikap arogan yang tidak patut. Mengapa anda tidak memudahkan orang lain. Toh, saya sudah coba lihat situs anda, ternyata datanya sedikit sekali. Misal, anda sangat menyukai Saskia Mecca, lalu ada foto dia di situs anda itu.

    pertama, saya pelit? kalopun iya, itu hak saya tho? toh tidak ada hubungannya antara data diri saya dengan argumen yang saya berikan, kan?

    kedua, saya berniat membiasakan kepada anda untuk fokus pada pembahasan, bukan pada siapa manusia di balik pembahasan itu, bukan pada hal-hal yang nggak ada hubungannya dengan pembahasan.

    ketiga, ketika anda menginginkan sesuatu, ya usahakanlah sendiri hal itu. tidak semua orang mau jati-dirinya diumbar-umbar. jadi kalo anda meminta jati diri saya, silakan anda yang berusaha sendiri, toh sudah saya berikan cluenya.

    keempat, anda sudah klik semua link yang ada di situs itu? anda sudah klik “blog” kemudian tunggu sampai semua halaman terload dan lalu mengklik “about” di blog saya? duh, jadi saya harus menuntun satu-persatu seperti itu yang anda maui?

    Nah, itu dia model cara berpikir keliru. Saya butuh data, anda suruh cari sendiri. Pas dilihat di situs anda, hanya minim. Terus saya disuruh cari di google, cari orang “yang legendari”. Amit amit deh nuruti nafsu orang arogan macam gitu. Buang-buang waktu menyelidiki anda untuk membuktikan bahwa anda orang terkenal di dunia internet.

    saya nggak memaksa anda untuk melakukan itu, kok. kalo nggak mau ya sudah. toh niat saya memang ingin supaya anda tidak berrepot-repot dalam perkara jati diri saya, tapi lebih fokus ke apa yang sedang dibahas 😀

    Anda itu sungguh mbulet orangnya. Kalo dibahas soal premis dan konlusi, anda akan lari ke soal ad hominem. Kalau dilayani soal ad hominem, anda lari lagi ke soal premis-konklusi. Begitu terus-menerus. Ya Ilahi ya Rabbi, kok ada orang seperti ini. Sehari-hari dia makan apa saja ya, kok out putnya seperti ini?

    saya perjelas lagi:

    apakah ada hubungannya apa yang saya makan dengan argumen saya? ini fallacy. anda mempermasalahkan sesuatu yang di luar apa yang sedang kita bahas.

    premis-konklusi dan ad hominem, lalu kenapa saya membahas itu, itu sudah saya bahas sebelumnya. silakan scroll up ke atas.

    Lho, anda harus fair juga. Namanya diskusi, ya kita harus berani komparasi. Ini kan diskusi public, ya kita komparasi dengan diskusi lain. Cara diskusi yang sangat “sensitive” seperti yang anda lakukan itu sulit ditemukan. Apalagi di internet. Tapi setidaknya, anda terapkan dulu sikap etik itu ke diri anda sendiri. Jangan menuntut saya harus sempurna, sementara anda sangat arogan, sering menghina orang (saya). Dari jawaban-jawaban anda itu sudah jelas tampak, bahwa hati anda memang sakit.

    tidak ditemukan?

    hahaha, saya bisa maklum. tidak ditemukan karena sangat sedikit diskusi yang terjadi tanpa fallacy. tapi fallacy ya tetap fallacy. lumrah dan jamak bukan berarti benar, lho.

    lagipula, apa yang mau anda komparasikan? wong saya bilang: saya cuma mau mengoreksi cara anda berlogika, kok. sudah saya tegaskan di atas, kan, apa yang mau saya bahas? kalo logika anda sudah benar, ya sudah, habis perkara. tidak akan ada lagi pertanyaan dari saya. beres, kan?

    mengomparasikan sesuatu yang benar dan yang salah, gitu? lalu kemudian karena yang salah sudah jamak dilakukan maka anda merasa hal itu sah-sah saja dilakukan?

    Lho, anda mengatakan saya melakukan justifikasi sepihak. Ini kan merupakan vonis. Darimana kebenaran konklusi anda itu? Tentu dari penilaian anda sendiri. Tetapi apakah saya telah setuju dengan tuduhan anda itu? Atau apakah saya nyaman dengan tuduhan anda itu? Jelas tuduhan anda pun sepihak, belum dibuktikan. Ini ad hominem juga.

    anda lupa ketika anda mangatai saya sebagai sekuler dan menyarankan supaya saya cepat-cepat bertobat? anda lupa dengan kalimat anda yang “Saya yakin, orang-orang seperti Anda ini termasuk sekularis“?

    perlu saya quote-kan di sini?

    Maksud saya, orang yang tidak mempercayai hubungan antara dosa manusia dengan keadaan masyarakat, itu tidak percaya dengan pandangan Qur’ani yang sangat banyak menyebutkan keterkaitan antara dosa dan nasib manusia di dunia. Nah, banyak di kalangan Muslim ini yang tidak percaya hal itu. Mereka anggap bencana-bencana hanya fenomena alam biasa. Padahal dalam Surat Al An’aam, Al A’raaf, Hud, dan lainnya banyak dibahas tentang bencana-bencana yang menimpa manusia karena dosa-dosanya.
    Cara berpikir anda ketika menepiskan poin pertama dari saya, yang anda sebut “premis dan kesimpulan” itu, seperti pemikiran banyak orang tersebut. Tentu saya tidak mengatakan ke anda: Kamu seorang sekuler! Hanya mengingatkan, agar kita hati-hati dalam mengingkari pandangan Al Qur’an tentang “bencana dan dosa” itu.

    Tapi secara umum, memang masalah ini perlu dijelaskan lebih jauh. Maksudnya, tentang hubungan antara “bencana dan dosa manusia”. Kalau pembahasannya sempit seperti saat ini, memang peluang salah paham sangat tinggi. Insya Allah hal itu akan saya jelaskan, dengan memohon pertolongan Allah.
    Kalau kemudian saya disebut melakukan justifikasi sepihak, okelah saya memohon maaf. Dan saya cabut pernyataan saya tersebut.

    saya maafkan, kok 😉

    Nah, ini bertambah lagi. Mula-mula “ngakak”, lalu rancu, rancu ngaco, sekarang ngawur. Ini anda katakana sendiri lho ya, banyak yang menjadi saksinya.
    Anda ingin saya bersikap sangat etik, sementara anda melakukan hal yang sangat tidak etik. Dalam hal seperti ini, anda maunya saya ngertiin anda terus; sementara anda tidak menunjukkan sikap seperti orang terpelajar yang layak dihargai.

    memang. tapi sekali lagi, yang saya serang adalah produk anda, bukan pribadi anda. saya juga punya buktinya, kok. saksinya juga. saksinya…ya semua yang membaca tulisan kita ini.

    Tidak wahai saudara, tidak seperti sangkaanmu. Jadi, ceritanya, anda ini baru masuk blog LANGIT BIRU. Setahu saya anda baru masuk. Wallahu A’lam kalau sudah lama.
    Belum apa-apa anda komentar langsung menyerang saya dengan kalimat, “Saya ngakak.” Terus terang, jarang pengunjung sini yang berbuat seperti itu. Nah, itu awalnya yang membuat saya langsung tidak simpatik dengan anda. Sungguh kata-kata “ngakak” itu merupakan penghinaan. Saya tidak mau dengan kata seperti itu. Kalau memang tidak setuju oke, mari diskusi baik-baik, bukan langsung offensive begitu.

    kalo begitu, apa tujuan anda melakukan hal-hal yang seperti anda lakukan kepada saya itu?

    tapi okelah, kalo anda nggak suka, saya mohon maaf. mungkin saya memang kasar ketika menyerang argumen anda (walopun itu tidak ditujukan pada pribadi anda). tapi ijinkan saya membela diri…

    kekasaran saya yang anda nilai itu cuma sebagai reaksi atas tulisan anda yang saya anggap menggampangkan keadaan, ditambah tuduhan bahwa orang-orang yang tidak percaya kepada anda juga anda katai dengan kasar: “Hanya orang sekuler, freemasonries, atau atheis yang tidak percaya hubungan antara dosa-dosa manusia dengan bencana yang terjadi di sekitarnya.”

    Coba diingat. Anda kan baru dalam komentar ini member link soal ad hominem dan fallacy. Sementara jawaban saya itu sudah muncul sejak awal, sebelum anda member link-nya. Iya kan?

    memang. tapi jawaban saya itu saya sertakan sekaligus bersamaan dengan link yang saya ajukan. letaknya di bagian atas sebelum jawaban saya tersebut.

    jadi maksud saya adalah saya mempersilakan anda untuk membaca link yang sudah saya berikan secara bersamaan itu.

    Iya, jawaban rincinya tidak bisa dikemukakan sekarang. Nanti insya Allah akan dijawab dalam tulisan yang relevan. Kalau disini, terlalu panjang.

    saya tunggu.

    Mungkin tepatnya melakukan ad hominem, bukan fallacy. Itu ad hominem juga lho, dalam arti meremehkan, atau mengangkap sepele argumentasi orang lain. Ya, semua orang yang baca bisa berkesimpulan buruk tentang apa yang saya kemukakan.

    maaf, bolehkah saya berkesimpulan kalo sangat disayangkan anda tidak membaca benar-benar link yang saya berikan.

    ad hominem adalah fallacy juga. ianya adalah salah satu bentuk dari fallacy tersebut.

    dan, ad hominem bukanlah meremehkan.

    Ya, lebih tepatnya ad hominem secara halus. Sebab kalau tanggapan anda bersih, pasti anda tidak akan memakai kata-kata yang bernada meremehkan itu.

    sekali lagi, ad hominem dan meremehkan itu berbeda. saya tentu tidak berad-hominem karena saya tidak menyertakan apa yang disebutkan dalam definisi ad hominem ke dalam kata-kata saya, meskipun kata-kata saya anda nilai sudah meremehkan anda.

    Lho, memang faktanya banyak kok komen-komen anda yang menghina saya. Coba baca ulang jawaban saya di bagian ini. Soal Soeharto, kan anda mulai “ngeles”. Padahal itu nyata kan. Mengapa bukan anda yang menuntut Soeharto ke pengadilan sewaktu dia hidup, bahkan saat ini pun masih bisa? Kalau mengikuti standar etika anda, anda sudah jatuh dengan modal komentar anda sendiri.

    saya tuntut soeharto ataupun enggak, kan, nggak ada hubungannya dengan anggapan anda kalo kesalahannya sby lebih besar dari soeharto.

    see?

    anda memasukkan sesuatu yang tidak berhubungan dengan argumen saya ke dalam argumen balasan anda. saya tuntut soeharto ataupun tidak, itu nggak ada hubungannya dengan bahasan tentang kesalahan soeharto. apa kalo tidak saya tuntut maka soeharto lantas tidak bersalah sebesar sby? apa saya baru berhak bicara soeharto bersalah lebih dari sby kalo saya sudah menuntut dia?

    dan sekali lagi, yang saya “hina” adalah produk anda 😀

    Maksud saya, kesalahan manusia pasti ada, termasuk Soeharto. Tetapi ada kesalahan-kesalahan fundamental yang bisa dilakukan seorang pemimpin. Misalnya, saat Soekarno melindungi eksistensi PKI, itu sangat fundamental. Dan SBY itu memiliki kesalahan-kesalahan fundamental, soal kebijakan dia yang pro asing. Ya, kalau kesalahn-kesalahan jelas ada, tetapi kesalahan fundamental tidak selalu ada di setiap pemimpin.
    SBY pernah mengatakan ke stasiun Aljazeera, “America is my second country. I love it with all of it faults.” Kurang lebih seperti itu. Data ini bisa dicari di internet. Di kalangan aktivis Islam, ini sudah dikenal. Ini salah satu kesalahan fundamental dia.

    jadi habibie, gus dur, dan mega tidak anda anggap memiliki kesalahan fundamental? oui…saya jadi heran.

    perkara kata-kata sby, apa lantas kalo saya ini juga mencintai amerika lalu anda katakan saya juga bersalah? bagaimana dengan muslim-muslim amerika yang juga mencintai negaranya?

    lagipula, kalo mau membicarakan masalah data di internet tersebut, apakah data tersebut bisa dijamin benar? ini toh perlu pengkajian lebih lanjut lagi.

    Makmurnya Swiss itu karena dia menjadi pusat keuangan dunia, menjadi pusat lalu lintas keuangan. Ini seperti negara Singapura. Anda tahu sendiri, pemegang kendali keuangan itu adalah Yahudi. Jadi makmurnya Swiss lebih karena system ribawi Yahudi.
    Itu yang pertama. Kemudian, perlakuan Allah kepada negeri Muslim berbeda dengan negeri kafir. Kerap kali negeri kafir diberi kemakmuran besar, seperti kaum-kaum di masa lalu yang membangkan kepada para Nabi dan Rasul, seperti kaum Aad, Tsamud, Madyan, Sodom, dan lainnya. Rata-rata ekonomi makmur. Kalau mereka tetap dalam kekafirannya, pasti Allah akan menimpakan bala’ dengan segala bentuknya.

    artinya kesimpulan pertama anda otomatis hancur.

    dengan pernyataan anda, seharusnya allah lebih dulu menghancurkan swiss ketimbang endonesa, kan?

    nyatanya?

    kenapa endonesa duluan yang ketimpa bencana?

    Pada dasarnya, setiap dosa manusia ada hukumannya. Hukuman bisa seketika, bisa ditunda. Allah Ta’ala tidak mengingkari janji-Nya. Insya Allah lain kesempatan hal ini akan dibahas lebih jauh.

    bagaimana kalo saya bilang, jangan-jangan ini adalah hukuman atas kesalahan seokarno, atau soeharto, atau habibie, atau gus dur, atau megawati yang ditunda?

    dengan statement anda, belum tentu bencana di endonesa adalah gara-gara sby kan?

    ada apa dengan premis dan kesimpulan anda? kok saling tumpang-tindih?

  76. Bukan hanya saya. Banyak orang tahu tentang kezhaliman Soeharto. Tetapi juga banyak orang mengakui bahwa di jaman Soeharto secara ekonomi dan moral lebih baik daripada jaman sekarang. Tolong deh, baca dulu tulisan-tulisan saya tentang Soeharto, misalnya: “Menghargai Jasa Seorang Muslim”.

    Kalau mencari seorang pemimpin yang bersih dari salah, jelas di Indonesia tidak ada. Hampir setiap pemimpin memiliki “koleksi” kesalahan-kesalahan. Itu sudah dimaklumi.

    jadi kenapa anda gampang sekali mengambil kesimpulan tentang sby?

    secara ekonomi dan moral? denga menyisakan hutang yang bertumpuk? dengan penghilangan orang-orang yang kritis pada pemerintahannya?

    saya sudah baca tulisan anda. bagaimana kalo sekarang anda baca juga tulisan saya tentang soeharto?

    Katakanlah, premis dan konklusi saya keliru. Misalnya demikian. Katakanlah seperti itu dulu. Lalu bagaimana dengan komparasi kepemimpinan setiap Presiden? Coba menurut Anda, apakah presiden-presiden sebelumnya mengalami bencana-bencana mengerikan seperti di jaman SBY?

    Saya sudah siapkan kajian khusus tentang masalah “Pemimpin dan Bencana” ini. Mohon sabar sejenak. Dan disana akan saya jelaskan, bahwa tidak ada konklusi yang keliru. Hanya sekali lagi, Anda terlalu simple memahaminya.

    memang tidak. tapi apa itu lantas bisa langsung dijadikan sebuah parameter? bagaimana kalo seperti kata-kata saya sebelumnya?

    “bagaimana kalo saya bilang, jangan-jangan ini adalah hukuman atas kesalahan seokarno, atau soeharto, atau habibie, atau gus dur, atau megawati yang ditunda?”

    Setiap dosa pemimpin itu ada balasannya. Allah tidak akan mengingkari janji-Nya untuk membalas orang-orang durhaka. Hanya saja, ada yang salahnya kecil, sedang, dan ada yang fundamental. Kesalahan SBY menurut saya sangat fundamental. Apa itu? Dia mempekerjakan pejabat atau mantan pejabat IMF di tim ekonominya. Padahal IMF itulah biang kehancuran negeri ini sejak 1997. Jadi ini dosa pengkhianatan berat.

    yang menurut anda itulah yang saya bilang premisnya keliru, karena tentang hal itu sendiri masih bisa diperdebatkan dengan sangat panjang. makanya saya bilang keputusan anda terburu-buru.

    Dengan memahami kondisi buruk yang dialami Ummat Islam saat ini di bawah SBY, saya haqqul yakin SBY lebih buruk dari Soeharto. Faktanya, selama 32 tahun Soeharto hutang negara mencapai 1400 triliun. Tetapi selama 5 tahun SBY, hutang negara sekitar 400 triliun. Ini baru satu data saja.

    nilai 1400 trilyun jaman dulu dan 400 trilyun jaman sekarang nggak sama, lho. anda nggak memperhitungkan bagaimana nilai ekonomi terus bergerak?

    katakanlah duit 50 perak pada jaman dulu dan jaman sekarang, apakah sama?

    lalu, misalnya lagi, kalo saya beli rumah seharga 50 juta waktu jaman dulu, maka apa itu logis untuk saya jual lagi seharga 50 juta juga? di mana nilai pertumbuhannya?

    dan lagi, bagaimana kalo nilai utang sebanyak itu didapat juga gara-gara utang sebelum-sebelumnya sejak jamannya pak harto?

    Berbagai pertanyaan Anda seputar bencana ini sudah saya jawab, hanya dalam tulisan terpisah. Mohon sabar menunggu.

    oke.

    Ya, sabar menunggu.

    oke.

    Harus dibedakan antara “menafsirkan” dengan “berdalil”. Untuk menafsirkan dibutuhkan perangkat-perangkat yang banyak. Namun untuk berdalil itu lebih leluasa. Karena kaidahnya, pelajaran dalam Al Qur’an itu diambil dari lafadz umumnya, bukan sebab khususnya. Tentu saja, dalam berdalil tidak ada kepastian kebenaran pendalilan itu. Yang pasti-pasti hanya penafsiran Nabi Saw. Tetapi berdalil itu boleh.

    dan artinya anda juga memiliki kans untuk salah, kan?

    maka kenapa kans untuk salah itu tidak anda jadikan pertimbangan dahulu sebelum membuat suatu rumusan yang anda anggap baku?

    lebih lanjut, kenapa anda tidak terima kalo ada orang yang mengkritisi rumusan anda?

    Ya Allah, Anda ini sok arogan orangnya. Kalau Anda mempermasalahkan premis-kesimpulan saya, mengapa tidak anda buat pandangan pembanding? Siapa tahu pendapat anda itu lebih baik. Ini tidak, muter-muter saja soal ad hominem, nanti ke premis, lalu ke ad hominem sendiri, lalu ke premis lagi. Ya Allah, makan apa orang ini sehari-hari?

    ini bedanya saya dengan anda, mungkin. saya nggak berani menentukan dosa sby ini sebagai penyebab bencana alam atau bukan.

    saya makan oatmeal kalo pagi. siangnya makan apa yang dimasak di kantor. malamnya bisa ganti-ganti tergantung saya kepengen makan apa. tapi pada dasarnya saya tetap pemakan nasi. anda mengharapkan jawaban yang seperti itu? 😉

    Saya pun begitu, saya bilang anda “berpemahaman simple”. Anda marah. Tetapi saat yang sama anda sebut saya dengan: ngakak, ngaco, rancu, ngawur, dll. Ya Ilahi, Anda bisa lihat sendiri, siapa sebenarnya yang menerapkan ad hominem dengan sangat konsisten?

    beda. saya bicara dengan – setidaknya – bisa menunjukkan di mana yang saya anggap sebagai kekeliruan anda berdasarkan apa yang memang ada di sini. sedangkan anda berpegangan pada hal yang absurd. kesimpelan pengetahuan saya tentunya belum bisa anda ukur secara obyektif. tapi fallacy yang anda lakukan, wow, itu kelihatan kok di sini.

    Kalau anda “ngakak”-i suatu tulisan, itu sama dengan mengakaki penulisnya. Sebab produk itu tidak bisa dipisahkan dari produsennya. Ini logika yang dipahami sekalipun oleh anak kecil.

    kalo saya bilang produk im2 jelek, apa saya lantas juga mengejek pemilik indosat secara personal?

    sudah saya jelaskan sebelumnya, saya mengkritisi apa yang dia hasilkan tanpa embel2 ke hal2 yang tidak berhubungan dengan apa yang dia hasilkan.

    beda, kan?

  77. pesan saya juga: belilah bukunya madsen pirie dengan judul “rahasia selalu menang berargumentasi: penggunaan dan penyalahgunaan logika” 😀

  78. well, kalo begini…kalo anda sudah tidak mempedulikan lagi tentang perkara penyalahgunaan logika, saya pikir juga tidak ada gunanya saya bolak-balik mengkritisi anda.

    pandangan saya, masalah fallacy toh memang tidak pernah disebutkan secara gamblang di alqur’an. tapi ketika anda menolak cabang ilmu turunan dari alqur’an sendiri, well, saya cukupkan sampai di sini saja pembicaraan saya dengan anda.

    saya seperti berdiskusi tentang implentasi teori relativitas dengan orang yang tidak mau memahami bagaimana rumusan awal teori relativitas itu sendiri.

    itu analoginya.

  79. Presiden AS berkata:

    Mas Joe, ke depannya tak perlu lagi membuat lelah diri dengan menjelaskan jika muncul lagi fallacy, cukup sodorkan saja kalimat dari Imam Ali.ra ini: UNDZUR MA QAALA WA LA TANDZUR MAN QAALA.
    .
    .
    .
    Abi Syakir, jadi kurang lebih demikian. Semangat untuk tidak ber-fallacy, entah itu ad-hominem, red herring, dan istilah-istilah “kafir” lainnya, sudah diwanti-wanti oleh sahabat terdekat Rasul.saw sendiri, apalagi ini dalam rangka beradu argumen, di mana adabul-khiwar mesti dijunjung tinggi dan tidak melakukan/menuliskan hal-hal di luar pembicaraan yang bisa merusak ritme diskusi.

    .
    .
    .
    Nah, silakan dilanjutkan debatnya. Saya menikmati debat antum berdua dari jauh.

  80. abisyakir berkata:

    @ Joesatch:

    Joe, saya coba luruskan masalahnya, meskipun sudah keruh seperti ini:

    – Pertama, anda termasuk “pendatang baru” di blog ini. Ya, itu setahu saya.
    – Kedua, anda mengomentari tulisan “Mengapa Harus Menolak SBY?”, khususnya pada poin 1. Itu hak setiap pengunjung.
    – Ketiga, saat berkomentar, Anda langsung offensif dengan “mengakaki” tulisan yang saya tulis.
    – Keempat, saya merasa komentar anda itu buruk, bernada menghina. Dan ia tidak sesuai dengan standar etika saya. Bahkan dibandingkan komentator-komentator lain, komentar anda itu offensive.
    – Kelima, andai anda berkomentar baik, misalnya: “Saya tidak suka dengan tulisan seperti ini. Ini terlalu subyektif, terlalu memvonis. Ini salah, keliru, kesimpulan bathil.” Meskipun komentar itu keras, tetapi masih ada etikanya. Lha, ini belum apa-apa, sudah “ngakak”?
    – Keenam, terus terang dalam ratusan komentar yang sudah ditulis disini, insya Allah saya orangnya moderat. Kalau orang mau sopan, hayo sama-sama sopan. Kalau mau keras, yo monggo tak jabani. Meskipun respon keras itu tetap tidak boleh keluar dari standar etika yang saya yakini.
    – Ketujuh, komentar awal saya yang “mensekulerkan” Anda itu ada pertimbangannya: (1) Itu respon saya atas sikap penghinaan anda; (2) Saya sebutkan kalimat yang bersifat umum, “Hanya orang sekuler, atheis,…” Jadi tidak ada vonis personal seperti yang anda sangka. Kalimat itu sifatnya umum; (3) Dan memang benar, orang sekuler tidak mau mengaitkan bencana dengan dosa-dosa manusia, baik pemimpin maupun rakyatnya. Ini sudah fakta demikian adanya. Coba anda cari dimanapun, apakah sekularis mau meyakini Kekuasaan Tuhan atas kehidupan dunia ini?

    Untuk poin 7 di atas: Secara umum, memang benar bahwa kaum sekuler tidak mempercayai kekuasaan Tuhan. Mereka tidak mau kehidupan ini ada campur-tangan aturan Tuhan di dalamnya. Namun secara khusus, ada kajian tersendiri tentang masalah ini. Jadi saya bisa memaklumi kalau ada banyak yang salah-paham. Bagaimana tidak salah paham, wong belum diberi tahu? Jadi, dari sisi itu, dapat dimaklumi kalau masyarakat kita menolak pemikiran yang “tidak mengaitkan bencana dengan kepemimpinan/dosa masyarakat” dengan sikap sekuler. Itu dimaklumi, wong memang belum dijelaskan. Meskipun sebenarnya, yang namanya penjelasan tidak hanya ada di blog ini.

    Ya, semoga ini bisa menjelaskan. Meskipun saya yakin, anda akan tetap menyangkal dengan argumen-argumen apapun yang bisa dipegang. Seperti yang sudah-sudah terjadi di blog ini. Mohon maaf kalau tidak berkenan.

    AMW.

  81. abisyakir berkata:

    @ Joesatch:

    Penyalahgunaan logika? Siapa yang salah logikanya? Anda begitu yakin bahwa saya salah logika. Luar biasa.

    Saya ulang lagi kalimat anda: “kalo anda sudah tidak mempedulikan lagi tentang perkara penyalahgunaan logika, saya pikir juga tidak ada gunanya saya bolak-balik mengkritisi anda.

    Siapa yang disebut anda di kalimat di atas? Pasti saya kan. Berarti saya berkoneksi dengan = penyalahgunaan logika. Menurut anda, apakah kalimat anda itu bukan judgement/vonis ke saya? Apakah ini bukan ad hominem? Anda menyebut kata “anda” ke saya, dalam hubungan dengan penyalah-gunaan logika. Ini jelas ad hominem.

    Tapi masalahnya, saya sudah berkali-kali bilang, sabar menantilah, sampai saya tuliskan artikel tentang hubungan antara “pemimpin dan bencana alam”. Entah, sudah berapa kali saya sebut, tapi anda sangat tidak sabar. Lalu menuduh saya melakukan penyalah-gunaan logika?

    Yang menyalahgunakan logika siapa lagi?

    Anda katakan: “pandangan saya, masalah fallacy toh memang tidak pernah disebutkan secara gamblang di alqur’an. tapi ketika anda menolak cabang ilmu turunan dari alqur’an sendiri, well, saya cukupkan sampai di sini saja pembicaraan saya dengan anda.”

    Saya tidak tahu apakah ilmu soal fallacy itu benar-benar ada dalam Al Qur’an atau tidak. Butuh penyelidikan tentang hal itu. Tapi mengklaim bahwa konsep fallacy yang anda sebutkan link-nya dari wikipedia itu sebagai turunan dari cabang-cabang ilmu Al Qur’an, jelas tidak benar. Cara berpikirnya: Dari Al Qur’an dulu, lalu diturunkan ke cabang-cabang turunan lain. Bukan dibalik: Dari sumber eksternal, lalu dicarikan pembenarannya di Al Qur’an.

    Soal implelementasi konsep keilmuwan: Mas Satrianto, saya tidak menolak, kalau memang itu ilmu yang baik dan bermanfaat. Namun masalahnya, Anda ingin menerapkan ilmu itu untuk menjatuhkan orang lain. Kalau belum jatuh, implementasi ilmu itu dianggap gagal.

    Dan satu lagi yang dianggap cela: Mengapa anda ingin mengadili orang lain dalam soal ad hominem, sementara anda sendiri melakukan hal itu ke orang lain? Anda ingin mengadili orang lain dalam soal fallacy, sementara anda tidak mau sabar menanti sampai ada penjelasan yang rinci tentang apa yang anda tuduh sebagai fallacy itu?

    Bukannya saya tidak mau menerima kebaikan, tetapi anda sendiri sudah di posisi arogan ketika menghadapi orang lain. Ya, saya maklum lah, anda kan “yang legendaris”.

    Saya yakin, kalau kita teruskan bantah-bantahan seperti ini, nanti ujungnya akan ketahuan siapa yang adil dan siapa yang zhalim? Tapi yang jelas, kalau saya berbuat zhalim, apalagi hal itu disaksikan banyak orang, insya Allah saya akan berhenti. Semoga Allah Ta’ala memaafkanku atas kezhaliman-kezhaliman yang kulakukan, baik secara sengaja atau tidak. Allahumma amin.

    AMW.

    AMW.

  82. abisyakir berkata:

    @ Presiden AS.

    Ala kulli hal, syukran jazakallah khair atas masukan dan nasehat Antum. Semoga jerih payah kita disini ada manfaatnya, meskipun secara zhahir materi tidak tampak di depan mata. Ya, Allah Maha Mensyukuri amal-amal hamba-Nya.

    AMW.

  83. ulasan yang menarik
    semoga yang terbaik menjadi pemenang

  84. luqmansyauqi berkata:

    hmmm.. menarik sekali debat antara joesatch dan abisyakir. 😀
    btw, ini ada kutipan sedikit tentang fallacy dari http://ressay.wordpress.com/2008/12/18/fallacy-kesalahan-berpikir/:

    Apa itu fallacy? Fallacy berasal dari bahasa Yunani dan Latin yang berarti ‘sesat pikir’. Fallacy didefinisikan secara akademis sebagai kerancuan pikir yang diakibatkan oleh ketidakdisiplinan pelaku nalar dalam menyusun data dan konsep, secara sengaja maupun tidak sengaja. Ia juga bisa diterjemahkan dalam bahasa sederhana dengan ‘ngawur’.
    Ada dua pelaku fallacy, yaitu Sofisme dan Paralogisme
    Sofisme adalah sesat pikir yang sengaja dilakukan untuk menyesatkan orang lain, padahal si pemuka pendapat sendiri tidak sesat.
    Disebut demikian karena yang pertama-tama mempraktekkannya adalah kaum sofis, nama suatu kelompok cendekiawan yang mahir berpidato pada zaman Yunani kuno. Mereka selalu berusaha mempengaruhi khalayak ramai dengan argumentasi-argumentasi yang menyesatkan yang disampaikan melalui pidato-pidato mereka agar terkesan kehebatan mereka sebagai orator-orator ulung.Umumnya yang sengaja ber-fallacy adalah orang menyimpan tendensi pribadi dan lainnya. Sedangkan yang berpikir ngawur tanpa menyadarinya adalah orang yang tidak menyadari kekurangan dirinya atau kurang bertanggungjawab terhadap setiap pendapat yang dikemukakannya.
    Paralogisme adalah pelaku sesat pikir yang tidak menyadari akan sesat pikir yang dilakukannya.
    Fallacy sangat efektif dan manjur untuk melakukan sejumlah aksi amoral, seperti mengubah opini publik, memutar balik fakta, pembodohan publik, provokasi sektarian, pembunuhan karakter, memecah belah, menghindari jerat hukum, dan meraih kekuasaan dengan janji palsu.
    Begitu banyak manusia yang terjebak dalam lumpur fallacy, sehingga diperlukan sebuah aturan baku yang dapat memandunya agar tidak terperosok dalam sesat pikir yang berakibat buruk terhadap pandangan dunianya. Seseorang yang berpikir tapi tidak mengikuti aturannya, terlihat seperti berpikir benar dan bahkan bias mempengaruhi orang lain yang juga tidak mengikuti aturan berpikir yang benar. Karena itu, al-Qur’an sering kali mencela bahwa ‘sebagian besar manusia tidak berakal’, tidak berpikir’, dan sejenisnya.
    Beberapa macam-macam fallacy:
    1. Fallacy of dramatic instance yaitu kecenderungan untuk melakukan analisa masalah sosial dengan penggunaan satu dua kasus untuk mendukung argumen yang bersifat general atau umum (over generalisation).
    Contoh: Mahasiswa beriman tadi yang mengatakan bahwa HMI itu organisasi yang sesat, kiri, liberal karena melihat beberapa kadernya yang menurut pandangannya sebagai orang sesat, kiri, dan liberal.
    2. Argumentum ad hominem adalah argumentasi yang diajukan tidak tertuju pada persoalan yang sesungguhnya, tetapi terarah kepada pribadi yang menjadi lawan bicara atau dalam bahasa kerennya dikenal dengan istilah Personal Attack.
    Contoh: Saya tidak ingin berdiskusi dengan Anda, karena Anda seorang anak kecil yang gak tahu apa-apa.
    3. Argumentum ad verecundiam adalah kesalahan berpikir akibat argumen dengan menggunakan argumen yang bersifat otoritas meskipun otoritas itu tidak relevan
    Contoh: A sedang berdiskusi dengan B. Lalu A berkata kepada B, pendapat Anda bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Ini bentuk kesalahan berpikirnya. Bahwa, sebenarnya B tidak bertentangan dengan dengan Al-Qur’an dan Sunnah, tetapi bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah sepanjang yang A pahami.
    4. Argumentum Auctoritatis adalah sesat pikir dimana nilai penalaran ditentukan oleh keahlian atau kewibawaan orang yang mengemukakannya. Jadi suatu gagasan diterima sebagai gagasan yang benar hanya karena gagasan tersebut dikemukakan oleh seorang yang sudah terkenal karena keahliannya
    Contoh: Saya meyakini bahwa pendapat dosen itu benar karena ia seorang guru besar.
    5. Kesesatan non causa pro causa (post hoc ergo propter hoc) adalah kesesatan yang dilakukan karena penarikan penyimpulan sebab-akibat dari apa yang terjadi sebelumnya adalah penyebab sesungguhnya suatu kejadian berdasarkan dua peristiwa yang terjadi secara berurutan. Orang lalu cenderung berkesimpulan bahwa peristiwa pertama merupakan penyeab bagi peristiwa kedua, atau peristiwa kedua adalah akiat dari peristiwa pertama – padahal urutan waktu saja tidak dengan sendirinya menunjukkan hubungan sebab-akibat.
    Contoh: Anda membuat surat untuk seseorang yang anda cintai dengan menggunakan pulpen A, dan ternyata cinta Anda diterima. Kemudian pulpen A itu anda gunakan untuk ujian, dan Anda lulus. Tak lama kemudian ortu Anda mengirimkan uang pada Anda, Anda kemudian sangat mencintai pulpen itu. “ini bukan sembarang pulpen!” kata anda. “Pulpen ini mengandung keberuntungan”
    6. Argumentum ad baculum adalah argumen yang diajukan berupa ancaman dan desakan lawan bicara agar menerima suatu konklusi tertentu, dengan alasan bahwa jika menolak akan berdampak negatif terhadap dirinya
    Contoh: Jika Anda tidak mengakui kebenaran apa yang saya katakan, Anda akan terkena adzab Tuhan.
    7. Argumentum ad misericordiam adalah sesat pikir yang sengaja diarahkan untuk membangkitkan rasa belas kasihan lawan bicara dengan tujuan untuk memperoleh pengampunan/ keinginan.
    Contoh: Saya mencuri karena saya miskin dan tidak bisa membeli sandang dan pangan.

    silakan dilanjutkan diskusinya :D.

  85. @ahmad berkata:

    black campaign lagi……….

  86. abisyakir berkata:

    @ Ahmad.

    Lho, kok black campaign ya? Ini kan pendapat warga negara tentang suatu kepemimpinan? Apa tidak boleh kita berpendapat dengan berdasar fakta-fakta dan argumentasi? Apa hanya boleh memuji, tidak boleh mengkritik sedikit pun?

    Wah, gimana memahami black campaign itu sendiri?

    Mungkin harusnya, kita seperti “tim sukses SBY”, selalu memuji-muji dirinya, biar disebut “white campaign”. Ya, itu sih bukan kompetisi politik namanya. Tapi “drama keberhasilan pemerintah”.

    AMW.

  87. ulasan yang menarik
    membuka wawasan saya terhadap para capres
    salam hangat

  88. mkasih infonya
    membuka wawasan saya terhadap salah satu calon presiden
    salam hangat

  89. desi berkata:

    Nah sekarang terbukti pemimpin yang medayu dayu itu, sby cengeng ,tidak tegas, kemarin aja bayak curhat. pilih wakilnya letoi begitu,cape deh

  90. Jabon berkata:

    @desy
    kalau capek istirhat dong

  91. frehan berkata:

    Inilah yg sesat namanya…
    Penuh kepalsuan…
    Dgn mengatas namakan YME n qu’ran….
    Sgd berbahaya…

  92. deden berkata:

    Yang sekarang Gmn Mas…? Jokowi JK ga dibuatin artikelnya?

  93. abisyakir berkata:

    @ Deden…

    Itu kan artikel sebelum Pilpres waktu itu (2009). Untuk Mr. JKW sudah dibuat juga, dapat tanggapan sangat banyak. Judulnya “rahasia: mengapa JKW dipaksakan nyapres tahun 2014”. Kira-kira seperti itu.

    Admin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: