Sosok “Pengamat Politik” Bima Arya 

Ada satu yang terasa aneh dengan munculnya, pengamat politik Arya Bima. Kita tidak tahu dari mana asalnya, apa karya dan kiprahnya, tiba-tiba muncul seorang pengamat politik baru, dengan nama Arya Bima. Mula-mula muncul menjadi narasumber dalam acara “Negeri Impian” bersama para komedian dan selebritis.

Pria bertampang “aktivis Islam” ini memang unik. Wajahnya, dandanannya, karakter suaranya, bahkan corak penampilannya, agak sulit disebut “pengamat politik”. Tetapi karena ekspose terus-menerus melalui TV, akhirnya dia masuk ke level orang publik, dengan label “pengamat politik”.

Sebenarnya, hasil-hasil analisis Arya Bima tidak terlalu istimewa. Kalau diberi poin, mungkin maksimal mendapat angka 7. Tidak ada sesuatu yang berbeda, istimewa, atau khas darinya. Namun ekspose media itulah yang mendaulat dia menjadi seorang pengamat politik dalam usianya yang masih muda.

Kalau melihat sosok Eep Saefullah, Syamsuddin Haris, Indria Samego, Ikrar Nusa Bhakti, Dewi Fortuna Anwar, dan lain-lain, mudah kita memahaminya sebagai pengamat politik. Antara kadar pengetahuan, cara berbahasa, dan penampilan, memang matching. Tetapi melihat sosok Arya Bima, kita akan merasa nuansa selebritas-nya sangat kuat. Inilah salah satu jeleknya media-media massa modern. Meskipun seseorang “kosong isi”, namun kalau terus-menerus diekspose, lama-lama akan jadi “public figure” juga.

Tapi keheranan saya tentang sosok Arya Bima hanya dalam batas keheranan pribadi saja. Baru saya merasa sangat TERKEJUT ketika menyaksikan acara di media, Arya Bima masuk dalam jajaran tim sukses SBY-Boediono. Ya Ilahi, ya Rahmaan, apa tidak salah ini? Pengamat politik kok jadi tim sukses pasangan Capres? Terus terang saya terkejut menyaksikan kenyataan ini. Jadi, analisa-analisa Arya Bima kemarin itu dikemanakan? Apakah ini berarti, acara “Negeri Impian” di TV itu juga dibiayai Fox Indonesia? Wah, tambah bingung.

Tapi sudahlah, tidak usah bingung. Kenyataan ini bisa disebut sebagai sindrome Saiful Mujani-isme. Maksudnya, di depan masyarakat mereka memperlihatkan diri sebagai orang netral, pengamat politik murni, lembaga surve independen; ternyata ujungnya hanyalah melayani kepentingan regim yang berkuasa. Saiful Mujani, Burhanuddin Muhtadi, Deny JA, atau sekarang Arya Bima, ya hanya seperti pelor-pelor kepentingan politik belaka. Mereka hanya seperti pelor-pelor untuk suatu mesin besar yang sedang berjalan.

Saya jadi teringat sebuah diskusi di TV. Waktu itu diskusi menhadirkan SBY dengan beberapa panelis. Salah satu panelis, adalah Arya Bima. Ketika giliran Arya Bima bertanya, dia bertanya pertanyaan standar yang jawabannya sudah dikuasai “di luar kepala” oleh SBY. Tetapi sebelum menjawab, SBY melontarkan kalimat pujian yang sangat naif menurut saya. Dia memuji Arya Bima sebagai pengamat muda yang cerdas dan memiliki masa depan cerah.

Terus terang, saya heran dengan pujian SBY itu. “Ada apa ini?” begitu pikir saya. Tidak elok-lah seorang presiden terlalu obral pujian di depan umum. Ohh, saya baru paham masalahnya setelah Arya Bima tampil membela SBY, pasca Debat Capres yang diadakan KPU kemarin malam. Disini kita dapat pelajaran. Kalau suatu saat SBY memuji seseorang, patut diduga yang bersangkutan akan merapat (atau sudah merapat) bersama SBY. Itu rumusnya. Sebab sampai saat ini memang SBY sangat “pelit pujian” ke lawan-lawan politiknya.

Sayang seribu sayang. Tetapi itulah kenyataannya. Anak-anak muda. Masih segar-segar. Sangat diharapkan kiprah, pemikiran genuine, idealisme, dan sikap kritisnya. Tetapi sayang, ia seperti bunga-bunga mekar, yang cepat layu sebelum menghasilkan buah. Sudah gugur sebelum mekar berkembang. Demi kepentingan menjadi “pelor politik”, merelakan misi perjuangan yang masih panjang.

Ya Allah ya Rahmaan, jadikan kami dari kalangan orang-orang yang benar (shiddiqun), hidup di atas kebenaran, istiqamah memeluk kebenaran, berbangga dengan kebenaran, dan mati dalam kebenaran. Amin Allahumma amin, ya Rahmaan ya Mujibas sa’ilin.

AMW.

Iklan

20 Responses to Sosok “Pengamat Politik” Bima Arya 

  1. 4z1z4h berkata:

    amin. keheranan saya sudah terbukti mas, ternyata sulit yah mempercayai seseorang itu.. fuih… makin jauh aja nih kemungkinan milih presiden yang satu ini 😀

  2. whongislam berkata:

    mas aby izin buat di taut di face book

  3. Uun berkata:

    Munkin perlu sy perbaiki sedikit, d dalam mengomentarkn debat capres tdi malam, d tv one, crew tv salah tulis… Arya bima bukan termasuk tim sukses sby-boediono… Tapi emang pengamat politik, yg memang d setting ketiga pengamat politik itu untk membela salah satu kandidat… Sah2 saja kan… Wong pengamat politik lainnya ada bela mega atopun Jk kan…

  4. iben berkata:

    Pengamat politik ( petualang politik ?) begitu cepatnya populer di media massa akhir- akhir ini. Mereka muncul bak jamur di musim hujan , namun makin kedepan makin kelihatan, siapa bera-afiliasi – kepada siapa?
    Pada giliranya dalam dunia politik Indonesia yang muncul adalah tetap juga ideologi-kepentingan. Ya seperti ,arya bima, syaiful mujanni, denny JA …dst itulah hasilnya.
    Mungkin pas juga papatah : “ada gula ada semut buat mereka.

    ya Rob …dengan segala kekuasaanmu yang tak terhingga meliputi segala sesuatu, mohon ampun atas permohonan hamba mu , dan dengan segala kekurangan hamba sebagai makhluq ciptaanmu yang begitu lemah ini , jadikan negara ini negara yang mau dan mampu memikirkan nasib 230 juta rakyatnya.
    Sungguh sangat disayangkan kekayaan yang berlimpah – ruah sumber daya alam- nya, namun lemah dalam pengelolaan SUMBER DAYA MANUSIA – nya , inilah kedzholiman ( ke-kurang syukuran ) terbesar negeri yang sepantasnya ” subur dan makmur ” ini kepada seluruh rakyat Indonesia .

  5. abu berkata:

    Tidak usah heran Mas…semua Capres sekarang sudah melibatkan aktivis “Pengamat” sbg timnya. Di Mega ada Sukardi S, JK ada Indra JP
    So…santai saja, daripada pusing sendiri.
    Lebih baik jelas bela siapa itu lebih gentle.

  6. abisyakir berkata:

    @ Iben.

    Ya Allah, kabulkanlah doa-doa yang baik dari hamba-Mu. Dan jauhkanlah petaka dan bencana dari kehidupan Ummat Islam di Indonesia. Allahumma amin.

    Jazakumullah khair atas doanya.

    AMW.

  7. Nasiha berkata:

    awalnya sy mengagumi krn kesedehanaan koment2 nya tp menjangkau kt SBY.maksudnya gampang di mengerti.krn orang pinter ga perlu pake kalimat yang susah u nunjukin klau dirinya pinter…. bukannya tanpa isi sy rasa.tp justru dia sangat cerdas untuk bisa mengemas dng sederhana…beberapa kali diskusi dng partai pol di luar parlement,beliau terbuka dan menikmati diskusi..katanya
    wajar bila dia belum setuju dng konsep berfikir politik dlm Islam krn semua perlu proses.
    Bank data dlm otaknya terlalu penuh untuk pro pd demokrasi n sistem politik sekarang
    beliau sedang tepenuhi existensinya skrng dng popularitas… tp semoga dia tetap independen
    meskipun ada kecewa juga menyaksikan di debat pres beliau kok memihak
    btw D oa kan sj semoga akalnya dijernihkan dengan kepuasan berfikir yg sesuai dng Islam.yaitu semua merujuk pada hukum Allah y musti diperjuangkn.krn beliau seorang muslim
    semoga juga apa y di dapatnya tdk mengantarknny pada ketentraman bathin
    krn hanya dengan sistem Islm sj manusia hidup tenang tenteram.krn sistem I slam bukan buatan manusia
    juga sy percaya fitrahnya sbg seorang muslim akan menerima kebenaran.krn sesungguhya setiap manusia dilahirkan dlm keadaan muslim.buat beliau perlu extra keras u belajar I slam sebagai peraturan hidup yang menyeluruh…I slam adalh sebuh I deologi bukan semata agama ritual sj.Insyaallah

  8. romailprincipe berkata:

    masa sih dia masuk tim sukses?bukannya itu baru akting doanG?
    kasian dia ya..

  9. Syariif berkata:

    arya bima adalah konsultan politik anak pak SBY.., FOX dibayar 7 milyar. arya bima di bayar 3 miliyar.

  10. Fans Bima's center berkata:

    Menarik memang fenomena tahun ini, idealis seorang pengamat di jual dengan mudah akan haus kekuasaan. itu namanya Pengamat MURAHAN !!!!
    Kita lihat dia dapat apa dari jualannya dia. PAYAH..

  11. dadang berkata:

    Masya Allah, melihat profil seseorang sebaiknya lebih bijak tidak hanya dari sisi negatifnya saja. Dengan terpilihnya dia sebagai konsultan atau pengamat politik, berarti dia sudah terbukti memiliki satu keunggulan. Menurut saya, opini Bima Arya masih logis dengan cara penyampaian yang tenang tidak emosional. Mumpung dia masih muda seperti saya, berilah masukan dan kritikan yang membangun agar generasi muda seperti kita ini terus dapat tumbuh dengan kasih sayang dan berkarya di negeri ini dengan penuh damai. Selamat berkarya terus mas Arya Bima.

  12. rezha berkata:

    Bima Arya Sugiharto bersama salah satu temannya adalah yang pertama mendirikan lembaga riset politik independen pertama di Indonesia yaitu Charta Politika, beliau juga dosen di Universitas Paramadina, sekarang menjadi salah satu fungsionaris PAN karena keterlibatannya dengan PAN sejak masih di Bandung. Intinya adalah beliau bukan meledak begitu saja, namun dibangun dari bawah. Pertanyaannya adalah, siapakah anda yang bisa menilai seseorang meskipun tidak tahu menahu tentang orang itu? Tolong lebih objektif dalam menilai.Thnx

  13. danni berkata:

    tapi terdengar aneh juga, pengamat politiknya dah jadi politisi PAN. Makin banyak pengamat politik jadi politisi, apakah artinya kita tak perlu pengamat lagi? mudah2an pengamat sepakbola ga ketularan jadi pemain bola, 🙂

  14. nana berkata:

    saya pribadi menilai arya bima sebagai orang yang memulai karir dari bawah dan saya jamin hal itu karena saya melihat perjuangan keluarganya yang terbiasa hidup dari bawah

  15. abisyakir berkata:

    @ Nana…

    Gak apa-apalah Mbak, disini ada kritik sedikit untuk beliau. Gak apa-apalah… Seorang tokoh biasanya dibesarkan dengan kritik, diskusi, dan sebagainya. Jangan phobia dengan kritik. Kecuali kalau kritiknya sudah tidak adil. Itu lain perkara. Jangan terlalu risau dengan posisi Pak Bima Arya. Kritik seperti ini belum seberapa kalau dibandingkan kritik ke tokoh2 lain. Terimakasih.

    AMW.

  16. henny berkata:

    sy cuma mau bilang berikan yg terbaik selalu untuk bangsa n negara dgn prestasimu. soal dari pengamat politik pindah jd politikus syah2 aja krn hdp adlah sebuah pilihan.

  17. Akong Pemwang berkata:

    Betul AMW. Payah anak itu. Keliru bagi yang kagum. Dia selalu bela SBY. Argumentasinya payah, dipaksakan demi koalisinya… lain dengan pengamat yang lain, walaupun membela tapi cerdas dan tidak dipaksakan… Saya tidak tahu dia cerdas karena memaksakan membela SBY jadi kedodoran atau memang kosong sperti disinyalir Mas AMW.

  18. addakhil berkata:

    Ngana siapa bisa bicara begitu?
    Ngana menulis artikel aph ngana memfitnah org lain?
    Ngana itu cocok masuk golongan org2 susa bafikir

  19. Agustea berkata:

    dear AMW dkk,
    sy hanya mencoba berfikir positif. setiap langkah yang diambil pasti ada pertimbangannya yg matang, termasuk langkah yg diambil Bima utk masuk partai. bisa saja masuknya ia ke partai adalah ekspresi gereget dia melihat persoalan bangsa ini yng tdk pernah tuntas. ibarat komentator Bola, ia greget klo melihat permainan yg jelek. ingin rasanya turun maen bola. tp yg jadi permasalahan kmudian adalah bisa gak dia maen Bola, atau hanya sebatas bisa koment aja? sy yakin turunnya Bima menjadi Pelaku Politik adalah bentuk kegelisahan dan ketidakpuasan Bima melihat realita politik yg ada. makanya dengan modal wawasan dan pengalaman yg ia punya, berharap bisa “menjadi komentator bola yang juga bisa maen bola”. terusin aja kang Bima kalo ini memang jalan yg terbaik utk bangsa ini!

  20. abisyakir berkata:

    @ Agustea…

    Saya sebenarnya malu meneruskan diskusi seputar “Bima Arya” ini karena ia sifatnya temporre, didasari pertimbangan sesaat, bukan suatu fenomena yang besar. Malah Pak Bima Arya itu sekarang jarang keluar analisa2 politiknya. Kalau masih jadi analis, mungkin lebih produktif. Maaf kalau terganggu dengan tulisan ini…ia sudah lama kok. Sementara isu2 politik kontemporer sudah berjumpalitan luar biasa.

    Admin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: