Menghargai Usaha Politisi Muslim

Sungguh, kekesalan kita kepada partai-partai berlabel Islam sudah sangat kuat. Bahkan kita sangat pesimis melihat masa depan partai-partai Islam itu. Jangan-jangan, mereka telah menggali kuburnya sendiri. Namun alhamdulillah, geliat kesadaran di kalangan politisi Muslim itu muncul juga, meskipun kekuatannya sangat kecil. Ya, tidak apa-apalah. Meskipun kecil, toh mereka masih ada. Realitas sekecil apapun, dalam perjuangan kebaikan, tetap dihargai.

Perlu dipahami, kecaman berat kepada partai-partai berlabel Islam selama ini sangat beralasan. Ini bukan mengada-ada, didasarkan kedengkian, atau alasan sentimen yang tidak jelas. Ia benar-benar faktual dan benar adanya.

PERTAMA: partai-partai itu sangat pro kekuasaan atau jabatan. Mereka tidak pro kepentingan masyarakat, atau pro masa depan negara. Mereka merapat ke partai pemenang Pemilu lebih karena alasan bagi-bagi kekuasaan. Singkat kata, elit-elitnya ingin diangkat menjadi Menteri. Apa yang mereka klaim sebagai “kontrak politik”, “kesamaan platform”, atau “membentuk pemerintahan yang kuat”, pada dasarnya adalah kebohongan belaka.

Aneh, katanya “kontrak politik”, tetapi selalu cocok dengan kemauan partai pemenang Pemilu. Pengalaman 5 tahun terakhir membuktikan bahwa retorika “kontrak politik” itu hanya palsu belaka. Ia hanya untuk menjaga wibawa partai, agar tidak terlalu kelihatan kalau “nafsu banget” dengan kursi Menteri. Namanya juga orang-orang pintar, jadi harus pandai mencari alasan intelek.

KEDUA: partai-partai itu seperti menutup mata terhadap proses Pemilu April 2009 yang penuh kecurangan. Seharusnya mereka berusaha sekuat tenaga memproses masalah kecurangan Pemilu lewat jalur hukum, bukan diam saja. Sebab jika kecurangan seperti itu dibiarkan, nanti akan melahirkan kecurangan-kecurangan lainnya, dalam segala urusan publik. Mereka selalu menuduh KPU bertanggung-jawab atas jalannya Pemilu, padahal anggota KPU diangkat dengan SK Pemerintah, dibiayai oleh Pemerintah, secara teknis juga dibantu Pemerintah. Kelambatan turunnya dana operasional untuk KPU merupakan salah satu sebab lembaga itu tidak becus dalam menyelenggarakan urusan Pemilu.

KETIGA: partai-partai itu seperti acuh terhadap garis kebijakan ekonomi SBY yang menganut model ekonomi IMF. Padahal semua orang tahu, termasuk para pakar ekonomi asing, bahwa biang kerok kehancuran ekonomi Indonesia sejak Krisis Moneter 1997 adalah IMF. Lewat butir-butir Letter of Intends, mereka menghancurkan sendi-sendi perekonomian nasional. SBY jelas-jelas memakai orang IMF atau mantan pejabat IMF untuk menjadi anggota tim ekonominya. Meskipun Indonesia sudah keluar dari IMF, tetapi madzhab ekonominya tetap dipakai.

Ini adalah sebagian alasan mengapa kita sangat kecewa dengan sikap politik partai-partai berlabel Islam itu. Kemudian ditambah informasi yang disebutkan oleh Prabowo Subianto tentang kebocoran ekonomi nasional ke luar negeri, setiap tahun sekitar US$ 20 miliar (Rp. 200 triliun). Dan fenomena kemiskinan, dimana 50 % penduduk Indonesia berpenghasilan di bawah US$ 2 (Rp. 20 ribu) per hari. Ini patokan kemiskinan menurut Bank Dunia (shahib-nya IMF).

Seakan-akan, partai-partai label Islam itu tidak memiliki mata, telinga, hati, dan akal. Mereka lebih ambisi meraih target kursi Menteri, daripada memperjuangkan misi politik Islam. Hal ini pula yang kerap memicu munculnya kebencian massif di kalangan masyarakat terhadap institusi partai Islam.

Ya alhamdulillah, di tengah segala kekecewaan ini masih ada titik-titik kebaikan yang muncul. Kepada Allah jua kita bersyukur dan memanjatkan harapan.

Beberapa waktu lalu sebagian sayap dari PAN di bawah koordinasi Dradjat Wibowo menyatakan dukungannya ke pasangan JK-Wiranto. Konon, Dradjat mengklaim bahwa sikap politiknya itu juda didukung anggota DPD-DPD PAN. Begitu juga ketika Mochtar Ngabalin, politisi PBB bergabung menjadi anggota tim sukses JK-Wiranto. Padahal baik PAN maupun PBB secara resmi membangun koalisi bersama barisan politik “Lanjutkan!”.

Langkah yang kurang lebih sama lalu diikuti oleh beberapa elit politik PPP. Mereka secara resmi mendukung pencalonan JK-Wiranto yang mengusung agenda “Kemandirian Bangsa”. Mereka juga mengklaim ada puluhan DPD PPP yang memiliki garis politik seperti mereka. Dan yang baru muncul adalah sikap politik DPD PPP daerah Tasikmalaya. Mereka secara resmi mendukung pasangan Mega-Prabowo, karena merasa cocok dengan missi perjuangannya.

Sebenarnya, elit PPP seperti Suryadarma Ali, dia lebih cenderung ingin bergabung dengan JK-Wiranto. Tetapi desakan kuat dari Bahtiar Chamsyah yang sudah merasakan empuknya kursi Menteri, membuat Suryadarma Ali tidak berdaya. Begitu pula, pendirian Soetrisno Bachir lebih cenderung ingin sinergi dengan kubu Prabowo Subianto. Tetapi desakan elit PAN seperti Patrialis Akbar, Amien Rais, dan lainnya membuat Soetrisno tidak berdaya. Akhirnya, dia lebih memilih “uzlah” dari gelanggang politik.

Ya sejujurnya, kita masih melihat bahwa para politisi Muslim tidak semuanya bersikap oportunistik. Alhamdulillah, mereka masih ada yang bersikap idealis dan pro kepentingan jangka panjang masyarakat. Hanya saja, dalam battle politik di lapangan, mereka kalah.

Kenyataan lain yang tidak bisa dipungkiri adalah pendirian massa grass root PKS. Meskipun secara formal, PKS menyatakan bergabung dengan kubu “Lanjutkan!”, dan siap berjuang all out memenangkan SBY. Tetapi masa PKS di bawah tidak selamanya setuju dengan pendirian elit-elitnya. Sampai ada selorohan, “Busnya parkir disana, tetapi penumpangnya masuk kesini.”

Hal-hal demikian tetap harus diakui dan dihargai, meskipun hati kita merasa sangat kecewa dengan sikap formal yang ditunjukkan. Ya, masih ada sifat-sifat baik dalam tubuh politisi Muslim, idealisme dan keberpihakan Ummat.

Harapannya, semoga butir-butir kebaikan itu tetap bersemi, lebih menguat dari waktu ke waktu, dan berdaya untuk memperbaiki situasi buruk di tempat masing-masing. Semoga dengan semua itu, aspirasi politik bisa termanifestasikan dengan baik di masa depan. Amin Allahumma amin.

Salam hormat untuk para pemikul misi kebaikan! Barakallah fikum jami’an.

AMW.

Iklan

One Response to Menghargai Usaha Politisi Muslim

  1. musafir berkata:

    Politik-politik…
    kadang klo manusia/partai sudah lihat jabatan atao uang sudah lupa dengan tujuan utama partai tersebut.
    bener juga perkataan ” politik tidak mengenal teman atau lawan yang ada kepentingan”
    kira2 mnurut antum gmana ust AMW?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: