Menyoal Iklan “Sekolah Gratis”

Salah satu sebab yang membuat Partai Demokrat memenangkan Pemilu Legislatif 2009 lalu adalah bertebarannya iklan-iklan layanan masyarakat yang dikeluarkan oleh Departemen-departemen. Misalnya iklan Departemen Pendidikan Nasional, iklan Departeman Koperasi, iklan PNPM Mandiri, BOS, BLT, Pertamina, dan lain-lain. Meskipun iklan-iklan itu tidak menyebut nama SBY dan Partai Demokrat, tetapi fungsi iklan-iklan itu menjadi “etalase keberhasilan” Pemerintahan SBY.

Salah satu iklan yang paling “bandel”, adalah iklan Diknas tentang “Sekolah Gratis”. Iklan ini dibintangi oleh Bu Muslimah, eh maksudnya Cut Mimi. Disana digambarkan seorang bu guru naik angkot, lalu mempromokan pendidikan kepada para penumpang angkot dan sopirnya. Kira-kira kalimat yang ada disana, “Bapaknya sopir angkot, anaknya bisa menjadi pilot. Bapaknya loper koran, anaknya bisa jadi wartawan.” Tentu, ia disampaikan dengan logat Melayu yang kental.

Iklan ini bisa dikatakan sangat bandel. Mengapa? Selain tayangnya intensif terus-menerus, tayang saat lagi ramai-ramainya musim kampanye, dan ia bisa tayang ketika sudah memasuki hari tenang dari kampanye. Kita sama-sama lihat sendiri, pada 3 hari menjelang Pemilu 9 April 2009 lalu, ketika semua partai istirahat total dari kampanye, tetapi iklan “Sekolah Gratis” itu terus-menerus muncul.

Disini ada beberapa catatan kritis yang perlu disampaikan:

[1] Mengapa munculnya iklan itu selalu ketika musim kampanye sedang marak-maraknya? Mengapa jauh-jauh hari sebelum masa kampanye iklan itu tidak muncul? Bahkan sekitar seminggu setelah Pemilu 9 April 2009, iklan itu tidak muncul lagi. Baru ketika menjelang Pilpres seperti sekarang, iklan ini muncul lagi, intensif siang-malam, di berbagai stasiun TV. Sepertinya Depdiknas sangat memahami “kebutuhan politik” sehingga menjelang even Pemilu, otak masyarakat intensif didoktrin tentang pentingnya bersekolah. Seolah mereka ingin menerapkan filosofi, “Menyekolahkan para politisi, dan mempolitisi dunia sekolah.”

[2] Mengapa kemunculan iklan itu sangat intensif, siang-malam, berkali-kali dalam sehari, di berbagai stasiun TV? Layaknya, iklan lembaga birokrat seperti Diknas, pasti tidak akan se-ngeyel itu. Biasanya iklan seperti itu dikaitkan dengan momen tertentu, misalnya menjelang Pemilu, ada iklan-iklan dari KPU; menjelang kenaikan BBM, ada iklan indoktrinasi dari Pertamina, menjelang muktamar ormas, ada iklan ucapan selamat dari tokoh-tokoh tertentu. Nah, dalam soal iklan “Sekolah Gratis” itu adalah kecocokan momentumnya dengan suatu even pendidikan?

[3] Diknas pasti telah mengeluarkan banyak biaya untuk memasang iklan “Sekolah Gratis” itu. Apakah biaya tersebut sudah dianggarkan sesuai anggaran rancangan anggaran Diknas per 5 tahun atau per satu tahun? Adakah pembahasan terperinci tentang anggaran iklan itu? Jangan sampai, biaya yang dikeluarkan besar, tetapi nilai manfaatnya bagi dunia pendidikan nasional kecil sekali.

[4] Apa pesan utama yang ingin disampaikan Diknas melalui iklan-iklan “Sekolah Gratis” itu? Setiap iklan pasti memiliki inti pesan yang ingin disampaikan. Lalu inti pesan dari iklan yang dibintangi Cut Mimi itu apa? Apakah soal Diknas telah melaksanakan program “Sekolah Gratis” secara menyeluruh di Indonesia? Jika demikian, apa jaminannya bahwa di seluruh Indonesia program itu telah terlaksana? Dalam suatu dialog di TV menghadirkan Mendiknas, Bambang Sudibyo. Dia mengakui, bahwa di Indonesia baru 5 provinsi saja yang progressif menyambut program “Sekolah Gratis”. Artinya, kebijakan “Sekolah Gratis” itu belum menjadi yang diterapkan secara nasional oleh Diknas.

Atau apakah Diknas lewat iklan itu ingin mengajari masyarakat tentang pentingnya pentingnya pendidikan, yaitu menyekolahkan anak-anak ke lembaga-lembaga pendidikan? Jika ini tujuannya, betapa konyolnya. Rakyat Indonesia tidak perlu diajari tentang pentingnya sekolah. Mereka sudah menganggap sekolah itu sebagai “kebutuhan primer”. Sejak Orde Baru, masyarakat sudah dikenalkan dengan program Wajib Belajar. Jadi tidak aneh, soal pentingnya pendidikan itu.

[5] Jika Bawaslu selama ini mempermasalahkan pejabat-pejabat BUMN yang menjadi anggota tim sukses kandidat tertentu. Bawaslu juga mengkritik menteri-menteri yang “nyambi” sebagai juru kampanye, tetapi tidak mengambil cuti. Maka iklan “Sekolah Gratis”, iklan koperasi, iklan Pertamina, dll. semua itu juga bermakna memakai fasilitas negara untuk mendukung kandidat tertentu. Bahkan efek iklan itu lebih massif daripada keterlibatan pejabat-pejabat BUMN dalam tim sukses.

Secara umum, cara-cara beriklan seperti di atas berdampak merusak. Nanti setiap departemen akan mengeluarkan anggaran milik negara, untuk membuat iklan-iklan yang mendukung calon in cumbent. Jika cara seperti ini ditempuh, maka semua pemimpin yang berkuasa akan memanfaatkan fasilitas negara (anggaran departemen) untuk memuji-muji keberhasilan kepemimpinannya. Akhirnya, departemen-departemen itu tidak netral lagi, tetapi sangat tendensius.

Harusnya, kalau Diknas bersikap gentle, buatlah iklan seperti itu sejak lama. Itu pun kalau mereka telah meyakinkan bahwa fasilitas “Sekolah Gratis” telah menjadi program nasional yang menjangkau seluruh sekolah, dari Sabang sampai Merauke. Kalau baru beberapa provinsi saja, jangan terlalu GR. Atau tayangkan iklan itu tidak lama setelah masa kampanye selesai. Kalau ditayangkan saat-saat kampanye, hal ini bisa dianggap sebagai memanfaatkan fasilitas publik untuk kepentingan kandidat tertentu. Dan itu sebuah kecurangan yang nyata.

Semoga dipahami.

AMW.

Iklan

2 Responses to Menyoal Iklan “Sekolah Gratis”

  1. @hmad berkata:

    realitanya seperti kata bp. gubernur jateng, biaya pendidikan yang sedemikian besar tidak akan cukup jika di bebankan kepada anggaran pendidikan. tetap harus ada income atau sumber dana lain selain anggaran pendidikan. jadi sekolah gratis????? hmmmmm good bye kwalitas kali yah?

  2. iklan ini bertujuan memberitahu masyarakat akan adanya subsidi biaya sekolah jadi bukan masalah kampanye atau bukan. info yang bagus…trim’s

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: