Membaca Ulang Surat PRITA MULYASARI

Juni 13, 2009

RS Omni Internasional tetap bersikukuh untuk melanjutkan proses hukum dengan terdakwa Prita Mulyasari. Meskipun banyak pihak sudah angkat bicara, termasuk Presiden, Wapres, Capres, DPR, Kejaksaan Agung, Departemen Kesehatan, ratusan ribu dukungan online untuk Prita, dll. Luar biasa ketegaran Omni Internasional. Bahkan sekalipun ratusan karyawannya gelisah, khawatir RS itu akan dicabut ijinnya oleh Depkes; bahkan (lebih) sekalipun RS-RS lain juga ketakukan akan “disikat” seperti Omni Internasional. Terus terang, saya kagum juga dengan semangat “spartan” RS Omni ini. Kalau ada semangat begini di dunia sepakbola nasional, mungkin Indonesia sudah mendapat piala dunia sejak dulu. Ya, orang Indonesia inilah, kegedean minder-nya.

Ada baiknya kita baca ulang Surat Prita Mulyasari. Lalu kita lihat surat itu dari perspektif Omni Internasional, kemudian dari perspektif Prita Mulyasari sendiri, dan akhirnya kita cari benang merahnya: mengapa terjadi kejadian seperti ini dalam dunia medis kita? Kalau menyaksikan pemberitaan media selama ini, banyak elemen-elemen penting yang diabaikan begitu saja.

ISI SURAT PRITA

Disini kita angkat kembali isi surat Prita sebagaimana banyak beredar di internet. Ada sedikit perbaikan redkasional tertentu, tetapi sifatnya perbaikan “mekanik”, bukan substansi.  Untuk kalimat-kalimat yang sangat riskan secara hukum, sengaja ditebalkan (blod). Silakan disimak kembali!


Title: “RS Omni Dapatkan Pasien dari Hasil Lab Fiktif

Jakarta. Jangan sampai kejadian saya ini akan menimpa ke nyawa manusia lainnya. Terutama anak-anak, lansia, dan bayi. Bila anda berobat berhati-hatilah dengan kemewahan rumah sakit (RS) dan title international karena semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka semakin sering uji coba pasien, penjualan obat, dan suntikan.

Saya tidak mengatakan semua RS international seperti ini tapi saya mengalami kejadian ini di RS Omni International. Tepatnya tanggal 7 Agustus 2008 jam 20.30 WIB. Saya dengan kondisi panas tinggi dan pusing kepala datang ke RS OMNI Internasional dengan percaya bahwa RS tersebut berstandard International, yang tentunya pasti mempunyai ahli kedokteran dan manajemen yang bagus.

Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan hasilnya 39 derajat. Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya adalah thrombosit saya 27.000 dengan kondisi normalnya adalah 200.000. Saya diinformasikan dan ditangani oleh dr Indah (umum) dan dinyatakan saya wajib rawat inap. dr I melakukan pemeriksaan lab ulang dengan sample darah saya yang sama dan hasilnya dinyatakan masih sama yaitu thrombosit 27.000.

Dr. I menanyakan dokter specialist mana yang akan saya gunakan. Tapi, saya meminta referensi darinya karena saya sama sekali buta dengan RS ini. Lalu referensi dr I adalah dr H. dr H memeriksa kondisi saya dan saya menanyakan saya sakit apa dan dijelaskan bahwa ini sudah positif demam berdarah.

Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa penjelasan atau izin pasien atau keluarga pasien suntikan tersebut untuk apa. Keesokan pagi, dr H visit saya dan menginformasikan bahwa ada revisi hasil lab semalam. Bukan 27.000 tapi 181.000 (hasil lab bisa dilakukan revisi?). Saya kaget tapi dr H terus memberikan instruksi ke suster perawat supaya diberikan berbagai macam suntikan yang saya tidak tahu dan tanpa izin pasien atau keluarga pasien.

Saya tanya kembali jadi saya sakit apa sebenarnya dan tetap masih sama dengan jawaban semalam bahwa saya kena demam berdarah. Saya sangat khawatir karena di rumah saya memiliki 2 anak yang masih batita. Jadi saya lebih memilih berpikir positif tentang RS dan dokter ini supaya saya cepat sembuh dan saya percaya saya ditangani oleh dokter profesional standard Internatonal.

Mulai Jumat terebut saya diberikan berbagai macam suntikan yang setiap suntik tidak ada keterangan apa pun dari suster perawat, dan setiap saya meminta keterangan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Lebih terkesan suster hanya menjalankan perintah dokter dan pasien harus menerimanya. Satu boks lemari pasien penuh dengan infus dan suntikan disertai banyak ampul.

Baca entri selengkapnya »

Iklan

Rizal Malarangeng dan Fox Indonesia

Juni 12, 2009

Rizal Malarangeng saat ini menjadi Ketua Tim Sukses SBY-Boediono. Di antara orang-orang politik dalam katalog SBY saat ini, Rizal termasuk yang loyalis sejati.  Maksudnya, dukungannya kepada SBY sudah tidak perlu diragukan lagi. Malah tak jarang Rizal menyerang lawan-lawan politik SBY (Partai Demokrat) dengan bahasa yang kasar. Seperti dia menyebut orang-orang yang meneriakkan isu Neolib sebenarnya hanya pusing saja, sehingga membutuhkan obat Neozep.

Dalam dialog di MetroTV kontra Fadli Zon, tampak benar bahwa Rizal sangat ingin menjatuhkan citra Fadli dengan bahasa-bahasa stigmatif, bukan argumen cerdas. Begitu pula serangan Rizal tentang figur Capres dari kalangan “pengusaha” yang diarahkan ke JK atau Prabowo. Belum soal “kuda 2 miliar” koleksi Prabowo yang sering dipermasalahkan Rizal Malarangeng. Melihat sikap Rizal yang demikian militan ke SBY, rasanya orang ini kembaran sempurna dari saudaranya Andi Malarangeng, jubir kepresidenan.

Seperti sudah diketahui umum, Lembaga Surve Indonesia (LSI) baru-baru ini mengakui bahwa mereka dibiayai Fox Indonesia, sebuah perusahaan media yang menjadi think tank pemenangan Pemilu SBY. Fox Indonesia membuat iklan besar di koran-koran dan TV, pasca kemenangan Partai Demokrat dalam Pemilu Legislatif April 2009. Mereka mengklaim, kemenangan Partai Demokrat dalam Pemilu April tidak lepas dari strategi kampanye, baik soft campaign maupun hard campaign, yang mereka bangun. Dan perlu diingat, Rizal Malarangeng adalah pimpinan perusahaan Fox Indonesia ini.

Memang, sekilas tampak lucu ya. Nama Fox Indonesia. Fox artinya srigala. Di Amerika ada nama perusahaan raksasa media, FOX. Tentu saja, ia milik Yahudi. Dari sisi bahasa, nama Fox Indonesia itu sangat aneh. Dari sisi pencitraan media, ia mencerminkan selera Amerika banget. Why Rizal and friends choice this name? Entahlah…

Tapi ada dua kenyataan yang telah banyak kita lupakan, seputar kiprah Fox Indonesia dan Rizal Malarangeng ini. Kenyataan itu muncul sekitar semester kedua tahun 2008 lalu. Keduanya muncul hampir berbarengan, sehingga sangat unik untuk disimak.

Pertama, jor-joran iklan Pak Soetrisno Bachir Ketua Umum PAN di media-media, maupun di jalan-jalan raya di seluruh Indonesia. Anda tentu masih ingat jargon besar Soetrisno Bachir, “Hidup adalah perbuatan!” Baik spanduk, baliho, iklan di koran, sampai iklan-iklan di TV, foto Pak Soetrisno Bachir seperti mengguyur media-media nasional. Begitu intensifnya, sampai banyak pihak mengkritik iklan-iklan itu dan menyebutnya tidak empati dengan kondisi sosial masyarakat yang sedang kesusahan.

Konon tersiar kabar, Soetrisno Bachir mengeluarkan dana sekitar 300 miliar untuk iklan jor-joran itu. Dan dia sengaja menghandle Fox Indonesia untuk mengurusi pencitraan dirinya. Banyak yang menilai, iklan-iklan itu merupakan persiapan Soetrisno bachir untuk maju menjadi Capres dalam Pemilu Presiden 2009. Namun secara umum, iklan Pak Soetrisno ini gagal total. Indikasinya, dia tidak bisa menjadi Capres sama sekali; dan perolehan suara PAN sendiri dalam Pemilu April 2009 malah turun. Singkat kata, strategi Fox Indonesia gatot, alias gagal total.

Sebelum Soetrisno kehilangan segalanya, kalau tidak salah, dia segera melimpahkan misi pencitraannya ke perusahaan media milik Irfan Wahid. Namun sayang, semua sudah terlambat. Irfan Wahid tidak sempat melakukan penataan strategi untuk mengganti konsep Fox Indonesia. Tetapi kerugian material besar jelas menimpa Pak Soetrisno Bachir. Sungguh kasihan sekali. Dana sedemikian besar tidak menghasilkan maslahat pencitraan yang kuat. Apalagi saat ini nasib Pak Soetrisno di panggung politik, seperti “digunting di tengah jalan” oleh Amien Rais.

Kedua, pada saat Soetrisno Bachir sedang jor-joran mengkampanyekan dirinya, sebelum jadwal kampanye politik berlaku, saat itu ternyata Rizal Malarangeng juga mengkampanyekan dirinya melalui iklan-iklan TV. Rizal menampilkan diri sebagai sosok pemimpin muda yang penuh harapan bagi masa depan Indonesia.

Banyak orang bertanya-tanya, “Apa tujuan iklan Rizal Malarangeng itu?” Apakah dia ingin menjadi Capres juga? Jelas aneh, dalam politik nasional, Rizal ini tidak dihitung sama sekali. Dia tidak memiliki kekuatan politik dalam bentuk dukungan sosial seperti partai-partai politik pada umumnya. Namun, ada juga yang menganalisa, iklan-iklan Rizal itu hanya seperti “mengetes dalamnya air”. Tujuannya bukan pencalonan Rizal, tetapi untuk mengetahui bagaimana respon publik terhadap sosok dia. Nah, data respon publik itu sebenarnya yang dibutuhkan.

Hanya sangat tidak etis saja, Fox Indonesia sedang menangani job dengan Soetrisno Bachir, tetapi pada saat yang sama Rizal Malarangeng mengkampanyekan diri dengan pola kampanye yang tidak jauh berbeda dengan Soetrisno Bachir. Jadi terkesan, Fox Indonesia tidak sungguh-sungguh membela kepentingan Soetrisno Bachir. Malah bos Fox Indonesia, Rizal Malarangeng menjadi “pesaing” bagi Soetrsino Bachir sendiri. Sungguh amat sangat tidak elok pemandangan seperti itu.

Dengan dua kenyataan di atas, kita bisa membaca sejauhmana kredibilitas Fox Indonesia. Selain agenda politik Soetrisno Bachir gagal total; bahkan tidak mampu meningkatkan perolehan suara PAN sendiri. Lalu iklan-iklan Rizal Malarangeng yang menggambarkan sosok “pemimpin Indonesia masa depan” itu sudah tidak karuan rimbanya. Kemana iklan-iklan itu. Apakah ia telah menguap ke udara? Atau seperti kata orang, iklan-iklan itu hanya sekedar untuk “mengetes dalamnya air” saja?

Kalau melihat iklan Fox Indonesia di koran pasca kemenangan Demokrat di Pemilu April 2009. Betapa arogan lembaga ini. Dia menunjukkan image fluktuasi suara partai-partai politik, lalu suara partai-partai itu saling bertabrakan, hancur diserang oleh garis biru (Partai Demokrat). Padahal mereka seharusnya malu karena telah gagal total dalam menggarap order pencitraan dari Soetrisno Bachir.

Kalau mau jujur, kemenangan Demokrat tidak hanya karena strategi pencitraan Fox Indonesia, tetapi juga melalui “operasi senyap” yang terkenal itu dan melalui kasus DPT yang saat ini sedang diangkat oleh DPR ke mekanisme Angket. Dengan angka golput sekitar 40 juta pemilih, jelas mudah bagi Demokrat untuk menang. Dan peranan lembaga surve seperti LSI yang terbukti dibiayai Fox Indonesia, semakin menampakkan wajah asli lembaga ini.

Rizal Malarangeng sebagai pribadi, dengan segala tingkah-polah dan statement yang keluar dari lisannya, telah menunjukkan jati dirinya. Kita tidak usah berkomentar, dia sendiri sudah menceritakan dengan sangat baik siapa dirinya. Lalu Fox Indonesia, lembaga ini tidak jauh kualitas moralnya dari pimpinannya, Rizal Malarangeng. Fox sebenarnya tidak bisa lepas begiu saja dari “mimpi buruk” kegagalan besar membuat pencitraan Soetrisno Bachir yang membuang-buang dana hingga ratusan miliar itu.

Fox, jangan girang dulu dengan sukses Demokrat!!! Tapi ingat selalu Soetrisno Bachir, “Hidup adalah perbuatan!”

AMW.


Membaca Pikiran Sri Mulyani

Juni 11, 2009

Siapa tidak kenal Sri Mulyani Indrawati? Rasanya hanya orang kuper yang tidak tahu siapa dirinya. Selain sebagai Menteri Keuangan, Sri Mulyani juga menjabat Menteri Perekonomian. Jabatannya sangat prestisius, semua politisi dan partai politik sangat “haus” ingin mencapai posisi yang diduduki Sri Mulyani ini.

Sekitar seminggu lalu ada dialog khusus antara Wimar Witoelar dengan Sri Mulyani, di MetroTV. Acaranya, Wimar Live, tayang di MetroTV, sekitar jam 20.30 WIB. Tema yang dikaji waktu itu tentang “pengelolaan hutang negara”. Sebagai Menteri Keuangan, jelas Sri Mulyani sangat berkompeten menjelaskan pemikiran-pemikirannya seputar isu hutang negara itu. Sekaligus dia bisa jelaskan garis ekonomi Kabinet SBY selama ini.

Saya tidak mengikuti acara secara tuntas, hanya sekitar seperempat acara bagian akhir. Disini kita akan kemukakan beberapa poin pemikiran penting  Dr. Sri Mulyani Indrawati, ekonom jebolan FE UI, yang pernah bekerja di IMF sebagai salah satu supervisor lembaga tersebut.

SEBAGIAN PEMIKIRAN SRI MULYANI

Sri mengaku sebagai orang Jawa yang lahir di Indonesia, sekolah di UI, lalu melanjutkan sekolah ke Amerika. Lalu pulang kembali ke Indonesia. Dia merasa tetap sebagai orang Indonesia, tidak pernah berubah menjadi orang bule, meskipun selama studi bergaul dengan banyak orang bule. Sri merasa kemudian mendapati dirinya sebagai bagian dari tatanan dunia yang concern utamanya adalah manusia itu sendiri.

Sri menyebut rakyat Indonesia termasuk “short memory lost” (memorinya pendek, cepat melupakan kejadian-kejadian sejarah). Di jaman Orde Baru Sri mendapati sistem ekonomi tertutup, lalu muncul era Reformasi yang mendobrak sistem itu, sehingga menjadi terbuka (minim proteksi) seperti saat ini. Lalu Sri mempertanyakan, ketika ekonomi sudah terbuka, mengapa saat ini muncul ide-ide untuk kembali kepada ekonomi tertutup (seperti Orde Baru)?

Sri mendapati masalah utama di era Orde Baru ialah faktor korupsi. Mengapa setelah Reformasi tidak memaksimalkan upaya-upaya pemberantasan korupsi itu sendiri? Jadi tidak perlu kembali ke sistem ekonomi tertutup.

Sri menyebut masalah hutang negara itu biasa. Dalam sistem ekonomi yang dia pelajari selama ini, di dunia ini sudah ada mekanisme untuk mengatur soal hutang itu. Entah, kalau ada planet lain yang menerapkan cara lain. Kata Sri, hutang itu biasa, lumrah saja, asalkan diatur sesuai mekanismenya. Contoh, kata dia, hutang luar negeri di bawah 30 % nilai GDP itu masih wajar atau aman. Jadi, semua sudah ada mekanismenya, tidak usah dirisaukan. Ada parameter, ketentuan jatuh tempo, cara pembayaran, syarat-syarat, dan sebagainya.

Sri mengkritik pemikiran yang berkembang selama ini. Kata dia, ada sebagian orang yang selalu berdalih, “Hutang negara kita sekian-sekian, setiap anak yang baru lahir sudah terbebani hutang sekian juta.” Kata Sri, logika seperti ini sepintas tampak benar. Padahal menurut dia di Jepang dan China, meskipun negaranya berhutang besar, namun mereka bisa menjadi raksasa ekonomi luar biasa. Meskipun sekarang ada ide ekonomi Syariah, tetap saja di Arab mereka berhutang juga.

Demikian sekilas pemikiran Sri Mulyani yang bisa saya tangkap dari acara Wimar Live itu. Mungkin ada pengutipan-pengutipan yang tidak tepat. Mohon dimaafkan kalau tidak tepat benar. Tapi insya Allah, poin-poin di atas bisa di-check kembali ke pihak Sri Mulyani atau MetroTV.

MENGKRITISI EKONOM LIBERAL

Kalau kita cermat mengikuti pemikiran-pemikiran Sri Mulyani Indrawati, akan tampak jelas bahwa orang ini benar-benar penganut madzhab ekonomi liberal. Bukan hanya liberal secara pemikiran ekonomi, bahkan liberal secara kebudayaan. Apa yang dia sebut sebagai “bagian dari warga dunia yang concern dengan manusia”  adalah jargon-jargon globalisasi. Harus diingat, salah satu prinsip ekonomi liberal adalah= anti proteksi!  Mereka paling benci kalau suatu negara memproteksi ekonominya dari serbuan produk-produk asing. WTO sendiri jelas berdiri di atas prinsip “world without border line”. Globalisasi dan liberalisme, seperti dua sisi mata uang, tidak bisa dipisahkan satu sama lain.

Kalau Sri menyebut dirinya sebagai orang Jawa, saya ragu. Dalam falsafah Jawa ada sebuah kredo, “Mangan ora mangan, syukur kumpul” (baik makan atau tidak makan, asal tetap berkumpul dengan keluarga). Prinsip ini sangat berbeda dengan konsep “warga dunia” yang diklaim Sri Mulyani itu.

Baca entri selengkapnya »


Siapakah Salafi?

Juni 11, 2009

Sebuah tulisan yang diambil dari buku WAJAH SALAFI EKSTREM: Propaganda Menyebarkan Fitnah dan Permusuhan. Diterbitkan oleh Ad Difa’ Press, Bandung. Tulisan ini dimaksudkan untuk menjelaskan istilah Salafi dan pengertiannya dalam kehidupan kaum Muslimin. Semoga bermanfaat! Amin ya Karim.

=================================================================================

Istilah Salafi telah dibahas di berbagai kesempatan. Banyak tulisan-tulisan yang mengupas istilah Salafi dari sisi asal kata, makna, maupun aplikasinya dalam kehidupan nyata. Salah satu contoh tulisan dalam topik ini ialah Hakikat Dakwah Salafiyah, karya Abu Muhammad Dzulkarnain, dimuat di salafy.or.id, 20 November 2006. Tulisan ini tidak jauh beda dengan karya Syaikh Salim Al Hilaly berjudul As Salaf Was Salafiyyah: Lughah Wa Istilah Wa Zamanan.

Secara sederhana, Salafi berarti orang-orang di jaman sekarang yang mengikuti generasi Salaf. Generasi Salaf yaitu manusia-manusia yang hidup di jaman dahulu. Namun, Salaf yang dimaksud tidak bersifat mutlak, sebab Fir’aun, Bani Israil, atau orang-orang Arab jahiliyah, mereka juga Salaf. Salaf yang dimaksud adalah Salaf yang baik, yaitu tiga generasi Islam permulaan (Generasi Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam dan para Shahabat radhiyallahu ‘anhum; generasi Tabi’in rahimahumullah; dan generasi Tabi’ut Tabi’in rahimahumullah). Itulah yang kerap disebut As Salafus Shalih, yaitu para pendahulu Ummat Islam yang shalih. Atau juga ada yang menyebut, Al Qurun Al Mufadhalah (generasi yang mulia).

Istilah Salafi merujuk kepada pengertian, seseorang yang mengikuti ajaran Salafus Shalih radhiyallahu ‘anhum. Adapun bentuk jamak (plural) dari Salafi ialah Salafiyun atau Salafiyin. Lawan dari kata Salafi ialah Khalafi atau Khalafiyun, yaitu orang-orang yang mengikuti ajaran manusia di jaman kemudian (mutakhir). Dalam buku-buku sering disebut istilah ‘Ulama Salaf’ dan ‘Ulama Khalaf’. Pembedaan Salafi atau Khalafi pada asalnya berpangkal dari perbedaan jaman (kurun waktu); Salaf di masa lalu, Khalaf di masa kini.

MAYORITAS MUSLIM SALAFI

Kalau mau jujur, sebenarnya mayoritas Ummat Islam saat ini, mereka berpaham Salafi.[1] Artinya, mereka mengikuti jejak Salafus Shalih, yaitu Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam dan para Shahabat, para Tabi’in, dan Tabi’ut Tabi’in radhiyallahu ‘anhum. Mereka mengikuti ajaran yang ditinggalkan oleh generasi terbaik dalam sejarah Islam itu.

Banyak bukti bisa disebutkan, bahwa mayoritas Ummat Islam saat ini adalah Salafi, dalam arti menjadi pengikut dan pewaris kegemilangan Salafus Shalih. Sebagian buktinya adalah sebagai berikut:

  • Ummat Islam membaca, menghafal, mengkaji, dan mengajarkan Al Qur’an Al Karim. Al Qur’an yang kita baca saat ini adalah Mushaf Utsmani yang ditulis dan dibukukan di masa Khalifah Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu. Khalifah Utsman berasal dari generasi Salafus Shalih, berarti kita mengikuti kaum Salaf.
  • Bacaan Tilawah Al Qur’an kita selama ini adalah salah satu dari tujuh bacaan Al Qur’an (Qira’ah Sab’ah) yang diwariskan dari jaman Salafus Shalih, khususnya dari riwayat Hafsh ‘an Ashim.
  • Hadits-hadits Nabi yang kita imani, kita yakini, kita amalkan, dan kita ajarkan selama ini, semua itu bersumber dari Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam, diterima oleh para Shahabat radhiyallahu ‘anhum, lalu diajarkan oleh para Salaf sampai ke imam-imam hadits. Hasil kodifikasi imam-imam hadits itulah yang kemudian sampai kepada kita. Setiap hadits shahih yang kita terima bersumber dari jaman Salafus Shalih.
  • Ilmu Bahasa Arab yang kita pahami, konsep Nahwu, Sharaf, serta cabang-cabang ilmu Sastra Arab, semua itu bersumber dari ajaran Salaf. Di jaman itu memang belum ada buku-buku pelajaran bahasa Arab seperti sekarang, tetapi konsep bahasa Arab Fusha (standar) diajarkan dari jaman ke jaman.
  • Sejarah perjuangan Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam (Shirah Nabawiyah) yang kita kagumi dan banggakan, ia juga bersumber dari khazanah Salaf. Begitu pula dengan sejarah Khulafa’ur Rasyidin radhiyallahu ‘anhum, biografi para Shahabat dan Shahabiyah radhiyallahu ‘anhum, biografi para Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in, imam mujtahid, imam ahli hadits, para Khalifah yang shalih, panglima perang, ahli ibadah, dan sebagainya.
  • Konsepsi akidah shahihah, yang selamat dari penyimpangan kaum Khawarij, Rafidhah (Syi’ah), Mu’tazilah, Jabbariyyah, Qadariyyah, Murji’ah, Jahmiyyah, Shufiyah, dll. juga bersumber dari ajaran Salafus Shalih.
  • Kaidah-kaidah ilmiyah, seperti kaidah Ushul Fiqih, Ushul Tafsir, dan kaidah Musthalah Hadits, yang banyak dipelajari di universitas-universitas, madrasah, ma’had, pesantren, dll. semua itu disusun oleh ulama Salaf. Salah satu contoh, kitab Ar Risalah karya Imam Syafi’i rahimahullah disebut sebagai fondasi pengembangan ilmu Ushul Fiqih.
  • Baca entri selengkapnya »

Rumitnya Kasus Hukum Manohara

Juni 11, 2009

Melihat konferensi pers Manohara dan para pengacaranya, sangat tampak mereka begitu optimis sekali akan berhasil memperkarakan Tengku Fahry dan keluarga Kerajaan Kelantan. Manohara telah membuktikan bahwa di tubuhnya terdapat bekas-bekas luka akibat perlakuan suaminya. Hal itu diperkuat oleh kesaksian dr. Abdul Mun’im Idris, ahli forensik RSCM, setelah dia melakukan pemeriksaan fisik kepada Manohara. Posisi dr. Mun’im Idris bisa dianggap sebagai GARANSI, bahwa luka-luka di tubuh Manohara memang ada dan nyata. Ya, siapa yang meragukan sosok dr. Mun’im yang sudah malang-melintang di dunia otopsi mayat itu? (Kecuali kalau ada khilaf-nya lho ya. Namanya juga manusia, tidak lepas dari khilaf dan alpa).

Kalau melihat sikap Hotman Paris, pengacara Manohara. Rasanya orang ini sangat bersemangat. Menggebu-gebu. Seolah posisi Tengku Fahri dan keluarganya sudah terhampar di telapak tangan, tinggal di-pithes saja. (Di-pithes itu bahasa Jawa, keadaannya seperti kutu rambut yang ditekan dengan kuku ibu jari, lalu bunyi “kletak”).

Kalau mau jujur, masalah hukum Manohara Pinot itu rumit dan sulit. Oke-lah Manohara sudah bebas, alhamdulillah. Tetapi untuk memperkarakan Tengku Fahry dan keluarganya, apalagi berharap mereka akan dipenjara, atau ganti “disileti” (he he he…), tampaknya sangat sulit. Kalau targetnya hanya Manohara bisa cerai dari suaminya, mungkin mudah, tetapi untuk memperkarakan Tengku Fahry dan keluarganya ke pengadilan sangat sulit.

Bukan pesimis lho ya, tapi realistis. Alasannya sebagai berikut:

[1]  Tempat Kejadian Perkara (TKP) kasus Manohara itu terjadi di Kelantan, di luar yuridiksi Indonesia. Hotman Paris, Farhat Abbas, dll. kan pengacara di Indonesia, bukan pengacara di Malaysia, atau pengacara dalam level hukum internasional.  Tindak kekerasan yang dituduhkan itu terjadi di Malaysia, atau di Negeri Kelantan. Otomatis yang kelak akan mengadili kasus ini adalah pengadilan di Kelantan. Ya, dimana lagi? Wong kejadiannya memang disana.

[2] Pihak yang dituntut Manohara adalah Putra Mahkota Kelantan dan keluarganya. Semua orang tahu bahwa di jaman modern ini susah mencari pengadilan yang benar-benar adil. Sebagian besar mahkamah hukum masih dipengaruhi oleh kekuasaan. Bahkan pengadilan di Amerika sekali pun, yang konon disebut-sebut sangat adil, tidak sepi dari intervensi kekuasaan.

Contoh mudah, George Bush menyerang Irak tahun 2003 dengan tuduhan di Irak memiliki reaktor senjata pemusnah massal. Tetapi setelah diselidiki, disana tidak ada reaktor yang dituduhkan. Artinya, Bush telah bohong ketika melakukan penyerangan ke Irak. Bush bisa disebut penjahat perang karena mengagresi bangsa lain dengan alasan bohong. Amerika sendiri bisa disebut The Real Terrorist Nation. Tetapi siapa berani mengadili George Bush? Padahal kesalahannya sangat terang benderang. Begitu pula dengan kondisi di Indonesia. Kita tahu, salah satu sebab yang membuat masyarakat sekarang hidup sengsara adalah Mega Skandal BLBI sekitar tahun 1997-1998. Sampai saat ini kasus itu masih gelap. Disana para pejabat senior Bank Indonesia, Departemen Keuangan, dan lainnya banyak yang terlibat BLBI. Namun sampai saat ini, tidak ada mantan pejabat Bank Indonesia yang dijebloskan ke penjara karena BLBI. Ini hanya contoh bahwa kekuasaan itu sangat kuat dalam mempengaruhi keadilan proses peradilan.

Ibu Manohara sendiri, Dessy Fajarina mengakui bahwa keliarga Kerajaan Kelantan sangat kaya. Mereka dengan uang yang dimiliki bisa berbuat apa saja. Nah, itu Bu Dessy sudah mengerti. Tetapi kalau memang pihak Manohara siap dengan segala konsekuensinya untuk memperkarakan keluarga Kerajaan Kelantan. Itu juga bisa ditempuh. Coba saja terus berproses, siapa tahu nanti akan ada keadilan seperti yang diharapkan. (Meskipun dalam hati, saya pesimistik).

Baca entri selengkapnya »


Boediono = Anggota Dewan Gubernur IMF ???

Juni 6, 2009

Sebuah berita amat sangat mengejutkan mencuat dari sebuah editorial di eramuslim.com.  Judulnya: “Amin: Boediono Harus Keluar dari IMF”. (Eramuslim.com, 27 Mei 2009). Merujuk kepada informasi yang disampaikan Amien Rais di Republika, disebutkan bahwa Boediono yang saat ini menjadi Cawapres SBY ternyata berstatus: Anggota Dewan Gubernur  IMF.

Benarkah ini kawan? Apakah ini nyata atau mimpi? Apakah ini dusta atau black campaign? Apa ini fitnah, ghibah, mengadu domba, atau iri dengki? Atau mungkin semacam igauan gitu?

Lebih jelasnya, berikut kutipan dari eramuslim.com:

Namun, ada masalah yang dikemukakan oleh Amin, yang patut menjadi pertimbangan seluruh bangsa Indonesia, yang menentukan pilihan di pilpres nanti, ternyata menurut Prof.Dr.Amin Rais, ternyata Boediono, tak lain adalah anggota Dewan Gubernur IMF, per tanggal 21 Mei 2009, sebuah badan tertinggi pengambil keputusan di IMF. Amin mengatakan, ‘Bodeiono harus bisa memberikan bukti dengan cara menarik diri dari IMF, WTO dan lembaga-lembaga asing lainnya. Saya tidak ingin SBY-Boediono menerapkan paham Neolib’, ujar Amin, ketika menyampaikannya di sela-sela Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) di Hotel Sultan, kemarin. (Republika, 27/5/2009).

Bahkan menurut suatu sumber, ketika Boediono terpilih sebagai Cawapres SBY, seorang pejabat Bank Dunia (World Bank) seketika memberikan ucapan selamat. Kutipannya sebagai berikut:

Pantas, menurut seorang tokoh yang belum lama ini, menyampaikan kepada redaksi Eramuslim, (Boediono) mantan Gubernur BI yang terpilih menjadi cawapres oleh SBY ini, mendapatkan ucapan selamat dari Robert Zullick, Direktur World Bank (Bank Dunia), dan ini hanya menggambarkan betapa posisi Boediono, sangat penting.

Wah, kalau benar Boediono sebagai anggota Dewan Gubernur IMF, berarti bangsa Indonesia bukan lagi menghadapi “isu NEOLIB”, tetapi langsung berhadapan muka dengan Mbah-nya ekonomi Liberal. Ini bukan isu NEOLIB lagi Pak SBY, tetapi jantungnya sistem Liberal, permata hatinya jiwa Kapitalisme. Wah, bangsa Indonesia, khususnya kaum Muslimin jangan mau diam menghadapi kenyataan ini.

Jika benar info yang disampaikan Amien Rais, konsekuensinya sangat berat:

[1] Berarti SBY-Boediono selama ini melakukan kebohongan publik luar biasa. Deklarasi di Sabuga ITB itu berarti isinya kebohongan semua. Semua dalih, celoteh, dan kampanye Pilpres dari SBY, berarti isinya bohong juga.

[2] Berarti Pemerintah SBY membohongi masyarakat dua kali. Sudah mengatakan, mereka bukan NEOLIB, juga mereka selama ini mengklaim sudah keluar dari IMF. Sudah keluar apa? Wong, Cawapres SBY disebut anggota Dewan Gubernur IMF. Keluar kerjasamanya, tetapi tidak keluar garis kebijakannya.

[3] Dalam salah satu syarat pencalonan sebagai Presiden menurut versi KPU, kandidat Presiden bukanlah seorang pengkhianat bangsa. Kalau Boediono terbukti anggota Dewan Gubernur IMF dan dia tidak menceritakan diri secara jujur kepada masyarakat luas, berarti dia seorang pengkhianat. Batal pencalonannya sebagai Cawapres.

[4] Karena SBY-Boediono didukung oleh partai-partai berlabel Islam, maka hukumnya HARAM mendukung partai-partai itu, sebab mereka selama ini membela liberalisasi ekonomi melalui SBY-Boediono. Setiap Muslim berdosa mendukung partai-partai berlabel Islam itu dan akan mendapatkan sanksi dari Allah atas perbuatannya mendukung liberalisasi ekonomi melalui pasangan SBY-Boediono.

[5] Kalau nanti SBY-Boediono jadi terpilih sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI, maka Indonesia akan masuk dalam suasana kelam krisis ekonomi seperti tahun 1997 lalu. Ketika itu, titik awal kehancuran ekonomi kita ketika Soeharto menanda-tangani Letter of Intends dengan IMF (Michael Camdessus). Berarti alamat kehancuran ekonomi akan terjadi lagi untuk kesekian kalinya.

Maka sekarang Ummat Islam harus memastikan kebenaran informasi yang disampaikan Amien Rais itu. Benarkah Boediono menjadi anggota aktif Dewan Gubernur IMF per 21 Mei 2009? Kalau benar, berarti dia adalah seorang PENGKHIANAT BANGSA dan harus dibatalkan pencalonannya sebagai Cawapres, sesuai UU Pemilu yang menjadi acuan KPU selama ini.

Berkorban menyelamatkan harta Ummat, sekalipun taruhannya adalah kematian, maka status kematian itu adalah Syahid di jalan Allah. Saudaraku, pelihara harta-benda Ummat-mu, untuk masa depan anak-cucu kaum Muslimin nanti. Cukup sekali saja kita diobrak-abrik oleh IMF yaitu saat krisis ekonomi 1997 itu. Selebihnya mari kita selamatkan masa depan Islam dan kaum Muslimin dengan segala usaha yang kita mampu!

Wallahu A’lam bisshawaab.

== Joko Waskito bin Buang ==


Shalat SHUBUH Kita ‘Kecepetan’

Juni 5, 2009

Sebuah informasi sangat mengejutkan saya baca di majalah Qiblati (link-nya ada dalam blog ini) edisi terbaru. Disana ada sebuah artikel berjudul, Salah Kaprah Waktu Subuh (Bag. I): Fajar Kadzib dan Fajar Shadiq. Tulisan ini ditulis oleh seorang ulama dari Makkah yang menjadi narasumber Qiblati, Syaikh Mamduh Farhan al Buhairi.

Singkat kata, Syaikh Mamduh dan redaksi majalah Qiblati pernah melakukan perjalanan pagi, sebelum Subuh, di Malang Jawa Timur. Saat di perjalanan terdengar kumandang adzan Subuh. Awak Qiblati ingin berhenti di sebuah masjid untuk Shalat Subuh. Namun Syaikh Mamduh tidak suka, sebab menurut beliau saat itu belum masuk waktu Subuh. Dalam pandangan beliau yang juga memang mengerti masalah-masalah ilmu Falak, adzan Subuh yang baru dikumandangkan itu (dan adzan semisalnya) terlalu cepat dari waktu Subuh semestinya.

Untuk memastikan pandangannya, Syaikh Mamduh Farhan menulis tulisan berseri tentang penentuan waktu Shalat Subuh itu. Kebetulan yang baru dimuat oleh Qiblati baru bagian 1. Pihak redaksi Qiblati mewanti-wanti, agar para pembaca tidak buru-buru mengambil kesimpulan sebelum tuntas membaca artikel tersebut. Dan insya Allah seri tulisan selanjutnya akan muncul di Qiblati. Semoga! Allahumma amin.

Dari tulisan yang sudah dimuat, Syaikh Mamduh menjelaskan bahwa banyak negara-negara Muslim yang waktu Shalat Subuhnya terlalu cepat (baca: kecepetan). Kata beliau, rata-rata kecepetan 9 sampai 28 menit sebelum waktu Subuh yang semestinya. Untuk Indonesia sendiri: kecepetan 24 menit. Hal ini bisa dilihat di artikel tersebut, di halaman 31-35. Sekali lagi, WAKTU SHALAT SUBUH KITA SELAMA INI KECEPATAN 24 MENIT.

Atas informasi ini saya merasa takjub sekaligus heran dengan kenyataan selama ini. Apa benar Shalat Subuh kita kecepetan ya? Kalau benar, wah bagaimana status shalat tersebut? Oke-lah, Allah akan memaafkan orang yang khilaf atau tidak tahu, tetapi bagaimana dengan Shalat Subuh kita selanjutnya?

Terus terang, saya menemukan sebuah bukti yang memperkuat pandangan Syaikh Mamduh di atas. Di komputer saya selama ini memakai penunjuk waktu yang dikeluarkan oleh situs IslamWay.com. Setiap masuk waktu shalat, secara otomatis terdengar adzan. Rujukan waktu sudah saya setting sesuai wilayah Bandung. Dalam software itu kota-kota di Indonesia banyak yang telah tercover, termasuk Bandung. Oh ya, rujukan penunjuk waktu shalat ini mengikuti Liga Muslim Dunia (World Muslim League). Ternyata, untuk waktu-waktu selain Subuh, kumandang adzan hampir bersamaan dengan waktu adzan di Indonesia. Kalau beda, mungkin beda beberapa menit saja. Tetapi untuk Subuh bedanya sekitar 25 menit, seperti yang disebutkan Syaikh Mamduh itu.

Dalam tulisannya Syaikh Mamduh menjelaskan, bahwa tiba waktu Subuh adalah ketika terbit FAJA SHADIQ (fajar sebenarnya). Saat itu di cakrawala telah muncul semburat terang secara merata. Bahkan indikasinya: jalan-jalan mulai tampak jelas (dengan asumsi tidak ada penerangan lampu di jalan). Adapun selama ini banyak orang mengira FAJAR KADZIB (fajar bohong) sebagai pertanda telah masuk waktu Subuh. Tanda fajar kadzib, di cakrawala tampak cahaya terang hanya di bagian tertentu saja. Namun cahaya terang itu hanya sebentar, kemudian ia akan hilang lagi. Sementara kalau fajar shadiq, ia akan terus terang, sampai matahari benar-benar terbit.

Kalau disuruh memilih, saya setuju dengan pandangan Syaikh Mamduh dan ingin mengubah orientasi waktu Shalat Subuh kami selama ini. Sebab selama bertahun-tahun saya menyaksikan perbedaan antara waktu Shalat Subuh kita dengan software adzan yang dikeluarkan oleh IslamWay.com itu. Kalaulah saya keliru men-setting waktu di komputer, pasti selisihnya tidak lama. Paling hanya beberapa menit saja. Tetapi perbedaan selama ini yang saya ketahui ya sekitar 25 menitan itu. Masak untuk waktu-waktu shalat lainnya hampir bersamaan, tetapi untuk waktu Shubuh telat sedemikian lama?

Namun karena ini memang menyangkut kepentingan kaum Muslimin se-Indonesia, ada baiknya majalah Qiblati bersedia membeberkan masalahnya secara panjang-lebar. Biar masyarakat lebih tahu. Kalau perlu lakukan diskusi dengan aparat-aparat keagamaan di Indonesia. Ya, untuk sharing informasi. Akan lebih baik, kalau masalah penentuan waktu Shubuh ini bisa dikupas dalam sebuah seminar nasional.

Implikasi persoalan ini sangat besar. Tidak ada salahnya kita buka pintu-pintu dialog seluas mungkin untuk sampai di titik kesimpulan akhir. Melalui tulisan ini saya sengaja ingin mengangkat masalah ini agar menjadi perhatian publik Muslim Indonesia. Bagaimana kalau kita sungguh-sungguh mencari titik final penentuan waktu Shalat Subuh ini? Sebab kalau selama ini memang shalat kita kecepatan dari waktu sebenarnya, bisa dibayangkan betapa besar kerugian yang menimpa kaum Muslimin selama ini.

Saya sangat menyarankan agar Qiblati mempercepat publikasi terhadap tulisan-tulisan berseri itu, lalu Qiblati memprakarsasi seminar nasional tentang penentuan waktu Subuh. Ini sungguh sangat penting dan urgen sekali bagi kaum Muslimin Indonesia. Harap tahu saja, waktu Subuh itu nanti ada kaitannya dengan puasa Ramadhan yang akan menjelang beberapa bulan lagi.

Demikian yang bisa disampaikan. Semoga ada upaya kesungguhan dari Ummat untuk berdialog mencari kebenaran; jika kemudian ternyata kesalahan ada di pihak kita, ya harus ada sikap legowo untuk melakukan koreksi. Mohon maaf atas segala khilaf dan kekurangan.

Wallahu A’lam bisshawaab.

Bandung, 5 Juni 2009.

Abu Muhammad Waskito.