Antara Pemimpin Politik dan Bencana Alam

Dalam 5 tahun terakhir (2004-2009), kita semua mengalami keprihatinan besar. Hal ini berkaitan dengan bencana alam yang susul-menyusul melanda negeri ini. Dimulai dari bencana Tsunami di Aceh (menelan korban lebih dari 100 ribu jiwa), lalu gempa bumi besar di Yogya (menelan korban sekitar 5000 jiwa), lalu Tsunami II di Pangandaran Ciamis, lalu bencana Lumpur Lapindo di Sidoarjo yang menenggelamkan desa-desa di sekitarnya, termasuk bencana banjir karena meluapnya Bengawan Solo di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Begitu pula dengan banjir di Sulawesi, tanah longsor di Papua, sampai banjir “Tsunami kecil” di Situ Gintung, Tangerang Banten.


Belum termasuk ancaman bencana gunung meletus yang terus-menerus mengancam dari Gunung Semeru, Gunung Merapi, Gunung Kelud, dan lainnya. Praktis selama 5 tahun terakhir ini kita disuguhi “bencana alam” yang seolah tidak putus-putusnya. Padahal ini baru bencana alam, belum masuk di dalamnya soal kecelakaan transportasi, wabah flu burung, wabah demam berdarah, kelaparan dan gizi buruk, konflik pasca Pilkada, dekadensi moral, fenomena kemiskinan (50 % penduduk menurut standar Bank Dunia), dll.

Sebagian orang percaya, bahwa datangnya bencana-bencana alam itu ada kaitannya dengan kepemimpinan politik. Namun ada juga yang membantah. Pihak yang membantah beralasan, “Kalau bencana, ya bencana saja. Tidak usah dihubung-hubungkan dengan pemimpin.” Yang lain lagi mengatakan, “Bencana alam terjadi karena faktor alam saja, tidak ada kaitannya dengan politik.” Pihak lain mengatakan, “Jangan selalu memahami masalah bencana dengan tafsiran-tafsiran mistis. Ini sudah jaman modern. Berpikirlah lebih rasional!” Banyak sekali pandangan seperti ini, baik di tingkat rakyat biasa, mahasiswa, akademisi, intelektual, kaum santri, termasuk para pemimpin politik dan ormas.

Puncaknya adalah ketika seorang partai politik tertentu mendapat dukungan luas dalam Pemilu Legislatif beberapa waktu lalu. Hasil Pemilu itu menggambarkan bahwa mayoritas rakyat Indonesia tidak peduli dengan banyaknya bencana-bencana yang terjadi dalam masa 5 tahun terakhir. Mereka percaya, bahwa bencana alam tidak ada kaitannya dengan pemimpin politik. Demikian kesimpulan yang bisa diambil, dengan catatan, andai masalah kecurangan dalam Pemilu dan indoktrinasi pencitraan melalui iklan-iklan di TV sengaja diabaikan.

Terus-terang kita merasa prihatin dengan bencana-bencana alam itu, dan lebih prihatin dengan fenomena buruknya persepsi Ummat dalam memahami masalah bencana. Nabi Saw pernah mengatakan, “Seorang Mukmin itu tidak akan terperosok dalam lubang yang sama, sampai dua kali.” (HR. Muslim). Ini menandakan bahwa orang Mukmin itu pandai mengambil pelajaran dan tidak akan celaka untuk kedua kalinya. Berkali-kali Al Qur’an menjelaskan prinsip seperti ini: “Berjalanlah kalian di muka bumi, lalu perhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang bergelimang dosa!” (An Naml: 69).

Hayo yang pintar mengambil pelajaran! Jangan seperti batu yang bisu dan tidak berdaya! Sampai ada yang mengatakan, “Kambing congek saja tidak akan menanduk batu untuk kedua kalinya.” Belajar dari pengalaman adalah kemestian dari tradisi hidup orang-orang berakal.

Secara umum, kita harus meyakini bahwa bencana-bencana alam itu ada kaitannya dengan dosa-dosa suatu bangsa, dan ada kaitannya dengan pemimpin politik yang berkuasa. Melalui tulisan ini saya ingin menjelaskan kaitan antara bencana alam, dosa masyarakat, dan posisi pemimpin politik. Semoga Allah menolong dan memudahkan untuk menetapi perkara-perkara yang diridhai-Nya. Amin.

Antara Dosa dan Bencana

Sudah menjadi keyakinan dasar seorang Muslim untuk meyakini bahwa perbuatan dosa itu bisa mendatangkan bencana (adzab). Perbuatan dosa dalam kadar kecil masih memungkinkan dimaafkan (An Nisaa’: 31). Begitu pula perbuatan dosa yang diikuti taubat atau istighfar, ia juga diampunkan (Az Zumar: 53). Namun dosa-dosa yang telah bertumpuk, kekafiran besar, kedurhakaan, perbuatan keji, arogansi, dan lain-lain semisal itu, ia akan mendatangkan adzab Allah. Adzab bukan hanya di Akhirat, bahkan ia ada yang diperlihatkan di dunia.

Nasib kaum-kaum di masa lalu, seperti kaum Nabi Nuh, kaum ‘Aad, Tsamud, negeri Sodom, negeri Madyan, negeris Saba’, dll. mereka dibinasakan karena dosa-dosanya yang telah memuncak. Bukti-bukti arkheologis dengan sangat baik menampakkan bekas-bekas kaum yang dimusnahkan itu. Harun Yahya membuat publikasi berharga tentang kaum-kaum yang dimusnahkan di masa lalu itu. Stasiun TV Malaysia juga pernah membuat serial dokumentasi “Jejak Rasul” yang memotret sisa-sisa kehancuran kaum-kaum itu. Sisa-sisa kehancuran kota Pompei, Atlantis, Inca, dan lainnya semakin membuktikan hal itu. Atlantis selama ini dipercaya sebagai kota yang hilang di tengah laut, karena tenggelam.

Nabi Nuh As. pernah berkata kepada kaumnya, “Sesungguhnya aku ini adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kalian. Janganlah kalian menyembah, melainkan hanya kepada Allah saja. Sesungguhnya aku takut kalian akan tertimpa adzab pada hari yang sangat pedih.” (Huud: 25-26). Adzab bagi kaum Nuh bukan hanya terjadi di Akhirat nanti, tetapi juga terjadi saat di dunia.

Saya menyangka, banjir di jaman Nabi Nuh waktu itu sangat dahsyat dan luas. Hal itu terlihat dari efek banjir yang berakibat menghancurkan struktur tanah, vegetasi, dan binatang-binatang. Tidak berlebihan jika Nabi Nuh diperintahkan membawa setiap pasangan binatang-binatang. Bahkan, akibat banjir itu, Jazirah Arab yang semula hijau dengan tumbuhan, terangkat permukaannya, sehingga menjadi gersang. Nabi Saw pernah mengatakan, bahwa dulunya jazirah Arab itu hijau. Sedangkan di masa Ibrahim As., wilayah di Makkah sudah gersang. Dan kita tahu bahwa Ibrahim datang setelah berlalu masa Nuh As.

Beberapa ayat Al Qur’an menjelaskan hubungan antara dosa dan bencana yang dialami manusia, antara lain:

(Keadaan mereka) adalah seperti keadaan kaum Fir’aun dan orang-orang yang sebelumnya; mereka mendustakan ayat-ayat Kami; karena itu Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosa mereka. Dan Allah sangat keras siksa-Nya.” (Ali Imran: 11).

Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyak generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu) telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan Kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain.” (Al An’aam: 6).

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Al A’raaf: 96).

Tak ada suatu negeri pun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum Hari Kiamat atau Kami adzab (penduduknya) dengan adzab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh).” (Al Israa’: 58).

Dan sebuah ayat yang menggambarkan keadaan negeri Saba’. “Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” (An Nahl: 112).

Negeri Saba’ diceritakan memiliki kesuburan tanah luar biasa. Tanaman tumbuh dimana-mana, dengan hasil melimpah. Mereka memiliki bendungan besar untuk mengelola irigasi. Namun setelah penduduk negeri itu durhaka, mereka tertimpa banjir besar yang menghancurkan negerinya. Setelah banjir, kesuburan tanah di negeri itu lenyap. Dimana-mana tumbuh tanaman berbuah pahit.

Kalau orang materialis, atheis, atau freemasonris, tidak percaya hubungan antara dosa dan bencana. Itu wajar saja. Sebab nenek moyang mereka telah mendahului dalam kekafiran dan kedurhakaan. Kaum-kaum yang binasa di masa lalu tidak kalah kafirnya dengan kaum materialis, atheis, freemasonris di masa kini.

Namun kalau ada Muslim yang tidak percaya kaitan antara dosa dengan bencana. Ini sungguh sangat menyedihkan. Bagaimana mungkin ajaran seterang itu tidak mereka percayai? Jangan-jangan mereka sudah tidak percaya dengan kisah Nabi-nabi di masa lalu. Apakah hati mereka sudah membatu karena keracunan pemikiran-pemikiran materialis? Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Buruk Sangka Kepada Allah

Orang-orang yang tidak mempercayai hubungan antara dosa masyarakat dengan datangnya bencana-bencana, mereka harus takut kepada Allah. Ketika mereka tidak percaya bahwa dosa manusia bisa mendatangkan bencana, padahal saat itu mereka melihat terjadi banyak bencana di masyarakat. Maka pada hakikatnya, mereka telah berburuk sangka kepada Allah SWT.

Lho, kok bisa disebut buruk sangka kepada Allah?

PERTAMA, mereka menuduh Allah telah menjatuhkan bencana tanpa alasan apapun. Padahal dalam Al Qur’an banyak disebutkan, bahwa siksa itu terjadi karena dosa-dosa manusia. Maha Suci Allah dari berbuat aniaya kepada hamba-Nya. Padahal Allah tidak berbuat zhalim kepada manusia (An Nisaa’: 40).

KEDUA, mereka menuduh Allah tidak menepati janji-Nya untuk membalas perbuatan orang-orang durhaka. Padahal dalam Al Qur’an banyak disebut, Allah itu Laa Yukhliful Mi’ad (tidak mengingkari janji-Nya). Allah membalas perbuatan orang-orang zhalim dan durhaka. (Huud: 102).

KETIGA, mereka menuduh Allah membiarkan hamba-Nya berbuat semaunya di muka bumi. Padahal Dia Sari’ul Hisab (sangat cepat perhitungan-Nya). Setiap perbuatan manusia manusia, ada hisab-nya. Dosa-dosa yang telah melampaui batas akan dibalas dengan adzab. (Al An’aam: 45).

KEEMPAT, mereka merasa dirinya suci, dan menimpakan kesalahan kepada Allah karena dianggap telah salah dalam menetapkan keputusan (menjatuhkan bencana). Selain buruk sangka, mereka juga arogansi. Padahal Allah itu Al Hakim, Dia Maha Bijaksana dalam menetapkan urusan-urusan. Dia tidak keliru dalam setiap urusan yang ditetapkan-Nya. (Al Hijr: 21).

KELIMA, ini yang paling berat, mereka menyangka dirinya berkuasa dalam kehidupan ini, sedangkan Allah dianggap lumpuh, tidak berdaya. Subhanahu wa Ta’ala amma yashifuun. Sikap mereka tidak berbeda dengan kelancangan Bani Israil yang berani mengejek Allah dengan ungkapan, “Sesungguhnya Tangan Allah terbelenggu.” (Al Maa’idah: 64).

Sungguh, banyak prasangka buruk kita kepada Allah ketika tidak (mau) memahami bahwa bencana-bencana itu memiliki kaitan dengan dosa-dosa manusia. Satu sisi, kita ingin “cuci tangan”, tidak mau disalahkan. Tetapi di sisi lain, kita memposisikan Allah Ta’ala sebagai pihak tertuduh. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Kemudian ada yang berkata, “Ya, bisa jadi bencana-bencana itu ujian iman. Ia datang untuk menguji keimanan kita. Siapa tahu keimanan kita sudah dianggap kuat, lalu kita diuji dengan bencana alam biar iman lebih kuat?”

Atas pernyataan ini, saya katakan: “Laa haula wa laa quwwata illa billah. Justru pernyataan seperti itu lebih buruk dari prasangka-prasangka di atas. Lewat pernyataan itu kita meyakini bahwa keimanan yang kuat malah mendatangkan bencana. Laa ilaha illa Allah.” Ini benar-benar kehancuran persepsi yang mengerikan. Orang berbuat dosa dianggap tidak berhak menerima bencana, sementara keimanan yang kuat malah dianggap mendatangkan bencana.

Pemikiran kacau seperti itu jelas-jelas merupakan refleksi ajaran Dajjal. Yang putih disebut hitam, yang hitam disebut putih. Yang benar didustakan, yang dusta dibenarkan. Dosa-dosa manusia dibela, keimanan malah disalahkan. Jelas-jelas ini ajaran Dajjal yang telah merusak pemikiran, tanpa disadari pemiliknya.

Saya menyarankan agar mereka yang mengagumi “ajaran Dajjal” itu segera bertaubat kepada Allah dan lebih banyak membaca Al Qur’an. Jangan dengarkan pemikiran-pemikiran yang merusak akal dan keyakinan di hati. Kalau perlu baca terus kisah Nabi-nabi di masa lalu.

Kepekaan Moralitas

Setiap kejadian buruk yang kita alami dalam kehidupan ini, bisa dimaknai sesuai selera masing-masing. Namun kalau orang beriman, dia sangat sensitif dalam memahami kenyataan-kenyataan di sekelilingnya. Setiap hal-hal buruk di sekitar bisa dijadikan sarana muhasabah untuk mengoreksi kesalahan diri.

Misalnya, ada sebuah keluarga dengan ayah-ibu dan 10 orang anak. Keluarga itu hidupnya baik-baik saja, aman, tenteram, sejahtera. Selama bertahun-tahun mereka hidup dengan baik, stabil, damai. Namun suatu saat, secara beruntun mereka terus-menerus ditimpa musibah. Ada anggota keluarga kecelakaan, rumah mereka didatangi perampok, mereka tertipu dalam bisnis, ada yang terlibat narkoba, sebagian atap rumahnya roboh, ada keluarga yang jatuh sakit parah, dll.

Jika jiwa pemimpin keluarga itu bersih, dia pasti akan segera menyeru keluarganya untuk bersimpuh bertaubat kepada Allah. Dia tidak akan banyak omong dengan segala teori, tetapi segera berlari ke arah ampunan Allah. Para shalihin mengajarkan, bahwa dosa itu mendatangkan masalah, dan amal kebajikan mendatangkan barakah (Al A’raaf: 96). Begitu pentingnya masalah ini, sampai Allah menyeru hamba-hamba-Nya agar bertaubat kepada-Nya. “Dan bertubatlah kalian semua, wahai orang-orang beriman, agar kalian beruntung.” (An Nuur: 31). Khalifah Umar Ra. ketika mendapati pasukannya kalah dalam perang, beliau memerintahkan mereka sungguh-sungguh bertaubat kepada Allah.

Lain lagi dengan orang materialis. Mereka akan memandang keruwetan rumah-tangga di atas dengan persepsi biasa-biasa saja. Segala fakta akan dikembalikan ke prinsip hubungan sebab-akibat yang tampak di matanya. Mereka sangat tidak mau mengaitkan hal itu dengan keimanan, perbuatan baik, perbuatan buruk, peringatan Allah dan lainnya. Katanya, “Jangan berpikir mistis!”

Di mata orang materialis keimanan tidak berguna. Mereka meyakini seperti paham kaum Murji’ah: “Amal shalih tidak meningkatkan iman, sebagaiman dosa-dosa tidak menciderai keimanan.” Jadi semuanya flat, datar, tidak berhubungan sama sekali dengan prestasi keimanan dan amal perbuatan.

Dan seperti itulah kondisi bangsa Indonesia saat ini, meskipun mayoritas kita mengaku beragama Islam. Mayoritas mengaku Ahlus Sunnah Wal Jamangah (karena saking medhok-nya). Tetapi keyakinannya seperti kaum materialis. Baik pemimpin maupun rakyat, telah diracuni pemikiran materialis.

Andai kita memiliki kepekaan iman yang tinggi, pasti merasa takut ketika melihat terjadinya bencana-bencana alam itu. Apalagi pasca Tsunami di Aceh, Allah benar-benar menampakkan Kekuasaan-Nya. Puluhan masjid di Aceh tetap bertahan, tidak ikut hancur. (Begitu pula, sebuah masjid di dekat Situ Gintung yang jaraknya sangat dekat dengan tanggul Situ Gintung, ia baik-baik saja). Ini fakta besar bahwa Ummat ini diperingatkan agar kembali ke masjid.

Saya terus-terang tidak mengerti. Selama kurun 2004-2009 bangsa Indonesia dijatuhi bencana-bencana mengerikan sepanjang sejarah. Tetapi pemimpin politik seperti tidak peka sama sekali? Alih-alih berharap mereka akan malu dengan bencana-bencana itu. Malah terus ngeyel berkuasa. Kalau perlu dengan cara-cara tidak fair. Kepekaan moralitasnya sangat minim. Padahal salah satu ciri orang beriman, mereka memiliki rasa malu. Sampai Nabi Saw mengatakan, “Kalau kamu tidak punya rasa malu lagi, lakukan apa saja yang kamu inginkan.” (HR. Bukhari).

Dalam konteks kasus hukum di pengadilan, jelas sulit mengaitkan terjadinya bencana dengan kesalahan politik. Tetapi kepekaan hati seorang Mukmin bisa dijadikan landasan. Kalau di suatu pemerintahan sudah penuh dengan masalah, misalnya bencana-bencana alam, jadikan semua itu sebagai alasan untuk mawas diri dan berbenah. Meskipun tidak ada yang meminta mundur, tetapi atas dasar rasa malu kepada Allah, kita bisa tinggalkan jabatan itu, lalu serahkan kepada orang lain yang lebih baik dan bertakwa kepada-Nya.

Mencermati Fakta Sejarah

Kalau kita membaca sejarah kaum Muslimin sejak Nabi sampai era Khilafah Utsmani, kita akan merasa takjub. Dalam masa ribuan tahun itu, Ummat Islam jarang tertimpa bencana-bencana alam. Setahu saya, pembicaraan soal bencana alam ini termasuk asing dalam khazanah ilmu Islam.

Kalau pun ada biasanya tentang bencana-bencana kemanusiaan, seperti peperangan, konflik internal, dan perebutan kekuasaan politik. Memang terasa aneh, tetapi itulah yang terjadi. Di masa Nabi masih muda, pernah terjadi banjir di Makkah, sehingga Ka’bah rusak, lalu dibangun kembali. Kalau tidak salah, kemudian pernah banjir lagi, lalu Ka’bah diperbaiki lagi. (Wallahu A’lam bisshawaab). Rentang waktu ribuan tahun bencana alam di Makkah bisa dihitung dengan jari.

Bencana kemanusiaan sudah terjadi di masa Nabi, dengan peperangan-peperangan melawan orang kafir. Di jaman para Khalifah juga demikian, bahkan di jaman Shahabat. Di masa Khilafah Islam terjadi berkali-kali konflik politik. Tetapi sangat jarang terjadi bencana alam seperti banjir, Tsunami, gempa bumi, gunung meletus, tanah longsor, gar beracun, lumpur “Lapindo”, dll.

Kalau membaca Al Qur’an, bencana alam memang merupakan instumen Ilahiyyah yang paling sering disebut oleh Al Qur’an dalam kaitannya dengan kedurhakaan kaum-kaum yang membangkang kepada Allah. Jadi alhamdulillah, keberadaan sistem Islami di suatu masa menyelamatkan Ummat ini dari bencana alam. Ya, baru di jaman kontemporer ini saja kaum Muslimin sering kedatangan bencana-bencana alam mengerikan.

Kalau membaca Surat Ar Ruum ayat 41, kita akan mendapati pelajaran, bahwa kerusakan di daratan dan lautan itu karena ulah tangan manusia sendiri. Karena dosa-dosa manusia. Karena itu mereka tertimpa musibah untuk mengingatkan mereka akan dosa-dosanya. Di ujung ayat itu disebutkan sebaris kalimat: “La’allahum yarji’un” (agar mereka kembali ke jalan yang benar).

Kemakmuran Orang Kafir

Nah, ini adalah tiupan keragu-raguan yang banyak beredar di tengah kaum Muslimin. Para peniupnya bukan orang-orang kafir, bahkan aktivis-aktivis pengajian yang merasa pintar dengan ilmu-ilmu mereka. Mengapa disebut “merasa pintar”? Sebab pandangan Al Qur’an itu sangat banyak menyebutkan kaitan antara dosa dengan adzab (bencana). Kisah Nabi-nabi di masa lalu dan kehancuran kaum-kaum mereka, semua itu adalah bukti yang tidak bisa disembunyikan.

Sebuah kaidah dalam Al Qur’an: “Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang zalim.” (Al Baqarah: 229).

Orang-orang itu berdalil dengan keadaan negeri-negeri orang kafir. Mereka mengatakan, “Itu lihatlah kondisi negeri-negeri orang kafir. Mereka toh hidupnya makmur, aman, damai. Mengapa mereka tidak ditimpa adzab, padahal mereka jelas-jelas kafir, durhaka, menentang Allah? Kalau pandangan Anda benar, pasti orang-orang kafir itu hidupnya menderita dengan datangnya banyak bencana.”

Saya beranggapan, orang-orang yang menolak ajaran Al Qur’an yang terang tentang hubungan antara dosa dan bencana, dengan dalih keadaan orang-orang kafir yang makmur, aman, damai; mereka berada dalam ujian keimanan serius. Jika mau, mereka akan bertaubat; jika tidak mau, biarlah mereka terus bersama keyakinannya.

Disini saya akan menjawab keraguan orang-orang itu. Hal ini sebagai nasehat, sekaligus pelajaran bagi mereka yang mau mengambil pelajaran.

[1] Keyakinan kita kepada Kitabullah dan Sunnah, tidak boleh dikalahkan dengan keyakinan akan fakta-fakta yang tampak di depan mata kita. Sebab, sebagai Muslim, kita berhukum kepada Kitabullah dan Sunnah; bukan berhukum kepada fakta-fakta itu. Fakta-fakta bersifat dinamis, bisa berubah-ubah di setiap jaman. Tetapi Wahyu Allah dalam Al Qur’an dan As Sunnah, alhamdulillah tidak berubah. Sekali lagi, kita disebut Muslim karena keimanan kita kepada Kitabullah dan Sunnah, bukan keimanan kita kepada fakta-fakta yang dinamis itu.

[2] Kondisi kemakmuran orang-orang kafir bukan terjadi saat ini saja, sejak jaman dahulu mereka diberi kenikmatan besar. Justru dengan kenikmatan itu, mereka semakin melampaui batas dalam kekafirannya. Dalam Al Qur’an disebutkan: “Dan berapa banyak negeri-negeri yang lebih kuat dari negerimu (wahai Muhammad) yang telah mengusirmu (dari Makkah). Maka Kami binasakan mereka, dan tidak ada seorang pun yang menolong mereka.” (Muhammad: 13). Jadi kemakmuran orang kafir itu bukan hanya sekarang saja, sejak dulu itu sudah ada.

[3] Di antara Sifat Rahmaan Allah, Dia membalasi amal perbuatan manusia (Al Israa’: 20). Orang kafir yang bekerja keras mencari dunia, diberikan dunia kepadanya. Namun mereka tidak mendapat pahala di Akhirat. Kemakmuran orang-orang Amerika, Eropa, Jepang, Korea, China, dll. hal itu karena kerja keras mereka, baik di jaman sekarang maupun di masa nenek-moyang mereka. Kemakmuran yang sama juga pernah diraih kaum Persia, Romawi, Mesir, Yunani, dll. di masa lalu. Allah Ta’ala tidak perlu diajari oleh siapapun untuk bersikap bijaksana. Dia memiliki Sifat Ahkamul Hakimin (Sebaik-baik pemberi keputusan).

[4] Datangnya siksa Allah kepada orang kafir disesuaikan dengan momentum (ajal). Tidak setiap perbuatan durhaka, langsung seketika “disikat”. Tidak. Sekali lagi Allah Maha Bijaksana. Biarpun orang-orang kafir itu telah berdoa menghiba-hiba supaya dihujani batu, atau ditimpakan api yang membakar, keputusan Allah berjalan sesuai ajal, tidak terpengaruh permintaan orang kafir itu. “Setiap ummat itu memiliki ajal, kalau telah tiba ajalnya, ia tidak bisa diundurkan walau sesaat pun, dan tidak pula bisa dimajukan walau sesaat pun.” (Yunus: 49). Sebagai contoh, sebelum banjir di era Nabi Nuh, kaumnya yang durhaka diberi tangguh sekitar 950 tahun lamanya. Bandingkan dengan kejayaan Eropa yang baru mencapai sekitar 500 tahun.

[5] Negeri kafir tidak akan diadzab, sebelum diutus seorang Rasul di kalangan mereka. “Kami tidak akan mengadzab (suatu kaum), sampai Kami mengutus seorang Rasul (kepada mereka).” (Al Israa’: 15). Di jaman Islam ketika Nabi dan Rasul tidak ada lagi setelah Nabi Saw, maka peringatan itu diberikan oleh para dai Muslim yang berdakwah ke tengah kaum kafir tersebut.

[6] Suatu kaum kafir kadang tidak tertimpa adzab, dengan alasan keadaan mereka akan berubah menjadi lebih baik di kemudian hari. Contoh, kaum Thaif pernah menghina Nabi serendah-rendahnya, sampai mereka berhak dihukum dengan dijatuhi gunung ke atasnya. Namun Nabi mendoakan agar kelak Islam diterima oleh anak-keturunan kaum Thaif. Dan itu benar-benar terjadi di kemudian hari.

[7] Kadang siksa juga tidak Allah timpakan ke kaum kafir, selama di dalamnya ada orang-orang shalih dan orang-orang yang meminta ampunan. “Dan tidaklah Allah akan mengadzab mereka, sementara engkau (Muhammad) ada di tengah mereka (di Makkah). Dan tidak pula Allah akan mengadzab mereka, sementara mereka masih mau memohon ampunan dosa.” (Al Anfaal: 33).

[8] Allah menunda memberi siksa ke orang kafir, karena di tengah mereka ada kaum dhuafa’ (rakyat lemah) yang diperlakukan dengan baik. Nabi Saw bersabda: “Bukankah kalian tidak ditolong dan diberi rizki, melainkan karena bantuan orang-orang dhu’afa di antara kalian?” (HR. Bukhari-Muslim). Maksudnya, Allah itu peduli kepada orang-orang dhu’afa, tetapi tidak langsung memberi rizki kepada mereka. Rizki itu diberikan dulu kepada kita agar disalurkan kepada dhu’afa dalam bentuk sedekah, infaq, upah, hibah, hadiah, dan lainnya. Dengan demikian, keberadaan orang-orang dhu’afa itu memicu datangnya rizki kepada kita.

[9] Sering terjadi, kemakmuran yang dialami orang-orang kafir, ia adalah istidraj. Istidraj ini merupakan ujian yang berat. Di depan mata suatu kaum seperti disenang-senangkan dengan berbagai macam kesuksesan materi. Padahal kesuksesan itu ditujukan agar mereka semakin liar, bergelimang dosa, membabi-buta. Nah, ketika di puncak kedurhakaannya, mereka pun diadzab oleh Allah. Hal ini dijelaskan dengan sangat baik di Surat Al An’aam ayat 43-45.

[10] Bisa jadi siksaan-siksaan kepada orang kafir itu sudah diperlihatkan sebagian, hanya saja kita tidak menyadari. Seperti bangsa Eropa, Amerika, Jepang, dan lainnya. Pada awal abad 20 lalu, mereka terlibat dalam Perang Dunia I dan II. Kalau mau jujur, Perang Dunia ini sangat memalukan sekali. Mereka berperang satu sama lain, padahal kebanyakan sama-sama kaum Nashrani. Korban yang berjatuhan hingga satu juta manusia lebih. Negeri penjajah berperang dengan sesama negeri penjajah, karena rebutan wilayah kekuasaan. Bahkan untuk Jepang, mereka tertimpa bom hydrogen di Hiroshima dan Nagasaki. Bencana akibat Perang Dunia itu meliputi wilayah yang luas, baik di Eropa, Afrika, Asia, maupun Amerika. Ingat, itu sesama orang kafir. Belum lagi bencana-bencana yang sering melanda negeri mereka.

[11] Bencana akibat kesewenang-wenangan negeri kafir pasti akan terjadi. Fakta membuktikan, kesewenang-wenangan Uni Soviet berakhir dengan kehancuran negeri itu, terpecah-belah seperti saat ini. Begitu pula kesewenang-wenangan Amerika, saat ini dibalas dengan krisis finansial yang sangat parah. Meskipun tidak otomatis Amerika akan hancur seperti Uni Soviet, tetapi tidak mudah bagi negara itu untuk bangkit kembali. Kerusakan negara mereka sangat sistemik. Hal ini tidak lepas dari kezhaliman mereka pasca WTC 11 September, serbuan ke Irak, serbuan ke Afghanistan, dan memenjarakan ribuan para aktivis Islam secara zhalim. Termasuk dukungan total mereka ke Israel.

[12] Andai belum tampak di mata kita kehancuran-kehancuran fisik akibat kedurhakaan orang-orang kafir itu, maka mereka telah disiksa dengan kehancuran spiritual, kehancuran lembaga keluarga, dekadensi moral, kejahatan seks, aborsi, pembunuhan, wabah penyakit (khususnya AIDS), narkoba, kriminalitas, dan sebagainya. Secara fisik hidup mereka seperti aman, damai, makmur. Tetapi secara moral spiritual, mereka hancur. Negara-negara kecil di Eropa seperti Swiss, Denmark, Norwegia, Austria, Swedia, dll. diklaim hidupnya enak. Sebuah fakta kecil. Kemarin pasca Piala Eropa di Swiss-Austria, para penduduk disana mengeluh. Mereka merasa senang dengan datangnya ribuan tamu suporter bola dari seluruh Eropa. Negaranya menjadi semarak. Tetapi setelah Piala Eropa itu usai, mereka merasa sepi kembali karena para supporter pulang. Saya tidak merasa heran ketika negara-negara Barat bersikap ramah kepada imigran-imigran Muslim. Adanya kaum Muslim di tengah mereka, akan menahan datangnya bencana-bencana.

Secara umum, datangnya adzab di dunia kepada orang kafir adalah sesuatu yang nyata. Hal itu sudah sesuai janji Allah. Hanya saja, datangnya adzab itu tidak menuruti selera hawa nafsu kita. Ia benar-benar merupakan wewenang Allah untuk menetapkannya. Ada 3 syarat datangnya adzab ke kaum kafir: Pertama, jika tingkat kedurhakaan mereka telah melampaui batas; Kedua, jika syarat-syarat penghalang datangnya bencana itu telah lenyap; Ketiga, jika momentumnya (ajal) sudah tiba. Bila 3 syarat ini telah terpenuhi, maka habislah mereka. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Jadi, tidak benar kalau Allah mengabaikan dosa-dosa orang kafir. Juga tidak benar berdalil dengan kondisi kemakmuran orang kafir untuk menolak ajaran Al Qur’an. Saya menasehatkan agar orang-orang yang telah terpengaruh ajaran materialis (seperti ideologi kaum ‘Aad di masa lalu), segera bertaubat kepada Allah.

Dalam Al Qur’an disebutkan, “Janganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak (kejayaan materi) di negerinya. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam, dan Jahannam adalah seburuk-buruk tempat mereka.” (Ali Imran: 196-197).

Posisi Seorang Pemimpin

Keadaan seorang pemimpin, keimanan dan keshalihannya, sangat berpengaruh bagi rakyat yang dipimpinnya. Kalau pemimpin shalih, rakyatnya akan hidup dalam kebaikan; kalau pemimpin zhalim, rakyatnya akan menderita. Hubungan pemimpin dan rakyat ini sangat kuat. Bukan hanya dalil-dalil Syari’at Islam yang membenarkan hal itu, tetapi juga catatan sejarah, realitas di alam, sains modern, nalar logis, bahkan istilah kebahasaan.

Dalam bahasa Arab, pemimpin disebut dengan istilah Ra’is. Hal ini sangat dekat dengan istilah Ra’sun yang artinya kepala. Maka itu dalam bahasa Indonesia, istilah pemimpin sering disebut Kepala. Ada kepala bagian, kepada kantor, kepala sekolah, kepala desa, kepala rumah-tangga, kepala regu, kepala juru masak, kepala suku, dll. Kalau dalam bahasa Inggris, pemimpin disebut Leader. Leader bisa diartikan sebagai seseorang yang memimpin di depan, menjadi pengarah bagi para pengikutnya.

Mengapa pemimpin diistilahkan dengan kepala, bukan kaki, lengan, atau perut? Sebab secara manusiawi kita memahami posisi penting kepala bagi kehidupan. Manusia tanpa kaki, tanpa tangan, tanpa hidung, mata, daun telinga, masih bisa hidup. Tapi adakah manusia bisa hidup tanpa kepala? Dari sisi anatomi tubuh, posisi kepala sangat mendasar bagi kehidupan manusia. Jika analogi ini dibawa ke konteks masyarakat, maka posisi pemimpin sangat menentukan keadaan masyarakat itu.

Tentang kepemimpinan ini, bukan hanya manusia yang membutuhkannya, bahkan binatang pun mengenal kepemimpinan. Kalau Anda sering melihat film-film dokumentasi tentang binatang, kita akan menyaksikan banyak kepemimpinan disana. Kawanan singa, srigala, heyna, banteng, zebra, rusa, dan lain-lain hidup dalam mekanisme kepemimpinan. Masing-masing membentuk koloni, dan setiap koloni ada pemimpinnya. Monyet, semut, lebah, rayap, ikan, burung, dan lain-lain juga hidup dalam mekanisme kepemimpinan.

Dalam level keilmuan modern, kepemimpinan merupakan satu topik studi tersendiri. Ia dikenal sebagai Leadership, di bawah rumpun ilmu manajemen. Seseorang tidak disebut modern, kalau tidak mengenal manajemen. Dan tidak disebut mengerti manajemen, kalau belum pernah mempelajari leadership. Tentang pentingnya leadership ini, rasanya tidak perlu lagi diperdebatkan. Mengapa dalam industri sampai ada jabatan direktur, presiden, CEO, GM, manajer, dan lainnya?

Bani Israil pernah terpuruk di Mesir, menjadi budak-budak. Hal itu terjadi dalam masa yang lama, sejak era Yusuf As berlalu sampai datang era Musa As. Allah menyelamatkan Bani Israil dengan mendatangkan seorang pemimpin, Musa As didampingi Harun As. Bersama Musa, Bani Israil berhasil menguasai Palestina sampai beberapa lama. Namun setelah Bani Israil meninggalkan ajaran Musa, mereka terpuruk kembali, sehingga terusir dari Palestina.

Dalam masa keterpurukan itu, Allah menyelamatkan Bani Israil dengan mendatangkan seorang pemimpin yang bernama, Thalut. Nah, Thalut inilah yang memimpin Bani Israil untuk menguasai Palestina kembali (lihat Surat Al Baqarah ayat 246-252). Thalut diberi karunia oleh Allah, basthatan fil ‘ilmi wal jism (keluasan ilmu dan kekuatan fisik). Kepemimpinan Thalut ini sangat jelas menunjukkan betapa pentingnya posisi seorang pemimpin.

Diceritakan dalam Shirah Nabawiyyah. Nabi Saw pernah mengirim surat dakwah ke Kisra Persia. Nabi mengajaknya masuk Islam, agar selamat. Tetapi Kisra merasa marah, lalu merobek-robek surat Nabi itu. Ketika tahu surat tersebut dirobek-robek, Nabi mendoakan agar bangsa Persia dihancurkan oleh Allah. Dan kejadian itu terbukti di jaman Khalifah Umar Ra, ketika Kisra berhasil ditaklukkan kaum Muslimin. Itulah perbuatan satu pemimpin yang menyengsarakan bangsanya. Begitu pula dengan Fir’aun, Qarun, Abrahah, Abu Jahal, Abu Lahab, dan lain-lain.

Bukan hanya di jaman klasik, di jaman modern pun ada bukti-buktinya. Perancis bangkit di bawah Napoleon, Amerika bangkit di bawah George Washington, Jerman bangkit di bawah Hitler, Jepang bangkit dengan Meiji. Libya melawan kolonial di bawah Umar Mukhtar, India bangkit di bawah Mahatma Gandhi, dan lain-lain. Di Indonesia sendiri banyak pahlawan-pahlawan nasional di bidang politik, militer, organisasi, ekonomi, keilmuwan, dan lain-lain. Raden Patah, Fatahillah, Diponegoro, Imam Bonjol, Teuku Umar, Cut Nyak Dien, Soedirman, sampai Bung Tomo, adalah silsilah para pahlawan Islam di Indonesia. Tidak diragukan lagi kepemimpinan dan jasa mereka bagi kehidupan rakyat Indonesia saat ini.

Begitu pula ketika pemimpin menjadi jahat, maka rakyat pun ikut jahat. Contoh, bangsa Rusia menjadi negara komunis kejam di bawah Lenin dan Stalin. China menjadi komunis di bawah Mao Tse Tung. Jutaan rakyat Vietnam mati di bawah regim Polpot. Rakyat Korea Utara tertindas di bawah Kim Il Tsung. Filipina menderita di bawah Ferdinand Marcos. Begitu pula, Turki menjadi bangsa hina karena Kemal At Taturk. Mesir menjadi sekuler karena Gamal Abdul Naser. Iran menjadi Syi’ah esktrem di bawah Khomeini. Dan banyak contoh lain.

Tidak terkecuali negara demokratis sekalipun. Jangan tanggung-tanggung, lihat reputasi negara “datuknya demokrasi” Amerika. Mula-mula ia dipimpin Presiden “pesolek”, mantan bintang film Hollywood, Ronald Reagan. Dia terkenal dengan semangat “star war” melawan Uni Soviet. Lalu Reagan diganti George Bush Sr., seorang pemimpin yang sakit-sakitan. Bush sukses menjarah kekayaan negara-negara Arab, pasca Perang Teluk I tahun 1990-1991. Lalu ia diganti Bill Clinton, presiden flamboyan yang akhir kariernya terpuruk di paha Monica Lewinsky. Dan selanjutnya, Clinton diganti “Bush Cilik”. Ya, seluruh dunia sudah tahu kredibilitas Si Walker Bush ini. Sampai puncaknya dia dilempar sepatu 2 kali oleh wartawan Irak, Muntazhar Al Zaidi. Bush pula yang menghantarkan rakyatnya “berpesta pora” dengan krisis finansial akut. Saat Barack Obama memimpin Amerika saat ini dengan slogan “Hope”; Ia seakan berarti, rakyat Amerika akan mengisi hidupnya ke depan dengan selalu teriak-teriak: “Hope, hope, hope.”

Dalam tradisi Islam, proses kebangkitan kerap kali dimulai dengan munculnya pemimpin, baik pemimpin politik (sultan) maupun pemimpin agama (ulama). Banyak pemimpin besar Islam lahir disini. Bahkan kelak di akhir jaman, ketika Ummat Islam terpuruk, Allah membangkitkan seorang pemimpin, Imam Al Mahdi.

Betapa pentingnya posisi pemimpin. Tidak mengherankan jika Nabi Saw pernah bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan ditanyai tentang orang yang dipimpinnya. Seorang amir negara adalah pemimpin; seorang suami adalah pemimpin bagi keluarganya; seorang isteri adalah pemimpin bagi urusan rumah-tangga suaminya dan anak-anaknya.” (HR. Bukhari-Muslim).

Pemimpin Muslim yang adil akan menjadi salah satu dari 7 golongan yang dijamin mendapat naungan di Akhirat nanti (HR. Bukhari-Muslim dari Abu Hurairah Ra). Adapun pemimpin yang menipu rakyatnya, Nabi Saw mengatakan: “Tidaklah seorang hamba diberi jabatan kepemimpinan oleh Allah, lalu dia mati dalam keadaan mengkhianati rakyatnya, melainkan Allah haramkan syurga baginya.” (HR. Bukhari-Muslim dari Ma’qil bin Yasar Ra).

Kondisi sebuah masyarakat sangat dipengaruhi oleh pemimpinnya. Para Salaf dulu mengatakan, “Kalau kami memiliki doa yang makbul, niscaya akan kami doakan para pemimpin.” Itu terjadi karena kepemimpinan berpengaruh secara kolektif. Pemimpin baik, rakyatnya akan baik; pemimpin buruk, rakyatnya akan sengsara.

Makna Bencana bagi Ummat

Dengan akal seorang Mukmin yang sederhana, ketika terjadi bencana-bencana alam di sekitar kita, seharusnya hal itu mendorong kita untuk melakukan muhasabah (introspeksi diri). Justru jangan berlomba melakukan pembelaan, menutupi kenyataan, atau sibuk membuat apologi-apologi. Dengan muhasabah, selain agar kita tidak tertimpa kerugian besar, juga agar tidak muncul lagi bencana-bencala lain.

Harus dipahami, terjadinya bencana di muka bumi bukan merupakan peristiwa kebetulan. Segala sesuatu terjadi dengan ukuran yang tepat. “Dan Dia menciptakan segala sesuatu, dan Dia tetapkan ukuran-ukurannya serapi-rapinya.” (Al Furqan: 2). Salah besar kalau kita memahami bencana itu sebagai kebetulan, fenomena alam, apalagi siklus rutin. Naudzubillah min dzalik. Bencana kok rutin? Mengapa tidak sekalian saja dibuat jadwal bencana?

Selama ini masyarakat berada dalam kebingungan besar ketika memahami masalah bencana. Mereka bertanya-tanya, apakah bencana itu adzab atau peringatan? Mau disebut adzab, apakah bangsa Indonesia sudah seperti kaum ‘Aad, Tsamud, Madyan, dan lainnya di masa lalu? Namun jika tidak disebut adzab, mengapa bencana itu sedemikian dahsyatnya? Jadi sisebut apa, dong?

Dengan memohon pertolongan dan rahmat Allah, bisa dikatakan:

“Bagi orang-orang durhaka, banyak dosa, arogan, zhalim, dll. yang mati akibat bencana itu, maka ia menjadi adzab. Terbukti, dalam sebuah gempa bumi yang terjadi saat Shubuh, banyak korban meninggal karena mereka belum sempat bangun untuk shalat. Adapun bagi orang-orang shalih, anak-anak kecil tak berdosa, para ahli Islam yang lemah, yang diwafatkan melalui bencana itu, mereka dianggap tertimpa musibah pahit dan didoakan agar diampuni dosanya dan mendapat syahid. (Amin).”

“Lalu bagi para korban yang masih hidup, maka bencana itu menjadi peringatan agar bersyukur karena telah selamat, dan menjadi pelajaran agar memperbaiki diri. Sedangkan bagi masyarakat lain yang hanya menjadi saksi atas bencana itu, ia menjadi ancaman bagi mereka. Jangan sampai hal serupa akan menjangkau kampung-kampung dan rumah mereka.”

Ada sebuah riwayat shahih yang bisa menjelaskan tentang pemahaman seperti di atas. Suatu hari Nabi Saw berkata kepada Aisyah Ra, “Suatu pasukan akan menyerang Ka’bah, maka ketika mereka telah sampai di suatu lembah, tiba-tiba Allah binasakan mereka semua, sejak awal sampai akhir.” Aisyah bertanya, “Bagaimana mereka dibinasakan semuanya sejak awal sampai akhir, sedangkan disana ada orang-orang di pasar dan mereka yang tidak ikut bersama pasukan itu?” Nabi menjawab, “Mereka dibinasakan, sejak awal sampai akhirnya, lalu akan dibangkitkan sesuai niat masing-masing.” (HR. Bukhari Muslim).

Maksud hadits di atas, semua orang yang ada di lembah itu dibinasakan, termasuk orang-orang di pasar, di rumah, di kebun, atau dimana saja. Namun, nanti perhitungan amal mereka sesuai niat masing-masing. Kalau mereka mati sebagai bagian dari pasukan itu, jelas mati celaka. Namun yang mati membawa iman, dan tidak ada hubungan dengan pasukan itu, mereka mati dalam kebaikan. Kalau tidak salah, kaum yang menyerang Ka’bah itu kaum Sufyaniyyah. Ia seperti sebuah koalisi kesukuan Arab yang memusuhi orang-orang beriman. (Wallahu A’lam bisshawaab).

Kesimpulan

Dari kajian yang cukup panjang ini dapat disimpulkan, bahwa pemimpin politik memiliki hubungan erar dengan bencana alam di suatu negeri. Pemimpin yang baik akan membawa rakyatnya memperoleh kebaikan, sehingga negeri itu akan diberkahi, ditolong, dan dimuliakan oleh Allah. Pemimpin yang buruk akan mengabaikan hak-hak rakyatnya, melakukan kezhaliman secara terang-terangan maupun tersembunyi, maka akibatnya semua pihak berdosa. Pada titik tertentu, ketika dosa itu telah melampaui batas, mereka semua akan tertimpa bencana. Saat terjadi bencana, bukan hanya orang zhalim saja yang menjadi korban, tetapi juga orang-orang shalih di negeri itu. Dalam Al Qur’an: “Takutlah kalian akan cobaan yang tidak hanya menimpa orang-orang zhalim di antara kalian saja. Ketahuilah oleh kalian, Allah itu sangat keras hukuman-Nya.” (Al Anfaal: 24).

Saya menasehatkan kepada Ummat Islam: “Jangan meremehkan masalah bencana alam ini! Jangan menganggap hal itu sebagai kebaikan! Jangan berprasangka buruk bahwa Allah akan membiarkan orang-orang durhaka leluasa bergerak di muka bumi! Bencana (bala’) itu bukan kebaikan bagi Ummat, ia adalah siksaan dan kehinaan yang memilukan. Andai kita harus diperingatkan oleh Allah, diuji kesabaran, atau ingin dinaikkan derajat imannya, jangan bermimpi ingin diberi bencana alam. Bencana itu hukuman dosa yang berat memikulnya.”

“Adapun soal kepemimpinan politik ke depan, itu terserah Ummat Islam. Mereka bisa memilih siapa yang mereka inginkan. Tugas saya disini hanya menjelaskan dan mengarahkan agar Ummat ini tidak tertimpa bencana-bencana lagi. Bukankah fakta-fakta bencana itu telah disingkap di depan mata kita semua? Apakah bencana-bencana itu harus “DILANJUTKAN” lebih panjang lagi? Nabi Saw pernah menasehatkan, “Seorang Mukmin itu tidak akan terperosok lubang yang sama untuk kedua kalinya.” (HR. Muslim). Maka berpikirlah jernih, jangan membiarkan dirimu tergoda oleh pesona kemilau yang membutakan mata!”

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, wallahu A’lam bisshawaab.

AM. Waskito.

Iklan

15 Responses to Antara Pemimpin Politik dan Bencana Alam

  1. saya mulai bisa memahami cara berpikir anda. tapi 1 kali percobaan tidaklah cukup untuk membuktikan bahwa suatu hal bukanlah “kebetulan” 😀

    lebih jauhnya ada di sebelah.

  2. smartieartie berkata:

    Please Take 30 Seconds to Vote for a Film About Iranian Youth

    Millions of young Iranians are marching in the streets demanding their rights. Our film, CIRCUMSTANCE, is about the struggles and triumphs of Iran’s youth. Support Iran’s Amazing Youth, Get their stories told.

    Iran’s Votes were ignored. Make yours count. Vote for CIRCUMSTANCE!

    Please click on the director’s name, MARYAM KESHAVARZ/ CIRCUMSTANCE, and click five stars. The link is http://www.netflixfindyourvoice.com/. And they won’t use your email for evil. The clip is a sample of my work from a short I directed that won the Jury Prize at Berlin. Spread the word . . . Deadline July 4th . . . Thank you!

  3. Lucu Indonesia berkata:

    ya Allah, lindungilah para pemimpin kami

  4. joe not legend at all ! berkata:

    Masihkah hati yang jernih mempertanyakan wahai sang ??…. ,
    Untaian- untaian kalimat yang menjungkir-balikan logika berfikir kaum atheis, materialis dan kaum penghamba hukum “casualitas” secara gamblang dan telak menusuk jantung penganut pemikiran SEKULARISME, bantahlah semampumu …namun cahaya putih yang terang benderang tak akan pernah bisa berubah gelap ,selamanya

    …..kecuali bagi hati yang telah tertutup, berlumut pekat..

  5. @ joe not legend at all !

    itu buat saya? :mrgreen:

  6. joe not legend at all ! berkata:

    @ joesatch yang legendaris
    dibaca dong kalimatnya , “PARA PENGANUT PEMIKIRAN SEKULARISME “lha kalau anda merasa , silahkan aja, gak ada larangan kok , kalau belum paham juga ,tolong di baca ulang ! you’ve got it? boy ?

  7. ooo…gitu

    berarti bukan buat saya. makasih buat penjelasannya, meskipun di komentar pertama anda tidak ada kata-kata “PARA PENGANUT PEMIKIRAN SEKULARISME”. makanya saya jadi nanya, soalnya ndak ada petunjuk jamaknya, dan kebetulan di atas anda cuma ada 3 komentator yang salah satunya adalah saya.

    eh, ngomong-ngomong, susunan gramatikal pada kalimat anda ada yang salah, lho :mrgreen:

  8. Susunan gramatikal yang salah , it’s ok .
    Tapi thank’s a lot kalo udah mengingatkan saya.
    Saya hanya mau bilang : ” begitu jauh perbedaan antara pelaku sekularism dengan penganut aqidah tauhid, jauh, jauh sekali diferensiasi nya”, that’s it.

  9. kalo begitu, kalo harus sesuai dengan definisi anda, saya berarti memiliki perbedaan itu. cuma saja, saya malah nggak ngeh sendiri, letak bedanya di mana aja?

    setau saya, saya sendiri penganut akidah tauhid tapi kebetulan tidak mempermasalahkan bencana alam sebagai ulah sby. lalu, di satu sisi, ada klaim bahwa kalo tidak percaya sby adalah sumber bencana alam, maka orang itu adalah sekuler. well…saya malah jadi bingung; ada yang enak-enakan membuat definisi sendiri 👿

  10. mbah mendung berkata:

    Alhamdulillah . ini pencerahan yang sangat fundamental. Memang di indonesia termasuk yang mengaku sebagai muslim selalu merasa sudah beriman jika sudah Sahadat ,sholat, zakat,puasa dan haji bahkan cenderung simbulisme lagi sekarang dengan pakaian gamis. Tapi berkaitan dengan perilaku jangan ditanya,ngurangi timbangan biasa, menaikkan tarif gak wajar biasa, berzina jadi alat suap , mark up, fiktif dsb.
    Sebenarnya memang perbuatan dosa manusia dibumi indonesia sudah sangat tipis jaraknya dengan prestise, status , harga diri dll Nangudzubillahimindalik

  11. rachmat berkata:

    kisah indonesia mirip negeri Saba, rakyat yang alim tidak ada artinya jika memiliki pemimpin yang zhalim begitu pula sebaliknya, sangat bermanfaat sob postingannya

  12. athalia berkata:

    jika indonesia terlipqa bencana berarti semua orang indonesia mati tapi mungkin semua ini tidak betul
    semoga yang dilihat pada penyulap salah kalau ini
    memang betul lebih baik kita banyak berdoa (amin)

  13. athalia berkata:

    aku benci kepda orang yang menghina indonesia kami
    kami benci kepada orang yang manghina indonesia kami

  14. alwiandri berkata:

    Pesan untuk umat Islam Indonesia: Mari kita mulai dari sekarang menjalankan syari’at islam, insya Allah negara RI akan makmur dan sejahtera.Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: