Mengkritisi “Black Campaign” di Medan

Menjelang Pilpres 8 Juli 2009, suhu politik semakin panas. Terakhir, timsukses JK-Wiranto mengadukan Rizal Malarangeng ke polisi. Rizal dituduh telah mencemarkan nama baik Jusuf Kalla. Tidak tanggung-tanggung, Rizal juga berniat menuntut balik tim sukses JK-Wiranto.

Awal masalahnya, dalam sebuah kampanye tertutup di Medan, di depan jamaah majlis-majlis taklim, ada seorang laki-laki menyebarkan kertas fotokopian. Kertas itu berisi berita dari sebuah tabloid. Disana disebutkan hasil wawancana wartawan tabloid itu dengan Habib Husein Al Habsyi, yang disebut sebagai Ketua Ikhwanul Muslimin Indonesia, dengan judul: “Apa PKS Tidak Tahu Isteri Boediono Katolik?” Kurang lebih seperti itu.

Penyebaran kertas fotokopian itu diklaim oleh Rizal Malarangeng sebagai bentuk kampanye hitam (black campaign) dari Jusuf Kalla. Konon, Rizal melontarkan kata-kata yang tidak sopan, dan mengaitkan JK dengan orang Bugis. Hal ini yang mendorong tim sukses JK-Wiranto mensomasi Rizal Malarangeng, dan memberinya waktu 24 jam untuk meminta maaf secara terbuka. Karena Rizal tidak minta maaf, perkara itu pun dibawa ke polisi dengan delik pencemaran nama baik.

Sebuah prinsip perlu ditekankan disini: “Berpikir kritis dan responsif itu bagus, tetapi akan lebih bagus kalau disertai berpikir cermat.” Tepat sekali pernyataan SBY ketika mengkritik slogan “lebih cepat lebih baik”. Katanya, “Boleh cepat, tapi jangan grusa-grusu.” Begitulah kira-kira.

Kalau melihat kasus ini dengan cara berpikir instant, kita bisa berkesimpulan, telah terjadi black campaign di Medan. Para pelaku, panitia kampanye, tim sukses JK-Wiranto, bahkan termasuk JK sendiri bisa dikenai tuduhan. Mereka bisa dianggap menyebarkan berita bohong untuk menjatuhkan citra pasangan SBY-Boediono. Itu kalau kita berpikir grusa-grusu.

Tetapi kalau melihatnya dalam konteks hukum di Indonesia, justru Rizal Malarangeng bisa menghadapi masalah besar.

==> Lho, kok bisa?

Iya, sebab kertas fotokopian yang disebarkan itu sumbernya dari sebuah media resmi yang beredar luas di Indonesia. Sedangkan di Indonesia selama ini media-media cetak rata-rata tidak mempermasalahkan kalau ada orang yang memperbanyak berita mereka dengan difotokopi, lalu disebar-luaskan. Mekanisme seperti itu sudah berkembang lumrah di masyarakat Indonesia. Kecuali, pada buku-buku tertentu, memang ada larangan dari penerbitnya untuk difotokopi, disebarkan, dan sebagainya. Namun untuk media cetak seperti koran, majalah, tabloid, sudah biasa disebar-sebar dengan metode fotokopian.

Kalau berita media sudah beredar resmi, diperjual-belikan secara bebas. Maka terserah masyarakat mau melakukan apa saja atas produk media itu. Mau difotokopi, dikliping, dibundel, ditempel di dinding, disebar-luaskan di masjid, dipotong-potong, disobek-sobek, dijual kiloan, atau dibakar seperti kayu bakar. Itu bisa-bisa saja. Wong selama ini, praktik seperti itu sudah biasa terjadi.

==> Tapi kan ini menyebarkan fotokopian di arena kampanye?

Tidak masalah sama sekali. Mau disebarkan di kampus, di masjid, di kantor, di pasar, di mall, di jalan-jalan, di kebun binatang, di tempat rekreasi, atau dimanapun, itu tidak masalah. Selama, berita itu bersumber dari suatu media massa resmi.

Lha, misalnya anda membeli sebuah tabloid. Lalu Anda mau bawa tabloid itu ke pasar, sawah, sungai, laut, ke atas pohon, ke dalam gua, masuk masjid, sekolah, dan sebagainya. Itu tidak masalah. Kecuali masuk tempat-tempat tertentu yang dilarang membawa media massa dari luar (seperti sekolah).

Jadi membawa fotokopian media massa resmi ke lokasi kampanye itu boleh-boleh saja. Sama saja seperti membawa kue, minuman, mainan, boneka, kendaraan, atau hal-hal yang diperbolehkan ke lokasi kampanye. Itu boleh-boleh saja. Dan juga tidak ada aturan, bahwa produk media cetak tidak boleh dibawa ke lokasi kampanye (termasuk kampanye tertutup).

==> Tapi kan, isi fotokopian itu bohong? Isinya menjatuhkan nama baik salah satu pasangan Capres?

Nah, soal bohong atau tidak, itu masalah berbeda. Yang jelas, membawa produk media cetak apapun, selama dari media resmi dan sudah beredar di masyarakat luas, itu tidak masalah. Sama seperti ada tim kampanye yang membawa fotokopian artikel dari Kompas, Media Indonesia, Republika, dll. Itu tidak masalah.

Misalnya, ada seseorang membagikan ribuan lembar kertas fotokopian artikel profil SBY dari Koran Kompas di sebuah arena kampanye Capres lain. Maka tidak ada satu pun yang menganggap hal itu sebagai pelanggaran. Alasannya bukan soal isi artikelnya, tetapi sumber artikel itu dari media resmi. Hal itu sama saja seperti seseorang membawa koran Kompas ke arena kampanye SBY, padahal di dalamnya ada profil Capres lain.

Kalau isi artikel itu dianggap bohong, atau diklaim sebagai bohong. Maka masalahnya ada pada media yang menyebarkan berita itu. Mereka dianggap telah menurunkan berita bohong sehingga merugikan pihak tertentu. Akhirnya, sasaran tuduhan itu lebih berhak dialamatkan ke pihak medianya.

Namun media pembuat berita itu memiliki alasan kuat. Mereka bisa beralasan, “Kalau berita kami memang salah, ya silakan gunakan hak jawab. Nanti kami muat di media kami. Kalau perlu sampaikan surat bantahan atau klarifikasi.” Kalau sejak berita itu beredar, tim sukses SBY-Boediono, atau khususnya dari keluarga Boediono sendiri, tidak memberikan klarifikasi ke media yang bersangkutan, maka berita itu dianggap tidak masalah disebar-luaskan ke publik.

Sayang sekali kalau hak jawab tidak dimanfaatkan, begitu pula klarifikasi berita. Padahal jika hal itu ditempuh, masalah seperti ini bisa clear sejak awal.

==> Andai akhirnya media bersangkutan benar-benar dituduh menyebarkan fitnah, maka mereka pun masih memiliki alasan kuat. Mereka bisa berkata, “Kami tidak membuat berita sendiri. Kami hanya mengutarakan apa yang disampaikan oleh narasumber. Soal valid tidaknya berita itu, silakan cek ke narasumber. Kami hanya memuat berita wawancara saja.” Dengan alasan ini, maka pihak yang dianggap memikul tanggung-jawab adalah Habib Husein Al Habsyi. Darimana beliau mendapat berita, bahwa isteri Boediono seorang Katholik? Itu berita benar atau tidak.

Nanti masalahnya lebih rumit lagi, sebab Habib Husein orang tunanetra. Beliau tidak mendapat berita, melainkan dari orang tertentu yang membisikkan berita kepadanya, atau membacakan berita kepadanya. Lalu siapa pembisik itu? Atau siapa reader beliau? Bahkan media apa yang beliau baca sehingga berkesimpulan seperti itu?

==> Dan menjadi semakin “panas” kerumitannya, ketika topik yang dimuat dalam wawancara itu lebih mengarah ke PKS. Artinya, yang menjadi sorotan disana adalah PKS. Judul tulisan itu sendiri, “Apa PKS Tidak Tahu Isteri Boediono Katolik?” Jadi, fokus tulisan ini sebenarnya lebih ke soal PKS. Apalagi Habib Husein al Habsyi menyebut diri sebagai Ketua Ikhwanul Muslimin Indonesia. Ormas ini jelas ada kaitannya dengan PKS, meskipun tidak langsung. PKS selama ini dikenal memiliki hubungan simbolik dengan Ikhwanul Muslimin di dunia; begitu pula Habib Husein dan pengikutnya mengklaim berhubungan dengan jamaah tersebut.

Habib Husein al Habsyi bisa membela diri. Dia bisa mengklaim sedang memberi masukan ke PKS. Siapa tahu, dia merasa mendapat informasi, lalu menduga PKS tidak tahu masalah itu. Jadi ini seperti hubungan antara Habib Husein dan PKS sendiri. PKS mungkin bisa mencak-mencak, karena merasa diremehkan oleh Habib Husein. Tetapi kan, namanya orang memberi masukan atau informasi, itu boleh-boleh saja. Meskipun misalnya, informasi yang diberikan ternyata salah.

==> Bahkan kasus ini menjadi jauh lebih “hot”, ketika relawan yang menyebarkan fotokopian di Medan itu, mengaku di depan Panwaslu Medan, dia disuruh oleh salah seorang anggota tim sukses SBY-Boediono. Wah apa lagi ini? Tim sukses SBY diduga menjadi otak di balik penyebaran fotokopian yang isinya dianggap mendiskreditkan pasangan SBY-Boediono. Mungkin kalau bahasa iklan dikatakan, “Jeruk kok makan jeruk?”

Bagaimana bisa tim sukses SBY-Boediono diduga menjadi otak dari penyebaran fotokopian berjudul, “Apa PKS Tidak Tahu Isteri Boediono Katolik”? Kemungkinannya ada dua: Pertama, ada pengkhianat di tubuh tim sukses SBY-Boediono yang bermaksud menelikung calon mereka sendiri; Kedua, anggota tim sukses itu berusaha menjatuhkan pasangan tertentu dengan isu black campaign. Mereka ingin menjatuhkan tim sukses JK-Wiranto dengan tuduhan telah melakukan black campaign di arena kampanye mereka.

Singkat kata, misalnya selebaran “panas” tentang pernyataan Habib Husein al Habsyi itu disebar di lokasi kampanye calon lain, selain SBY-Boediono, hal itu bisa dianggap black campaign terhadap pasangan SBY-Boediono. Padahal bisa jadi, penyebar artikel itu misalnya dari pendukung SBY-Boediono sendiri. Maksudnya, dengan cara itu mereka ingin menuduh orang lain melakukan black campaign dengan modus perbuatan “black campaign”.

==> Ibaratnya, seperti menuduh Si X melakukan pencurian, dengan terlebih dulu menjebak X itu agar melakukan pencurian. Karena pencuriannya sudah diatur, maka dengan mudah X ditangkap. Maka jadilah X sebagai pencuri by scenario.

Analisis seperti ini diperkuat oleh pernyataan Rizal Malarangeng berulang-ulang di media massa. Perhatikan substansi pernyataan Rizal!

Pertama, Rizal memastikan telah terjadi black campaign di Medan. Buktinya, tayangan TV saat seorang laki-laki (Adi Zein) membagikan lembaran-lembaran fotokopian dari sebuah tabloid. Padahal saat yang sama Rizal mengklaim, “Biarkanlah polisi yang bekerja melakukan penyelidikan.” Seharusnya, yang memastikan terjadi black campaign atau tidak adalah Panwaslu atau Kepolisian, bukan Rizal. Aneh, antara klaim dan argumentasi bertolak-belakang.

Kedua, Rizal sangat nafsu ingin agar Jusuf Kalla mengaku salah karena membiarkan penyerbaran kertas fotokopian di forum kampanyenya. JK dituntut meminta maaf ke isteri Boediono atas tersebarnya tulisan itu. Rizal membandingkan sikap JK dengan “jiwa besar” Boediono saat meminta maaf ke wartawan di Papua.

Ketiga, ini yang paling serius, Rizal menuding pasangan JK-Wiranto bersikap diskriminatif kepada kaum minoritas Katolik. Tim kampanye JK-Wiranto dianggap membiarkan beredarnya selebaran yang isinya “mengecilkan” kaum Katolik. Dengan kata lain, Rizal ingin memberi gambaran ke kaum minoritas, bahwa pasangan JK-Wiranto “berbahaya” bagi kaum minoritas.

Bila analisis ini benar, betapa sangat serius manuver tim sukses SBY-Boediono. Kita masih ingat saat Ruhut Sitompul menyemprot warga Arab, lalu kini ada kasus black campaign, dengan modus: “Jeruk makan jeruk.”

==> Dapat disimpulkan, tuduhan Rizal Malarangeng ke Jusuf Kalla itu serius. Itu bisa dikenai pasal-pasal pencemaran nama baik. Secara hukum, posisi Rizal Malarangeng lemah. Seharusnya Rizal ingat pesan SBY, “Lebih cepat lebih baik, tapi jangan grusa-grusu.” Nah, disini ada yang grusa-grusu.

Jangan-jangan, kasus black campaign di Medan ini hanya untuk “menyibukkan” lawan politik. Sementara aksi yang sebenarnya, “operasi senyap” sedang aktif-aktifnya bekerja menjelang even 8 Juli 2009. Hati-hatilah wahai para politisi, sebab kekuatan yang menenangkan Pemilu April lalu itu adalah: operasi senyap, modus kekacauan manajemen di KPU, dan penggiringan opini publik. Lihatlah apa yang tidak terlihat, awasi apa yang tidak terawasi!!!

AMW.

Iklan

One Response to Mengkritisi “Black Campaign” di Medan

  1. assalamu alaikum wr. wb.

    alhamdulilah…
    Selamat akhirnya golput berhasil memenangkan jumlah suara terbanyak!
    Saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung Partai Golput,
    baik yang dengan penuh kesadaran dan keikhlasan maupun yang tidak.
    Lho, maksudnya? Ga Nyambung & Ga Jelas? :-\

    Sudah saatnya kita ganti sistem!
    Sistem yang lebih “pro rakyat” dan lebih “berbudi”…
    Ayo kita ganti secepatnya, “lebih cepat lebih baik”…
    Mari kita “lanjutkan” perjuangan dakwah untuk menegakkannya!
    Sistem Islam, petunjuk dari Sang Maha Pencipta!

    Lihatlah dengan hati dan fikiran yang jernih!
    Aturan Sang Maha Pencipta diinjak-injak
    dan diganti dengan aturan yang dibuat seenak udelnya!
    Dan lihat akibatnya saat ini, telah nampak kerusakan
    yang ditimbulkan oleh sistem sekulerisme dan turunannya
    (seperti: kapitalisme, sosialisme, demokrasi, dsb) di depan mata kita!

    Banyak anak terlantar gara2 putus sekolah.
    Banyak warga sekarat gara2 sulit berobat.
    Banyak orang lupa gara2 ngejar2 dunia.
    Dan banyak lagi masalah yang terjadi gara2 manusia nurutin hawa nafsunya.

    Lihat saja buktinya di
    http://hizbut-tahrir.or.id/2009/05/12/kemungkaran-marak-akibat-syariah-tidak-tegak/
    http://hizbut-tahrir.or.id/category/alwaie/
    http://hizbut-tahrir.or.id/category/alislam/
    dan banyak lagi bukti nyata yang ada di sekitar kita!

    Untuk itu, sekali lagi saya mohon kepada semua pihak
    agar segera sadar akan kondisi yang sekarang ini…
    dan berkenan untuk membantu perjuangan kami
    dalam membentuk masyarakat dan negeri yang lebih baik,
    untuk menghancurkan semua bentuk penjajahan dan perbudakan
    yang dilakukan oleh manusia (makhluk),
    dan membebaskan rakyat untuk mengabdi hanya kepada Sang Maha Pencipta.

    Mari kita bangkit untuk menerapkan Islam!
    secara sempurna dan menyeluruh.
    mulai dari diri sendiri.
    mulai dari yang sederhana.
    dan mulai dari sekarang.

    Islam akan tetap berlaku hingga akhir masa!
    Dan Islam akan menerangi dunia dengan cahaya kemenangan!
    Mohon maaf apabila ada perkataan yang kurang berkenan (-_-)
    terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.

    wassalamu alaikum wr. wb.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: