Misteri “Pilpres Satu Putaran”

Kadang heran kalau memikirkan sikap SBY. Kita masih ingat saat awal-awal kampanye, SBY merasa tersinggung dengan slogan kampanye, “Lebih cepat lebih baik.” SBY membantah slogan itu dengan ucapan, “Jangan takkabur!” Ungkapan SBY ini terkenal, disiarkan berbagai media.

Singkat kata, SBY itu pemimpin moralis, rendah hati, tidak suka sikap takabbur. Ya, begitulah kesimpulan sederhana yang bisa dipahami. Tetapi kalau melihat manuver-manuver tim sukses SBY akhir-akhir ini, mereka justru seperti menelan ludahnya sendiri. Menasehati orang lain agar tidak takabbur, tetapi pada saat yang sama memperlihatkan sikap ketakabburan luar biasa. Ide “Pilpres satu putaran” bisa dianggap sebagai cermin ketakabburan luar biasa.

Kok bisa disebut takabbur?

Pertama, bagaimana mereka bisa yakin akan memenangkan Pilpres dalam satu putaran saja? Padahal untuk mencapai kemenangan satu putaran itu sulit, sesuai syarat yang ditetapkan UU Pilpres.

Kedua, mereka sangat meremehkan kekuatan pasangan lain, Mega Pro dan JK-Wiranto. Padahal kompetitor SBY-Boediono itu sama sekali tidak bisa diremehkan. Mereka ternyata lebih tangguh dari yang diperkirakan tim sukses SBY-Boediono. Bukan mustahil, nanti yang maju ke putaran ke-2 justru pasangan Mega Pro dan JK-Wiranto. (Menurut istilah Fadli Zon, “All Indonesians final”).

Ketiga, para pendukung SBY-Boediono sebenarnya sedang dilanda kecemasan hebat melihat popularitas lawan-lawan politiknya yang semakin kuat. Akibat tekanan kecemasan itu, mereka pun mengemukakan ide “Pilpres satu putaran”. Ide ini tak lain dari upaya keluar dari tekanan itu. Hanya saja memakai bahasa arogan.

Dalam pooling-pooling yang diadakan, popularitas SBY selalu berada di sekitar angka 50 %. Woow, suatu angka yang tinggi. Meskipun pooling ini diklaim bukan merupakan indikasi elektabilitas, tetapi ia paling tidak bisa mempengaruhi image masyarakat. Nanti masyarakat akan merasa “maklum” kalau pemenangnya adalah SBY-Boediono. Bahkan mereka bisa beralih dukungan dari Mega Pro dan JK-Wiranto, hanya karena “dipaksa” oleh hasil pooling itu.

Tetapi kita tahu dengan baik, bahwa kemenangan dalam pooling itu ditentukan oleh dua kelompok fanatik: Pendukung SBY di kota-kota besar dan massa PKS. Dalam soal pooling, PKS telah menjadi “pemenang tetap” dari waktu ke waktu. Mereka seperti memiliki stock pulsa unlimited. Meskipun kemudian terbukti, perolehan suara mereka kecil saja (hanya sekitar 8 %), dan gagal mengangkat wakilnya duduk di kandidat Cawapres.

Kembali ke soal Pilpres satu putaran. Mengapa harus ada ide seperti ini? Efektifkah ide ini untuk memenangkan Pilpres 8 Juli 2009?

Andai saya disuruh memilih: Mau satu putaran atau dua putaran? Dari hati kecil, saya lebih suka satu putaran saja. Alasannya, selain hemat, juga biar masyarakat cepat kembali ke ritme hidup produktifnya. Tidak terus-menerus diganggu hiruk-pikuk Pemilu yang memboroskan energi, pikiran, waktu, dan emosi itu.

Namun masalahnya adalah cara kelompok SBY dalam memenangkan Pemilu itu sendiri. Nah, ini masalahnya. Terus-terang, andai Pemilu selama ini berjalan fair, sportif, menghargai kompetisi yang sehat, serta memandang sama hak setiap kandidat (baik in cumbent maupun kandidat lain), maka Pemilu satu putaran sangat mungkin diraih. Namun masalahnya, Pilpres 8 Juli 2009 ini kelihatannya akan serupa dengan nasib Pemilu Legislatif April 2009 lalu. Masalah-masalah yang dijumpai masyarakat pada Pemilu April lalu, kini pun mulai bermunculan.

Dengan sangat keras Ketua Muhammadiyyah, Prof. Dr. Din Syamsuddin mengatakan: “Ketidaknetralan KPU dalam Pilpres akan menciderai demokrasi dan mengkhianati hak-hak politik rakyat.” (MetroTV, 1 Juli 2009).

Maaf, KPU di bawah Abdul Hafizh Anshari (yang kalau pidato sering menyebut nama Allah, Alhamdulillah, Insya Allah, dll.) seperti lembaga negara “paling brengsek” sepanjang sejarah. KPU seperti dihuni oleh person-person dengan kualitas moral dan kredibilitas paling mengerikan. Bisa-bisa lembaga ini menjadi SASARAN KUTUKAN masyarakat, yang menginginkan praktik kompetisi politik yang adil, jujur, dan sportif. Perkataan keras Pak Din Syamsuddin di atas adalah garansinya. Bagaimana tokoh seperti beliau sangat geram ke sikap KPU?

Terus terang, dari sisi pembiayaan, penghematan, dan cepatnya pulih kondisi masyarakat ke dinamika kehidupan normalnya, kita sangat ingin “Pilpres satu putaran”. Namun melihat praktik Pemilu April 2009 lalu, serta kebobrokan manajemen yang terus-menerus diperlihatkan KPU sampai saat ini, rasanya berbahaya bagi Indonesia untuk mendapatkan Pilpres satu putaran!

Andai nanti SBY-Boediono berhasil memenangkan Pemilu dalam satu putaran, melalui proses Pemilu yang penuh masalah, bobrok manajemen, serta keberpihakan KPU ke pasangan In Cumbent, maka bangsa Indonesia akan menghadapi masalah-masalah berat. Terutama dendam sosial dari jutaan masyarakat yang merasa telah dikelabuhi melalui Pemilu-pemilu yang curang. Dendam sosial ini adalah ancaman stabilitas nasional yang sangat berbahaya bagi masa depan bangsa.

Sungguh, tidak masalah Pemilu satu putaran atau dua putaran; selama sesuai mekanisme hukum yang disepakati. Tetapi kalau praktik Pemilu itu sendiri tidak berbeda dengan Pemilu April 2009 lalu, bahkan lebih buruk; maka Pemilu satu putaran adalah ide yang sangat buruk. Ia sama saja dengan ambisi berkuasa yang meluap-luap, dengan menghalalkan segala cara.

Saya hanya tertawa kalau ingat pesan seseorang pemimpin politik: “Jangan takkabur!” Pesan seperti itu disampaikan secara tidak ikhlas, dengan tujuan untuk menjatuhkan citra lawan politik yang mulai mampu menyaingi citra dirinya. Tetapi kemudian fakta sikap takabbur itu dengan SANGAT ELOK diperlihatkan sendiri oleh para pendukung pemimpin itu, dibantu partai-partai “spiritual” yang dzikirnya sehari-hari berbunyi: “Menteri Pendidikan, Menteri Olah Raga, Menteri Informasi, Menteri Kesehatan, Menteri Koperasi, Menteri Sekretaris Negara,….” (Dzikir kok kayak begitu ya? Itu sih “dzikir pak menteri”, bukan dzikrullah. He he he…).

Lalu, setuju Pemilu satu putaran?

Jawab: “Jangan deh, demi kejujuran, sportifitas, dan keadilan. Tidak mengapa biaya agak mahal, asalkan jujur. Jangan biaya rendah, tapi curang. Cara curang hanya akan mengancam kelangsungan bangsa ini ke depan!

Ya Allah ya Rabbi, kasihi kami, Ummat Islam di Indonesia. Tolonglah hidup kami. Jangan biarkan kami hidup terus menanggung derita. Allahumma amin ya Karim. Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.

AMW.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: