Sikap Elegan PP Muhammadiyyah

Saat kaum Muslimin mulai kehilangan kepercayaan melihat sikap partai-partai label Islam yang pragmatis dan berorientasi kekuasaan. Justru ormas-ormas Islam menunjukkan jati dirinya sebagai pengawal kepentingan Ummat. Alhamdulillah, semua ini patut disyukuri.

Forum Ummat Islam (FUI) baru-baru ini mendeklarasasikan dukungannya kepada JK-Wiranto, dalam bentuk menitipkan amanah Ummat kepadanya. Ya, mungkin JK-Wiranto belum ideal seperti yang diinginkan mayoritas para aktivis dakwah Islam. Tetapi disana telah tampak sikap-sikap pembelaannya yang significant terhadap urusan Ummat (mayoritas bangsa Indonesia adalah Ummat Islam). Kemudian muncul pembelaan dari Wahdah Islamiyyah, dalam hal pernyataan rasis yang diucapkan oleh Ruhut Sitompul (“mantan” anggota tim sukses SBY-Boediono).

Dan terakhir, adalah sikap elegan PP Muhammadiyyah yang memberi tempat bagi pertemuan dua kandidat Capres, Mega Prabowo dan JK Wiranto di kantor PP Muhammadiyyah sendiri. Sebagai mediator pertemuan, adalah Prof. Dr. Din Syamsuddin, Ketua PP Muhammadiyyah sendiri.

Apa yang ditunjukkan oleh PP Muhammadiyyah adalah praktik siyasah Islami yang kental. Ini merupakan salah satu contoh aplikasi siyasah Islami, dalam situasi sistem demokrasi, serta berbagai kondisi komplek di jaman kontemporer ini.

Mengapa dikatakan demikian?

[1] Pihak PP Muhammadiyyah tidak memiliki tendensi politik tertentu, misalnya ingin kekuasaan atau mengejar kursi menteri. Mereka netral saja, dalam rangka menjalankan tugas moral membimbing Ummat.

[2] PP Muhammadiyyah tidak dalam kapasitas mendukung salah satu Capres (Mega Pro atau JK-Wiranto). Tetapi mendorong supaya proses Pemilu Presiden berjalan jujur, adil, demokratis. Jelas semua pihak mengharapkan mekanisme Pemilu seperti itu.

[3] PP Muhammadiyyah lebih melihat kepentingan bangsa yang lebih besar, daripada soal dukung-mendukung pasangan Capres. Oleh karena itu mereka memberi fasilitas kepada dua kandidat Capres sekaligus, tidak salah satunya saja. Jika Pilpres Juli 2009 ini terjadi lagi cara-cara curang seperti Pileg April 2009 lalu, besar kemungkinan bangsa Indonesia ke depan akan penuh dengan masalah-masalah sosial. Mengapa? Sebab ada puluhan juta “dendam sosial” yang tersimpan di hati-hati masyarakat, akibat pelaksanaan Pemilu yang curang.

[4] PP Muhammadiyyah bertindak berani, ketika suara-suara politik partai label Islam tidak bisa diharapkan untuk mengawal tujuan-tujuan luhur siyasah Islamiyyah. Politik Islam yang dipertontonkan oleh partai-partai label Islam itu sangat bersifat TRANSAKSIONAL. (Tergantung nilai dan arah transaksi politiknya, bukan berdasarkan misi perjuangan politik Islam lagi).

[5] PP Muhammadiyyah berani berbeda sikap dengan PAN dan PMB yang notabene saat ini menjadi bagian dari koalisi SBY-Boediono. Sama pula, sikap PWNU Jawa Timur berani berbeda sikap dengan pilihan politik PKB yang merapat ke kubu SBY-Boediono.

Apa yang ditempuh oleh PP Muhammadiyyah, paling tidak melalui mediasi Prof. Dr. Din Syamsuddin, adalah sikap elegan yang patut diacungi jempol. Pertemuan kemarin malam yang melahirkan pernyataan politik berupa desakan kepada KPU agar membereskan berbagai persoalan seputar DPT, sebelum pelaksanaan Pilpres 8 Juli 2009 bukan untuk kepentingan politik sempit. Tetapi untuk keluhuran martabat bangsa itu sendiri.

Apalah artinya menang 70 % dalam Pilpres, kalau kemenangan itu ditempuh dengan cara curang? Apalah artinya, menang “satu putaran”, kalau melahirkan berjuta-juta kecewa di hati masyarakat? Apalah artinya jabatan RI-1, jika rakyat tidak ridha kepadanya?

Kita sangat khawatir, moralitas bangsa Indonesia akan masuk era “PASAR GELAP”. Maksudnya, kita akan masuk suatu era yang mendewa-dewakan PASAR, dengan cara-cara moralitas GELAP. Ya, praktik Pemilu yang curang secara telanjang dengan segala macam dalih dan argumentasinya, adalah indikasi-indikasi kuat ke arah era “PASAR GELAP” itu.

Ya, kasihan Ummat Islam dong kalau begitu… Iya, benar! Kita sangat mengkhawatirkan nasib Ummat Islam. Maksud hati melakukan gerakan REFORMASI, tetapi hasilnya bisa LEBIH BURUK dari praktik Pemerintahan Orde Baru. Kata pepatah, “Keluar dari mulut buaya, masuk ke mulut penggilingan daging.” (Maaf, istilah “mulut harimau” saat ini kurang relevan lagi, jadi diganti “penggilingan daging”, sebab lebih kejam).

Secara khusus, kita bersyukur kepada Allah, masih ada dalam kalangan Ummat ini yang menunjukkan sikap politik yang gentle. Alhamdulillah. Lalu kita berterimakasih kepada PP Muhammadiyyah, khususnya Prof. Dr. Din Syamsuddin atas prakarsa baiknya.

Dan satu lagi, seruan Hidayat Nur Wahid, agar ormas-ormas Islam mau mendirikan partai politik sendiri, tampaknya itu usulan bagus. Silakan direspon. Dalam rangka mereformasi cara berpolitik partai-partai konvensional pragmatis.

Demikian, wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.

Iklan

2 Responses to Sikap Elegan PP Muhammadiyyah

  1. Musafir Laut berkata:

    FAKTA : DUKUNGAN MUHAMMADIYAH TAK MAMPU DONGKRAK PEROLEHAN SUARA JK

    JK Kalah Telak Bukti Tokoh NU-Muhammadiyah Tak Laku

    http://pemilu.detiknews.com/read/2009/07/08/210922/1161692/700/jk-kalah-telak-bukti-tokoh-nu-muhammadiyah-tak-laku

    Rabu, 08/07/2009 21:09 WIB
    Indra Subagja – detikPemilu

    Jakarta – Capres Jusuf Kalla (JK) sempat menggandeng NU dan Muhammadiyah. Tapi sayangnya itu tidak berpengaruh banyak kepada peroleh suara di pilpres. Alamat tokoh agama sudah tidak dilirik massa pendukunganya?

    “Sebetulnya memang politik aliran sudah cair, sudah tidak ada. Jadi preferensi pemilih sudah bukan lagi pada identitas kultural, tapi pada tokoh dan dalam hal ini figur SBY lebih kuat dibanding tokoh agama itu,” kata pengamat politik Syamsudin Haris saat dihubungi melalui telepon, Rabu (8/7/2009).

    Dia menjelaskan, selain tokoh agama yang memang sudah tidak melekat kepada anggotanya, memang calon pesaing yang tampil dalam pilpres melawan SBY masih jauh sisi kefigurannya.

    “Ini akibat kebebasan memilih dan perkembangan demokrasi tidak lagi seperti dahulu. Jadi sekarang ini tidak seperti dahulu, yang berpola pemimpinnya milih A dan pemilih massanya milih A, sekarang sudah berubah,” tambahnya.

    Tapi hal ini juga bukan berarti masyarakat sudah berpikir realistis dalam memilih. “Ini karena kefiguran SBY yang mengalahkan tokoh agama dan pesaingnya, buktinya masyarakat tidak melihat isu dan kebijakan yang diperjuangkan, tetapi pada tokoh,” tutupnya.
    ( ndr / asy )

    Tokoh Agama Tak Lagi Jadi Pendulang Suara, Keok dengan Pencitraan

    http://pemilu.detiknews.com/read/2009/07/08/223232/1161706/700/tokoh-agama-tak-lagi-jadi-pendulang-suara-keok-dengan-pencitraan

    Rabu, 08/07/2009 22:32 WIB
    Indra Subagja – detikPemilu

    Jakarta – Tokoh agama dinilai sudah tidak lagi efektif menjadi pendulang suara. Buktinya, dukungan ormas keagamaan besar pada salah satu capres dan cawapres tidak meningkatkan suara. Citra masih yang utama rupanya.

    “Pencitraan yang utama, tokoh agama sudah tidak efeketif dan tidak mengakar lagi, terjadi delegitimasi struktural dan terjebak birokatisasi,” kata pengamat politik UGM Arie Sudjito saat dihubungi melalui telepon, Rabu (8/7/2009).

    Dia menilai di tubuh organisasi massa, dalam hal ini NU dan Muhammadiyah, sekarang telah terjadi fragmentasi dan tidak solid. “Sekarang sudah tidak menjadi mesin pengumpul suara lagi. Lagipula sekarang ormas mendukung secara malu-malu, tidak seperti dahulu NU yang nyata-nyata mendukung PKB dan itu memberikan suara signifikan,” terangnya.

    Selain itu saat ini politik aliran sudah semakin menyusut, penyebabnya bukan karena kepragmatisan tetapi karena tokoh agama yang tidak lagi memiliki basis hingga ke akar rumput.

    “Harusnya ormas merefleksi diri, membenahi ulang. Dan ini sebagai bukti juga pemimpin agama gagal mengelola basis massa dia,” tambahnya.

    Sementara terkait kemenangan SBY, menurut Arie faktor incumbent membuat dia lebih mudah menata pencitraan. “SBY incumbent dan bisa memanfaatkan otoritas sehingga bisa unggul di pencitraan,” tutupnya.
    ( ndr / gah )

  2. buy_vigrxplus berkata:

    The best information i have found exactly here. Keep going Thank you

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: