Air Mata Dunia untuk “King Jacko”

Jacko, kutulis sebuah surat kenangan untukmu…

Kalau kamu bisa membaca, surat ini kutulis setelah aku mengambil singkong di kebun. Jaman sekarang apa-apa mahal. Tanam singkon sendiri, lumayan untuk pengganti ongkos jajan. Singkong seperti ini bagus untuk bisnis. Tekstrurnya lembut, kulit lunak, rasanya juga lunak. Di pasaran harganya sudah lumayan. …lho, kok jadi ngomong bisnis ya? Padahal ini kan dalam rangka “in memoriam”. Ehm, mohon maaf, jadi keterusan membahas singkong.

Kembali ke laptop… (sambil tiga jari diarahkan ke monitor komputer).

Jacko, aku sedih mendengar kematianmu….

Bukan karena aku suka kamu, atau jadi fans kamu. Tapi sedih ngeliat orang-orang jadi pada nangis, setelah kamu mati. Mereka biasanya jarang nangis. Bahkan saat Nyak Babe-nye meninggal, mereka tidak menangis. Cuma pura-pura menangis, biar tidak malu amat sama tetangga-tetangga. Tapi begitu kamu mati, wahai Jacko, mendadak mereka menangis. Mereka mengatakan, “Forever love to you, Jacko! God bless you, God love you, all of the world love you!” Doa macam itu tak pernah mereka panjatkan saat Nyak Babe-nya wafat, tapi dipanjatkan saat kamu mati. Jacko, aku menangis sedih memikirkan kenyataan ini. Nyak Babe-nya yang sejak kecil nyuapin, nyebokin, ngasih uang saku, nyuciin pakaian, beliin jaket, sarung, kaos, sepeda, dan lain-lain. Tapi mereka pelit air mata. Giliran kamu, King Jacko, yang tak pernah berbuat apa-apa buat mereka, ditangisi sampai kering air mata.

Jacko, aku sedih mendengar kematianmu…

Kamu bener-bener “superstar” sejati. Kamu tidak cuma ngetop saat manggung, saat nyanyi, saat dancing dengan gerakan patah-patah. Bahkan kamu jadi bintang saat mati. Kematianmu jadi tontonan berharga mahal. TV, radio, majalah, koran, situs internet, gossip selebritis, dan lain-lain rasanya “berhari raya” saat kamu mati. Mereka berharap., andai kematianmu bisa diulang sampai 10 kali. Ya, biar pundi-pundi untung mereka semakin tebal, gitu loch!

Jacko, kamu hebat banget. Sampai kematianmu pun menjadi produk entertainment berharga mahal. Lebih dari seminggu mayatmu tidak segera dikubur, biar industri hiburan internasional meraup untung lebih banyak. Kalau mayatmu ditunda dikubur sampai tahun depan, mungkin industri musik dunia akan ambruk, semua bintang musik dunia kalah sama kamu. Bahkan, sampai saat kamu mau dikubur, otakmu diambil dulu, untuk penyelidikan. Ya Allah, kenapa tangan dan kakimu tidak diambil juga ya, buat kenang-kenangan di museum? Inilah manusia jaman modern. Makin bertingkah, makin kayak orang “gak genah”.

Hasil "metamormofis" bertahun-tahun.

Hasil "metamormofis" bertahun-tahun.

Jacko, jujur saja aku sedih mendengar kematianmu…

Sejak kamu mati, banyak orang memburu kaset dan CD kamu. Meskipun produk lawas, mereka borong juga. Mereka mau bayar mahal kaset-kaset kamu, atau CD-CD kamu. Tapi tenanglah… Untuk stock di Indonesia dijamin aman. Ya, tahu sendirilah, Indonesia ini kan negara “bajak laut”. Eh maaf, maksudnya terkenal dengan pembajakan. Jadi, hanya dalam hitungan beberapa jam, soal stock musik-musik kamu akan teratasi. Di Amerika sendiri, setelah kamu mati, CD kamu terjual laris manis, meningkat sampai 4000 % (40 kali lipat).

Jacko, kalau tahu akan begini, mungkin produser CD kamu akan menyesali diri, “Mengapa tidak mati sejak dulu saja ya, biar dagangan ini laris manis.” Di era Amerika sedang bangkrut seperti sekarang, kematianmu Jacko, bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi Amerika, mungkin 1,2 %. (Dari mana Mas ngitungnya? Ya, akal-akalan sajalah. Asal ada persen dan komanya).

Kalau melihat para artis Indonesia, mereka kan suka ikut-ikutan. Mereka tidak mandiri, tidak memilihi kehidupan sendiri. Mereka hidup di atas format orang lain. Mereka sangat takjub dengan segala yang berbau Amrik. Kalau melihat kematianmu ini, wahai Jacko, mungkin pra artis itu juga ingin ikut-ikutan terkenal, setelah mati. Aku bayangkan, mereka akan segera membuat hutang sebanyak-banyaknya. Lalu mereka tinggal di sebuah villa, menyendiri. Sambil mempersiapkan “konser terakhir”, mereka akan membuat kematiannya penuh misteri.

Saat ini aku taksir, ada beberapa icon musik Indonesia yang nanti matinya akan bikin heboh masyarakat nasional. Ya, nanti akan ada tontonan “termehek-mehek” seperti kamu itu lho, Jacko. Dijamin sama persis deh. Wong tinggal copy paste kok. Jangan tanya deh, orang Indonesia paling jago soal “copy paste” ini.

Jacko, aku sedih mendengar kematianmu…

Sejak kamu mati, akal manusia tiba-tiba seperti macet total. Mereka seperti lupa dengan segala catatan negatif soal kamu. Yang teringat yang baik-baiknya melulu, yang harum-harumnya saja. Mereka lupa, kalau kamu itu mati sambil menanggung hutang 4-5 triliun rupiah. Mereka lupa kalau gaya hidupmu itu sangat aneh, sampai takut menghirup udara di luar. (Kemana-mana selalu memakai masker). Mereka lupa kalau kamu itu punya pribadi sangat tertutup, minder, berinteraksi dengan binatang-binatang peliharaan secara berlebihan. Mereka lupa kalau kamu punya orientasi seksual aneh, terjerumus drugs, drink, dan pernah terjerat kasus asusila di pengadilan. Mereka juga lupa kalau kamu sudah mengubah wajahmu secara drastis, karena tidak percaya diri sebagai orang Negro. Bibirmu yang semula tebal ditipiskan; kulitmu yang semula gelap, dibuat terang; pipi yang semula seperti “bakpao” dibuat kempes; rambut yang semula kribo di-rebounding sampai lemes. Malah kamu telah mengubah wajahmu menjadi kelihatan “cantik”, karena tidak percaya diri dilahirkan sebagai laki-laki. Saat kamu mati, yang dikenang yang baik-baiknya saja; Yang buruk-buruk lupa semuanya. Sampai Barack Obama tidak lupa menyampaikan rasa belasungkawa atas kematianmu. Inilah praktik manipulasi informasi. Ya, siapa lagi pelakunya kalau bukan media-media massa.

Tidak di Indonesia, tidak di Amerika, atau di dunia. Banyak orang awam, mudah diombang-ambingkan oleh media-media massa. Media bilang hitam, mereka bilang hitam; media bilang putih, mereka bilang putih; media bilang abu-abu, mereka bilang abu-abu; media bilang transparan, mereka bilang transparan; media bilang kosong, mereka bilang kosong; media bilang dengkulmu, mereka bilang dengkulmu; media bilang kucu-kucu, mereka bilang kucu-kucu; media bilang yaho, mereka bilang yaho; media bilang huhui, mereka bilang huhui; media bilang diam, mereka bilang diam; media tidak bilang apa-apa, mereka bilang “tidak bilang apa-apa”; media stress karena diikuti terus, mereka bilang “stress”; dan seterusnya. Nah, inilah manusia jaman modern. Hidupnya menjadi mainan media massa.

Jacko, aku sedih mendengar kematianmu…

Katanya, kamu Muslim ya. Katanya kamu sudah masuk Islam. Sejak itu, orang Muslim sedunia yang juga terjangkiti penyakit minder, mereka cari-cari alasan untuk melakukan “Islamisasi” terhadapmu. Mereka berdebat ramai, “Jacko Islam, dia mati sebagai Muslim. Calon ahli syurga, mujahid seni sejati, pengikut jejak orang shalih…” (Mohon maaf, kalau dalam realitas sebenarnya tidak seperti ini. Ini cuma reka-reka saja, mengikuti praduga-praduga semata). Sampai ada yang mengklaim, lagu “Thank You to Allah” sebagai lagumu. Meskipun sebenarnya, itu lagu milik Zain Bikha, seorang Muslim asal Afrika Selatan. Jacko jacko, kamu betul-betul hebat. Sampai saat mati pun menimbulkan “ikhtilaf” di kalangan Ummat Islam. Ada yang mengklaim kamu Muslim, ada yang mengklaim tidak, ada yang ragu-ragu.

Jacko…andai kamu Muslim, apalah artinya status keislamanmu? Keislamanmu tidak akan bisa menghapus sekian banyak lagu dan tarian-tarian hedonis yang sudah tersebar di muka bumi selama puluhan tahun. Keislamanmu tidak akan bisa membersihkan “idol cancer” yang ada di hati puluhan juta manusia di dunia. Keislamanmu tidak bisa mengubah syair-syair lagumu menjadi Islami. Keislamanmu tidak bisa mengubah gaya jogetmu yang salah-satunya (maaf beribu maaf) seperti gaya seseorang sedang bersenggama itu. Keislamanmu tidak bisa mengubah dirimu yang telah menjadi “berhala dunia”. Keislamanmu menjadi tidak berarti ketika kamu sendiri mati dalam keadaan sedang mempersiapkan konser hedonis terakhir, dengan tajuk, “This is it!”. Jadi, status keislamanmu menjadi tidak penting dibahas. Tetapi pengaruh lagu-lagumu yang berperan membuat hingar-bingar arena dugem di seluruh penjuru dunia, itu baru masalah besar.

Jacko Jacko, kematianmu membuatku sedih. Bukan sedih memikirkan kamu, atau menangisi kematianmu, tetapi sedih memikirkan Ummat Islam yang lebih mencintaimu, daripada mencintai Allah, Rasulullah, Islam, dan kaum Muslimin. Inilah kesedihan di hatiku. Dan masih ada kesedihan lain yang akan menyusul, sebab orang sepertimu Jacko, masih banyak di dunia, atau di Indonesia ini. Aku tidak membayangkan, bagaimana nanti kalau artis-artis top Indonesia itu mati. Mungkin mereka akan diagung-agungkan seperti Jacko itu.

Hati-hati dengan cinta di hatimu, kawan. Jangan mencintai, kecuali orang-orang yang berhak dicintai. Nabi Saw pernah mengatakan, “Anta ma’a man ahbabta” (engkau itu kelak di Akhirat akan bersama orang yang engkau cintai). [HR. Bukhari-Muslim dari Anas Ra.].

Jacko, saat aku menulis ini, singkong yang tadi diambil dari kebun sudah dikupas. Mungkin sebentar lagi akan dimasak. Ya, apalah artinya singkong di mata lidah modern? Tapi, ia adalah nikmat Allah. Nikmat tidaknya sesuatu bukan karena harga atau gengsinya, tapi karena kesyukuran kita kepada-Nya.

Wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.

Iklan

4 Responses to Air Mata Dunia untuk “King Jacko”

  1. Jacko Jacko, kematianmu membuatku sedih. Bukan sedih memikirkan kamu, atau menangisi kematianmu, tetapi sedih memikirkan Ummat Islam yang lebih mencintaimu, daripada mencintai Allah, Rasulullah, Islam, dan kaum Muslimin. Inilah kesedihan di hatiku. Dan masih ada kesedihan lain yang akan menyusul, sebab orang sepertimu Jacko, masih banyak di dunia, atau di Indonesia ini. Aku tidak membayangkan, bagaimana nanti kalau artis-artis top Indonesia itu mati. Mungkin mereka akan diagung-agungkan seperti Jacko itu.

    sederhana. ini pembelajaran. selama hidupnya jacko memang bisa mengemas personal branding-nya dengan baik. maka kalo efeknya seperti sekarang, ya itu bisa dimengerti.

    dan, lagi-lagi kebanyakan dari kita cuma bisa mengeluh tanpa mau mengambil pelajaran darinya

  2. ra mudeng berkata:

    dan lagi-lagi ditemukan sosok pendamba jacko ,orang orang sampah ini yang dimana-mana bolak balik mengandalkan branding,laghi-lagi branding , makan tuh branding beserta kematian-nya yang begitu hina …sungguh narsis, tragis ,ironis!!!

  3. Jackson berkata:

    Michael ada segelintir org yg ngiri dgn semua kelebihanmu krn org2 sperti ini merasa paling ” bersih ” dr dosa tp michael percayalah ! Mrk tak kan dpt merubah cinta tulus kami padamu engkau akan tetap hdp abadi di hati kami

  4. abisyakir berkata:

    @ Jackson:

    == “Michael ada segelintir org yg ngiri dgn semua kelebihanmu.”

    Siapa Pak yang ngiri? Buat apa ngiri sama Si Jacko, buat apa? Kalau kami ngiri dengan Si Jacko, buat apa kami menempuh hidup yang sepi dari segala glamour dunia seperti ini? Kenapa tidak sekalian saja, misalnya meniru gaya Jacko. Termasuk gaya jogednya yang -maaf- seperti orang “senggama” itu. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Kami sudah dimuliakan Allah dengan Islam, mengapa mau berlaku hina seperti orang jahiliyah? Na’udzubillah min dzalik.

    == “krn org2 sperti ini merasa paling ” bersih ” dr dosa”

    Semoga kami ini termasuk orang-orang yang suka istighfar, memohon ampunan dari dosa. Bukan termasuk orang yang merasa suci dari dosa. Allahu Akbar. Mana ada orang yang kakinya akan sampai di syurga Allah, kalau merasa diri bersih dari dosa?

    == “tp michael percayalah ! Mrk tak kan dpt merubah cinta tulus kami padamu”

    Anda ini aneh. Apa cinta Anda kepada isteri, anak-anak, orangtua, kakak-adik Anda, sudah sehebat itu? Masak kepada Jacko bisa secinta itu, sementara ke keluarga sendiri buruk cintanya? Apa sih jasa Jacko buat Anda? Apa dia pernah peduli dengan Anda, pernah mendoakan, memberi uang jajan, dan lainnya. Paling Anda di mata Jacko hanya dianggap seperti “sampah”. Mana mau Jacko salaman dengan Anda, memeluk Anda, atau mendengar keluhan Anda.

    Jacko itu manusia bodoh. Dia tak layak dianggap seperti Nabi. Dia manusia biasa, bukan siapa-siapa.

    == “engkau akan tetap hdp abadi di hati kami.”

    Yang bener ajalah. Apa anda sudah mengangkat Jacko sebagai Tuhan, sehingga anda memperlakukan Jacko seperti itu? Sadar, sadar, ayo bangun, bangun, bangun man! Jacko itu bukan apa-apa. Dia itu manusia pengecut. Mau tahu buktinya? Dia mengubah bentuk wajah dan kulitnya sedemikian rupa, karena merasa malu dengan kodratnya sebagai orang negro. Kalau manusia ksatria, ya terima takdir Tuhan dengan bangga hati.

    Oh ya, terimakasih sudah komentar ya. Pokoknya, Jacko itu manusia biasa. Dia itu komponen industri, untuk mengeruk duit sebanyak-banyaknya. Sekarang saja, dia belum dimakamkan, biar bisnis kaset CDnya laku dulu. Kalau nanti mulai seret pemasaran, keluarganya akan bikin pengumuman “Jacko segera dimakamkan”. Maka media-media ramai angkat berita dia lagi. Setelah itu kaset dan CD akan laku keras lagi. Ketika sudah laku keras, nanti keluarganya akan menunda lagi pemakaman, biar masih dapat duit banyak. Begitu seterusnya. Sampai manusia yang waaras akan muntah melihat sikap konyol seperti itu. Tapi bagi -maaf- orang-orang kurang cerdas, mereka gemar diharu-biru perasaan oleh berita-berita sentimentil.

    AMW.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: