Cerita Duka Bangsa Pecundang

Bismillahirrahmaanirrahiim. Alhamdulillah, laa haula wa laa quwwata illa billah. Allahumma shalli ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du.

Kalau diibaratkan pesawat terbang, saat ini kita menghadapi cuaca yang penuh turbulensi. Pesawat diguncang-guncang oleh awan, angin, serta kerapatan udara yang tidak stabil. Negeri Nusantara yang kita diami ini tengah seru-serunya menghadapi masalah. Baik masalah internal berupa arah Reformasi yang kacau-balau menjadi Liberalisasi. Masalah kualitas hidup dan budaya sosial yang semakin rusak. Rongrongan asing yang tiada pernah surut. Bahkan, kenyataan pahit yang kemudian sering disebut sebagai New Colonialism.

Semua ini tidak muncul dengan sendirinya. Ia justru diundang oleh sifat-sifat rakyat Indonesia sendiri yang jauh dari karakter manusia yang tangguh. Lebih dari 500 tahun kita hidup sebagai bangsa Muslim, tapi keislaman itu sendiri seperti tidak ada dampaknya. Padahal, andai kita tidak memiliki apa-apa, selain keislaman di dada kita, hal itu sudah cukup untuk membuat bangsa ini hidup mulia. Betapa tidak, bangsa Arab hidup di tengah gurun, miskin air, miskin tanaman, berhawa panas di siang hari, sangat dingin di malam hari, angin menderu-deru seperti topan. Tetapi berkat Islam, mereka mampu membangun peradaban dunia yang luar biasa. Salah satu bukti kekuatan Islam. Eropa tidak akan pernah bangkit dengan Renaissance-nya, jika tidak mengambil khazanah ilmu-ilmu sains dari Andalusia Spanyol. Meskipun kemudian hal itu diklaim sebagai karya “original” ilmuwan-ilmuwan Eropa sendiri. Bangsa kita sekian lama telah menyia-nyiakan agamanya, sehingga hidup menjadi pecundang, hina-dina, dan lemah. Kalau kata Malik bin Nabi, kita telah memenuhi syarat-syarat bagi dihalalkannya penjajahan atas negeri kita.

Disini ada sebuah cerita dari khazanah fiksi dunia metafora. Cerita ini bisa menggambarkan dengan baik kemalangan sebuah bangsa.

Nun jauh disana, tersebutlah sebuah negeri bernama Ada Ada Saja. Disingkat AAS. Para pakar berselisih pendapat tentang singkatan AAS ini. Ada yang menduga hal itu juga memiliki arti: Anak Amerika Serikat, Alias Amerika Serikat, atau Aku Amerika Serikat. Tapi sejujurnya, AAS memang dari nama negeri itu, Ada Ada Saja.

Negeri AAS dihuni oleh sekumpulan manusia yang menjalani hidup aneh. Kalau melihat zhahirnya, mereka seperti Pak Haji dan Bu Hajjah. Memakai baju putih-putih, lengkap dengan kopiah putih, sarung Samarinda, membawa tasbih, serta sajadah yang warna-warni. Ibu-ibunya selalu memakai jilbab, berpakaian rapi, selalu mengumbar senyum. Tetapi batinnya: Mereka tidak mau diatur oleh Kitabullah dan Sunnah, selalu menuruti hawa nafsu sendiri, sangat takjub dengan segala budaya Barat, itu pun masih ditambah aneka rupa keyakinan klenik, mistik, khurafat, dll. Zhahirnya seperti Pak Haji dan Bu Hajjah, tetapi batinnya memeluk keyakinan “gado-gado”. Kalau diingatkan, mereka marah-marah. Bahkan tak segan menyerang orang yang mengingatkan, sambil menuduhnya: “Teroris Lu!!!”

Namun bangsa AAS itu memiliki sebuah istana yang sangat megah. Megah sekali, memukau semua mata di dunia. Istana mereka sangat megah, kaya raya, mentereng, penuh gengsi, full kemewahan. Selama bertahun-tahun mereka hidup menjadi penghuni istana itu. Bermacam-macam air liur telah menetes, demi menyaksikan kemegahan istana bangsa AAS ini. Banyak orang asing berlomba-lomba ingin diijinkan menempati ruangan-ruangan di istana itu.

Namun, entah karena alasan apa. Bangsa AAS merasa tidak peduli dengan istana megah yang dimilikinya. “Kami selama ratusan tahun hidup sebagai bangsa terjajah, hidup terlunta-lunta, menanggung segala duka dan derita. Kami tidak biasa dengan kehidupan istana ini. Kami sudah terbiasa hidup menderita. Kami tidak membutuhkan kemewahan istana. Kami merindukan hidup sebagai manusia terlunta-lunta,” begitu kata mereka. Tentu saja, pernyataan ini membuat shock semua orang-orang asing yang mendengarnya. Bukan shock karena sedih, tapi shock karena tidak percaya dengan perkataan yang didengarnya.

Lebih mengerikan lagi ketika salah satu elit politik negeri AAS itu secara resmi menyerahkan hak kepemilikan istana itu kepada orang-orang asing. “Sudahlah, kami ini orang kecil. Kami ini sudah biasa hidup menderita. Kami ikhlas saja kepada Allah, kami tawakkal saja. Kami hanya bergantung ke Allah, tidak bergantung ke istana. Silakan saja Mister dan Sinyo-sinyo, silakan Anda miliki istana ini. Kami ini orang kecil, kami tidak pantas memiliki istana semegah ini. Istana ini adalah dunia, dunia itu cobaan, dunia itu fitnah, bisa memalingkan hati manusia dari mengingat Allah. Silakan saja Mister dan Sinyo-sinyo, Anda kelola istana ini, kami ikhlas, tawakkal, dan husnuzhan kepada Anda semua. Kami ini orang cinta damai, tidak mau berselisih, tidak mau saling serang, tidak mau menyakiti hati orang lain. Sudahlah, istana ini hanya godaan dunia. Kata Allah, Akhirat itu lebih baik dan lebih kekal,” begitu kata elit politik itu mendalili kebejatan pikirannya.

Kalau semula Mister dan Sinyo-sinyo itu shock, sekarang mereka kejang-kejang. Malah sebagian langsung mati mendadak, karena serangan jantung. Bukan karena sedih lho, tapi karena kegembiraan amat sangat yang menusuk sampai ke ubun-ubun mereka. Sebagian orang itu mati seketika, karena serangan jantung. Seperti nasib “King Jacko”. Begitu gembiranya orang-orang asing itu menerima kunci istana, di hari itu mereka peringati sebagai hari raya. Perayaannya lebih megah dari tradisi Idul Fithri kita. Kemenangan besar mereka kemudian diabadikan dalam sebuah ungkapan: “Meminta kaca spion, diberi pabrik mobil!” Semula mereka hanya meminta sedikit tempat di istana itu, tetapi nyatanya malah diberi seluruh istana, sertifikat, sampai kunci-kuncinya.

Sejak istana megah diberikan kepada orang asing, warga negeri AAS itu tinggal di luar istana. Mereka tinggal di emperan, di dekat serambi istana, atau mengumpul di halaman-halaman istana. Ada juga yang membuat tenda dari karung beras, biar lebih awet. Tetapi kalau penghuni istana marah melihat tingkah mereka yang mengotori istana, mereka cepat-cepat kabur bersembunyi. “Kabur, kabur, kabur. Awas ada Mister, ada Sinyo. Ayo kabur!” teriak mereka sambil lari tunggang-langgang. Setelah berada di tempat aman, mereka berkumpul-kumpul, sambil bercerita macam-macam tentang kisah menyelamatkan diri. “Aku tadi lari secepat Superman,” kata Si Udin. “Aku tadi terbang mengendarai sapu lidi, seperti Harry Potter,” kata Kang Parman. Yang lain bilang, “Aku tadi masuk ke bumi, bersembunyi bersama ular Kobra dan Dinosaurus.” Mereka bercerita macam-macam tentang kehebatan yang tidak pernah dimilikinya. Lebih mengerikan lagi, kehidupan seperti itu mereka wariskan kepada anak-cucunya. Bahkan mereka membuat kurikulum tersendiri untuk mencetak manusia-manusia sejenis di kelak kemudian hari.

Suatu hari, pemilik istana membuat pengumuman. Mereka membutuhkan para pembantu, tukang kebun, tukang sampah, tukang beres-beres kotoran, tukang memelihara anjing, tukang menangkap kutu, tukang mengggaruk punggung, tukang membersihkan daki, tukang sulap, tukang mencari tukang, tukang memarahi tukang, dan lain-lain. Pengumuman ini membuat geger warga negeri AAS. “Kami tidak tahan hidup lari-lari terus. Kami tidak enak tinggal di bawah tenda. Kami tidak mau dikejar-kejar anjing. Kami sudah tak tahan hidup menderita. Kami ingin hidup aman, nyaman, tentram, adil, makmur, damai, sentosa, gemah ripah loh jinawi,” kata mereka mengomentari pengumuman istana itu.

Sejak itu mereka bersaing ketat untuk menjadi babu-babunya istana. Tujuan mereka hanya satu: “Tinggal di dalam istana, meskipun tugasnya harus mengelapi telapak kaki Mister dan Sinyo.” Bahkan sampai ada yang mengatakan, “Makanan anjing Mister lebih enak dari makanan kita sehari-hari.”

Tidak jarang ada yang memakai cara-cara tidak terpuji untuk mendapat pekerjaan di istana. Ada yang menyuap, memberi gratifikasi macam-macam, memalsukan ijazah, memakai “surat sakti” (katebelece), pura-pura memelas dan dramatik, ada yang menyewa joki untuk menjawab soal test, ada yang datang ke Gunung Kawi, ada yang “Reg. Mama” untuk dapat nasehat spiritual, dll. Pokoknya kerja di istana, apapun caranya.

Tapi sebentar, “Bagaimana nasib elit-elit politik negeri Ada Ada Saja yang dulu bicara soal ikhlas, tawakkal, husnuzhan, damai saja, jangan tergoda oleh dunia, dunia itu fitnah, dan lain-lain itu? Dimana mereka? Apa yang kemudian mereka lakukan?” Jujur saja, ini untuk kita-kita saja ya. Mereka itu ada di barisan antri terdepan, sedang antri mengikuti test menjadi pelayan istana di bagian bebersih kamar mandi. Ketika ditanya soal ikhlas dan tawakkal hidup menderita, mereka menjawab, “Kami tidak pernah mengatakan itu. Itu fitnah. Itu hanya wartawan saja yang salah kutip. Mohon jangan memutar-balikkan fakta.” Jawaban yang paling sinis, “Memang anak-isteri gue dikasih makan ‘ikhlas’ dan ‘tawakkal’? Realitistis saja, man! Hari gini bicara ‘ikhlas’ dan ‘tawakkal’. Sono pergi ke laut saja!”

Termasuk fenomena yang aneh. Karena istana besar, pemilik istana butuh tenaga-tenaga untuk menjadi SATPAM. Ya, tentu saja, yang ngantri mau jadi satpam banyak juga. Mulai dari yang tubuh kerempeng sampai tubuh gempal-gempal ala Ade Ray. Kerjanya, hanya menjaga istana dari unsur-unsur luar yang membahayakan.

Istana itu pun benar-benar aman. Siapapun tidak bisa menggugat. Wong segala perangkat untuk pengamanan sudah dilakukan. Barisan satpam setiap saat siap menghardik, menendang, atau mendorong warga di luar istana yang bermaksud masuk istana tanpa ijin. Bahkan, para satpam ini lebih galak dari penghuni istana itu sendiri. Di depan pemilik istana mereka tidak berdaya, tetapi di depan warga di luar istana, mereka sangat “menyeramkan”.

Akhirnya, istilah gemah ripah loh jinawi malah bisa dicapai oleh orang-orang asing yang kemudian berhasil menguasai istana. Adapun warga negeri Ada Ada Saja, mereka hidup menderita dengan segala cerita duka dan sesalan di hatinya. Mereka ingin menjerit histeris, tetapi tidak mampu. Mereka menyesali diri.

Cerita metafora ini membawa kepada banyak pertanyaan: “Mengapa bisa terjadi tragedi kehidupan seperti itu? Dimanakah akal sehat, dimanakah kesadaran? Dimanakah ciri-ciri umum manusia normal? Apakah ini merupakan hasil dari penjajahan mental selama ratusan tahun di era kolonial?”

Jika kita Muslim, harusnya tidak terjadi kenyataan mengerikan seperti dalam metafora di atas. Nabi Saw sendiri mengatakan, “Orang Mukmin itu tidak akan terperosok lubang sampai dua kali.” Lha, ini tidak. Lubang itu malah dibuat permanen dengan beton, digali lagi sampai 1000 lubang. Setiap pagi, siang, dan sore, diwajibkan melakukan ritual memasukkan kaki ke lubang-lubang itu.

Dalam Al Qur’an dikatakan, “Ulaika kal an’aam, bal hum adhal” (mereka seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi).  Surat Al A’raaf: 179. Semoga Surat ini tidak menjadi justifikasi untuk mengadili keadaan kaum Muslimin di negeri ini. Allahumma amin ya Rabbana ya Karim.

Tidak ada keinginan untuk melecehkan, menghina, atau merasa pintar. Tetapi Allah itu tidak menzhalimi hamba-Nya, melainkan hamba itu sendiri yang menzhalimi dirinya sendiri. Dan berulang-ulang Allah Ta’ala mengingatkan, “La’allahum ya’qiluun” (agar mereka memakai akalnya). Kalau manusia telah diberi mata, pendengaran, hati, dan pikiran, tetapi semua itu tidak dipakai dengan baik; dia akan seperti derajat hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi dari itu. Semoga kita dijauhkan dari berbagai bala’ dan malapetaka, di dunia dan Akhirat. Allahumma amin ya Karim.

Wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.

Iklan

One Response to Cerita Duka Bangsa Pecundang

  1. fredi berkata:

    GW BINGUNG
    MAU TERTAWA
    ATO MAU NANGIS
    BY THE WAY THANKS PENCERAHANNYA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: