Perahu Golkar “Pecah”

Kekalahan telak Jusuf Kalla, menurut versi quick count, adalah kenyataan yang sangat aneh. Sebab kekalahannya bukan hanya dari unsur eksternal, tetapi juga dari internal Partai Golkar sendiri. Ibarat pohon pisang, ia ditebas kampak dari kanan dan kiri, maka robohnya pohon itu hanya menunggu waktu saja.

Dari unsur eksternal sudah dimaklumi, Jusuf Kalla adalah penantang terberat kandidat in cumbent. Sehingga wajar kalau kantong-kantong pendukungnya “digarap intensif”, termasuk di Sulawesi Selatan sendiri. Dari unsur internal, gerakan-gerakan yang dimotori “Triple A” (Akbar Tandjung, Aburizal Bakrie, dan Agung Laksono) berhasil mengempesi dukungan pemilih Golkar terhadap JK. Dan tentu, “Triple A” ini tidak akan mulus gerakannya, kalau tidak didukung unsur eksternal.

Kasihan sekali, orang sepotensial JK dikadali oleh elit-elit politik dari kubunya sendiri. Bagi Akbar Tandjung, prestasi menggembosi JK merupakan prestasi kedua, setelah tahun 1999 lalu dia sukses menggembosi BJ. Habibie. Sepertinya, Akbar memiliki keahlian khusus dalam soal gembos-menggembosi. Mungkin dulu, sebelum menjadi konglomerat, dia pernah magang di tambal ban.

Dibandingkan Habibie, komitmen JK terhadap Islam tergolong lunak. Dia di berbagai kesempatan mengklaim diri sebagai orang NU. Semua orang Indonesia tahu, NU itu mewakili garis ormas Islam yang lunak. Namun di mata Akbar Cs., yang seperti itu pun harus “disikat” juga. Seolah, jangan ada sedikit pun representasi Islam dalam kancah perpolitikan nasional. Cukuplah Islam diwakili para politisi oportunis, mudah dibuai oleh kucuran dana, selalu manut saat mendapat jatah menteri, dan mental-mental sejenis. Islam yang memiliki kepedulian terhadap masa depan bangsa dan negara, sepertinya HARAM di mata Akbar. Islam harus menjadi jongos kapitalisme, budak pasar bebas, atau skrup kecil industrialisasi.

Ideologi kapitalisme yang dulu dipraktikkan oleh Qarun, tampaknya dibela mati-matian di jaman ini. Hanya bedanya, kalau dulu Qarun mewakili individu, maka kini kapitalisme diusung oleh jaringan korporasi lokal dan internasional. Idenya masih sama, ketamakan tak terkendali terhadap kekayaan, tetapi cara operasinya lebih cerdas. Neo Qarun di jaman modern lebih fasih mengucapkan: Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh; alhamdulillah; insya Allah; Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan lain-lain. Kalau perlu, mereka membuat biro Haji dan Umrah untuk meyakinkan tentang “keshalihan” dirinya.

Partai Golkar kini diambang perpecahan. Satu kubu membawa misi idealis, untuk membangun kemandirian bangsa. Satu kubu lagi, mengusung bendera pragmatis, selalu menempel ke kekuasaan, apapun alasannya.

Kekalahan JK –masih versi quick count- merupakan bukti kekalahan kubu idealis. Mereka sudah bekerja maksimal membangun pencitraan diri JK melalui program-program kampanye. Tetapi mereka tidak waspada terhadap “silent operation” yang mengarah ke potensi pendukungnya.

Dalam konteks ini, kita masih bersyukur bahwa sebagian politisi masih menghargai idealisme, meskipun akhirnya mereka “kalah” dalam kompetisi. Idealisme adalah usaha dan pengorbanan tulus untuk niat-niat kebaikan. Ia jauh dari tendensi-tendesi sempit, rendah, dan bercorak materi semata.

Dulu waktu BJ. Habibie dihancurkan oleh Akbar Tandjung, kita merasa sangat kesal. Betapa tidak, negara waktu itu dalam kondisi hancur-hancuran sangat membutuhkan orang-orang yang memiliki kemampuan, keahlian, dan keberpihakan. Namun sayang, Habibie dengan segala keahliannya yang sedang dibutuhkan negara, justru “dihabisi” secara politik. Alasannya, karena dia peduli dengan nasib rakyat Indonesia. Begitu pula, ketika ada sosok JK yang sebenarnya jauh dari kesan radikal, dia telah bekerja nyata, dan menghendaki bangsanya menjadi bangsa mandiri dan bermartabat. Dia juga dihabisi dengan cara-cara tidak kesatria.

Lalu pertanyannya, siapakah Akbar Tandjung ini? Mengapa dia selalu sukses “menghabisi” orang-orang potensial di negeri ini?

Saya teringat sekitar tahun 1998 lalu. Waktu itu Reformasi baru bergulir. Golkar berubah menjadi Partai Golkar dengan Ketua Umumnya, Akbar Tandjung. Para mahasiswa bersuara keras, mereka menuntut agar Golkar dibubarkan, seperti PKI dibubarkan pasca G30S/PKI dulu. Namun dengan keberaniannya, Habibie tetap memelihara Golkar. Dia rela menjadi bumper, untuk menyelamatkan Golkar.

Lalu apa balasan bagi pengorbanan Habibie itu? Ya, dia disingkirkan secara menyakitkan oleh Akbar Tandjung Cs. Waktu itu Akbar menjadi Ketua DPR dan menolak pertanggung-jawaban Habibie dalam SU MPR. Bahkan Akbar ikut membantu menyerang Habibie, lewat “skandal Bank Bali”.

Dan lebih hebatnya lagi. Dalam poster-poster kampanye Partai Golkar tahun 1999 lalu, disana ada foto Akbar Tandjung di sisi sebuah tulisan: “Golkar Paraadigma Baru”. Di bawah tulisan itu adalah ungkapan: “Fastabiqul Khoirot”. Demi Allah, saya geleng-geleng kepala kalau ingat poster “Fastabiqul Khoirot” itu. Kok ada ya manusia kayak begitu? (Atau jangan-jangan saya saja yang kurang gaul alias kuper).

Sekali lagi pertanyaannya, siapakah Akbar Tandjung? Apakah dia seorang patriot bangsa? Nasionalis sejati? Politisi berjiwa negarawan? Elit politik yang penuh idealis? Pahlawan pembangunan? Atau kebalikan dari semua itu?

Wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.

Iklan

One Response to Perahu Golkar “Pecah”

  1. dadang berkata:

    memang terkadang kita lupa dmana??kta menaruh pensil???dan padahal pensil itu terletak ditelinga kita,(pernah mengalami)??????????
    kita tidak pernah fokus akan ap yg akan kita lakukan skg,dan apa yang ingin orang lain lakukan thd kita sebagai orang yg berpotensial knp bang JK tidak bisa membaca peta tersebut,pasti bng Jk pernah dunk mengalami politik forum,??ketika menjabat sbg ketum hmi cabang makasar klo benar itu jg?,disitu kita banyak belajar dlm meng,antisipasi keadaan dalam kancah dunia perpolitikan, trima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: