Politik Tambah Mbulet

Anda pernah main layang-layang?

Bayangkan, saat main layang-layang, layang-layang Anda terbang tinggi, makin tinggi. Anda terus mengulurkan benang, mengikuti gerakan layang-layang. Entah karena apa, layang-layang Anda putus, benang yang panjang itu pun harus ditarik kembali. Anda cepat-cepat menarik benang, agar tidak diputus orang. Anda tarik kuat-kuat benang itu sambil terus bergerak ke kanan ke kiri, agar benang yang ditarik terhampar di tempat yang luas. Saat benang tinggal digulung saja, bocah-bocah kecil berlarian ke arah benang Anda, kambing-kambing berdatangan ke tempat itu. Apa yang terjadi? Di tanah banyak benang belum digulung, anak-anak kecil dan kambing berlarian disana. Apa yang terjadi? Jelas benang Anda akan kusut. “Mbulet gak karuan,” kata orang Jawa Timur.

Ya, begitulah. Kondisi politik Indonesia saat ini seperti benang kusut. Mbulet gak karuan. Ini fakta, lho. Realitasnya memang seperti itu. Kalau mau tahu, mari kita baca realitasnya:

[o] Belum juga KPU mengumumkan pengumuman hasil resmi Pilpres 8 Juli, lembaga-lembaga surve sudah mendaulat SBY menjadi pemenang. Meskipun dengan catatan: “versi quick count”. Selain KPU-nya sendiri memang lelet kerjanya; hadirnya quick count menjadi “partai politik” tersendiri. Mereka itu di mata umum dikenal sebagai lembaga surve independen. Tetapi aksi-aksinya tendensius.

Terus terang saya malu melihat tingkah para surveyor politik itu. Sangat memalukan. Lihat tingkah Saiful Mujani saat memberi penjelasan tentang hasil-hasil survey LSI. Dia kayak manusia yang suci, pakart statistik, sangat mengerti seluk-beluk realitas politik. Begitu pula dengan TVOne. Sangat memalukan. Katanya “TV number one”, tapi tetap kerjasama dengan LSI Deny JA. dalam soal quick count. Ini sangat memalukan. Padahal di TVOne sendiri iklan “pilpres satu putaran” Deny JA sudah dibahas berulang-ulang. (Tadinya, di TV kami TVOne kami letakkan di channel nomer satu. Pasca Pilpres, ia saya letakkan di channel nomer 9, dekat dengan TPI. Tepat kata MetroTV, “Kebenaran tidak bisa digadaikan.”).

[o] Begitu menyadari kandidat jagoannya kalah, Fahmi Idris, ketua tim sukses JK-Wiranto membuat pernyataan aneh, “Golkar tidak biasa menjadi oposisi. Golkar selalu bersama kekuasaan.” Itu diucapkan tidak lama setelah rapat-rapat di Golkar untuk menyikapi hasil Pilpres dan quick count. Bayangkan, yang mengatakannya seorang elit, ketua tim sukses yang belum menurunkan senjatanya dalam kompetisi politik. Ibarat prajurit, dia sudah mau menyerah sebelum hasil peperangan diumumkan. Aneh sekali.

[o] Katakanlah, Golkar kalah dalam Pilpres yang mengusung JK-Wiranto. Atas hasil itu, sebagian elit Golkar yang dimotori Akbar Tandjung mencoba mengarahkan biduk partai ini agar berkoalisi dengan Demokrat-SBY. Ya Allah, ini betul-betul ngisin-ngisini. Keringat perseteruan politik dengan Demokrat-SBY belum juga kering, Golkar ingin merapat ke kubu SBY. Kok ora nduwe isin yo? (Kok tidak punya malu ya?). Lha, berbagai kritik ke SBY kemarin, malah dalam forum Debat Capres, itu mau dikemanakan ya? Apa mau ngajari rakyat supaya jadi MUNAFIK semua?

[o] Partai-partai pendukung SBY dalam Pilpres, tadinya diiming-imingi dengan jabatan empuk, kursi menteri. “Kamu dapat ini, itu. Kamu dapat ini dan ino. Kalau kamu, dapat unu dan oni. Sementara kamu, dapat Inul saja deh.” Tapi menjelang penyusunan kabinet, tiba-tiba muncul opini “kabinet berbasis keahlian”. Lho, kok yang begituan tidak diumumkan dulu-dulu, sejak awal koalisi? Yo wis lah, terserah kamu saja.

[o] Yang paling parahnya, saat ini PDIP sedang didekati oleh elit-elit Demokrat. PDIP akan ditundukkan dengan mekanisme “koalisi”. PDIP katanya akan mendapat jatah “Ketua MPR”. Konon, sebagian elit PDIP mulai gelisah memikirkan tawaran ini. “Diambil nggak? Diambil nggak? Nggak apa diambil? Diambil apa diambil?” Seperti orang lagi memilih dengan menghitung kancing.

Ya Allah ya Rahmaan, saya itu gak habis mengerti dengan model politik seperti ini. Ini politik opo iki? Iki politik apa pembodohan berkedok politik? Nyaris tidak ada nilai-nilai moralitas disana. Semua dihitung sebagai kekuasaan, jabatan, uang, fasilitas, dan sebagainya. Nah, orang-orang seperti itu yang akan memimpin Indonesia ke depan. Ya Ilahi ya Rahmaan, inilah yang oleh sebagian orang diklaim sebagai “ulil amri”. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Nabi Saw pernah mengatakan, “Fa illam tastahi, fasna’ ma syi’ta” (kalau kamu sudah tidak punya rasa malu lagi, lakukan saja apa yang kamu inginkan). Disebutkan dalam hadits Imam Bukhari.

Apa yang kita saksikan sekarang adalah pameran orang-orang yang minus rasa malu. Kemarin marah, sekarang sangat mencintai sampai sakaw. Sekarang mencintai, besok mau membunuh. Besok mau membunuh, besoknya lagi menghiba-hiba dalam rindu. Begitu seterusnya. Perubahan dari titik ekstrim kanan ke titik ekstrim kiri berjalan setiap hari. Ya Rabbana, entahlah apa lagi yang harus dikatakan.

Yang jelas, politik seperti ini tidak ada berkahnya sama sekali. Sebab muaranya adalah “Triple Ta” (Harta, Tahta, dan Wanita). Ya terserah masyarakat sajalah. Toh, itu yang mereka pilih. Silakan nikmati hasil pilihan Anda. Saya sendiri mau cepat-cepat mundur dari hingar-bingar politik tidak bermoral ini. Ya, kita banyak bertaubat kepada Allah dan berlindung kepada-Nya dari segala fitnah.

Kini giliran masyarakat untuk menikmati hasil dari pilihan politiknya. Silakan dinikmati, dirasakan, diapresiasi, dienak-enakkan. Jangan menangis, jangan mengeluh, jangan kecewa dan sakit hati. Wong, itu hasil pilihan Anda sendiri kok? Ya, silakan saja pilihan Anda dipeluk erat-erat, dikekepi, disayang-sayang. Monggo, jangan sungkan-sungkan untuk menikmati apa yang telah Anda pilih!

Siapapun yang istiqamah di jalan Allah, tidak akan Dia kecewakan. Andai, mereka yang telah menikmati eloknya “Triple Ta” dengan cara-cara menggadaikan prinsip-prinsip akidah Islamiyyah; andai mereka ditanya, “Apa yang Anda inginkan, seandainya hal itu bisa diwujudkan?” Tentulah mereka akan mengatakan, “Saya ingin kembali ke masa lalu, di jaman saat masih istiqamah, meskipun hidup pas-pasan.” Sungguh, kehilangan nikmat spiritual yang melanda dada-dada mereka saat ini sangat hebat, jauh melebihi nikmatnya gelimang materi yang mereka terima.

Kawan, Allah telah mengingatkanmu berulang-ulang, tapi kalian merasa “lebih pintar” dari Allah. Kalian merasa, “Allah itu gampang. Bisa diatur!” Maka nikmatilah kini kehilangan nikmat spiritual yang amat sangat berat itu!!!

‘Ala kulli haal, laa haula wa laa quwwata illa billah.

AMW.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: