Usia Berapa Aisyah Ra. Dinikahi Nabi?

Catatan editor: Tulisan ini merupakan kontribusi bapak Tohir Bawazir, seorang prakisi perbukuan Islam di Jakarta. Ia merupakan diskursus tentang usia Aisyah binti Abu Bakar Ra. saat menikah dengan Nabi. Silakan direnungkan, dibaca, dan diapresiasi. Diskusi terbuka luas, asal tetap baik dan santun. Moga Pak Tohir berkenan merespon diskusi-diskusi yang muncul dalam topik ini. Terimakasih kepada semua pihak, khususnya kepada Pak Tohir Bawazir. (AMW).

Melihat gegernya kasus pernikahan seseorang yang mengaku sebagai Syaikh Puji dengan anak di bawah umur (baru 12th), saya jadi terpancing untuk ikut berkomentar. Terlebih lagi pernikahan yang tak wajar ini selalu dikaitkan dengan pernikahan junjungan kita Nabi Muhammad SAW dengan Aisyah ra. yang juga masih di bawah umur (ada yang menyebut 6th dinikahi dan 9th dicampuri, ada pula yang menyebut 9th dan baru umur 12th dicampuri, namun ada pula yang menyebut 12th dinikahi dan baru 15th dicampuri).

Para ulama dan sejarawan Islam berbeda pendapat kapan tepatnya usia Aisyah dinikahi Nabi. Karena mereka berbeda pendapat berapa persisnya usia Aisyah ketika dinikahi Nabi, berarti dari berbagai versi ini pastilah banyak yang salah hitung, atau malah bisa jadi semuanya salah. Namun paling tidak tiga versi inilah yang paling banyak  dipakai atau diterima pandangannya. Sebelum kasus pernikahan tak lazim Syaikh Puji dengan anak-anak, kalangan non-Muslim terlebih  Orientalis, sudah sering menyudutkan pribadi dan kemuliaan junjungan  Nabi kita Muhammad SAW karena menikahi Aisyah ra yang masih di bawah umur. Yang jadi pertanyaan usia berapa Aisyah dinikahi Nabi? Benarkah Nabi menikahi anak yang baru 6th, atau 9th atau 12th (usia Aisyah dalam berbagai versi yang paling masyhur)?

Sebagian sejarawan Islam dan  para ulama sering ‘memantas-mantaskan’ usia Aisyah yang masih anak-anak,seolah-olah sudah pantas dinikahi karena tabiat masyarakat kala itu, usia sebesar itu sudah siap dinikahi dibanding masyarakat sekarang.  Dimana pada usia sekitar 13th anak perempuan  zaman sekarang baru mulai menstruasi (tanda kematangan biologis, dimana organ tubuh sudah mulai siap reproduksi). Kalau ini yang menjadi argumen, justru menurut pandangan saya malah terbalik. Anak-anak zaman sekarang sudah tentu  lebih cepat matang dan dewasa karena iklim yang makin terbuka, informasi makin gampang diakses, gizi juga semakin baik, sehingga kematangan biologis anak-anak sekarang lebih terpacu karena ada pemicunya. Otomatis anak-anak zaman sekarang pasti lebih cepat matang secara seksual dibanding tempo dulu, apalagi di zaman Nabi. Jadi kalau saya membayangkan usia Aisyah yang katakanlah baru 9th, menurut saya memang masih anak-anak. Namun yang jelas Nabi menggauli Aisyah ketika Aisyah sudah haidh (artinya sudah matang secara biologis, bukan anak-anak lagi).

Mengingat sejarawan Islam bersepakat bahwa Nabi SAW menggauli Aisyah ra ketika Aisyah sudah baligh , jadi mestinya kita bisa menjawab tuduhan para orientalis bahwa Nabi SAW tidaklah menggauli istrinya ketika masih anak-anak, namun  Aisyah sudah layak digauli yaitu ketika sudah datang bulan (haidh).  Inilah ukuran/patokan kapan seorang anak perempuan boleh dinikahi/digauli. Yang masih tersisa pertanyaannya  yaitu berapa umur istri Nabi pada saat itu? Maaf, saya boleh berpendapat (toh memang sudah ada perbedaan pendapat sebelumnya)  berbeda dengan sebagian ulama  dan sebagian sejarawan Islam yang menggambarkan seolah-olah usia Aisyah masih anak-anak betul ketika dinikahi Nabi (ada yang berpendapat masih 6th atau 9th).

Menurut saya ada ketidakakuratan  dalam tarikh Islam ketika membicarakan usia seseorang.

Pertama, Ini bisa dimaklumi di masa lampau penanggalan belumlah selengkap sekarang, dimana kelahiran dan kematian seseorang biasanya dikaitkan dengan peristiwa tertentu, misal  Nabi lahir di Tahun Gajah ( tahun dimana ada penyerbuan tentara bergajah ke Mekkah).

Kedua, ada kebiasaan orang Arab yang  berlebihan /hiperbola ketika menyebut sesuatu. Misal, si A masih muda, ditulisnya muda banget (anak-anak), si B sudah tua, ditulisnya tua banget (nenek-nenek). Saya suka termenung dan bertanya keheranan (kurang percaya) ketika dalam tarikh Islam disebutkan usia Aisyah masih sangat muda(6 atau 9th) ketika dinikahi Nabi, sedang usia Khadijah ra ketika dinikahi Nabi sudah tua (berusia 40 tahun). Padahal dari Khadijah, Rasulullah SAW mendapat 5 orang anak (satu-satunya anak lelaki yang bernama Qasim meninggal ketika masih bayi).

Apakah seorang janda yang berusia 40 tahun masih begitu suburnya sehingga masih dapat melahirkan anak hingga 5 orang? Jangan-jangan yang salah, adalah justru menghitung usia yang tepat ketika Khadijah ra ketika dinikahi Nabi. Begitu pula banyak riwayat yang menyebut istri-istri Nabi lainnya sudah terlalu tua ketika dinikahi Nabi (ada yang diatas 50 tahun). Padahal Khadijah hidup dengan Nabi selama 27 tahun, sedang Aisyah selama 9 tahun. Jangan-jangan kebiasaan menghitung usia seseorang pada saat itu memang belum akurat, karena tidak punya alat ukur sehingga ada unsur kira-kira, ceroboh atau sekenanya karena penanggalan saat itu pastilah belum ada seperti sekarang ini.

Saya juga terkejut ketika sejarawan Islam, Imam Suyuthi, menyebut usia Musailamah Al Kadzab yang diperangi oleh Khalifah Abubakar Shiddiq karena mengaku dirinya sebagai Nabi, usianya sudah 150 tahun. Apa benar usia 150 tahun masih dapat memimpin perang. Jangan-jangan, ada unsur pembulatan, pemaksaan, kira-kira dsb. Bisa jadi Musailamah yang sudah sangat tua namun mengaku sebagai Nabi (palsu) sehingga harus diperangi.  Sangat tua disebutnya 150 tahun (secara nalar sehat, jarang/hampir mustahil ada orang yang bisa bertahan hidup di usia setua ini, tapi disini malah memimpin pemberontakan, dan menemui kematiannya di medan tempur dengan dibunuh oleh Wahsyi, mantan budak yang membunuh paman Nabi, Hamzah bin Abdul Muthalib). Jadi ada kebiasaan yang asal sebut ketika menyebut usia seseorang. Mungkin menyebut istri-istri Nabi yang janda (selain Aisyah) karena sudah agak tua, digambarkan usianya 40 tahun,50 tahun dsb. . Giliran Aisyah yang muda, digambarkan terlalu muda (anak-anak, 6 atau 9 th). Padahal ketika Nabi menikahi janda-janda, pastilah janda yang masih cukup muda, cantik dan masih menarik. Karena menyebut umur tidak akurat, kesannya Nabi jadi disudutkan oleh orientalis dengan menikahi anak-anak di bawah umur, padahal tidaklah demikian. Giliran menyebut istri-istri yang lainnya kesannya malah ditua-tuakan.

Ada riwayat pendukung  yang dapat mengungkap lebih tepat usia perkawinan Aisyah dengan Rasulullah. Ketika Rasulullah mengajukan pinangan untuk Aisyah, Abu Bakar sangat sukacita hatinya karena berarti dirinya akan dijadikan mertua Rasulullah, namun Abu Bakar juga adalah seorang laki-laki yang selalu menepati janjinya, maka dia temui istrinya yaitu Ummu Ruman, “Sesungguhnya Al-Muth’im bin Addi telah menjodohkan  anak lelakinya dengan anak kita Aisyah. Demi Allah, Abu Bakar tidak akan pernah menyalahi janjinya sama sekali.” Maka Abu Bakar menemui Muth’im yang saat itu sedang ditemani istrinya. Abu Bakar bertanya, “Apa pendapat kalian tentang masalah anak gadisku?” Muth’im memandang istrinya dan bertanya kepada sang istri, “Apa pendapatmu?”  Istrinya memandang Abu Bakar dan mengatakan, “Mungkin nanti jika kita jadi jodohkan anak kami dengan anakmu, engkau akan membujuknya dan mengajaknya masuk ke dalam agamamu.” Abu Bakar tidak menjawab, namun malah bertanya kepada Al-Muth’im, “Apa pendapatmu?” Muth’im menjawab, “Istriku telah mengatakan apa yang engkau dengar sendiri.” Ketika Abu Bakar sudah mendengar sendiri bahwa suami istri telah bersepakat membatalkan perjodohan ini karena kuatir anaknya akan dibujuk masuk Islam, maka Abu Bakar merasa lega, karena mereka sendiri yang membatalkan perjodohan ini (In The Art Leadership Islam, Dr. Muhammad Fathi, Pustaka Al-Kautsar 2009).

Yang jadi pertanyaan kapan rencana perjodohan mereka dilangsungkan? Pertanyaan ini akan membuka gambaran kapan Aisyah dilahirkan? Karena dijodohkan ketika masih bayi atau kanak-kanak, sudah bisa diduga, Aisyah lahir ketika Nabi Muhammad belum diangkat sebagai Rasul. Mengapa? Karena Abubakar termasuk sahabat yang pertama-tama masuk Islam, ketika orang masih ragu tentang agama tauhid, Abubakar adalah orang yang memang menunggu kedatangan Nabi. Jadi sangatlah aneh, Abubakar berniat menjodohkan anaknya  dengan anak sahabatnya Muth’im bin Addi yang masih musyrik ketika dakwah Islam sudah tegak, kalau mau menjodohkan anaknya pastilah dengan sahabatnya yang sudah beriman. Karena akidah Islamlah yang memisahkan persahabatan seseorang dengan kaum musyrik.. Sedang perjodohan Aisyah dengan Nabi, dilakukan setelah Nabi hijrah ke Madinah, setelah 12 tahun hidup tertekan di Mekkah. Jadi waktu Aisyah diboyong bapaknya hijrah ke Madinah, pastilah usia Aisyah minimal sudah 12 atau 13 tahun, karena Aisyah lahir lebih dulu sebelum agama Islam ditegakkan.

Kemudian, karena Aisyah saat ini dianggap belum dewasa karena belum haidh, Nabi masih menunggu tinggal serumah dengan Aisyah sampai 3 tahun lagi. Dan selama menunggu, Nabi juga menikahi janda yang sudah cukup tua yaitu Saudah. Jadi kapan Aisyah digauli Nabi? minimal usianya 15 atau 16 tahun. Usia yang sudah pantas dinikahi, apalagi Aisyah mengemban misi sangat besar yaitu meriwayatkan hadits-hadits dari Nabi, yang mana untuk mengemban misi ini tentulah  dibutuhkan kecerdasan dan kematangan berfikir orang yang cukup dewasa.

Jadi kalau ada seseorang yang menikahi anak di bawah umur, apalagi mau mencari anak-anak lainnya buat istri selanjutnya, janganlah dikait-kaitkan dengan Islam dan Nabi. Janganlah syahwatnya dicarikan legitimasi dalam hukum Islam. Kalau seseorang dianggap  melanggar hukum (Undang-undang Perkawinan mengatur usia minimal perempuan untuk menikah 16 tahun dan laki-laki minimal 19 tahun), apalagi dalam perkawinan anak di bawah umur terkandung adanya unsur penipuan, intimidasi,  dsb silahkan aparat yang berwenang mengambil tindakan hukum yang setimpal, karena perbuatan tersebut di luar norma-norma Islam.

Perlulah dipahami, meragukan penyebutan tanggal dan tahun kelahiran seseorang, bukanlah meragukan sejarah Islam (apalagi sampai dianggap meragukan kesucian Islam itu sendiri), karena masalah tanggal dan tahun adalah peran para sejarawan Islam,sedang al-Qur’an dan Sunnah adalah hal yang berbeda. Yang pasti benar dan otentik adalah Kitabullah dan Sunnah-sunnah yang shahih, sedang yang merupakan bagian sejarah adalah penuturan para sejarawan, yang walaupun kita meyakini 100% atas kejujurannya, bahkan peran dan jasanya buat Islam tidak ternilai harganya, tapi karena sumber penuturannya tidak valid, bisa berakibat menimbulkan beda persepsi, asumsi dan dugaan.

Mudah-mudahan sumbang saran ini sedikit memberi tambahan wawasan buat kita. Seandainya keliru, itu merupakan bagian kelemahan manusia. Demikian sumbang saran kami. Semoga bermanfaat.

TOHIR BAWAZIR.

Iklan

7 Responses to Usia Berapa Aisyah Ra. Dinikahi Nabi?

  1. Yusuf KS berkata:

    Assalamu `alaikum,

    Membaca tulisan ini mengingkatkanku kepada tulisanku tentang masalah yang serupa. Saya jadi ingin mengirimkannya kepada antum (AMW) via e-mail. Insya Allah saya akan segera mengirim e-mail kepada antum.

    Wassalamu `alaikum.

    YKS.

  2. Ziad berkata:

    memang kita harus memahami sedikit banyak tentang geography dan poster tubuh masyarakat di zaman nabi..seberapa besar postur tubuh akan menimbulkan effect lain terhadap siklus haid. umur istri nabi 6 atau 9 tahun masa itu mungkin sama dengan anak umur 18 saat ini..mungkin.ini perlu penelitian lebih lanjut dan pendapat ulama yang lebih dalam tentang ini

  3. Ashoff Murtadha berkata:

    Assalamu alaikum wr. wb…

    Artikel yang sangat bagus, memberikan alternatif lain bagi kemungkinan interpretasi sejarah Islam awal….

    Sejauh yang bisa saya analisa, sejarah bisa menjadi kebanggaan, namun sekaligus juga bisa menjadi beban….

    Kita memang harus terus meneliti “asumsi-asumsi” sejarah yang berkaitan dengan Nabi Saw. dan orang-orang dekat beliau… Sebab, figur-figur tersebut berkaitan langsung dengan pemahaman tentang Islam, agama yang paling benar….

    Kemungkinan adanya kesalahan dalam penulisan sejarah (termasuk interpretasinya) adalah hal yang sangat mungkin.. Apalagi para mu`arrikh Muslim juga sering tidak satu pendapat dalam banyak peristiwa sejarah, termasuk tentang usia Aisyah saat dinikahi oleh Nabi Saw…

    Bahkan ternyata para mu`arrikh juga berbeda pendapat berkenaan dengan usia Bunda Khadijah saat dinikahi oleh beliau… Tidak hanya 40 tahun, tapi ada juga yang menyebut lebih dari itu, bahkan kurang, yakni 28 bahkan 25 tahun (sebaya dengan Rasul Saw.) Lebih dari itu, bahkan ada versi sejarah yang menyebut Bunda Khadijah adalah seorang perawan (`adzra`) saat dinikahi Nabi.. Belum pernah menikah dengan lelaki manapun, apalagi memiliki anak selain dari Nabi Saw….

    Saya juga mencoba mengulas sedikit tentang usia Bunda Khadijah ini dalam tulisan saya di alamat ini : http://ashoffmurtadha.com/2010/09/53-khadijahperawan-suci-yang-dinikahi-nabi/

    Alhasil, semoga Allah Swt. memperlihatkan kepada kita sejarah Islam secara benar, sehingga kesalahan asumsi-asumsi sejarah tentang Islam itu tidak dijadikan amunisi oleh “musuh-musuh Islam” untuk menyerang kehormatan dan kemuliaan Nabi Saw. yang agung, dan Islam… Sehingga asumsi-asumsi sejarah yang mungkin salah itu tidak menjadi beban sejarah bagi umat Islam …. Yang jelas, kemuliaan dan keagungan Nabi Saw. dan Islam harus dibela dan diperjuangkan….

    Terima kasih telah ikut berkomentar di sini….

    Wassalam

  4. bambang berkata:

    saya sbg orang awam mslh sejarah tokoh2 islam, hny brhrp kpd anda2 yg pny sarana untuk brdakwah, sudi menulis/bicara mengenai usia Aisyah r.a. ktika dinikahi nabi saw. penekanan pd usia brp kakak Aisyah wkt Aisyah lahir. thn hijriah kebrapa aisyah menikah, thn brp kakak Aisyah wafat. brp usianya pd wkt wafat. saya mhn dg sngt anda2 mau meluangkn wkt menjelaskn ini smua dg detil2 yg perlu. sakit rasanya hati ini bila mendengar ada yg mendakwa nabi pny pnykit pedofil. maaf dan trims

  5. bambang berkata:

    oh ya, klo boleh tny, apakah ada ayat dlm kitab injil yg menuliskan ttg perintah yesus kpd manusia untuk menyembah dia.

  6. abisyakir berkata:

    @ Mas Bambang…

    Coba saya membantu semampunya (dengan izin Allah Ta’ala)…

    [1]. Menurut riwayat yang terkenal, Aisyah Ra dinikahi oleh Nabi Saw pada usia 6-7 tahun; lalu hidup serumah dengan Nabi Saw pada usia 9 tahun. Para ulama menjelaskan, bahwa usia 9 tahun di masa itu, seorang anak dianggap sudah dewasa, sudah besar. (Sebagai perbandingan, anak perempuan SD usia kelas 4 sudah ada yang haidh. Putri saya mulai haidh saat kelas 6 SD, sekitar 11 tahun. Fisiknya sudah tinggi melebihi ibunya).

    [2]. Dari peristiwa pernikahan Nabi Saw dengan Aisyah Ra, diperoleh hikmah, menikahkan anak kecil tidak mengapa; asal atas seizin walinya (atau orangtuanya). Misalnya, dua orang anak-anak laki-laki dan perempuan dinikahkan, ketika masih kecil; namun hidup serumah layaknya berumah tangga ditunda setelah mereka melebihi usia 15 tahun misalnya. Hal itu boleh. (Tetapi kalau dalam aturan administrasi negara, katanya tidak boleh ya).

    [3]. Satu-satunya isteri Nabi Saw yang dinikahi pada usia sangat belia, hanyalah Aisyah. Selebihnya dewasa semua, bahkan umumnya janda, malah ada yang nenek-nenek. Pernikahan Nabi Saw dengan Aisyah Ra yang masih anak-anak, tentu sudah DIRENCANAKAN demikian oleh Allah Ta’ala. Kalau Allah sudah punya rencana (kehendak), siapa yang bisa menolak? Dalam ayat: “Idza arada syai’an an yaqula lahu kun, fa yakun” (kalau Allah berkehendak sesuatu, maka Dia tinggal berkata “jadilah”, maka “jadilah” sesuatu itu).

    Mungkin pertanyaannya: “Bagaimana Allah bisa menetapkan Aisyah menikah dengan Nabi, padahal dia masih usia anak-anak?” Jawabnya mudah sekali: Allah bisa menciptkan Adam As tanpa ibu dan bapak; Allah bisa menciptakan Isa tanpa bapak; Allah bisa memberikan anak kepada isteri Ibrahim As, isteri Zakariya As, padahal kedua wanita itu sudah tua; dan aneka mu’jizat Kenabian lain. Pernikahan Aisyah dengan Nabi Saw itu termasuk salah satu mu’jizat Kenabian; meskipun sifatnya tidak sehebat penciptaan Adam dan Isa.

    [4]. Hubungan Nabi dengan Aisyah bukanlah pedofili, sebab mereka menikah baik-baik, hidup berumah-tangga baik-baik. Kalau pedofili kan seks liar, asal seneng-seneng, tanpa ikatan pernikahan.

    [5]. Orang pedofili itu penyuka hubungan seks dengan anak-anak. Tentu anak-anak disini bukan satu, dua, tapi banyak. Pokoknya, penyuka hubungan seks dengan anak-anak. Sementara Nabi Saw kan isteri beliau sebagian besar wanita dewasa, rata-rata janda, ada yang nenek-nenek. Masak kondisi begitu disebut pedofili? Para penuduh pedofili itu mereka tidak mengerti apa yang mereka tuduhkan. Maklum, orang bodoh, maunya benci, benci, benci melulu.

    [6]. Mungkin kita bisa bertanya balik ke para penuduh itu: “Kamu menuduh Nabi kami pedofili, padahal beliau menikah baik-baik, dan mayoritas isterinya wanita dewasa, umumnya janda, dan ada yang nenek-nenek. Nabi kamu sendiri bagaimana? Mengapa Nabi kamu tidak menikah? Mestinya kamu ikut-ikutan dong, jangan menikah. Mestinya, bapak ibu kamu ikut-ikutan dong tidak menikah, biar tidak pernah dilahirkan orang seperti kamu?” Maksudnya disini, menikah itu lebih baik daripada tidak menikah. Mungkin cara demikian bisa mengunci omongan orang-orang bodoh itu.

    Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

    Admin.

  7. abisyakir berkata:

    @ Bambang…

    Wah, maaf saya kurang tahu. Setahu saya, konsep “juru selamat” tidak ada unsur penyembahan disitu. Hanya semacam klaim, pengikut Yesus akan begini dan begitu… Terimakasih.

    Admin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: