Pemimpin Arif Bijaksana

Hanya berselang beberapa jam setelah ledakan bom di JW Marriot dan Ritz Carlton, seorang Presiden yang arif bijaksana langsung membuat pernyataan politik. Dalam pernyataannya, dia mengutuk keras aksi bom itu. Namun selain mengutuk, dia juga memperluas pernyataannya kemana-mana.

Dia mengklaim, ada gerakan orang-orang tertentu yang tidak suka ketika dia terpilih lagi sebagai Presiden. Dia sebutkan indikasi-indikasi tertentu, sesuai laporan intelijen. Dia katakan, ada sekelompok orang yang melakukan latihan menembak dengan sasaran foto dirinya. Malah dia tunjukkan beberapa foto untuk menguatkan tuduhannya. Malah sampai ada ungkapan, ada yang ingin agar kondisi di Indonesia menjadi keruh seperi di Iran pasca kemenangan Ahmadinejad.

Maklum, karena memang ini pemimpin yang arif bijaksana, maka begitu terjadi teror bom, langsung menyerang kesana-kemari. Terutama menyerang ke lawan-lawan politiknya. Dia bilang, ada sekelompok orang yang tidak suka dia terpilih menjadi Presiden lagi.

Saya bilangi ya, pasca Pilpres kemarin, menurut data quick count, ada sekitar 40 % pemilih (gabungan dari pemilih JK-Wiranto dan Mega Pro) yang tidak suka dia menjadi Presiden. Ini fakta. Mereka tidak suka dia menjadi Presiden lagi, maka dalam Pilpres mereka tidak mencontreng orang itu. Lho, apa ini aneh? Apa ini melanggar hukum? Apa yang namanya Pilpres itu, semua penduduk 100 % harus milih dia?

Kemudian dia mengatakan, menurut laporan intelijen, ada orang-orang tertentu yang latihan menembak dengan foto dia sebagai sasaran. Maka benar kata Mbak Mega, kalau memang ada orang seperti iu mengapa tidak ditangkap sejak awal saja? Lha iya tho. Kalau memang sudah ada indikasi berbau teroris, ya diringkus saja sejak awal. Wong Syech Puji saja bisa diringkus paksa kok, masak orang macam begitu tidak bisa diringkus?

Lagi pula, bagaimana sih seharusnya adab sopan santun seorang pemimpin? Harusnya, setelah kejadian seperti itu, membuat pernyataan mengutuk keras aksi terorisme, lalu memerintahkan kepolisian untuk bekerja maksimal, lalu meyakinkan semua pihak agar tenang dan terkendali. Lha, ini kok malah manas-manasi masyarakat dengan isu-isu yang justru sangat rawan kontroversi. Ibarat sudah ada bara api, malah disiram bensin.

Soal bukti foto-foto. Ya, di jaman begini, apa sih yang tidak bisa dibuat? Jangankan foto, uang kertas yang katanya 100 % sulit dipalsukan, tetap saja bisa dipalsukan. Bahkan uang palsu itu juga memakai hologram dan garis pengaman, meskipun tentu tidak sebagus aslinya.

Di dunia penuh rekayasa ini, mau membuat foto macam apapun bisa. Lihatlah bagaimana ilusi David Coperfield dengan “sihirnya”. Dia bisa menipu jutaan manusia dengan ilusi-ilusi yang dibuatnya. Contoh lain, setelah George Bush dilempar sepatu di Baghdad, muncul aneka game-game dengan bahan dasar kejadian pelemparan sepatu itu. Tentu para pembuat game itu bukan orang-orang White House. Para pembuatnya tentu orang-orang kreatif yang bisa mengutak-atik materi informasi dengan segala kreatifitasnya.

Kita perlu menulis seperti ini, sebab biasanya Ummat Islam selalu menjadi sasaran bulan-bulanan informasi. Perlu Anda ingat, para pendukung JK-Wiranto kemarin banyak dari kalangan ormas Islam. Tapi ya sudahlah, mari kita ucapkan selamat kepada pemimpin yang arif bijaksana!!!

Monggo dilanjutkan sikap arif bijaksananya!

AMW.

Iklan

2 Responses to Pemimpin Arif Bijaksana

  1. Ana Jiddan berkata:

    Saya dengar di Today’s Dialogue di Metro TV ternyata foto om SBY yang jadi sasaran latian tembak itu diambil gambarnya waktu tahun 2004. Sensi bgt ya om SBY?langsung ngait2in dg pilpres. Mungkin paranoid, khawatir “kecurangannya” di pilpres kemaren kebongkar.hehe…
    Di Today’s Dialogue itu juga saya lucu melihat Andi Malarangeng yang berusaha sekuat tenaga nge-defence citra baik SBY, padahal di pidato kepresidenan om SBY jelas2 keliatan banget terlalu berlebihan dalam mengaitkan peristiwa bom tsb dg pilpres 2009.
    Wallahua’lam…

  2. abisyakir berkata:

    @ Ana Jiddan.

    Dalam pidato SBY terakhir, ini pidato kedua setelah teror JW Marriot. Dia mengajak bangsa Indonesia menyatukan hati, pikiran, untuk bersama-sama memerangi terorisme. Lain itu, ini yang penting, SBY meminta kita agar tidak mengait-ngaitkan peristiwa teror itu dengan masalah lain. Tetapi ia tetap perlu dilihat sebagai masalah teror.

    KomentarkU: Wih, wih, wih… orang ini sikap berlebihannya sudah memuncak. Mengapa? Lha, kemarin yang mula-mula menyeret masalah teror ke masalah Pilpres kan dia sendiri. Dia contohkan cara terbaik mengaitkan masalah teror dengan sesuatu yang tidak ada hubungannya. Tahu-tahu dia kecele. Ternyata, foto-foto itu sudah lama dan para pelakunya sudah ditangkap. Waduh, waduh, waduh… itu katanya hasil kerja intelijen. Intelijen itu kan dari kata intelligence, artinya kecerdasan. Intelijen kok kerjanya memuat foto tahun 2004 lalu? Pigimana nih si abang, teh…

    Yo wis rasakan sendiri lah…siapa yang pilih dia, ya harus berani tanggung akibatnya.

    AMW.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: