Teror Lagi…Teror Lagi…

Ada sebuah lagu yang cukup lucu:

Teror lagi…teror lagi… Gara-gara Si Komo lewat…

Tiada hari tanpa teror… Biar Indonesia tambah sumpek…

Payah, payah, payah sekali. Itulah kata-kata yang bisa diungkapkan menyambut terjadinya teror bom di hotel JW Marriot dan Ritz Carlton, 17 Juli 2009, sekitar pukul 7.45 pagi. Siapapun pelakunya dan apapun motifnya, teror seperti itu sangat payah, dan tidak layak dilakukan oleh manusia-manusia yang berakal sehat.

Taruhlah, kita langsung masuk ke tuduhan teratas, yaitu kepada kelompok Muslim radikal yang anti Amerika dan mendukung Al Qa’idah di bawah komando Usamah bin Ladin. Katakanlah, kita langsung ke kelompok ini. Tidak usah basa-basi, tidak usah banyak bacot, langsung saja ke kelompok ini.

Pertanyaannya:

[o] Mengapa mereka menjadikan Indonesia sebagai sasaran? Di Indonesia tidak sedang berada dalam situasi konflik berat seperti di Iraq, Palestina, Afghanistan, Chechnya, Kashmir, Somalia, atau Pakistan. Apakah pelakunya terlalu bodoh untuk membedakan antara Indonesia dengan negara-negara itu?

[o] Andai mereka menemukan alasan kuat untuk menyerang di Indonesia, mengapa sasarannya selalu sipil? Mengapa tidak sekalian saja face to face dengan aparat keamanan? Itu lebih gentle, ketimbang menyerang target-target sipil. Orang-orang sipil itu jelas tidak bisa apa-apa.

[o] Andai mereka harus melakukan serangan bom seperti itu, apa sih manfaatnya bagi perjuangan Islam? Apakah kedurjanaan Amerika seketika berakhir? Apakah negeri-negeri tertindas di Dunia Islam bisa seketika bebas? Apakah dengan itu, berbagai kezhaliman yang menimpa kaum Muslimin segera terobati? Demi Allah, aksi-aksi seperti itu tidak bermanfaat bagi perjuangan Islam. Justru semakin memayahkan kehidupan kaum Muslimin. Islam dan Ummatnya menjadi sasaran hujatan orang-orang kafir di seluruh dunia, karena aksi-aksi teror itu.

Kalau kita hitung-hitung secara cermat, manfaat yang diperoleh Ummat dengan adanya aksi-aksi seperti itu jauh lebih kecil dibandingkan kerugian yang kita terima. Meskipun aksi-aksi itu didalili dengan segala macam dalil, tetap saja hasil akhir dari semua itu: kerugian lebih besar menimpa Ummat. Singkat kata, ia termasuk perbuatan fasad fil ardhi (membuat kerusakan di muka bumi).

Dan orang-orang kafir sangat cermat menghitung nilai keuntungan dan kerugian ini. Ketika mereka menyadari, hasil akhir dari aksi-akasi teror itu dampaknya lebih merugikan kaum Muslimin. Maka mereka pun membuat konspirasi dengan mencetak berbagai macam aksi teror di muka bumi. Pelakunya mereka sendiri, tetapi mereka meninggalkan “jejak” dan “bukti-bukti” yang akan memposisikan Ummat Islam sebagai pihak yang bertanggung-jawab atas aksi-aksi itu. Peristiwa WTC 11 September 2001 dan Bom Bali di Sari Club, 12 Oktober 2002 adalah kenyataan tak terbantahkan. Pada kedua aksi teror itu sangat kental tercium aroma konspirasi untuk menghancurkan kredibilitas Islam dan kaum Muslimin di mata dunia.

Lalu pertanyaannya, bagaimana caranya membedakan aksi teror untuk menodai citra Islam dengan aksi perlawanan pejuang Islam di medan-medan konflik?

Kaidahnya sangat sederhana, yaitu:

[1] Lihat siapa yang menjadi sasaran aksi kekerasan itu? Apakah sasaran militer atau warga sipil?

[2] Lihat di negara mana aksi itu dilakukan? Lalu perhatikan, apakah negara tersebut sedang mengalami konflik poliik hebat atau tidak?

Kalau aksi dilakukan dengan sasaran warga sipil, di tempat-tenmpat umum, dilakukan di negara-negara aman yang sedang tidak terjadi konflik di dalamnya (seperti di Indonesia, Amerika, Inggris, Saudi, Singapura, Malaysia, Australia, Filipina, dan lainnya). Dapat dipastikan bahwa aksi kekerasan itu adalah rekayasa untuk mencemarkan nama Islam dan kaum Muslimin. Haqqul yakin, itu adalah aksi penodaan citra Islam di mata dunia.

Argumentasinya sederhana saja: Para mujahidin sekalipun, meskipun mereka melakukan gerakan-gerakan militer, mereka sangat menjunjung tinggi etika (adab). Maka Anda perhatikan, aksi-aksi perlawanan dengan bom dan lain-lain itu selalu dilakukan di negara-negara Muslim yang memang sedang mengalami konflik via a vis menghadapi kekuatan non Muslim.

Di sisi lain, untuk membuat bukti-bukti rekayasa itu sangat mudah. Misalnya, beberapa orang kumpul di sebuah kost-kostan terpencil. Mereka memakai penutup muka semua dan berbicara di sebuah background tunggal. Lalu mereka membacakan pidato yang isinya rencana aksi, kecaman ke Amerika, janji syurga, mencaci-maki pemimpin politik, dan lain-lain. Kemudian direkam memakai handycam atau HP. Ya, yang begini saja sangat mudah dibuat. Bayangkan, di Indonesia ini banyak orang bejat membuat -maaf beribu maaf- video porno yang isinya adegan senggama di atas jalan dosa hina-dina. Lha, wong membuat video porno saja bisa, masak membuat drama “terorisme” seperti di atas tidak bisa? Dan kita tidak pernah tahu siapa yang asli membuat rekaman seperti itu. Bisa orang sesat, bisa intelijen asing, atau intelijen lokal. Itu bisa-bisa saja!

Terhadap teror bom di JW Marriot dan Ritz Carlton ini, ya silakan disimpulkan sendiri. Pokoknya, aksi kekerasan yang dilakukan di negeri aman dengan sasaran sipil, yang dilakukan dengan label “jihad”: Dapat dipastikan, ia adalah serangkaian teror untuk merusak citra Islam dan kaum Muslimin.

Jangan percaya dengan omong kosong media atau omong kosong para pengamat yang sok pintar. Mereka kalau disuruh membaca Al Fatihah saja belum tentu benar. Maka atas alasan apa kita mempercayai omong kosong mereka itu? Allahu Akbar wa lillahil hamd.

Bandung, 18 Juli 2009.

AMW.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: