Surat Terbuka untuk Fans Manchester United (MU) di Indonesia

Kepada yang kami hormati: Para fans tim Manchester United (MU) dan pecinta sepak bola di Tanah Air.

Bismillahirrahmaanirrahiim. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in.

Saudara-saudara budiman. Sebagaimana sudah sama-sama kita ketahui, hari Jum’at pagi 17 Juli 2009 kemarin, sekitar pukul 7.45 WIB, telah terjadi teror bom di dua hotel internasional di Jakarta, yaitu hotel JW. Marriott dan hotel Ritz Carlton. Tentu saja, teror ini sangat biadab dan buruk akibatnya. Salah satu dampak langsung dari teror tersebut ialah pembatalan acara pertandingan tim Manchester United (MU) asal Inggris dengan Timnas Indonesia yang sedianya diselenggarakan di Gelora Bung Karno Jakarta, tanggal 20 Juli 2009. Pembatalan disampaikan oleh manajer MU Sir Alex Ferguson dalam sebuah konferensi pers di Kuala Lumpur Malaysia, tidak lama setelah teror bom terjadi di dua hotel di atas.

Sangat dimaklumi kalau Saudara-saudara sangat kecewa dan marah akibat pembatalan acara tersebut. Selain Anda sudah mengantongi tiket yang harganya cukup mahal, Anda juga sudah menantikan acara ini sejak bulan-bulan lalu. Bahkan promo acara itu sendiri sangat gencar melalui media-media massa, termasuk di ruang-ruang publik. Bisa dimaklumi kalau para fans berat MU atau para pecinta sepak bola di Tanah Air merasa marah atau kecewa sekali. Bisa dimaklumi.

Sebagai orang berakal saya sangat kecewa atas terjadinya teror bom itu, termasuk implikasinya berupa pembatalan pertandingan antara tim MU dengan Timnas Indonesia. Meskipun saya bukan penggemar MU, tetapi pembatalan even olahraga yang sudah dipromosikan secara besar-besaran karena peristiwa teror, adalah sangat menyakitkan. Apakah negeri ini begitu kacau sehingga sebuah even besar yang sudah dipersiapkan berbulan-bulan lamanya harus dibatalkan karena alasan terorisme? Negeri kita seolah seperti negeri-negeri di Afrika yang rawan konflik, sehingga tidak aman untuk menggelar acara-acara publik besar.

Gagal Tampil di Gelora Bung Karno. Karena Teroris!

Gagal Tampil di Gelora Bung Karno. Karena Teroris.

Kalau mau jujur, kita bisa bercermin pada peristiwa-peristiwa yang sering terjadi. Acara-acara publik besar selama ini sudah biasa terjadi di Indonesia, baik acara hiburan seperti konser musik, acara politik seperti kampanye-kampanye, acara keagamaan seperti tabligh akbar, bahkan even-even sepak bola seperti kompetisi Djarum Super League, Piala Copa, Piala Asia, dan lain-lain. Dalam ribuan acara-acara besar itu tidak pernah satu pun yang diserang oleh teroris. Begitu juga saat tim Bayern Munchen beberapa waktu lalu datang ke Indonesia, tidak ada satu pun hidung pemain Munchen yang cedera karena serangan teroris. Mengherankan memang, sebuah even besar gagal diselenggarakan karena alasan terorisme.

Bahkan andai dalam peristiwa teror itu yang menjadi sasaran adalah Presiden SBY karena beliau tidak disukai untuk menjadi Presiden lagi. Mengapa teror itu dilakukan di dua hotel yang Presiden SBY tidak ada di dalamnya? Mengapa ketika Presiden SBY dan pendukungnya melakukan kampanye terakhir di Gelora Bung Karno, beberapa hari sebelum Pilpres 8 Juli 2009, mereka tidak diserang teroris? Aneh sekali, teroris malah menyerang dua hotel yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan Pilpres. Bahkan mengapa, selama ratusan kali Presiden SBY mengadakan kunjungan dan pertemuan politik selama kampanye, tidak ada sedikit pun serangan teroris menimpanya? Jelas sekali, antara realitas teror di JW. Marriott dan Ritz Carlton dan logika yang diklaim Pemerintah, terdapat jarak yang amat jauh. Ujungnya dimana, pangkalnya dimana?

Peristiwa teror di JW. Marriott dan Ritz Carlton jelas sangat menggelisahkan hati kami. Masalahnya apa? Kejadian teror seperti itu sangat potensial dijadikan alasan untuk melontarkan tuduhan-tuduhan fitnah kepada organisasi Islam, perkumpulan Islam, atau majlis-majlis dakwah Islam. Sudah menjadi rahasia umum, kalau terjadi peristiwa kekerasan di Indonesia, yang mula-mula menjadi sasaran tuduhan adalah kelompok-kelompok Islam. Kami masih ingat peristiwa Insiden Monas pada 1 Juni 2008 lalu, ketika massa AKKBB mendapat perlakuan kasar dari sekelompok pemuda Islam tertentu. Pasca peristiwa itu, organisasi Islam menjadi sasaran cemoohan berbagai pihak. Tidak kurang Presiden SBY sendiri dan “Malarangeng Bersaudara” melontarkan kecaman-kecaman keras. Padahal menurut pejabat kepolisian, massa AKKBB waktu itu melanggar ketentuan aksi. Dalam ijin yang mereka ajukan, tidak ada rute ke Monas. Bahkan mereka sudah diingatkan kepolisian agar tidak ke Monas, sebab di Monas ada aksi yang berlawanan dengan aksi mereka. Tetapi di mata masyarakat awam, dengan sangat mudah mereka menyimpulkan: “Islam = teroris!” Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik!

Jika karena aksi teror di JW. Marriott dan Ritz Carlton yang belum jelas siapa pelakunya, apa motivasi mereka, dan siapa targetnya, lalu organisasi-organisasi Islam dihujat dimana-mana, maka semua itu adalah kezhaliman besar. Betapa kasihan nasib organisasi Islam, mereka selalu tertimpa tuduhan dan fitnah, untuk kesalahan-kesalahan yang tidak diperbuatnya. Kalau melalui aksi teror biadab tersebut, lalu opini yang berkembang semuanya menyudutkan kelompok Islam, maka peristiwa yang sama sangat mungkin akan terus “diproduksi” untuk menghancurkan Islam di negeri ini sedalam-dalamnya. Hingga kelak Islam mungkin akan lenyap dari bumi Indonesia. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Sebagaimana para fans berat MU tidak sudi menjadi tertuduh atas aksi-aksi brutal yang tidak diperbuatnya, maka begitu pula dengan kalangan Islam. Kami juga tidak mau selalu dijadikan tertuduh atas peristiwa-peristiwa teror yang tidak pernah kami lakukan. Jika para penggemar MU bisa marah besar karena pembatalan acara pertandingan MU Vs Timnas Indonesia, lalu bagaimana perasaan Anda ketika melihat kelompok-kelompok Islam dituduh sebagai otak di balik teror itu, padahal kami tidak tahu-menahu dengan peristiwa itu? Apakah Anda boleh marah karena merasa kecewa, sedangkan kami harus menerima saja tuduhan-tuduhan fitnah yang diarahkan kepada kami? Itukah yang dinamakan keadilan?

Dalam rangka menjernihkan masalah dan membela Ummat dari resiko-resiko pencemaran nama baik oleh siapapun yang selalu menginginkan Ummat Islam dalam posisi terjepit, tertuduh, dan menjadi bulan-bulanan opini negatif, maka disini saya ingin memberikan tanggapan sebagai berikut:

[1] Peristiwa teror yang terjadi di Indonesia jangan selalu dikaitkan dengan organisasi atau kelompok-kelompok Islam. Mengapa demikian? Sebab berdasarkan fatwa MUI atau fatwa lembaga-lembaga Islam internasional, tidak ada satu pun dewan ulama dunia Islam yang menghalalkan aksi terorisme. Terorisme bukan perbuatan Islami, tetapi termasuk perbuatan membuat kerusakan di muka bumi. Padahal Allah telah melarang perbuatan itu dalam firman-Nya: “Janganlah kalian berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan.(Surat Al Ankabuut: 36).

[2] Ketika terjadi peristiwa teror yang berakibat pembatalan sebuah even olah-raga besar, maka perhatian kita jangan hanya tertuju kepada pelaku teror itu. Tetapi kita juga harus menyorot peranan aparat yang bertanggung-jawab menjaga keamanan. Sebagai contoh, misalnya ada sebuah toko yang dibobol maling. Maka kita jangan melulu mencaci-maki malingnya, tetapi juga harus melihat sistem keamanan yang berlaku di tempat itu. Apa gunanya ada sistem keamanan, kalau tidak bisa menjaga keamanan? Jangan pernah mengharap para teroris itu baik hati, mereka misalnya akan melakukan aksi secara sopan dan beradab. Itu hanya harapan kosong belaka. Baik ada atau tidak ada teroris, sudah menjadi kewajiban aparat keamanan menjaga wilayah Indonesia sebaik-baiknya. Apalagi kalau mengikuti pernyataan Presiden SBY setelah peristiwa teror itu terjadi. Kata beliau, pihak intelijen sudah mengetahui indikasi-indikasi adanya ancaman gerakan kekerasan. Ya, kalau sudah tahu mengapa tidak diantisipasi sebaik mungkin?

[3] Pelaku teror itu bisa siapa saja dengan motivasi apa saja. Di dunia ini sudah banyak terjadi teror, yang dilakukan oleh siapapun dengan motiv apapun. Termasuk di Indonesia, aksi-aksi kekerasan telah terjadi sejak dulu sampai sekarang. Para supporter sepak bola sendiri berkali-kali terlibat kerusuhan dan vandalisme, meskipun tarafnya belum seperti aksi terorisme. Jika pelaku teror itu adalah Muslim dan dia melakukan teror atas nama ajaran Islam, dapat dipastikan bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki pemahaman SESAT. Pemahaman mereka keliru sehingga tidak boleh mengklaim mewakili ajaran Islam.

[4] Atas pembatalan acara pertandingan tim MU Vs Timnas Indonesia, para penggemar sepak bola harus bersikap adil. Selain mereka mengutuk pelaku teror itu, mereka juga harus berani mengkritik manajer MU Sir Alex Ferguson yang membatalkan pertandingan secara sepihak. Atas alasan apa dia membatalkan secara sepihak? Andai hotel JW. Marriott dan Ritz Carlton tidak bisa ditempati oleh rombongan MU, apakah di Jakarta tidak ada hotel lain yang aman? Sangat keterlaluan kalau hotel di Jakarta yang dianggap layak hanya JW. Marriott dan Ritz Carlton saja. Apakah dalam kesepakatan kontrak yang ditanda-tangani antara panitia pertandingan dengan MU, disana diatur ketentuan tentang poin ancaman keamanan yang bisa memberi hak kepada MU untuk membatalkan kontrak secara sepihak? Hal itu perlu Anda kejar, agar semua pihak menghargai aturan main profesionalisme dalam gelaran-gelaran olah raga seperti itu. Kalau perlu, para penggemar MU bisa membandingkan acara-acara sejenis yang dilakukan di negara-negara lain. Apakah pernah MU membatalkan acaranya di suatu negara karena alasan terorisme? Jangan sampai terjadi, pembatalan acara secara sepihak oleh manajer MU itu hanya merupakan salah satu cara untuk menghancurkan citra Indonesia di mata dunia internasional. Jangan karena mereka bule, lalu kita diam saja atau “asal nerimo” keputusan apapun yang mereka buat. Kita sama-sama manusia, sama-sama makhluk Tuhan. Tidak ada yang lebih tinggi sebagian orang atas sebagian yang lain, selain karena ketakwaannya.

[5] Seharusnya, pihak Pemerintah RI berperan aktif mensukseskan acara pertandingan MU Vs Timnas Indonesia. MU bisa dianggap sebagai tamu bangsa Indonesia yang harus diperlakukan secara terhormat. Jika pihak MU takut masuk Indonesia karena alasan keamanan, seharusnya Pemerintah berani memberi jaminan keamanan. (Sangat disayangkan, atas pernyataan pembatalan sepihak oleh Sir Alex Ferguson di Malaysia, Pemerintah tidak memberi tanggapan apapun). Pemerintah seharusnya bisa memberikan jaminan keamanan penuh. Misalnya mereka siap menjaga sangat ketat hotel tempat rombongan MU menginap. Begitu pula, mereka menjaga sangat ketat setiap penonton yang akan masuk Gelora Bung Karno. Bahkan rakyat Indonesia juga bisa ikut memberikan jaminan keamanan. Masalahnya, even sebesar itu sepertinya tidak mendapat dukungan penuh dari aparat birokrasi.

[6] Dan terakhir, saya menasehatkan kepada para penggemar sepak bola dan fans berat MU yang beragama Islam. Sebesar apapun cinta dan ketakjuban Anda kepada suatu tim sepak bola internasional, atau kepada sepak bola itu sendiri, maka anggaplah semua itu sebagai hiburan saja. Baik MU maupun sepak bola adalah sebentuk hiburan atau kesenangan duniawi yang tidak boleh diletakkan melebihi agama yang kita yakini. Kelak saat kita pulang kepada Allah, kita tidak akan ditanya nama-nama pemain MU, rekor transfer tertinggi, gol-gol spektakuler yang tercipta, atau gelar apa yang berhasil mereka peroleh. Tetapi kelak kita akan ditanya tentang amal-amal shalih kita selama di dunia. Okelah, kita boleh menyukai sepak bola dan timnya, tetapi janganlah ia diagungkan melebihi agama. Kita menyukai secara wajar-wajar saja. Jika suatu even besar bisa diselenggarakan, ya bersyukurlah; Jika tidak bisa diselenggarakan, ya bersabarlah. Jangan sampai terjadi, Anda mencintai sepak bola melebihi kecintaan Anda kepada Allah dan Rasul-Nya. Misalnya Anda merasa marah besar ketika MU gagal datang ke Indoneia, sementara Anda tidak pernah marah sedikit pun ketika Islam dihujat sebagai pelaku terorisme. Padahal Islam adalah agama yang mulia, tidak mendidik Ummat-nya menjadi PENGECUT!!!

Demikian beberapa buah pemikiran yang bisa disampaikan. Semua ini dilakukan dalam rangka ikut menjaga kehormatan Islam, sekuat kemampuan. Mohon dimaafkan atas segala kesalahan dan kekurangan. Serta saya ucapkan terimakasih setulus hati atas semua perhatian dan pengertiannya. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Bandung, 19 Juli 2009.

AM. Waskito.

(Supervisor blog https://abisyakir.wordpress.com/).

NB.: Mohon dibantu menyebarkan ke kalangan Ummat Islam dan masyarakat luas. Syukran jazakumullah khair atas partisipasinya.

5 Responses to Surat Terbuka untuk Fans Manchester United (MU) di Indonesia

  1. pelangimahasiswa berkata:

    Indonesia kecolongan lg bung

  2. abisyakir berkata:

    @ Mas Pelangi.

    Iya Mas. Begitulah. Sering kita jadi bulan-bulanan “trik kotor” tertentu. Sudah begitu, kita tidak mau mengambil pelajaran dari masa lalu. Di jaman “liberal” sepertinya semua orang disuruh “bodoh aja deh”. Di mata kapitalis-liberalis, rakyat hanya dipandang sebagai “sampah”. Maka tidak apa-apa jadi matahari-mataharian, eh maksudnya bulan-bulanan.

    Makasih ya.

    AMW.

  3. Presiden AS berkata:

    Wah, poin 4, 5 dan 6-nya mantaff, Pak!

    Cobalah gabung dan terbitkan pula tulisan Anda ini di politikana.com, biar dibaca oleh banyak pembaca.

    Yours Affectionately
    Presiden AS

  4. kimmi berkata:

    17+07+09 = 33
    07.40 ….40-7 = 33

    Mungkinkah, mereka2 itu lagi?
    Atau ada org Indo yg sudah mencapai tingkat itu?

  5. antiMU berkata:

    Manchester United = Setan Merah
    Fans Manchester United = pemuja Setan Merah
    Setan = Musuh Manusia dan dilaknat Allah

    Pemilik Manchester United = Malcolm Glazier
    Malcolm Glazier = Yahudi Amerika

    meskipun saya benci terorisme dan benci aksi teror atas nama islam (karena islam tidak mengajarkan kekerasan) … saya lebih benci Manchester United

    -EIE-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: