Partai Islam Sangat Ngeri…

Kalau membaca judulnya, sangar ya? Partai Islam sangat mengerikan… Benarkah, atau cuma sensasi saja, biar ada di barisan teratas pencarian oleh mesin google?

Masalah ini bermula dari dukungan partai-partai Islam atau partai massa Muslim kepada pasangan SBY-Boediono. Sungguh, SBY-Boediono tidak akan menang jika tidak didukung oleh partai label Islam/Muslim itu. Suara Demokrat hanya sekitar 20 %, sementara suara partai label Islam/Muslim sekitar 28 %. Ditambah berbagai partai lain, suara pendukung SBY-Boediono menjadi 56 % (kata Anas Urbaningrum).

Posisi partai label Islam/Muslim sangat kuat dalam mendukung pasangan SBY-Boediono. Ini tidak diragukan lagi. Meskipun dalam soal bagi-bagi kursi di kabinet nanti, partai-partai itu harus siap dikecewakan, karena segala sesuatunya akan dikembalikan kepada keputusan Pak SBY sendiri.  Istilah, semua tergantung apa yang ada “di kantong” Presiden.

Lalu apa hubungannya dengan Islam ke depan?

Oh ya, jelas hubungannya. Pasangan SBY-Boediono dikenal sangat dekat dengan para penganut agama LIBERAL. Rizal Malarangeng itu adalah salah satu “intan permata” kaum Liberaliyun. Dan Anda masih ingat, bagaimana kemarahan SBY kepada FPI pasca insiden Monas, 1 Juni 2008 lalu? Padahal MUI sudah memberikan fatwanya, bahwa paham SEPILIS itu haram. Fatwa ini sudah sangat terkenal.

Untuk lebih memahami masalah hubungan SBY dengan kaum Liberaliyun itu, silakan baca hasil wawancara Sabili dengan Habib Riziq Shibah berikut ini: Kemenangan SBY Kemenangan Kaum SEPILIS. (Dimuat di situs Sabili dengan link: http://www.sabili.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=335:kemenangan-sby-kemenangan-kaum-sepilis&catid=83:wawancara&Itemid=200).

Partai label Islam/Muslim (disingkat PLIM) itu tidak memandang bahayanya kaum Liberaliyun yang biasa menghina Allah, Nabi, dan Al Qur’an itu. Mereka tidak mau tahu, selain syahwat kekuasaan belaka. Benar-benar sudah hancur moralitas mereka. Benar-benar sudah luluh-lantak. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Saya menyangka, semua atribut keislaman yang mereka bawa-bawa itu, semua itu hanya seperti ALAT DAGANG saja. Sudah sedemikian rusaknya urusan ini. Mereka lebih takut tidak mendapat kursi menteri, daripada memikirkan nasib Islam dan kaum Muslimin ke depan. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Dengan kenyataan seperti ini, bisa dikatakan riwayat partai Islam/Muslim sudah tamat. Mereka sudah menjual simbol-simbol Islam untuk keuntungan sempit, materi keduniaan.

Ya Allah ya Rabbi, betapa takutnya kalau kami berada dalam posisi mereka. Antara syurga dan neraka sudah tidak jelas bedanya. Hitam dan putih sudah kabur. Halal sudah menjadi ‘halam’; sebagaimana haram sudah menjadi ‘haral’.

Ini sih bukan kumpulan manusia-manusia yang memperjuangkan Islam, tetapi “para pencari kerja” di dunia simbol-simbol keislaman. Sangat mengerikan, sangat mengerikan, sangat mengerikan!

Ya Allah, kami memohon istiqamah di jalan-Mu, tidak berpaling dari jalan-Mu, sampai saat kami wafat menghadap-Mu. Allahumma amin.

(Politische).

Iklan

8 Responses to Partai Islam Sangat Ngeri…

  1. Musafir Laut berkata:

    Assalaamu’alaikum wr. wb.

    Ustadz yang disayangi Allah,

    Kesimpulan Antum belum tentu tepat dan belum tentu benar, bahwa “SUNGGUH (?), SBY-Boediono tidak akan (?) menang jika tidak didukung oleh partai label Islam/Muslim itu”. Sebelum pemilu legislatif berlangsung, banyak survey yang dilaksanakan oleh berbagai institusi maupun survei terbatas oleh internal partai-partai Islam bahwa potensi perolehan suara yang mendukung figur SBY melebihi potensi perolehan suara yang mendukung Partai Demokrat. Penggunaan kata “sungguh” dan “tidak akan” pada kalimat Antum, tentu tidak cocok dengan fakta yang ana kemukakan tadi.

    Antum benar dan para aktifis partai-partai Islam pun tahu, bahwa SBY dikelilingi oleh para aktifis Sepilis. Jika Antum menghakimi partai-partai Islam sedemikian rupa, maka sebaliknya ana berdoa semoga Allah SWT menguatkan keimanan mereka ketika mereka berhadapan orang-orang Sepilis itu. Banyak berdzikir, supaya selamat dari berbagai tipudaya mereka.

    Lebih baik Antum dan kita semua ingatkan mereka, dengan tadzkirah Antum yang bijak tentang bahaya Sepilis itu kepada mereka ke alamat email masing-masing atau ke account facebook mereka. Ciri pejuang dakwah adalah tidak bosan-bosannya menasehati sesama apalagi sesama aktifis dakwah.

    Ada sebuah artikel yang sama menariknya dengan artikel Antum, yakni dari Pak Akmal Sjafril. Tanggapan untuk majalah Sabili beberapa edisi terakhir.

    Link : http://akmal.multiply.com/journal/item/747/Apatisme_Pasti_Akan_Mati

    Terima kasih atas confirm Antum atas friend request dari ana beberapa waktu yang lalu. Sayang sekali, ana masih bekerja di laut sehingga tidak bisa buka account facebook ana.

    Wassalaamu’alaikum wr. wb.
    ~ML~

  2. Dangstars berkata:

    Assalamualaikum .Sangat disayangkan kalo Orang Islam berlomba membuat Partai.Bagusan berlomba meramaikan Mesjid untuk ibadah.Karena negara kita bukan negara Agama..,
I like your article and all the great tips that are mentioned on it, it has really helped out. Thanks for share the information.
I hope you can visit my blog and give me suggestion.
Thanks again.
Please see it : Kang Dadang Blog

  3. abisyakir berkata:

    @ Musafir Laut.

    Akhi, syukran atas masukan dari Antum. Ngomong-ngomong account Antum di facebook, apa ya? Saya penasaran juga. Masalahnya, kata Antum sudah masuk ke box saya. Tapi saya bingung juga, Antum yang mana ya? Saat Antum masuk itu ada beberapa orang sekaligus masuk. Jadi afwan, mohon konfirmasinya.

    Saya penasaran, sebab insya Allah antum orang yang baik. Tidak pantas kemurahan hatinya diabaikan. Antum “berjihad” di tengah laut demi untuk memberi nafkah anak-isteri. Ini suatu jalan kemuliaan, tentu dengan segala kesabaran dan pengorbanan di dalamnya.

    Terakhir, komentar Antum:

    “Antum benar dan para aktifis partai-partai Islam pun tahu, bahwa SBY dikelilingi oleh para aktifis Sepilis. Jika Antum menghakimi partai-partai Islam sedemikian rupa, maka sebaliknya ana berdoa semoga Allah SWT menguatkan keimanan mereka ketika mereka berhadapan orang-orang Sepilis itu. Banyak berdzikir, supaya selamat dari berbagai tipudaya mereka.”

    Jawaban:

    – Ya, berdoa itu merupakan pilihan yang masih bisa dilakukan. Disamping itu pintu nasehat juga tidak pernah tertutup, selama pihak yang bersangkutan belum murtad dari jalan Islam.

    – Tulisan saya jangan ditanggapi segalanya telah selesai, telah TAMAT, semua pintu ishlah sudah buntu. Jangan demikian. Tidak seperti itu harapannya. Tulisan saya itu merupakan tadzkirah (peringatan) keras supaya partai label Islam/Muslim ke depan jangan melakukan kesalahan fatal kembali. Masalahnya, kalau tidak diberi peringatan keras, kecil kemungkinan mereka akan peduli. Wong sudah merasa benar kok.

    – Atas semua kepedulian dan kesabaran Antum dalam perjuangan Islam, semoga Allah Ta’ala membalasnya berlipat ganda. Allahumma amin.

    Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakaatuh.

    AMW.

  4. omiyan berkata:

    saya sendiri melihat ada yang salah dengan Partai Islam sekarang, padahal ketika Pilpres kemaren adalah momentum untuk intropeksi Partai Islams ekaligus mereka bersatu dalam naungan cahaya Islam tapi demi tampuk kursi dipemerintahan telah membutakan mata

    selain itu makin terlihat perubahan dari sebagian aktifis sebuah partai yang dulu terkenal santun dan rendah hati, belum juga dilantik telah menunjukkan taring seringainya….saya ternenyuh ketika partai ini sebelum belrubah nama saya masih bisa membaca kisah anggota dewan yang berangkat ke DPR dengan menggunakan mobil umum…tapi sekarang lain…

    Belum melaksanakan sudah berubaha gaya…ya mereka (sebagaian)sudah menjual ayat demi mencari harta..

    saya bicara begini karena ada fakta dilapangan… dan para tetangga pun dikomplek saya sependapat seperti itu…

    dan sampai ada istilah sekarang dikomplek saya adalah Masjid PKS (mohon maaf buat aktifis PKS),

    satu yang musti mereka berkaca, jika benar kita menjaga keutuhan Islam kita ambil contoh

    Ketika saya masih kuliah dijakarta ada sebuah masjid dalam melaksanakan Shalat tarawih tetap mengutamakan yang Shalat 23 rakaat dimana yang 11 rakaat sisas witirnya bisa dirumah..tapi lain dikomplek saya yang diutamain 11 sehingga yang 23 mau tidak mau pindah kebelakang..jadinya sebuah tontonan yang aneh didalam masjid…

    Saya cuman pinta jangan mainkan secuil ayatpun buat mereka yang emang benar-benar mengerti tentang Al-Quran dan Al-Hadist….

  5. Musafir Laut berkata:

    Kurang bijak rasanya, bila kita menyibukkan diri memberikan penilaian-penilaian yang kurang positif kepada partai-partai Islam. Tidak bisa contoh kecil seperti urusan tarawih, dibawa-bawa ke urusan politik. Urusan tarawih 11 rakaat atau 23 rakaat akan tetap menjadi khilafiah di tengah-tengah ummat.

    Kekurangan dan kesalahan pengurus dan anggota partai-partai Islam adalah PR kita semua. Apa kontribusi kita untuk menyelesaikan PR itu? Cuma menulis komentar-komentar di blog saja? Ah, saya kira komentar-komentar tidak memberikan kontribusi yang signifikan untuk menyelesaikan PR tersebut.

    Kiranya perlu ada pencerahan kepada Ummat tentang hakihat partai-partai sekuler. Terbukti bahwa partai-partai sekuler inilah yang menyengsarakan rakyat dengan praktek korupsinya berpuluh-puluh tahun.

    Mengapa Partai Demokrat, Golkar dan PDI-P masih menjadi pilihan mayoritas Ummat? Padahal apa bedanya mereka itu semua. Bagi saya, Partai Demokrat tidak lain partai Golkar dengan bendera dan jas berwarna biru. Artinya, dakwah kita gagal menyadarkan Ummat tentang bahaya partai-partai sekuler karena para aktifis di partai-partai Islam dan para aktifis dakwah non-partai malah sibuk membongkar aib partai-partai Islam sendiri.

    Ketika perolehan suara partai-partai Islam itu jeblok dan partai-partai sekuler kembali merajalela, apakah yang dilakukan aktifis dakwah non-partai seperti PKS-Watch? Apakah mereka jadi gembira melihat kondisi saat ini? Ramai-ramai mereka berkoar-koar di majalah Sabili bahwa politik Islam sudah mati. Yah, kalau menjadi tukang kritik doang, tentu semua orang pun bisa. Semua orang bisa menjadi penonton, tapi belum tentu bisa menjadi pemain yang baik. Tidak sama derajat dan pahala, orang-orang yang menjadi pengamat dengan orang-orang yang pergi berjihad.

    Maha benar Allah dengan firman-Nya, “Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar” (QS.4:95)

    Mencetak kader-kader dakwah unggulan yang akan menjadi pengurus dan anggota partai-partai Islam itulah TUGAS kita semua, yang insya Allah jelas-jelas dapat membantu PR itu. Kalau kita gagal cetak kader dakwah untuk partai-partai Islam, jangan berharap kita bisa sukses cetak kader dakwah untuk militer dan birokrasi.

    Politik Islam sangat memerlukan “iron stock” alias banyak kader dakwah unggulan yang siap berjihad di level partai, birokrasi dan militer. Siapa yang sanggup menjadi supplier-nya? Semoga saya, Ustadz AMW dan komentator-komentator blog ini siap menjadi supplier-nya. Allaahu akbar!

  6. ardisyam berkata:

    Harusnya antum bisa melihat dari sisi lain juga. Kondisi nyata di Indonesia, walaupun partai Islam bersatu membentuk koalisi sendiri dalam pencalonan presidennya, kemungkinan untuk menang pun sangat tipis, karena sebagian besar rakyat Indonesia jauh dari agamanya. Katakan yang jauh dari agama Islam sebesar 60% saja, sisanya itu tidak akan mampu memenangkan partai Islam. Katakan partai Islam itu mendukung Jusuf Kalla, tapi hitungan secara teori pun menurut partai Islam itu, Jusuf Kalla kemungkinan kecil untuk menang. SBY tetap memiliki kans yang lebih besar untuk menang, walaupun ada liberal di belakangnya. Kalau partai Islam itu dikasih jatah mentri, maka mereka sudah bisa mempengaruhi kebijakan pemerintah. Kalaupun SBY tidak memberikan jatah mentri kepada partai Islam itu, mereka tetap memiliki kursi di parlemen. Jadi “nothing to loose”.

    Terkadang politik itu memeningkan. Tapi selama mereka tidak melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah seperti korupsi misalnya, marilah kita berpikir positif terhadap partai politik Islam tersebut. Mereka terjun langsung ke politik praktis, jadi mereka tahu liku-liku perpolitikan di Indonesia. Sedangkan kita yang diluar itu memang mudah dengan hanya berkomentar saja, seolah-olah kita seorang ahli politik yang handal.

    Kesimpulannya, saya tetap tidak setuju kalau partai politik Islam itu sudah mati. Saya tetap memiliki harapan kepada mereka dan tidak mau bersikap apatis.

  7. abisyakir berkata:

    @ Al Akh Ardisyam.

    Ya, syukran atas respon Antum.

    Satu hal yang harus dicatat: “Mengapa elemen-elemen Islam itu tidak mau membentuk aliansi sendiri? Padahal kalau mereka bersatu, bisa mencapai 28 %, lalu bisa memilih calon Capres-Wapres sendiri? Mengapa susah disatukan ya?”

    Mungkin Antum akan menjawab: “Ya, memang sangat susah menyatukan partai-partai Islam/Muslim.”

    Saya katakan: “Lho, mereka kan mengerti tentang ajaran-ajaran Islam yang menyuruh bersatu, bekerjasama, saling bahu-membahu sesama Muslim. Masak sih mereka tidak tahu nilai-nilai itu?”

    Mungkin Antum tetap mengatakan: “Susah, susah sekali, menyatukan mereka. Justru karena mereka ngerti ayat-ayat, akibatnya malah lebih susah disatukan.”

    Saya katakan: “Lho, kok mereka akhirnya bisa bersatu bersama Demokrat. Apa ajaran Demokrat lebih mulia daripada ajaran Islam, sehingga bisa menyatukan mereka dalam barisan koalisi? Coba jawab, apakah ajaran Demokrat lebih mulia dari nilai-nilai Islam sehingga bisa menyatukan partai Islam/Muslim itu?”

    Kalau Anda katakan: “Ya, tidak sih. Ajaran Islam tetap lebih mulia dari Demokrat.”

    Saya katakan: “Lalu atas dasar apa mereka bisa bersatu dengan Demokrat, kalau bukan karena nilai-nilai yang dimiliki Demokrat itu sendiri?”

    Tanpa menunggu jawaban Anda, saya katakan: “Mereka bisa bersatu, karena Demokrat memiliki “gula”, yaitu peluang kekuasaan. Nah, atas dasar kekuasaan itulah, mereka bisa disatukan.”

    Kesimpulan: Perjuangan mereka bukan atas nama Siyasah Islami, tetapi atas nama hawa nafsu kekuasaan.

    AMW.

  8. adityus berkata:

    Audzubillahiminassyaithanirrazim.
    Bismillahirrahmanirrahim.

    Saya sangat setuju dengan pendapat anda ,Abi Syakir.
    Dalam realita dan yang sudah terjadi, walaupun nanti ada yang merasa tidak setuju ,bahwasanya:
    TIDAK ADA YANG NAMANYA PARTAI DAKWAH ,
    YANG ADA ADALAH ORGANISASI DAKWAH .
    Salah satu partai yang membawa simbol Islam mendukung SBY hanya dengan mengajukan satu syarat kepada SBY:
    “Agar SBY mendukung perjuangan Palestina “.
    Setahu saya semua Capres harus taat kepada UUD 1945 yang salah satu pasalnya mendukung kemerdekaan setiap bangsa ,tetapi saya heran kenapa mereka mengajukan syarat tersebut hanya kepada SBY.
    Ada apa dengan ini semua ?
    Mereka hanya melihat figur semata ,tetapi tidak melihat siapa dibelakang figur tsb.
    Gagal sudah slogan yang selalu mereka gembar-gemborkan , saya sudah mendalami partai tsb ,kesimpulan saya :
    Mereka hanya menggunakan dan memamerkan simbol-simbol keislaman hanya untuk meraih kekuasaan demi hawa nafsu belaka .
    Lebih baik ummat membuat banyak lembaga-lembaga sosial non politik yang terjun langsung ke masyarakat seperti yang sudah dilakukan oleh MER-C.

    Atau bentuklah satu partai yang berjuang untuk kepentingan ummat yang tidak memakai simbol Islam tetapi berasaskan Pancasila ,agar ummat lain merasa “welcome” dengan partai tsb.
    Yang penting adalah tujuan akhir dari perjuangan , yaitu membentuk ISLAM sebagai rahmat bagi semesta alam.( Semua umat manusia )

    Mohon maaf jika ada yang salah dan kurang berkenan dalam perkataan saya .
    Saya hanya seorang manusia yang memang tidak luput dari lupa dan khilaf

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: