Mengapa Ada Al Qa’idah?

Istilah Al Qa’idah itu memiliki arti yang unik. Ia adalah kata yang berubah pengertian sesuai proses-proses yang dialami kelompok yang menyandang nama itu.

Al Qa’idah bisa ditulis dengan huruf ‘ain. Ia berarti tempat duduk, tempat duduk-duduk bersama, atau fondasi bangunan. Inilah arti mula-mula Al Qa’idah sesuai asal-usul kemunculannya. Waktu itu tahun 80-an, ketika sedang maraknya JIHAD di Afghanistan menentang Uni Soviet. Para mujahidin memiliki suatu tempat berkumpul-kumpul, semacam base camp, atau kamp latihan. Di dalamnya segala simpul-simpul bantuan untuk JIHAD di Afghanistan berkumpul. Ada yang datang dari Saudi dan Timur Tengah, ada yang dari Pakistan, dari Asia Tenggara (seperti Indonesia), bahkan bantuan dari agen-agen CIA. Para mujahidin menyebut tempat mereka kumpul-kumpul itu sebagai Al Qa’idah. Maksudnya, tempat kumpul-kumpul, duduk bersama, berbagi, maskas, dan lain-lain.

Namun kemudian pengertian Al Qa’idah berubah. Ia lebih tepat ditulis dengan hamzah, bukan dengan ‘ain. Al Qa’idah yang ditulis dengan hamzah, pengertiannya adalah pemimpin, pengarah, komando. Seorang qa’id itu sama dengan komando. Hal ini merujuk kepada gerakan kekerasan menyerang sasaran-sasaran kepentingan Amerika dan sekutunya di seluruh dunia, khususnya melalui serangan-serangan bom. Gerakan ini merujuk kepada Fatwa Global Usamah bin Ladin untuk menyerang segala bentuk simbol-simbol kepentingan Amerika di dunia.

Fatwa global Usamah itu bukan fatwa jihad, sebab secara metodologi memang tidak layak disebut sebagai fatwa jihad (apalagi jika dipandang sebagai fatwa jihad ofensif). Sampai saat ini, Usamah bin Ladin didampingi Dr. Aiman Al Zhawahiri, mantan pemimpin Jamaah Islamiyyah Mesir terus mengeluarkan pernyataan atau fatwa dukungan atas serangan-serangan sporadis yang dilakukan oleh anggota milisi Al Qa’idah di seluruh dunia. Termasuk atas serangan-serangan yang terjadi di Indonesia melalui bom-bom manusia itu. Ketundukan para anggota milisi Al Qa’idah kepada seruan “jihad global” Usamah bin Ladin ini memposisikan Usamah sebagai pemimpin atau komando gerakan ini. Inilah pengertian Al Qa’idah sesungguhnya, yaitu gerakan serangan sporadis terhadap kepentingan-kepentingan Amerika dan sekutunya, yang merujuk kepada fatwa dan arahan Usamah bin Ladin.

FATWA ULAMA SAUDI

Seorang ulama Saudi, saat beliau masih hidup, fatwanya disebut-sebut sebagai salah satu rujukan gerakan Al Qa’idah. Dalam salah satu fatwanya, beliau memuji serangan ke Double Tower WTC, 11 September 2001.

Beliau membenarkan serangan ke WTC itu dan memujinya. Alasan beliau, serangan ke kalangan musuh tidak harus didahului pemberitahuan. Tanpa pemberitahuan pun boleh. Beliau berhujjah, Nabi Saw pernah mengirim ekspedisi penyerangan di bawah komando Usamah bin Zaid Ra. untuk menyerang posisi orang musyrikin. Serangan dilakukan saat musuh lengah. Hal ini kemudian merupakan alasan pembenar bagi serangan ke obyek-obyek milik kaum kafir, tanpa memberi mereka kesempatan untuk bersiap-siap.

Menurut saya, cara pengambilan dalil seperti itu tidak tepat. Begitu pula kalau dikaitkan dengan serangan-serangan terorisme selama ini, juga tidak benar. Meskipun secara pribadi, kita menghormati Syaikh rahimahullah yang disegani para mujahidin dari seluruh dunia itu. Beliau disebut-sebut sebagai ayahnya para mujahidin, sangat peduli dengan jihad, dan selalu concern menanyakan perkembangan jihad di negeri-negeri Islam. Kita memuliakannya dan mendoakan rahmat baginya.

Beberapa catatan perlu disampaikan disini, antara lain:

[o] Terorisme berbeda dengan pengiriman ekspedisi jihad untuk menyerang musuh. Kedua-duanya sama offensive (menyerang musuh), tetapi legalitasnya berbeda. Ekspedisi jihad bergerak atas perintah, ijin, dan restu seorang pemimpin Islam. Para Shahabat Ra. tidak berani melakukan serangan sendiri, tanpa ijin Nabi Saw. Sementara terorisme tidak jelas siapa yang memerintahkan aksi seperti itu dan landasan legalitasnya juga tidak jelas.

[o] Ekspedisi untuk menyerang musuh, sekalipun tanpa pemberitaan, seperti terjadi di jaman Nabi Saw dilakukan di atas kondisi konflik yang sudah sama-sama dimaklumi, oleh kawan dan lawan. Nabi Saw memimpin kaum Muslimin mengamankan Madinah, melindungi kepentingan Islam, serta melemahkan posisi orang-orang kafir. Orang kafir sendiri sudah maklum dengan sikap Nabi Saw dan para Shahabat ketika menyatakan perang kepada mereka. Sedangkan terorisme, ia adalah serangan sporadis tanpa didahului kepastian konflik di antara pihak-pihak yang bertikai. Adakah satu saja negara Muslim di dunia yang menyatakan perang kepada Amerika dan sekutunya? Selama belum ada keputusan itu, maka aksi-aksi serangan sporadis tidak dianggap sebagai jihad, melainkan terorisme.

[o] Ekspedisi jihad di jaman Nabi Saw jelas manfaat dan pengaruhnya. Sementara serangan-serangan terorisme itu sudah mengacaukan pemikiran, membuat Ummat bingung, juga mengundang serangan balik dari orang-orang kafir dalam segala bentuknya ke Ummat Islam sedunia.

Andaikan aksi serangan ke WTC 11 September 2001, benar-benar dilakukan oleh Al Qa’idah dan kawan-kawan, sehingga menghasilkan aksi paling monumental dalam sejarah manusia modern, ia tetap saja tidak bisa dipuji. Serangan itu tetap dihitung sebagai serangan haram, sebab tidak dilakukan dengan metodologi JIHAD Islami.

Masyarakat dunia mungkin masih bisa memaklumi serangan ke WTC, andai ia dilakukan oleh elemen-elemen dari bangsa Irak, Palestina, atau Afghanistan yang sedang mengalami penindasan oleh Amerika, Israel, dkk. Mereka bisa beralasan dengan situasi kekejaman yang mereka alami di negeri masing-masing dan melakukan serangan untuk menghentikan kezhaliman Amerika Cs. Kemudian, sebelum menyerang mereka menyampaikan maklumat terlebih dulu, atau semacam manifesto politik yang berisi alasan dan tuntutan-tuntutan yang mereka ajukan. Hal ini perlu ditempuh agar tidak memfitnah Ummat. Dan setelah aksi dilakukan, ada pernyataan bertanggung-jawab secara kesatria dari elemen-elemen yang menyerang itu.

Sebuah contoh adalah aksi pembajakan pesawat yang dilakukan oleh beberapa elemen pemuda Palestina terhadap pesawat tujuan Siprus. Pembajakan ini pernah dibuat film dokumenternya dengan sangat informatif. Pesawat itu lalu landing di salah satu negara Afrika Utara, kemudian disergap oleh pasukan khusus Mesir. Namun anehnya, kebanyakan penumpang yang meninggal justru karena serangan pasukan Mesir itu, bukan karena pembajakan. Dalam aksi ini, meskipun sasarannya sipil, setidaknya masyarakat bisa paham bahwa yang dituju oleh pelakunya adalah membela bangsanya yang tertindas di Palestina.

Namun dalam Tragedi WTC, lihatlah dengan jelas. Betapa jauhnya harapan dan kenyataan. Para pelakunya orang-orang Saudi, melakukan aksi tanpa pemberitahuan dan pemakluman terlebih dulu, serta setelah aksi para pelakunya pada kabur tidak karuan. Itu pun dengan asumsi, bahwa pemuda-pemuda Islam yang melakukan aksi itu. Sebab dari banyak analisa kritis, didapat kesimpulan bahwa peledakan WTC 911 dilakukan oleh konspirator Amerika dan Yahudi sendiri.

ISU DAULAH ISLAMIYYAH

Mantan Komandan Densus 88, Jendral Suryadarma Salim Nasution. Dalam dialog dengan TVOne dia mengklaim bahwa pelaku teror bom di JW Marriot dan Ritz Carlton adalah bagian dari Al Qa’idah internasional. Ia bukan aksi oleh tangan-tangan teroris lokal. Ketika ditanya, apa tujuan semua aksi teror itu, Suryadarma mengatakan dengan tegas, bahwa tujuannya adalah untuk mendirikan Daulah Islamiyyah, yaitu sistem negara Islam seperti di jaman Nabi dan para Khalifah setelahnya. Dia juga mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersatu guna mencegah gerakan pendirian Daulah Islamiyyah itu.

Menurut saya, ucapkan Jendral Suryadarma ini hanya OMONG BESAR. Al Qa’idah sama sekali tidak bisa dikaitkan dengan perjuangan Daulah Islamiyyah. Daulah Islamiyyah tidak bisa didirikan dengan cara teror, menjadikan warga sipil sebagai bulan-bulanan serangan, merasa arogan seolah paling berhak bicara tentang jihad, dan terus-menerus menjelek-jelekkan citra Islam di mata manusia. Sangat jauh jarak antara tujuan mendirikan Daulah Islamiyyah dengan cara-cara teror pengecut itu. Nabi Saw dalam sirahnya, beliau tidak pernah memberi contoh mendirikan Daulah dengan cara-cara teror. Begitu pula para Khalifah Rasyidah. Mendirikan Daulah Islamiyyah haruslah dengan dakwah, tarbiyah, ukhuwwah di antara kaum Muslimin, dan siyasah. Bukan dengan cara-cara teror seperti Nordin M. Top dan kawan-kawan. Bahkan andai mereka meyakini kebenaran cara teror itu, mengapa tidak vis a vis dengan sistem militer sekalian?

Inti masalahnya, orang-orang ini ingin menegakkan urusan yang besar (mendirikan Daulah Islamiyyah), tetapi tidak mau membayar syarat-syaratnya. Ibarat ingin menunaikan Haji, tetapi kerjanya tidur melulu. Jangankan Daulah Islamiyyah, seluruh kelompok teror di dunia ini (termasuk kelompok orang-orang kafir) nyaris tidak ada yang pernah berhasil membangun negara melalui cara-cara teror. Yahudi saja, yang dikenal sebagai mbah-nya segala teror, mereka mendirikan Israel dengan pertempuran vis a vis menghadapi koalisi pasukan Arab. Ingat lho, itu Yahudi yang agama mereka melegalisasi segala bentuk aksi teror terhadap non Yahudi (Ghayim).

DAULAH MELINDUNGI UMMAT

Ketika kaum Muslimin kehilangan Khilafah Islamiyyah, mereka kehilangan instrumen kokoh yang selama ribuan tahun melindungi kepentingan dan hidupnya. Orang mengatakan, “Kaum Muslimin hidup tanpa pelindung, seperti anak-anak ayam yang kehilangan induk.” Bahkan ada yang mengatakan dengan penuh duka, “Ummat Islam hidup seperti para gelandangan.”

Struktur Daulah Islamiyyah atau Khilafah Islamiyyah sangat bermanfaat melindungi kehidupan kaum Muslimin, seperti para gembala yang melindungi domba-dombanya. Dengan hilangnya struktur itu, nasib Ummat seperti domba-domba yang tersesat di tengah padang pasir. Bisa dibayangkan, bagaimana nasib domba-domba itu jika tidak mendapat perlindungan di tengah segala marabahaya?

Sebagian orang sesat dari kalangan tertentu sangat membenci upaya gerakan-gerakan Islam dalam menegakkan Daulah dan Khilafah. Di mata mereka, gerakan-gerakan Islam itu danggap sebagai bid’ah, hizbiyyah, atau khawarij. Dengan pemikiran SESAT yang mereka yakini, masalah Daulah dan Khilafah dianggap sepele. Di mata mereka, seagung-agungnya urusan yang harus diperjuangkan adalah TAUHID. Konon, kalau urusan tauhid beres, Daulah dan Khilafah akan bangkit dengan sendirinya. Dengan keyakinan itu mereka hampir-hampir meniadakan pembicaraan politik dan hanya menyibukkan diri dengan “majlis taklim”.

Bantahan atas pemikiran sesat tersebut adalah sebagai berikut:

[1] Daulah dan Khilafah adalah manhaj Salaf yang telah dicontohkan oleh Nabi Saw, Khulafaur Rasyidin Ra, juga imam-imam kaum Muslimin setelahnya. Hanya orang bodoh atau sesat yang mengingkari masalah ini. Seorang Ahlus Salaf sejati pasti akan memikul perkara Daulah-Khilafah ini secara sungguh-sungguh, seperti Salafus Shalih telah memberi contoh dalam memikulnya.

[2] Tujuan keberadaan Daulah atau Khilafah adalah untuk melindungi kehidupan kaum Muslimin, khususnya melindungi akidah Ummat. Di bawah payung Daulah Islamiyyah, segala bentuk kesesatan akidah bisa dicegah. Bahkan negara bisa mewajibkan rakyatnya untuk memeluk akidah yang bersih dari segala macam kesesatan. Jika selama ini Ummat hanya mengandalkan kekuatan dai, majlis taklim, majalah, website, dan usaha-usaha swasta lainnya, hasilnya sangat jauh dari memuaskan. Sebagian orang bisa dibina, sebagian lain terjerumus dalam kesesatan; sebagian bisa diperbaiki, sebagian lain rusak lagi. Jadi perlindungan akidah yang benar-benar mantap itu tidak pernah tercapai.

Andai di tengah kita ada 1000 doktor spesialis tauhid lulusan Universitas Madinah. Mereka bekerja 24 jam sehari hanya melakukan pembinaan tauhid. Saya yakin, usaha seperti itu masih kalah efektif dibandingkan dengan munculnya satu UU negara yang mewajibkan rakyat memeluk akidah yang bersih. Bukan berarti posisi dai tidak penting. Tetapi legalitas negara di mata rakyat jauh lebih kuat daripada usaha-usaha yang bersifat swasta. Coba hayati dengan baik ungkapan Qadhi bin Iyadh rahimahullah dan lainnya, “Kalau kami memiliki doa yang makbul, tentu akan kami doakan para penguasa (agar menjadi pemimpin yang shalih).” Para Salaf sangat menyadari betapa kuatnya posisi negara di mata Ummat.

[3] Adalah suatu kebodohan telanjang, sebagian orang mengklaim sebagai AHLI TAUHID, tetapi tidak peka dengan urusan Daulah Khilafah. Justru klaim mereka terhadap tauhid sangat diragukan akibat rendahnya kepekaan itu. Jangan-jangan mereka hanya “tukang klaim” dakwah tauhid. Orang bertauhid ketika dihadapkan kepada mereka dua pilihan: sistem Daulah Islamiyyah atau sistem jahiliyyah; dengan yakin mereka akan memilih Daulah Islamiyyah. Ya apa lagi? Wong memang sejak jaman Nabi Saw itulah sistem terbaik yang beliau wariskan ke Ummat ini.

[4] Dalam mendirikan Daulah Islamiyyah, tidak harus dipastikan bahwa akidah kaum Muslimin sudah mumtaz semua (sebab hal itu tidak mudah dicapai). Tetapi tidak juga, caranya semata-mata hanya mengandalkan manuver-manuver politik. Cara apa saja yang paling efektif menghantarkan Ummat menuju Daulah Islam, dengan resiko madharat paling kecil, dan peluang keberhasilan yang besar; cara seperti itu perlu ditempuh. Tidak peduli saat itu akidah Ummat belum beres (sebab ia bisa diperbaiki di bawah kepemimpinan Islami), atau Ummat tidak memiliki keahlian politik yang handal. Bahkan andai hanya dengan peran satu orang saja, Daulah Islam bisa didirikan dengan baik, sedikit pengorbanan, dan besar peluang keberhasilannya; hal itu harus ditempuh. Ummat Islam pernah mendirikan Daulah Islamiyyah di Andalusia Spanyol dengan sisa-sisa kekuatan Bani Umayyah yang berhasil selamat.

[5] Sebagian orang sering mengklaim, “Masalah Daulah bukan masalah utama. Ia hanya masalah wasilah (sarana) saja.” Memang benar, Daulah adalah masalah wasilah. Tetapi ia bukan sembarang wasilah. Ia adalah wasilah untuk melindungi akidah, jiwa, harta-benda, keturunan, keluarga, akal, moralitas, kebudayaan, situs sejarah, dan kehidupan Ummat secara keseluruhan. Terhadap wasilah ini berlaku prinsip ushul fiqih: “Maa laa tatimmul wajiba illa bihi, wa huwa wajib” (Tidak sempurna suatu kewajiban melainkan dengan sesuatu, maka hukum sesuatu itu adalah wajib). Tidak terbayangkan, bagaimana Ummat ini akan bisa menegakkan kewajiban IBADAH TAUHID kepada Allah dengan baik, kalau mereka juga dibebani kewajiban melindungi diri sendiri, tanpa perlindungan resmi dari negara. (Sebagai contoh, kita saja kalau disuruh memikirkan sendiri status kehalalan makanan yang kita konsumsi sehari-hari, tanpa peranan LPPOM MUI, kita pasti stress).

[6] Daulah Islamiyyah adalah pintu pembuka segala kebajikan Islam, dan tiadanya Daulah Islamiyyah akan membuka segala keburukan dan kelemahan Ummat. Nabi Saw sangat sungguh-sungguh dalam menegakkan Daulah ini sejak hijrah ke Madinah. Begitu pula beliau sangat sungguh-sungguh dalam mempertahankan Daulah dari rongrongan kaum kafirin. Hampir semua amal JIHAD Nabi, sasarannya demi eksistensi Daulah Islamiyyah di Madinah. Andai Daulah Islamiyyah bisa berdiri dengan hanya “pasrah nasib” atau “ngaji kitab”, tentu Nabi akan menjadi orang pertama yang melakukannya. Padahal kita tahu semua, bahwa Nabi Saw dan Shahabat Ra. adalah manusia yang paling kokoh TAUHID-nya?

Daulah Islam adalah struktur strategis yang melindungi kehidupan kaum Muslimin. Selama ribuan tahun, Ummat telah membuktikan manfaat dan pengaruh baik dari Daulah itu. Namun Daulah Islamiyyah tidak bisa ditegakkan dengan cara-cara teror seperti Al Qa’idah, Nordin M. Top, dan kawan-kawan. Begitu pula Daulah Islamiyyah tidak bisa ditunggu akan muncul sendiri seperti keyakinan kaum Jabbariyyun yang terjerumus pemahaman sesat.

Seorang Ahlus Salaf sejati pasti akan meniti jalan dimana jejak-jejak Nabi pernah ada di atasnya. Kalau bersikap anti atau alergi terhadap jejak Nabi, maka itu adalah penyimpangan yang sangat jauh. Nabi Saw. pernah mengatakan, “Setiap ummatku akan masuk syurga, kecuali yang menolak?” Ketika ditanya, “Siapa yang menolak wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Siapa yang taat kepadaku, dia akan masuk syurga; dan siapa yang durhaka kepadaku, dialah yang menolak (masuk syurga).” (HR. Imam Bukhari).

PENGARUH JIHAD FI SABILILLAH

Sebenarnya, seruan Jihad bukan muncul sejak Usamah bin Ladin berkoar-koar tentang jihad. Jihad sudah ada sejak jaman Nabi Saw, para Shahabat Ra, dan imam-imam kaum Muslimin selama ribuan tahun lalu. Bahkan Jihad di Indonesia sudah muncul sejak era Fatahillah, Pangeran Babullah, Sultan Iskandar Muda, Imam Bonjol, Diponegoro, Teuku Umar, dan sebagainya. Malah di Aceh itu, begitu legendarisnya urusan Jihad, hingga masyarakat disana membuat hikayat ‘Ainul Mardhiyyah. Semua ini sudah ada, sebelum tangan Usamah bin Ladin kotor oleh bubuk mesiu. Bahkan Bung Tomo rahimahullah sudah menghadang Sekutu di Surabaya dengan pekik TAKBIR, sebelum Al Qa’idah menyerang kedutaan besar Amerika di Tanzania dan Nairobi.

(Hanya masalahnya, di mata Muslim Indonesia hari ini, yang namanya mujahid itu harus dari Arab. Kalau orang lokal, tidak “shahih” disebut mujahid. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Karena sifat minder yang luar biasa, kita sampai lupa bahwa Allah membentangkan rahmat-Nya ke seluruh bumi, termasuk ke sudut-sudut negeri ini. Sebagaimana hari ini kita begitu sulit menantikan munculnya para pejuang, maka di jaman dulu pun tidak mudah melahirkan pahlawan-pahlawan. Betapa sayangnya, setelah pahlawan itu muncul, perjuangannya diabadikan sejarah, mereka istiqamah sampai akhir hayat, bahkan para kolonial Eropa pun memuji ketangguhan mereka. Lalu di hari ini kita menyia-nyiakan mereka, tidak mengakui perjuangannya, bahkan merasa malu mengingat namanya; hanya karena mereka bukan “bermerk” Arab. Laa haula wa laa quwwata illa billah).

Meskipun Daulah Islamiyyah tidak eksis seperti di masa-masa lalu, namun alhamdulillah Allah Ta’ala masih memelihara kehidupan Ummat dengan JIHAD Fi Sabilillah. Ketika Afghanistan diinvasi oleh Uni Soviet pada tahun 80-an, para mujahidin dari seluruh dunia datang untuk mengusir pasukan Soviet. Menjelang akhir 90-an, Uni Soviet angkat kaki dari Afghanistan. Tidak lama setelah itu, negara Uni Soviet bubar.

Bubarnya Uni Soviet ini menjadi perhatian serius Amerika dan NATO. Uni Soviet bubar bukan karena perang dingin melawan Amerika. Tetapi disimpulkan, Soviet bubar karena anggarannya habis untuk membiayai invasi ke Afghanistan. Lalu biar Barat tidak terlalu malu dengan kekalahan Soviet, mereka memunculkan Ghorbachev untuk menyerukan Glasnost dan Perestroika. Di mata dunia, hancurnya Soviet karena seruan Ghorbachev itu, padahal ia hanya untuk menyelamatkan muka Barat atas kekalahan Soviet di Afghanistan.

Kejadian yang sama terulang ketika Amerika menginvasi Irak pada tahun 2003. Alasan Bush ketika itu adalah menggulingkan Saddam, menciptakan demokrasi, dan memusnahkan senjata pemusnah massal. Invasi Amerika justru mengundang datangnya mujahidin dari seluruh dunia Arab untuk membantu Irak. Akibatnya tidak jauh berbeda dengan Uni Soviet. Amerika nyaris bangkrut, sebab untuk membiayai perang di Irak mereka setidaknya telah membuang dana sekitar US$ 3 triliun sampai US$ 5 triliun (menurut perkiraan Joseph Stiglitz). Sampai saat ini Amerika masih “megap-megap” karena hantaman krisis yang sangat berat.

Tidak dilupakan juga pengaruh jihad di Palestina. Sejak tahun 1948 sampai saat ini perlawanan kaum Muslimin terus membara disana. Hanya bedanya, wilayah Palestina dibuat sedemikian tertutup dari masuknya pejuang-pejuang Islam. Namun pengorbanan dalam bentuk materi, anggaran, korban jiwa, tekanan psikologis, depressi, dan lain-lain yang diderita bangsa Yahudi sangat besar. Andai Israel dibiarkan vis a vis dengan para pejuang Palestina, mereka pasti akan kalah dalam waktu singkat. Masalahnya, dunia internasional mendukung Israel, terutama Amerika dan Eropa. Bahkan negara-negara Arab pun banyak yang mendukung Israel.

Kekuatan Jihad ini menjadi masalah legendaris yang banyak didiskusikan di pusat-pusat militer dunia. Ya, sebenarnya hal itu sudah menjadi pusat perhatian sejak lama. Bahkan sejak era Perang Salib. Banyak mempertanyakan, “Dimana inti kekuatan Jihad kaum Muslimin ini?”

Bayangkan, hanya dalam tempo kurang dari 20 tahun, Jihad Fi Sabilillah mampu merontokkan dua kekuatan adidaya dunia, Uni Soviet dan Amerika saat ini. Luar biasa, tidak ada kekuatan yang sanggup menghadapi tentara-tentara Allah, terutama tentara Malaikat yang turun bershaf-shaf dari langit.

UPAYA MERUSAK CITRA JIHAD

Ketika Samuel Huntington membuat tesis, bahwa musuh besar kapitalisme Barat setelah Uni Soviet runtuh adalah kekuatan Islam. Hal itu terutama merujuk kepada kekuatan Jihad kaum Muslimin yang sulit sekali dikalahkan. Nah, kekuatan Jihad ini dianggap sebagai penghalang paling tangguh bagi konsep New World Order (Tata Dunia Baru) yang dibangun oleh Amerika.

Sudah bukan rahasia lagi, bahwa Jihad dianggap sebagai ancaman paling serius oleh NATO. Seluruh kekuatan militer di dunia ini sanggup ditaklukkan oleh NATO, tetapi tidak untuk kekuatan Jihad. Salah seorang senator radikal di Amerika pernah mengusulkan agar Kota Makkah dibom saja. Bahkan sampai saat ini, Amerika tidak berani terang-terangan mengumumkan perang melawan Islam. Bush sempat keceplosan dengan menyebut istilah Crusade (Perang Salib) pasca peledakan WTC 911. Tetapi buru-buru hal itu diralat.

Kekuatan Amerika Cs menempuh beberapa jalan untuk menghancurkan kekuatan Islam di muka bumi, antara lain: (1) Merusak moralitas dan keimanan kaum Muslimin; (2) Memperburuk citra Jihad di mata dunia; (3) Menyuburkan pertikaian di antara kaum Muslimin.

Keimanan Ummat diserang melalui TV iklan, film, musik, budaya hedonis, pornografi, seks bebas, pelacuran, perjudian, narkoba, kriminalitas, aliran sesat, akidah liberal, dll. Jika program itu berjalan mulus, dapat dipastikan spirit Jihad Ummat akan mati dengan sendirinya. Selanjutnya, untuk memastikan bahwa Islam tidak mampu bangkit lagi, segala macam ikhtilaf diproduksi massal, lalu disebarkan seluas-luasnya di kalangan Ummat ini. Dengan tiga cara itu, sangat sulit bagi kaum Muslimin untuk bangkit kembali.

Adapun untuk merusak citra Jihad Islam, mereka membuat icon teroris yang selama ini kita kenal sebagai: Usamah bin Ladin dan Al Qa’idah. Tugas kelompok ini sangat sederhana, yaitu: membuat citra bahwa jihad sama dengan terorisme, dan terorisme sama dengan jihad. Hingga saat ini, misi tersebut sudah lumayan sukses. Meskipun alhamdulillah, banyak juga yang mulai sadar, bahwa aksi-aksi Al Qa’idah tidak bisa dikaitkan dengan Islam, atau Jihad Fi Sabilillah.

Saya sendiri menduga, bahwa seorang Usamah bin Ladin adalah salah satu agen kapitalis Arab yang sengaja diterjunkan dalam isu Jihad Islam untuk merusak citra Jihad itu sendiri. Fakta berbicara, sejak Usamah menyerukan Fatwa Jihad Global, hasil yang diperoleh kaum Muslimin di dunia bukanlah kebajikan atau kemenangan, tetapi fitnah, cobaan, tekanan, sampai agresi militer terus-menerus. Hasil “jihad” Usamah tidak jelas bentuknya, tetapi fitnah yang menimpa kaum Muslimin sudah sedemikian dahsyat.

Satu bukti sudah cukup sebagai bayan. Amerika dan NATO menyerang Pemerintah Thaliban karena dianggap melindungi Usamah bin Ladin. Akhirnya, Pemerintahan Islam yang baru berdiri itu pun runtuh. Mengapa Usamah tidak menyerahkan diri untuk melindungi Pemerintahan Thaliban? Apakah diri Usamah lebih besar artinya daripada Pemerintahan Islam itu? Tidak mungkin seorang mujahid sejati akan melakukan tindakan seperti itu. Dan lebih konyolnya, meskipun Thaliban sudah diruntuhkan, Usamah tetap mengklaim peledakan WTC 911 adalah hasil aksi pemuda-pemuda Al Qa’idah dukungannya.

 

 

MENJADI MAINAN KAPITALIS

Kalau kita tanya para pemuda yang terlibat aksi-aksi terorisme, rata-rata mengaku berangkat dari niat JIHAD. Kasus Bom Bali II meninggalkan rekaman VCD, surat ditulis tangan, dan orasi seseorang yang diyakini sebagai Nordin M. Top. Disana sangat jelas, bahwa para pemuda itu mengklaim gerakannya sebagai Jihad. Mereka juga yakin, bahwa saat kita menemukan surat dan VCD mereka, mereka sudah mati dan ruh-ruhnya ada dalam tubuh burung-burung hijau di syurga.

Kalau bicara dengan pemuda-pemuda itu, kita seakan yakin bahwa gerakan mereka memang murni Jihad. Setidaknya, mereka memiliki niat kuat ke arah itu. Tapi persoalannya, mereka adalah para operator di bawah yang tidak tahu-menahu konspirasi elit-elitnya di atas. Di level bawah, mereka sangat militan, berani, dan siap mati. Tetapi bisa jadi, di level elit, para pimpinan mereka justru telepon-teleponan dengan pihak-pihak yang selama ini mereka klaim sebagai thaghut. Toh, kalau mau jujur, para pemuda itu tidak tahu sepak-terjang elit-elitnya. Dengan sistem sel, mereka hanya mengerti tentang “taat perintah komandan”. Mereka tidak berhak sedikit pun mempertanyakan sepak-terjang pimpinan-pimpinannya.

Menurut informasi kepolisian, pelaku bom di JW Marriott II adalah remaja usia sekitar 16-17 tahun. Bagaimana remaja seperti ini akan sanggup menghadapi proses indoktrinasi luar biasa, bahkan proses brain washing? Kecil kemungkinan mereka paham tentang gerak-gerik sebenarnya dari elit-elitnya.

Para pemuda itu diindoktrinasi luar biasa untuk melakukan serangan-serangan terorisme yang berakibat memperburuk citra Islam atau JIHAD di mata manusia. Mereka merasa sedang membela Islam, memerangi thaghut, atau berjihad menegakkan Kalimah Allah. Padahal sebenarnya, mereka hanyalah pion-pion tak berdaya untuk memuaskan ambisi kaum kapitalis yang sangat bernafsu menjelek-jelekkan citra Islam. Setiap satu aksi terorisme terjadi, saat itu satu kerugian besar menimpa Jihad Fi Sabilillah. Semakin sering ada aksi terorisme, semakin rusak pula citra Jihad Fi Sabilillah. Semakin rusak citra Jihad, para kapitalis semakin tertawa lebar-lebar, sebab mereka tidak akan mendapat halangan berarti untuk mengeruk kekayaan dunia, demi memenuhi perut-perut mereka dengan sampah-sampah kerakusan dan angkara murka. Na’udzubillah wa na’udzubillah bi izzatillah wa quwwatillah min kulli dzalik.

Sejujurnya, kita sangat kasihan dengan pemuda-pemuda itu. Mereka hanya menjadi bulan-bulanan elit-elit tertentu yang memiliki uang besar dan akses kekuasaan. Akal mereka tidak berdaya untuk melawan indoktrinasi dari luar. Jiwa, diri, dan hidup mereka dikorbankan untuk memuaskan ambisi kaum kapitalis. Hanya dengan alasan “niat Jihad” dan “mati syahid” mereka rela berkorban untuk tujuan-tujuan yang tidak dipahaminya dengan jelas. Atas semua ini jelas kita sangat prihatin.

HARUSKAH BERPRASANGKA BAIK?

Mungkin masih ada sisa pertanyaan di hati kita: “Benarkah para pemuda itu hanya menjadi boneka mainan kaum kapitalis? Benarkah mereka berkorban untuk perjuangan yang tidak dipahaminya? Apakah tidak mungkin, gerakan mereka benar-benar bernilai Jihad Fi Sabilillah yang agung? Siapa tahu, mereka memang benar-benar berjuang untuk kejayaan Islam?”

Atas semua pertanyaan itu, jawabannya sebagai berikut:

[a] Jika benar mereka berjihad, misalnya demi membela kaum Muslimin yang tertindas di Palestina, Afghanistan, Irak, atau Chechnya, maka mereka harus menjalankan operasinya di tempat-tempat tersebut. Jelas sulit memahami, mereka bersimpati ke Palestina, tetapi operasinya di Bali atau Jakarta.

[b] Ketika menjalankan operasi, mereka harus memastikan secara spesifik siapa sasarannya dan apa alasannya. Ini sangat penting, agar tidak berakibat memfitnah Ummat Islam lainnya. Misalnya, pemuda Palestina menyerang obyek kepentingan Yahudi, karena mereka telah membunuh Syaikh Ahmad Yasin rahimahullah. Operasi seperti itu lebih mudah dipahami, daripada alasan Jihad yang bersifat umum. Semakin global alasannya, semakin besar peluang fitnah yang akan menimpa Ummat. Seperti Usamah bin Ladin yang mengaku sangat simpati atas terbunuhnya bocah Palestina, Muhammad Ad Durrah. Maka pembalasan Usamah harus diarahkan ke tentara-tentara Yahudi Israel, bukan ke sasaran lain secara global.

[c] Andai perjuangan itu benar-benar ikhlas karena ingin meruntuhkan arogansi negara kafir, mengakhiri penguasa zhalim, atau ingin mendirikan negara Islam. Maka mereka seharusnya berani menghadapi sistem militer yang berlaku di tempat-tempat tersebut. Jangan menjadikan warga sipil sebagai sasaran. Orang-orang yang menempuh perlawanan fisik, harus berani menghadapi sistem pertahanan militer. Tetapi selama ini kenyataannya lain. Orientasi mereka ingin menghancurkan thaghut, tetapi sasaran selalu warga sipil. Hal ini sangat mengherankan. Luar biasa, betapa pengecutnya arah sasaran-sasaran itu. Seharusnya mereka ingat pepatah Arab, “Kalian laki-laki, dan kami pun laki-laki.” Jangan mengaku pejuang, tetapi mental seperti cewek-cewek yang lenggak-lenggok di atas catwalk.

[d] Para pemuda itu banyak yang tidak mengerti hukum Jihad. Misalnya, ada sekelompok pemuda tiba-tiba melakukan serangan bom di Bali. Bali dianggap sebagai daarul kufr, karena banyak orang Hindu disana. Masalahnya, kita tidak memiliki parameter yang bisa memastikan bahwa Bali adalah daarul kufr? Bali kalau dibandingkan Daulah Islamiyyah di Madinah, Damaskus, Baghdad, Andalusi, atau Turki Utsmani di masa lalu, jelas kedudukannya sama dengan wilayah India, China, Jepang, dan lainnya. Tetapi kalau dibandingkan negara nasionalis sekuler, ya tidak banyak bedanya. Kecuali kalau ada negara Islami yang telah diakui oleh kawan dan lawan, lalu dia menyatakan berlakunya hukum jihad atas daerah-daerah tertentu, maka disana diperbolehkan serangan. Seperti Nabi Saw saat berniat menyerang kafilah dagang Abu Sufyan, karena sudah ada kepastian permusuhan antara wilayah Madinah dengan musyrikin Makkah. (Kepastian itu antara lain dengan bukti-bukti: Kaum Quraisy berkali-kali ingin membunuh Nabi, mereka melakukan boikot total 3 tahun, mereka sangat menentang Bai’at Aqabah, mereka menentang Hijrah Nabi, mereka membuat koalisi pemuda Makkah untuk membunuh Nabi di rumahnya, dll. Maka semua itu menjadi bukti-bukti konfrontasi yang sangat kuat).

[e] Untuk melancarkan aksi-aksi serangan tersebut, jelas sangat dibutuhkan dana. Pertanyaannya, darimana para eksekutor aksi itu mendapatkan dana-dananya? Kalau untuk membela perjuangan di Irak, Palestina, Afghanistan, Chechnya, dan lainnya sangat mungkin mereka mendapat bantuan dana dari Ummat. Tetapi untuk menyerang Indonesia, Mesir, Amerika, Ingrris, dll. yang dianggap wilayah aman, siapa yang akan membantu membiayai? Tidak terbayangkan, bagaimana cara mendapatkan dana untuk membuat ledakan-ledakan bom di Jakarta?

Bom yang meledak di Indonesia, sejak era bom Bali I, tidak akan bisa menjawab penjelasan-penjelasan di atas. Itu membuktikan bahwa aksi-aksi tersebut lebih tepat disebut TERORISME, bukan aksi JIHAD. Sulit mengaitkan aksi-aksi para pemuda itu dengan niatan tulus untuk menegakkan Kalimah Allah.

Tidak diragukan, bahwa perjuangan, pengorbanan, serta kesungguhan pemuda-pemuda itu sangat mengagumkan. Di jaman serba materialis seperti saat ini, hadirnya pemuda-pemuda Islam yang sangat pemberani, serasa mimpi di siang bolong. Saat banyak pemuda-pemuda Islam sibuk dengan love SMS, jingkrak-jingkrak musik, tukar-menukar foto, kecanduan facebook, memuja pemain bola, terlibat transaksi seks, konsumsi narkoba, maniak karier, dll. maka munculnya pemuda-pemuda pemberani itu seakan menjadi KEAJAIBAN. Namun saat keberanian mereka disalah-gunakan untuk melayani ambisi kaum kapitalis, hati kita merasa pilu. Usamah bin Ladin masih satu jaringan dengan para kapitalis Arab. Nah, disini kita merasa sangat pilu, niat suci para pemuda dalam Jihad ditipu habis-habisan.

Terus terang, kalau melihat sepak terjang Usamah bin Ladin, lalu membandingkannya dengan Jendral Ibnu Khattab, Syamil Basayev, Mullah Umar, Syaikh Ahmad Yasin, Yahya Ayasy, dll. terasa sangat jauh jaraknya. Sekelompok orang benar-benar mujahidin, di pihak lain kapitalis yang berkedok mujahid. Sungguh, kalau kita bicara Jihad dalam konteks Islami, tidak ada hal-hal tercela di dalamnya. Seluruhnya baik, mulia, dan penuh barakah. Sebab Jihad itu adalah instrumen langit untuk menjaga dan menegakkan Agama Allah di muka bumi. Dan Anda telah tahu semua, bagaimana dampak dari perjuangan Usamah bin Ladin selama ini? Apakah semakin memuliakan Islam atau semakin merusaknya?

Coba pikirkan baik-baik! Usamah bin Ladin selama ini terus menyembunyikan dirinya, akibatnya Amerika dan NATO terus memiliki alasan untuk meneror kaum Muslimin dengan isu perang anti terorisme. Teror itu jelas amat sangat merugikan kita semua. Amerika menghancurkan jejak-jejak peradaban Islam di Irak, Amerika membunuh jutaan Muslim Afghanistan, Amerika membekukan aset-aset dakwah Islam, mereka menangkap ribuan pemuda Muslim tanpa pengadilan, lalu disiksa di penjara-penjara bawah tanah. Bahkan saking gila-nya Amerika, mereka ingin merubah kurikulum Al Azhar dan sekolah-sekolah agama di Saudi. Salah seorang senator mereka pernah mengusulkan agar Makkah dibom nuklir. Tetapi atas semua itu, Usamah bin Ladin seperti tidak peduli. Dia lebih menyayangi nyawa dirinya, daripada keselamatan miliaran Ummat Islam di dunia.

TAPI…itu dengan asumsi bahwa sosok Usamah bin Ladin, adalah yang sering muncul dalam video, rekaman suara, dll. sebagaimana beredar selama ini. Kalau beliau ternyata sudah wafat sekitar tahun 2001, seperti yang diklaim oleh sebagian orang, berarti beliau tidak menanggung kesalahan-kesalahan yang dituduhkan. Nas’alullah al maghfirah wal ‘afwa min kulli jahalatin wal khata’. Amin Allahumma amin, innahu Ghafurur Rahiim.

Hanya kepada Allah kita memohon, agar Dia menyelamatkan pemuda-pemuda Islam; agar Dia menyelamatkan Jihad dan para mujahid, serta menolong kehidupan keluarga mereka; agar Dia menumpas para kapitalis berkedok mujahid, dan agen-agen terorisme keji; agar Dia meninggikan Kalimah-Nya dengan tangan-tangan hamba-Nya, dan merendahkan kekafiran dengan keperkasaan-Nya. Amin Allahumma amin. Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Walhamdulillah Rabbil ‘alamiin. Wallahu A’lam bisshawaab.

Bandung, 26 Juli 2009.

AM. Waskito.

Iklan

9 Responses to Mengapa Ada Al Qa’idah?

  1. Ajib berkata:

    @ Ajib:

    [Maaf, seharusnya komentar ini untuk menjawab komentar yang ditulis oleh Ajib dari hehe@hehe.com. Tapi karena kesalahan teknis, komentar dia malah “tertimpa” jawaban saya. Mohon maaf ke Ajib, dan para pembaca umumnya. AMW].

    Syukran atas tanggapan Antum. Mohon maaf kalau ada tulisan-tulisan yang kurang berkenan di hati. Alhamdulillah, saya tidak ragu untuk mengatakan apa yang harus dikatakan. Meskipun terus terang, hal ini terlambat saya katakan. Sebab kita harus menanti waktu bertahun-tahun, sebelum diberi pertolongan untuk mengatakan yang sebenarnya, meskipun bagi sebagian orang ini terasa PAHIT.

    Untuk mengetahui tentang kesalahan-kesalahan Usamah bin Ladin, bisa dilihat dari beberapa sisi:

    (1) Usamah itu tidak memiliki kapasitas untuk menyerukan Fatwa Jihad Global. Dia bukan seorang ulama, bukan amir kaum Muslimin, bukan Khalifah Ummat, bahkan bukan orang yang paling mengerti tentang peperangan. Dibandingkan Dr. Abdullah Azzam, Usamah tidak ada apa-apanya. Tetapi lihatlah, pernahkah Dr. Abdullah Azzam menyerukan fatwa jihad global? Tidak pernah. Beliau pernah meminta dukungan fatwa jihad dari Syaikh bin Baz di Saudi. Tujuannya agar Syaikh memfatwakan hukum jihad di Afghanistan untuk membantu kaum Muslimin, merupakan fardhu ‘ain. Dan fatwa itu berhasil, sehingga ribuan pemuda-pemuda Arab datang ke Afghan untuk membela kaum Muslimin.

    (2) Jihad ofensif (menyerang) itu boleh, tetapi harus atas legalitas sebuah Daulah Islamiyyah. Dalilnya apa? Nabi Saw. menyerukan Jihad untuk menyerang kabilah-kabilah musyrikin di Hunain, untuk menyerang benteng Khaibar, untuk menaklukkan Makkah. Ini semua jihad ofensif, dan selalu menanti seruan jihad dari imam kaum Muslimin. Begitu pula jihad di masa Khalifah Rasyidin, juga menanti seruan dari imam kaum Muslimin. Lalu dalam fatwa Usamah bin Ladin itu, apakah ia mewakili imam kaum Muslimin, atau mewakili sebuah negara Islam tertentu? Kalau setiap orang yang marah ke orang kafir boleh menyerukan fatwa Jihad, bakal rusak Ummat ini. Anda paham?

    (3) Jihad ofensif yang dilakukan tanpa dukungan negara (imam kaum Muslimin), tidak ditemukan dasarnya dalam Syari’at. Tetapi dalam sejarah Islam, jihad seperti itu pernah terjadi, dalam rangka mendirikan Daulah Islamiyyah. Contoh, upaya kaum Muslimin di bawah Abdurrahman III dan Thariq bin Ziyad untuk menaklukkan kerajaan-kerajaan Nashrani di Spanyol, lalu mendirikan Daulah Islamiyyah Andalusia. Itu contoh kongkrit gerakan jihad kaum Muslimin, bukan atas nama negara, tetapi berhasil mendirikan Daulah Islamiyyah.

    Tetapi jihad seperti itu sangat berbeda dengan TERORISME. Dalam jihad itu, ada pemimpinnya, ada pasukan mujahidin dengan senjata dan strateginya, ada peperangan vis a vis menghadapi musuh, dan ada hasil nyatanya. Maka para ulama tidak menolak dengan berdirinya Daulah Islamiyyah dengan cara seperti itu, kalau kemudian berhasil. Bandingkan dengan cara terorisme: Pasukan tidak ada, main kucing-kucingan, serangan sporadis, menyerang target-target sipil, dan lain-lain. Betapa jauh jaraknya. Yang satu kesatria, yang satu pengecut.

    “Jihad ala Usamah” itu bukan jihad seperti yang Islam ajarkan, tetapi terorisme yang sangat menjelek-jelekkan nama baik Islam. Aku yakin, orang-orang yang terlibat dalam gerakan seperti itu, kalau tidak bertaubat dan melakukan perbaikan, mereka akan mati dalam kesesatan. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

    (4) Anda mengatakan: “Darimana anda tahu hanya dengan memandang dampak yang sempit?? Atau anda sudah merasa yang paling pintar mengetahui cara yang tepat melahirkan pemuda² Jundul Muslimin penolong dienullah?? Tolong jelaskan?? Atau hanya berteriak ‘aina jundul muslimin??

    Sebelum menjawab, saya bertanya balik ke Anda. Mohon dijawab sangat TEGAS, tidak usah BASA-BASI ya. Apakah Jihad baru dikenal sejak ada Usamah bin Ladin? Apakah Ummat tidak pernah berjihad, kecuali setelah ada Usamah bin Ladin? Apakah yang namanya mujahid Islam itu harus laporan dulu ke Usamah bin Ladin? Mohon jawab dengan TEGAS, jangan BASA-BASI.

    Kalau iman dan ilmu Anda benar, Anda pasti akan mengatakan: TIDAK !!! Jihad telah dikenal sejak jaman Nabi, mujahidin ada dimana-mana, jihad telah pecah di berbagai belahan negeri-negeri Muslim.

    Nah, kalau seperti itu, apakah kaum Muslimin tidak tahu cara melahirkan pemuda-pemuda jundul Muslimin? Apakah Ummat ini tidak mengerti ilmu dan teknik mendidik kader-kader mujahid Islam? Kalau Ummat tidak tahu apa-apa tentang Jihad, baru tahu setelah Usamah bin Ladin muncul, tentu jihad tidak pernah muncul di muka bumi, selain setelah Usamah saja. Justru saya merasa, orang-orang seperti Anda itu yang “sok pintar”. Anda merasa, bahwa hanya kalangan Anda yang bisa melahirkan mujahid. Aneh bin ajaib!!!

    Bahkan saya bisa memastikan. Dulu ada Shalahuddin Al Ayyubi, ada Muhammad Al Fatih, ada Mahmud Zanki, ada Ibnul Wahhab, ada Umar Mukhtar, ada Imam Syamil di Kaukasus, ada Imam Ahmad Sanusi, dan lain-lain. Termasuk di Indonesia ada Fatahillah, ada Adipati Yunus, ada Diponegoro, Imam Bonjol, Teuku Umar, Tengku Cik Di Tiro, ada Jendral Sudirman, ada Bung Tomo, dan lainnya. Pernahkah para pemimpin jihad Islam itu menyebarkan “fatwa teror global” seperti yang dilakukan Usamah bin Ladin hari ini?

    Jelas sudah, secara syar’i dan secara sejarah mujahid Islam, langkah TEROR Usamah bin Ladin itu salah, salah sekali. Maka tidak heran jika dia diingatkan oleh Syaikh Bin Baz, juga dinasehati oleh Dr. Salman Al Audah.

    (5) Anda mengatakan: “Jangan pernah bersu’udzon kepada ulama selama masih berpegang pada Al-Qur’an dan As-Sunnah, Mereka tetap menempuh perjuangan Islam, walaupun terkadang tidak sependapat dengan pemikiran.. Insya ALLAH

    Jawab: Mau su’uzhan bagaimana? Wong, semua orang sudah tahu kok masalah ini. Masalah teror versi Usamah ini sudah mendunia, sudah terkenal dimana-mana. Anak kecil pun tahu. Jadi tidak ada su’uzhan lagi, wong fakta kasus-kasus teror itu sudah banyak. Su’uzhon itu untuk hal-hal yang belum jelas duduk perkaranya, untuk yang masih samar-samar. Kalau sudah jelas, faktanya jelas, tidak su’uzhan lagi.

    Kan Anda termasuk yang meyakini bahwa Tragedi WTC dilakukan oleh Al Qa’idah. Itu saja sudah bukti yang telanjang. Jadi ini bukan su’uzhan lagi. Ini fakta teror yang bisa disaksikan oleh kaum Muslimin, maupun orang-orang kafir.

    (6) Anda mengatakan: “Jikalau anda ragu terhadap Syeikh Usama Bin Ladin cukup, disimpan dalam hati. Janganlah menyebarkan berita keburukan² yang berasal dari angan² pikiran anda, kalau tidak ada fakta yang menguatkan.. sebelum anda akan menyesal kemudian jika mengetahui bahwa Usamah Bin Ladin benar² berjuang demi Islam.

    Jawab: Agama kita itu mudah, tidak berbelit-belit. Ukur segala sesuatu dengan Al Qur’an dan Sunnah. Lihat bagaimana pemahaman dan sikap Salafus Shalih. Kalau tidak ada dalil, lihat pada catatan sejarah Ummat. Setahu saya, sejak Nabi Saw sampai saat ini, tidak pernah ada yang menyebarkan “Fatwa Teror Global”. Kaum Muslimin itu mulia sejarahnya, meskipun kelemahan dan kesalahan kerap terjadi.

    Dengan menganalisa berbagai fakta dan catatan, saya termasuk yang setuju dengan pandangan, bahwa Usamah bin Ladin Cs ini adalah orang-orang yang sengaja dipakai oleh tangan KAFIR untuk merusak citra Jihad kaum Muslimin. Sebab Anda tahu, tidak ada yang paling kuat perlawanannya terhadap konsep New World Order yang disusun Amerika-Yahudi untuk menguasai, selain Islam. Sedangkan Islam memiliki penjaga yang tangguh, yaitu JIHAD Fi Sabilillah. Maka penjaga Islam ini harus dijelek-jelekkan, biar seluruh manusia membencinya. Caranya, dengan mengangkat tokoh seperti Usamah, Ayman, dan Al Qa’idah itu. Amal mereka itu merusak agenda Kebangkitan Islam di dunia.

    Usamah Cs ini hanyalah boneka-boneka orang KAFIR. Saya yakin Usamah tahu hal itu, sebab dia kan dari korporasi Bin Laden. Tetapi pemuda-pemuda Islam di level grass root, mereka tidak tahu apa-apa. Mereka tahunya hanya Jihad, Jihad, dan Jihad. Dengan dipoles ayat-ayat Jihad, hadits-hadits tentang keutamaan Jihad, mereka sudah terpengaruh. Menyedihkan memang.

    Wallahu A’lam bisshawaab.

    AMW.

  2. arman saputra berkata:

    Asslamualaikum wr.wb.
    semoga Allah memaafkan kita semua apa-apa yang telah kita uraikan bersma dalam rubik ini,tidak mengurangi
    ukhuwah islamiah maka dengan ini kami selaku orang awam
    dibidang agama,hanya bisa mendo*akan agar kita senantiasa dalam lindungan NYA amin ya robbal alamin
    Terlepas apa yang telah diuraikan diatas kami selalu ber
    usaha agar kita tidak terlalu terjebak dengan atas apa yang terjadi pasca USAMAH BIN LADEN dan paling penting adalah kita harus yakin bahwa ini semua RAHASIA ALLAH
    semoga ada hikmahnya dari uraian diatas JANGAN LUPA KITA SELALU HARUS MENJAGA KOMITMEN BERSAMA KITA INI
    SATU QAIDAH.-AMIN YAROBAL ALAMIN.ALLAHU AKBAR……

  3. irres ponorogo berkata:

    arrahmah.com/read/2011/10/23/15934-runtuhnya-rezim-qaddafi-dan-strategi-al-qaeda-menjebak-amerika.html

    pak bgaimana tanggapan anda tentang link diatas

  4. sekarsidan berkata:

    orang bodoh ngomong jihad ya begini ini, belajar sama mujahid nggak pernah, jihad juga enggak, ulama juga bukan, gelar di bidang syariah juga tidak ada, tapi sombongnya minta ampun, semoga Allah memberi petunjuk pada anda ustadz….

    soalnya saya lihat, kawan2 yang juga tarbiyah di eramuslim tidak sombong seperti anda dalam menghakimi al-qaidah dan usamah bin ladin. sedangkan anda, mengabaikan isyarat2 kebaikan yang ada pada gerakan jihad ini,
    jadi yang salah bukan pada pola dakwah tarbiyah-nya tapi mungkin anda sendiri

  5. irres ponorogo berkata:

    sekarsidan.wordpress.com/2010/11/24/apakah-wtc-911-misi-dajjal-sebuah-bantahan-ringan-artikel-abisyakir/

    ???

  6. abisyakir berkata:

    @ Sekarsidan…

    Syukran jazakumullah khair atas segala celaan yang Antum sampaikan. Semoga keadaan kami lebih baik dari yang antum sangka, dan semoga Allah memaafkan kesalahan-kesalahan kami yang tak kami ketahui.

    Kalau antum laki-laki, benar-benar mujahid, coba Antum jawab pertanyaan ini:

    1. Apakah seseorang hanya boleh bicara jihad, jika dia telah berjihad di medan perang? Jika demikian, dalilnya apa?
    2. Apakah antum sendiri sudah berjihad di medan perang seperti kemuliaan yang antum klaim melebihi kami selama ini?
    3. Hukum apa yang berlaku di tangan mujahidin Islam? Hukum Syariat kah, atau hukum lainnya?
    4. Mengapa Usamah lebih rela pemerintahan Islam Thaliban di Afghan hancur, ketimbang menyerahkan dirinya agar ditangkap pasukan AS? Di mata para mujahidin, lebih mulia mana harga seorang Usamah dan pemerintahan Islam?
    5. Antum kan lebih faqih, ‘alim, ‘adil, dan mujahid daripada kami, maka jawab pertanyaan ini: Lebih besar manfaat atau madharatnya bagi Ummat Islam sedunia, akan hal gerakan Al Qa’idah selama ini?

    Kalau Antum bisa menjawab semua ini secara laki-laki, maka hal itu akan sangat kami hargai. Adapun soal celaan-celaan antum, dalam beberapa sisi, ia tak jauh beda dengan celaan kaum Salafi Ekstrem selama ini. Mirip, hanya beda kaum.

    AMW.

  7. sekarsidan berkata:

    saya sudah mencoba berbagai cara untuk menyadarkan ustadz, dari dialog panjang sampai kritikan-kritikan pedas (yang antum terjemahkan sebagai celaan-olok2an), saya sertakan juga fatwa ulama yang muktabar dalam masalah jihad dan bukan dari al-qoidah, silahkan anda mengecap saya sebagai ekstrem seperti salafi, toh cuma cap seorang ustadz abisyakir.

    sebenarnya saya banyak sependapat dengan anda ustadz, hanyasaja dalam masalah ini saya anti-berat. dan saya akan lakukan segala cara sebisa saya untuk mencegah kemungkaran yang anda lakukan, bahkan seandainya bisa akan saya lakukan dengan tangan, hanya saja saya punya banyak keterbatasan…

  8. pengen tauhid yang haq berkata:

    Terus belajar tauhid yg bener dmn? tauhid yg murni…yg saya tau bnyk ustad yg mendakwahkan tauhid dengan gencar malah ditangkepin.dicap teroris,difitnah khawarij, aliran sesat…jamaah kajian tauhidnya tempatnya diintelin…terus jihad yg bener seperti apa terus kan saat ini diindonesia blm dlm naungan daulah islamiyah…terus cara dakwahin menyebarkan tauhid murni yg dapat mwmancarkan al islam yg haq gmn?saya jg kurang setuju tindak serampangan dan asal bom…mungkin saya masih bodoh akan hal ini…saya cm butuh al islam yg berlandaskan tauhid yg murni (berlandaskan alquran dan sunnah)…yg ga menelantarkan ato menghapuskan hukum allah dan hak-hak allah subhanallahu wataala…tulisan anda sangat membuka wawasan dan saya berhusnudzhan….sedikit pengetahuan saya dakwah tauhid itu sangat langka dikaji oleh ulama2 masa kini….malah dakwahnya bnyk yg bikin bingung umat islam pondasi al islamnya yaitu tauhid seperti apa untuk maknanya serta amaliyahnya….maaf klo ada ketikan yg salah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: