Belajar dari ‘Kambing Congek’

Sebenarnya sangat melelahkan membahas kiprah partai label Islam/Muslim. Disini kita mengalami krisis moralitas politik yang sangat akut. Setelah Reformasi, kita semua menyangka akan terjadi lompatan-lompatan moral luar biasa dalam bidang perpolitikan. Ternyata realitasnya berbeda. Kita justru disuguhi permainan rebutan fasilitas kekuasaan yang minim keluhuran moral. Para politisi Muslim seperti tidak malu-malu lagi membuka aurat-aurat politiknya; demi fasilitas kekuasaan.

Meskipun begitu, sebagai bagian dari tanggung-jawab dakwah Islam, kita tetap perlu memberikan perhatian-perhatian tertentu pada masalah-masalah yang sangat peka. Bagi saya sendiri, mungkin ini tulisan “pamungkas” di bidang politik praktis, sebelum WARNING III saya sampaikan, menjelang Ramadhan nanti (insya Allah). Semoga tulisan ini bisa menjadi tadzkirah bagi kita semua, khususnya bagi generasi muda Muslim Indonesia, dan para politisi.

Ada sebuah filosofi masyarakat Jawa yang dulu pernah populer, tetapi saat ini sudah dilupakan. Filosofi itu berbunyi: “Becik ketitik, olo ketoro.” (Yang baik akan kecirian, dan yang buruk juga akan kelihatan). Filosofi ini kembali diingatkan oleh Habiburrahman El Shirazi di balik salah satu novelnya. Perbuatan baik akan membuahkan kebaikan bagi pelakunya. Begitu pula, perbuatan buruk akan berakibat buruk bagi pelakunya. Hal ini sesuai pandangan Qur’ani: “Jika kalian berbuat baik, maka kalian berbuat baik untuk diri kalian sendiri. Dan begitu pula jika kalian berbuat buruk (keburukannya untuk kalian sendiri).” (Al Israa’: 7).

Filosofi di atas jika diangkat dalam dunia politik, kira-kira maknanya: Investasi kebaikan dalam politik akan membawa maslahat bagi partai politik dan kehidupan masyarakat luas; sebaliknya, investasi keburukan akan kembali kepada yang bersangkutan berupa keburukan-keburukan juga. Bahkan investasi keburukan itu bisa berakibat merusak kehidupan masyarakat luas. Na’udzubillah min dzalik.

RESIKO KOALISI POLITIK

Akhir-akhir ini, partai Islam/Muslim mulai merasa klenger, setelah mereka memutuskan berkoalisi dengan Demokrat atau SBY. Belum juga roda Pemerintahan berjalan, tetapi kerugian-kerugian politik mulai menimpa mereka.

Ada beberapa realitas politik yang membuat elit-elit partai Islam/Muslim merasa “sport jantung” dan terus melakukan rapat-rapat intensif untuk melakukan penyikapan atas dinamika-dinamika politik terkini. Realitas itu antara lain sebagai berikut:

[o] Kemungkinan partai-partai Islam/Muslim tidak akan mendapatkan jatah kursi menteri seperti yang mereka harapkan saat teken kontrak politik dengan Demokrat. Kalau mendapatkan, kemungkinan tidak sebanyak yang mereka harapkan semula. Hal itu muncul, sebab saat ini berkembang luas isu, bahwa kabinet bentukan SBY nanti lebih mengedepankan faktor keahlian, bukan asal partai.

[o] Jumlah kursi partai Islam/Muslim mengalami pengurangan cukup significant, setelah keluar keputusan MA yang mengubah mekanisme penentuan kursi tahap kedua di Parlemen. Partai-partai besar, terutama Demokrat, justru menjadi semakin gemuk dengan pemberlakuan mekanisme tersebut. Untuk PAN sendiri diperkirakan akan kehilangan sampai 18 kursi di Parlemen.

[o] Saat ini sedang bergerak arus kuat di tubuh Golkar dari kubu Akbar Tandjung (atau Aburizal Bakrie) yang menghendaki Golkar koalisi dengan SBY. Mereka ingin merapat ke kekuasaan, dengan dalih seperti ucapan super oportunis Fahmi Idris, “Golkar tidak biasa menjadi partai oposisi.” Jika Golkar akhirnya masuk merapat ke Pemerintahan SBY, kemungkinan dia akan menyingkirkan peranan partai Islam/Muslim yang sudah terlebih dulu bergabung dengan SBY. Saya bayangkan, Akbar Tandjung mengejek para politisi Islam/Muslim itu: “Kalau mau jadi oportunis, jangan tanggung-tanggung. Sekalian saja!”

[o] Elemen-elemen politik di tubuh Demokrat sejak lama bersikap ‘setengah hati’ dengan partai Islam/Muslim. Mereka tidak memiliki komitmen koalisi yang bisa dipegang. Bahkan sampai saat ini pun, PKS selalu mereka waspadai. Alasannya, mereka merasa risih dengan corak politik agamis yang (konon) diperjuangkan oleh partai-partai itu. Bagaimanapun Demokrat adalah partai nasionalis pro Amerika. Wajar kalau dia merasa tidak nyaman dengan partai Islam/Muslim. Di balik Partai Demokrat ada LSI, lembaga surve yang tokoh-tokohnya sangat anti politik agama. Apalagi kaum Liberalis seperti Rizal Malarangeng dan kawan-kawan, mereka lebih “nek” lagi dengan politik agama. Mereka rata-rata pengagum ideologi Sekularisme.

[o] Setelah Pilpres Juli 2009 selesai, KPU memutuskan bahwa pasangan SBY-Boediono menang mutlak dalam satu putaran saja (25 Juli 2009). Kemenangan ini tentu atas dukungan partai Islam/Muslim juga. Tetapi dalam opini-opini yang berkembang, dikesankan bahwa kunci kemenangannya adalah: elektabilitas SBY sendiri. Nah lho, setelah menang baru keluar opini seperti ini. Mengapa ia tidak muncul sejak awal-awal sebelum Pilpres dulu? Entahlah.

Sampai disini, nasib partai Islam/Muslim itu tampak sangat mengenaskan. Mereka dibutuhkan saat Demokrat kesepian. Saat Demokrat sudah mengantongi kemenangan, partai Islam/Muslim itu tidak disukai, sebab wataknya agamis, bukan partai nasionalis. Sudah rahasia umum, bahwa Demokrat mau berkoalisi dengan partai Islam/Muslim, tetapi mereka khawatir dengan partai-partai itu. Okelah, untuk tujuan pemenangan Pilpres, dukungan partai Islam/Muslim sangat dibutuhkan. Tetapi untuk membangun kebijakan Pemerintahan ke depan, mereka kurang suka dengan eksistensi partai yang mengusung simbol-simbol agama.

Saya menduga, nanti dalam komposisi kementrian dalam kabinet SBY, tokoh-tokoh dari partai Islam/Muslim tidak akan diberi posisi yang significant. Ya mungkin akan mendapat pos-pos jabatan seperti Menteri Sosial, Menteri Olah Raga, Menteri Wanita, Menteri Tenaga Kerja, Menteri Pariwisata, atau maksimal Menteri Agama. Posisi-posisi minor yang kurang berpengaruh.

Atau kalau seorang pemimpin tega hati, mungkin tokoh-tokoh partai Islam/Muslim itu akan dibuatkan kementerian baru, misalnya: Menteri Perpustakaan, Menteri Kesenian Daerah, Menteri Urusan Arsip, Menteri Pemeliharaan Benda Purbakala, Menteri Urusan PKK, Menteri Pembinaan Karangtaruna, dll. Atau bisa jadi dibuka kementerian lain, misalnya: Menteri Pelayanan Komplain, Menteri Urusan Menghadapi Debt Collector, Menteri Khusus Debat di TV, Menteri Urusan Manohara, dll. (Maaf beribu maaf, ini hanya humor).

SEJAK MASA PILEG 2009

Perlu Anda ketahui, bahwa perlakuan-perlakuan buruk yang menimpa partai Islam/Muslim di atas bukan saat ini saja. Sebelum Pileg atau Pilpres, hal itu sudah ada. Hanya saja, partai Islam/Muslim itu tidak mau belajar dari pengalaman. Mereka sepertinya terlalu sulit untuk memahami ungkapan ini: “Kambing congek saja tidak akan menanduk batu sampai dua kali.” Mungkin Prof. Dr. Amien Rais, guru besar ilmu politik UGM, bisa menjelaskan makna ungkapan itu.

Bahkan yang lebih memprihatinkan, para aktivis politik Islam yang masih muda-muda usia, mereka bukan hanya cepat lupa dengan perlakuan-perlakuan buruk itu. Bahkan mereka berlomba-lomba mencari dalil-dalil agama untuk membenarkan langkah-langkah partainya dalam koalisi dengan SBY atau Partai Demokrat. Kalau kita mengeritik SBY, seketika akan dibantah dengan dalil-dalil Syariat. Seolah kita tidak mengerti tentang dalil-dalil tersebut.

Tapi sudahlah, mari kita buka-buka lagi file beberapa bulan lalu. Orang Indonesia harus sering-sering diingatkan, khawatir cepat lupa. Termasuk anak-anak muda juga harus sering-sering diingatkan, agar nalarnya tetap dinamis.

Perhatikan…

[o] Tidak lama setelah Demokrat dinyatakan menang dalam Pemilu April 2009, menurut versi quick count, muncul gagasan dari Golkar dan JK untuk merapat ke Demokrat saja. Istilahnya meneruskan kembali duet kepemimpinan SBY-JK untuk periode 2009-2014. Begitu tahu Golkar mau merapat ke Demokrat, sebagian elit PKS mencak-mencak. Mereka mengancam akan mundur dari koalisi dengan Demokrat. Hal itu terungkap sangat jelas dari pernyataan Anis Matta dan Fahri Hamzah. Sikap PKS dianggap menghalangi agenda Demokrat untuk berkoalisi dengan Golkar yang sama-sama nasionalis. Maka Ruhut Sitompul mengeluarkan pernyataan keras terhadap PKS yang dianggapnya tidak sadar diri (bahwa perolehan suara PKS tidak banyak). Begitu pula, SBY mengeluarkan pernyataan keras, katanya dia mempersilahkan siapa saja yang tidak mau menerima keputusan politik Demokrat (untuk koalisi dengan sesama partai nasionalis).

[o] Setelah berproses beberapa lama, akhirnya didapat 3 pasangan Calon Presiden-Wakil Presiden untuk Pilpres Juli 2009. SBY akhirnya berpasangan dengan Boediono, mantan Gubernur BI. Pencalonan Boediono sebagai Cawapres SBY mengundang reaksi keras dari partai Islam/Muslim. Baik PKS, PAN, PPP, dan PKB, mereka merasa tokoh politiknya berhak menjadi pasangan SBY. PKS bersuara paling keras, dengan lagi-lagi mengancam akan mundur dari koalisi SBY. Bahkan sebagian elit-elit PKS sudah mulai melakukan pendekatan dengan Golkar dan lainnya. Di antara elit PKS itu sudah memuji pasangan JK-Wiranto yang isteri-isterinya memakai jilbab. Tetapi berkat “kesaktian komunikasi” SBY, hati elit PKS pun lumer. Mereka akhirnya dengan “lapang dada” menerima pencalonan SBY-Boediono di Sabuga ITB. Bahkan aktivis-aktivis muda PKS kemudian giat mencitrakan, bahwa Boediono bukan Neolib, dia banyak mendukung bank-bank Syariah.

[o] Menarik mengingat kembali sikap keras Fahri Hamzah, sesaat setelah DPP Demokrat mengumumkan kepastian pencalonan Boediono sebagai Cawapres SBY. Fahri mengungkapkan data, bahwa sebelum Pileg April 2009, elit-elit PKS termasuk dirinya dipanggil ke Cikeas. Waktu itu Anis Matta dan Fahri masih di luar Jawa, terpaksa balik ke Jakarta untuk memenuhi undangan SBY. Dalam pertemuan itu SBY mengakui bahwa selama ini ada masalah komunikasi antara Demokrat dengan PKS. Mereka komitmen untuk memperbaiki komunikasi tersebut, lalu mendorong ke arah koalisi yang lebih harmonis. Fahri sangat keberatan, ketika Demokrat memutuskan Cawapres Boediono, tanpa komunikasi dengan elit-elit PKS. Padahal kata Fahri, SBY sudah mengakui bahwa ada masalah hambatan komunikasi selama ini di antara mereka. (Kalau misalnya sosok Cawapres itu diambil dari tokoh-tokoh PKS, kemungkinan Fahri akan sumringah).

Ini hanya sebagian fakta, bahwa partai Islam/Muslim itu sudah dirugikan oleh manuver-manuver Demokrat, sebelum Pilpres dilaksanakan. Bahkan sebelum Pileg pun mereka sudah dirugikan. Nah, atas semua itu mengapa mereka tidak sadar-sadar juga? Kalau kemudian mereka dirugikan lagi, siapa yang salah? Apakah mereka tidak memahami ungkapan ini: “Kambing congek saja tidak akan menanduk batu sampai dua kali.” Kalau tidak paham, coba tanyakan kepada Prof. Dr. Amien Rais, guru besar ilmu politik UGM, untuk membantu memahami.

5 TAHUN KABINET

Kalau kita bicara reputasi kepemimpinan SBY dalam 5 tahun terakhir (2004-2009), sebenarnya banyak hal yang merugikan partai Islam/Muslim. Rugi secara kelembagaan atau organisasi; rugi secara personal; maupun rugi di tataran Ummat selaku ‘akar rumput’ partai-partai itu. Hal ini pun sudah disadari oleh elit-elit partai Islam/Muslim itu. Namun entahlah, semua itu kini berubah sangat drastis.

Saya ingin ingatkan beberapa fakta selama 5 tahun terakhir. Maklum, orang-orang Indonesia cepat lupa, harus sering-sering diingatkan. Meskipun ayat-ayat Al Qur’an sangat banyak berisi muatan-muatan sejarah, kaum Muslimin di negeri ini seperti sangat minim wawasan sejarah. Atau jangan-jangan tidak mau belajar sejarah? Wallahu A’lam bisshawaab.

Perhatikan kembali…

[o]  Sekitar setahun setelah Kabinet SBY bergulir pada tahun 2004-2005 lalu, beberapa orang menteri dicopot atau dimutasi ke posisi lain. Salah satu yang dicopot adalah Yusril Izha Mahendra (PBB), dari jabatan Menkumdang. Adapun yang dipindahkan posisinya, misalnya Hatta Radjasa dari PAN. Pencopotan Yusril meninggalkan luka politik pada dirinya, atau pada PBB.

[o] Saat SBY menggelar reshuffle Kabinet, PKS termasuk yang mengancam akan mundur dari koalisi, kalau 3 orang menteri mereka di Kabinet SBY dicopot. Dan ternyata tidak ada yang dicopot. Tapi bagi PKS sendiri, manuver “ancaman” yang mereka lakukan merupakan aib politik tersendiri.

[o] Amien Rais pernah bersuara keras ketika dia mengendus rencana Pemerintah untuk memprivatisasi sekitar 30-an perusahaan negara. Selain Amien Rais juga pernah menuduh SBY mendapat sokongan dana dari Washington. Amien menunjukkan surat tertentu sebagai bukti otentiknya.

[o] Setelah menjadi menteri atau pejabat di Pemerintahan SBY, banyak elit-elit partai yang kehilangan loyalitas terhadap partai semula. Contoh terbaik dalam masalah ini adalah sosok Hatta Radjasa (PAN) dan Bahtiar Chamsah (PPP). Setelah menjadi pejabat SBY, mereka jauh lebih pro ke Partai Demokrat, ketimbang ke partainya sendiri. Bahkan Bahtiar Chamsah tidak segan berkonflik dengan Suryadarma Ali, Ketua Umum PPP sendiri.

[o] Setelah Kabinet SBY mengumumkan kenaikan BBM tahap kedua (2007), banyak anggota DPR keberatan. Mulanya mereka ingin menerapkan hak interpelasi (bertanya), namun kemudian berubah menjadi penggunaan hak angket (penyelidikan). Hanya sayangnya, kebijakan DPR itu kini tidak jelas bagaimana kelanjutannya.

[o] Menarik kalau mengamatai formasi anggota tim ekonomi Kabinet SBY dan pejabat teras BI. Mereka adalah Sri Mulyani, Marie E. Pangestu, Purnomo Yusgiantoro, dan Boediono (Gubernur BI). Tidak satu pun dari mereka diambil dari unsur parpol, padahal bidang ekonomi adalah bidang “basah” yang kerap menjadi rebutan parpol. Dan mereka kebanyakan adalah orang-orang yang pro ekonomi pasar, terutama Sri Mulyani dan Boediono.

[o] Selama periode 2004-2009, beberapa partai Islam/Muslim tertimpa isu korupsi. Yang paling parah adalah Al Amin Nasution dari PPP. Dia menjadi bulan-bulanan media massa dan habis disikat KPK. Kemudian ada juga elit PPP yang dicokok oleh polisi dari arena Munas PPP karena kasus korupsi yang sudah hampir dilupakan. Itu pun terjadi saat mendekati Pileg April 2009. Seorang politisi PAN di Sulawesi Selatan disikat KPK ketika lagi ramai-ramainya kampanye. Sementara Jhony Allen dari Demokrat dan Rama Pratama dari PKS, tidak jelas bagaimana perlakuannya. Banyak pihak menduga pemberantasan korupsi berjalan “tebang pilih”. Contoh, Hamid Awaluddin yang juga diduga terlibat korupsi, malah didaulat menjadi Dubes Rusia. Begitu pula kasus korupsi di KPU tahun 2004, tidak semua elit KPU saat itu yang dilanjutkan perkaranya ke pengadilan.

[o] Semua partai koalisi berperan dalam Kabinet SBY, namun dalam kampanye di TV-TV, hanya Demokrat saja yang paling banyak mengeruk keuntungan politik. Setiap kebijakan Pemerintah yang menguntungkan, diklaim oleh Demokrat. Contoh, keberhasilan Departemen Pertanian, tidak lepas dari sosok Anton Apriantono dari PKS. Kemudian berbagai program praktis yang dimotori oleh Jusuf Kalla. Siapa yang berperan, dan siapa yang mendapat nama baik?

[o] Pasca Pileg April 2009, semua partai-partai disebut terkena “Tsunami Demokrat”, kecuali PKS. Partai-partai tengah yang semula di atas Demokrat, seperti PPP dan PKB akhirnya tergusur menjadi partai-partai kecil. Dan herannya, partai-partai itu melupakan begitu saja apa yang mereka alami, dalam rangka koalisi dengan Demokrat. Inilah yang disebut partai “sangat baik hati”.

Semua partai politik merasakan benar bagaimana sikap politik Partai Demokrat di usianya yang baru sekitar 5 tahunan. Mereka jauh lebih merajalela daripada PKS. Bayangkan, hanya dalam tempo 5 tahun, Demokrat berhasil menjadi pemenang Pemilu mengalahkan Golkar, PDIP, PPP, dan lainnya yang lebih senior. Bahkan icon warna biru yang semula menjadi milik PAN, kini menjadi icon khas milik Demokrat. Oleh karena itu, menjelang Pileg April 2009, hampir tidak ada satu pun partai yang ingin koalisi dengan Demokrat, kecuali PKS. Itu pun karena “terpaksa” PKS sulit mendapatkan mitra koalisi yang dia harapkan.

MASALAH UTAMA

Kalau mencermati sikap-sikap politik Demokrat selama ini, sikap politiknya bisa dianggap paling buas. Nilai-nilai etika seperti sudah tidak dihiraukan lagi. Saat susah, mereka butuh dukungan partai Islam/Muslim. Tapi setelah menang, mereka mulai “jual mahal”. Kemudian lihat bagaimana buasnya pernyataan-pernyataan politisi mereka seperti Ruhut Sitompul, Andi Malarangeng, Rizal Malarangeng, Ahmad Mubarak, dan lain-lain. Seolah yang namanya fatsoen politik itu tidak dikenal disana.

SBY sendiri sebagai figur sentral Partai Demokrat telah memberi contoh buruk ke bawahan-bawahannya. Bukti terbaiknya adalah pidato SBY pasca peledakan JW Marriott dan Ritz Carlton, 17 Juli 2009 lalu. Semua orang sudah menyaksikan hal itu. Anehnya, setelah itu datang bantahan, bahwa wartawan memelintir pernyataannya. Padahal dengan jelas-jelas disana dia mengatakan soal Pilpres, pendudukan KPU, Indonesia mau dibuat seperti Iran, dll. Belum lagi pernyataan-pernyataan membela diri ketika dikritik lawan-lawan politiknya. Seperti mengungkapkan isi SMS, “Pak SBY, kok Bapak seperti dikeroyok?”

Saya yakin, para elit partai Islam/Muslim itu masing-masing punya akal, masih bisa berpikir sehat, dan masih memiliki daya ingat. Saya yakin itu. Tetapi masalahnya, mengapa mereka mau membantu membangun dominasi politik Demokrat di Indonesia? Mengapa disebut dominasi politik Demokrat? Sebab, yang sangat diuntungkan dengan semua transaksi politik itu adalah Demokrat sendiri. Buktinya, dalam Pemilu April 2009 mereka mengalami kenaikan suara hampir 3 kali lipat. Sekali lagi, mengapa elit-elit partai Islam/Muslim mau membantu Demokrat dengan mengorbankan masa depan partai masing-masing?

Mungkin mereka berpikir, dengan membela Demokrat mereka akan mendapat jabatan-jabatan politik tertentu. Kemudian dengan jabatan yang dipegang, mereka bisa mendapatkan akses pendanaan, fasilitas, dan keuntungan publikasi tertentu. Atau paling buruknya, elit-elit tertentu dari partai itu bisa menjadi menteri, lalu mendapat gaji dan tunjangan besar dari negara. “Ya, lumayan lah, gaji 100 juta sebulan. Hare gene dapat gaji 100 juta, siapa tahan man?” begitu mungkin logika mereka.

Tapi dengan cara seperti itu mereka telah melakukan PENGKHIANATAN BESAR. Mereka telah berkhianat kepada Ummat Islam yang menjadi pendukung tradisional partai-partai itu. Mereka berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya yang memerintahkan menunaikan amar makruf nahi munkar. Mereka mengkhianati janji-janjinya dalam kampanye yang ingin berbuat ini itu untuk masyarakat. Mereka berkhianat terhadap masa depan partai mereka sendiri, serta amanah para pengurus di bawah yang bekerja siang-malam membela partai mereka.

Bahkan mereka sejatinya telah mengkhianati AKAL SEHAT-nya sendiri. Bayangkan, sekian lama mereka mengetahui perilaku buruk mitra koalisinya. Perilaku buruk itu sungguh-sungguh ditampakkan di mata mereka sendiri. Namun sayang, semua itu diingkari begitu saja, demi agar sebagian elit politik mereka mendapat jabatan menteri, gaji 100 juta sebulan, dan akses-akses modal.

Tidakkah mereka pernah mendengar ungkapan ini: “Kambing congek saja tidak akan menanduk batu sampai dua kali.” Ini ungkapan yang populer. Kalau dalam hadits, bunyinya: “Seorang Mukmin tidak akan digigit (oleh hewan liar) dalam satu lubang, sampai dua kali.” (HR. Muslim). Kalau mereka tidak paham makna ungkapan itu, cobalah tanyakan ke seorang pakar politik terkenal, lokomotif reformasi, guru besar ilmu politik sebuah universitas legendaris di sebuah kota dekat Solo. Mungkin dia bisa membantu.

Titik masalahnya lalu dimana?

Ya, para elit partai Islam/Muslim itu, mereka KURANG YAKIN kepada janji Allah SWT. Ini inti masalahnya. Mereka kurang yakin bahwa investasi kebaikan akan membuahkan hasil kebaikan, dan investasi keburukan akan mendatangkan musibah-musibah. Mereka tidak yakin bahwa SUNNATULLAH yang berlaku dalam kehidupan ini mengikuti hukum keadilan yang ditetapkan oleh Allah Ta’ala. Mereka merasa lebih yakin dengan Jaminan SBY daripada yakin kepada Jaminan Allah. Jaminan SBY dianggap lebih realistik, lebih jelas posisi dan duitnya. Sementara jaminan Allah mereka anggap sepi. “Jaminan Allah selalu nanti, nanti, nanti. Kami keburu tidak sabar menunggu. Apalagi kan ongkos politik ini terus keluar. Apa Allah mau bayar ongkos politik kami? Apa Allah mau bayar hutang-hutang kami yang diperoleh dari sumber disana-sini?” begitu logika mereka jika boleh berterus-terang.

Dalam Al Qur’an disebutkan: “Tidaklah balasan bagi perbuatan ihsan, melainkan dengan hasil yang ihsan pula.” (Surat Ar Rahmaan). Begitu pula: “Dan siapa yang beramal baik seberat biji sawi, dia akan melihat hasilnya. Dan siapa yang beramal buruk seberat biji sawi, dia juga akan melihat hasilnya.” (Surat Al Zalzalah).

Bisa dibayangkan, kalau ada elit-elit politik Muslim yang tidak meyakini janji Allah itu dan lebih meyakini janji-janji politik dari pihak-pihak yang berkuasa. Ini adalah masalah TAUHID yang sangat mendasar. Apalagi jika janji-janji politik itu terbukti sering diingkari. Dan lebih mengerikan lagi, jika sikap politik yang “tidak yakin janji Allah” itu diputuskan oleh majlis syura orang-orang yang mengerti ilmu agama. Waduh, apa lagi itu, Rek?

Sesungguhnya, apa yang tampak di depan mata ini adalah “TANTANGAN BESAR” kepada Allah Subhanah Wa Ta’ala. Ia serupa dengan tantangan kaum-kaum durhaka di masa lalu yang dengan sombong berteriak, “Datangkan ancaman adzab itu, jika kamu adalah orang yang benar!” Sungguh, ini adalah perkara yang sangat menakutkan. Bahkan hawa kedatangan “tamu yang dibenci” itu sudah terasa sejak saat ini.

Ya Allah ya Sallam, selamatkanlah kami, selamatkanlah kami, selamatkanlah kami. Kami memohon ampunan kepada-Mu atas salah dan khilaf kami. Kasihi kami dengan rahmat-Mu, ampuni kami atas semua kejahilan, kelemahan, dan kezhaliman. Ya Allah ya Sallam, ampuni kami, ampuni kami, tolonglah kami atas semua kesulitan di hadapan kami. Hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan dan keselamatan. Allahumma amin. Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amin.

Semoga semua ini menjadi pelajaran bagi semua pihak. Khususnya bagi diri kami sendiri. Walhamdulillah Rabbil ‘alamiin. Wallahu A’lam bisshawaab.

AM. Waskito.

Sekedar selipan kecil, Apa Enaknya Jadi Ketua MPR?


Iklan

2 Responses to Belajar dari ‘Kambing Congek’

  1. Ana Jiddan berkata:

    sepakat, saya pun pesimis jika menggantungkan harapan akan perjuangan Islam kepada partai2 Islam tsb. Lalu, kita harus gimana ya?

  2. Antipekaes berkata:

    Partai islam memang banyak yang MUNAFIK apalagi partai PKS itu paling munafik,cocoknya partai PKS ϑȋ̊ȋ̊ hapuskan dii indonesia…!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: