Sekali Lagi: TERORISME !!!

Agustus 23, 2009

Ini sebuah tulisan bagus dari eramuslim.com. Judul aslinya: “Mantan Direktur BAKIN: Terorisme Kerjaan Intelijen”. Ini sengaja dimuat untuk memperkuat pandangan kita selama ini, bahwa terorisme hanyalah FITNAH yang ditujukan untuk memerangi Ummat Islam secara psikologis dan pemikiran.

Syukran untuk redaksi eramuslim.com. Maaf, saya kutip langsung, tidak ijin terlebih dulu. Kalau ada komplain, mohon sampaikan via e-mail. Nanti tak hapus artikel ini. Tapi insya Allah redaksi eramuslim.com lapang hati.

Mantan Direktur BAKIN: Terorisme Kerjaan Intelijen

Dalam diskusi yang diselenggarakan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di Wisma Antara siang tadi, mantan direktur BAKIN, AC Manulang, menegaskan bahwa tidak mungkin terorisme dilakukan atas ajaran agama Islam, semuanya merupakan bagian dari operasi intelijen.

”Islam tidak mengajarkan terorisme. Karena Islam merupakan agama yang mengajarkan perdamaian. Terorisme adalah bagian dari kegiatan intelijen,” ujar doktor sosiologi dari universitas di Jerman ini.

Menurut Manulang, setelah perang dingin antara kapitalisme dan komunisme usai, Amerika sebagai pionir dari kapitalisme mencari musuh baru, yaitu Islam. Inilah yang sedang terjadi saat ini. Kenapa harus di Indonesia?

Manulang menambahkan bahwa jumlah penduduk Indonesia yang 230 juta dan mayoritas Islam merupakan potensi dan sekaligus bahaya besar untuk kapitalisme. Karena itulah, mereka melemahkan semua potensi yang akan menghambat kapitalisme.

”Salah satu cara yang dilakukan Amerika adalah mengangkat semacam ‘sweet boy’ untuk menjadi pemimpin negara yang mayoritas Islam di seluruh dunia,” jelas AC Manulang.

Jose Rizal Jurnalis dari presidium Mer-C yang juga sebagai pembicara di acara diskusi tersebut menambahkan, ”Terlalu aneh kalau seorang Air dan Eko yang menurut saksi mata masih shalat Jumat di Solo bisa dikatakan tertembak pada Sabtu jam 2 pagi di Jatiasih, Bekasi.”

Menurut Jose, bagaimana mungkin dua orang yang mengangkut bom ratusan kilogram bisa secepat itu tiba di Bekasi, dan langsung tertembak di lokasi.

Selain soal Air dan Eko, dua orang yang disebut polisi sebagai teroris dan tewas ditembak polisi di Bekasi, Jose juga menganggap aneh peristiwa penyerbuan 600 polisi di Temanggung. ”Umumnya penyerangan terhadap suatu tempat persembunyian biasanya dengan gas air mata. Dan semua orang pasti tidak akan tahan dengan cara ini,” ujar dokter yang akrab dengan suasana konflik.

Tapi anehnya, masih menurut Jose, Ibrahim tidak pernah keluar rumah yang diserbu tersebut. Bahkan, darah yang mestinya berceceran di lokasi tidak ada. Tidak tertutup kemungkinan, Ibrahim memang sudah tidak lagi hidup ketika penyerbuan berlangsung.

Jose kembali mengkritisi pasca peledakan Mariot-Ritz Carlton, ”Kenapa polisi tidak mengecek lebih lanjut siapa ratusan orang asing yang menginap di dua hotel tersebut. Tapi, langsung mengarahkan semua tuduhan itu kelompok yang disebut sebagai Nurdin M Top.”

Senada dengan Jose, AC Manulang juga mengungkapkan bahwa saat ini pihak intelejen tidak punya data soal Nurdin M Top. ”Saat ini, sepengetahuan saya, pihak intelijen tidak tahu banyak soal Nurdin M Top,” jelas Manulang.

Ismail Yusanto, sebagai juru bicara HTI yang juga sebagai pembicara di acara tersebut menegaskan bahwa Islam tidak mengajarkan cara-cara terorisme seperti itu dalam jihad.

Bahkan Ismail membeberkan sejumlah fakta bahwa ada ketidakcocokan antara motivasi teror dengan aksi terorisme. ”Kita sudah paham bahwa motivasi yang disampaikan aparat lewat media adalah perang melawan Amerika, tapi kenapa aksinya tidak tertuju pada aset Amerika?” ujar Ismail.

Menurutnya, hingga saat ini, dari sekian banyak peristiwa terorisme di Indonesia, tidak satu pun warga AS yang menjadi korban. Bahkan, kantor Dubes AS di Jakarta tidak tersentuh bom sama sekali.

Lalu, siapa dalang di balik teror di Indonesia? Jose mensinyalir bahwa kelompok multinasional korporat atau pebisnis multinasional di belakang gembar-gembor terorisme. Jose berargumen bahwa hanya merekalah yang tahu adanya rapat pebisnis besar di Mariot saat peristiwa bom terjadi.

Selain itu, masih menurut Jose, pasca naiknya Obama menggantikanBush, isu terorisme akan disudahi oleh Obama. Tapi, kelompok multinasional yang memang selama ini membiayai sarana militer Amerika dan negara-negara besar lainnya, tetap menginginkan kondisi konflik karena itu memudahkan bisnis mereka. Mnh.

Semoga Ummat Islam semakin paham, apa yang terjadi, siapa yang mereka hadapi, dan akan kemana fitnah ini bergulir? Allahumma amin.

Iklan

FIQIH KEMUDAHAN dalam IBADAH RAMADHAN

Agustus 21, 2009

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du.

Atas karunia Allah dan rahmat-Nya, kita kembali bertemu Ramadhan Karim. Orang-orang beriman menyambut bulan yang penuh berkah ini dengan bahagia dan suka-cita. Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah bi nikmatihi. Segala puji hanya untuk Allah atas segala Kemurahan-Nya kepada Ummat ini.

Ramadhan bukan hanya bulan yang di dalamnya disyariatkan kewajiban puasa dan berbagai amal ibadah lainnya. Tetapi Ramadhan juga merupakan anugerah besar bagi ummat manusia. Bulan ini menjadi penjaga eksistensi kehidupan manusia di muka bumi. Di dunia ini tidak ada satu pun ummat beragama yang diampuni dosanya, selain kaum Muslimin. Sementara kaum Muslimin tidak akan mampu menggugurkan dosa-dosanya, jika Allah tidak menolongnya dengan ibadah Ramadhan. Dengan ibadah Ramadhan, dosa-dosa Ummat Islam diampuni sampai bersih. Tanpa Ramadhan, dosa-dosa Ummat akan bertumpuk, dan semakin besar dari tahun ke tahun. Ramadhan adalah anugerah Ilahiyyah yang sangat efektif untuk mentralkan dosa-dosa Ummat Muhammad Saw. Nah, andai dosa-dosa manusia di dunia sudah bertumpuk, termasuk dosa kaum Muslimin di dalamnya, maka dunia ini pasti akan dihancurkan oleh Allah dengan adzab-Nya.

Salah satu prinsip yang perlu dipahami ketika kita bicara tentang IBADAH, adalah prinsip kemudahan (al ushulut taisir). Allah Ta’ala tidak zhalim dalam menetapkan kewajiban ibadah kepada manusia. Dia menetapkan kewajiban ibadah selaras dengan kesanggupan hamba-Nya. Pada dasarnya, ibadah itu bukan untuk Allah, sebab Dia Maha Kaya. Ibadah adalah demi kebaikan manusia sendiri. Dalam Al Qur’an: “Dan siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka hal itu lebih baik bagi dirinya (sendiri).” (Al Baqarah: 184).

Tentang prinsip KEMUDAHAN ini dalilnya disebutkan dalam Al Qur’an: “Allah menginginkan kemudahan bagi kalian, dan Dia tidak menginginkan kesulitan bagi kalian.” (Al Baqarah: 185). Menariknya, ayat ini latar-belakangnya berbicara tentang ibadah Puasa di bulan Ramadhan.

Singkat kata, ibadah di bulan Ramadhan seharusnya penuh dengan kemudahan-kemudahan, bukan kesulitan-kesulitan. Sayangnya, selama ini FIQIH TAISIR (kemudahan) dalam ibadah Ramadhan kurang dipahami oleh masyarakat. Mereka beribadah dengan mengikuti tradisi, lalu secara fanatik bertahan dengan tradisi tersebut. Alangkah baik jika Ummat ini memahami Kemurahan Allah Ta’ala yang telah melapangkan Syariat-Nya.

Sekedar sebagai catatan. Hari dalam Islam tidak dimulai dari jam 00.00 pada dini hari. Hari dalam Islam dimulai sejak adzan Maghrib pada petang hari. Itulah “jam 00.00” menurut versi Islam. Jika sudah masuk waktu Maghrib, berarti kita telah masuk hari yang baru. Jadi hari dalam Islam dimulai dengan malam, baru kemudian siang. Waktu malam adalah sejak Maghrib sampai fajar Shubuh. Waktu siang muncul setelahnya, membentang sejak Shubuh sampai saat Maghrib. (Kalau dalam kalender Masehi hari dimulai dari jam 00.00 tengah malam, kemudian pagi, lalu siang, dan berakhir di jam 24.00 malam lagi). Ketika masuk tanggal 1 Ramadhan, itu artinya pada malam harinya kita tidak berpuasa, tetapi sudah mulai menjalankan Shalat Tarawih. Baru keesokan harinya kita berpuasa, sejak Shubuh sampai Maghrib.

Berikut ini kemudahan-kemudahan Syariat Islam dalam ibadah Ramadhan. Silakan disimak baik-baik. Semoga bermanfaat bagi Anda, saya, keluarga kami, dan kaum Muslimin seluruhnya. Allahumma amin.

[1] Ibadah Shaum Ramadhan dimulai dengan niat. Seseorang yang menjalankan shaum tanpa niat terlebih dulu di malam harinya, puasanya tidak sah. “Siapa yang tidak berniat puasa sebelum fajar, tidak ada puasa baginya.” (HR. An Nasa’i, Baihaqi, Ibnu Hazm). Dan niat ini adalah kehendak di hati untuk menyengaja melakukan suatu ibadah. Disini tidak perlu melafadzkan kalimat “nawaitu shauma ghadin”, sebab Nabi tidak mencontohkan hal itu. Ketentuan niat ini maksudnya untuk membedakan dengan shaum sunnah. Nabi Saw pernah berniat puasa di siang hari ketika beliau belum makan-minum, dan di rumahnya tidak didapati makanan. (HR. Muslim). Dalam Shaum Ramadhan tidak boleh niat pada siang hari, tetapi harus sejak malam hari sebelum fajar. Namun perlu dicatat, seseorang yang sejak awal telah berniat menyelesaikan shaum Ramadhan sebulan penuh, sebenarnya dia telah berniat puasa setiap malamnya. Allah Maha Tahu niat di hati-hati kita.

[2] Orang-orang yang lemah, atau sedang berada dalam kesulitan, boleh meninggalkan shaum. Bagi orang lanjut usia (manula), yang menderita sakit menahun, ibu-ibu hamil atau menyusui, mereka boleh meninggalkan shaum secara mutlak. Kompensasinya, mereka membayar fidyah (memberi makan orang miskin) sejumlah hari-hari ketika mereka tidak berpuasa. Jika sebulan penuh tidak puasa, maka sebulan pula mereka memberi makan orang miskin. (Ketentuannya: Satu hari tidak puasa, pada hari itu seseorang memberi makan satu orang miskin senilai makanan sehari yang biasa dia makan. Boleh memberi makanan matang, atau bahan makanan mentah. Kalau bahan mentah, sebaiknya dihitung untuk beberapa hari sekaligus, agar tidak merepotkan yang diberi makan). Bagi yang sakit temporer, sedang dalam safar, sedang bekerja menguras tenaga, sedang berjuang membela agama, atau kondisi semisal itu, mereka boleh tidak puasa. Tetapi kompensasinya, mereka harus mengganti puasa yang dia tinggalkan, dikerjakan pada hari-hari lain di luar Ramadhan. Itulah shaum qadha’. (Shaum qadha’ ini puasa wajib, maka niatnya juga sejak malam hari, bukan “terpaksa” setelah siang hari). Dalil tentang masalah ini adalah Surat Al Baqarah ayat 184.

[3] Musafir yang berada dalam perjalanan (safar), boleh meninggalkan shaum dan boleh juga tetap mengerjakannya. Nabi Saw pernah melakukan kedua cara itu. Tinggal dilihat urusan yang sedang dihadapi. Jika perjalanan itu ringan dan tidak memberatkan, silakan teruskan puasa sampai Maghrib. Jika perjalanan itu berat atau dalam rangka Jihad Fi Sabilillah, lebih utama tidak puasa. Saat penaklukan Makkah, Nabi Saw pernah membatalkan puasa ketika perjalanan, saat beliau dan para Shahabat sampai di Kura’ Al Ghamim (HR. Muslim). Hamzah bin Amru Al Aslami Ra. pernah bertanya kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, aku mendapati diriku mampu berpuasa dalam safar. Apakah aku berdosa?” Nabi menjawab, “Ia adalah keringanan dari Allah. Siapa yang mengambil keringanan itu (tidak puasa), itu baik. Dan siapa yang suka berpuasa, dia tidak berdosa.” (HR. Muslim).

[4] Boleh melakukan perbuatan-perbuatan mubah di siang hari Ramadhan, yang dimaksudkan untuk menuntaskan puasa sampai Maghrib. Misalnya, tidur di luar waktu-waktu shalat, melakukan permainan-permainan untuk melupakan diri dari rasa lapar, jalan-jalan sambil menanti datangnya adzan Maghrib, dll. Syaratnya, semua perbuatan-perbuatan itu bukan yang diharamkan. Namun jika waktu-waktu tersebut bisa diisi dengan kegiatan-kegiatan yang lebih bermanfaat, tentu lebih baik. Pada dasarnya Allah Ta’ala itu Syakirun ‘Alim (Maha Mensyukuri amal-amal hamba-Nya dan Maha Mengetahui).

[5] Wanita yang sedang masak di dapur, dia boleh mencicipi makanan yang dimasaknya, sekedar untuk mengetahui apakah rasa makanan itu sudah cocok atau belum. Hal ini bukan termasuk definisi makan (akala) sebagaimana yang dilarang dilakukan orang-orang yang sedang berpuasa. Melakukan test rasa bukanlah makan-minum yang membatalkan puasa. Dalil penguatnya adalah atsar dari Ibnu Abbas Ra., “Tidak masalah seseorang mencicipi cuka atau sesuatu yang lain, selama ia tidak masuk ke kerongkongannya, sedangkan dia sedang shaum.” (HR. Bukhari dalam Fathul Bari’).

[6] Boleh berkumur-kumur ketika sedang shaum. Kumur-kumur bisa dilakukan saat wudhu atau di luar wudhu. Berkumur-kumur ini ditujukan untuk membuang bau busuk di mulut, untuk membuang rasa pahit di mulut, atau agar mulut terasa lebih segar. Dalilnya, kumur-kumur bukan termasuk definisi minum (syariba) sebagaimana yang membatalkan puasa. Dalam hadits diceritakan, Umar bin Khattab Ra. saat berpuasa menciumi isterinya, lalu dia bertanya ke Nabi Saw, apakah perbuatan seperti itu boleh? Nabi Saw menjawab: “Bagaimana pendapatmu jika kamu berkumur-kumur dengan air, sementara engkau sedang shaum?” Umar menjawab: “Tidak masalah.” Lalu Nabi berkata lagi: “Lalu mengapa masih ditanyakan juga.” (HR. Ahmad dan Baihaqi). Namun harus berhati-hati saat kumur-kumur agar air tidak tertelan ke perut. Sebagian ulama menyebut kumur-kumur dan memasukkan air ke hidung saat wudhu sebagai perbuatan makruh (tidak disukai). Kumur-kumur ini dilakukan seperlunya saja, kalau memang membutuhkan. Saya sarankan, kalau Anda selesai kumur-kumur, cobalah membuang sisa-sisa air yang masih di mulut. Tetapi lakukan hal itu biasa-biasa saja, jangan berlebihan. Sejauh di hati kita tidak ada niat untuk memasukkan tetes-tetes air ke dalam perut, Allah Maha Tahu apa yang kita niatkan.

[7] Selama berpuasa, kita boleh bersiwak. Bersiwak caranya dengan menggosokkan kayu siwak ke gigi, baik untuk membersihkan gigi atau mengusir bau busuk di mulut. Dalilnya, Nabi Saw pernah bersabda: “Sekiranya tidak memberatkan Ummat-ku, tentu akan aku perintahkan mereka bersiwak di setiap shalat.” (HR. Bukhari-Muslim). Yang dimaksud shalat disana tentu mencakup shalat di setiap waktu, termasuk dalam bulan Ramadhan. Dalam praktik modern, bersiwak diganti dengan gosok gigi memakai pasta gigi. Kayu siwak bukanlah barang yang mudah didapat di negari kita. Gosok gigi boleh dilakukan selama sedang shaum; baik ditujukan untuk membersihkan gigi, menghilangkan bau busuk di mulut, atau melakukan terapi pengobatan. Dalam gosok gigi ini kita memakai pasta gigi. Pasta gigi rata-rata berasa manis dan mengandung mint. Alangkah baik kalau dalam puasa, mulut kita berpuasa juga dari aneka rasa (kecuali ibu-ibu yang mencicipi rasa makanan saat memasak). Disarankan, kalau Anda gosok gigi, cukuplah Anda mengambil sedikit pasta gigi, jangan berlebihan. Setelah gosok gigi, cobalah berkumur-kumur yang bersih, sehingga sisa-sisa “deterjen” di mulut jadi bersih. (He he he… Maaf, jadi menyisipkan “kritik produk” disini). Jika gosok gigi bisa dilakukan saat berbuka (saat halal makan-minum), itu lebih baik. Jika gosok gigi di siang hari, sebaiknya dilakukan sekali saja, misalnya ketika Zhuhur.

Baca entri selengkapnya »


Prospek Konflik Palestina

Agustus 21, 2009

Alhamdulillah, laa haula wa laa quwwata illa billah. Allahumma shalliy wa sallim wa baarik ‘ala Rasulil mubin Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du.

Dalam memandang konflik Palestina, setidaknya ada 3 garis pandangan utama yang mengemuka. Masing-masing didukung oleh suara kaum Muslimin.

Pertama, Palestina harus merdeka secara penuh dan Israel harus angkat kaki dari seluruh Tanah Palestina yang didudukinya. Konsekuensi pandangan ini, Israel harus dibubarkan atau dihapuskan dari peta dunia. Pandangan ini dimotori oleh Hamas dan kelompok-kelompok Jihad Islam.

Kedua, Palestina berdiri sebagai negara mandiri yang diakui dunia internasional, sebagai hasil pembicaraan damai dengan Israel, dengan wilayah teritorial yang disepakati kedua belah pihak. Paling tidak wilayah Tepi Barat dan Ghaza seperti saat ini. Pandangan demikian diyakini oleh Yasser Arafat, Mahmud Abbas, dan PLO. Negara-negara Arab kebanyakan juga setuju dengan pandangan ini.

Ketiga, Palestina berdiri sebagai negara yang berdaulat, menentang pendudukan Israel atas tanah Palestina, tetapi pada saat yang sama setuju dengan perjanjian damai antara Palestina-Israel. Jadi pandangan ini merupakan kompromi dari dua pandangan di atas. Pandangan seperti ini diyakini oleh Indonesia dan negara-negara Muslim semisalnya.

Dalam praktiknya, pandangan pertama berbenturan keras dengan pandangan kedua, sedangkan pandangan ketiga “menjadi penonton” atau sekedar berperan dalam tataran moral saja. Hamas dan PLO terlibat perselisihan keras, sementara negara seperti Indonesia, Mesir, atau Saudi, pura-pura peduli sambil tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengubah keadaan.

Berani Mengambil Resiko

Konflik Palestina bukanlah konflik yang tiada membuka peluang solusi. Solusi itu tetap ada. Hanya masalahnya, maukah kita menempuh solusi tersebut? Meskipun kita telah mengerahkan seluruh daya dan kekuatan untuk menghasilkan formula terbaik, kalau hasilnya tidak dipakai, percuma saja.

Dalam konflik ini setidaknya ada dua pilihan utama: (1) Berdamai dengan Israel, mendapatkan kemerdekaan, tetapi resikonya harus menerima Israel sebagai negara tetangga; (2) Terus konflik dengan Israel, menolak perundingan damai, dan tidak mau mengakui eksistensi Israel.

Kedua pilihan itu ada resikonya. Kalau memilih berdamai, konflik di Palestina akan jauh mereda, korban-korban penindasan akan berkurang, Palestina mendapat kedaulatannya. Hanya saja resikonya, wilayah Palestina kecil, dipisahkan oleh wilayah Israel, dan mereka harus mengakui eksistensi Israel. Belum lagi kemungkinan Israel akan mengingkari janji-janjinya, sebab hal itu memang telah menjadi tabiat dasar mereka.

Kalau memilih berkonflik secara frontal, bangsa Palestina akan terus terseok-seok dalam konflik berkepanjangan. Mereka akan menjadi sasaran penyerangan Israel, sebagaimana hal itu sudah sering terjadi. Tetapi konsekuensinya, rakyat Palestina akan tetap memiliki harapan untuk mencapai kemerdekaan secara penuh, dan Israel akan bubar. Hanya masalahnya, kapan hal itu akan terjadi?

Tidak ada pilihan mudah bagi bangsa Palestina. Memilih A atau B, sama-sama berat dan beresiko. Kalau tidak memilih, juga beresiko. Semakin bangsa Palestina tidak memiliki kejelasan sikap, Israel semakin senang. Mereka bisa kapan saja mengobok-obok wilayah Palestina sesuka hatinya.

Bagaimanapun, kaum Muslimin Palestina harus berani memilih. Memilih pilihan yang tidak beresiko sama sekali adalah mustahil. Selalu ada resikonya, dan semua itu tidak mudah untuk dipikul.

Dulu Nabi Saw juga berhadapan dengan pilihan yang sulit ketika memutuskan menanda-tangani perjanjian Hudaibiyyah dengan musyrikin Makkah. Hanya dengan pertolongan Allah, perjanjian yang sepintas lalu sangat merugikan Islam itu, ternyata akhirnya justru menguntungkan.

Pilihan Berdamai

Di mata para pejuang Islam adalah sangat sulit untuk berdamai dengan Israel. Kamus perdamaian nyaris mustahil. Apalagi sudah bukan rahasia lagi, Israel sangat sering menciderai perjanjian-perjanjian perdamaian selama ini.

Tetapi pada saat yang sama, bangsa Palestina membutuhkan kesempatan untuk membangun kekuatan dirinya. Untuk melakukan konsolidasi, memperkuat kekuatan internal, dan mempersiapkan masyarakatnya dari segala sisi. Tanpa semua itu, mereka akan tetap terancam oleh posisi Israel yang semakin kuat dari waktu ke waktu.

Kalau dalam peperangan, istilahnya mundur ke belakang untuk membangun kekuatan, sebelum maju bertempur kembali. Dalam Al Qur’an disebutkan, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya.” (Al Anfaal: 15-16).

Menghadapi Israel dalam kondisi sangat lemah, adalah sangat MUSTAHIL. Apalah artinya perlawanan kalau tidak sebanding? Bangsa Palestina hanya akan menjadi bulan-bulanan Yahudi Israel, seperti dalam Tragedi Ghaza kemarin.

Kadang kita harus menerima tawaran damai, bukan karena kita tunduk kepada orang-orang kafir Yahudi itu. Tetapi kita membutuhkan kesempatan untuk memperkuat diri sampai benar-benar mantap untuk menghadapi kaum laknatullah itu.

Seperti Nabi Saw yang bersedia menandatangani Piagam Madinah dengan Yahudi Madinah serta kabilah-kabilah di Madinah. Saat Islam masih lemah, Nabi berdamai dengan Yahudi. Namun saat Islam telah kuat, Yahudi dikejar-kejar sampai di benteng terakhirnya, Benteng Khaibar.

Di mata para aktivis Islam atau mujahidin, langkah Nabi Saw terhadap Yahudi itu mungkin dianggap “banci” atau “kurang paham situasi”. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Mustahil Nabi bersikap seperti itu.

Perdamaian yang memungkinkan bangsa Palestina memperkuat diri, melakukan konsolidasi internal, serta membangun strategi, adalah pilihan yang bisa dipertimbangkan. Daripada berperang secara sporadis dengan kekuatan lemah, lalu rakyat Palestina menjadi bulan-bulanan pasukan Israel. Bahkan langkah damai sementara itu, lebih baik daripada seruan hijrah keluar dari Palestina.

Upaya damai ini sementara belaka, sampai kaum Muslimin memiliki kekuatan cukup untuk menerjuni konflik terbuka dengan Yahudi Israel laknatullah itu. Sebuah ibrah berharga, ketika Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah, beliau sengaja membiarkan pasukan Tar Tar bermabuk-mabukan di Baghdad. Saat itu beliau belum memilih menyerukan Jihad, sebab kaum Muslimin perlu konsolidasi dulu. Ketika momentumnya telah tiba, Tar Tar pun diperangi sampai ke akar-akarnya. Hal semacam ini tidak berlebihan, jika kita mau berpikir bahwa jihad seringkali membutuhkan waktu untuk menyempurnakannya.

Baca entri selengkapnya »


Perselisihan Gerakan Islam di Palestina

Agustus 21, 2009

Saat kita sedang intens mengikuti perkembangan berita-berita seputar terorisme di Indonesia, di Ghaza Palestina terjadi konflik yang cukup memprihatinkan. Sebuah milisi Islam yang menamakan diri sebagai Jundul Ansharullah terlibat konflik dengan HAMAS. Dilaporkan media, 24 orang anggota Jundul Ansharullah meninggal akibat serangan pasukan Hamas, termasuk pemimpin mereka, Syaikh Abdul Lathif.

Pihak Jundul Ansharullah (JA) seketika memberikan reaksi. Mereka berjanji akan balas menyerang posisi-posisi Hamas. Mereka juga menghimbau masyarakat Palestina agar menjauhi kantor-kantor Hamas. Di TV ditayangkan sikap militansi anggota JA yang berniat melaksanakan aksi balasan. Menurut informasi media, milisi JA ini merupakan sayap gerakan Al Qa’idah dan menuntut diberlakukannya Syariat Islam di Palestina.

Jika saat ini kita memposisikan diri di pihak Hamas dan menyalahkan JA; atau kita berdiri di pihak JA dan menyalahkan Hamas; hasilnya, perselisihan seperti ini bukan mustahil akan semakin hebat. Bukan hanya di Palestina, bahkan bisa nular sampai ke Indonesia. Di tengah perselisihan antar sesama Muslim, maka yang terbaik adalah mengimani ayat berikut ini: “Bahwasanya orang-orang beriman itu saling bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih), dan bertakwalah kepada Allah agar kalian dirahmati.(Al Hujurat: 10).

Kita Semua Prihatin

Perselisihan antara elemen-elemen Islam di Palestina akan semakin membuat ruwet persoalan. Patut dipahami, bahwa realitas konflik di tubuh bangsa Palestina sendiri bukan masalah kecil. Sejak Hamas mengendalikan Pemerintahan di Palestina, mereka sudah berseteru dengan PLO, khususnya dengan sayap militernya, Fatah. Di Palestina sendiri, selain PLO yang berhaluan nasionalis dan Hamas yang merupakan sayap politik Ikhwanul Muslimin, disana juga ada Jihad Islam, Hizbut Tahrir, dan termasuk Salafi. (Saat Syaikh Al Albani rahimahullah meninggal, ada ucapan bela sungkawa yang disampaikan oleh komunitas Salafi Palestina).

Masing-masing gerakan dakwah memiliki pendirian dan sikap yang berbeda-beda. Meskipun Pemerintahan Palestina dikelola oleh Hamas, sebagai konsekuensi kemenangan Pemilu, tidak otomatis mampu menyeragamkan perbedaan-perbedaan pandangan itu. Sebagai contoh, PLO sangat menginginkan agar Hamas melunak sikapnya, agar Palestina tidak diembargo oleh dunia internasional. Sementara Hamas tidak mau kompromi dengan mengakui Israel, sebab mereka didukung masyarakat Palestina dalam Pemilu justru karena sikap konsistennya dalam menolak eksistensi negara Israel di Tanah Palestina.

Dalam menyikapi Tragedi Ghaza beberapa waktu lalu, mereka juga berbeda sikap. Hamas secara nyata memilih jalur perang melawan invasi Israel. Sementara Mahmud Abbas dan PLO-nya lebih setuju dengan perundingan. Lain lagi Salafi, mereka menyalahkan Hamas sebagai pemicu serangan Israel itu.

Adanya konflik baru antara Jundul Ansharullah dengan Hamas, jelas semakin memperumit masalah. Apalagi milisi JA memiliki kemampuan tempur yang tidak berbeda jauh dengan Hamas (dari sisi keahlian, bukan jumlah kekuatan). Mereka merupakan gerakan kombatan, anti Israel, dan sangat menginginkan tegaknya Syariat Islam di Palestina. Kalau dua kekuatan yang sama-sama berciri militer berbenturan, tentu akibatnya akan sangat mengkhawatirkan.

Konflik antara Hamas dan JA saat ini adalah tidak menguntungkan. Bahkan akan melahirkan banyak masalah, antara lain:

[o] Kalangan Yahudi Israel laknatullah akan berpesta-pora merayakan meletusnya pertikaian antara kedua belah pihak. Itulah momentum besar yang sangat mereka tunggu-tunggu.

[o] Pertikaian itu akan menambah beban kaum Muslimin Palestina, lalu melupakan mereka dari musuh utama, kaum durjana Yahudi Israel laknatullah. Kekuatan mereka semakin melemah, sementara kekuatan Yahudi semakin menguat.

[o] Pertikaian itu akan terus dipelihara oleh Yahudi laknatullah, sebagaimana mereka memelihara pertikaian antara Hamas dan PLO. Bukan mustahil, perselisihan antara Hamas dan JA merupakan hasil rekayasa agen-agen Yahudi juga. Agen-agen Yahudi akan terus mencari-cari cara agar Hamas terus bentrok dengan JA. Dengan cara itu, bangsa Palestina akan melemah sendiri, tanpa perlu diserang oleh Israel. Bukan mustahil, kelak Israel akan memanen kemenangan di Palestina sambil ngopi, ongkang-ongkan kaki, dan membaca Playboy.

Perselisihan antar sesama Muslim akan semakin melemahkan perjuangan. “Dan janganlah kalian saling berbantah-bantahan, maka kalian menjadi gentar dan hilanglah wibawa kalian. Bersabarlah kalian, karena sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang shabar.” (Al Anfaal: 46).

Kekalahan kaum Muslimin di berbagai medan peperangan tidak selalu karena kalah kekuatan dengan musuh. Kerap terjadi, kita kalah karena berhasil diadu-domba oleh orang-orang kafir. Istilah “Devide Et Impera” bagi orang Indonesia tentu bukan rahasia lagi. Begitu pula, istilah politik “Belah Bambu” bukanlah sesuatu yang samar bagi para aktivis Islam.

Perluasan Area Konflik

Perselisihan antara Hamas dan JA, kalau kita runut ke belakang, ia bermula dari kancah peperangan di Irak. Hamas merupakan sayap politik Ikhwanul Muslimin, sementara JA mengklaim sebagai bagian dari Al Qa’idah. Al Ikhwan sebagaimana komitmennya dengan Jihad Fi Sabillah, mereka juga terlibat membela kaum Muslimin di Irak. Sementara Al Qa’idah merasa sangat gembira saat Amerika membuka front pertempuran di Irak. Bagi Al Qa’idah, langkah Amerika itu ibarat, “Pucuk dicinta, ulam tiba.” Masuknya Amerika ke Timur Tengah akan lebih memudahkan Al Qa’idah menyerang mereka.

Baca entri selengkapnya »


Pesan Besar di Balik Film “Lord Of The Ring”

Agustus 19, 2009

Christine Hakim mengatakan, bahwa Hollywood dalam setahun bisa memproduksi seribuan judul film. Kebanyakan film komersial. Hanya sedikit film yang benar-benar berkualitas. Begitu kurang lebih yang dikatakan Christine Hakim dalam dialog dengan MetroTV baru-baru ini.

Film yang tidak berkualitas biasanya: Menonjolkan adegan action, ada kebut-kebutan di jalan, ada tembak-tembakan, ceritanya dibuat-buat, penuh fantasi, dibumbui adegan pornografi, mempromosikan sikap amoral, tidak membawa pesan moral yang kuat, kronologi mudah ditebak, romantisme cengeng, dan lain-lain. Sebagian besar produk film Hollywood masuk kategori tidak berkualitas. Meskipun biaya pembuatannya besar, diperankan bintang-bintang top, bahkan menjadi box office film.

Film seperti Cut Nyak Dien, Laskar Pelangi, atau Fatahillah, bisa dikategorikan film berkualitas. Film itu mengandung pesan moral yang kuat, penggambarannya sangat realistik, detail estetik diperhatikan, bebas dari materi-materi amoral, acting pemain berjalan natural (alami), dan lain-lain. Adapun film seperti “AAC”, dari sisi konsep cerita saja sudah rapuh; mencerminkan impian romantisme “ala Rano Karno”, hanya setting ceritanya seorang aktivis.

Dari katalog film Hollywood, ada beberapa judul film yang dianggap sangat berkualitas, misalnya: Robin Hood (Mel Gibson), The Patriot, Saving Private Ryan, The Fugitive, US Marshall, Bond of Brothers, Cast Away, dan lain-lain. Film-film seperti ini mengandung nilai-nilai moralitas yang sangat kuat.

Adapun film seperti The Matrix, sangat kuat nuansa propaganda Zionisme-nya. Isi film itu sepenuhnya menggambarkan perjuangan bangsa Yahudi untuk memiliki kedaulatan sendiri (Israel) di tengah kehidupan dunia. Hanya saja, disamarkan dengan konsep cerita Matrix yang cukup rumit. Disana disebutkan, teritorial yang mereka perjuangankan bernama Gerbang Zion. Gerbang Zion itu akan selamat dengan datangnya tokoh “yang diramalkan”. Ini benar-benar propaganda Yahudi, hanya umumnya masyarakat tidak memahami sejauh itu.

Perlu dicatat disini. Film-film yang dibintai Mel Gibson rata-rata serius, digarap dengan sungguh-sungguh, dan berbobot. Mel Gibson dikenal sebagai pesohor Hollywood yang sangat kaya. Dia penganut Katholik fanatic. Dan satu lagi yang penting: Dia sangat anti Yahudi. Meskipun Hollywood dikenal didominasi oleh Yahudi, tetapi posisi Mel Gibson seperti “logika the matrix” di tengah rimba sistem sinema Yahudi Hollywood.

Kemudian, ada sebuah film istimewa, yaitu: Lord Of The Ring. Film ini telah diputar berkali-kali di TV. Saya tahunya juga dari sana. Pada mulanya ada rasa “takut” saat pertama melihat simbol-simbol dalam film ini. Namun lama-lama paham tentang PESAN BESAR yang disampaikan oleh film kolosal itu.

Film Lord Of The Ring (disingkat LOTR) bukanlah film bertema sejarah, sebab di dunia ini tidak ada sejarah seperti itu. Ia juga bukan film sihir seperti Harry Potter, sebab di dalamnya minim adegan-adegan sihir. Ia bukan film fantasi murni, sebab detail ceritanya mengandung makna-makna tertentu. Ia bukan film horor, sebab tidak ada eksploitasi dunia hantu-hantuan.

Film LOTR itu adalah film METAFORA FUTURISTIK. Maksudnya, film itu sarat mengandung perlambang-perlambang tentang kehidupan yang akan terjadi di masa nanti. Bukan main-main, perlambang yang digambarkan dalam film LOTR adalah materi seputar TANDA-TANDA KIAMAT. Kalau Anda teliti melihatnya, disana akan didapatkan begitu banyak kondisi-kondisi yang menggambarkan kehidupan menjelang Hari Kiamat nanti. Hanya semua itu dibuat sangat samar, dengan istilah-istilah, kronologi cerita, dan tokoh-tokoh fiktif.

Para aktivis Islam di perkotaan, banyak yang tidak percaya dengan hadits-hadits seputar Asyratus Sa’ah (Tanda-tanda Hari Kiamat). Mereka anggap hadits-hadits itu tidak realistik, tidak rasional, dan tidak sesuai dengan fakta-fakta kehidupan modern. Tetapi anehnya, kalangan non Muslim justru sangat mempercayai hal itu. Film LOTR mencerminkan keyakinan mereka terhadap episode-episode menjelang Hari Kiamat nanti. Bahkan di pusat-pusat Zionisme Internasional, mereka merancang konsep The New World Order berdasarkan khabar-khabar Tanda-tanda Kiamat itu.

Kalau seorang aktivis HMI ditanya tentang kedudukan Al Mahdi, Dajjal, turunnya Isa Al Masih di masa nanti, dll. Besar kemungkinan, mereka sulit untuk percaya. Seakan dalam benak mereka, yang namanya keyakinan itu ya RASIONALITAS. Tetapi kalau ditanya tentang film LOTR, bisa jadi mereka akan menjawab, “Oh, filmnya bagus. Asyik banget. Seru deh pokoknya!”

Sungguh sayang kalau ada pemuda Muslim yang tidak percaya dengan Tanda-tanda Hari Kiamat. Padahal kaum Yahudi sangat mempercayai hal itu. Saat ini mereka menanam banyak pohon Gharqad di Israel, sebab mereka yakin pohon itu akan menolong mereka kelak. Bahkan penanaman pohon ini menjadi gerakan internasional yang aktif mereka kampanyekan saat ini.

Di antara kesamaan isi film LOTR dengan Tanda-tanda Kiamat antara lain sebagai berikut:

[1] Inti cerita film LOTR adalah pertarungan antara golongan putih dan golongan hitam. Begitu pula saat menjelang Hari Kiamat nanti, akan ada pertarungan besar antara kaum Muslimin dengan kaum Yahudi.

[2] Dalam film LOTR, puncak kepemimpinan kejahatan digambarkan sebagai kekuatan sihir bermata satu. Hal ini adalah gambaran yang sangat jelas tentang sosok Dajjal sebagai raja kejahatan di Akhir Jaman nanti.

[3] Dalam film itu digambarkan ada koalisi antara dua kekuatan besar untuk melawan imperium kejahatan (Mordor). Dalam kehidupan di Akhir Jaman nanti juga akan terjadi koalisi antara Ummat Islam dengan kaum Nashrani, untuk menghadapi imperium kejahatan Yahudi.

Baca entri selengkapnya »


Merdeka, Bung! Aduuuh, Merdekaa…

Agustus 19, 2009

Hari Senin, 17 Agustus 2009. Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI ke-64. Disingkat HUT RI ke-64. Apa sih arti merdeka bagi Anda? Apa ya makna kemerdekaan bagi bangsa ini? Kita sudah merdeka atau belum merdeka?

Mari sejenak memaknai arti kemerdekaan…

[1] Sebuah bangsa yang sulit memberi pekerjaan kepada rakyatnya, dan bangga mengekspor para pembantu (TKW) ke luar negeri.

[2] Sebuah bangsa yang tidak memiliki kebanggaan terhadap hasil karya sendiri. Lebih bangga menjadi konsumen produk asing. Pesawat, senjata, amunisi, membeli dari luar negeri. Alat berat, teknologi, konsultan ahli, juga didatangkan dari luar negeri. Merek komputer, notebook, HP, mobil, motor, mesin, bahan kimia, dll. juga produk milik asing. Pakaian, sepatu, tas, jam tangan, perhiasan, dll. juga khas produk asing. Bahkan sabun, pasta gigi, sampo, deterjen, bedak, obat, kecap, saus, dll. juga diproduksi oleh perusahaan under license.

[3] Sebuah bangsa yang budayanya sendiri hampir mati, tradisi positifnya nyaris tenggelam, kebanggaan sosialnya tidak ada lagi. Bangsa itu lebih menyukai budaya Barat, mulai dari musik, konser, film, game, kuliner, fashion, aksesoris, dll. Sementara para penguasanya berprinsip EGP (Emangnya Gue Pikirin).

[4] Sebuah bangsa yang ribut setengah mati ketika bicara tentang pendidikan, anggaran 20 %, sekolah gratis, konsep kurikulum, dll. Tetapi sejak dulu mayoritas rakyatnya tetap bodoh.

[5] Sebuah bangsa yang minat baca rakyatnya kurang dari 0,5 %. Mana ada negara yang maju dengan minat baca serendah itu?

[6] Sebuah bangsa yang tidak berdaulat dalam mengurus ekonominya sendiri. Selalu menjadi “pasien budiman” lembaga-lembaga moneter dunia. Hobi dengan hutang luar negeri, mengadopsi sistem liberal, memanjakan kapitalisme, tidak berani bersikap mandiri, tidak ada kesungguhan membesarkan ekonomi rakyat kecil.

[7] Sebuah bangsa yang semakin merosot moralnya, semakin pragmatis, semakin materialis, semakin egois, semakin berpikir pendek, semakin miskin kearifan, semakin krisis rasa malu, dan sebagainya.

[8] Sebuah bangsa yang para elit politiknya membiasakan berbicara dusta, mengingkari janji, mengkhianati amanah. Mereka kaum munafik.

[9] Sebuah bangsa yang generasi mudanya semakin rusak, kehilangan sopan-santun, rusak bahasanya, buruk mentalnya, mengguna narkoba, menegak miras, menyukai pornografi, terlibat seks bebas, melakukan aborsi, terlibat tawuran, vandalisme, holiganisme, gangster, memuja syaitan, dll.

[10] Sebuah bangsa yang rakyatnya tidak kreatif, lebih suka menjadi “pembajak” segala jenis produk. Termasuk memalsukan kemasan produk, memalsukan ijazah, memalsukan sertifikat, memalsukan uang kertas, memalsukan materei, dan sebagainya. Inilah negeri syurganya para “bajak laut”.

[11] Sebuah bangsa yang bersikap sangat kaku saat menghormati bendera merah-putih. Tetapi mereka tidak serius menghormati jati dirinya, menghormati penderitaan rakyatnya, menghormati warisan sejarahnya, menghormati masa depan generasi mudanya, serta tidak menghormati martabatnya sendiri.

[12] Sebuah bangsa yang bangga dengan perjuangan, bangga dengan lagu-lagu perjuangan, bangsa dengan bambu runcing berlumuran “darah”, bangga dengan replika-replika pejuang, bangga dengan pertempuran di jaman penjajahan. Tetapi bangsa itu saat ini sangat kesulitan menemukan para pejuang sejati. Mereka bangga dengan perjuangan di masa lalu, tetapi tidak bisa melahirkan pejuang di masa kini. Malah, mereka sebenarnya sangat membenci lahirnya para pejuang baru itu.

[13] Sebuah bangsa yang tunduk kepada tekanan asing, tidak memiliki harga diri, selalu mencari jalan kompromi, tidak melindungi warganya di luar negeri, pura-pura “lupa” dengan kasus imigrasi, tidak mampu mengejar buronan koruptor, sangat budiman kepada kepentingan luar negeri.

[14] Sebuah bangsa yang menjadikan TV sebagai kebutuhan “primer ke-4”. TV menjadi pemandu, penghibur, teman mengisi sepi, pencerah pikiran, sampai menjadi “huda lil hayah” (petunjuk jalan hidup). Iklan menjadi konsumsi harian, hiburan menjadi nafas, remote control menjadi “alat kerja” rutin.

[15] Sebuah bangsa yang tidak memahami bahwa slogan penjajahan klasik “Gold, Gospel, Glory” masih berlaku sampai saat ini. Hanya berbeda penampilan dan caranya saja, sedangkan esensinya sama. (Gold di masa kini = eksploitasi sumber-sumber ekonomi; Gospel = menyebarkan budaya Barat seluas-luasnya, untuk mematikan budaya sendiri; Glory = negara menjadi alat untuk melayani kepentingan asig, bukan demi kebaikan rakyat sendiri).

[16] Inilah sebuah bangsa yang memahami makna kemerdekaan sebagai: Lomba makan kerupuk, lomba balap karung, lomba panjat pinang, lomba membawa kelereng di sendok, lomba menangkap belut, lomba menggigit koin di jeruk bali, lomba masak nasi kuning, lomba main bola dengan semua pemainnya memakai baju perempuan, lomba memasukkan bendera ke dalam botol, dan lain-lain.

[17] Inilah sebuah bangsa yang memaknai kemerdekaan dengan: Mengecat pagar, memasang umbul-umbul, memasang hiasan kertas, memancangkan bendera merah-putih di depan rumah, menjalankan “ritual” upacara bendera, membuat tumpeng, melakukan persembahan kepada makam keramat, gunung, laut, dan pohon beringin; menggelar panggung kesenian, menggelar panggung dangdut, melakukan karnaval, menghias gapura, berlomba menulis “Dirgahayu HUT RI”, dan lain-lain.

Bangsa Indonesia kini bukanlah bangsa yang merdeka, rakyatnya juga bukan rakyat merdeka. Merdeka hanyalah dalam simbol saja, dalam istilah, sedangkan esensinya tidak merdeka. Merdeka di mulut, tetapi tidak merdeka dalam kehidupan. Merdeka secara seremoni, bukan merdeka dalam realitas.

Pertanyaannya, mengapa semua ini terjadi?

Sebab, sejak lama kita tidak memahami makna kemerdekaan itu sendiri. Di mata kita, jika sudah memiliki negara sendiri, memiliki simbol-simbol, memiliki Pemerintahan sendiri, memiliki batas wilayah, memiliki seremoni dan lagu-lagu nasional; semua itu dianggap sebagai BUKTI kemerdekaan. Sementara makna kemerdekaan itu sendiri tidak pernah diperjuangkan secara sungguh-sungguh.

Merdeka, oh merdeka.

Merdeka, Bung!

Pekik: Merdeka !!!

Aduh, merdekaaa.

Merdeka, lho.

Iya nih, sudah merdeka.

Yuk merdeka yuk!

Lu Gue ude medeka.

Merdeka aja kok repot?

Merdeka itu nilai eksistensi absurd.

Merdeka, ya tidak merdeka.

Merdeka-merdekaan ‘kali.

Merdekaaaaaa……, tidur lagi!

Merdeka itu akhirnya secara riil dipahami dengan pengertian ANEH seperti di bawah ini:

“Menjadi pejabat negara, hidup enak dengan pendapatan besar, bisa memuaskan selera syahwat apapun yang diinginkan; sangat senang dengan kebodohan masyarakat, dan bernafsu terus mengembang-biakkan kebodohan itu, biar kesenangan mereka tidak terganggu; sadar dan sangat bangga menjadi  batur-baturnya kepentingan New Colonialism; fasih bicara tentang pembangunan, keadilan, kesejahteraan, pemerataan, pengentasan kemiskinan, dll. Tetapi semua itu hanya “retorika tuntutan profesi” saja, tidak perlu ada kewajiban mewujudkannya di dunia nyata; tidak lupa terus melontarkan FITNAH kepada santri dan aktivis Islam dengan tuduhan teroris, radikal, anti NKRI, anti Pancasila, dsb.”

Nah, itulah makna “kemerdekaan hakiki” menurut versi orang-orang keblinger jaman sekarang. Mungkin inilah yang kerap disebut “jaman edan, sing ora edan ora keduman” (jaman edan, yang tidak edan tidak kebagian).

SRI REJEKI

[Seorang Rakyat Indonesia, Rendukan Jelan Kemerdekian].

Catatan: Maaf, kalau singkatan namanya agak memaksakan diri.


Sikap Norak Pebisnis Kita

Agustus 15, 2009

Saya memiliki sebagian pengalaman bisnis menarik yang layak di-sharing-kan disini. Seputar usaha bisnis aktivis Islam. Ya, usaha bisnis seperti yang biasa kita-kita lakukan. Pengalaman ini sungguh menarik. Moga-moga bisa menjadi pelajaran baik. Amin.

Singkat cerita, saya pernah berkenalan dengan seorang mahasiswa yang aktif dengan kegiatan-kegiatan bisnis. Mula-mula dia membuka gerai kacamata (optik), membuat persewaan buku dan CD, berjual-beli HP. Namun setelah itu dia terjun di dunia pelatihan mahasiswa.

Saya pernah ingin kerjasama dengan dia dalam soal pelatihan. Waktu itu pembicaraan-pembicaraan sudah dilakukan. Salah satunya di rumah kami. Namun kerjasama ini tidak jalan, salah satunya karena kami tidak sepakat dengan detail teknisnya. Dalam kerjasama itu saya maunya berposisi sejajar, jadi semacam sharing saham. Tetapi dia ingin saya bekerja dalam skenario yang dia buat. Lama-lama rencana kerjasama ini bubar. Ikhwan itu tidak kunjung muncul lagi.

Setelah berlalu waktu yang lama, saya ketemu dia lagi. Dia bisnis membuat “martabak manis ukuran mini” di depan sekolah SD anak saya. Saya sering ke SD itu, jadi otomatis bisa ketemu dia.

Ketika saya lihat cara-cara dia membuka usaha “martabak mini” ini, standar kebersihan dan kerapiannya kurang. Padahal, dalam bisnis makanan, kedua masalah itu sangat peka. Orang-orang bisa “geli”, tidak mau membeli makanan kita, kalau penampilan gerobak, alat-alat, dan makanan yang dihasilkan tidak mencerminkan penampilan yang bersih.

Saya sampaikan masukan kepada Ikhwan itu agar memperbaiki kebersihan alat-alat dan mekanisme masaknya. Saya anjurkan dia melihat orang lain yang sudah lama bergerak di bidang ini. Namun sayang, dia tidak mau memperhatikan masukan itu. Dia tetap bertahan dengan penampilan -maaf- “joroknya”.

Tetapi saya tetap sarankan anak saya membeli makanan dia, kasihan kalau tidak ada yang beli. Dengan “sangat terpaksa” kami membeli makanan itu, meskipun dalam hati tidak puas. Benar saja, dalam waktu kurang dari satu bulan (kalau tidak salah), usaha Ikhwan itu sudah ditutup.

Baca entri selengkapnya »