Antara Ustadz dan Politisi

Beberapa hari lalu saya melihat tayangan TV, tentang taushiyah seorang ustadz untuk bangsa. Kalau tidak salah, acara ini rutin setiap Ahad siang hari. Pengisinya seorang ustadz Jakarta yang terkenal dengan seruan sedekah dan Shalat Dhuha itu. Kemarin mengambil topik tentang “Fitnah”.

Sebelum taushiyah dimulai, terlebih dulu ditayangkan tentang pidato seorang Presiden, pasca ledakan di JW Marriott dan Ritz Carlton. Pidato itu bisa dianggap sebagai contoh fitnah yang dilontarkan kepada orang lain, tanpa terlebih dulu melakukan penyelidikan atas fakta yang terjadi. Persis seperti dulu lho, hanya beberapa jam setelah peledakan WTC, 11 September 2001, CNN langsung menuduh Usamah bin Ladin sebagai otak di balik serangan itu. (Herannya, yang dituduh mau lagi, malah bangga dia).

Setelah itu presenter menanyakan komentar ustadz itu tentang tayangan tersebut. Kira-kira, “Bagaimana komentar ustadz tentang tayangan tadi?”

Ternyata, ustadznya menjawab dengan muter-muter, mbulet, tidak jelas arahnya. Dia berusaha mencari jawaban yang “adem”, tidak mau secara mudah langsung mengomentari tayangan tersebut. Dia mengatakan: “Saya lebih suka mengajak orang sedekah atau baca Qur’an.” Presenter acara itu hanya tertawa-tawa melihat ustadz itu seperti tiba-tiba kehilangan kata-kata. Lucunya, sang ustadz malah mengatakan, kalau tayangan di awal tadi, itu hanya kerjaan orang-orang TV. Ustadz itu kemudian membuat sebuah perumpamaan tertentu, tentang fitnah. Setelah itu, dia mengatakan, “Nah, inilah jawaban yang adem.” Lalu oleh presenternya digoda, “Jawaban adem atau aman, ustadz?” Mereka pun tertawa sama-sama. Malah ustadz itu juga mengatakan, “Ntar akan ada yang kirim SMS, nanti katanya ‘ustadz tidak berani menjawab’.”

Singkat kata, ustadz itu tidak berani mengatakan bahwa seorang Presiden sebuah negeri, telah melakukan fitnah dengan melontarkan tuduhan-tuduhan tidak beralasan, pasca peledakan di JW Marriott dan Ritz Carlton. Dia mencoba menghindari jawaban langsung, dan mencari “posisi aman”.

BUKAN SOAL KEBERANIAN

Disini saya tidak akan berkomentar tentang ketidak-beranian seorang ustadz tertentu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan sensitif tertentu. Bukan itu masalahnya, sebab kenyataan seperti itu sudah sering terjadi. Di Indonesia itu sedikit ustadz-ustadz yang berkarakter kuat.

Dulu ada KH. Alawi Muhammad dari Madura. Beliau salah satu politisi PPP, dari kalangan tradisionalis NU. Secara pemahaman berciri NU (insya Allah). Tetapi keberanian beliau layak dipuji, ketika membela warga Madura menghadapi tekanan birokrasi yang memaksakan kehendak. Padahal hal itu terjadi di jaman Soeharto yang dikenal repressif.

Hanya sedikit para ustadz yang berani bersikap IZZAH di hadapan berbagai pilihan-pilihan sulit. Wajar juga jika Ummat Islam selama ini kurang menghargai ustadz-ustadz, kecuali untuk mengisi kegiatan-kegiatan kerohanian. Sebab memang tidak ada jejak-jejak keberanian yang bisa menjadi teladan.

Ada masalah lain yang jauh lebih penting dari soal keberanian ustadz di atas. Ia adalah perkara TAUHID, sesuatu yang justru sering menjadi “modal utama” dakwah para ustadz.

TAKUT RESIKO

Ustadz-ustadz tertentu dalam kehidupan sehari-hari mengembangkan bisnis-bisnis. Pasar utamanya adalah jamaah mereka sendiri, dan Ummat Islam lain yang bersimpati. Mereka membuat aneka bisnis, seperti busana Muslim, retail (super market), perumahan, biro Haji-Umrah, pendidikan, klinik, kafe, dll.

Nah, untuk bisnis-bisnis itu rata-rata membutuhkan INVESTOR. Dan kebanyakan investor bukan orang-orang Muslim yang taat beragama. Kebanyakan orang Muslim biasa, awam agama, bergaya sekuler, tetapi uangnya banyak. Malah kadang, investor itu non Muslim. Kalau kaum Muslim sendiri, menurut sebagian orang,  “Mereka gak ada duitnya. Cuma bisa jadi konsumen doang.”

Karena para investor kebanyakan SEKULER atau NON MUSLIM, maka menghadapi mereka tidak boleh dengan sikap keislaman yang FRONTAL, MILITAN, atau FUNDAMENTALIS.

Para investor itu harus dihadapi dengan lemah-lembut, penuh toleransi, tidak boleh “galak-galak”, “Jangan dikit-dikit kafir, dikit-dikit sesat, dikit-dikit neraka.” Mereka dihadapi dengan penuh senyum, dengan retorika manis, dengan sikap sopan-santun. Mereka harus dihadapi dengan penuh toleransi, kalau perlu mereka diyakinkan, bahwa: “Semua agama sama. sama-sama mengajarkan kebaikan.” Kalau mau lebih hot lagi, katakan saja: “Orang non Muslim juga bisa masuk syurga, kalau baik hatinya.”

Apalagi kalau investornya dari pihak Pemerintah yang berkuasa. “Woo, harus hati-hati pisan. Jangan menyinggung perasaannya. Jangan mengkritik, jangan menyerang. Bicara yang adem-adem saja. Tidak usah ikut-ikutan konflik pendapat. Kita mengajarkan ibadah saja, sedekah, baca Al Qur’an, puasa Senin-Kamis, tahajjud, dll. Jangan sekali-kali membuat marah penguasa, nanti bisnismu ambruk.”

Hal seperti ini mudah dimengerti. Wong memang kenyataannya tidak jauh dari itu. Meskipun mungkin sedikit orang yang akan berterus-terang seperti dalam tulisan ini.

MASALAH KRITIS

Saya mencatat sebuah masalah sangat KRITIS disini. Sebagian ustadz-ustadz mengajarkan kepada jamaahnya, agar kita YAKIN kepada Allah, PASRAH kepada Allah, BERGANTUNG hanya kepada-Nya. Ini adalah ajaran TAUHID yang sangat benar, dan sudah semestinya demikian.

Tetapi mengapa, ketika bersikap, para ustadz itu kok malah takut dengan Pemerintah? Kok malah takut dengan investor? Kok malah takut kehilangan jamaah? Kok malah takut bisnisnya rusak gara-gara mengatakan kebenaran? Kok malah takut dengan sikap makhluk? Inilah yang justru sangat ANEH.

Katanya, mengajarkan TAUHID, mengajarkan PASRAH, TAWAKKAL kepada Allah. Kok dirinya sendiri mencontohkan sikap “tawakkal” kepada makhluk. Hanya karena takut tidak tampil di TV, takut kehilangan sponsor, takut dijauhi investor, dan lain-lain, mereka memilih bersikap “adem-adem” saja? Jelas semua itu bukan jawaban atau sikap seorang Muwahhid, orang yang bertauhid.

Nah, inilah masalahnya. Mengajarkan TAUHID, tetapi hanya untuk konsumen saja. Tauhid bukan untuk diri sendiri. Akhirnya, ajaran Islam hanya menjadi “alat bisnis” saja. Sangat ironis tentunya.

MENTAL POLITISI

Hal yang sama terjadi pada para politisi. Mereka mengklaim memperjuangkan Islam/Muslim. Dalam kampanye, simbol-simbol, aksi-aksi mereka tampak Islami (atau pro Islam). Tetapi mereka takut, kalau bersikap FUNDAMENTALIS, nanti partainya dijauhi masyarakat, sehingga tidak dipilih dalam Pemilu, lalu tidak mendapat jabatan di pemerintahan atau parlemen.

Agar tidak terkesan FUNDAMENTALIS, mereka melakukan gerakan “CAIRAN”. Maksudnya, berusaha tampil secair mungkin, agar disukai masyarakat. Ketentuan-ketentuan Islam bisa diobrak-abrik demi mendapat dukungan yang luas. Kalau perlu mendukung Si X dengan dalil-dalil Al Qur’an, kemudian kalau perlu menentang Si X juga dengan dalil-dalil Al Qur’an (yang lain). Jadi, dalil mengikuti target politik.

Semua ini pada dasarnya adalah contoh sikap orang-orang yang rusak imannya. Mereka tetap Muslim, tetapi keimanannya mengalami masalah besar. Mereka TIDAK ISTIQAMAH di atas jalan kebenaran Islam. Kalau orang-orang seperti itu diberi amanah memimpin dan menjaga Ummat, alamat urusan agama ini akan rusak. Dan itulah yang terjadi selama ini. Nas’alullah al ‘afiyah.

Semoga Anda semua bisa mengambil pelajaran!!! Amin.

AMW.

Iklan

4 Responses to Antara Ustadz dan Politisi

  1. menurut saya kok bukannya tidakberani, cari aman atau kata 2 lainnya tapi ini merupakan jawaban yang dewasa… tidak sembarangan berkata-kata karena beliau seorang yang dipandang publik…

  2. fadel berkata:

    masak gak bisa mebedakan antara hati2 dan pengecut !

  3. luar biasa artikel anda sangat menginspirasi saya keep bloging dan ini cooment saya ke 17

  4. John berkata:

    termakasih infonya, visit blog dofollow saya juga ya gan 🙂 , Abeje

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: