Kasih Sayang di Balik Keganasan

Baru-baru ini saya melihat sebuah tayangan dokumenter perilaku binatang di TV. Masya Allah menarik sekali. Alhamdulillah Allah menambahkan ilmu darimana arah manapun Dia suka.

Disana ada video tentang seekor Kuda Nil. Kuda nil itu tadinya mandi di sebuah perigi (danau). Maklum, kuda nil sangat suka dengan air dan lumpur, seperti badak dan kerbau. Ketika sedang bermain sendirian, kuda nil itu melihat seekor buaya yang menggigit kaki impala (rusa). Dengan “jiwa manusiawi”, kudal nil itu segera menyerang buaya untuk menyelamatkan impala. Kuda nil memang hewan yang kuat, buaya takut kepadanya. Selain badannya besar, mulut kuda nil bisa memotong badan buaya. Ketika diserang kuda nil, buaya mundur, impala yang dia gigit dilepaskan. Setelah lepas kuda nil membawa impala itu ke daratan. Di daratan, berkali-kali dia jilati impala itu. Malah dia masukkan kepala impala ke mulutnya sampai 3 kali (kalau tidak salah). Bukan untuk dimakan, tapi semacam diberi pertolongan darurat. Namun sayang, impala itu tetap mati, karena gigitan buaya yang dalam.

Kuda Nil berendam di rawa.

Kuda Nil berendam di rawa.

Setelah kuda nil memastikan impala itu mati, dia pun pergi menghindar. Tidak lama kemudian, buaya yang menggigit impala itu naik ke daratan, mendekati bangkai impala itu. Disini, ketika buaya membawa impala itu masuk lagi ke darat, kuda nil tidak menyerang atau menahannya. Dia biarkan buaya itu membawa makanan hasil jerih-payahnya.

Luar biasa, betapa FAIR mekanisme yang ada di dunia hewan. Mereka bisa membedakan dengan baik, kapan saatnya menolong sesama hewan yang menderita, dan kapan saatnya menghormati  sesama hewan yang berjuang mencari makan. Kalau misalnya kuda nil tidak menolong impala tadi, dia bisa mendapat reputasi buruk di dunia hewan. Begitu pula, kalau kuda nil itu melarang buaya mengambil hasil buruannya, itu juga akan menjadi wanprestasi baginya. Di dunia hewan ada mekanisme hukum interaksi yang mereka patuhi.

Tapi ada lagi yang menarik, yaitu perilaku Paus Biru (Blue Whale).

Hewan terganas di lautan bukanlah ikan Hiu (Shark). Tetapi Paus Biru. Ikan ini termasuk jenis paus, berukuran besar, dengan warna tubuh biru tua, dengan saputan warna putih pada beberapa bagian. Paus biru bukan hanya menyerang binatang yang lain, dia bisa menenggelamkan perahu-perahu. Film-film dibuat dengan inspirasi kebuasan hewan yang satu ini.

Dalam film dokumenter di atas, ditayangkan keperkasaan luar biasa dari seekor paus biru yang sedang mencari mangsa, berupa anjing-anjing laut. Ada ribuan anjing-anjing laut di pantai. Mereka menjadi mangsa potensial paus biru. Kalau mencari makan, paus biru tidak hanya menanti anjing laut itu berenang ke tengah laut, tetapi mereka diserang ketika ada di tepian laut. Jadi meskipun ada di darat, paus biru bisa menyerang dengan cara meluncurkan badannya ke tepian laut itu (ke wilayah pinggir daratan). Dengan meluncur, air di sekitarnya ikut terbawa juga. Nah, air yang menghambur dari itu, membantu paus biru bertahan beberapa saat di daratan. Luar biasa, hewan ini pintar.

Legenda keganasan Paus Biru.

Legenda keganasan Paus Biru.

Ketika paus biru itu melakukan attack, ada seekor anjing laut yang tertangkap mulutnya. Seketika itu anjing laut dibawa ke tengah. Dalam bayangan kita, ia akan segera dilumat oleh mulut paus biru yang besar, dengan gigi-ginya yang tajam itu. Ternyata tidak. Anjing laut itu dijadikan “alat mainan” oleh paus biru. Mula-mula dia dibawa ke tengah laut, lalu dilepaskan dari mulut agar berenang-renang. Setelah berenang, dikejar oleh paus biru. Tertangkap lagi. Lalu dilepas lagi, lalu ditindih oleh badannya yang besar itu. Bahkan yang menakjubkan, anjing laut itu dibiarkan berenang mendekati sirip belakangnya. Setelah mendekat sirip, oleh paus biru dilempar ke udara, sehingga sampai di depan mulutnya. Setelah itu digigit lagi, dilepaskan lagi, ditindih lagi. (Ya Allah ya Karim, usil bener paus biru itu. Masak mau makan anjing laut saja, perlu ada “ritual permainan” dulu).

Setelah capek main-main, tahukah Anda apa yang dilakukan paus biru “kejam” itu?

Dia membawa anjing laut itu ke dekat pantai. Dengan tenang dia berenang. Mungkin dipantai itulah dia akan melakukan “eksekusi”, menyantap habis tubuh anjing laut itu. Terus dia berenang mendekati pantai sambil menggigit tubuh anjing laut. Sepertinya “eksekusi” sudah sangat dekat. Tetapi…tiba-tiba, anjing laut itu dilepaskan dari mulut paus biru. Dia didorong akan mendekati daratan. Setelah itu paus biru pergi meninggalkan dia dalam keadaan masih hidup, setelah puas dijadikan “alat permainan”.

Luar biasa, paus biru tidak mengeluarkan darah anjing laut itu, untuk memakannya. Tetapi hanya butuh “tubuhnya” untuk menjadi “alat simulasi” permainan. Masya Allah, setelah puas bermain, paus biru pun mengembalikan “alat” pada tempatnya, dengan sangat rapi dan tenang.

Apa yang Anda pikirkan… Di balik keganasan, ada kelembutan…

Disana ada dinamika luar biasa dari kehidupan makhluk-makhluk Allah Al Khaliq. Mereka tidak seburuk yang digambarkan dalam legenda “kehidupan rimba”. Binatang-binatang itu memiliki kepekaan rasa, andai kita mengetahuinya. Mereka hidup di dunia sebagai “laboratorium” untuk menunjukkan Kemahaagungan Allah Ta’ala. Apakah Anda akan mengambil pelajaran? Semoga. Amin.

Ayo siap-siap menyambut RAMADHAN !!! Marhaban ya Syahrul Mubarak, Syahrus Shiyam!

AMW.

Iklan

4 Responses to Kasih Sayang di Balik Keganasan

  1. gibbon berkata:

    Bukan paus biru, Mas… Yang makan anjing laut itu paus balin macam si Willy di film itu. Paus biru makannya plankton dan udang2an yang disaring dari air dalam jumlah banyak.

  2. abisyakir berkata:

    @ Gibbon.

    Oh begitu ya? Kalau benar, berarti aku yang salah. Tapi memang warna kulitnya tampak biru tua dengan warna putih pada beberapa sisi. Kalau memang benar itu paus BALIN, berarti ini jadi koreksi. Terimakasih informasinya.

    AMW.

  3. kanaryadi berkata:

    iya bener mas gibbon..itu paus pembunuh warnanya hitam putih dengan sirip yang tegak, klo paus biru gak bisa naek sampe pantai….termasuk paus bergigi, klo paus biru pake ballen (sejenis gigi saring) buiat nyaring plankton

    Wallahu A’lam…inna dzalika min ayatillah

  4. ibu berkata:

    luar biasa. Dasyat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: