KEAJAIBAN Kriteria Calon Isteri

Kejadian ini termasuk kenyataan luar biasa yang saya dapati dalam kehidupan ini. Maha Besar Allah Ta’ala yang menakdirkan apapun yang Dia kehendaki. Sungguh, kalau ingat kejadian ini saya rasanya ingin geleng-geleng kepala, karena merasa takjub luar biasa. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Beberapa waktu lalu saya diminta bantuan seorang ikhwan untuk mencarikan isteri. Pada mulanya dia menghubungi isteri saya lewat SMS. Jelas isteri sulit untuk membantu, sebab dia Muslimah dan sibuk dengan urusan sekolahnya. Lalu saya pun menawarkan diri untuk membantu ikhwan itu. Singkat kata, ikhwan itu usianya sekitar 36 tahun, ingin segera menikah. Dia terdorong menikah, salah satunya karena amanah kakek-neneknya yang sudah meninggal. Katanya, kalau sudah menikah, biar ada yang mengurusi dia.

Dalam SMS-nya kepada saya, ikhwan itu menyampaikan kriteria Muslimah yang ingin dia nikahi. Berikut ini saya tuliskan lengkap isi SMS itu, tanpa memakai kata-kata singkatan:

“Mohon maaf, tolong usahakan bisa carikan akhwat yatim piatu, masih gadis, usia 21-30 tahun, yang sholehah, bagus hati/akhlaknya, cantik, kuat mental-fisik, pintar masak, kreatif, patuh, rajin, sabar, jujur, setia, tidak matre, & punya niat terima mau nikah jadi isteri dan siap merawat saya apa adanya, dengan ikhlas untuk ibadah lillahi Ta’ala seumur hidup. Insya Alloh, saya nanti sesudah nikah, pasti yakin tidak melupakan kebaikanmu dan sanggup membiayai semua kewajiban lahir + bathin yang adil, karena ada amanat dari almarhum orangtuaku supaya saya harus segera nikah.”

Terus-terang, ketika membaca SMS seperti di atas, saya merasa seperti lemes. Bukan sekali dua kali kami menghadapi orang-orang yang mau menikah. Rata-rata saat berbicara tentang “kriteria calon”, baik ikhwan maupun akhwat kerap kali berlebihan. Tidak ukur-ukur. Malah kadang fantastik, bombastik, tidak realistik. Namun kriteria yang disampaikan dalam SMS di atas rasanya lebih fantastik daripada yang selama ini sering dihadapi. Memang hanya disampaikan lewat SMS, tetapi isinya amat sangat hebat, bahkan SEMPURNA.

Seindah Bunga Sebening Embun.

Seindah Bunga Sebening Embun.

Lalu pertanyaannya, bagaimana cara saya mencari calon isteri seperti itu? Kalau misalnya, setelah mengaduk-aduk Kota Bandung, lalu saya benar-benar menemukan isteri seperti itu, apa saya akan rela menyerahkan wanita seperti itu kepada pihak yang meminta tolong? Apa tidak terpikirkan, bahwa pihak “makelar” akan mengambil sendiri “target” yang sudah susah-payah dicarinya? (He he he…becanda lagi. Isteri saya bakal marah besar kalau tahu saya menulis kalimat seperti ini. Untung isteri tidak pernah baca blog ini. He he he…).

Sungguh sulit mencari isteri dengan kriteria selangit seperti itu. Apalagi di jaman seperti sekarang. Wanita jaman sekarang sangat menonjol aspek-aspek performanya (penampilan luar). Tetapi aspek-aspek batinnya rata-rata rapuh. Maklum, mereka dibesarkan oleh media-media massa, TV, majalah mode, komik, games, dan sebagainya. Mencari wanita berkualitas di jaman ini tidak lebih mudah dari mencari politisi jujur.

Tapi bagaimanapun, saya harus tetap mencoba melayani ikhwan itu, sekuat kemampuan. Sebab saya sudah mengatakan, akan membantu dia. Apalagi ikhwan itu sendiri berkali-kali meminta saya datang ke rumahnya, shilaturahim. Setelah mencocok-cocokan waktu akhirnya saya ada kesempatan datang ke rumahnya. Jaraknya cukup jauh juga, tetapi masih di kawasan Bandung. Saat mencari saya sempat beberapa kali salah jalan, termasuk salah dalam menemukan alamat. Tapi alhamdulillah, akhirnya sampai juga di rumah ikhwan itu. Rumahnya cukup bagus, di sebuah kawasan cluster terbatas.

Setelah sampai di rumah itu, saya pun menjumpai ikhwan tersebut. Betapa terkejutnya saat saya melihat keadaan ikhwan itu. Luar biasa, tidak terbayangkan sama sekali. Sungguh, keadaan ikhwan itu di luar dugaan, di luar perkiraan. Masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah.

Anda mau tahu keadaan ikhwan itu?

Disini saya berikan gambaran, sebatas yang saya saksikan di depan mata saya:

==> Ikhwan itu secara fisik seperti penampilan orang-orang yang mengalami hambatan mental. Tetapi intelijensinya masih berfungsi dengan baik. (Jadi teringat keadaan Stephen Hawking, pakar Fisika itu).

==> Suaranya tampak tidak jelas, dibutuhkan konsentrasi penuh untuk mendengar kata-katanya. Kalau berbicara sepotong-sepotong, sepertinya beliau susah mengucap kata-kata dengan lancar.

==> Beliau duduk di kursi, menghadap meja. Makanan atau minuman yang dia butuhkan diletakkan di atas mejanya.

==> Kakinya mengecil, tidak sanggup berdiri, apalagi berjalan. Katanya, kemana-mana dia selalu digendong, atau dibonceng di belakang motor.

==> Ikhwan itu lebih banyak duduk bersandar ke kursi. Jangankan untuk bergerak dinamis, sekedar untuk mendekatkan badan ke meja agar dia bisa mengambil HP, itu pun sulit. Harus dibantu mendekatkan HP ke tangannya, dan kasihan melihat dia seperti kesulitan bergerak.

==> Tangannya bergerak kaku, tidak luwes seperti manusia normal. Untuk memencet tombol-tombol HP pun tampak kesulitan, atau perlu gerakan pelan-pelan.

Singkat kata, ikhwan ini termasuk manusia yang diuji oleh Allah Ta’ala dengan berbagai kesulitan pada tubuhnya. Penampilannya seperti orang “cacat mental”, tetapi intelijensinya berjalan normal. Saya bisa berdialog, tukar-menukar pandangan dengan dia. Akal sehatnya berada di atas tubuh yang lemah.

(Alhamdulillah atas nikmat Allah yang telah mengaruniakan kepada kita semua tubuh sehat, normal, berfungsi sempurna, lahir-bathin. Alhamdulillah ‘ala kulli ni’matih).

Disini saya melihat sesuatu yang KONTRAS. Satu sisi, kita baca kriteria calon isteri yang SEMPURNA, yang didambakan oleh seseorang. Di sisi lain, kondisi pemilik “kriteria isteri” itu sendiri lemah. Atau lebih lemah dari kondisi manusia normal. Nah, bagaimana mengakurkan dua kutub yang berbeda itu?

Apakah disini ada para pembaca Muslimah (akhwat) yang mau menerima tantangan ini? Kalau ada silakan tulis e-mail ke saya langitbiru1000@gmail.com. Insya Allah nanti bisa diteruskan ke ikhwan tersebut.

Ya, di mata kita, mungkin ikhwan itu tampak lemah, tidak berdaya, secara fisik penuh handicap. Tetapi jika Allah menghendaki, tidak tertutup kemungkinan disana banyak kebaikan-kebaikan yang tersembunyi. Jika Allah menghendaki, segalanya bisa terjadi. Yang tampak lemah di mata kita, bisa jadi memiliki kekuatan besar, karena karunia-Nya. Yang tampak sempurna di mata kita, bisa jadi di baliknya terdapat banyak kekurangan yang tidak kita lihat.

Disini kita saksikan sebuah keajaiban. Keajaiban “kriteria calon isteri” dari seseorang yang tampak lemah secara fisik. Meskipun lemah, dia memiliki akal yang berjalan cepat. Buktinya, dia bisa menggoreskan begitu banyak nilai-nilai idealisme dari sosok isteri yang dia dambakan.

Semoga menjadi pelajaran. Amin ya Karim.

Marhaban Syahrur Ramadhan!!! Marhaban Syahrus Shiyam!!! Marhaban Syahrul Mubarak!!!

AMW.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: