Betapa Senangnya Diriku…

Alhamdulillah, secara emosional saya menyukai hal-hal seperti di bawah ini. Spirit utamanya “green life“. Bukan sekedar green, tetapi green yang bermanfaat bagi kehidupan.

TANAMAN SORGUM

Dulu dalam pelajaran sekolah, kita pernah dikenalkan dengan nama Sorgum (Sorghum). Ia adalah termasuk jenis tanaman pangan, selain beras, gandum, ubi-ubian, sagu, dan lainnya. Katanya, Sorgum termasuk makanan pangan di peringkat 5 dunia. Ia tahan tumbuh di daerah kering, tahan hama dan penyakit. Hasil Sorgum bisa dipakai bahan pangan (pengganti beras), bahan industri, campuran pakan ternak. Termasuk ada penelitian-penelitian mutakhir, memanfaatkan Sorghum untuk membuat Bio Etanol.

Ladang Sorgum Menghijau.

Ladang Sorgum Menghijau.

Sekilas, tanaman Sorgum seperti jagung. Daun pun mirip sekali dengan jagung. Tapi butir-butir bijinya seperti model gandum. Kalau jagung, butir-butir terikat dalam sebuah bonggol, maka Sorgum seperti berdiri sendiri. Meskipun setiap butir itu terikat pada sebuah pelepah hijau (kalau masih muda). Konon, rasa Sorgum itu seperti ketan. Performanya dari jauh seperti jagung, rasa butirannya seperti ketan. (Maaf kalau informasinya keliru, sebab di Indonesia memang sulit menemukan tanaman ini. Sementara ini masih berada di pusat-pusat penelitian tanaman pangan).

PENGHIJAUAN HUTAN BAKAU

Di Indonesia banyak pantai-pantai yang semula hijau, kemudian menjadi gersang. Hal ini merugikan. Vegetasi tanaman rimbun di pantai sangat baik untuk melindungi pantai dari terjangan ombak besar, termasuk Tsunami. Sementara itu, hutan yang rimbun di pantai akan menjadi habitat sangat banyak hewan laut, baik ikan, kerang, cumi-cumi, kepiting, dan lainnya. Kalau hutan di pantai rimbun, para nelayan sangat diuntungkan. Bahkan memandang tanaman-tanaman yang rimbun itu telah menjadi hiburan tersendiri.

Hijaunya Hutan Mangrove.

Hijaunya Hutan Mangrove.

Bakau (mangrove) adalah tanaman yang populer di pantai-pantai. Ia mudah tumbuh. Batangnya tidak terlalu tinggi, tetapi akar-akarnya bisa sangat banyak, bahkan naik sampai satu meter di atas permukaan air. Hutan bakau menjadi habitat hewan-hewan air yang sangat bermanfaat. Disini tidak dikenal istilah “musim tangkapan”, sebab sumber makanan bagi ikan-ikan tersedia terus, jadi tidak perlu ada ikan “migrasi” untuk mencari ikan.

Penghijauan pantai dengan bakau merupakan investasi berharga bagi masa depan masyarakat pantai. Sangat mudah menanam bakau, dan kelak ia akan tumbuh sendiri, tanpa harus dirawat secara cermat seperti tanaman-tanaman di darat. Bakau bisa dianggap tanaman yang “bandel”, sebab mudah tumbuh di ekosistem laut. Malah, nanti kalau bakau itu sudah dewasa, ia akan “membuat hutan sendiri”. Maksudnya, biji-biji akan berjatuhan dari pohonnya, lalu tumbuh sendiri.

Nelayan Menaman Benih Bakau.

Nelayan Menaman Benih Bakau.

Di kawasan hutan bakau tertentu masyarakat mengenal hewan laut yang populer “Kepiting Bakau”. Ukurannya besar, sering berada di sela-sela akar bakau. Kepiting yang notabene hewan air (bukan amphibi seperti yang diisukan selama ini, sebab ia bernafas dengan insang. Hanya saja, di sekitar insangnya seperti ada spon. Selama insang-nya basah ia tetap hidup. Kalau kering, ia akan mati), menjadi tangkapan berharga bagi masyarakat.

Hanya kesulitannya, tanaman bakau itu akar-akarnya “arogan”. Kalau sudah tumbuh, ia bisa sangat “congkak”. Kadang kalau hutan bakau sudah begitu rapat, kita akan sulit menjejakkan kaki di pasir pantai, tetapi kaki selalu menimpa akar-akar itu. Kalau sudah sangat rapat, hutan bakau akan sulit ditembus. Masyarakat nelayan biasanya menyiasati hal ini dengan membuat jembatan kayu ke tengah-tengah hutan. Nah, jembatan itu menjadi “pintu akses” untuk “mengeruk” hasil-hasil tangkapan hewan bermanfaat dari tengah hutan.

Bakau yang Mulai Tumbuh.

Bakau yang Mulai Tumbuh.

Apapun urusan kuncinya 3, yaitu: (a) Ia adalah urusan baik yang bermanfaat bagi kehidupan insan; (b) Kita niat tulus mengembangkan kebaikan, untuk ibadah kepada Allah Ta’ala; (3) Ada komitmen dan konsistensi dalam mengembangkan sesuatu. Jika 3 hal ini dipenuhi, manusia akan menyaksikan “syurga dunia”. Maksudnya, kebaikan-kebaikan yang tumbuh bersemi di muka bumi.

MENANAM TERUMBU KARANG

Semula saya menyangka, batu-batu karang itu makhluk mati. Ternyata ia makhluk “hidup”. Artinya, ia bisa tumbuh dan ditanam. Caranya, dicari batu karang yang sudah cukup besar, lalu dipilih cabang-cabang tertentu. Nah, cabang-cabang itu dibawa ke atas daratan. Di darat, cabang-cabang itu disortir sampai didapatkan “benih” karang yang bagus. Setelah itu, ia diberi “landasan” berupa bidang-bidang kecil dari semen. Kemudian “benih” karang ini diikat di atas jejering kawat atau di atas balok-balok semen yang sudah dicetak. Sudah, setelah itu biarkan saja karang akan tumbuh sendiri. Setelah bertahun-tahun, karang itu benar-benar tumbuh membesar.

Coral dan Keindahan Laut.

Coral dan Keindahan Laut.

Menanam terumbu karang merupakan pilihan logis untuk menyelamatkan ekosistem pantai/laut. Jika pantai tidak diselamatkan, para nelayan di sekitarnya akan merasakan kerugian sangat besar. Pantai di sekitar mereka akan jauh dari hewan-hewan laut tangkapan. Menangkap ikan dengan bom, dinamit, atau merusak karang, sepintas lalu akan menghasilkan tangkapan besar dalam waktu singkat. Tetapi di kemudian hari, nelayan sendiri yang gigit jari. Terumbu karang adalah “rumah” bagi ikan-ikan. Kalau rumahnya rusak, ikan-ikan akan pergi.

Upaya Menanam "Benih" Coral.

Upaya Menanam "Benih" Coral.

Coral yang Tumbuh Bersemi.

Coral yang Tumbuh Bersemi.

Alangkah baik kalau Ummat Islam ikut partisipasi dalam hal-hal seperti di atas. Ya, harus ada sumbangan yang nyata dari kita bagi kehidupan manusia dan alam. Jangan hanya menuntut, lalu tidak bisa memberi solusi. Sungguh, kita bisa lebih tangguh dalam melakukan kebaikan-kebaikan di atas. Jangan sampai manusia mengacuhkan Islam, karena mereka tidak melihat bukti manfaat dari amal-amal pemeluk Islam itu sendiri.

Hayo…berlomba berbuat kebaikan yang bermanfaat. Green nature for green life well.

AMW.

Iklan

6 Responses to Betapa Senangnya Diriku…

  1. abisyakir berkata:

    @ VISITORS
    “I love You full” (He he he…)

    Saya mau tanya sama Anda-Anda yang suka mampir kesini. Ini penting, mohon dijawab di bagian ini ya!

    1. Anda suka tidak sih dengan tulisan-tulisan bertema “green life” seperti di atas? Saya sendiri suka. Dalam “Cuci Mata Sini” banyak saya muat gambar-gambar bertema nature.

    2. Terpikir ga di benak Anda untuk sekali-kali “keluar dari rutinitas”? Berjalan nyimpang sedikit dari track biasanya. Misalnya, biasa ke kampus lewat suatu jalur standar. Pernahkah, coba lewat jalur lain, mampir ke warung, melihat-lihat kolam, atau apalah yang masih baik-baik?

    3. Menurut Anda, saya termasuk orang yang bagaimana? (a) Serius terus, sesekali bercanda; (b) Banyak bercanda, tetapi juga serius; atau (c) Antara humor dan serius seimbang?

    4. Menurut Anda, humor-humor yang saya sampaikan “ketangkep” tidak? Saya khawatir, hanya saya sendiri yang tersenyum-senyum, sementara Anda hanya bengong.

    5. Mengapa untuk tulisan-tulisan seperti ini rata-rata “sepi komentar”? Padahal menurut saya, ini menyenangkan. (Tapi itu versi aku, lho ya. Tahu deh dengan Anda Anda semua?).

    6. Corak tulisan kreatif seperti apa yang Anda sukai? Ini hanya sebagai perbandingan saja.

    Makasih ya sudah komentar. Tolong ya komentar! Jangan didiemin saja! Ya, itung-itung menghargai pengelola blog ini.

    Sekali lagi terimakasih.

    AMW.

  2. Uni berkata:

    1. Sebagai ibu saya suka2 aja pak Ustad,…saya lagi berusaha nih mudah2an ada rejeki mau bikin hutan anggrek, tolong do’anya ya Pak Ustad….

    2. Kalo yg ini kalau ada kesempatan, sambil jalan ama suami dan para balita saya,…tapi paling ya ke kebun anggrek atau lewat depan rumah orang lain atau tetangga, sekedar cuci mata kali aja ada anggrek bagus yg lagi mekar yang bisa diliat-liat jauh.

    3. a)kayaknya serius teryus sekali-kali becanda

    4. Kadang-kadang kalo lagi baca blog ini, bisa ketawa juga saya.

    5. Gak tau deh pak Ustad,…lagi pada sibuk mikirin teroris mungkin,….

    6. Tulisan-tulisan pak Ustad boleh lah, disamping resep masakan ama tips nanem tanaman,…..

    Maaf kalo ada yg kurang berkenan

  3. abisyakir berkata:

    @ Uni.

    Makasih Uni atas komentarnya. Kayaknya hanya @ Uni saja yang peduli dengan minatku. Kasihan deh… Moga nanti ada yang komentar ya. Oh ya salam untuk suami, anak-anak, dan keluarga. Lain kali boleh pesan “krupuk kulit kerbau” khas Bukit Tinggi? He he he…becanda. Kalau dikirimi gratis sih, tidak bercanda. SEURIES.

    AMW.

  4. adegustiann berkata:

    wah keren… izin copy ya pak…

  5. Annas berkata:

    1) Sangat suka ustadz, blog ini ada tempat panasnya tapi juga nyediakan tempat berteduh nan hijau.

    2) pernah, tapi saya biasanya ngelakuin itu sendirian. Spt bersepeda keliling2.

    3) a.

    4) saya sering hehe hehe, baca artikel jenengan

    5) tidak ada yg berminat karena tidak memancing emosi

    6) yang ‘bercorak Salaf’, peduli ummat, dan pro penghijauan.

  6. abisyakir berkata:

    @ Annas…

    Alhamdulillah ada apresiasi positif. Alhamdulillah. Semoga bermanfaat bagi kita dan Ummat. Masukan dan apresiasinya, insya Allah sangat dihargai.

    Admin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: