Hukum Cadar dan Pola Makan

“Kadang kebenaran itu membutuhkan waktu untuk memahaminya.”

Di antara sekian banyak pendapat-pendapat fiqih, hukum cadar termasuk yang membuat dahi saya berkerut. Kalau membaca pendapat ulama-ulama Saudi yang mewajibkan wanita Muslimah memakai cadar, nuansanya “galak banget”. Apalagi kalau membaca bantahan mereka terhadap pendapat yang tidak mewajibkan wanita memakai cadar, bantahan itu terasa seperti “marah-marah”. Saya membutuhkan waktu lama untuk memahami pendirian ulama-ulama Saudi yang bersikap ketat dalam masalah hukum cadar.

Cadar dikenal dengan banyak istilah, antara lain: hijab, niqab, burqa, atau purdah. Tetapi intinya ialah selembar kain tipis yang menutupi wajah wanita, saat dirinya berada di luar rumah. Tentu saja, kain itu sebatas penutup wajah, bukan kain tebal yang membuat mata mereka tidak bisa melihat keluar. Kalau di Indonesia, cadar yang dipakai umumnya menutup sebagian besar muka, dengan membiarkan mata tetap terbuka. Cadar seperti ini biasanya bisa dibongkar-pasang. Kalau di Saudi, banyak Muslimah memakai cadar yang menutup seluruh wajah. Bentuk cadar itu bisa berupa kain tipis yang dilapiskan di atas kerudung utama. Atau berupa kain yang memiliki pengikat ke kepala. Kalau di Afghanistan, cadar versi Thaliban, ia berupa kerudung lebar lalu diberi lubang pada bagian sekitar mata.

Di kalangan ulama ada perbedaan pendapat tentang bentuk cadar (hijab) yang harus dipakai kaum wanita. Ada yang mewajibkan seluruh muka tertutup, ada yang memperbolehkan kedua mata terbuka, bahkan ada yang memperbolehkan satu mata terbuka, sementara satu mata lainnya tertutup.

Semula saya beranggapan, para ulama Saudi kurang toleran (tasamuh) dalam perkara cadar ini. Mereka seperti meniadakan perbedaan pendapat dalam perkara ini. Padahal, ikhtilaf dalam fiqih adalah sesuatu yang sangat populer, sejak dulu sampai saat ini. Pihak yang meyakini bahwa cadar tidaklah wajib, mereka memiliki sekian banyak dalil yang bisa dikemukakan.

Namun seiring perjalanan, saya bisa mengerti mengapa mereka berpendapat sangat ketat dalam masalah ini. Uniknya, masalah cadar ini ada kaitannya dengan pola makan masyarakat, khususnya di Saudi. Mungkin Anda tidak membayangkan, hukum fiqih berkaitan dengan pola makan. Tapi setidaknya itulah yang saya dapati dari fakta-fakta yang berkembang.

Berikut beberapa fakta yang menjadi pertimbangan:

[o] Sebagian ulama sangat ketat dalam menetapkan wajibnya hukum cadar (niqab). Mereka berpandangan, bahwa muka wanita dewasa adalah sumber fitnah. Semakin terbuka wajah wanita, akan semakin besar godaan yang dirasakan kaum laki-laki di sekitarnya. Jika wajah itu ditutup, otomatis peluang fitnah akan tertutup juga.

[o] Kasus-kasus kekerasan seksual terjadi di berbagai tempat. Ia tidak menjadi monopoli negera-negara Barat. Di negara Muslim seperti Indonesia dan lainnya, kasus-kasus kekerasan seksual juga sering terjadi. Faktor pemicu kasus itu antara lain kecantikan wajah wanita, aurat yang terbuka, atau penampilan seksi.

[o] Makanan yang dimakan manusia (kaum laki-laki) memiliki pengaruh terhadap agresitifitas seksualnya. Makanan yang banyak mengandung protein dan lemak (makanan berkalori tinggi) berpengaruh kuat terhadap libido laki-laki. Telur bebek, daging kambing, daging kuda, dan lain-lain dipercaya memiliki khasiat kuat meningkatkan libido.

[o] Di Saudi, sebagian besar kaum laki-laki sangat intensif mengonsumsi daging, ikan, telur, dan minyak. Begitu pula, mereka biasa mengonsumsi kacang-kacangan, minyak zaitun, serta kurma. Semua itu makanan yang berkadar kolesterol tinggi. Porsi makan daging orang Indonesia jauh di bawah warga Saudi. Sebagai contoh, di Saudi, untuk konsumsi mahasiswa, sekali makan, mereka mendapat potongan daging ukuran besar (sekitar seluas telapak tangan orang dewasa). Atau mereka mendapat daging ayam, setengah bagian dari ayam utuh.

[o] Pola makan yang padat berisi makanan-makanan berkadar protein dan lemak tinggi, berpengaruh pada stamina, pertumbuhan tubuh, temperamen, bau keringat, lebatnya bulu-bulu di tubuh, dan lain-lain. Termasuk di dalamnya, berpengaruh pada sensitifitas birahi (libido).

[o] Dapat dimaklumi bahwa kaum laki-laki Saudi memiliki sensitifitas kuat jika melihat kaum wanita di sekitarnya. Meskipun wanita itu sudah memakai jilbab rapi, tetapi tidak menutup matanya. Hal itu tidak lepas dari pola konsumsi daging yang sangat tinggi, sejak kecil sampai dewasa.

Dengan semua pertimbangan ini, maka mewajibkan cadar untuk masyarakat Saudi menjadi perkara yang wajar. Alasan yang dipakai para ulama, bahwa wajah wanita merupakan sumber fitnah yang kuat, hal itu bisa dimaklumi.

Syaikh Ali Thantawi rahimahullah dalam fatwanya tentang cadar, beliau mengatakan: “Sekarang ini, di Mesir, Siria, Irak, Yordania, dan negara lain yang dipenuhi fenomena kebangkitan Islam dan kaum perempuannya kembali kepada hijab (menutup aurat), kita menyaksikan mereka membuka wajah. Agaknya, membuka wajah disana telah menjadi suatu kebiasaan yang tidak menimbulkan fitnah. Begitu juga yang terjadi pada suku Badui di Siria, yang kaum perempuan membuka wajahnya tanpa melakukan khalwat dengan lelaki, dan tidak melakukan kontak pergaulan yang bisa menimbulkan fitnah. Berbeda halnya dengan yang terjadi di Arab Saudi. Di kota-kota disana, perempuan membuka wajah bukanlah hal yang biasa, maka wajib baginya untuk tetap menutupnya.”

Lebih jauh Syaikh Thantawi mengatakan: “Sedangkan perempuan yang terbiasa membuka wajahnya, dan telah menjadi suatu kebiasaan yang tidak menarik perhatian atau menimbulkan bahaya baginya –sebagaimana keadaan di berbagai perguruan tinggi di Mesir, Siria, Yordania, Irak, Indonesia, dan negata-negara lainnya- maka boleh saja ia tetap membuka wajahnya. Inilah jawaban saya. Wallahu A’lam bisshawaab.” (Fatwa-fatwa Populer Ali Thantawi. Solo, Era Intermedia, hal. 81-182).

Ada sebuah kejadian menarik yang dialami seorang Muslimah Indonesia yang beberapa tahun lalu menjalankan ibadah Haji ke Tanah Suci. Wanita itu mengalami perlakuan kurang menyenangkan dari seorang laki-laki disana. Suatu hari dia berjalan-jalan dengan sesama Muslimah untuk keperluan ibadah atau belanja. Ternyata, ada laki-laki yang selalu membuntutinya di belakang. Wanita itu jelas merasa tidak nyaman dan takut. Keesokan harinya, dia sengaja berjalan dengan suaminya. Ternyata, masih diikuti juga. Akhirnya dia disarankan agar ketika keluar hotel memakai cadar. Maka cara seperti itu menyelamatkan wanita tersebut dari ancaman laki-laki jahat.

Banyaknya kasus-kasus kekerasan seksual yang terjadi di negeri tertentu, besar kemungkinan karena faktor gairah syahwat yang sangat kuat. Hal itu berkaitan dengan pola makan masyarakat tersebut. Semakin tinggi kadar kolesterol pada makanan yang dikonsumsi sehari-hari, semakin kuat sensitifitas syahwatnya. Nah, disini kita dapati relevansi yang kuat antara cadar kaum wanita dan upaya menjaga diri dari fitnah.

Wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.

3 Responses to Hukum Cadar dan Pola Makan

  1. Ana Jiddan berkata:

    ustadz,boleh ana copas ya?artikel yg bagus

  2. Abdillah Syafei berkata:

    Assalamu Alaikum…
    Meski istri saya bercadarm, namun saya termasuk orang yang berpendapat bahwa memakai cadar itu nggak wajib. Demikian pula pendapat Istri saya… Namun istri saya beranggapan bahwa memakai cadar lebih enak dan lebih “selamat” dari segi kehormatan…
    Persoalan Syahwat Lelaki… saya berpendapat di negeri manapun keadaannya “Kurang lebih” saja. Artinya nggak jauh beda. Cuma masalah penyimpangan seksualnya yang biasa apa nggak biasa. Seperti di Saudi misalkan… Ketika ada 10 TKW diperkosa, maka dunia langsung ribut… Sampai-sampai ada yg memvonis bahwa penegakan syari’at di sana toh tak menjamin bebasnya negeri itu dari kasus asusila. padahal kalo kita lihat jumlah total TKW yang dikirim ke sana dibanding dengan yg dilecehkan cuma berapa persen sih… Berbeda tentunya dg di Indonesia atau di negeri-negeri lain yg urusan hijabnya sembrono… pelecehan seksual dan kasus asusila lain terkesan sudah biasa, jadi nggak terlwelu ribut dan nggak terlalu terasa. Mungkin kita bisa bertanya kepada diri kita sendiri… kalau dihitung dengan prosentasi… kira-kirta berapa persen TKW dalam negeri yg dilecehkan? Belum lagi yg memang dengan seanng hati dilecehkan alias selingkuh dengan majikan?
    Wallahu A’lam… Afwan jiddan kalo ada salah…

  3. abisyakir berkata:

    @ Pak Abdillah.

    Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakaatuh.

    Syukran sudah mampir. Akhi, memang beda antara suasana di Saudi, dengan Mesir, Yordan, Siria, atau Indonesia. Beda situasinya. Itu juga yang disebutkan Syaikh Thantawi rahimahullah. Kata teman ana yang kuliah di Jamiah Imam Riyadh, makanan sangat berpengaruh ke sikap agresitifitas libido. Banyak ceritanya, tetapi sengaja saya “hemat contoh”, biar tidak menimbulkan masalah baru.

    Jazakumullah khair.

    AMW.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: