Sikap Norak Pebisnis Kita

Saya memiliki sebagian pengalaman bisnis menarik yang layak di-sharing-kan disini. Seputar usaha bisnis aktivis Islam. Ya, usaha bisnis seperti yang biasa kita-kita lakukan. Pengalaman ini sungguh menarik. Moga-moga bisa menjadi pelajaran baik. Amin.

Singkat cerita, saya pernah berkenalan dengan seorang mahasiswa yang aktif dengan kegiatan-kegiatan bisnis. Mula-mula dia membuka gerai kacamata (optik), membuat persewaan buku dan CD, berjual-beli HP. Namun setelah itu dia terjun di dunia pelatihan mahasiswa.

Saya pernah ingin kerjasama dengan dia dalam soal pelatihan. Waktu itu pembicaraan-pembicaraan sudah dilakukan. Salah satunya di rumah kami. Namun kerjasama ini tidak jalan, salah satunya karena kami tidak sepakat dengan detail teknisnya. Dalam kerjasama itu saya maunya berposisi sejajar, jadi semacam sharing saham. Tetapi dia ingin saya bekerja dalam skenario yang dia buat. Lama-lama rencana kerjasama ini bubar. Ikhwan itu tidak kunjung muncul lagi.

Setelah berlalu waktu yang lama, saya ketemu dia lagi. Dia bisnis membuat “martabak manis ukuran mini” di depan sekolah SD anak saya. Saya sering ke SD itu, jadi otomatis bisa ketemu dia.

Ketika saya lihat cara-cara dia membuka usaha “martabak mini” ini, standar kebersihan dan kerapiannya kurang. Padahal, dalam bisnis makanan, kedua masalah itu sangat peka. Orang-orang bisa “geli”, tidak mau membeli makanan kita, kalau penampilan gerobak, alat-alat, dan makanan yang dihasilkan tidak mencerminkan penampilan yang bersih.

Saya sampaikan masukan kepada Ikhwan itu agar memperbaiki kebersihan alat-alat dan mekanisme masaknya. Saya anjurkan dia melihat orang lain yang sudah lama bergerak di bidang ini. Namun sayang, dia tidak mau memperhatikan masukan itu. Dia tetap bertahan dengan penampilan -maaf- “joroknya”.

Tetapi saya tetap sarankan anak saya membeli makanan dia, kasihan kalau tidak ada yang beli. Dengan “sangat terpaksa” kami membeli makanan itu, meskipun dalam hati tidak puas. Benar saja, dalam waktu kurang dari satu bulan (kalau tidak salah), usaha Ikhwan itu sudah ditutup.

Di kesempatan lain, kembali saya bertemu dia. Waktu itu kebetulan buku saya baru terbit, judulnya: “Hidup Itu Mudah!” Diterbitkan Penerbit Khalifa, Jakarta. Saya coba hadiahkan satu buku untuk Ikhwan itu. Saya berharap, nanti akan ada kerjasama dalam bidang Pelatihan SDM Muslim. Dia sangat gembira diberi hadiah buku, dan setelah membacanya dia merasa banyak terinspirasi. Alhamdulillah, segala puji untuk Allah Ar Rahiim.

Dari buku itu sedianya kami ingin membuat lembaga Pelatihan SDM Muslim. Kebetulan tema bukunya memang seputar character building. Ya, bagaimana menjadi sosok Muslim yang sukses lahir-bathin, dunia Akhirat. Tidak jauh dari konsep-konsep lain, hanya di dalamnya ada RASA LAIN dari sisi originalitas ide dan spirit. (Tetapi kalau pembacanya para penggemar berat sinetron, kemungkinan buku itu hambar baginya).

Dalam diskusi-diskusi dengan Ikhwan itu, saya menangkap kesan, dia telah banyak ikut dalam pelatihan-pelatihan bisnis. Dia mengenal konsep ATM Purdi Candra yang mengajarkan prinsip bisnis: Amati, Tiru, Modifikasi. Saya mendengar konsep ini sudah agak lama. Dalam pandangan saya, konsep ATM itu mengajarkan manusia berpikir sempit, tidak kreatif. Mereka bisa menjadi “pembajak-pembajak” nakal.

Ikhwan itu memiliki kekaguman besar kepada Robert T. Kyosaki. Meskipun saya tidak intensif memahami konsep Kyosaki, tetapi sudah merasa tidak simpati. Salah satu prinsip Kyosaki: “Anda bukan bekerja untuk uang, tapi uang bekerja untuk Anda.” Tetapi pada kenyataannya, manusia tetap saja bekerja keras mengumpulkan uang. Caranya bisa direct, bisa juga indirect. Apa yang disebut Kyosaki sebagai “pasif income” itu tidak otomatis bisa diperoleh tanpa kerja. Ia tetap saja membutuhkan kerja. Misalnya, mencari informasi, memahami mekanisme bisnis, melakukan transaksi, melakukan pengawasan, melakukan kalkulasi, dll. Tetap saja kerja.

Lagi pula, konsep Kyosaki tidak cocok untuk Muslim. Ia cocok bagi penggemar sistem Ribawi, dan bagi masyarakat yang infrastruktur Ribawinya sudah mantap (seperti Amerika, Jepang, Hongkong, Singapura, dll).Pendek kata, saya tidak simpati dengan konsep Kyosaki. Termasuk “fotokopinya” di Indonesia, Tung Desem Waringin.

Begitu pula, Ikhwan itu sangat terinspirasi oleh buku seperti The Secret, Quantum Ikhlas, dll. Saya melihat, Ikhwan itu rajin ikut pelatihan-pelatihan bisnis dengan tema “cara cepat menjadi kaya raya”. Dan dia kurang memiliki sikap kritis terhadap konsep-konsep yang dipelajarinya.

Kalau saya sendiri, saya lebih suka dengan mekanisme dagang secara alami dan natural. Ya, back to basic lagi. Sejauh pengetahuan saya, cara-cara dagang klasik, alami, itu lebih baik ketimbang ide-ide baru yang aneh-aneh itu. Hanya saja, dalam sistem dagang alami ini, harus terus diperbaiki cara-caranya agar tetap kreatif. Insya Allah, cara bisnis klasik itu masih lebih baik, kalau kita giat membuat inovasi-inovasi.

Saya sangat heran ketika Ikhwan itu menceritakan filosofi bisnisnya. Katanya hal ini mengambil ide dari buku Quantum Ikhlas.

Disana dijelaskan, kurang lebih: “Kalau seseorang ingin kaya, dia harus membayangkan impian kekayaan yang dia inginkan. Bayangkan kekayaan itu sedetail mungkin. Lalu nikmati bayangan itu dalam jiwa Anda. Nikmati, nikmati, meskipun masih berupa khayalan. Kalau Anda sudah membayangkan, lalu merasa bahagia dengan khayalan-khayalan kaya itu, YAKINLAH kekayaan itu akan menjadi milik Anda. Allah akan menggerakkan alam semesta untuk mewujudkan impian Anda itu.”

Katanya, konsep berpikir seperti itu ada dalam Quantum Ikhlas. Tapi saya tidak tahu pasti. Yang jelas, Tung Desem Waringin pernah menjelaskan sebagian masalah itu, lalu ditambah konsep Mestakung milik Prof. Johanes Surya, pakar Fisika itu.

Tapi di mata saya, cara berpikir seperti itu KEBLINGER. Itu mengajari orang menjadi TUKANG MIMPI, lalu menyerahkan masalah proses kepada dukungan alam semesta. Ini salah dan -maaf- menipu. Anda bermimpi sefantastik apapun, kalau tangan Anda tidak bergerak, kaki Anda tidak bergerak, tetap saja Anda tidak akan mendapat apa-apa.

Dan lebih menarik lagi, saat saya melihat Ikhwan itu merem-merem (matanya memejam) sambil berkhayal. Saya hanya tersenyum-senyum, malu melihat ekspresi Ikhwan itu. “Ini konyol, ini lucu, ini malu-maluin,” kata saya dalam hati. Tapi apa boleh buat, untuk menghormati tahu, saya terpaksa ngempet (menahan gejolak di hati). Nanti kalau “diserang”, dia akan kesal, lalu tidak mau shilaturahim lagi.

Dalam soal rencana membangun lembaga pelatihan. Ikhwan itu sudah menyiapkan konsep bisnisnya. Saya hanya kontribusi dalam soal materi dan program. Suatu saat dia menyodorkan kalkulasi cashflow untuk saya pelajari. Saya kira, itu merupakan bukti kesungguhan dia dengan bisnis ini. Saya pun pelajari rincian cashflow-nya.

Sebenarnya, untuk bisnis yang amatiran dan baru mulai bergerak, cukuplah dibuat rancangan bisnis secara sederhana. Tidak perlu rumit-rumit membuat cashflow. Nanti, kalau bisnis itu sudah berkembang baik, arus cash yang masuk lancar dan terus menanjak, barulah dibutuhkan mekanisme akuntansi yang lebih memadai. Kalau modal saja belum kelihatan, fasilitas juga belum ada, jangan bicara dulu soal cashflow; terlalu tinggi!

Tapi setelah saya pelajari, saya dibuat bingung oleh angka-angka yang besar dan item-item pengeluaran yang sangat terperinci. Gayanya seperti korporasi besar. “Ya Allah, ujian apa lagi ini?” Saya terus terang mengkritik Ikhwan itu dengan konsep cashflow-nya. Dia tidak realistik.

Bayangkan, dia membuat perkiraan angka penghasilan bisnis dalam waktu sekitar 10 bulan, dengan angka yang sangat FANTASTIK. Dia menyebut angka 800. Bukan 800 ribu, bukan 800 juta, tetapi 800 miliar. Ya Ilahi ya Rabbi, dalam masa sekitar 10 bulan, bisnis kami direncakan akan mendapat penghasilan 800 miliar. “Cobaan apa lagi ini?”

Kalau ada bisnis sehebat itu, mungkin kita sudah tidak kebagian porsinya. Microsoft Inc., GM, Freeport McMoran, McDonald, KFC, Coca Cola, Sony, Yamaha, Honda, Carefour, Petronas, dll. termasuk para Mafioso Italia, mungkin mereka sudah akan bergegas merebut peluang bisnis itu. Bayangkan Pak, Bu, Mas, Mbak, dalam waktu 10 bulan pendapatan 800 miliar.

Saat saya kritik, Ikhwan itu tidak terima. Dia merasa konsep bisnisnya sudah benar. Lebih hebat lagi dia mengatakan: “Berapapun targetnya, kalau kita yakin, ia pasti akan tercapai. Tetapi kalau tidak yakin, ya tidak akan tercapai.” Waduh, dia mempersoalkan masalah keyakinan di hati.

Saya bukan tidak yakin, tetapi berpikir realistik. Siapapun bisa bermimpi memiliki sebuah gunung yang terbuat dari emas murni 24 karat. Bahkan bermimpi yang lebih dahsyat dari itu boleh. Wong, memang bermimpi itu tidak bayar kok. Tetapi apakah impian itu logis? Nah, itu dia masalahnya.

Kalau ada bisnis yang hasilnya dalam 10 bulan mencapai 800 miliar rupiah, maka kalau saya bisa menjalankan bisnis itu selama 10 tahun saja. Setelah itu, “Indonesia bakal tak beli,” meminjam ungkapan Mbah Surip.”Nanti setiap anak Indonesia tak belikan kerupuk semua,” maklum saya kurang hobi ngopi. Cukup hobi makan krupuk. Alhamdulillah.

Nah, inilah salah satu contoh sikap norak para aktivis Islam, khususnya yang terjun di dunia bisnis. Mudah-mudahan kejadian seperti di atas hanya satu saja, jangan ada kembaran yang lain-lainnya. Wah, berat juga menghadapi orang-orang yang sudah “mbegitu”. Nanti kalau kita beri kritik, kita dianggap tidak yakin dengan pertolongan Allah.

Ya sudah, sementara itu dulu. Moga jadi cerminan positif. Oh ya, tidak lupa saya ucapkan: SELAMAT MENYAMBUT BULAN RAMADHAN 1430 H. Semoga Anda, saya, keluarga kita, dan kita semua diberi sebaik-baik ibadah di bulan yang mulia ini. Allahumma amin ya Mujibas sa’ilin.

Marhaban ya Ramadhan, marhaban ya Syahrus Shiyam.

AMW.

7 Responses to Sikap Norak Pebisnis Kita

  1. riyantosuwito berkata:

    Era kejayaan saudagar muslim memang telah berlalu, dan kini ada kesadaran untuk membangkitkan kembali semangat tersebut..dan bahkan secara umum semua pihak sedang menggiatkan kembali kewirausahaan – termasuk pemerintah – dan juga dunia pendidikan dan masyarakat umum maupun lembaga yang terafiliasi dengan Islam.

    Tetapi memang bukan soal mudah untuk mendapatkan kembali masa-masa jaya itu dalam hitungan waktu yang singkat. Butuh kerja keras dan pengorbanan semua pihak..saya kira itu sejalan dengan keyakinan panjenengan tentang “konsep bisnis klasik” diatas.

    Perubahan sosial dan masyarakat bukanlah seperti membalik telapak tangan..tetapi kita harus tetap dalam “keyakinan” bahwa kita bisa, jika kita mengusahakan dengan sungguh-sungguh..!!?

    Terima kasih telah berbagi…mudah-mudahan ini bagian dari kontribusi terhadap perubahan untuk lebih baik di dunia ini…!?

  2. abisyakir berkata:

    @ Pak Riyanto.

    Sami-sami Pak, mugi bermanfaat kangge sedayanipun, utaminipun Njenengan lan kula piyambak. Matur nuwun.

    AMW.

  3. elang berkata:

    Assalamu’alaikum.

    Ustadz, membaca tulisan antum saya jadi terpikir apakah kita kaum muslimin Indonesia perlu belajar lebih banyak dalam hal MENTAL DAGANG dan ULET kepada orang Tionghoa yang ada di negeri kita ya?

    Mengingat mereka begitu ULET dan MILITAN dalam urusan perniagaan, contoh kecil saja mereka sangat teliti dalam perhitungan uang walaupun hanya selisih 50 perak atau 100 perak pasti dicari ke mana perginya . Contoh militannya, kalau kita beli dan kebetulan hutang 100 perak-pun tetap ditagih. Mungkin beda dengan kita orang jawa yang rela saja melepas 100 perak tersebut.

    Bagaimana pendapat ustadz?

    Wassalamu’alaikum

  4. abisyakir berkata:

    @ Elang.

    Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakaatuh.

    Akhi, inti masalahnya disini: Orang China itu tidak memiliki harapan tentang syurga nanti. Syurga bagi mereka ya di dunia ini. Di dunia mampus, ya berarti syurganya lenyap. Maka itu mereka sangat militan dalam bisnisnya. Untuk mengamankan bisnis saja mereka bisa pakai: Satpam, rumah pagar tinggi, pagar listrik, pintu-pintu kuat, anjing herder, brankas anti bom, preman bayaran, menyimpan senapan api, backing kolonel, membeli jaksa, membeli hakim, punya pengawal, punya backing gangster, dll. Bayangkan, keamanannya saja serapat itu. Sementara orang kita, tidak berpikir untuk mengamankan bisnisnya.

    Masyarakat kita, khususnya kaum Muslimin, karena yakin nanti akan dapat syurga di Akhirat, maka usahanya jadi lembek/lamban. Padahal, belum tentu juga masuk syurga kalau amalnya ala kadarnya. Harusnya, kalau kita sangat pro Akhirat: Jangan diberi kesempatan orang kafir menguasai kekayaan, sebab akibatnya mereka akan pakai kekayaan itu untuk menyebarkan keburukan/amoralitas. Kekayaan harus kita kendalikan, lalu dipakai untuk mashlahat seluas-luasnya. Baru setelah itu, kita bisa berharap akan dapat syurga di Akhirat nanti. Jangan seperti orang Indonesia: “Ingin syurga, males beramal shalih; males juga bisnisnya.” Jadi apa tho yang diinginkan? ….tidur lagi.

    Moga-moga Antum bisa menjadi seorang pebisnis Muslim yang militan. Amin ya Karim.

    AMW.

  5. elang berkata:

    Apa yang pak ustadz katakan benar juga.

    Harus banyak belajar lagi nih.

    Masalahnya pendidikan mental tidak sama dengan pendidikan akademik atau intelektual. Permasalahan pendidikan mental lebih kepada pembentukan pribadi tersebut, aspeknya bisa sangat luas meliputi karakter atau watak, tabiat-perangai, poka pikir, dll. Hal inilah yang tidak kita dapatkan sejak jenjang SD, SMP apalagi SMA.

    Makanya banyak ikhwan atau akhwat walaupun sudah ngaji bertahun-tahun, bisa baca kitab gundul tapi watak dan pola pikirnya norak.

    Yah, kalau pandangan saya, walaupun hal seperti itu jelek tetapi kalau dilihat kembali ke belakang masih bisa dimaklumi. Pendidikan sejak dari kecil jangan dikira tidak memberi pengaruh apa-apa pada diri kita. Walaupun kita sudah mengaji, bermanhaj ahlus sunnah, tetapi warisan pendidikan sekuler yang telah kita lalui tidak bisa begitu saja hilang.

    Semua memang butuh waktu, kesabaran dan ketekunan.
    Hanya kepada Allah-lah kita kembali.

    Semoga ustadz di dunia nyata bisa menjadi seorang guru yang bijaksana, teguh memegang prinsip dan penuh welas asih. Amin ya Karim

    Salam buat seluruh keluarga.

  6. Syamsul berkata:

    Bener-bener menyentuh mas, membuka mata. bener tuh teorinya…mimpi harus yang realistis…logis…klo over namanya angan-angan alias mimpi siang bolong.

  7. […] Belajar Bisnis yang baik dan tidak norak […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: